Monday, January 14, 2008

More Laissez Faire?

Ada artikel bagus disini, judulnya Why America needs a little less laissez-faire. Buat yang belum terlalu paham apa itu laissez faire, penjelasannya dapat dilihat disini atau sini.

Pertanyaannya adalah kalau di Indonesia sekarang gimana ya? Seberapa jauh si proses deregulasi dan juga privatisasi yang sudah ada? Bagaimana dampaknya? Evaluasinya seperti apa? Ke depannya seperti apa?

Kalau saya pribadi, dari jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut akan memunculkan sebuah artikel dengan judul Why Indonesia needs much much more laissez faire. Bagaimana menurut Anda?


* Secara khusus saya sangat menunggu jawaban dari Bung Chaikal, Pakasa, dan juga Starbuckers yg lain.. Gimana guys? hehehe.. sekalian meneruskan diskusi kita tentang liberalisasi di Bakul Koffie kemarin.

19 comments:

Pakasa said...

Pertama-tama, judul artikelnya salah bung, yang benar why america need a little LESS laissez faire. Di artikel itu justru dibilang berdasarkan pengalaman amerika radical economic deregulation merugikan "kesehatan" ekonomi. Laissez faire itu nguntungin sejauh tidak ada market failure, kalo ada? ya mesti ada "visible hand" ala Prof. Sri-Edi. Kalo nggak, yah liat tuh efek subprime mortgage.
Gw rasa amerika sendiri secara diam2 memproteksi negaranya walaupun mereka mempromosikan laissez faire kepada negara berkembang, contohnya ada subsidi pertanian, adanya aturan yang ketat untuk hard-cash pas main saham, dll.
Naturally, bagi Indonesia yang masih developing country, kecenderungan market failure lebih besar. Jadi "more laissez faire" harus dipertimbangkan lebih matang dibanding negara maju.
Jawab bung, biar semakin memanas hehehe

Letjes said...

oiya thx buat koreksinya pak.. hehehe.. lessnya ketinggalan..tp udah kuperbaiki.

oke pak, pernyataan mu ttg kencenderungan market failure di negara berkembang spt Indonesia lebih besar jelas benar.

dengan alasan itu, proposal yang km ajukan: market failure harus dibenahi dengan visible hand, yakni government.

nah poin yang pengen aku angkat adalah dibandingkan dengan negara-negara maju bagaimana kualitas government kita? jelas jauh kan. negara dengan tingkat korup yang tinggi, birokrasi yang terkenal rumit, kualitas SDM pemerintahan yg rendah, atau cerita2 kinerja PNS kita menjadi buktinya.

artinya apa: market failure besar, tapi government failure juga besar. dan government failure juga lebih menakutkan dari market failure.

Chaikal said...

so far, tjes.. you've done too many mistakes. why??

for me, let the article (you haven't read) speaks by itself.

Letjes said...

bung chaikal, aku tau km bkl komentar kyk gt.. aku tunjukin artikel itu dg maksud spt itu. dan pasti sudah aku baca-lah bung.. aku kan rajin membaca..

pasti anda sll bilang dan yg ingin anda utarakan dalam komen anda adalah "AS aja yg mbahnya liberal aja kyk gt".. bukan begitu bung chaikal?

nah pertanyaannya kita sama AS sama gk? klo emang mbahnya liberal itu gk liberal apa berarti kita jg gk harus liberal? bgmn klo itu yg terbaik bagi kita? lg2 terlepas dari negara maju mw gimana..

bung chaikal mengharapkan peran lebih dari government di negara kita, padahal anda tahu sendiri bagaimana realita kualitas government yang ada di negara kita..

Chaikal said...

"bung chaikal mengharapkan peran lebih dari government di negara kita,..."

then you make a mistake again.. I think i never said that..

I truly believe on market mechanism (and this belief is inline with my celestial belief).

This what i've already told you: Prophet Muhammad rejected to interfere market (ceiling price) when there was a hiking price on basic needs whenever it caused by natural market mechanism i.e. the decreasing supply was caused by natural phenomenon such as natural disaster.

i just don't belief in pure liberalism (classical liberalism), i mainly agree with the concept of social liberalism (anw, is it oxymoron term? the answer is no)

Classical and social liberalism is belong to the same root: liberalism. the difference between the two is that the former based on the negative liberty, and the later based on positive liberty.. (for a further info you can read it in wikipedia, etc). and i hope you will understand what i hold on to..

Chaikal said...

aduh ma' baru baca langsung keliatan kacaunya inggris gw, ya dimaklumi lah guys, sebagai satu tahapan untuk menuju english-blog..

Pakasa said...

bener bung, government failure di kita itu besar sekali. "more laissez faire" dengan keadaan negara berkembang sulit diprediksi efeknya dengan pasti. Bisa jadi lebih baik, bisa jadi lebih buruk. Jadi tanpa pertimbangan matang itu agak nekat menurut gw.

