Thursday, May 29, 2008

Survey BBM

Setelah bosan membaca tulisan yang puitis, saya tergelitik untuk posting hasil polling kemarin di lebih dari 12 kota di Indonesia. Pada responden ditanyakan "Bagi Anda yang pada 2009 memilih SBY, apakah anda tetap memilih SBY apabila harga BBM kembali dinaikkan ?". Secara logis tentunya jawaban "tidak" akan muncul sebagai pendapat mayoritas. Namun hasilnya ternyata diluar dugaan.


Metode polling adalah by phone dengan jumlah sampel 800 orang. Apabila asumsi penduduk yang memiliki telepon adalah menengah keatas, maka saya pribadi merasa lega. Dengan Asumsi polling ini mewakili pendapat populasi penduduk menengah keatas maka saya berpendapat masih banyak orang waras di Indonesia.


Apalagi setelah membaca email dari bung chaikal di millist yang mendukung pendapat Pak Kwik bahwa minyak di Bumi Indonesia merupakan hak rakyat indonesia maka dari itu harganya adalah Rp. 0. Oke argumen ini begitu noble, mulia, kerakyatan. Namun penduduk Indonesia tidak semuanya melarat. Masa' orang kayak Bakrie atau soekanto tanoto boleh menikmati minyak bumi secara gratis?


Selain itu pendapat dari Pak Kwik menurut saya akan membawa pada pola konsumsi energi yang boros. Pada akhirnya adalah meningkatnya polusi dan kerusakan Alam. Demikian, tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

Sunday, May 25, 2008

Untuk apa berpuisi?

Sudah mendengar puisi Bangkit-nya Deddy Mizwar, mmmmhh… pastinya lebih bisa dihayati dari pada iklan retorika seorang pemimpin partai dan seorang mantan jenderal (ngapain coba ngabisin duit bermilyar-milyar hampir setiap bulan hanya untuk.. hanya untuk… ah sudahlah, saya tidak bisa melengkapinya)

Anw, apa-sih arti puisi untuk kehidupan ini? Apakah puisi punya peran dalam pergerakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara? Atau apakah pada akhirnya, Deddy Mizwar hanya sibuk untuk bercuap-cuap?

Bagi saya, sebagai seorang pecinta puisi, jawabnya jelas puisi punya peran dan pastinya dengan magnitude yang cukup signifikan. Dan lebih khusus bagi ekonom, puisi ternyata memiliki peran yang cukup signifikan, setidaknya itu yang telah dibuktikan oleh artikel ini bahwa judul yang puitis untuk paper empiris memberikan margin empat kali lebih besar (positif) untuk di-sitasi dibanding yang tidak dan memiliki pengaruh yang negatif untuk artikel teoretis dengan margin dua kali lebih kecil.

Kesimpulan bagi ekonom, puisi punya peran signifikan tetapi dengan magnitude yang beragam. Pelajaran lainnya adalah jika ekonom menyampaikan teori gak usahlah beretorika terlalu banyak, demikian Bung2 Starbuckers...

Sebagai tambahan berikut beberapa judul artikel yang dianggap puitis dalam paper tersebut:

Metaphor: “Digging for Golden Carrots” (Taylor, 1995)
Personification: “Ant, Rationality, and Recruitment” (Kirman, 1993)
Oxymoron: “The Optimality of Myopic Behavior” (Leahy, 1993)
Synecdoche: “Competing Head-to-Head May be Less Competitive” (Klemperer, 1992)

Sunday, May 18, 2008

Efektifkah Inflation Targeting?

Ada sebuah tulisan sangat menarik oleh peraih Nobel Ekonomi 2001 Joseph E. Stiglitz dalam artikelnya The Failure of Inflation Targeting. Dalam artikel tersebut, Stiglitz seperti menggugat bagaimana kebijakan moneter yang dilakukan Bank Sentral dengan menggunakan inflation targeting tidak bekerja maksimal dengan menghadapi tingkat inflasi saat ini yang dihadapi ancaman peningkatan harga minyak internasional dan komoditi yang terus menanjak.

Tugas Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi, bukanlah inflasi secara keseluruhan. Namun, Bank Indonesia hanya bertugas mengendalikan inflasi inti (core inflation). Sedangkan bagian lain seperti volatile food dan administered price sebagai bagian tingkat inflasi secara keseluruhan yang berasal dari peningkatan harga makanan dan dampak kebijakan fiskal bukan bagian dari tanggung jawab Bank Indonesia.

Sayangnya, kedua bagian terakhir pembentuk inflasi tersebut justru yang sedang mengancam tingginya tingkat inflasi. Tingginya harga komoditas, peningkatan harga bahan pangan, serta rencana peningkatan harga BBM sebesar 30 persen tentu akan semakin mendorong tingginya tingkat inflasi di Indonesia. Secara teoritis, inflasi ini bisa dijelaskan melalui cost-push inflation, di mana aggregate supply tereduksi akibat production cost yang semakin meningkat, seperti apa yang ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Lalu, kebijakan moneter seperti yang diungkapkan Stiglitz dalam artikelnya pada negara-negara penganut Inflation Targeting (salah satunya Indonesia) akan bereaksi meningkatkan tingkat suku bunga dengan tujuan untuk mencegah semakin berkurangnya nilai riil mata uangnya akibat tingkat inflasi yang terus meningkat. Tetapi, di satu sisi ingin menyelamatkan nilai riil, namun peningkatan suku bunga tersebut akan menyebabkan disinsentif bagi investasi dalam peminjaman modal dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Hal ini mengakibatkan menurunnya permintaan agregat (aggregate demand).

