Showing posts with label Miscellaneous. Show all posts
Showing posts with label Miscellaneous. Show all posts

Tuesday, May 18, 2010

Kuesioner Tentang Starbucks

Hello guys....
Ada salah satu mahasiswi FEUI angkatan 2006 sedang menyelesaikan skripsinya.

Kebetulan topiknya mengenai Starbucks....
Berikut link untuk pengisian kuesionernya..klik di sini
Bagi yang masih suka nongkrong, jika ada waktu..silahkan diisi....

Kalau gue kebetulan udah lama gak nongkrong di situ..maklum deh jauh dari peradaban..hehehehe....

Sunday, February 14, 2010

Kesalahan Ekonomi di Film-Film Superhero

Berikut ini merupakan tulisan dari M.Anggito Zhafranny, masih duduk di bangku kelas 5 SD, namun mampu menuangkan pertanyaan kritis dari sisi ekonomi mengenai beberapa lakon superhero. Perkenankan untuk berbagi di blog ini, berikut postingannya:

Ada kesalahan ekonomi yang terdapat di film Spiderman dan Superman. Mari kita lihat kesalahan ekonominya:

Spiderman
Peter Parker sebagai tokoh utama di Film Spiderman digambarkan sebagai orang yang sederhana, hanya tinggal bersama bibinya, dan bekerja sebagai fotografer sebuah koran yang gajinya hanya cukup untuk kebutuhan sehari -hari. Kira-kira dimana kesalahan ekonominya? Kesalahan ekonominya terletak pada kostumnya. Kenapa Peter Parker dapat membeli kostum Spiderman dengan harga murah? Padahal harga kostum di dunia ini sangatlah mahal! Tapi kenapa Peter dapat membelinya? Jika pembaca tidak mengerti maksudnya, bacalah lagi agar lebih dimengerti (maksudnya silahkan cari rujukan jurnal-jurnal mengenai hal tersebut-red).

Superman
Clark Kent yang berperan sebagai Superman adalah anak seorang petani, jadi kehidupannya tentulah sangat sederhana, dan Ia hanya bekerja sebagai wartawan Koran Daily Planet. Kesalahannya sama dengan Spiderman, yaitu kenapa Superman dapat memiliki kostum yang ketat itu? Padahal harga pasar baju seperti itu di dunia ini sangat mahal, dan lebih mahal dari kostum Spiderman. Selain itu, tak mungkin Superman dapat menjahitnya karena bahan menjahitnya pun sangat mahal. Bahan baju Superman terbuat dari kain parasit yang sangat ketat dan kuat.

Berbeda dengan Batman dan Iron Man, wajarlah mereka punya kostum berteknologi tinggi karena mereka adalah orang-orang kaya.

Bagaimana menurut kakak-kakak sekalian?












Wednesday, December 9, 2009

Game: Minority Rule

Teman-teman starbuckers, atas permintaan sesepuh kita yang saat ini sedang di Jepang, sy cb untuk kembali meramaikan blog kita.

Dalam posting blog ini, sy akan mengajak teman-teman untuk bermain sebuah game. Nama gamenya: Minority Rule. Bagaimana cara mainnya? gampang saja. Jika dalam demokrasi kita mengenal majority rule (dalam sebuah pengambilan keputusan, suara mayoritas yang menang), dalam minority rule, yang terjadi sebaliknya. Pemenang adalah suara minoritas.

Dalam game ini, ada 4 orang yang ikut bermain (3 cewek dan 1 cowok), termasuk Anda di dalamnya. Sebuah pertanyaan akan ditanyakan, "Apakah Anda ganteng?" dan setiap peserta harus menjawab "ya" atau "tidak". Peserta tidak boleh tidak menjawab dan tidak boleh menjawab keduanya. Anda diberikan waktu 6 jam untuk menjawab. Selama 6 jam tersebut Anda diperkenankan melakukan apapun yang diperlukan. Pemenang adalah yang jawabannya minoritas (hanya dijawab oleh 1 orang).

Pemenang akan mendapatkan Rp 1 miliar. 3 orang yang kalah harus membayar denda Rp 200 juta rupiah.

Pertanyaannya apa yang akan Anda lakukan? Jawaban apa yang akan Anda pilih? ya atau tidak? Bisakah Anda menang?

Jawaban dalam poin2 saja ya..

Monday, October 19, 2009

Orang Indonesia: Penggila Social Networking

Mungkin fenomena yang tidak aneh lagi saat ini, orang-orang cekikikan sendiri di depan laptop atau smartphone/blakcberry dalam genggamannya, seolah-olah dunia hanya selebar layar elsidi. Tak lain tak bukan, sudah pasti orang tersebut lagi buka fesbuk, chatting di yahoo messengger, gtalk, atau update status di twitter.