Cara yg lebih aman itu reformasi birokrasi. Untuk reformasi birokrasi, menurut gw, gaji PNS itu harus dinaikin dulu bung, dan dibentuk lembaga sendiri untuk bikin evaluasi kinerja mereka, juga reward berbasis kinerja. (jgn kira pesen sponsor bung, gw bukan PNS hehe). Kayaknya ini juga yang diusahakan oleh Bu Sri Mulyani. Tapi kekurangan cara ini butuh waktu lama, paling cepet 5 tahun.

Mungkin aja lo ada benernya tjes, kadang2 kita mesti nekat juga. Yah, kalo gak punya apa2 harus nekat untuk bisa punya sesuatu. Analoginya adalah ketika orang miskin ingin jadi kaya dia harus lebih berani daripada orang kaya yang pengen lebih kaya lagi. Tapi yaa sekali lagi, resikonya besar.

Terkait dengan masalah invisible ama visible hand, mungkin kita perlu ngebahas teori desain kebijakan yang diusung ama maskin dkk (peraih nobel ekonomi 2007). Jadi kita tau kapan saat market perlu dicampuri. Gw belum baca sih, ada yang udah ngerti dalem?

Ini ada pertanyaan di kepala gw: mungkin nggak market failure dibenahi dengan government failure? jadi diadu gitu. kayak sakit ama obat, sama2 racun. Secara teori gimana?

Gaffari said...

Pemerintah itu sekalipun mencoba memainkan role sebagai "visible hand" yang diutarakan komentator sebelumnya seharusnya hanya sebatas regulator, bukan turut sebagai "pemain" dalam pasar.
Bagaimanapun juga, apabila pemerintah turut sebagai "pemain" dalam pasar akan berkaitan dengan conflict of interest antara pemerintah sebagai regulator namun di sisi lain turut sebagai "pemain" atau "agen" dalam pasar.

Namun, menurut saya tidak ada pendapat yang benar secara general.
Pihak ekonomi neoklasik tentu saja berpendapat bahwa sedapat mungkin peran pemerintah adalah sedikit mungkin, beda dengan pihak Keynesian yang sebaliknya lebih kompromistis terhadap peran pemerintah dalam pasar.

Kalo kita ambil salah satu contoh negara seperti Singapura. Meskipun peran pemerintah sangat besar dan juga peran perusahaan milik pemerintah (BUMN) di sana adalah pemain dominan dalam pasarnya, namun mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Di sini, Singapura pemerintahannya mampu menujukkan efektifitas kinerjanya.

Menjawab pertanyaan Pakasa, saya rasa akan sulit untuk menginternalisasi berbagai hal yang menyebabkan market failure dengan campur tangan dari pemerintah yg juga mengalami kegagalan (government failure).

Saya kira ketika government effectiveness di suatu negara mmg belum memadai, akan lebih baik semua diserahkan pada market mechanism, biarkan gerakan pendulum sosial dalam masyarakat bergumul untuk menemukan titik equilibriumnya.

Letjes said...

bung chaikal nulis apa si bung? hehehe...

bung, aku jg gk menawarkan pure liberalism. kan yg aku ajukan we need more laissez faire.. meski dalam hati yg paling dlm aku sangat setuju pure liberalism..

nah tanggapan dari bung pakasa memberikan poin yg penting. tapi sebelumnya pak, kita emang seharusnya gk nekat. tetap harus ada kajian2 terlebih dahulu.

cuma hipotesis yg aku punya, based on obervasi yg ada (belum ada pembuktian dengan metodologi yg kuat) proposal yg aku ajukan yaitu tadi.. Perlu ditindaklanjutin lagi perumusan langkah kebijakannya spt apa..

krn aku lihat juga pelaksanaan deregulasi dan privatisasi yang selama ini dilaksanakan di Indonesia pun sebenarnya masih sangat jauh dari semangat laissez-fairenya. karena yg terjadi hanya perpindahan dari penguasa ke kroni penguasa.

terkait dengan nobel 2007, aku ada file ringkasan papernya pak..aku kira metodologi "mechanism design theory" memang harus kita pelajari dan terapkan. mungkin pakasa ingin mempresentasikannya di diskusi rutin kita?

lalu ttg reformasi birokrasi, idenya aku setuju. tapi kdg aku mikir gini pak. gimana caranya mereka government yg telah meraih keuntungan dg keadaan mereka sekarang mw mereformasi diri mereka. kalau pun mau, bentuk reformasi yg dilakukan pasti hanya akan menambah keuntungan mereka. keuntungan lama ditambah keuntungan baru. ya gk?

nulis apa si aku? ... hehehe

Letjes said...

