Showing posts with label Movie. Show all posts
Showing posts with label Movie. Show all posts

Sunday, February 14, 2010

Kesalahan Ekonomi di Film-Film Superhero

Berikut ini merupakan tulisan dari M.Anggito Zhafranny, masih duduk di bangku kelas 5 SD, namun mampu menuangkan pertanyaan kritis dari sisi ekonomi mengenai beberapa lakon superhero. Perkenankan untuk berbagi di blog ini, berikut postingannya:

Ada kesalahan ekonomi yang terdapat di film Spiderman dan Superman. Mari kita lihat kesalahan ekonominya:

Spiderman
Peter Parker sebagai tokoh utama di Film Spiderman digambarkan sebagai orang yang sederhana, hanya tinggal bersama bibinya, dan bekerja sebagai fotografer sebuah koran yang gajinya hanya cukup untuk kebutuhan sehari -hari. Kira-kira dimana kesalahan ekonominya? Kesalahan ekonominya terletak pada kostumnya. Kenapa Peter Parker dapat membeli kostum Spiderman dengan harga murah? Padahal harga kostum di dunia ini sangatlah mahal! Tapi kenapa Peter dapat membelinya? Jika pembaca tidak mengerti maksudnya, bacalah lagi agar lebih dimengerti (maksudnya silahkan cari rujukan jurnal-jurnal mengenai hal tersebut-red).

Superman
Clark Kent yang berperan sebagai Superman adalah anak seorang petani, jadi kehidupannya tentulah sangat sederhana, dan Ia hanya bekerja sebagai wartawan Koran Daily Planet. Kesalahannya sama dengan Spiderman, yaitu kenapa Superman dapat memiliki kostum yang ketat itu? Padahal harga pasar baju seperti itu di dunia ini sangat mahal, dan lebih mahal dari kostum Spiderman. Selain itu, tak mungkin Superman dapat menjahitnya karena bahan menjahitnya pun sangat mahal. Bahan baju Superman terbuat dari kain parasit yang sangat ketat dan kuat.

Berbeda dengan Batman dan Iron Man, wajarlah mereka punya kostum berteknologi tinggi karena mereka adalah orang-orang kaya.

Bagaimana menurut kakak-kakak sekalian?












Tuesday, April 8, 2008

Film Fitna Dan Eksesnya

Terhitung mulai hari ini beberapa situs, antara lain Youtube, Multiply, MySpace, atau Rapidshare tidak dapat diakses lagi oleh pengguna ISP tertentu, dengan alasan menghentikan penyebaran film Fitna. Dan ini atas instruksi dari pemerintah.

Komentar saya tentang kebijakan ini cuma satu, pemerintah kita semakin tidak jelas apa maunya dan semakin menjadi-jadi "ketidak-warasan"nya. Pertama, pemblokiran situs-situs tersebut jelas lebih banyak cost-nya ketimbang benefit-nya. Berapa banyak si yang membuka situs-situs tersebut hanya untuk melihat Fitna? Saya yakin mayoritas pengguna situs mengakses dengan tujuan lain yang pasti berguna untuk mereka yang mana legal, normal, serta sah. Belum lagi, kenyataan bahwa usaha ini tidak akan efektif menghalangi penyebaran film Fitna (soal ini teman-teman IT yang lebih mengerti, tapi di antaranya penyebaran film masih bisa dilakukan melalui email atau blog). Jadi fungsi pemerintah sebenarnya apa? merugikan masyarakat?

Kedua, yang lebih mengesalkan, dengan adanya kebijakan ini pemerintah menganggap bahwa masyarakat Indonesia itu bodoh. Film Fitna bagi saya adalah film murahan yang isinya kosong melompong saja. Kita semua tahu bahwa Islam lebih baik daripada itu. Film itu gak perlu dilayani!!!! Biarkan saja semua orang bisa mengakses film tersebut. Jadikan pelajaran bahwa ada loh orang-orang seperti Geert Wilders. Toh kita bukan bayi lagi yang harus disuapin, harus dilindungin, sehingga malah kita tidak akan bisa berkembang, dan terkaget-kaget ketika bertemu dengan dunia sebenarnya.

