As I posted here many moths ago, WOC roughly states that the best guess to predict a random number is the average of the distribution of this number.

"Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles the world. That's why we love talking each other."
As I posted here many moths ago, WOC roughly states that the best guess to predict a random number is the average of the distribution of this number.

Apakah WOC ini terbukti atau tidak untuk kasus quick count? ada baiknya kita tunggu (atau gak?) hasil perhitungan riil KPU.
Dari hasil pada tabel di atas, tidak ada data hasil quick count yang bersifat extreme outliers. Namun setidaknya ada empat hasil estimasi yang bersifat mild outliers, yaitu LP3ES pada Demokrat yang underestimate, LeSI pada Golkar yang underestimate, CIRUS pada PPP yang overestimate, dan LSN pada PKB yang bersifat underestimate.
Metode polling adalah by phone dengan jumlah sampel 800 orang. Apabila asumsi penduduk yang memiliki telepon adalah menengah keatas, maka saya pribadi merasa lega. Dengan Asumsi polling ini mewakili pendapat populasi penduduk menengah keatas maka saya berpendapat masih banyak orang waras di Indonesia.
Berikut hasil survey terakhir (Februari 2008) yang memperlihatkan ranking ekonom-ekonom kelas dunia dalam produktifitas di bidangnya. Silahkan buka dan pelajari link berikut di sini.
Ingat, hati-hati dan teliti membacanya, siapa tahu ada nama Anda di situ (Ho3...Ngarep!).

Dalam studi ini yang menjadi variabel dependen adalah suara (vote) yang didapatkan oleh partai politik tersebut pada Pemilu 1999 (walaupun datanya sudah obsolete, namun saya rasa hasil studi ini masih relevan hingga sekarang), sedangkan variabel independen-nya dalam hal ini meliputi berbagai aspek-aspek sosial-ekonomi.
Dengan pemilih di Indonesia yang 80 persen lebih adalah muslim, tentu embel-embel partai politik yang berdasarkan atau ada kaitan dengan agama Islam memang menjadi sangat potensial untuk digarap. Namun, berdasarkan hasil yang didapatkan studi tersebut menunjukkan bahwa variabel religion sendiri hanya mencerminkan koefisien yang jauh lebih kecil dibandingkan variabel region (dalam hal ini wilayah basis partai politik).
Dengan demikian, hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kondisi ke-Islam-an di sini lebih sangat kental pada basis kewilayahan (region) tertentu, bukan lebih pada ideologi agamanya.
Bisa saja saya pada akhirnya membuat terminologi sebagai berikut, yaitu: PKB adalah Partai Islam Region Tapal Kuda, Jawa Timur; PAN adalah Partai Islam Region Jawa Tengah dan Yogyakarta; PKS adalah Partai Islam Region Perkotaan Jabodetabek; sedangkan PPP adalah Partai Islam Sisa Region dari Partai-Partai Islam lainnya.
So, apakah benar bahwa religion loyalty terhadap partai-partai politik yang berkaitan dengan haluan religi Islam masih relevan? Atau memang terminologi yang saya buat di atas lebih tepat?
Tambahan:
Seperti yang terjadi saat ini, di mana ada trend Partai Politik berhaluan Islam mulai menggeser pendulumnya ke tengah. Misalkan saja, PAN yang sekarang menyatakan sebagai partai nasionalis-religius, PKS yang sekarang mulai menggarap massa non-muslim dan bahkan mengadakan Rakernas di Bali. Jadi, pertimbangan memperluas region dengan tanpa mempertimbangkan religion (Islam dan Non-Islam) menjadi lebih dititikberatkan untuk meperbesar votes.
Secara platform, katakan saja platform ekonominya, secara garis besar tidak ada yang spesial ataupun berbeda secara spesifik, dan untuk Pemilu 2009, saya yakin seputar perdebatan dan perbincangan yang terjadi akan kurang menyentuh substansi.

Sebagai seorang paman, saya memiliki seorang keponakan perempuan yang umurnya kemarin baru lengkap satu tahun. Ibunya pernah bercerita bahwa ponakan ini sudah cukup sering (mungkin lebih dari sekali) jatuh dari tempat tidur. Jika sudah jatuh begitu, ibunya pasti akan membawa si ponakan berobat ke dukun bayi untuk diurut (massage).
Dari si dukun bayi ini, sang ibu diberitahu bahwa si ponakan akan berhenti jatuh dari tempat jika sudah jatuh sebanyak tujuh kali.. Kesan pertama dari pernyataan tersebut adalah sang dukun (karena memang dukun) pasti punya kemampuan supranatural, bahwa pernyataan sang dukun bayi adalah sebuah pernyataan berbau mitos atau gaib (apalagi berhubungan dengan angka tujuh..)
Sebelum si ibu (kakak saya) mengatakan yang aneh-aneh, saya jelaskan kepadanya bahwa bagi saya, pernyataan sang dukun bayi tidak lebih dari sebuah kesimpulan statistik. Bahwa sang dukun bayi selama ini telah merekam data dan informasi mengenai frekuensi bayi untuk jatuh dari tempat tidur (tentu saja dari pasien-pasiennya selama ini). Berdasarkan data statistik tersebut, sang dukun bayi menyimpulkan bahwa bayi tidak akan pernah jatuh lebih dari tujuh kali..
Lalu, apakah kita harus mempercayai penyataan sang dukun tersebut? Untuk bisa mempercayainya, saya harus melihat dulu prosedur-prosedur statistik yang digunakan sang dukun, termasuk seberapa banyak jumlah pasien bayi-jatuhnya (ribet amat ya, ya pokoknya gitulah..) Sebenarnya apapun itu, sangat beralasan jika bayi tidak akan jatuh dari tempat tidur lebih dari tujuh kali. Alasan pertama: orang tuanya sudah lebih waspada, kedua: usia bayi mungkin usia yang terlalu pendek untuk jatuh lebih dari tujuh kali, ketiga: lain-lain..
And you know guys, banyak yang bilang bahwa primbon jawa sebenarnya adalah buku tentang statistik kehidupan, nah kalo sudah begitu.. bukannya sah-sah saja ya untuk mempercayainya...
My blog is worth $6,774.48.
How much is your blog worth?