Sunday, November 30, 2008

Ketahanan Pangan di Batam (Chaikal)

Hey..Kalo mau lihat apa yang dikatakan Chaikal mengenai ketahanan pangan di Batam bisa lihat seperti yang dilansir The Jakarta Post di sini atau portal berita lokal Batam di sini.

Friday, November 28, 2008

Gunakan Produk Lokal, Siapa Lagi Kalau Bukan Kita?

Beberapa hari ini sering banget denger iklan di TV yang menyuruh kita menggunakan produk lokal. Kurang lebih tagline-nya: "gunakan produk lokal, siapa lagi kalau bukan kita?"

Mendengar tagline itu di kepala terlintas sebuah pertanyaan: loh, emangnya kenapa yang lain gak mau pake produk lokal? hemm... jawabannya sederhana, pasti karena ada produk (non-lokal) yang lebih bagus. Lalu kalau begitu, ngapain kita dipaksa beli produk yang lebih jelek? hanya alasan nasionalisme-kah? yang benar saja...

Bukan saya menganggap bahwa kualitas produk lokal tidak bagus, tapi tag-line di iklan itu yang memberi cap tidak bagus. Tag-line itu harus diganti, cari yang lebih sederhana dan tepat sasaran, misalkan: "gunakan produk lokal, kualitasnya tidak kalah dengan produk asing." Saya kira ini lebih baik, meski bahasanya harus dibikin lebih menarik lagi. Lagipula, bo'ong sedikit gapapa kok... namanya juga iklan. Mana ada kecap  no.2. Semua kecap pasti nomor 1. ;) 

Monday, November 24, 2008

Yuk Beli Dollar...!!!

Pemerintah AS berencana menerbitkan surat utang senilai US$500 miliar untuk membiayai rencana bail out-nya. 

Hemmm... saat-nya beli Dollar nih.. Rp 15.000 /US$ tinggal menunggu waktu.

Friday, November 21, 2008

Indonesia Economic Outlook 11/14/08



The beginning of the end of the financial crisis? Perhaps... The beginning of the end of the recession? Far from it. (Jean-Marc Lucas, BNP Paribas)


Resesi ekonomi global membuat memburuknya sentimen perekonomian yang juga berdampak pada Indonesia bersamaan dengan kecenderungan timbulnya flight to quality. Indikator pertama yang tergoncang adalah IHSG dan nilai tukar Rupiah.

Seiring dengan tekanan terhadap Rupiah, intervensi moneter yang pantang menyerah membuat cadangan devisa semakin menipis, dan merosot tajam sampai 50.58 Milyar USD pada November 2008. Kenaikan BI rate secara bertahap tidak dapat menghalangi perginya hot money dari perekonomian Indonesia. Padahal hal tersebut dilakukan ketika bank-bank sentral lain secara umum menurunkan suku bunga acuannya. Namun, 4 jurus kebijakan GWM valas BI dinilai cukup berhasil dalam mengatasi keringnya suplai USD di pasar domestik, sehingga sempat sedikit memberikan pertahanan pada Rupiah yang sedang tergoncang. Kendati demikian, penurunan GWM valas tersebut juga mempunyai andil terhadap merosotnya cadangan devisa.

IHSG juga terlihat bertahan pada posisi 1250-1350 setelah sempat terjun bebas beberapa waktu sebelumnya. Bahkan pada 13 November, IHSG terpuruk hingga level dibawah 1300 didorong oleh kembali ambruknya wallstreet dan bursa-bursa regional. Penurunan terparah dialami oleh saham-saham pertambangan dan infrastruktur, yang juga dipicu oleh harga minyak yang amblas hingga level 55 USD/barrel pada tanggal yang sama, dan skandal grup Bakrie. IHSG juga belum terlihat akan mengalami kenaikan yang stabil, sehingga investor cenderung hanya mencari margin tipis dalam periode sangat pendek. Namun, perubahan FDI masih cukup stabil menandakan bahwa sentimen global ini tidak terlalu signifikan pada investasi yang bersifat jangka panjang.

