Sunday, January 13, 2008

Prof. Sadli

Mungkin ini memang agak terlambat, tetapi ada pepatah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Bila di sini, sini, sini, sini, dan sini adalah kenangan dari mereka yang lebih dekat secara generasi dan personal dengan Prof. Sadli, posting ini adalah kenangan dari seorang lulusan FEUI angkatan 2000-an yang meski jauh, baik secara generasi maupun personal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh figur Prof. Sadli.

Bicara tentang Prof. Sadli, memori ini seakan dibawa kembali kepada masa beberapa tahun lalu ketika saya bersama teman-teman Kanopi mengundang beliau untuk menjadi pembicara pada salah satu seminar. Dalam momen tersebut itulah, saya mulai mengenal beliau.

Layaknya cinta pada pandangan pertama, rasa kagum terhadap beliau langsung muncul saat itu juga. Di usianya yang sudah jauh di atas rata-rata usia hidup orang Indonesia, Prof. Sadli mampu memberikan pemaparan yang tajam dan sangat sistematis tentang perekonomian Indonesia terkini. Mendengar pemaparan beliau ketika itu, rasanya seperti mendengar sebuah seorang pendongeng yang menceritakan sebuah cerita menarik. Pandangan dan pendengaran ini rasanya tidak bisa lepas dari beliau dan apa yang dipaparkannya. Dalam hati saya berkata: suatu saat nanti saya harus bisa seperti Prof. Sadli. Tetap produktif di usia tua dan mampu menyampaikan apa yang ada di pikiran dengan baik.

Selepas seminar itu, mulailah saya rajin browsing-browsing tulisan lama beliau di internet. Selain itu, tulisan beliau yang biasanya dimuat di editorial business news selalu diposting di milis economics dan menjadi bacaan wajib serta selalu ditunggu. Banyak yang bisa dipelajari dari tulisan-tulisan beliau, terutama bagaimana Prof. Sadli, mampu menyampaikan pemikiran ekonominya dengan bahasa-bahasa yang sederhana. Setiap membaca tulisan beliau, kembali dalam hati saya bertekad: suatu saat nanti saya harus bisa menulis seperti Prof. Sadli.

Di mata saya, beliau juga haus akan ilmu dan pengetahuan baru. Kesimpulan ini saya ambil setelah datang pada beberapa seminar ISEI, dimana beliau hadir dan duduk paling depan, mendengarkan pemaparan-pemaparan dari narasumber. Bahkan beliau juga tidak segan bertanya dalam sesi tanya-jawab. Benak saya ketika itu pun berkata: Nah saya juga harus seperti ini ni, bahkan seharusnya lebih.

Terlepas dari pemikiran ekonomi Pak Sadli, kesederhanaan beliau juga sangat berpengaruh bagi diri saya. Masih jelas dalam ingatan, sebagai seorang bekas menteri, mobil yang mengantarkan beliau ke kampus ketika itu begitu ‘biasa’. Dari cerita teman-teman tentang kondisi rumah, sikap dia, dan keseharian Prof. Sadli juga menunjukkan kesederhanaan dan kesahajaan. Kesan mengenai kesederhanaan Prof. Sadli ini yang menjadi pelengkap dan bagian terpenting kekaguman diri ini terhadap beliau.

Melihat kesederhanaan beliau tersebut, ketika itu saya selalu teringat dengan sebutan ‘mafia berkeley’ yang disematkan kepada beliau sebagai salah satu bagiannya. Kemudian pasti saya akan membandingkannya dengan grup ekonom lain yang selalu mengangkat soal rakyat, kerakyatan, dsbnya. Sungguh kontras bedanya!!! Beliau yang dianggap ‘mafia berkeley’, antek-antek Amerika, kaum-kaum liberal yang tidak pernah mementingkan rakyat, ternyata hidup begitu bersahaja. Sementara ekonom-ekonom yang berulang-ulang menyebut soal rakyat, di sisi lain banyak bercerita tentang bagaimana dia sangat cinta dengan jam rolex, punya mobil mewah, harus makan keju tertentu yang mahal harganya, atau salah satu berita terbaru, salah satunya punya istri muda dengan perbedaan umur sangat jauh. Mana yang sebenarnya banyak omong tapi gak ada isi dan aksi, dan mana yang sedikit omong tapi berisi dan penuh aksi tidak sulit dibedakan. Kenyataan itu pada akhirnya selain menjadi motivator diri untuk berbuat yang sama, juga semakin mengukuhkan keyakinan dalam diri mengenai pilihan mazhab ekonomi yang selama ini saya pegang.