Berdasarkan grafik di atas, apabila peningkatan suku bunga ditentukan secara tepat, akan mengembalikan tingkat inflasi seperti kondisi sebelumnya. Namun, di sisi lain hal ini akan berdampak pada menurunnnya tingkat pendapatan nasional (Y) yang semakin besar. Tapi sekali lagi ingat, tingkat inflasi saat ini banyak yang di luar kemampuan Bank Indonesia. Peningkatan harga minyak internasional, menyebakan imported inflation pun semakin besar. Selain itu, peningkatan pada harga kebutuhan pokok akan semakin mendorong tingkat inflasi karena merupakan faktor pembentuk harga dengan porsi yang cukup besar dalam perhitungan Indeks Harga Konsumen.

Mungkin, sangatlah kita berbeda dengan Amerika, penetapan tingkat suku bunga oleh Federal Reserve sangatlah memberi pengaruh besar pada perekonomian baik domestik maupun global. Sedangkan di Indonesia, saat ini pengendalian tingkat inflasi secara keseluruhan akan sangat sulit, dan kebijakan inflation targeting tidak akan terlalu efektif untuk menurunkan tingkat inflasi secara keseluruhan. Peningkatan suku bunga tentu akan menggerus permintaan aggregat, dan hal itu akan terus terancam apabila daya beli masyarakat terus tertekan dengan tingkat inflasi akibat volatile food dan administered prices yang juga terus membayangi.

Peningkatan Harga BBM (Lagi)

Rencana pemerintah untuk meningkatkan harga BBM sepertinya kembali mengundang berbagai macam pro-kontra. Dampak peningkatan harga minyak internasional yang menembus angka USD120 per barel tentu semakin membebani anggaran subsidi BBM. Dalam milis Departemen IE FEUI ada yang menyisipkan materi yang mungkin bisa kita perdebatkan yang dapat lihat di sini:

http://www.mediafire.com/?m1bnwwyatmb

Isi dari materi tersebut merupakan seperti apa yang diutarakan Kwik Kian Gie yang menentang peningkatan harga BBM dengan berdasarkan analisisnya bahwa subsidi BBM menurutnya tidak pernah ada. Secara tendensius Kwik mengungkapkan bahwa usaha pemerintah meningkatkan harga BBM karena pemerintah tidak bisa mengambil untung lebih besar dari harga internasional karena mensubsidi rakyatnya. Sanggahan mengenai pendapat Kwik, salah satunya bisa lihat di sini.

Hal ini seperti mengingatkan kembali pada perdebatan mengenai peningkatan harga BBM pada tahun 2005 lalu, yaitu pada bulan Maret rata-rata 30 persen dan Oktober rata-rata 90 persen. Penjelasan mengenai apa yang terjadi pada saat itu, dan juga masih relevan untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ini, mungkin bisa kita lihat artikel di sini.

Berdasarkan pada materi presentasi Departemen Perdagangan yang disampaikan oleh Bung Leo. Simulasi yang dilakukan oleh Departemen Perdagangan mengenai dampak peningkatan harga BBM sekitar 30 persen adalah sebagai berikut:

Indonesia: Impact of Higher International Oil Prices, Domestic Petroleum, and Government Expenditures in 2008

Source: MoT staff estimates

Saya kira, kasus ini seperti menjadi perdebatan yang tiada akhir, dan terkadang seperti sebuah de javu.

Tuesday, May 6, 2008

Kebijakan Perbankan April 2008

(tulisan ini adalah bahan dan hasil diskusi starbuckers 30 april lalu)

15 April lalu, BI mengeluarkan kebijakan perbankan terbaru yang didasari oleh latar belakang: (i) mengatasi permasalahan yang dihadapi usaha kecil untuk mendapatkan pembiayaan bank, (ii) pendalaman pasar keuangan (financial deepening) dan mendorong perkembangan pasar modal, (iii) memperbaiki dan memperkuat struktur kelembagaan bank, dan (iv) meningkatkan manajemen risiko bank melalui implementasi Basel II yang didukung dengan ketersediaan industri pemeringkatan. Untuk lebih jelas lagi apa isi kebijakan tersebut dapat dilihat disini.

Muliaman Hadad, Deputi Gubernur BI, mengatakan
, "paket regulasi perbankan tersebut diharapkan menjadi stimulus untuk pertumbuhan perekonomian dan sekaligus dapat menjaga kestabilan sistem keuangan di tengah kondisi perekonomian dunia yang masih belum kondusif dewasa ini".

Hasil diskusi starbuckers, menyimpulkan beberapa poin kritisi atas kebijakan tersebut. Satu, kebijakan BI mestinya tidak perlu bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sebab hal itu adalah tanggung jawab pemerintah bukan BI (yang adalah seputar inflasi dan perbankan). Dua, niat BI untuk meningkatkan kredit usaha kecil dan mikro dengan cara menurunkan aset-tertimbang-menurut-risiko (ATMR) tidak akan efektif, karena masalah utama perbankan dalam memberi kredit ke usaha kecil dan mikro adalah pada risiko bisnis yang sesungguhnya pada sektor itu, atau dengan kata lain turunnya ATMR tidak akan memperkecil risiko dunia nyata. Ketiga, kondisi global saat ini secara signifikan telah berkontribusi pada perlambatan ekonomi, jadi segala usaha melonggarkan sistem kredit bisa jadi tidak akan punya dampak signifikan pada dunia usaha, apalagi sektor usaha kecil dan mikro. Terakhir dan merupakan kesimpulan kami yang paling penting adalah bahwa tindakan BI menurunkan ATMR melalui paket kebijakan ini jelas-jelas bertentangan dengan niat menjaga kestabilan sistem keuangan!

Akhir kata, terima kasih kepada teman-teman yang senantiasa meluangkan waktu untuk diskusi starbuckerseconomists. Semoga diskusi ini bisa terpelihara dengan baik.