There’s a saying in international economics: “If the U.S catches a cold, the world sneezes” (Sunil Rongala – (Delloite Research)


Meskipun ekonomi global sedang lesu, namun ekspor belum terlihat menurun, hal ini sejalan dengan depresiasi rupiah yang secara riil menurunkan harga barang ekspor Indonesia.

Walaupun pada 3 November 2008 BPS mengumumkan inflasi Oktober 2008 dengan level yang cukup baik, yakni 0.45% mtm dan 11.77% yoy, namun perubahan sentimen terhadap perekonomian Indonesia hanya bersifat sangat temporer, pengaruh sentimen global sudah terlalu besar jika dibandingkan pasar Indonesia yang kecil. Sehingga, Rupiah secara bertahap terus melemah dan ditaksir menembus level Rp. 12000/USD pada pertengahan November walaupun fundamental ekonomi dan kebijakan moneter telah dipandang cukup baik.

Demikian pula dengan indikator pertumbuhan lain, juga menunjukkan bahwa ekonomi terus bertumbuh kendati sentimen global sedang buruk. Namun, walaupun belum ditunjukkan pada data, sejumlah industri di Indonesia sudah mulai merumahkan dan melakukan PHK terhadap tenaga kerjanya karena permintaan ekspor yang tergerus, dan ancaman PHK terus muncul dan bertambah (Kompas.com). Sehingga, besar kemungkinan bahwa nilai ekspor akan sedikit mengalami penurunan pada publikasi BoP berikutnya. Kendati demikian, current account belum tentu mengalami defisit karena adanya penurunan harga minyak dunia yang menurunkan nilai impor. Pada periode sebelumnya, current account sempat mengalami penurunan drastis pada Q2 2008 karena melonjaknya biaya impor, baik dari kategori Oil maupun Non-Oil.



Permintaan riil domestik juga terlihat masih konstan jika di-proxy melalui penjualan otomotif dan penjualan ritel.
Menurunnya harga minyak dunia juga memberikan perbaikan dalam defisit fiskal karena menurunnya beban subsidi. Penurunan harga minyak dunia tersebut juga memberikan keleluasaan pemerintah untuk mengoreksi harga Premium sebesar Rp. 500/liter, yang direncanakan awal Desember ini. Namun, masih belum dapat dipastikan bahwa hal tersebut akan secara signifikan menstimulus perekonomian dan menghalangi laju inflasi, karena adanya menu cost. Kendati demikian, inflasi dapat diperkirakan turun seiring dengan kecenderungan turunnya permintaan beberapa waktu kedepan.


Yield SBI mencapai hampir 1.5% di atas BI rate dan base lending rate terus merangkak naik. Pada saat yang bersamaan, spread CDS (credit default swap) untuk INDON (SUN yang diperdagangkan di luar negeri dengan rate USD) terus meningkat, yang berarti kepercayaan akan pembayaran surat utang Indonesia semakin menurun. Hal ini konsisten dengan seluruh tekanan yang telah dideskripsikan sebelumnya.
Dalam kerangka teoretis, BI berperan besar dalam mengatasi dampak krisis global secara jangka pendek melalui intervensi. Namun, kecukupan cadangan devisa mulai mengkhawatirkan melihat fase krisis yang masih panjang dan pasar Indonesia yang terlalu kecil dibandingkan dunia secara keseluruhan. BI telah melakukan langkah yang tepat dengan mengeluarkan regulasi-regulasi yang kreatif yang terkait dengan perdagangan valas. Langkah BI dalam memperketat transaksi valas diatas USD 100000 berhasil membatasi transaksi valas yang bersifat spekulatif, sekalipun mempersulit perbankan karena banyaknya keluhan nasabah dan pembatalan transaksi. Kebijakan tersebut dapat meminimalkan volatilitas Rupiah yang terus akan mengalami tekanan, sehingga dapat meminimalkan potensi penggunaan cadangan devisa.
Pengeluaran pemerintah yang tinggi pada bulan November-Desember juga dapat membantu mempertahankan gairah perekonomian domestik sampai dengan awal tahun 2009. Namun, patut diperhatikan bahwa perekonomian nasional belum sampai pada titik nadir pada saat ini, walaupun Indonesia dapat dikatakan “korban tidak bersalah”.

