Pembicaraan mengenai biaya hidup antara teman-teman sesama BI yang sedang ditempatkan di daerah cukup hangat, mengingat biaya pengeluaran hidup untuk kebutuhan makan, tempat tinggal, hingga biaya-biaya jasa lainnya seperti transportasi hingga kebersihan rumah/pakaian yang sungguh beragam.
Namun ada hal yang menarik, pembicaraan mengenai keragaman harga makanan diukur melalui dengan harga makanan di warung nasi padang. Anggap saja satu porsi makanan nasi plus rendang. Melalui ini kita dapat mengukur keragaman tingkat harga di suatu daerah, atau mengetahui seberapa besar kebutuhan hidup untuk makan jenis makanan yang sama di hampir semua daerah di Indonesia.
Dengan demikian, kita juga dapat mengukur tingkat daya beli penduduk setempat dan juga tingkat kesejahteraan penduduk daerah tersebut. Seperti dalam teori Engel, semakin meningkat pendapatan seseorang, maka proporsi dari pendapatannya untuk membeli kebutuhan makanan semakin kecil, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan non-makanan semakin besar. Oleh karena itu, daerah yang harga nasi padangnya sangat mahal mengindikasikan bahwa porsi pendapatan penduduknya akan tergerus untuk membeli kebutuhan makanan yang semakin besar, sehingga ruang pendapatan untuk membeli kebutuhan non-makanan semakin kecil.
Ini juga mengingatkan dengan konsep paritas daya beli (purchasing-power parity-PPP) di mana mengukur perbandingan sejauh mana tingkat daya beli penduduk suatu negara pada suatu satuan nilai tukar tertentu. Untuk itu, muncullah pendekatan dari konsep ini dengan proksi menggunakan seberapa besar harga dari burger Big Mac di gerai McDonald di seluruh negara, seperti apa yang digagas majalah The Economist (lihat selengkapnya di sini). Ataupun saat ini ada gagasan baru dengan menggunakan harga secangkir kopi latte di gerai Starbucks, sehingga munculah istilah Lattenimocs (lihat selengkapnya di sini).
Saya rasa, mengukur tingkat daya beli penduduk di berbagai daerah di Indonesia terlalu jauh apabila didekati setangkap burger Big Mac atau secangkir kopi latte Starbucks. Untuk ukuran Indonesia, komoditas tersebut masihlah terlalu mewah. Saya kira ukuran harga nasi padang+rendang bisa dijadikan sebuah indeks alternatif yang dapat mengukur keragaman daya beli penduduk di berbagai daerah di Indonesia. Namun juga ada kendala kecil, bagi sebagian penduduk daerah, makan daging rendang mungkin suatu kemewahan, atau bahkan hanya makan daging hanya saat lebaran kurban. Hmmm, kalau begitu bila nasi padang+rendang tidak memungkinkan, kita cukup dengan Warung Tegal saja alias Warteg saja….
Showing posts with label Purchasing Power Parity. Show all posts
Showing posts with label Purchasing Power Parity. Show all posts
Wednesday, February 11, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
