Showing posts with label statistics. Show all posts
Showing posts with label statistics. Show all posts

Sunday, February 7, 2010

Least Square and WOC

As I posted here many moths ago, WOC roughly states that the best guess to predict a random number is the average of the distribution of this number.

As Ordinary Least Square (OLS) is one of the estimation methods to predict the value of say a dependent variable Y, then it must be correct to state that the OLS is a better method if “it can predicts (explains) the value of Yi better than could be explained by the sample mean (Ybar)”(Studenmund)

In short, we can see this comparison by the formula of the “Explained Sum Square” (ESS) in OLS method which is

So, it is clear now that to evaluate every prediction (forecasting) methods, it is always and should be compared to the WOC’s prediction.

Tuesday, April 14, 2009

Wisdom of the Crowds

Wisdom of the Crowds (WOC) adalah suatu terminologi yang diperkenalkan oleh Jim Surowiecki. Secara sederhana, terminologi ini menyatakan bahwa pendapat banyak orang lebih baik daripada pendapatan individual yang ahli sekalipun (makanya diskusi bungs).

Terminologi ini juga diadaptasi oleh Ian Ayres dalam bukunya Super Crunchers untuk mendeksripsikan peristiwa hipotesis berikut ini:
Jika diambil suatu angka random, dan mahasiswa dalam suatu kelas dipersilahkan untuk menebak angka random tersebut. Sesuai dengan WOC, tebakan terbaik untuk angka random tersebut adalah angka rata-rata dari seluruh tebakan individual mahasiswa dalam kelas.

Dengan mengikuti alur pikir yang sama, WOC saya aplikasikan untuk kasus hasil quick count pemilu legislatif oleh beberapa lembaga survey. Dengan tidak mempertimbangkan perbedaan metode sampling dan margin of errors, maka prediksi terbaik dari hasil pemilu legislatif adalah rata-rata dari hasil quick count lembaga survey tersebut.

Apakah WOC ini terbukti atau tidak untuk kasus quick count? ada baiknya kita tunggu (atau gak?) hasil perhitungan riil KPU.

Cinta tidak bisa menunggu, katanya. Oleh sebab itu, saya melakukan excercise terhadap data yang bertujuan untuk mengetahui adakah hasil quick count dari suatu lembaga survey yang bersifat “tidak biasa” (outliers) relatif terhadap distribusi hasil quick count keseluruhan lembaga survey.

Dari hasil pada tabel di atas, tidak ada data hasil quick count yang bersifat extreme outliers. Namun setidaknya ada empat hasil estimasi yang bersifat mild outliers, yaitu LP3ES pada Demokrat yang underestimate, LeSI pada Golkar yang underestimate, CIRUS pada PPP yang overestimate, dan LSN pada PKB yang bersifat underestimate.

Apakah hasil ini bisa menunjukkan adanya gejala yang lain, semisal membuktikan adanya “pesanan politik” terhadap lembaga survey? Apakah “pesanan politik” ini jikapun ada, justru dilakukan bukan dengan menambah jumlah suara parpol yang memesan namun mengurangi jumlah suara parpol saingannya? Atau, tidak ada kesimpulan yang sedemikian seperti itu dapat diambil?

Saya pribadi memilih menjawab ya untuk pertanyaan ketiga, oleh karena hasilnya memang tidak cukup kuat secara statistik untuk merujuk pada kesimpulan yang lain. Namun setidaknya, excercise ini akan berguna bagi saya untuk merevisi ketepatan dari prediksi WOC nantinya. Data yang bersifat mild outliers ini, mungkin akan jadi kandidat untuk saya exclude dalam pembentukan rata-rata hasil estimasi WOC.

Thursday, May 29, 2008

Survey BBM

Setelah bosan membaca tulisan yang puitis, saya tergelitik untuk posting hasil polling kemarin di lebih dari 12 kota di Indonesia. Pada responden ditanyakan "Bagi Anda yang pada 2009 memilih SBY, apakah anda tetap memilih SBY apabila harga BBM kembali dinaikkan ?". Secara logis tentunya jawaban "tidak" akan muncul sebagai pendapat mayoritas. Namun hasilnya ternyata diluar dugaan.


Metode polling adalah by phone dengan jumlah sampel 800 orang. Apabila asumsi penduduk yang memiliki telepon adalah menengah keatas, maka saya pribadi merasa lega. Dengan Asumsi polling ini mewakili pendapat populasi penduduk menengah keatas maka saya berpendapat masih banyak orang waras di Indonesia.


Apalagi setelah membaca email dari bung chaikal di millist yang mendukung pendapat Pak Kwik bahwa minyak di Bumi Indonesia merupakan hak rakyat indonesia maka dari itu harganya adalah Rp. 0. Oke argumen ini begitu noble, mulia, kerakyatan. Namun penduduk Indonesia tidak semuanya melarat. Masa' orang kayak Bakrie atau soekanto tanoto boleh menikmati minyak bumi secara gratis?