pakasa@gmail.com

Monday, November 17, 2008

Mencoba Mencari Alasan Teori Dari Krisis Finansial Global

Irving Fisher dahulu kalo saya tidak salah ingat, pernah memperkenalkan teori quantity of money. Yang berbunyi bahwa “Jumlah uang beredar yang dikalikan kecepatan perpindahannya adalah sama dengan harga produk-produk dikalikan jumlah kuantitasnya”. Inti dari teori ini menurut saya adalah bahwa nilai dari sebuah perekonomian dihitung melalui jumlah uang beredar dan secepat apa uang sedang berputar didalamnya.

Menarik kalo melihat fenomena krisis finansial global saat ini, dimana gagal bayar kredit perumahan di AS, ternyata mengakibatkan dunia jadi ikut mengalami krisis. Tapi tepatnya apa sih yang menjadi penyebab krisis finansial global ini???

Mungkin media massa atau penerbitan ilmiah sudah banyak yang membahas tentang penyebab krisis. Namun disini saya mau coba mengulasnya menggunakan teori quantity of money Irving Fisher.

Coba Anda bayangkan sisi kanan persamaan adalah perkalian antara harga dan quantitas. Asumsikan dulu bahwa sisi kanan ini tidak ada perubahan sama sekali, maka nilai perkaliannya adalah konstan. Lalu sisi kirinya adalah perkalian antara jumlah uang dan kecepatannya.

Sebelum terjadi krisis, menjamurnya produk-produk turunan dalam dunia finansial telah menambah kecepatan uang menjadi berkali-kali lipat dari kondisi semula. Sehingga semestinya diimbangi oleh pengurangan jumlah uang beredar agar sisi kanan tetap konstan. Tapi nyatanya tidak, yang terjadi malah sebaliknya. Yaitu uang beredar dibiarkan meningkat dengan tidak terkontrol oleh karena less-restrictive management dari pihak bank sentral.

Alhasil sisi kanan tidak bisa konstan seperti kita asumsikan diawal. Lalu, oleh karena kuantitas dari produksi adalah sesuatu yang tidak mudah diubah, sebab membutuhkan perubahan teknologi, investasi baru, pengetahuan yang lebih maju dan sebagainya, maka dapat ditebak bahwa yang paling cepat merespon di sisi kanan adalah komponen harga. Sehingga terjadilah inflasi... (inilah awal-awal gejala krisis di AS, berbulan-bulan yang lalu, sayangnya the Fed tidak cepat sadar).

Inflasi kemudian menyebabkan para pengambil kredit perumahan menjadi sulit melunasi hutangnya sebab dalam kondisi semua harga sedang mahal (inflasi) maka yang paling utama diprioritaskan adalah kebutuhan pangan. Alhasil, setelah gagal bayar maka rolling-back effect terjadi. Dan ternyata turunan subprime mortgage sudah ada dimana-mana. Otomatis semua kena dampak.

Disaat pasar finansial mengalami kekacauan maka kecepatan uang menjadi menurun, padahal sisi kanan sudah terlanjur tinggi akibat harga yang mengalami inflasi. Otomatis dibutuhkan penambahan jumlah uang beredar agar sisi kiri bisa mengimbangi sisi kanan. Inilah solusi yang pemerintah AS sedang akan lakukan setelah mendapat persetujuan dari Parlemennya (nyatanya semua negara yang terkena dampak juga melakukan hal yang sama).

Pendapat saya atas masalah ini adalah, sebaiknya pemerintah AS atau pemerintah negara manapun tidak usah terlalu berfokus pada penambahan jumlah uang beredar. Sebaiknya fokuskan diri dalam penanganan inflasi. Yaitu turunkan nilai dari sisi kanan bukan malah mencoba meningkatkan nilai sisi kiri. Maksudnya adalah untuk mengembalikan daya beli masyarakat agar roda ekonomi kembali berputar sehingga kecepatan perpindahan uang dapat meningkat kembali tapi dengan level yang terkontrol. Tidak selepas bebas seperti waktu sebelum krisis. Seperti bunyi pepatah jalan raya, “Semakin Cepat, Maka Semakin Dekat Dengan Maut”.