bung gaffar mengangkat poin menarik ttg pendulum..

pasti suatu negara akan selalu bergerak tuh pendulumnya. nah klo di AS pendulumnya sdg bergerak ke arah less laissez-faire, pendulum kita bergerak ke arah more laissez-faire.

aku rasa suatu saat kita juga akan mengalami bergeraknya pendulum ke arah less laissez-faire.

nah pendulumnya bisa bergerak-gerak, krn di satu sisi ada bung chaikal yg ada di tengah agak ke kanan, saya yg di kanan banget, gafar juga mungkin begitu, pakasa juga tengah agak ke kanan mungkin, dan ada juga paijo, painem yg mungkin ada di kiri banget.

paragraf terakhir agak gk penting.. maaf

Chaikal said...

namanya pendulum, keseimbangan naturalnya ada di tengah..

lagipula masa gw di-tengah-kanan, bung letjes.. coba semuanya direnungkan kembali sebentar aja sebelum ditulis..

what so ever, empirically proven:
1. pure liberalism is bad!
2. pure socialism is also bad!

and the process:
world (the pendulum) is moving to its natural equilibrium.. (to the center)

so the next question:
what is the center?
is it the third way, mixed economy, social liberalism, religious left/right, or shareeah economics, or else?

Letjes said...

bung chaikal.. bung chaikal.. entah krn km S2 atau apa.. tapi pola pikir kita selalu berbeda. dalam pandanganku u always miss the whole point..

nah aku pelan2 nih jelaskan.. klo km gk di tengah kanan tolong jelaskan dimana posisi km? dibilang kiri km sll bilang km adalah pendukung pasar (sll mengangkat apa yang dilakukan nabi Muhammad yg hanya mw intervensi ktk kondisi ttt). artinya jg klo dibilang tengah enggk juga kan..km pasti cenderung ke kanan. nah dibilang liberal bgt jg gk mau. nah tentu tepatkan kalo aku nempatin km di tengah kanan. tolong dibantah argumen dari aku..

lalu soal yg aku tulis di posting. aku cuma nulis di AS ada sebuah artikel. nah kira2 di Indonesia sama gk? nah aku mengajukan sebuah hipotesis awal bahwa klo di Indonesia sebaliknya. dengan argumen utama adanya government failure yg begitu besar. mungkin apa yg dialami AS, tentang bakalan adanya masalah2, di awal memang akan terjadi. tetapi itu tidak seburuk bila government yg bermain di dalamnya. karena dalam kenyataannya di Indonesia sekarang, banyak masalah timbul krn government. nah lalu aku tanya pendapat yg lain bagaimana? apa yg ada salah dg itu. aku kira argumenku cukup punya logical basic yg tidak salah. tolong jelaskan dimana kesalahan yg saya lakukan?

nah lalu yg anda lakukan berulang-ulang hanya menjelaskan posisi anda dan mengkritik saya. I just don't get it. komentar anda tampaknya sudah penuh dg prasangka buruk. sorry..

and last but not least, at least I wrote a lot.. ;)

Gaffari said...

Maklum kalo Chaikal kadang agak syariah gitu..Dia kan pengagum ke-uswah-an (keteladanan) Nabi Muhammad SAW...

He3...
Kalimat di atas bisa jadi ambigu..
Silahkan artikan sendiri..
Hi3...

Chaikal said...

you just make too many mistakes tjes, that i never expect it from someone like you..

for a-pure-liberalism-person i should be on the left-wing..

on off position, i am right in the middle..(on the center)

on indonesia position, i agree with you that we need more laissez faire.

for gaffari, the right statement is the reverse one, he3..

wislah ya, mungkin tepatnya bukan prasangka buruk tetapi chaikal yang sedang kecewa... tolong dimaklumi, and sorry for that, salam.

Letjes said...

to bung chaikal:

wah bung.. km bilang i've done to many mistakes di komen pertama km..

dan di komen terakhir, km bilang klo km setuju Indonesia needs more laissez faire.

entah aku bodoh atau enggk, tp kok kyknya gk konsisten ya..

postingku cm berisi pernyataanku bahwa aku setuju klo Indonesia butuh lebih banyak laissez faire.. tapi km bilang aku melakukan banyak kesalahan.. tapi diakhir km setuju pernyataan itu.. gimana si bung?

soal kiri dan kanan, eropa dan AS setauku beda. di Eropa, yg lebih liberal ditaruh di sebelah kanan, sementara, AS sebaliknya. dan aku pake punya eropa.

km bilang aku melakukan banyak kesalahan tapi km gk menunjukkan dimana dan terlebih lagi akhirnya km mlh g konsisten.

aku sendiri menyadari kalo aku punya banyak kekurangan. makanya itu aku rajin posting. krn dengan begitu akan ada banyak masukan.

tapi sayangnya, km, orang dengan gelar akademik paling tinggi di kita, malah sebaliknya komen-komen yang diberikan isinya hanya mencela. bandingkan dg komen2 dr pakasa dan gaffar, aku rasa mereka jauh lebih berisi. aku heran kenapa km gk bisa spt itu.. apalagi lagi2 dg gelar yg km punya itu.

for me, it is you that have done too many mistakes, especially for a person with "S2 degree". And the one who is dissapointed should be me not you.

terakhir.. sorry buat semua. tdnya aku mengharapkan adanya diskusi yg berkualitas, bukan seperti ini yg terjadi..