Dari data traffic yang bisa dilihat di Google Trends menunjukkan betapa orang Indonesia boleh jadi sangat penggila social networking, tentu saja terutama di kota-kota besar yang akses ke dunia maya dapat dilakukan dengan mudah.

Situs Facebook memang lagi puncak-puncaknya. Popularitasnya sekarang mengalahkan situs Friendster yang mungkin sekarang sudah banyak ditinggalkan. Bahkan gue aja lupa kapan terakhir buka account gue di Friendster, dan berat hati gue cuma bisa katakan: Selamat tinggal Friendster!


Trend traffic Facebook by Google Trends











Trend traffic Friendster by Google Trends











(Kalo gambarnya kurang jelas, bisa liat disini dan disini)

Untuk melihat dari negara mana sajakah yang sering asik berseluncur di kedua situs itu, bisa juga di-trace lewat google trends, mulai dari region, kota/daerah, hingga bahasa yang sering digunakan.

Facebook:







Friendster:






Berdasarkan tabel di atas menunjukkan kalo Indonesia menduduki peringkat 4 di dunia yang paling banyak masyarakatnya membuka situs Facebook, di mana sebagian besar berpenghuni di Jakarta. Dari penggunaan bahasa sendiri, Indonesia menduduki peringkat 1. Hmmmm....asik bener fesbukan melulu nih.

Tabel berikutnya situs yang nyaris almarhum, Friendster, Indonesia menduduki peringkat 2 di region, lagi-lagi banyaknya di Jakarta, dan bahasa Indonesia nomor 2 paling banyak digunakan di situs ini.

Adalagi situs microblogging yang juga lagi populer saat ini. Dalam kasus ini, gue cuma ambil twitter dan plurk. Jujur gue sih lebih suka twitter, soalnya di plurk kayaknya banyak para ababil (abege labil) yang menggunakannya, jadi agak-agak nggak masuk sama gue kayaknya..hehehehe....

Trend Traffic Twitter











Trend Traffic Plurk











Kedua situs microblogging tersebut terlihat menanjak pada tahun 2009. Situs yang menawarkan seseorang bisa sharing mengenai apa yang dilakukan sehari-hari sebanyak 140 karakter itu cukup mendapat tempat di belahan dunia. Bahkan beberapa komunitas sempat terbentuk hanya dari situs twitter, seperti #indonesiaunite ketika para tweet mania membentuk solidaritas soal kejaidan teroris di mega kuningan beberapa saat yang lalu.

Twitter:







Plurk:






(Kalo ngga jelas juga, bisa liat disini dan disini)

Popularitas Twitter di Indonesia memang masih kalah jauh dibandingkan di negara lain, namun dari segi bahasa yang digunakan, bahasa Indonesia menduduki peringkat pertama. Kalo di plurk sendiri, Indonesia peringkat 2 di region, yang banyak digunakan oleh penduduk di Jakarta, sedangkan dari sisi bahasa, bahasa Indonesia sebagai terbanyak ke-2 yang digunakan.

Hipotesis di awal kalo orang Indonesia sebagai penggila social networking mungkin ada benarnya, namun sangatlah bias perkotaan, terutama Kota Jakarta. Namun demikian, ada beberapa pertanyaan kalo boleh gue ungkapkan secara umum: Apakah ini fenomena yang menggambarkan bahwa orang Indonesia senang bersosialisasi? Atau apakah bisa dikatakan orang Indonesia rasa ingin tahu bagaimana dan apa yang terjadi dengan orang lain cukup besar?

Terserah jawabannya bagaimana, tapi dengan maraknya jejaring sosial tersebut tentu saja cukup memakan waktu kita baik di kantor, rumah, maupun di waktu senggang (kalo ini sih nggak apa-apa). Mungkin sekarang kita bisa curiga, ada orang belagak serius di balik layar PC kantor, tiba-tiba mesem-mesem sendiri, yah boleh jadi dia lagi buka fesbuk. Seperti lagu Saykoji..Online..Online....Asal jangan seharian aja menghabiskan waktu dengan asik di situs jejaring sosial, bisa-bisa dibilang magabut alias makan gaji buta.

Okelah cukup aja posting gue..mau update status dulu di twitter....

Wednesday, September 2, 2009

Ah Teori... !!!!

Sedikit berbeda dengan yang dialami oleh bung Gaffar, saya juga punya cerita tentang kondisi yang saya alami tentang Ilmu Ekonomi, lebih spesifiknya tentang teori dan model kuantitatif.