Friday, November 7, 2008

Will Capitalism Die?

Neoliberal, kata ini tidak begitu disukai di Indonesia. Meski sebenarnya tidak jelas apa yang dimaksud dengan neoliberal, tapi kata ini identik dengan pasar bebas, privatisasi, pihak asing, sedikit regulasi, dan yang pasti bukan pemerintah.

Terkait dengan ini, banyak orang menganggap bahwa Indonesia dikuasai oleh kaum neoliberal. Tapi fakta berbicara berbeda. Hingga akhir 2007 saja, jumlah BUMN masih sebanyak 140 perusahaan. Dan kita tahu, besar subsidi dalam anggaran mencapai ratusan triliun. Ketika harga minyak bumi mencapai US$ 140, porsi subisidi hampir 1/3 dari total anggaran. Bahkan, pemerintah mengatur cara kita berpakaian, melalui UU Pornografi, dan mengatur cara kita beragama, dalam kasus Ahmadiyah misalnya. Ketika pemerintah ada dimana-mana, apakah itu identik dengan neoliberal? Jawabannya tidak.

Sedikit beralih, karena bukan neoliberal yang sebenarnya akan kita bahas, bicara neoliberal sebenarnya kita bicara soal kapitalisme, karena kapitalisme adalah intinya. Nasibnya tidak berbeda, dibenci oleh banyak orang. Kapitalisme diidentikkan dengan perusahaan besar yang hanya mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan mengorbankan banyak hal, kapitalisme dianggap sebagai pihak asing yang ingin menguasai kekayaan domestik, kapitalisme berarti keberadaan para spekulan yang bermain-main dengan ketidakpastian, dan tidak lupa kapitalisme menghasilkan kesenjangan. Tidak aneh jika ketika krisis financial menimpa AS (gurunya kapitalisme), mereka yang anti kapitalisme seakan mendapatkan pembenaran untuk menolak kehadiran kapitalisme. Dalam sebuah karikatur yang dimuat di The Economist, euforia penolakan kapitalisme digambarkan dengan larisnya T-Shirt dengan tulisan Capitalism is Dead di bagian dada.

Benarkah Kapitalisme Akan Mati?

Sedikit flash back, kapitalisme muncul dari Adam Smith melalui bukunya The Wealth of Nation di tahun 1776. Sejak itu, kapitalisme sempat mengalami masa gelap setelah terjadinya Great Depression pada tahun 1930-an di Amerika Serikat. Persis dengan apa yang terjadi saat ini. Namun kapitalisme bangkit dengan dimotori oleh seorang ekonom tak dikenal kala itu, bernama Milton Friedman. Milton Friedman dengan buku berjudul “Capitalism and Freedom” mempromosikan kembali kapitalisme, hingga terus berjaya hingga sekarang. Dan ini terjadi di tahun 1962, sekitar 30 tahun setelah Great Depression. Bila sekarang tampaknya kapitalisme akan kembali ke masa gelap, bukan berarti kapitalisme akan mati. Mati suri mungkin. Namun dengan begitu banyak pembela (relatif dibanding di masa Milton Friedman menerbitkan bukunya), mati surinya akan sebentar atau mungkin sama sekali tidak akan mati suri.

Terlepas dari pasang surut yang dialami dengan perbaikan disana sini, kapitalisme telah menguasai dunia beratus-ratus tahun lamanya. Ini menjadi bukti sahih kehebatan kapitalisme. Suatu sistem bisa bertahan dan terus dipakai karena mampu memberikan bukti nyata. Tidak percaya? Berbagai kemajuan di dunia, misalkan komputer, mobil, lalu kemajuan di dunia kesehatan misalnya, dan masih banyak yang lain, adalah buah kapitalisme (kita akan masuk lebih dalam ke bagian ini nanti). Dan ini adalah argument penting bahwa kapitalisme tidak akan mati. Apalagi bila dibanding sistem selain kapitalisme, perkembangan kapitalisme jauh meninggalkan lawan-lawannya.

