Thursday, January 24, 2008

Soal Konferensi Perubahan Iklim (Tanggapan Untuk Bung Luthfi)

Bung Luthfi dalam tulisannya “Pemanasan Global dan Posisi Indonesia” menunjukkan ke-skeptisan akan pelaksanaan konferensi perubahan iklim – global warming – di Bali beberapa waktu yang lalu. Tampaknya bung Luthfi menganggap bahwa dana besar yang telah dialokasikan untuk pelaksanaan konferensi ini sebenarnya sia-sia, dengan argumen Indonesia belum saatnya memikirkan soal global warming, tapi perlu fokus dulu pada pertumbuhan ekonomi. Saya memandangnya sedikit berbeda dengan bung Luthfi pada dua poin, yakni mengenai sia-sianya konferensi Bali kemarin dan tentang belum perlunya Indonesia memikirkan soal global warming.

Soal konferensi di Bali kemarin, pelaksanaan konferensi perubahan iklim tsb bagi saya memberikan dua kesuksesan bagi Indonesia. Pertama, dari sisi posisi Indonesia sebagai pelaksana konferensi yang bersifat internasional. Saya rasa dalam posisi ini, Indonesia berhasil menjadi tuan rumah yang baik. Dan ini tentu memberikan dampak positif bagi citra atau image Indonesia di dunia internasional. Lalu poin positif yang lebih penting ada pada poin kedua. Bung Luthfi menulis bahwa hasil konferensi masih meninggalkan kejanggalan dan ketidakpuasan bagi peserta. Tapi apakah Indonesia berada pada posisi yang tidak puas dengan hasil konferensi? Saya kira tidak.

Memang pada akhirnya hasil konferensi Bali tidak mencantumkan besar penurunan emisi, karena AS, Jepang, dan Kanada tidak setuju. Dan karena itu, banyak kalangan yang merasa tidak puas. Namun perlu diketahui, Indonesia sama sekali tidak punya kepentingan dengan poin tersebut. Delegasi Indonesia datang ke konferensi Bali hanya dengan satu misi, yakni meng-gol-kan adanya pemberian kompensasi atau insentif fiskal bagi negara berkembang yang melestarikan hutannya. Dan misi ini tercapai dengan jebolnya program Reduction of Emissions from Deforestation in Developing Countries (REDD).

Dalam skema REDD ini, jika Indonesia mendedikasikan hutannya untuk dilestarikan (tidak digunakan untuk pembangunan, dll), Indonesia akan mendapatkan uang dari negara maju. Dana yang disediakan untuk program REDD ini mencapai US$ 10 miliar setahun. Rencana pemerintah Indonesia, dari 120,3 juta ha hutan, 37,5 juta ha atau setara dengan 31,2% total luas hutan akan dialokasikan untuk program REDD. Dan menurut Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, dengan asumsi tiap ha-nya Indonesia akan mendapat US$ 10 per ha tiap tahunnya, maka Indonesia akan mendapat dana segar US$ 3,75 miliar tiap tahunnya, Dengan kurs Rp 9000/US$, nilai tersebut setara dengan Rp 33,75 triliun, setara juga dengan 7% alokasi anggaran belanja ABPN 2007 kita. Tentu angka ini adalah angka yang cukup besar. Adapun rencana pemerintah terkait kondisi hutan dan kaitannya dengan perubahan iklim dapat dilihat disini.

Berangkat dari situ, kita dihadapkan pada sebuah pilihan: Gunakan hutan untuk mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi atau dilestarikan dan mendapatkan uang. Kita harus memilih mana yang punya benefit minus cost paling besar.

Melihat produktivitas kita yang masih rendah dan kondisi-kondisi lain yang menunjukkan belum pulihnya ekonomi kita, seandainya pilihan pertama yang diambil, pengorbanan hutan untuk pembangunan ekonomi tidak akan terlalu banyak meningkatkan kegiatan produksi dan juga pertumbuhan ekonomi. Belum lagi dalam prosesnya, tetap dibutuhkan biaya-biaya lain, seperti untuk investasi atau gaji bagi tenaga kerja, dan juga jangan lupakan ada opportunity cost sebesar dana yang diperoleh dari program REDD. Sementara pada pilihan kedua, dengan hanya menjaga hutan kita bisa dapat dana segar yang besar. Disini kita juga akan mendapati opportunity cost berupa keuntungan dari penggunaan hutan untuk pembangunan ekonomi. Tapi seperti disebut diatas, jumlahnya tidak banyak. Selain itu, meski tetap membutuhkan biaya untuk peningkatan pengawasan, tetapi saya kira effortnya relatif lebih mudah, sehingga biayanya juga relatif akan lebih rendah. Dari sini kita bisa bandingkan dan dapatkan secara kasar, benefit minus cost pilihan kedua lebih unggul.