Selain itu pendapat dari Pak Kwik menurut saya akan membawa pada pola konsumsi energi yang boros. Pada akhirnya adalah meningkatnya polusi dan kerusakan Alam. Demikian, tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

Thursday, March 20, 2008

Siapa Ekonom Paling Produktif?

Berikut hasil survey terakhir (Februari 2008) yang memperlihatkan ranking ekonom-ekonom kelas dunia dalam produktifitas di bidangnya. Silahkan buka dan pelajari link berikut di sini.

Ingat, hati-hati dan teliti membacanya, siapa tahu ada nama Anda di situ (Ho3...Ngarep!).

Monday, March 17, 2008

Partai Politik Islam: Religion Loyalty yang Meragukan

Ada suatu fenomena menarik mengenai perkembangan partai politik di Indonesia yang memiliki basis ke-Islaman sebagai salah satu pembentuk ideologinya, meskipun ada beberapa yang mengatakan berdasarkan Pancasila, namun tetap saja basis massa yang digerakkan dibelakangnya tidak bisa dilepaskan dari ideologi agama Islam.

Studi yang dilakukan oleh Aris Ananta, Evi N. Arifin, dan Leo Suryadinata dalam buku Indonesian Electoral Behavior: A Statistical Perspective (Singapore: ISEAS, 2004) pada Chapter 8 saya ringkas hasil analisis secara ekonometrik terhadap 4 Partai Politik Islam di Indonesia sebagai berikut:



Dalam studi ini yang menjadi variabel dependen adalah suara (vote) yang didapatkan oleh partai politik tersebut pada Pemilu 1999 (walaupun datanya sudah obsolete, namun saya rasa hasil studi ini masih relevan hingga sekarang), sedangkan variabel independen-nya dalam hal ini meliputi berbagai aspek-aspek sosial-ekonomi.

Dengan pemilih di Indonesia yang 80 persen lebih adalah muslim, tentu embel-embel partai politik yang berdasarkan atau ada kaitan dengan agama Islam memang menjadi sangat potensial untuk digarap. Namun, berdasarkan hasil yang didapatkan studi tersebut menunjukkan bahwa variabel religion sendiri hanya mencerminkan koefisien yang jauh lebih kecil dibandingkan variabel region (dalam hal ini wilayah basis partai politik).

Dengan demikian, hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kondisi ke-Islam-an di sini lebih sangat kental pada basis kewilayahan (region) tertentu, bukan lebih pada ideologi agamanya.

Bisa saja saya pada akhirnya membuat terminologi sebagai berikut, yaitu: PKB adalah Partai Islam Region Tapal Kuda, Jawa Timur; PAN adalah Partai Islam Region Jawa Tengah dan Yogyakarta; PKS adalah Partai Islam Region Perkotaan Jabodetabek; sedangkan PPP adalah Partai Islam Sisa Region dari Partai-Partai Islam lainnya.

So, apakah benar bahwa religion loyalty terhadap partai-partai politik yang berkaitan dengan haluan religi Islam masih relevan? Atau memang terminologi yang saya buat di atas lebih tepat?

Tambahan:

Seperti yang terjadi saat ini, di mana ada trend Partai Politik berhaluan Islam mulai menggeser pendulumnya ke tengah. Misalkan saja, PAN yang sekarang menyatakan sebagai partai nasionalis-religius, PKS yang sekarang mulai menggarap massa non-muslim dan bahkan mengadakan Rakernas di Bali. Jadi, pertimbangan memperluas region dengan tanpa mempertimbangkan religion (Islam dan Non-Islam) menjadi lebih dititikberatkan untuk meperbesar votes.

Secara platform, katakan saja platform ekonominya, secara garis besar tidak ada yang spesial ataupun berbeda secara spesifik, dan untuk Pemilu 2009, saya yakin seputar perdebatan dan perbincangan yang terjadi akan kurang menyentuh substansi.

Friday, February 22, 2008

Why is it hard to gather the starbuckers?

Akhir-akhir ini sulit sekali rasanya bertemu para starbuckers. Memang banyak alasan yang melatarbelakanginya dan juga sangat beragam.
Survey yang dilakukan Roy Morgan, CLSA Asia Pacific Markets for Indonesia 2007 "Mr & Mrs Indonesia" mungkin bisa dijadikan beberapa alasan tersebut. Survey ini menggunakan sampel 21 ribu responden yang mewakili sekitar 67 juta penduduk Indonesia.

Di tengah kehidupan di Jakarta, sebagai para new comers di lapangan kerja tentu segala macam aktivitas kita memiliki budget contraint yang disesuaikan dengan income kita.

