Sunday, February 28, 2010
Mari Bermain Matematika Politik Indonesia saat ini
Setelah tugas pansus kasus bank century hampir selesai. Kini merebak dugaan-dugaan perubahan koalisi partai politik di DPR. Komposisi kursi DPR saat ini adalah sebagai berikut:
Demokrat (PD): 150
Golkar (PG): 107
PDIP : 95
PKS : 57
PAN : 43
PPP : 37
PKB : 27
Gerindra (PGer): 26
Hanura (PH): 18
Koalisi awal yang ada saat ini adalah PD+PG+PKS+PAN+PPP+PKB=75,2%. Kini dengan perbedaan pendapat jelang kesimpulan akhir pansus bank century, ada "gosip-gosip" bahwa PG dan PKS akan tidak masuk koalisi lagi. Bila hal itu benar terjadi maka minus kedua partai tersebut koalisi hanya menjadi 45,9%. Namun, bila PGer joint koalisi yang sudah minus PG dan PKS maka alhasil koalisi akan menjadi sebesar 50,5%. Dengan kata lain, koalisi tetap menjadi mayoritas suara di dalam dewan.Yang lebih menarik lagi adalah apabila ternyata PKS tidak jadi keluar dari koalisi, otomatis koalisi akan menjadi 60,7%.
Saya bukanlah seorang ahli politik apalagi matematika politik. Disini saya cuma ingin menyoroti political cost of establishing a "pansus". Agar kedepannya bisa lebih dipertimbangkan lagi masak-masak bila ingin membentuk sebuah pansus.
Jadi, dari matematika diatas maka bisa disimpulkan bahwa political cost dari pansus century (bila memang peta koalisi jadi berubah) adalah 14,5% s/d 29,3% suara dalam dewan. Atau dengan kata lain, sebuah pansus dapat mereduksi kemampuan pengambilan keputusan homogen secara kolektif dalam dewan antara sepertujuh hingga sepertiga bagian. Dengan demikian sungguh luar biasa political cost dari sebuah pansus ini.
Demokrat (PD): 150
Golkar (PG): 107
PDIP : 95
PKS : 57
PAN : 43
PPP : 37
PKB : 27
Gerindra (PGer): 26
Hanura (PH): 18
Koalisi awal yang ada saat ini adalah PD+PG+PKS+PAN+PPP+PKB=75,2%. Kini dengan perbedaan pendapat jelang kesimpulan akhir pansus bank century, ada "gosip-gosip" bahwa PG dan PKS akan tidak masuk koalisi lagi. Bila hal itu benar terjadi maka minus kedua partai tersebut koalisi hanya menjadi 45,9%. Namun, bila PGer joint koalisi yang sudah minus PG dan PKS maka alhasil koalisi akan menjadi sebesar 50,5%. Dengan kata lain, koalisi tetap menjadi mayoritas suara di dalam dewan.Yang lebih menarik lagi adalah apabila ternyata PKS tidak jadi keluar dari koalisi, otomatis koalisi akan menjadi 60,7%.
Saya bukanlah seorang ahli politik apalagi matematika politik. Disini saya cuma ingin menyoroti political cost of establishing a "pansus". Agar kedepannya bisa lebih dipertimbangkan lagi masak-masak bila ingin membentuk sebuah pansus.
Jadi, dari matematika diatas maka bisa disimpulkan bahwa political cost dari pansus century (bila memang peta koalisi jadi berubah) adalah 14,5% s/d 29,3% suara dalam dewan. Atau dengan kata lain, sebuah pansus dapat mereduksi kemampuan pengambilan keputusan homogen secara kolektif dalam dewan antara sepertujuh hingga sepertiga bagian. Dengan demikian sungguh luar biasa political cost dari sebuah pansus ini.
Sunday, February 14, 2010
Kesalahan Ekonomi di Film-Film Superhero
Berikut ini merupakan tulisan dari M.Anggito Zhafranny, masih duduk di bangku kelas 5 SD, namun mampu menuangkan pertanyaan kritis dari sisi ekonomi mengenai beberapa lakon superhero. Perkenankan untuk berbagi di blog ini, berikut postingannya:
Ada kesalahan ekonomi yang terdapat di film Spiderman dan Superman. Mari kita lihat kesalahan ekonominya:
Spiderman
Peter Parker sebagai tokoh utama di Film Spiderman digambarkan sebagai orang yang sederhana, hanya tinggal bersama bibinya, dan bekerja sebagai fotografer sebuah koran yang gajinya hanya cukup untuk kebutuhan sehari -hari. Kira-kira dimana kesalahan ekonominya? Kesalahan ekonominya terletak pada kostumnya. Kenapa Peter Parker dapat membeli kostum Spiderman dengan harga murah? Padahal harga kostum di dunia ini sangatlah mahal! Tapi kenapa Peter dapat membelinya? Jika pembaca tidak mengerti maksudnya, bacalah lagi agar lebih dimengerti (maksudnya silahkan cari rujukan jurnal-jurnal mengenai hal tersebut-red).
Peter Parker sebagai tokoh utama di Film Spiderman digambarkan sebagai orang yang sederhana, hanya tinggal bersama bibinya, dan bekerja sebagai fotografer sebuah koran yang gajinya hanya cukup untuk kebutuhan sehari -hari. Kira-kira dimana kesalahan ekonominya? Kesalahan ekonominya terletak pada kostumnya. Kenapa Peter Parker dapat membeli kostum Spiderman dengan harga murah? Padahal harga kostum di dunia ini sangatlah mahal! Tapi kenapa Peter dapat membelinya? Jika pembaca tidak mengerti maksudnya, bacalah lagi agar lebih dimengerti (maksudnya silahkan cari rujukan jurnal-jurnal mengenai hal tersebut-red).
Superman
Clark Kent yang berperan sebagai Superman adalah anak seorang petani, jadi kehidupannya tentulah sangat sederhana, dan Ia hanya bekerja sebagai wartawan Koran Daily Planet. Kesalahannya sama dengan Spiderman, yaitu kenapa Superman dapat memiliki kostum yang ketat itu? Padahal harga pasar baju seperti itu di dunia ini sangat mahal, dan lebih mahal dari kostum Spiderman. Selain itu, tak mungkin Superman dapat menjahitnya karena bahan menjahitnya pun sangat mahal. Bahan baju Superman terbuat dari kain parasit yang sangat ketat dan kuat.
Clark Kent yang berperan sebagai Superman adalah anak seorang petani, jadi kehidupannya tentulah sangat sederhana, dan Ia hanya bekerja sebagai wartawan Koran Daily Planet. Kesalahannya sama dengan Spiderman, yaitu kenapa Superman dapat memiliki kostum yang ketat itu? Padahal harga pasar baju seperti itu di dunia ini sangat mahal, dan lebih mahal dari kostum Spiderman. Selain itu, tak mungkin Superman dapat menjahitnya karena bahan menjahitnya pun sangat mahal. Bahan baju Superman terbuat dari kain parasit yang sangat ketat dan kuat.Sunday, February 7, 2010
Least Square and WOC
As I posted here many moths ago, WOC roughly states that the best guess to predict a random number is the average of the distribution of this number.

Subscribe to:
Posts (Atom)