Sudah sekitar 8 bulan bekerja di tempat yang baru, saya menemukan beberapa hal “menarik” di dalamnya. Namun ada satu hal yang sangat mengganggu, yakni orang-orang di tempat saya bekerja kerapkali tidak percaya dengan yang namanya teori ataupun model kuantitatif. Kata-kata senada dengan ah itu kan teori.. atau itu cuma model.. sering kali saya dengar dalam berbagai diskusi, rapat, atau seminar. Mereka lebih percaya pada pengalaman mereka, perasaan mereka, berita di koran, ataupun obrolan di rapat-rapat.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan, karena bisa jadi apa yang menjadi pengalaman mereka itu benar, sesuai dengan apa yang terjadi di realita. Namun entah karena menjadi kebiasaan atau karena frustrasi ternyata teori yang mereka pelajari susah-susah di kampus sering tidak sama dengan realita, landasan teori pun kerap ditinggalkan dalam analisis-analisis yang dilakukan sebelum pengambilan kebijakan. Nasib lebih parah dialami oleh penggunaan metode kuantitatif. Kendati salah satu tugas di tempat saya bekerja adalah melakukan proyeksi, model kuantitatif bagai menjadi anak tiri disini.

Bila kita coba rangkum, tampaknya bagi mereka dan saya yakin juga banyak orang lainnya, baik teori ataupun model kuantitatif telah gagal menjelaskan apa yang terjadi dalam dunia sebenarnya. Artinya, keduanya gak ada gunanya. Ketika keduanya gak ada gunanya, tentu lebih baik untuk ditinggalkan saja.

Berhadapan dengan orang-orang ini, rasanya susah banget untuk meyakinkan kembali akan pentingnya teori ataupun model kuantitatif. Tapi analogi berikut, dari Mark Thoma, layak dicoba. Analogi yang digunakan adalah antara krisis ekonomi dengan bencana gempa bumi. Keduanya sama-sama coba dijelaskan dan diproyeksikan melalui teori dan model kuantitatif, tetapi hingga saat ini keduanya bernasib sama.

Hingga saat ini tidak kurang upaya, baik penjelasan teori ataupun berbagai model prediksi, untuk memperkirakan kapan dan dimana bencana gempa bumi terjadi. Namun hingga saat ini pula, manusia tidak bisa memperkirakan dengan tepat kapan dan dimana bencana gempa bumi akan terjadi. Pertanyaannya adalah apakah itu berarti ilmu yang mempelajari gempa bumi ataupun model- prediksi yang digunakan tidak berguna??

Tentu tidak. Meski pada akhirnya belum mampu memprediksikan dengan tepat, tetapi teori dan model tetap memberikan manfaat pada kita. Ketika terjadi gempa bumi, dengan menggunakan bantuan teori dan model, kita bisa sedikit banyak tahu mengapa dan bagaimana gempa bumi itu terjadi. Apa yang menyebabkannya, tanda-tandanya seperti apa, dllnya. Di poin ini, teori maupun model, memberikan kita pemahaman lebih dalam bagaimana dunia ini bekerja. Selain itu, dengan info-info tambahan tsb, kemampuan prediksi kita diharapkan akan lebih meningkat. Jika saat ini belum benar-benar mampu memprediksi dengan tepat, itu berarti masih harus dilakukan perbaikan dan peningkatan pada teori maupun model tadi. Tapi bukan berarti tidak berguna dan lebih baik ditinggalkan.

Lebih jauh, info-info yang kita kumpulkan akan berguna untuk bersiap dalam menghadapi gempa berikutnya, baik itu melakukan tindakan sebelum terjadi gempa atau sesudahnya. Contoh tindakan sebelum terjadi gempa: dengan bantuan teori dan model, kita dapat mendesain rumah atau gedung yang lebih kokoh terhadap bencana gempa bumi. Contoh tindakan sesudah: seandainya pun gempa bumi sudah terjadi, dengan bantuan teori dan model kita dapat mengurangi secara signifikan kerusakan yang ada, misalkan dengan mendesain semacam skema pertolongan darurat.

Gambaran pada kasus gempa bumi juga bisa diterapkan dalam hal ini secara spesifik pada kasus krisis ekonomi. Namun secara lebih luas, gambaran tadi memberikan pemahaman lebih bagaimana teori dan model bila digunakan secara tepat dapat sangat berguna di dalam kehidupan kita, dibandingkan dengan omongan orang di rapat-rapat. Ingin mendapat bukti lebih lanjut (terutama dalam kasus model kuantitatif), silahkan baca buku ”super crunchers”.