Ini sejalan juga bila kita merujuk pada teori pada trade, yakni dari teori Heckser-Ohlin terkait dengan factor abundant. Dengan melimpahnya hutan, keberadaan hutan menjadi sebuah comparative advantage tersendiri bagi Indonesia. Oleh karenanya, akan sangat tepat bila kita menjual kelestarian hutan sebagai dagangan utama. Lagipula disini perlu dicermati pula, bahwa lahan hutan yang didedikasikan untuk program ini juga bukan seluruh lahan hutan. Jadi tetap masih ada mendekati 60% lahan hutan yang bisa digunakan untuk pembangunan ekonomi.

Lalu terkait dengan belum perlunya negara berkembang seperti Indonesia untuk memikirkan soal global warming, saya kira itu tidak mungkin dilakukan. Ini dikarenakan saat ini negara-negara berkembang berada pada posisi di-fait accompli untuk peduli global warming, yakni dengan melestarikan hutan dan lingkungannya. Dulu negara-negara maju telah terlebih dahulu menebang hutan mereka. Namun efek penebangan hutan tsb tidak terlalu berdampak besar pada global warming karena masih banyak hutan lain yang menyokong lingkungan. Tapi dalam kondisi sekarang, dimana hutan hanya tersisa di negara berkembang, jika hutan tetap ditebang, efeknya terhadap global warming sangat signifikan. Dan global warming punya efek yang tidak cool seperti ditulis oleh Chatib Basri disini. Bila opsi mengejar pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang diambil dengan menafikan pelestarian lingkungan, efek bumerang akan menimpa negara berkembang. Peningkatan ekonomi tidak terjadi, lingkungan pun hancur.

Tentu dengan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka apa yang dicapai oleh Indonesia dalam konferensi perubahan iklim tidaklah sia-sia.

7 comments:

""Areyou"" said...

Hello.... Areyou Ikutan Ahh....Ini gara-gara diajakin bung Gaffar neh...

Udah kelar kuliah, sekarang tinggal maen-maennya ajah.....

Ngomongin tentang perubahan Iklim (REDD)....

Menurut areyou sebelum masuk ke tataran teknis sebaiknya dijelaskan pula mengenai:
1. Nilai Hutan Indonesia berapa seh ??...KKalau kita mempreserve hutan, berarti memerlukan dana yg Cukup besar. Emangnya Negara-negara Maju mau ngasih kompensasi ke kita gitu ??? Lah mereka juga perlu dana untuk mereka sendiri.... Gimana mekanisme penyaluran bantuannya ?? Ups bantuan apa Utang yah ???

Selain itu menurut Areyou lebih baik mereka menggunakan uang kompensasinya ke Negeri mereka sendiri... Toh menguntungkan negaranya kok. Pertanyaan lanjutannya adalah mengenai Alokasi Modal negara kan terbatas... So they must be Wise... Kembali pada dogma ekonomi "Cost Minimize, High Return". Apakah menguntungkan ikut dalam konferensi ini ??? Pada konteks REDD bagi Ngara Maju benefitnya mungkin lebih sedikit yah daripada Negara bkembang



2. Mengenai peraturan yg Binding dan tidak binding. PEraturan/UU akan efektif jika dapat mengikat Stakeholdersnya.... Nah macam Amerika disuruh ngasih Kompensasi ke kita karena kita mempreserve Lingkungan.... Hmmm, Areyou pesimis! Sori kenyataannya kayak gitu...Padahal dia Pollutan terbesar (Ini bisa diperdebatkan. Selain itu apa untungnya buat Negara-negara maju?? Menurut areyou paling-2 Nama baik dan menghindari Social Sanction dari negara-negara maju (jadi inget berita tentang SBY yg gak mau ke EROPA gara-gara GARUDA, ya wong yg butuh kita...mereka mah santai aja). Sori emang lagi rada pesimis nih....

3. Yah jangankan ngomongin REDD..?! Wong Pengurangan Tarif Impor Negara Maju pd sektor-sektor tertentu kayaknya masih kucing-kucingan tuh...

Namun demikian.... Patut kita acungin JEMPOL untuk keberanian melempar ide menjaga Lingkungan secara Makro. Emang bener bahwa sekarang kita musti lebih menjaga lingkungan. Kayak Jargon Iklan.... Kalo` Bukan Kita Siapa Lagi ???? Ikan Paus?? Ya Enggaklah yaaaa....

luthfi said...

Salam hangat bung Firman.

Btw gimana urusan per-seragaman untuk the big day? apakah sudah Oke? cari di tanah abang murah banget kok bung. satu baju batik yang bagus banget bisa cuman @ 20 rb.

Saya sangat memahami pendapat bung Firman yang cinta lingkungan. namun demikian saya lebih suka menggunakan hutan untuk urusan yang produktif. kalo kita menunggu labor diIndonesia jadi produktif bung, katakanlah hingga dapat dengan baik mengelola hutan, saya khawatir sudah keburu kiamat bung.

saya belum dapat membuat kalkulasi hitung-hitungan apakah kalo dimanfaatkan akan lebih baik dari pada program REDD, namun yang pasti kalo cuma dibiarkan, akan ada porsi dimana pekerja tidak terserap. Mungkin bisa digunakan sebagai pengawas. namun tentunya pada jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan kalo kita memanfaatkan hutan.

