Tuesday, January 22, 2008

Pemanasan Global dan Posisi Indonesia

Konferensi Perubahan Iklim yang diselenggarakan PBB di Bali berhasil mengeluarkan sebuah kesepakatan yang dinamakan Bali Action Plan. Konferensi yang menghabiskan APBN sebesar Rp115 milliar tersebut masih meninggalkan banyak kejanggalan dan ketidakpuasan diantara negara peserta. Secara umum dapat digambarkan bahwa konferensi tersebut pada dasarnya merupakan pertempuran antara negara-negara Uni Eropa dan negara berkembang dengan Amerika Serikat dan Jepang.

AS dan Jepang enggan memberikan komitmen konkrit untuk mereduksi tingkat emisi karbon dan konsentrasi GRK yang dimilikinya. Sedangkan inti dari Konferensi tersebut adalah kepastian dari negara maju, dalam hal ini AS dan Jepang, untuk memberikan komitmennya.

Immanuel Wallerstein seorang sosiolog terkemuka mengklasifikasikan negara-negara di dunia kedalam tiga kelompok, negara Inti (core), semiperiphery dan periphery. Pengelompokan tersebut apabila dianalogikan kedalam bahasa ekonomi adalah kelompok negara maju (developed country), negara berkembang (developing country) dan negara terbelakang (underdeveloped country). Menurut Wallerstein, kelompok negara inti memegang kendali dunia dalam berbagai aspek seperti ekonomi, politik dan budaya. Sehingga dapat dikatakan bahwa negara-negara seperti AS, Jepang, Negara Uni Eropa, Australia, Selandia Baru dan Kanada (G8) memiliki posisi yang krusial dalam peta kekuatan dunia.

Pada intinya saya ingin mengatakan bahwa sebagai negara periphery yang masih berkutat dengan berbagai permasalahan pertumbuhan ekonomi, Indonesia belum waktunya berbicara mengenai perubahan iklim. Hutan yang indah lestari tidak menghasilkan apa-apa kecuali oksigen yang dinikmati secara gratis oleh dunia. Lebih baik kita manfaatkan seluas-luasnya menjadi sesuatu yang produktif dan meningkatkan kesejahteraan.

5 comments:

Letjes said...

wahwahwah.. tulisannya yang sangat keras bung. soal konferensi ini aku insyaallah akan bikin tulisan buat nanggepin tulisan bung luthfi.

cm ada satu hal yang mengganjal. si wallerstein kan mengklasifikasikan negara2 di dunia ke dalam tiga kelompok dan anda analogikan dengan pengelompokan negara versi lain.

pertanyaanku kok Indonesia dimasukkan ke periphery bung, kenapa gk semiperiphery? kita kan negara berkembang, bukan negara terbelakang. lalu kalo akhirnya kita adalah negara semiperiphery, apa konklusi yang km ambil sekarang jg akan sama?

Chaikal said...

good question..

kayaknya butuh environmentalist untuk menantang proposal di tulisan ini..

carlos, kapan neh arif bisa jadi pembicara?

carlos said...

arif sedang sibuk katanya..
Coba lu yang telp dia aja gimana Kal? kayaknya dia sangat sungkan ama lu, tar pasti dia mau

pelantjong maja said...

ada dua persoalan, pertama, saya sepakat bahwa ada perbedaan kekuatan dalam pembicaraan mengenai perubahan iklim. disini saya menawarkan untuk menciptakan keadilan ekologis global. bahwa negara berkembang tidak bisa dipaksa untuk melestarikan lingkungan 'for free' dan tanggung jawab terhadap green development adalah global responsibility, seperti posting saya disini

kedua, negara manapun tetap perlu (malah harus) bicara mengenai perubahan iklim. tau ngga kalo dampak perubahan iklim itu melintas batas2 negara dan kontinen. seperti di Indonesia, iklim yang mulai tak menentu mengakibatkan gangguan produksi pertanian. so bagaimanapun kondisi ekonomi kita, ikut/tidak dalam pembicaraan global warming; dampaknya ada. yang perlu dipikirkan justru strategi adaptasi terhadap perubahan iklim. boleh saja kita ga ikutan ngomongin perubahan iklim, tapi kita harus ngomongin strategi adaptasi.

btw, diskusinya jgn di starbuck dong, kan ga 'pas' ngomong urusan wong cilik di kafe mewah... (just my personal comment)

Anonymous said...

Global warming dan posisi Indonesia?
Sangat jelas dalam hal ini Indonesia sangat berperan besar.
Mungkin tidak nyambung pernyataan yang akan saya sampaikan, namun mungkin ada sedikit keterkaitannya.
Sebagai salah satu negara tropis terbesar di dunia dan juga merupakan salah satu sumber oksigen terbesar di dunia (dengan banyaknya hutan), Indonesia sangat diperhitungkan oleh negara2 lain di dunia, khususnya negara tetangga.
Saya kira, apabila kita berbicara masalah pemanasan global, mungkin salah satu penyebabnya adalah pembakaran hutan dan lain2.
Nah, yang mau saya sampaikan adalah Indonesia seringkali ditegur oleh negara lain (khususnya tetangga) dan dianggap sebagai salah satu kontributor terbesar untuk terjadinya pemanasan global.
Hal itu saya lihat sebagai reaksi keras negara lain yang sangat peduli dengan global warming, SEKALIGUS sebagai rasa ketakutan negara2 lain, khususnya negara tetangga.
Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan di Indonesia, memang sangat mengganggu dan berpotensi untuk menciptakan global warming, namun di sisi lain, hal ini merupakan senjata bagi pertahanan Indonesia.
Apabila kita dianggap tidak memiliki perlengkapan senjata dan pertahanan yang kuat, maka asap yang dihasilkan oleh kebakaran hutan inilah yang sangat ampuh untuk menyerang negara tetangga apabila mereka sudah mulai usil..

Jadi kita tidak perlu mengerahkan pasukan dan peralatan canggih untuk berperang melawan negara tetangga, cukup diserang saja dengan asap kita. Maka habislah negara tetangga yang suka usil itu.

Maaf agak ngelantur dan cenderung provokatif.

Salam,
Pojokan 412