Hey pemerintah!!! orang Indonesia jauh lebih baik, jauh lebih pintar, dan jauh lebih dewasa dalam menyikapi film seperti ini kok.

Ke depannya tunggu saja, google, yahoo, friendster, facebook akan diblokir juga. Apalagi ketika UU ITE yang mencakup pornografi di internet telah diterapkan. Dengan alasan beredar gambar-gambar menjurus pornografi, situs-situs yang saya sebut diatas akan terancam mengalami nasib pemblokiran. Pada akhirnya yang bisa kita buka hanya situs http://www.depkominfo.go.id/ atau http://www.presidenri.go.id/.

Semakin crazy saja negara kita!!!

Buat teman-teman Starbuckers, maaf ya kalo akhirnya karena posting ini, blog kita diblokir. Sudah terlalu emosi ni melihat pemerintah kita. Ini semakin mengukuhkan keyakinanku bahwa "government will never give you solution to a problem, government is the source of that problem".

Tambahan Info: Buat yang pengen mengakses situs-situs yang diblok, coba masuk ke www.unblocked.org

Thursday, April 3, 2008

Ayat-Ayat Cinta, Fenonema Religiusitas, dan Pemilu 2009

Sudah baca novelnya dan sempat mengulasnya bersama teman-teman di Novel Appreciation Club FEUI sekitar 3 tahun lalu, buat saya Ayat-Ayat Cinta tidak sebagus apa yang dibilang banyak kalangan. Dengan alasan itu, sama sekali tidak ada keinginan untuk menonton filmnya. Apalagi beberapa rekan menyebutkan bahwa film ini tidak bagus. Semakin komplit saja alasan untuk tidak menonton. Bahkan meski SBY ataupun JK saja menyempatkan menonton.

Namun, akhirnya kemarin saya menonton Ayat-Ayat Cinta. Bukan karena penasaran atau tergoda, tetapi sebagai bagian dari tugas seorang suami, yakni menemani sang istri. Dan ternyata filmnya tidak seburuk yang saya bayangkan.

Tapi ya sudahlah. Lagi pula bukan itu yang ingin saya angkat dalam posting ini.

Sudah cukup lama Ayat-Ayat Cinta bertengger di bioskop-bioskop 21 di Jakarta, tetapi antusiasme masyarakat terhadap film ini masih begitu besar. Dari yang tua, muda, Islam, Kristen, kaya, tidak terlalu kaya, semua masih menyempatkan diri menontonnya di bioskop. Fenomena ini ada yang menganggap menjadi bukti sahih meningkatnya religiusitas -- nuansa agama -- di masyarakat kita sekarang-sekarang ini (saya sama sekali tidak menolak anggapan ini). Dan fenonema ini bisa dijelaskan dengan dua hal.

Pertama, faktor kompetisi. Sejak reformasi terjadi dan proses demokrasi mulai dialami negara ini , pasar agama semakin kompetitif karena meningkatnya kebebasan yang dulu sangat terbatas pada masa Orba. Baik itu di inter-agama (misalkan Kristen - Islam) maupun intra-agama (kaum A- golongan B dalam satu agama). Kompetisi yang ada memunculkan berbagai variasi kegiatan religius dengan "dagangan yang unik" dan target pasarnya masing-masing. Salah satu contoh gampangnya: dulu kita tidak akan pernah melihat ustadz dengan dandanan funky dan berdakwah dengan lagu rap, dimana jelas target dakwah sang ustadz adalah ABG-ABG dari kalangan menengah ke atas. Atau contoh lain bisa dilihat pada munculnya berbagai paket kegiatan dengan nuansa keagamaan, seperti belajar Alquran secara cepat untuk orang-orang dewasa, acara sholat malam bersama + panduan, dzikir bersama, dllnya.

Adanya kompetisi yang ketat menyebabkan masing-masing pemain dalam pasar harus seagresif mungkin melakukan pendekatan dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif. Semakin mudah dimengerti penjelasannya atau semakin dalam pemahaman keagamaan bisa menjadi keunggulan dalam persaingan tarik-menarik kader atau pemeluk agama. Keunggulan jaringan atau networking juga menjadi andalan.