Yang saya maksudkan sebetulnya simpel. Eksploitasi hutan dengan cerdas hingga mendatangkan manfaat. intinya adalah eksploitasi hutan pada tingkat dimana eksploitasi tersebut tidak mendatangkan banjir bandang.

apakah itu digunduli untuk dijadikan pabrik CPO atau dimanfaatkan sebagai tempat pariwisata tidak jadi soal. yang penting mendatangkan income.

Menurut saya, mendiamkan hutan begitu saja lebih buruk ketimbang pembalakan liar. Ibaratnya kita punya aset tapi dibiarkan menganggur. Sudah begitu mengemis sama negara lain untuk menyumbang. saya pribadi menganggap program itu menjadikan negara kita sebagai negara pengemis.

Demikian bung. jadi jelas saya bukan skeptis. tapi kapitalis. hehehehehe

Letjes said...

bung AREYOU, sebelumnya sy ucapkan selamat bergabung dulu dlm diskusi kita.

pertama nilai hutan kita berapa, mungkin bisa dilihat pada salah satu link pada posting sy.

lalu apakah negara maju mau ngasih kompensasi ke kita. nah itu makanya sy bilang konferensi kemaren kita mengalami kesuksesan. krn mereka akhirnya menyetujui untuk ngasih duit.cm memang mslh mekanisme masih menjadi PR besar.

buat bung LUTHFI, yang anda ajukan gunakan hutan dan kita dapat income. klo yg sy ajukan kita g usah gunakan hutan kita dapat income. nah di pilihan kedua, hutan selamat (tidak ada global warming) dan ekonomi meningkat (bahkan dalam hipotesisku lebih besar dari klo kita gunakan hutan). Knp? ya krn produktivitas kita yg masih rendah

pelantjong maja said...

areyou:

nilai hutan berapa? banyak yang sudah menghitung nilainya, pendekatannya juga banyak. salah satunya oleh IPB.

mengenai REDD saya sepakat. persoalannya bukan pada REDD-nya tetapi implikasi teknis dan kelembagaannya bagi negara penerima REDD. kalau sudah bicara uang, potensi kebocoran perlu diperhitungkan apalagi kalo governance di negara penerima (Indonesia) masih jauh dari harapan. alih-alih pelestarian, malah terjadi konsentrasi dana di tangan pihak-pihak tertentu. selain itu ketimpangan global merupakan isu utama karena REDD diduga merupakan celah bagi negara maju untuk tetap melepas polusi dengan dalih sudah memberikan kompensasi ke negara yang punya hutan.. nah lo, kalo begini perubahan iklim tidak bergerak ke arah yang seharusnya kan..

luthfi:
sebetulnya hutan itu tidak sesimpel kelihatannya dari luar. sudah pernah masuk hutan dan melihat apa aja yang ada didalamnya? pernah digigit pacet? sudah pernah tinggal dengan masyarakat pinggiran hutan? buat mereka, hidup memang simple karena semua yang mereka butuhkan ada di dalam hutan. hidup menjadi sulit kalau yang dulu ada di hutan sekarang tinggal sedikit atau hilang karena hutan mulai berkurang. jadi solusi eksploitasi belum tentu menjamin masyarakat yang tinggal disekitar hutan sejahtera. tentu harus ada penjabaran apa itu 'eksploitasi hutan secara cerdas'

Luthfi said...

Itu dia pak pelantjong maja. karena saya belum pernah masuk hutan yang bener-bener hutan, belum pernah digigit pacet, dikejar babi rusa atau diseruduk badak, makanya saya cuman bisa bilang eksploitasi cerdas.

yang saya ajukan adalah konsepnya atau idenya saja. dalam prakteknya nanti seperti apa, perlu penelitian donk. jadi bisa majuin proposal ney. begitulah kira-kira.

Chaikal said...

sama-sama kapitalis koq ribut: yang satu state capitalism, yang lain free market capitalism...

jadi memang seharusnya benefit saja tidak cukup menjadi fokus dalam pemanfaatan hutan. tetapi juga masalah distribusi dari benefit tersebut.


memanfaatkan hutan secara produktif dan memasukkan dalam REDD mungkin sama-sama menghasilkan pendapatan, perbedaaannya hanya siapa yang menikmati pendapatan tersebut dengan kata lain aspek distribusi pendapatan juga penting...

jujur nih belum baca REDD, apakah mekanisme ini tidak hanya melingkupi pemanfaatan hutan secara produktif tetapi juga pelibatan masyarakat lokal dalam pemanfaatan tersebut. demikian.

Letjes said...

bung chaikal, kt tidak sedang berdebat kok. btw ttg soal kapitalis, aku rasa konsep yg paling penting adalah soal memilih mana sektor yg relatif pny opp cost paling rendah dibanding yg lain. dan aku kira dalam soal produksi O2-lah kt unggul. dlm kt lain kt pny comparative advantage disana. dg adanya mekanisme REDD kt akan lebih untung. so aku kira that is capitalist. bnr g si.. hehe