Thursday, January 24, 2008

a lonely budget line

Dalam buku mikroekonomi dijabarkan berbagai macam bentuk/tipe indifference curve berdasarkan komoditas yang dikonsumsi, diantaranya: perfect substitute, perfect complement, bad commodities, maupun neutral commodities..

Secara sederhana, konsumen memaksimisasi utilitasnya ketika indifference curve bersinggungan dengan budget line.

Yang agak sedikit mengganggu adalah jika indifference curve banyak ragamnya, lalu kenapa dalam buku mikroekonomi hanya memperkenalkan satu tipe budget line?

Padahal sangat umum terjadi, jika kita membeli suatu barang lebih banyak (lebih dari kuantitas tertentu), penjual akan menetapkan harga yang lebih murah untuk barang tersebut, atau dengan kata lain akan ada non-linear budget line.

Keterangan lebih formal tentang hal ini dapat dilihat di sini.

4 comments:

dendi said...

Jawabannya sederhana: Dosen tidak mau susah dengan model budget line yang non-linear; termasuk si Penulis buku; apalagi Mahasiswa-nya :-)).

Pendeknya, ekonom selalu berusaha membuat model se-simple mungkin, dengan biaya modelnya mungkin semakin jauh dari realita masalah.

Areyou said...

Hehehe... jadi Inget perkataan pa Sri Edi Swassono bahwa ekonom-ekoenom kita itu seringkali berkata "Keep It Simple Stupid".

Setuju dengan mas Chaikal... Lah terus di Kelas Mikro1 di Kampus Indifference Curve tipe lain diajarin gak Yah ???

Pertanyaan besarnya "Emang Mahasiswa Peduli Yah ???"

Gaffari said...

Kalau buku-buku teori ekonomi yang author-nya berasal dari luar negeri saya perhatikan mereka lebih banyak meramu atau mengumpulkan berbagai bahan-bahan dari jurnal-jurnal internasional yang biasa kita temukan di JSTOR, Proquest.etc..

Sebenarnya perdebatan mengenai teori ekonomi kan cukup tinggi. Hanya pilihan penulis buku tersebut juga perlu sebuah kerangka fokus topik yang jelas. Hingga, satu bahasan dalam hal ini indifference curve tidak memakan perdebatan hampir satu buku sendiri.

Berbeda halnya dengan buku-buku teori ekonomi makro/mikro terbitan dalam negeri (dalam hal ini terbitan penerbit kampus). Lebih banyak merangkum intisari buku-buku teori ekonomi dari luar negeri. Tingkat kedalaman pembahasannya pun menjadi berkurang.

Lha kal, diajarin yang gampang aja mahasiswa suka planga-plongo gak jelas..gimana kalo pake model rumit?

Chaikal said...

wah wah.. maksud saya begini.. sesulit apapun tipe indifference curve (IC) tetap diajarkan di mikro 1 atau 2, BL yang non linear gak sesulit tipe2 IC koq..

Menariknya jika BL non-linear, semakin besar anggaran, solusi maksimisasi utilitas tidak unik, atau pilihan maksimisasi semakin banyak.

dalam arti orang yang lebih kaya akan punya pilihan lebih banyak dalam memaksimisasi utilitasnya.