Thursday, April 3, 2008

Ayat-Ayat Cinta, Fenonema Religiusitas, dan Pemilu 2009

Sudah baca novelnya dan sempat mengulasnya bersama teman-teman di Novel Appreciation Club FEUI sekitar 3 tahun lalu, buat saya Ayat-Ayat Cinta tidak sebagus apa yang dibilang banyak kalangan. Dengan alasan itu, sama sekali tidak ada keinginan untuk menonton filmnya. Apalagi beberapa rekan menyebutkan bahwa film ini tidak bagus. Semakin komplit saja alasan untuk tidak menonton. Bahkan meski SBY ataupun JK saja menyempatkan menonton.

Namun, akhirnya kemarin saya menonton Ayat-Ayat Cinta. Bukan karena penasaran atau tergoda, tetapi sebagai bagian dari tugas seorang suami, yakni menemani sang istri. Dan ternyata filmnya tidak seburuk yang saya bayangkan.

Tapi ya sudahlah. Lagi pula bukan itu yang ingin saya angkat dalam posting ini.

Sudah cukup lama Ayat-Ayat Cinta bertengger di bioskop-bioskop 21 di Jakarta, tetapi antusiasme masyarakat terhadap film ini masih begitu besar. Dari yang tua, muda, Islam, Kristen, kaya, tidak terlalu kaya, semua masih menyempatkan diri menontonnya di bioskop. Fenomena ini ada yang menganggap menjadi bukti sahih meningkatnya religiusitas -- nuansa agama -- di masyarakat kita sekarang-sekarang ini (saya sama sekali tidak menolak anggapan ini). Dan fenonema ini bisa dijelaskan dengan dua hal.

Pertama, faktor kompetisi. Sejak reformasi terjadi dan proses demokrasi mulai dialami negara ini , pasar agama semakin kompetitif karena meningkatnya kebebasan yang dulu sangat terbatas pada masa Orba. Baik itu di inter-agama (misalkan Kristen - Islam) maupun intra-agama (kaum A- golongan B dalam satu agama). Kompetisi yang ada memunculkan berbagai variasi kegiatan religius dengan "dagangan yang unik" dan target pasarnya masing-masing. Salah satu contoh gampangnya: dulu kita tidak akan pernah melihat ustadz dengan dandanan funky dan berdakwah dengan lagu rap, dimana jelas target dakwah sang ustadz adalah ABG-ABG dari kalangan menengah ke atas. Atau contoh lain bisa dilihat pada munculnya berbagai paket kegiatan dengan nuansa keagamaan, seperti belajar Alquran secara cepat untuk orang-orang dewasa, acara sholat malam bersama + panduan, dzikir bersama, dllnya.

Adanya kompetisi yang ketat menyebabkan masing-masing pemain dalam pasar harus seagresif mungkin melakukan pendekatan dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif. Semakin mudah dimengerti penjelasannya atau semakin dalam pemahaman keagamaan bisa menjadi keunggulan dalam persaingan tarik-menarik kader atau pemeluk agama. Keunggulan jaringan atau networking juga menjadi andalan.

Terdengar seram memang. Bahkan tidak jarang timbul friksi-friksi antar-golongan yang berbeda pendapat atau antar-agama. Tetapi satu hal, hasilnya nyata terlihat. Adanya kompetisi menyebabkan faktor religi meningkat pesat perannya dalam kesadaran masyarakat.

Faktor kedua adalah kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang ada. Kondisi sosial dan ekonomi saat ini sangat berat bagi masyarakat. Harga-harga meningkat, sementara pendapatan tidak bertambah, kegiatan perekonomian tidak kunjung juga mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup, dan kemiskinan dimana-mana. Beratnya kondisi yang ada membangkitkan keinginan masyarakat untuk mencari ketenangan dan kedamaian. Dan dimanakah itu? Tidak lain ada pada agama, terutama dengan janji-janji surgawinya. Ibarat candu, kalau Marx menyebutnya.

Selain itu, semakin kotor, palsu, dan kejamnya kehidupan, dimana tiap individu semakin memunculkan sisi serigalanya, seakan-akan menimbulkan dahaga akan nilai-nilai kesucian, kebersihan, dan keikhlasan. Persis seperti apa yang ditunjukkan oleh Fahri sebagai simbol orang yang sangat dekat dengan agama.
Kedua faktor di atas menjadi pendukung bagi meningkatnya nilai-nilai religi di masyarakat. Dan menjadi alasan di balik kesuksesan Ayat-Ayat Cinta.

Pembahasan ini tidak berhenti sampai disini.

Today's Dialogue Metro TV dua hari lalu tentang Partai Islam Terpuruk sebenarnya menjanjikan sebuah tema diskusi yang menarik. Namun sayangnya menurut saya, pembahasan kenapa itu terjadi, tidak masuk kepada substansi yang paling penting. Pembahasan malah diarahkan pada konflik internal (yang secara serius hanya terjadi di PKB, dan PKB sendiri tidak hadir dalam diskusi tersebut) dan perdebatan yang lebih tidak penting lagi mengenai Presiden perempuan.

Substansi terpenting sebenarnya sempat terlontar dalam perdebatan Saiful Mujani dan Tiftaful Sembiring, yakni fakta rendahnya hasil survei LSI terhadap posisi Partai Islam dihadapkan pada fenomena meningkatnya nilai-nilai religi di masyarakat. Sepakat dengan Bung Saiful Mujani, fenomena meningkatnya nilai-nilai religi di masyarakat tidak diikuti oleh pemilihan electoral-nya. Tapi kenapa? itu belum terjawab.

Di mata saya, sebagai partai yang mengusung nilai-nilai Islam, seharusnya nilai-nilai tersebut tercermin dalam kancahnya di dunia politik. Hubungan positif peningkatan nuansa religi di masyarakat dan pilihan electoral-nya sebenarnya terlihat pada pemilu yang lalu. Dimana, partai Islam, terutama PKS meraih suara yang mengejutkan. Cuma dalam prakteknya, ternyata tidak ada perubahan signifikan yang diberikan para wakil-wakil partai Islam terhadap proses politik yang ada, sehingga kekecewaan yang timbul. Padahal ketika nuansa religi yang tinggi muncul di masyarakat, berarti ekspektasi yang diberikan pada wakil dari Partai Islam juga akan tinggi. Dan ketika ekspektasi tersebut gagal diwujudkan, kekecewaan yang ditimbulkan juga akan lebih besar.

Bagi saya, terpuruknya Partai Islam dalam survei LSI seharusnya menjadi pelajaran bagi Partai Islam menuju Pemilu 2009. Fenomena semakin meningkatnya nuansa religi di masyarakat bukan berarti semakin mudah jalan bagi mereka, tetapi sebaliknya. Dan satu hal, ini tidak hanya berlaku bagi Partai Islam saja, tetapi juga bagi semua partai dengan agama sebagai ideologinya.

No comments: