Showing posts with label Public Transportation. Show all posts
Showing posts with label Public Transportation. Show all posts

Wednesday, November 21, 2007

Solusi Kemacetan Jakarta

Seiring dengan semakin macetnya titik-titik lalu lintas Jakarta, yang juga sebagai dampak dari pembangunan berbagai koridor busway, pemerintah membolehkan mobil pribadi memasuki jalur busway agar kemacetan dapat berkurang. Namun apa hasilnya? NOL BESAR.

Saya jujur bingung kenapa akhirnya masih ada perdebatan dan akhirnya dikabulkan, tentang boleh tidaknya mobil pribadi masuk jalur busway. Sudah seharusnya pemerintah dengan tegas mengatakan tidak boleh!! Apapun kondisi lalu lintas yang ada.

Kenapa begitu?

Salah satu sebab utama kemacetan di Jakarta adalah jumlah mobil yang sudah terlalu banyak. Untuk itu, salah satu tujuan utama pemerintah membangun busway adalah agar masyarakat mengurangi penggunaan mobil pribadi dan beralih menggunakan transportasi umum – busway –.

Supaya masyarakat mau menggunakan busway, pemerintah memberikan insentif bagi orang untuk beralih, yakni berupa kenyamanan dan jalur bebas macet. Di sisi lain, dengan diambilnya jalan oleh jalur busway, akan tercipta disinsentif untuk menggunakan mobil pribadi, karena jalan yang semakin sempit sehingga jalur non-busway akan semakin macet.

Ketika pemerintah mengizinkan mobil masuk jalur busway, baik insentif untuk menggunakan busway dan disinsentif untuk menggunakan mobil pribadi hilang seketika. Bukannya akan mengurangi kemacetan, kita bahkan kembali ke titik awal, malah mungkin lebih buruk dari kondisi awal.

Lalu bagaimana solusinya?

Pemerintah seharusnya membiarkan saja jalur non-busway mengalami kemacetan yang parah, sementara jalur busway berjalan tanpa hambatan. Bahkan ketika nanti seluruh koridor telah selesai dibangun, selama beberapa bulan terus-menerus, di berbagai jalur non-busway ciptakan saja kemacetan fiktif, misalkan dengan membuat proyek galian lubang atau perbaikan kabel PLN, dan semacamnya. Sehingga yang terjadi, kemacetan parah akan dialami oleh para pengguna mobil pribadi, sementara pengguna busway akan aman, tentram, dan bahagia, serta lancar menuju tempat tujuan.

Kondisi tersebut berarti apa? Ketika kebijakan ini diterapkan, mekanisme insentif dan disinsentif yang telah disebut di awal akan berjalan dengan baik. Dengan begitu, pengguna mobil pribadi akan beralih ke busway sehingga jumlah mobil akan berkurang dan kemacetan juga perlahan-lahan ikut berkurang. Ini akan berhasil, tentunya dengan asumsi adanya pelayanan busway yang memadai.

Jadi gampangannya, untuk atasi kemacetan Jakarta… Ciptakanlah kemacetan yang lebih parah... hehehe..

Monday, October 22, 2007

Paradox Lebaran

Kita sudah biasa mendengar berbagai paradox yang terjadi bulan Ramadhan. Salah satunya yang sering diangkat adalah tingkat inflasi yang meningkat akibat demand pull di bulan puasa, bulan dimana seharusnya masyarakat semakin mengurangi konsumsi.

Nah, sepanjang seminggu setelah bulan Ramadhan, kita disajikan paradox yang lain. Lebaran seharusnya identik dengan kebahagiaan dan keceriaan, tetapi di berbagai media kita disuguhi begitu banyak kasus kecelakaan yang menewaskan banyak orang.

Data pada tabel berikut menunjukkan begitu besarnya jumlah kecelakaan saat Lebaran:


Berdasarkan data di atas, kecelakaan pada 2007, meningkat pesat hingga 1063 kasus dari angka sebelumnya pada 2006 yang sudah sangat besar, yakni 168 kasus. Kabar yang agak “membahagiakan” adalah menurunnya jumlah korban tewas di tahun ini. Namun, tetap pertanyaannya adalah kenapa jumlah kecelakaan bisa terus meningkat seperti itu?

Tiap tahunnya pemerintah selalu berhadapan dengan masalah yang sama di saat Lebaran. Tiap tahun pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi. Dan tiap tahun itu pula mereka selalu gagal mengatasi masalah kecelakaan di saat Lebaran. Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mengurangi peningkatan kecelakaan ini?

Permasalahan peningkatan kecelakaan pada masa Lebaran menurutku hanyalah efek dari permasalahan fundamental-struktural dari sektor transportasi kita, yakni ketidak-seimbangan antara jumlah kendaraan dengan infrastruktur yang ada. Coba perhatikan data penjualan mobil berikut:


Sementara itu penjualan motor pun juga jauh lebih hebat. Berikut data penjualan hingga tahun 2006. (note: data penjualan hingga Mei 2007 telah mencapai 1.746.683 unit)

Dengan asumsi mobil terus digunakan hingga 5-10 tahun (di Indonesia mobil usia 20 tahun pun masih banyak dipakai), sementara motor hingga 5 tahun, maka tiap tahunnya penambahan jumlah mobil dan motor, masing-masing melebihi 100%. Secara nominal, penambahan jumlah mobil tiap tahunnya berada dalam angka ratusan ribu, sementara motor bisa mencapai jutaan.

Coba bandingkan dengan penambahan panjang jalan nasional. Berdasarkan data Departemen PU, dari tahun 2000 hingga tahun 2004, rata-rata penambahan panjang jalan nasional per tahunnya hanya sebesar 7,15%.

Logikanya, ketika jumlah mobil atau motor di jalan bertambah 1 unit, maka probabilita terjadi kecelakaan per indidividu akan meningkat. Apalagi ketika penambahan tersebut tidak didukung oleh perbaikan infrastruktur yang signifikan. Probabilita terjadi kecelakaan pun semakin meningkat.

Terkait dengan topik Lebaran, di masa Lebaran, arus lalu lintas jauh meningkat, terutama dalam jarak menengah dan jauh. Akibatnya probabilita terjadi kecelakaan juga akan semakin meningkat. (note: peningkatan penjualan mobil dan motor di tahun 2007 mungkin bisa dikaitkan dengan peningkatan jumlah kecelakaan Lebaran tahun ini)

Melihat permasalahan di atas, peningkatan kecelakaan di saat Lebaran hanya ujungnya saja dari permasalahan yang ada. Terlepas dari berbagai upaya pemerintah atau upaya pengemudi untuk berhati-hati saat berkendaraan, bayang-bayang akan kecelakaan yang mungkin menimpa akan terus ada. Yang harus dilakukan pemerintah bukan hanya melakukan pencegahan-pencegahan di saat Lebaran, tetapi mencari solusi dari permasalahan fundamental-struktural yang disebut di atas.

Untuk itu, pemerintah dihadapkan pada pilihan: 1. Menurunkan jumlah mobil dan kendaraan pribadi (peningkatan pajak sangat disarankan) dan atau 2. Perbaikan infrastruktur. Karena bila tidak, tangisan dan kesedihan saat Lebaran akan menjadi warna yang turut menemani masa Lebaran kita. Berdoa saja bukan kita yang bernasib sial.