Argumen lain terkait dengan diri kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme berasal dari kata kapital yang berarti modal. Kapitalisme mensyaratkan adanya legalitas kepemilikan pribadi dalam artian kemampuan untuk mengakumulasi modal, meraih profit, dan menumpuk kekayaan. Namun definisi kapitalisme lebih luas dari itu, dimana terdapat karakteristik-karakteristik yang menyertainya, antara lain (berdasarkan tulisan Robert J. Samuelson -- The Rebirth of Capitalism -- di dalam Encyclopedia of Capitalism Volume I):

  1. Kapitalisme menjawab pertanyaan-pertanyaan ekonomi (alokasi sumber daya) melalui pasar bebas dengan harga sebagai instrument/indikator utama. Jika masyarakat ingin lebih banyak mobil, maka harga mobil meningkat, dan produksi meningkat. Sebaliknya dari sudut yang berbeda, ketika harga mobil meningkat, maka permintaan mobil akan berkurang, lebih banyak orang yang naik kendaraan umum. Apa yang diproduksi-dikonsumsi di suatu negara, dan ini berhubungan dengan pekerjaan apa yang akan tercipta, dan pada akhirnya perilaku masyarakat ditentukan sepenuhnya oleh pasar.
  2. Kapitalisme menciptakan sistem insentif-disinsentif yang berfungsi memotivasi orang dalam bertingkah laku, dengan memberikan reward atas kerja yang dilakukan. Kapitalisme mengasumsikan setiap orang pasti berusaha memenuhi ambisi, meraih cita-cita, menjadikan dirinya dalam posisi yang lebih baik. Karenanya orang akan bekerja sekeras mungkin, mencoba berinovasi, dan mungkin mengambil resiko untuk memenuhi keinginan dan kepentingan tersebut. Di sini-lah asumsi greed/serakah muncul sebagai bagian dari kapitalisme. Sesuatu yang merupakan sifat alami dari manusia.
  3. Di dalam kapitalisme terdapat sistem “trial and error” yang permanent. Maksudnya, karena setiap orang bebas menentukan apa yang ingin mereka produksi, dimana setiap orang bisa meraih profit dengan memuaskan pasar, setiap orang bebas untuk melakukan eksperimen. Dengan eksperimen, akan muncul teknologi baru, produk baru, jasa baru, atau inovasi dalam membuat atau menjual produk yang lama, tetapi dengan biaya lebih murah. Ini pada akhirnya mampu meningkatkan tingkat standar hidup masyarakat. Di poin ini, kapitalisme telah menghadirkan kemajuan di dunia, seperti diungkapkan sebelumnya.

Bila dilihat poin 2 dan 3, di dua poin ini terdapat kehebatan dari sistem kapitalisme. Dengan menggunakan sistem insentif-disinsentif, kapitalisme menjembatani antara kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat banyak. Ketika seseorang berusaha memenuhi kepentingan pribadinya, di saat yang sama dia akan memberikan manfaat bagi masyarakat banyak.

Ilustrasi-nya seperti ini: Misalkan Anda adalah seorang pegawai IT di sebuah perusahaan mobil swasta. Di perusahaan Anda diterapkan sistem insentif, bagi yang mampu memperbarui sistem produksi mobil akan mendapat bonus 10x gaji. Melihat bonus yang begitu besar, yang nanti bisa digunakan oleh Anda untuk beli rumah, beli mobil baru, dll (semua kepentingan dan ambisi pribadi Anda), Anda pasti akan bekerja dengan keras. Mencoba berbagai kemungkinan, membaca berbagai teori, mengkalkulasikan dengan tekun, pada intinya Anda akan terus berusaha. Misalkan ada 10 orang yang sama dengan Anda sehingga di satu titik pasti akan ada yang mampu menghasilkan sistem yang lebih baik dari sebelumnya dan misalkan Anda orangnya. Ternyata dengan sistem baru, produksi mobil mampu dihemat waktu produksi menjadi ½-nya dan biaya juga dihemat ½-nya. Akhirnya produksi mobil meningkat dengan harga menjadi lebih murah. Dengan begitu, akan lebih banyak orang yang bisa menggunakan mobil dibanding sebelumnya, dan Anda sendiri akhirnya bisa beli rumah yang Anda idamkan. Bermula dari pemenuhan kepentingan pribadi dan bukan karena Anda bertujuan untuk membantu orang lain, orang banyak diuntungkan dengan apa yang Anda lakukan. Persis seperti yang ditulis oleh Adam Smith beratus tahun yang lalu:

