Friday, April 4, 2008

Kelangkaan Elpiji: Pertamina Punya Siapa?

Maaf sebelumnya, posting ini merupakan cross-posting dari personal blog saya di sini. Karena membutuhkan diskusi yang lebih masif dari peserta blog di sini dengan tujuan agar saya dapat penjelasan yang lebih mencerahkan, maka dari itu saya posting ulang di blog ini.

Soal kelangkaan pasokan Elpiji memang meresahkan masyarakat. Semestinya, bahan bakar gas ini menjadi andalan penyediaan kebutuhan energi rumah tangga seiring harga minyak tanah terus meningkat serta pasokannya yang menjadi terbatas. Konversi minyak tanah ke gas juga sedang gencar-gencarnya dilaksanakan oleh pemerintah.

Namun, kelangkaan pasokan gas saat ini mengibaratkan bahwa buruknya distribusi dan kemampuan Pertamina dalam membaca kebutuhan konsumen terhadap Elpiji. Penyediaan Elpiji pun semestinya dapat dipikirkan melalui berbagai skenario antisipasi resiko kemungkinan tidak match-nya antara kebutuhan dan penyediaan Elpiji di masyarakat. Lucunya, kejadian ini seperti banyak pihak yang tidak mau disalahkan. Seperti yang dikutip dari detikcom di sini,
“...Untuk elpiji, kami sudah cek ke beberapa tempat. Memang sejak Pertamina menyesuaikan harga yang 50 kg, pada bergeser ke 12 kg. Tapi itu korporat, bukan penanganan pemerintah. Karena pemerintah menangani yang 3 kg...
...Menurut Purnomo, pemerintah saat ini fokus menjaga agar subsidi elpiji 3 kg berjalan sesuai yang direncanakan di APBN...”

Menurut saya ini suatu statement yang sangat aneh dari seorang Menteri ESDM, seolah-olah bisa ada situasi di mana Pertamina adalah Pemerintah, dan situasi lain di mana Pertamina adalah korporat yang bukan bagian dari Pemerintah. Sebenarnya bagaimana sih status dan tanggung jawab Pertamina dalam penyediaan Elpiji?

2 comments:

Anonymous said...

Memang suatu fenomena yang aneh.
Di satu sisi, Pertamina sangat menggebu-gebu untuk mewujudkan program konversi minyak tanah ke gas. Namun, di sisi lain, terjadi fenomena kelangkaan elpiji.
Terus terang, gw memang gak bisa berkomentar panjang lebar dan benar, karena sudah cukup lama tidak tune-in / tidak menggauli permasalahan ekonomi di tanah air.

Dalam kasus Italia, distribusi gas disini justru lebih parah dan tidak pasti. Hal ini karena distribusi gas di Italia sangat bergantung pada Rusia dan Ukraina.
Apabila Italia memiliki permasalahan politik dengan negara2 tsb, maka distribusi gas akan terhambat karena negara2 tsb akan menutup pipa gas bagi Italia.

Gw pikir dalam kasus Indonesia, untungnya tidak seperti Italia. kita punya gas resources yg melimpah, namun tidak bisa mengalokasikannya dgn baik. Apakah ini lagi2 gara Pertamina yang bertindak sebagai monopolist dalam pendistribusian gas?

Liberalisasi migas memang sudah berlaku di Indonesia dgn maraknya gas station yang berlabel asing seperti Shell, Petronas, etc. Tapi mungkin itu blm cukup, biarlah Pertamina bertarung dgn perusahaan migas asing yg lebih banyak lagi. Di Italia, perusahaan lokal yg bergelut di bidang migas saja sangat banyak, perusahaan asing juga cukup banyak.

Mungkin kita perlu banyak perusahaan lokal baru yg fokus di bidang migas, sebagai pesaing Pertamina dan turunannya. Who knows, hal ini menjadi solusi terakhir untuk mengatasi kelangkaan gas.

(Rebibbia Boys, di sela2 kelas Prof. Cesaratto)

Gaffari said...

Saya rasa memang perlu adanya liberalisasi di bagian hilir industri gas seperti halnya pada minyak. Maka dari itu tidak terjadi monopoli oleh pihak Pertamina.

Kelangkaan ini menurut saya sebuah kondisi yang sangat konyol. Di tengah persedian gas yang melimpah, di mana neraca migas kita surpuls akibat surplus gas yang mampu menutupi defisit pada minyak. Namun, kok bisa2nya terjadi hal seperti ini.

Apa kata dunia?