Sebenarnya keinginan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga merupakan aktivitas favorit di Indonesia seperti yang diperlihatkan dalam hasil survey, salah satunya terciptalah grup diskusi ini.

Tetapi mengapa sulit untuk kumpul diskusi? Wajar saja, menurut survey sekitar lebih dari 65 persen memilih untuk melakukan kegiatan entertainment (diskusi kita termasuk entertaining kita ga ya?).

On the different note, hanya sekitar 5 persen saja yang memilih untuk pergi ke kafe (termasuk starbucks) dan lebih tinggi memilih pergi ke bioskop untuk menonton film-film baru sebesar 7 persen. Bisa jadi keinginan untuk diskusi tinggi tetapi tidak diimbangi keinginan yang tinggi pula untuk kumpul di kafe. Kenapa juga ngumpulnya di Kafe? Warung kopi kaki lima boleh juga dijajal.

Memang dari kita hanya sedikit yang punya mobil pribadi. Apa alasannya sama soal ngumpul untuk diskusi? Sebagai para pengguna setia taksi (padahal cuma mau naik Express atau Putra yang mematok tarif lama) ternyata kita hanya bagian dari 20 persen orang, sedangkan hampir 60 persen orang lebih memilih menggunakan bis sebagai transportasinya. Bisa jadi, keinginan untuk diskusi tidak match dengan jasa transportasi yang kita pilih.

Kenapa akhir-akhir ini starbuckers seperti “kering” ide dan gagasan? Hmm, ternyata memilih untuk melakukan kegiatan hobi dan olah raga (misal: futsal) jauh lebih tinggi sekitar 5-7 persen dibandingkan membaca buku. Kalo gini sih wajar aja kalo kurang ide dan gagasan baru.

Anyway, bolehlah kita katakan bahwa diskusi kita bukan suatu kegiatan entertainment dan boleh dikatakan juga high-cost pula. Tapi kenapa sekedar karokean atau nonton konser musik Jazz (Jak Jazz atau Java Jazz) tetap aja kita sulit ngumpul?
Yah wajar juga sih, menurut survey, 10 persen atau sekitar 6 juta orang di Indonesia lebih memilih datang ke konser dangdut. Hmm, next time kita datang konser dang dut aja apa? Goyang ngebor!

Anyhow, semoga kita bisa tetep ngumpul-ngumpul....

Thursday, February 21, 2008

Mitos dan Statistik

Sebagai seorang paman, saya memiliki seorang keponakan perempuan yang umurnya kemarin baru lengkap satu tahun. Ibunya pernah bercerita bahwa ponakan ini sudah cukup sering (mungkin lebih dari sekali) jatuh dari tempat tidur. Jika sudah jatuh begitu, ibunya pasti akan membawa si ponakan berobat ke dukun bayi untuk diurut (massage).

Dari si dukun bayi ini, sang ibu diberitahu bahwa si ponakan akan berhenti jatuh dari tempat jika sudah jatuh sebanyak tujuh kali.. Kesan pertama dari pernyataan tersebut adalah sang dukun (karena memang dukun) pasti punya kemampuan supranatural, bahwa pernyataan sang dukun bayi adalah sebuah pernyataan berbau mitos atau gaib (apalagi berhubungan dengan angka tujuh..)

Sebelum si ibu (kakak saya) mengatakan yang aneh-aneh, saya jelaskan kepadanya bahwa bagi saya, pernyataan sang dukun bayi tidak lebih dari sebuah kesimpulan statistik. Bahwa sang dukun bayi selama ini telah merekam data dan informasi mengenai frekuensi bayi untuk jatuh dari tempat tidur (tentu saja dari pasien-pasiennya selama ini). Berdasarkan data statistik tersebut, sang dukun bayi menyimpulkan bahwa bayi tidak akan pernah jatuh lebih dari tujuh kali..

Lalu, apakah kita harus mempercayai penyataan sang dukun tersebut? Untuk bisa mempercayainya, saya harus melihat dulu prosedur-prosedur statistik yang digunakan sang dukun, termasuk seberapa banyak jumlah pasien bayi-jatuhnya (ribet amat ya, ya pokoknya gitulah..) Sebenarnya apapun itu, sangat beralasan jika bayi tidak akan jatuh dari tempat tidur lebih dari tujuh kali. Alasan pertama: orang tuanya sudah lebih waspada, kedua: usia bayi mungkin usia yang terlalu pendek untuk jatuh lebih dari tujuh kali, ketiga: lain-lain..

And you know guys, banyak yang bilang bahwa primbon jawa sebenarnya adalah buku tentang statistik kehidupan, nah kalo sudah begitu.. bukannya sah-sah saja ya untuk mempercayainya...