Friday, May 15, 2009

WOC2

Sebelum benar-benar basi dan terbuang, saya harus posting artikel ini sebagai lanjutan dari posting sebelumnya. Berikut adalah hasil perbandingan quick count beberapa lembaga survey, WOC, dan hasil riil KPU. Tabel ini menegaskan supremasi WOC terhadap prediksi individual lembaga survey. Jadi kurang tepat jika LiSI yang paling akurat. (hehehe.)

Apakah LiSI berhak meng-klaim bahwa survey mereka paling akurat (selain WOC tentunya)? Secara rata-rata memang LiSI yang paling akurat (MAD paling kecil), tetapi tidak secara individual. Paling tidak LiSI dengan margin of error satu persen yang mereka gunakan, gagal menduga dengan benar hasil perolehan suara Partai Demokrat. Dengan demikian, setidaknya perlu sedikit kejujuran kepada publik untuk mengakui ketidak-akuratan ini.

Thursday, May 14, 2009

Para Pengamat Politik Kita...

Di satu saat mereka mengatakan pasangan X-Y tidak akan menang karena dua-duanya Jawa.Di waktu yang lain, pengamat berpendapat harus ada perpaduan nasionalis-islam supaya bisa menarik massa. Ada pendapat juga bahwa cawapres harus dari parpol. Jangan lupa juga, sangat populer juga dikatakan oleh pengamat yang mengatakan bahwa pasangan harus sipil-militer. Yang terbaru, capres Z disarankan oleh pengamat untuk mengubah gaya bicaranya, karena katanya masyarakat suka gaya bicara yang santun dan sopan. Bahkan dia bilang masyarakat suka yang gagah. hemmm... jangan heran kalau para capres rajin ke fitness menjelang pilpres nanti. Yang hot juga, salah satu cawapres dibilang antek asing tanpa bisa dibuktikan dengan fakta yang jelas. 

Akhirnya yang terjadi apa. Para capres sibuk memikirkan harus milih wapres yang jawa atau non jawa. Cari yang gagah karena dia agak pendek. Karena pendek itu, akhirnya juga mulai pake peci supaya keliatan tinggi. Selain itu supaya dibilang mencerminkan islam, karena pasangannya nasionalis. Di sisi lain, yang militer cari pasangan yang sipil. Di waktu yang lain, si capres 5-6 jam berlatih di depan cermin untuk mengubah gaya bicaranya. Pokoknya, mbulet aja sampai lupa bikin program.

Yang lebih parah, akhirnya rakyat juga memiliki pikiran yang sama. Yang dipikirkan cuma jawa non jawa, sipil militer, ganteng - gak ganteng, gagah - gak gagah, atau wah ini orang antek asing vs bukan antek asing. Dan rakyat pun dibikin lupa untuk menanyakan program-program yang ditawarkan para capres-cawapres.

Lihat permasalahannya kan.. para pengamat yang menganggap dirinya expert, lebih pintar dari yang lain, dan karena itu hampir 24 jam begitu larisnya muncul di berbagai acara TV keluar dengan analisis-analisis mereka yang menurutku tidak berbeda dengan ramalan Mama Lauren (99% wangsit, wahyu atau semacamnya) atau obrolan tukang becak di warkop, bukannya menjadikan rakyat dan para pemain politik menjadi pintar, tetapi sebaliknya.

Terjadi pembodohan besar-besaran, dan kita diam saja menikmatinya. 

Yang mereka katakan harus saya akui tidak salah. Namun faktor-faktor yang mereka sebutkan: faktor jawa-non jawa, sipil militer, gaya bicara, dll adalah faktor no. ke-45 ke-46 dstnya. Kenapa tidak sekali-kali para pengamat menanyakan program yang dimiliki para pasangan capres-cawapres dan membahasnya? Karena dengan begitu, masyarakat dan para pasangan menjadikan program tersebut prioritas mereka. Faktor yang seharusnya menjadi no.1 akhirnya ditempatkan menjadi faktor no.1.

Tapi, lagi-lagi saya hanya bisa mengomel dan menunggu jawaban dari rumput yang bergoyang.

Mitos dan Fakta: Boediono, CaWapres SBY

SBY akhirnya memilih Boediono sebagai cawapres-nya. Terkait dengan peluang politiknya, saya sendiri tidak terlalu yakin akan pesimisme publik dan pengamat politik mengenai peluang pasangan ini. Apalagi mendasarkan pada pandangan bahwa pasangan itu harus Jawa-non jawa, nasionalis-islam, ataupun harus dari parpol, yang saya kira hanya mitos yang dibangun oleh orang-orang politik. Dan sayangnya mitos itu lebih dipercaya ketimbang hal-hal yang lebih rasional, seperti mempertanyakan program apa yang sebenarnya diusung oleh pasangan capres-cawapres.

Diluar mitos yang disebutkan diatas, ada lagi 1 mitos yang paling aneh dan lucu, dan ditentang paling keras oleh publik, yakni Pak Boediono adalah antek asing dan pengusung neoliberalisme. Saya akan coba beberkan beberapa fakta terkait mitos yang satu ini. 

