Showing posts with label Public Service. Show all posts
Showing posts with label Public Service. Show all posts

Sunday, May 8, 2011

Hingar Bingar KTT

Saudara-saudara di pelosok Indonesia mungkin tidak se-aware saya dan orang-orang yang tinggal di Jakarta. Minggu ini adalah momen penting bagi ASEAN dan Indonesia, karena KKT ASEAN ke-18 diselenggarakan di Jakarta. Tampak fisik yang kita lihat dan rasakan mungkin secara sederhana adalah jalan sudirman-thamrin ditutup sesaat ketika para leaders ASEAN sedang lewat. Selain itu, komplek senayan yang tidak bebas keluar masuk krn penjagaannya yang super ketat, bahkan termasuk di hari minggu yang biasanya senayan rame oleh orang-orang yang mau olahraga, tetapi jadi tidak bisa demi penjagaan keamanan.

Tetapi pertanyaan selalu muncul tentang, APAKAH GUNANYA MEMBUAT SEBUAH KTT?

ada golongan yang optimis, ada pesimis dan ada yang netral..

Optimis bilang, ini adalah cara untuk bertemu berkomunikasi dan menyelesaikan masalah serta mengatur rencana kedepan. Pesimis bilang KTT cuma buang uang saja dan hanya memberi kemewahan untuk para peserta KTT. Netral berpikir untuk tidak ambil pikir mengenai KTT yang penting "life goes on" aja.

terserah Anda mau berpikir bagaimana tentang KTT, yang pasti semua yang terlibat di KTT bukan untuk senang-senang dan semoga hasilnya bisa dipakai untuk kemajuan kehidupan masyarakat.

Wednesday, March 12, 2008

Kebijakan Rumah Susun: Sebuah Penyimpangan

Posting ini terinspirasi pada sebuah pemandangan kompleks Rumah Susun Kebon Kacang yang kebetulan persis berada di belakang gedung saya bekerja.

Kebijakan rumah susun pada awalnya merupakan sebuah konsep kebijakan yang baik oleh Perumas. Penduduk yang bekerja di kota besar khususnya Jakarta, tentu saja perumahan yang layak untuk masyarakat dengan pendapatan kelas ke menengah bawah menjadi bagian yang penting dalam menyokong roda ekonomi di Jakarta. Penduduk ini tentu saja membutuhkan akses perumahan yang layak dan dekat dengan pusat aktivitas ekonomi.

Namun yang terjadi saat ini adalah sebuah penyimpangan, di mana banyak rumah susun tersebut menjadi beralih fungsi sebagai tempat tinggal yang disewakan, berdasarkan pengamatan saya, rumah susun tersebut banyak ditempati pekerja dengan pendapatan menengah ke atas.

Mengapa penyimpangan ini terjadi?
Bayangkan saja, penduduk dengan pendapatan menengah ke bawah dan pada umumnya memiliki pekerjaan dengan penghasilan tidak tetap dihadapkan pada pemenuhan tempat tinggal yang membutuhkan biaya yang dikeluarkan secara rutin. Pada akhirnya, penduduk yang seharusnya menempati rumah susun tersebut memutuskan untuk menyewakannya pada orang lain yang memiliki penghasilan tetap. Dengan ini, dia akan menerima pemasukkan tetap dari hasil sewa, dan bahkan tanpa harus lagi mencari pekerjaan atau bekerja (as simple as that!).

Berdasarkan perbincangan dengan salah satu orang yang tinggal di rumah susun tersebut, cukup hanya mengeluarkan biaya Rp4 juta per tahun untuk menyewa rumah susun dengan tipe studio berfasilitas lengkap dengan kamar mandi, dapur, pendingin ruangan, TV kabel, dan bahkan jaringan internet (murah kan?).

Lihat saja hasil jepretan foto-foto yang saya ambil di bawah ini;

Keterangan foto:
1.
Dua blok rumah susun kebon kacang dengan fasilitas pendingin ruangan dan TV kabel.
2. Gambar lebih dekat, rumah susun berfasilitas pendingin ruangan.
3. Gambar lebih dekat, atap-atap rumah susun penuh dengan parabola dan pemancar TV kabel.
4. Mercedes Benz, salah satu mobil dari beberapa mobil mewah yang terparkir di pelataran parkir rumah susun.

Seharusnya, pemerintah melaksanakan monitoring dalam pelaksanaan kebijakan rumah susun ini dengan tujuan memastikan bahwa rumah susun tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh penduduk yang dijadikan target kebijakan ini. Barangsiapa yang menyalahgunakan harus dikenakan sangsi atau denda.

Pernah ada isu bahwa perumahan kompleks rumah susun kebon kacang ini sempat ingin digusur oleh salah satu pengembang kompleks pertokoan dan apartemen. Kalau saat ini penggunaannya sudah menyimpang dengan terus menerus disalahfungsikan dan sekali lagi menguntungkan kelas masyarakat menengah ke atas (seperti halnya subsidi BBM), yah apa mau dikata, yah digusur sajalah! Hahahaha…….