Showing posts with label Recession. Show all posts
Showing posts with label Recession. Show all posts

Saturday, January 31, 2009

Obama dan Program Bail Out AS

Tepat sudah 10 hari semenjak Obama memegang tahta Amerika Serikat (AS), kini dia akan menjalankan program bail-out bagi perusahaan-perusahaan AS yang krusial bagi ekonomi namun tertekan oleh krisis.

Bicara program bail-out AS maka kita bicara jumlah uang sebesar 850 milyar dollar AS. Dari mana pemerintah AS akan peroleh dana sebesar itu? Kemungkinan dari penerbitan obligasi. 850 milyar dollar AS adalah setaraf 17 kali cadangan devisa Indonesia saat ini. Jadi, bila obligasi tersebut diterbitkan maka separah-parahnya AS akan menyedot habis 17 cadangan devisa negara seukuran Indonesia.

Apa akibatnya bila cadangan devisa tersedot habis menjadi nol? Singkat cerita, Indonesia mengalami cadangan devisa sama dengan nol adalah ketika krisis 97/98. Jadi bisa disimpulkan bahwa program bail-out AS separah-parahnya bisa membuat 17 negara seukuran Indonesia mengalami krisis ekonomi yang parah. Kita lihat saja nanti..

Monday, December 15, 2008

Bilamana The FED Potong Bunga Hingga 0,5 Persen

Wacana untuk kembali menurunkan suku bunga the FED (bank sentral amerika) sudah nyaring berbunyi dimana-mana, bahkan target penurunan hingga 0.5 persen dah disebut-sebut oleh Mr.Ben (gubernur the FED). Lebih dari itu, Ben juga mengatakan ada peluang suku bunga the FED bisa turun hingga 0 persen atau bahkan level persen negatif.

Apa akibat dari penurunan suku bunga the FED tersebut pada ekonomi Indonesia?

Pada dasarnya kebijakan penurunan suku bunga adalah untuk menurunkan cost-of-borrowing dan meningkatkan jumlah uang beredar dalam perekonomian. Kedua-dua tujuan tadi adalah demi menggerakkan roda sektor riil. Tapi ternyata obligasi pemerintah AS yang bersuku bunga 0 persen pun masih laku terjual. Ini berarti tingkat resiko memegang uang di AS lebih tinggi daripada time-value of money yang hilang akibat inflasi. Secara sederhana, bisa kita katakan bahwa, orang amerika sudah kurang percaya memasukkan uangnya ke dalam bank lagi sehingga mencari tempat yang lebih aman selain di bank. Jadi apakah kebijakan penurunan suku bunga akan efektif pada kondisi time-value of money sudah mulai di-ignore???

Indonesia bila suku bunga di AS turun lagi menurut saya perlu hati-hati di sektor riil, mungkin dalam kondisi normal bila suku bunga AS turun maka Indonesia akan kebanjiran aliran modal dari luar negeri. Namun dalam situasi krisis seperti sekarang, hal itu menjadi unlikely. Kemungkinan terbesar adalah sektor riil menjadi makin sulit untuk cari sokongan dana dari luar negeri. Lebih-lebih berharap meningkat kembalinya ekspor Indonesia ke AS, saya rasa hal itu mustahil selama periode krisis ini.

Yang terbaik saat ini, bila mana suku bunga the FED turun adalah ikut menurunkan suku bunga dalam negeri sambi diiringi peningkatan financing dalam negeri untuk sektor-sektor ekonomi yang bersifat vital.

Akhir kata, banyak poin dalam tulisan ini yang bersifat pandangan pribadi, jadi mohon dikritisi. Terima kasih.

Thursday, April 17, 2008

Inovasi Instrumen Keuangan Penyebab Krisis, Benarkah?

Akhir-akhir ini banyak orang bersikap skeptis bahwa krisis sub-prime mortgage yang terjadi di Amerika merupakan salah satu akibat dari inovasi keuangan yang terjadi di pasar uang yang semakin liberal.

Robert J. Shiller dalam artikelnya, Has Financial Innovation Been Discredited? Mengatakan bahwa seiring dengan terliberalisasinya pasar uang akan mendorong timbulnya berbagai inovasi yang berfungsi untuk memberikan banyak pilihan untuk mendorong modal dan investasi, hal ini kemudian berujung pada terdorongnya pertumbuhan ekonomi.

Saya rasa semuanya ada baik buruknya. Satu sisi, inovasi keuangan membuat para pihak di pasar mencari bagaimana menemukan instrumen investasinya yang paling efisien, dan juga membuat semakin banyaknya pilihan untuk mendiversifikasi resiko yang mungkin terjadi. Namun di sisi lain, inovasi keuangan juga berbuntut pada semakin besarnya peluang moral hazard dalam pasar uang.

Bagi saya, sah-sah saja apabila ada pihak yang mendiskreditkan inovasi keuangan sebagai penyebab krisis. Kalau kita hidup masih di jaman seperti pada sebelum tahun 1994 mungkin saja saat ini tidak akan terjadi namanya krisis sub-prime mortgage.

Monday, April 7, 2008

Decoupling

Melanjutkan diskusi kita Jumat lalu, ada paper yang cukup bagus terkait dengan isu mengenai "decoupling" . Paper lengkapnya (masih working paper sih) bisa dicek disini. Lalu versi presentasinya, dengan contoh kasus: analisis terhadap Turki, bisa dilihat pada link ini. Ulasan terhadap paper ini juga bisa dilihat pada salah satu edisi The Economist beberapa waktu yang lalu.

Saya kira analisis yang sama bisa digunakan untuk Indonesia, tidak hanya dalam melihat isu "decoupling", tetapi lebih jauh, untuk melihat bagaimana dampak resesi AS terhadap ekonomi Indonesia.