Akhir kata, kendati hanya mengenal sosok beliau dari jauh dan sangat singkat, tapi apa yang beliau tunjukkan kepada saya sangatlah berharga. Prof. Sadli telah memberikan contoh yang baik bagaimana menjadi seorang ekonom.

Selamat jalan Prof. Sadli. Andai saja saya bisa mengenal beliau lebih dekat….

2 comments:

Chaikal said...

Berikut ini merupakan hal-hal yang menjadi perhatian ekonom-ekonom, kecuali:
a. rakyat
b. cinta
c. jam rolex
d. mobil mewah
e. keju tertentu
f. istri muda

mmmmmhhhh...

Anw, selamat jalan Prof... semoga segala amal ibadah Bapak diterima disisi Allah SWT, aamiin.

Gaffari said...

Masih ingat pas acara Kanopi itu kebetulan saya yang menjadi moderator.

Merupakan hal yang luar biasa pernah memoderasi Prof.Sadli sebagai pembicara waktu itu, entah berapa generasi saya dan dirinya terpaut jauh.

Waktu itu saya begitu terpukau dengan sistematika pembicaraannya yang runut, lugas, dan jelas sehingga membuat saya sedikit enggan untuk memotong pembicaraannya yang sudah lewat dari waktu yang ada.

Acara itu bisa menghadirkan Pak Sadli setelah sebelumnya saya bertemu Pak Sadli bersama Pak Thee di Freedom Institute sewaktu membedah buku Recollection of My Career kumpulan biografi tokoh teknokrat ekonomi Indonesia di jurnal BIES.

Nah ketika saya meminta kartu nama ke Pak Sadli, dan menemukan betapa terkejutnya saya ketika dia mengeluarkan dompet kulitnya yg sudah kusam dengan permukaan kulitnya yg sudah bnyk mengelupas. Ketika membuka dompetnya, terlihat bnyk kertas2 sdh sdikit hancur dan ketika mengorek2 lbh dalam dompetnya dia tidak menemukan kartu namanya. Dia bilang "Maaf dek kartu nama saya habis, tulis saja nomor telvon rumah saya, bisa jadi nanti kalo telvon mungkin saya yang langsung angkat." Begitulah kata2 beliau dan perilaku bersahajanya yang membuat saya makin mengaguminya. Begitupula saat itu Pak Thee yang juga memberikan nomor telvon rumahnya dan mengaku tidak bisa mengoperasikan handphone. Hasil ini berlanjut dengan acara bedah buku Pak Thee ketika Ulang Tahun Kanopi.

Mulai saat itulah sejak moment itu semakin membuat saya heran dengan para ekonom2 kerakyatan yang sering mencibir dirinya yang bagian mafia berkeley sebagai pro liberalisasi, tidak pro rakyat dan antek2 amerika.
Padahal selama mengikuti kelas dosen yang mengaku "ekonom kerakyatan" sungguh luar biasa mewah gaya hidupnya dibandingkan tokoh yang dia cibir selama ini.
Dan saat itupula saya mulai kritis di kelas sistek itu..Hahahaha...

Saya mau mengucapkan:
Selamat jalan Pak Sadli.


NB:
Saya lupa di mana Foto saya bersama Pak Sadli setelah acara itu ya?
Ada yang tau gak?
Boleh diminta buat kenang2an.