Monday, October 19, 2009

Jika Saja Ibu Saya Menggunakan LV atau sejenisnya

Barusan saya menemani teman saya untuk window shopping mencari sebuah dompet untuk ibunya. Kami berjalan menyusuri pertokoan di dalam pasific place mall. Lalu singkat cerita sampailah kami di depan toko Louis Vuitton. Teman saya melihat ada berderet produk-produk yang kualitasnya baik. Langsung kami masuk dan menanyakan harganya. Ternyata untuk sebuah dompet perempuan, harga termurah adalah sekitar 3 juta, dan untuk tas perempuan minimal 8 juta. Kami tidak kaget untuk harga tersebut karena LV adalah produk kelas atas yang mengutamakan kesempurnaan.

Namun, pikiran kami malah bergerak ke arah, apakah teman-teman dari ibu teman saya itu akan percaya bahwa ibunya itu memiliki LV yang asli. Secara LV sudah banyak barang bajakannya saat ini. Tidak mungkin dong kwitansi pembayaran ditempel menggantung terus di dompet yang akan dibeli itu.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah teori ekonomi yang dikenal sebagai teori signaling. Signaling dalam kasus ini menurut saya seperti ini, apabila ada ibu pejabat menggunakan dompet LV palsu pasti orang akan lebih percaya bahwa itu LV asli, sedangkan bila ada ibu rumah tangga biasa menggunakan LV asli pasti orang-orang akan meragukan keaslian dari LV yang dimilikinya.

Jadi, dari sini saya berkesimpulan bahwa sebaiknya untuk merk-merk kelas atas seperti LV mungkin ada baiknya untuk men-double atau bahkan triple-kan harganya, agar konsumennya benar-benar kelas atas, sebab orang-orang pada kelas margin antara atas dan menengah kurang bisa dihargai sebagaimana seharusnya bila mereka membeli produk kelas atas.

Mengerti maksud saya?

Orang Indonesia: Penggila Social Networking

Mungkin fenomena yang tidak aneh lagi saat ini, orang-orang cekikikan sendiri di depan laptop atau smartphone/blakcberry dalam genggamannya, seolah-olah dunia hanya selebar layar elsidi. Tak lain tak bukan, sudah pasti orang tersebut lagi buka fesbuk, chatting di yahoo messengger, gtalk, atau update status di twitter.

Dari data traffic yang bisa dilihat di Google Trends menunjukkan betapa orang Indonesia boleh jadi sangat penggila social networking, tentu saja terutama di kota-kota besar yang akses ke dunia maya dapat dilakukan dengan mudah.

Situs Facebook memang lagi puncak-puncaknya. Popularitasnya sekarang mengalahkan situs Friendster yang mungkin sekarang sudah banyak ditinggalkan. Bahkan gue aja lupa kapan terakhir buka account gue di Friendster, dan berat hati gue cuma bisa katakan: Selamat tinggal Friendster!


Trend traffic Facebook by Google Trends











Trend traffic Friendster by Google Trends











(Kalo gambarnya kurang jelas, bisa liat disini dan disini)

Untuk melihat dari negara mana sajakah yang sering asik berseluncur di kedua situs itu, bisa juga di-trace lewat google trends, mulai dari region, kota/daerah, hingga bahasa yang sering digunakan.

Facebook:







Friendster:






Berdasarkan tabel di atas menunjukkan kalo Indonesia menduduki peringkat 4 di dunia yang paling banyak masyarakatnya membuka situs Facebook, di mana sebagian besar berpenghuni di Jakarta. Dari penggunaan bahasa sendiri, Indonesia menduduki peringkat 1. Hmmmm....asik bener fesbukan melulu nih.

Tabel berikutnya situs yang nyaris almarhum, Friendster, Indonesia menduduki peringkat 2 di region, lagi-lagi banyaknya di Jakarta, dan bahasa Indonesia nomor 2 paling banyak digunakan di situs ini.

Adalagi situs microblogging yang juga lagi populer saat ini. Dalam kasus ini, gue cuma ambil twitter dan plurk. Jujur gue sih lebih suka twitter, soalnya di plurk kayaknya banyak para ababil (abege labil) yang menggunakannya, jadi agak-agak nggak masuk sama gue kayaknya..hehehehe....

Trend Traffic Twitter











Trend Traffic Plurk











Kedua situs microblogging tersebut terlihat menanjak pada tahun 2009. Situs yang menawarkan seseorang bisa sharing mengenai apa yang dilakukan sehari-hari sebanyak 140 karakter itu cukup mendapat tempat di belahan dunia. Bahkan beberapa komunitas sempat terbentuk hanya dari situs twitter, seperti #indonesiaunite ketika para tweet mania membentuk solidaritas soal kejaidan teroris di mega kuningan beberapa saat yang lalu.

Twitter:







Plurk:






(Kalo ngga jelas juga, bisa liat disini dan disini)

Popularitas Twitter di Indonesia memang masih kalah jauh dibandingkan di negara lain, namun dari segi bahasa yang digunakan, bahasa Indonesia menduduki peringkat pertama. Kalo di plurk sendiri, Indonesia peringkat 2 di region, yang banyak digunakan oleh penduduk di Jakarta, sedangkan dari sisi bahasa, bahasa Indonesia sebagai terbanyak ke-2 yang digunakan.

Hipotesis di awal kalo orang Indonesia sebagai penggila social networking mungkin ada benarnya, namun sangatlah bias perkotaan, terutama Kota Jakarta. Namun demikian, ada beberapa pertanyaan kalo boleh gue ungkapkan secara umum: Apakah ini fenomena yang menggambarkan bahwa orang Indonesia senang bersosialisasi? Atau apakah bisa dikatakan orang Indonesia rasa ingin tahu bagaimana dan apa yang terjadi dengan orang lain cukup besar?

Terserah jawabannya bagaimana, tapi dengan maraknya jejaring sosial tersebut tentu saja cukup memakan waktu kita baik di kantor, rumah, maupun di waktu senggang (kalo ini sih nggak apa-apa). Mungkin sekarang kita bisa curiga, ada orang belagak serius di balik layar PC kantor, tiba-tiba mesem-mesem sendiri, yah boleh jadi dia lagi buka fesbuk. Seperti lagu Saykoji..Online..Online....Asal jangan seharian aja menghabiskan waktu dengan asik di situs jejaring sosial, bisa-bisa dibilang magabut alias makan gaji buta.

Okelah cukup aja posting gue..mau update status dulu di twitter....