Duduk di sebuah kafe starbucks di salah satu gedung perkantoran di jalan sudirman, saya bisa perhatikan bagaimana orang-orang semangat berjalan dan ngobrol2 di selasar gedung atau trotoar-trotoar. Jalan ini bertumbuh layaknya downtown New York atau Tokyo (walau saya baru melihatnya melalui televisi).
Setiap sore, akan terlihat para esmud yang matanya sayup sehabis duduk seharian depan komputer berusaha menunggu taksi atau bus angkutan untuk menuju pulang. Jangan bayangkan pulang menuju tempat tinggal yang berjarak 10 menit berkendaraan. Kebanyakan para esmud ini tinggal di daerah pinggiran jakarta. Perjalanan pasti lebih dari 30 menit bila plus macet.
Jadi kalo dihitung-hitung, apakah bekerja sebagai esmud jalan sudirman bisa memberi hari tua yang lebih baik? Jawabannya pasti bervariasi untuk pertanyaan ini. Yang jelas, ada sedikit rasa gengsi bila bekerja di salah satu gedung yang berbaris sepanjang jalan bernama jenderal besar Indonesia ini.
Siapakah yang layak kerja di jalan sudirman? saya pikir haruslah orang yang bisa mensubtitusi antara real income dengan gengsi. Sebab, selain jauh dari pemukiman yang berharga terjangkau, juga tingkat pendapatan yang belum tentu sepadan dengan pengeluaran harian. Jadi, kalo Anda adalah orang yang kurang bisa berpikir gengsi sebaiknya mempertimbangkan untuk mengolah ekonomi Anda pada wilayah lain. Perlu disadari bahwa sebagian besar ekonomi Indonesia tidak bertumbuh di jalan sudirman. Hanya saja, jalan sudirman mengontrol sebagian besar pertumbuhan ekonomi di Indonesia secara jarak jauh.
Showing posts with label Labour Market. Show all posts
Showing posts with label Labour Market. Show all posts
Wednesday, January 27, 2010
Thursday, December 4, 2008
Pertumbuhan Ekonomi Rendah, Waktunya Kembali Ke Kampus
Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diperkirakan dapat mencapai level terburuk hingga 4,5 persen. Website Kompas menerbitkan:
"Pertumbuhan ekonomi pada 2009 diperkirakan mencapai level terburuk di posisi 4,5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan target APBN 2009, yakni 6 persen.."
Kemudian, tingkat pengangguran menjadi meningkat:
"....Badan Pusat Statistik menyebutkan, pada 2008 setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi akan menambah 702.000 lapangan kerja baru. Dengan demikian, jika pertumbuhan turun dari 6 persen ke 4,5 persen, tenaga kerja yang tidak terserap bisa mencapai 1,053 juta orang..."
Saya menyimpulkan bahwa; satu, orang baru lulus kuliah akan lebih sulit cari kerja; dua, orang kerja sulit dapat order, dan ada kemungkinan kena lay-off; tiga, orang yang kena lay-off akan sulit mencari lapangan kerja baru; empat, memilih berwiraswasta di masa krisis kemungkinan akan lebih sulit untuk mendapat demand.
Untuk itu, saya mengusulkan tahun 2009 untuk menjadi tahun studi atau tahun kembali ke kampus. Lupakan dulu mencari profit, carilah ilmu bila ekonomi sedang sulit. Maka bila itu benar terjadi, tingkat pengangguran pasti menurun, dan ketika ekonomi dunia kembali "bergairah" manusia Indonesia sudah semakin berkualitas dari yang sebelumnya. Setujukah Anda?
"Pertumbuhan ekonomi pada 2009 diperkirakan mencapai level terburuk di posisi 4,5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan target APBN 2009, yakni 6 persen.."
Kemudian, tingkat pengangguran menjadi meningkat:
"....Badan Pusat Statistik menyebutkan, pada 2008 setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi akan menambah 702.000 lapangan kerja baru. Dengan demikian, jika pertumbuhan turun dari 6 persen ke 4,5 persen, tenaga kerja yang tidak terserap bisa mencapai 1,053 juta orang..."
Saya menyimpulkan bahwa; satu, orang baru lulus kuliah akan lebih sulit cari kerja; dua, orang kerja sulit dapat order, dan ada kemungkinan kena lay-off; tiga, orang yang kena lay-off akan sulit mencari lapangan kerja baru; empat, memilih berwiraswasta di masa krisis kemungkinan akan lebih sulit untuk mendapat demand.
Untuk itu, saya mengusulkan tahun 2009 untuk menjadi tahun studi atau tahun kembali ke kampus. Lupakan dulu mencari profit, carilah ilmu bila ekonomi sedang sulit. Maka bila itu benar terjadi, tingkat pengangguran pasti menurun, dan ketika ekonomi dunia kembali "bergairah" manusia Indonesia sudah semakin berkualitas dari yang sebelumnya. Setujukah Anda?
Labels:
economic crisis,
Growth,
Labour Market,
Macroeconomics
Wednesday, April 2, 2008
The Changing Face of the Expat

According to The Jakarta Post, Weekender Magazine, April 2008:
"...The Asian expatriate contingent is strong, and figures suggest it’s getting stronger.
And despite hard facts being thin on the ground, many also agree more single women are coming to Jakarta to work in aid, development, public policy, journalism, tourism and teaching.
In 1995, The Jakarta Post reported more than 57,000 non-Indonesian citizens were living and working in Jakarta – a massive community compared to 1984 when there were just 18,000.
During its peak growth period, in the mid 1990s, some 20 percent of Jakarta’s foreign community was made up of Koreans, with a working population of 11,668.
Today, most embassies can provide only guesstimates of expatriates employed and living in Jakarta, and despite the enormous shakeout that occurred between 1998 and 2005 -- it seems Koreans, Japanese, Americans and Indians continue to make up the majority of a population of approximately 39,000 in Jakarta alone...
...Asian expatriates stayed on during the various crises, and others, particularly from mainland China, India and the Philippines, today fill middle management positions..."
(read more)
What I want to say to this posting:
"...The Asian expatriate contingent is strong, and figures suggest it’s getting stronger.
And despite hard facts being thin on the ground, many also agree more single women are coming to Jakarta to work in aid, development, public policy, journalism, tourism and teaching.
In 1995, The Jakarta Post reported more than 57,000 non-Indonesian citizens were living and working in Jakarta – a massive community compared to 1984 when there were just 18,000.
During its peak growth period, in the mid 1990s, some 20 percent of Jakarta’s foreign community was made up of Koreans, with a working population of 11,668.
Today, most embassies can provide only guesstimates of expatriates employed and living in Jakarta, and despite the enormous shakeout that occurred between 1998 and 2005 -- it seems Koreans, Japanese, Americans and Indians continue to make up the majority of a population of approximately 39,000 in Jakarta alone...
...Asian expatriates stayed on during the various crises, and others, particularly from mainland China, India and the Philippines, today fill middle management positions..."
(read more)
What I want to say to this posting:
"That’s why my boss is an Indian…wahahahaha……"
Subscribe to:
Posts (Atom)