Terdengar seram memang. Bahkan tidak jarang timbul friksi-friksi antar-golongan yang berbeda pendapat atau antar-agama. Tetapi satu hal, hasilnya nyata terlihat. Adanya kompetisi menyebabkan faktor religi meningkat pesat perannya dalam kesadaran masyarakat.

Faktor kedua adalah kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang ada. Kondisi sosial dan ekonomi saat ini sangat berat bagi masyarakat. Harga-harga meningkat, sementara pendapatan tidak bertambah, kegiatan perekonomian tidak kunjung juga mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup, dan kemiskinan dimana-mana. Beratnya kondisi yang ada membangkitkan keinginan masyarakat untuk mencari ketenangan dan kedamaian. Dan dimanakah itu? Tidak lain ada pada agama, terutama dengan janji-janji surgawinya. Ibarat candu, kalau Marx menyebutnya.

Selain itu, semakin kotor, palsu, dan kejamnya kehidupan, dimana tiap individu semakin memunculkan sisi serigalanya, seakan-akan menimbulkan dahaga akan nilai-nilai kesucian, kebersihan, dan keikhlasan. Persis seperti apa yang ditunjukkan oleh Fahri sebagai simbol orang yang sangat dekat dengan agama.
Kedua faktor di atas menjadi pendukung bagi meningkatnya nilai-nilai religi di masyarakat. Dan menjadi alasan di balik kesuksesan Ayat-Ayat Cinta.

Pembahasan ini tidak berhenti sampai disini.

Today's Dialogue Metro TV dua hari lalu tentang Partai Islam Terpuruk sebenarnya menjanjikan sebuah tema diskusi yang menarik. Namun sayangnya menurut saya, pembahasan kenapa itu terjadi, tidak masuk kepada substansi yang paling penting. Pembahasan malah diarahkan pada konflik internal (yang secara serius hanya terjadi di PKB, dan PKB sendiri tidak hadir dalam diskusi tersebut) dan perdebatan yang lebih tidak penting lagi mengenai Presiden perempuan.

Substansi terpenting sebenarnya sempat terlontar dalam perdebatan Saiful Mujani dan Tiftaful Sembiring, yakni fakta rendahnya hasil survei LSI terhadap posisi Partai Islam dihadapkan pada fenomena meningkatnya nilai-nilai religi di masyarakat. Sepakat dengan Bung Saiful Mujani, fenomena meningkatnya nilai-nilai religi di masyarakat tidak diikuti oleh pemilihan electoral-nya. Tapi kenapa? itu belum terjawab.

Di mata saya, sebagai partai yang mengusung nilai-nilai Islam, seharusnya nilai-nilai tersebut tercermin dalam kancahnya di dunia politik. Hubungan positif peningkatan nuansa religi di masyarakat dan pilihan electoral-nya sebenarnya terlihat pada pemilu yang lalu. Dimana, partai Islam, terutama PKS meraih suara yang mengejutkan. Cuma dalam prakteknya, ternyata tidak ada perubahan signifikan yang diberikan para wakil-wakil partai Islam terhadap proses politik yang ada, sehingga kekecewaan yang timbul. Padahal ketika nuansa religi yang tinggi muncul di masyarakat, berarti ekspektasi yang diberikan pada wakil dari Partai Islam juga akan tinggi. Dan ketika ekspektasi tersebut gagal diwujudkan, kekecewaan yang ditimbulkan juga akan lebih besar.

Bagi saya, terpuruknya Partai Islam dalam survei LSI seharusnya menjadi pelajaran bagi Partai Islam menuju Pemilu 2009. Fenomena semakin meningkatnya nuansa religi di masyarakat bukan berarti semakin mudah jalan bagi mereka, tetapi sebaliknya. Dan satu hal, ini tidak hanya berlaku bagi Partai Islam saja, tetapi juga bagi semua partai dengan agama sebagai ideologinya.