Thursday, April 24, 2008

An exercise on Welfare Analysis of Pulling out BBM Subsidy and Converting It into Cash Transfer (Part 1)

It is a compelling task in making economic assessment in this issue. Firstly, it originated from the theoretical base in which the correct welfare analysis is a debatable concept due to various approach for the equilibrium. Secondly, we realize the political economy’s complexity for any policy implementation if any scheme should be take in place.

The Story

Let us begin with a simple notion of the policy change. The government aims to pull out the BBM subsidy and converts it into a specific cash transfer to targeted beneficiaries (the poor). The reasons are assumed to be limitation of government budget and a good intention to improve welfare consequences from the old policy scheme.

Now, we can start to examine these two reasons using agent’s preferences in the economy.

Efficiency Analysis Using Preferences: The Utility of Poor People

Since the government is focusing on the welfare of poor people, we can start to analyze the welfare changes for poor individual and put aside for a while the welfare consequences for the rich. We will reconcile those two later.

Read more here!

By Rus'an Nasrudin


2 comments:

Carlos said...

Mas Rus'an, Klo menurut saya masalah subsidi BBM dan kompensasinya lebih karena isu ekonomi politik saja.

Segala pendekatan ekonomi-mikro dan makro untuk mengatasi hal ini hanya akan menjadi semacam "obat peredam rasa sakit" yang bersifat sementara. Mestinya harga BBM sudah harus dinaikkan sejak kemarin-kemarin.

Yang menarik adalah kabar bahwa kenaikan harga minyak dunia hingga diatas $100 dikarenakan aksi spekulan pasar finansial dunia yg masuk ke pasar komoditi setelah jatuhnya pasar finansial AS akibat kasus subprime-mortgage.

Kalo berita ini benar, maka semestinya kenaikan harga minyak dunia hanya sementara, sebab penyebabnya bukanlah bersifat fundamental.

Rus'an said...

Mas Carlos yang baik,

Saya setuju untuk dominasi ekonomi politik persoalan ini. Plus masalah domestik yang menjadi fundamental beban subsidy BBM dari sisi q(quantity) dan bukan p(price).

Dalam exercise ini saya ingin mengajak kita sedikit menengok ke belakang model mikronya yang bagi saya cukup menarik. Kenapa? ternyata untuk membuat economic assessment atas kasus pencabutan subsidy, sisi efisiensinya tidak sesederhana yang dibayangkan. Kita harus bisa mendefinisikan jenis "demand" yang tepat di komoditas yang besangkutan.

Semoga menjadi bahan diskusi mikro yang menarik...


Regards,

Rus'an