Tampaknya bangsa ini adalah bangsa yang gampang lupa. Tidak kah mereka ingat bagaimana Pak Boediono, bersama Pak Djatun ketika itu (di masa Megawati: ratunya wong cilik), berhasil mengatasi kondisi keuangan Indonesia yang carut marut dan mengembalikan momentum perekonomian setelah krisis? Tidak kah mereka ingat, pertumbuhan dan perbaikan ekonomi di masa SBY mereka puji-puji, padahal di satu sisi ini adalah kerja Pak Boediono dan Bu Ani tentunya (satu lagi antek asing dan pengusung neoliberalisme)? 

Kalau Pak Boediono cs memang antek asing, sudah dibangkrutkan aja negara ini, lalu AS dan konco-konconya bisa dengan mudah datang dan mengambil alih. Kenapa harus repot-repot pusing memikirkan jalan keluar dari krisis.

Lalu jika antek asing disamakan dengan hamba-hamba IMF, World Bank dan semacamnya, sudah lupakah publik bahwa kita keluar dari IMF ketika orang-orang ini memegang kendali kebijakan ekonomi di Indonesia?

PNPM, penurunan harga BBM, BLT, produk-produk yang jauh dari neoliberalisme, juga diambil di zaman orang-orang ini, dimana Pak Boediono termasuk di dalamnya. Mana neoliberalisme-nya? apakah hanya karena mereka sempat mencabut subsidi BBM, yang kita tahu semua harus dilakukan karena kalau tidak pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial lainnya terbengkalai hanya untuk ngisi mobil mercy atau BMW para pejabat korup? (saya tahu pasti masih ada kasus-kasus lain yang ingin diangkat oleh mereka yang kontra Pak Boediono cs, seperti: blok cepu, dllnya. tapi analogi pencabutan subsidi BBM juga bisa digunakan di kasus-kasus tersebut, dimana pilihan kebijakan yang diambil, secara umum/sebagian besar, memiliki dasar yang kuat terutama mungkin dari sudut pandang saya, secara akademik, meski harus saya akui tidak semua kebijakan ekonomi dimana Pak Boediono terlibat adalah tepat) 

Tambahan lagi, ingat Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli, orang-orang yang dianggap non antek asing dan non neoliberalisme/kerakyatan (katanya) ? Ada perbedaankah dalam menghadapi IMF ataupun semacamnya? nope. bahkan dari segi prestasi ekonomi, jauh rasanya untuk dibandingkan.

Boleh lah tidak setuju dengan Pak Boediono sebagai Wapres. Tapi mbok ya jangan dengan alasan karena dia antek asing ataupun pengusung neoliberalisme. Apalagi pake membandingkan dengan Budi Anduk. Come on...!!!!!

Tolonglah lebih rasional dan jangan mau diperdaya oleh mitos-mitos yang dimunculkan oleh mereka yang disebut pengamat politik ataupun pemain lainnya. Jangan sedikit-sedikit, ini pasti Yahudi di baliknya atau ini pasti ada Amerika di balik semua (kalimat-kalimat yang biasa digunakan untuk menggambarkan konspirasi asing di balik sebuah kasus). Kasian orang Yahudi atau AS yang gak tahu apa-apa. Janganlah cari kambing hitam akan ketidakmampuan kita sendiri.

Seorang Ki Hajar Dewantara pernah berharap masyarakat Indonesia bisa menjadi orang-orang yang cerdas. Tolong jangan kecewakan leluhur bangsa yang telah berjuang keras. 

NB: ohiya, saya tidak akan memilih SBY siapapun cawapresnya. Jadi pandangan di atas mudah-mudahan adalah pandangan objektif saya terhadap sosok Pak Boediono.

Update:

Monday, May 11, 2009

Gak Jelasnya Politik Indonesia

Bersembunyi di belakang argumen: politics is the art of possibilities, politik itu penuh dinamika yang bisa berubah dari hari ke hari, dan argumen-argumen lain yang lebih abstrak, permainan parpol dan tokoh politik menjelang pilpres mulai semakin memuakkan. Kasus terakhirnya bisa dilihat disini.

Saya pribadi gak pernah berpikir politik adalah permainan yang begitu murahan seperti ini. Kalau cuma menjalin komunikasi politik gak jelas kesana sini, pindah sana pindah sini, mereka yang gak lulus SD pun bisa. Jika menaati janji politik antar mereka sendiri cuma bertahan hitungan hari, bagaimana mau menaati janjinya kepada rakyat!!! Mungkin bagi mereka, rakyat juga sudah menjadi masa lalu.

Politik seharusnya dimainkan dengan lebih bermartabat. Setidaknya, ketimbang muter-muter gak jelas, para parpol dan capres lebih baik membuat program dan membeberkannya kepada masyarakat untuk diuji dan dibandingkan.

Sayangnya yang terjadi sebaliknya. 2 bulan kurang menuju pilpres dan kita sama sekali tidak tahu program apa yang ditawarkan oleh capres untuk memecahkan permasalahan yang ada.

Lalu kita harus memilih berdasarkan apa? gender? tampang? tinggi badan? duit yang dikasih? fiuuhh,,, membingungkan.

Tanpa program yang jelas, mau dibawa kemana negara ini. Mungkin dipikirnya ini mirip kisah legenda lara jonggrang. Indonesia bisa dibangun dalam 1 malam. Sayangnya mereka lupa, kisah legenda lara jonggrang tidak berakhir dengan happy ending.