“It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest. We address ourselves, not to their humanity but to their self-love, and never talk to them of our own necessities but of their advantages.”

Kehebatan dari kapitalisme adalah kesederhanaan dan kedekatan dengan sifat alami dari manusia. Bahkan bisa dibilang setiap orang pada dasarnya adalah seorang kapitalis. Poin ini yang menjadikan sulit untuk menghilangkan sistem kapitalisme ini.

Apa yang terjadi di AS, sangat terkait dengan poin 3 soal “trial and error”. Perubahan sistem financial menjadi begitu kompleks adalah bentuk trial yang sebenarnya cukup sukses di awal. Namun akhirnya ada beberapa error yang membutuhkan pembenahan. Meski kapitalisme juga berperan, tapi perlu diperhatikan bahwa keberadaan pasar bebas yang disyaratkan tidak sepenuhnya terjadi. Pasar bebas yang menjadi kambing hitam tidak sepenuhnya bebas. Lihat saja, dua perusahaan mortgage terbesar, Fanny Mae dan Freddie Mac adalah milik negara. Selain itu, keberadaan subprime mortgage berawal dari niat baik untuk kepentingan banyak, bukan untuk memenuhi kepentingan pribadi, seperti yang terjadi di kapitalisme. Meski begitu, satu hal terpenting, kapitalisme adalah konsep yang mengalami proses yang terus berjalan. Kesalahan yang terjadi saat ini akan mengalami pembenahan. Satu lagi keunggulan dari kapitalisme.

Akhir kata, dengan memperhatikan fakta sejarah dan karakteristik yang menjadi keunggulannya, kapitalisme tidak akan mati. Itu tidak lebih dikarenakan, meminjam kalimat dari The Economist, terlepas dari segala kekurangannya, kapitalisme adalah sistem ekonomi terbaik yang pernah diciptakan manusia hingga saat ini.

Wednesday, November 5, 2008

Pelajaran Tentang Demokrasi dari Sang Guru

Akhirnya Barack Obama terpilih menjadi Presiden AS pertama yang berdarah Afrika. Sesuatu yang spektakuler, apalagi bila mengikuti sejak awal kiprah dia menuju kursi Presiden. From no-one to someone. Mengutip acceptance speech dari sang Presiden baru, kemenangan Obama menjadi bukti sahih kehebatan demokrasi AS : 

"If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible; who still wonders if the dream of our founders is alive in our time; who still questions the power of our democracy, tonight is your answer."   

Selain itu, di balik kemenangan Obama ada satu hal lain yang juga bikin saya tertarik, yakni ketika mendengarkan pidato politik John McCain, mengakui kekalahannya. Sangat berjiwa besar dan menunjukkan kualitas kehidupan demokrasi AS yang jauh lebih baik di atas kita. Ketika anda maju untuk menang, anda harus siap juga untuk kalah.

Kemenangan Barack Obama mungkin tidak akan berpengaruh langsung secara signifikan terhadap Indonesia, tetapi seharusnya politisi Indonesia bisa belajar banyak dari perjalanan demokrasi dari pelaksanaan pemilihan Presiden AS ini (yang saya kira diliput dengan begitu luas di DN untuk pertama kalinya). Jangan hanya meniru slogan, soal muda-nya, atau template design website-nya saja. Baru dengan begitu, kemenangan Obama memiliki arti bagi Indonesia.

Kita tahu perjalanan demokrasi Indonesia masih panjang untuk menyamai yang terjadi di AS, tapi setidaknya kita telah diyakinkan bahwa kita berada di jalur yang benar.