Tuesday, January 29, 2008

Bagai Menjual Pisang pada Penanam Pisang (suatu pengantar untuk diskusi jumat)

Semenjak terhentinya negosiasi putaran Doha, negara-negara di dunia semakin yakin untuk mengambil langkah taktis dengan membentuk kerjasama-kerjasama perdagangan di luar skema multilateral WTO. Asia tenggara yang terdiri atas 9 negara berkembang dan 1 negara maju (Singapura) pun sepakat untuk membentuk ASEAN-Free Trade Area atau yang lebih dikenal sebagai AFTA di tahun 1992.

Salah satu wujud konkrit dari AFTA adalah program penurunan tarif impor di masing-masing negara ASEAN hingga dibawah 5% selama suatu rentang waktu yang disepakati kemudian. Namun, muncul pertanyaan lanjutan dari program ini, yaitu produk macam apa yang akan menjadi komoditi utama dalam perdagangan antar negara-negara yang sebagian besar masih bersifat agraris ini?

Menjadi sebuah negara yang agraris, tentu produk andalannya tidaklah jauh-jauh dari produk agrikultur (pertanian), tetapi sulit rasanya untuk berdagang suatu barang yang negara partner dagang dapat pula memproduksinya. Seperti bunyi judul pada tulisan ini, “Jual Pisang pada Penanam Pisang”. Untuk itu, diperlukan kecerdasan dan kreativitas dalam mendifferensiasi produk agrikultur yang diperdagangkan di antara negara-negara ASEAN. Ambil contoh pisang; sebaiknya yang diperdagangkan bukanlah wujud pisang sisir lagi, namun produk pisang yang sudah semi-olah atau benar-benar hasil olahan (contohnya pisang goreng).

Bukti empiris menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan demand (diwakili efek negara) dan supply (diwakili efek kompetisi) dari perdagangan produk agro-industri (HS21) Indonesia di pasar ASEAN, sedang produk agrikultur lainnya relatif tidak banyak berubah bahkan ada juga yang semakin menurun antara sebelum krisis dibanding setelah krisis. Proses yang bersifat positif ini ditunjukkan oleh keberadaan bubble HS 21 di kuadran 1 pada grafik masa setelah krisis padahal sebelum krisis tidak tampak. Dalam hal ini, besar bubble mewakili pangsa pasar produk di pasar ASEAN. Semakin besar maka semakin besar pula pangsa pasarnya.

[Masa sebelum krisis]

[Masa setelah krisis]

Dengan mulai memfokuskan diri kepada produk agri-industri maka Indonesia juga semakin menunjang proses terciptanya ASEAN Production Network, sehingga wilayah ASEAN dapat menjadi sebuah kesatuan “pabrik” ukuran raksasa yang memproduksi produk-produk unggulan yang bisa bersaing di regional lain. Meski impian ini terasa masih jauh untuk terwujud tetapi lagi-lagi bukti empiris menunjukkan bahwa kita memang sedang mengarah kesana. Hal ini ditandai oleh semakin meningkatnya Intra-regional trade produk pertanian di pasar ASEAN padahal regional lain sebaliknya sedang mengalami penurunan.

[Persentase Perdagangan Intra-Regional Produk-produk Pertanian ASEAN dan regional lainnya, 1995-2006]

2 comments:

luthfi said...

Studi yang sangat menarik los.
gwe jadi berpikir kalo misalnya memang kita bakalan jadi sebuah pabrik raksasa produk-produk agri industri, lahan yang ada cukup gak untuk memenuhi demand yang ada?

ini pertanyaannya agak bodoh kayaknya...

Carlos said...

itu pertanyaan yang sangat tepat banget fi, gw juga baru kepikiran (belon bisa jawab neh). Mungkin bisa ada masukan dari yang laen.

Cuma setau gw emang manajemen lahan sedang jadi sorotan saat ini, apalagi sekarang ada perbedaan kepentingan lahan antara tanam buat pangan atau bahan bakar.