Tuesday, April 15, 2008

Artis di Pilkada

Marissa Hague, Rano Karno, baru-baru ini Dede Yusuf, dan sekarang Saiful Jamil??!!! Damn.. !!!! Dasar partai-partai pragmatis...

14 comments:

Carlos said...

ini bisa jadi pertanda sudah bosannya rakyat terhadap sosok politisi. Jadi mereka memilih yang mereka gemari (yaitu artis) meski mereka tahu artis-artis jarang yang "bener2" sekolah waktu masih muda.

Sebuah fenomena yang menarik

Anonymous said...

WTF???
saipul jamil? plis deh... ngurus dewi persik aja g bisa...?? masa maw jadi wakil walikota...

rano karno masih oke lah, dia tokoh budaya,

marissa haque, terkenal jg krn aktivitas sosialnya,

dede yusuf, emang dari dulu orang taunya dia "anak" nya suharto, ada trah deh... ada bakat juga di DPR.

tapi klo saipul jamil???

wallahualam...
fz

Letjes said...

terlepas dari kemampuan si artis, satu hal yg plg aku soroti adl fakta bhw mereka akhirnya hanya dipasang di posisi wakil menunjukkan mereka hanya digunakan mencari suara.

ktk akhirny menang pun, besar kemungkinan hanya jadi pajangan atau boneka belaka..

klo emang mereka dianggap mampu, calonin aja jadi orang no.1 atau si artis sendiri beraniin diri untuk jadi no.1.

Gaffari said...

Tapi tjes, pernah ada juga yang dipasang jadi wakil untuk mendulang suara tapi malah ketuanya yang jadi boneka..He3....

Aluguel de Computadores said...

Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the Aluguel de Computadores, I hope you enjoy. The address is http://aluguel-de-computadores.blogspot.com. A hug.

Carlos said...

wanda hamida dan rieke dyah "oneng" pitaloka juga sepertinya akan ikut masuk "pasar".

Ini sudah pertanda bahwa paradigma telah berubah:
Kalo dulu, "Masuk Tentara lalu jadi Bupati", sekarang, "Masuk Production House lalu jadi walikota", hahaha....

Mantap, mantap...

Bagus Arya Wirapati said...

Maap numpang nimbrung di sini ya para senior tercinta!

Klo menurut saya seh emank faktanya sebagian besar rakyat Indonesia sangat terpengaruh dengan pencalonan artis ini.

SOalnya berdasarkan yang terjadi, mereka cenderung memilih calon yang ada artisnya. Alasannya? Karena mereka tau artis itu. Semacam ngomong "YANG PASTI2 AJALAH!". Padahal belom pasti juga.

Dan tampaknya, saat ini sedang trend mengambil hati masyarakat melalui cara itu. Karena emank uda dibuktiin kehandalannya. Bener kata kak carlos. Kayaknya rakyat uda bosen dengan figur politisi yang dianggep cuma ngomong doank. Jdnya mereka berharap para artis yang terkenal ini bisa membawa angin segar buat Indonesia.

Yah, kita lia aja sejauh mana pencalonan artis ini berpengaruh terhadap Indonesia. Apakah benar mereka cuma 'boneka kucing penarik tamu' yang tugasnya hanya di pilkada saja?

Smile eternally,
Wirapati..

Gaffari said...

To Wirapati:
Saya rasa tidak bisa digeneralisir begitu saja bahwa dengan menggunakan figur artis sbg pasangan calon akan efektif memenangkan pilkada. Lihat contoh ketika Marisha Haque yg dipasangkan dgn Zul di Pilkada Banten bbrp waktu lalu, toh jg diakhiri dgn kekalahan.

Yang harus diingat, Politics is the art of possible, politik adalah seni memainkan sgala kemungkinan. Bgmana ssuatu yg tidak mungkin bisa dibuat mungkin. Dan jg sbaliknya, yg mungkin bisa dbuat tdk mungkin. Contohnya, pasangan Heryawan dan Dede Yusuf di Pilkada Jabar sblmnya dianggap anak bawang, toh akhirnya bisa menang.

Jadi bukan perkara pada politisi atau artis yg dipersoalkan. Yg penting soal kemampuan tim sukses dan figur yg dijagokan. Tak semua politisi itu membuat rakyat resisten, dan tidak semua artis dapat mbuat rakyat simpatik.

Letjes said...

analisis yang bagus roy. tapi kalo emang dibilang sebagian besar masy terpengaruh artis adalah fakta, sy kira gaffar ada benarnya. Yang ada sekarang kan semacam tren aja.. baru ada rano karno dan dede yusuf. sementara Marissa haque contoh yang gagal.

Benar kt roy, mungkin memang aku terlalu skeptik terhadap fenomena artis ini. Kt harus lihat dl buktinya.

cm saya akan lebih respek, ktk si artis ada di nomor 1. krn itu setidaknya bisa jadi indikasi bahwa emang dia dibw krn kualitasnya.

cb lihat ronald reagan atau arnold. mereka maju sebagai no.1.

Chaikal said...

Dalam demokrasi yang modernpun terjadi fenomena ini (Ronald Reagan, Arnold, etc..)

Jika demikian apakah memang politik seperti itu (selalu pragmatis), atau memang tidak ada politisi yang idealis dan/atau ideal untuk dijadikan pemimpin..

Sekali lagi, jika ditengok Reagan, maka boleh dianggap aktor tidak kalah kelas (secara relatif) baik dalam hal kebijaksanaan (wisdom) maupun kebijakan (policy)..

Akhirnya, menurut estimasi cepat saya (tentu masih sangat kasar) probabilitas keberhasilan aktor untuk menjadi pemimpin yang handal/berhasil lebih tinggi daripada politisi (asli)/pengusaha/mantan tentara.

So, whats wrong?

Chaikal said...

wah, tjes... ternyata komen ente sedikit lebih cepat daripada ane, untungnya gak sama-sama amat, wislah c u on the discussion..

Chaikal said...
This comment has been removed by the author.
Letjes said...

emang gk ada yg salah bung dg si artis ini. but come on.. jgn bilang anda akan vote saiful jamil jadi wakil walikota serang? (klo anda mislkan warga serang dan terlepas dari kualitas si walikotanya)

emang sy sepakat dg fz, klo marissa, rano karno, dan dede yusuf msh okelah. tapi posisi mrk yg no.2 itu yg rawan jadi boneka sj. dan emang sgj ditaruh sbh penarik massa sj ketika pemilihan.

Alamsyah said...

Benar jika mengambil contoh ronald reagan yang sukses, ato mungkin arnold schwarzenegger..

Tapi sekali lagi, mereka hanya contoh kecil dari sekian banyak artis yang maju. saya setuju dengan pendapat pak carlos yang menyatakan, "jarang artis yang bener sekolahnya waktu muda."
saya sendiri kurang sependapat dengan pak chaikal yang cenderung menganggap artis lebih baik dari politisi/pengusaha.
trend ini menurut saya sama seperti dengan trend taun awal orde baru berkuasa, karena waktu itu, siapa coba yang tidak 'takjub' atas keberhasilan pak harto dan rejim militer-nya?lalu semua berbondong-bondong masuk militer, yang ternyata terbukti bahwa orde baru sangat hancur.
dan maap2 saja ni sebelumnya, bukankah senior2 angkatan 66,74,98, yang notabene jauh lebih cerdas dari artis2 pada umumnya, tapi ternyata sebagian dari mantan pejuang idealis itu termasuk dalam oknum penggerogot bangsa(maap ni klo agak ekstrim).

singkat kata, sebaiknya kita tidak perlu terlalu panik terhadap fenomena banyaknya artis ini. ini hanya masalah waktu, yang akan membuktikan apakah mereka benar-benar berkualitas, dan masyarakat tentu bisa menilai figur mana yang pantas mereka jadikan pemimpin. ini hanya masalah trend, trend yang sama dengan awal era orde baru. trend ini muncul karena masyarakat sudah terlanjur jenuh dengan politisi-politisi lama, yang sudah tercemar citranya sebagai "tukang jual kecap".

Pendapat Kak Gaffari yang menyatakan bahwa "kemenangan bergantung pada mesin partainya" juga kurang sepenuhnya benar (maap senior, kalo terlalu sotoy). Karena kasus SBY tahun 04, dimana lawannya adalah Megawati dengan mesin PDIP dan Wiranto dengan kendaraan Golkar, bisa beliau kalahkan dengan modal popularitas. Padahal tahun 99, Megawati terkenal dengan brand wong ciliknya, dan Wiranto representasi dari era lama yang saat itu mulai dirindukan rakyat.

Pada intinya, tidak ada yang stabil di politik. Dan ketidakstabilan kondisi politik ini, cepat ato lambat akan mengakibatkan masyarakat menjadi selektif dan senang berganti-ganti selera. selanjutnya mereka akan memiliki demand yang tinggi, yang bergantung pada supply yang tersedia. sedangkan demand mereka, karena terlalu pemilih akan menyebabkan demand itu untuk cenderung naik atau dengan kata lain cepat bosan. artinya menurut saya, trend artis jadi pemimpin ini, paling banter akan bertahan hanya satu periode, ato dengan kata lain sampe kurang lebih 2013.mungkin stlah itu akan muncul trend lain. selanjutnya selama itu, kita akan menikmati dulu, bagaimana artis akan memimpin kita, syukur2 kalo baik..dan mudah2an saja mereka tidak menganggap kampanye mereka dulu hanya sebuah lagu, dan posisi mereka sekarang sebagai pemimpin adalah sebuah figur sandiwara yang mereka jalani..
(maap kepada senior kalo saya terlalu banyak omong..)
alamsyah, IE-07
waroenk-suroboyo.blogspot.com