Chaikal said...

kamu gak bodoh tjes, cuma emosional aja.. (silahkan diminum dulu kopinya, semoga caffein bisa sedikit menenangkan anda)

kalo dibilang komen gw gak berisi hanya mencela, ya monggo ini demokrasi koq... (tapi coba deh diteliti lagi)

i never judge a post is wrong or right, just agree or disagree, and i always try to be objective.. (there's a post by you that i considered brilliant..)

to this post, i confess that the words i picked is cynical, annoying (thats me, harap maklum)

and what i really mean by mistake is: salah judul, salah ngitung, salah kutip, salah... maybe the right term is not "many" but "few", not "mistake" but "silly mistake"

makanya gw saranin: coba semuanya direnungkan kembali sebentar aja sebelum ditulis..

terus, melakukan komparasi amerika-indonesia dalam kasus ini menurut gw gak menarik, semua kondisinya beda sehingga pertanyaannya jadi retoris (kesimpulan dah jelas--sekali lagi ini menurut gw).

makanya gw pengen menarik perdebatan ini menjadi perdebatan yang lebih luas yaitu kepada pertarungan ideologi. gw ulangi sekali lagi:

what so ever, empirically proven:
1. pure liberalism is bad!
2. pure socialism is also bad!

and the process:
world (the pendulum) is moving to its natural equilibrium.. (to the center)

so the next question:
what is the center?
is it the third way, mixed economy, social liberalism, religious left/right, or shareeah economics, or else?

terakhir.. sorry buat semua. diskusi jadi seperti ini karena ada yang emosional. (annoying khan..)

Anonymous said...

Duh jadi kayak debat kusir antara letjes dan bung chaikal niy. gw kok lebih gak peduli dengan istilah2nya, selama membawa kemashalatan umat mah, soal nama gak penting hehehehe....
Okay, karena membicarakan soal peran negara, Sebenernya ada istilah baru yang gw baca: State Capitalism, diperkenalkan sama Martin Wolf (tp gw jg gak tau pasti tuh yah yang buat pertama kali dia atau bukan), ekonomnya financial Times. Istilah ini dia perkenalkan ketika melihat peran Sovereign Wealth Fund yang makin marak dewasa ini. Fund2 dari Pemerintah-pemerintah macam Singapura, Kuwait, dan China mem bail out bank-bank besar kayak UBS, Citigroup, Merril Lynch dan Morgan Stanley. Nah dalam kasus ini gimana menurut pendapat kalian...??
More Laissez Faire...? Klo gak di bail out sama mereka, bank2 itu bisa pada kolaps semua lho, which mean global financial crises.


Septian.

Chaikal said...

bung seto gak peduli ma istilah justru memperkenalkan istilah baru.. (tetapi keren koq)

state capitalism (is it oxymoron?)
kapitalisme yang dilakukan oleh negara, wah pusing neh..

tapi saya lebih melihat ini seperti kasus bank sentral menyelamatkan perbankan yang kolaps, hanya saja sekarang yang menyelamatkan negara lain, lewat mana? yang paling mungkin lewat pasar kapital.

lalu kenapa gak bank sentral sendiri yang menyelamatkan (namanya liberal, 'mungkin' gak ada mekanisme seperti ini lagi di AS i.e. bank sentral sebagai LOLR)

nah jadi pertanyaan yang lebih mendasar lagi adalah apakah bank sentral termasuk kebijakan moneternya juga merupakan bentuk intervensi negara?

kalo leces pasti jawabnya iya, austrian economics menyatakan institusi seperti bank sentral tidak perlu ada dalam perekonomian..

Chaikal said...

baru googling state capitalism, ternyata ini istilah dah tua juga adanya..

state capitalism serupa dengan sosialis jadi kontranya free market capitalism..

makin lama makin pusing juga dengan perdebatan ini..

classic liberalism dan social liberalism berasal dari akar yang sama liberalism (liberty).

state capitalism dan free market capitalism berasal dari akar yang sama capitalism.

"Capitalism by itself is neutral and a tool employed by all forms of governments, nations and people." (weebies)

jadi kalo didekontruksi semuanya pada akhirnya sama saja, kayaknya butuh rocky gerung neh..