Wacana untuk kembali menurunkan suku bunga the FED (bank sentral amerika) sudah nyaring berbunyi dimana-mana, bahkan target penurunan hingga 0.5 persen dah disebut-sebut oleh Mr.Ben (gubernur the FED). Lebih dari itu, Ben juga mengatakan ada peluang suku bunga the FED bisa turun hingga 0 persen atau bahkan level persen negatif.
Apa akibat dari penurunan suku bunga the FED tersebut pada ekonomi Indonesia?
Pada dasarnya kebijakan penurunan suku bunga adalah untuk menurunkan cost-of-borrowing dan meningkatkan jumlah uang beredar dalam perekonomian. Kedua-dua tujuan tadi adalah demi menggerakkan roda sektor riil. Tapi ternyata obligasi pemerintah AS yang bersuku bunga 0 persen pun masih laku terjual. Ini berarti tingkat resiko memegang uang di AS lebih tinggi daripada time-value of money yang hilang akibat inflasi. Secara sederhana, bisa kita katakan bahwa, orang amerika sudah kurang percaya memasukkan uangnya ke dalam bank lagi sehingga mencari tempat yang lebih aman selain di bank. Jadi apakah kebijakan penurunan suku bunga akan efektif pada kondisi time-value of money sudah mulai di-
ignore???
Indonesia bila suku bunga di AS turun lagi menurut saya perlu hati-hati di sektor riil, mungkin dalam kondisi normal bila suku bunga AS turun maka Indonesia akan kebanjiran aliran modal dari luar negeri. Namun dalam situasi krisis seperti sekarang, hal itu menjadi
unlikely. Kemungkinan terbesar adalah sektor riil menjadi makin sulit untuk cari sokongan dana dari luar negeri. Lebih-lebih berharap meningkat kembalinya ekspor Indonesia ke AS, saya rasa hal itu mustahil selama periode krisis ini.
Yang terbaik saat ini, bila mana suku bunga the FED turun adalah ikut menurunkan suku bunga dalam negeri sambi diiringi peningkatan financing dalam negeri untuk sektor-sektor ekonomi yang bersifat vital.
Akhir kata, banyak poin dalam tulisan ini yang bersifat pandangan pribadi, jadi mohon dikritisi. Terima kasih.