Kalau di kasus Gaffar entah bagaimana ceritanya lingkungannya seakan-akan mendewakan teori dan model kuantitatif, di lingkungan sekitar saya sebaliknya, mereka benar-benar melupakan teori dan model kuantitatif.

Teori bagi saya adalah landasan awal kita berpikir. Meski begitu, bagi saya tidak selamanya semua harus sesuai teori (karena teori kebanyakan menyederhanakan permasalahan dan tidak ada yang sempurna). Tapi satu hal, kalau kita tidak punya teori sebagai landasan awal berpikir, tentu argumen yang kita keluarkan akan kemana-mana (aka tidak jelas). Teori memberikan kita koridor dalam pemikiran yang dilakukan.

Sementara itu, benar kata gaffar bahwa model kuantitatif itu hanyalah alat. Karena dia alat, yang dalam hal ini bebas nilai (berbeda dengan manusia), apa yang dihasilkan seharusnya benar-benar gambaran objektif dari apa yang ada. Hasil dari model kuantitatif kemudian akan menjadi pembanding dengan apa yang diungkapkan teori. Bila ternyata tidak sesuai, yah tidak apa-apa. Ketidaksesuaian itulah yang kemudian menjadi pertanyaan berikutnya. Siapa tahu dari hasil ketidaksesuaian tersebut teori yang ada bisa dikembangkan. Karena kita perlu ingat lagi di awal, teori bukanlah sesuatu yang sempurna.

Kalau gaffar mengingatkan akan bahaya penggunaan berlebihan teori ataupun model kuantitatif, saya coba mengingatkan bahaya yang lebih besar ketika keduanya sama sekali tidak diperhatikan.

Wednesday, April 8, 2009

Efektivitas Insentif Starbucks Untuk Meningkatkan Partisipasi Masyarakat di Pemilu

Sesuai arahan tetua blog ini, berikut beberapa analisis terkait efektivitas kebijakan insentif dari starbucks dikaitkan dengan perilaku pemilih sesuai yg bung chaikal bilang di comment post sebelumnya.

Sebelum masuk ke analisis, sebenarnya hampir bisa dipastikan secara nasional efek kebijakan starbucks ini sangat tidak signifikan. Berapa sih pelanggan starbucks? Ada di kota mana aja sih starbucks? tentu sangat sedikit dibanding total jumlah pemilih.

Untuk itu, analisis ini hanya ditujukan untuk melihat perubahan preferensi dari golput untuk kemudian memilih atau tetap golput pada pelanggan setia starbucks saja. Mungkin jumlahnya hanya ratusan ribu atau puluhan ribu, tapi mereka-lah target utama kebijakan starbucks.

1. Pemilih yang memutuskan untuk golput karena alasan benefit dan cost

Untuk pemilih dengan karakteristik seperti ini, mereka golput karena merasa cost untuk memilih lebih besar ketimbang benefitnya. Ketimbang panas-panas nyontreng, ngeluarin tenaga buat jalan ke TPS, mending tidur siang ato nonton sama pacar deh. Nah, mengingat yang kita bicarakan adalah pelanggan setia starbucks, tentu kebijakan starbucks akan punya efek yang signifikan pada pemilih seperti ini. Dengan kebijakan kopi gratis, benefit untuk memilih jadi akan lebih besar dan bisa melebih cost-nya. Sederhananya, klo tadinya lebih memilih untuk nonton bareng pacar, sekarang ya udah deh gak papa nyontreng bentar, habis itu lumayanlah bisa ngopi2 sama pacar habis nonton. Gratis bo'.. Apalagi buat mereka yang pencinta frappucino caramel seperti bung luthfi. Dibela-belain deh buat dapet frappucino caramel gratis.

2. Pemilih yang memutuskan untuk golput karena alasan rational ignorant

Nah sebenarnya di kasus ini juga menggunakan pendekatan yang sama dengan benefit-cost analysis. Cuma akhirnya ditekankan pada tidak sampainya/tidak cukup informasi yang didapat oleh pemilih, dalam hal ini tentang caleg dan partainya, sehingga benefit untuk memilih pun kecil. Pemilih jadi malas untuk memilih karena dia merasa emang siapa tuh orang, partai apa sih gak jelas amat, dan ekspresi-ekspresi lainnya. Dalam kasus ini, kebijakan starbucks kurang efisien. Jika mau efisien, seharusnya starbucks melakukan kebijakan ini sebelum-sebelumnya, dengan iming-iming insentif kopi gratis untuk mendengarkan pemaparan caleg live di starbucks. Jadi dialog caleg bukan hanya di TV, tapi di starbucks. Niscaya, kebijakan ini akan lebih efektif untuk karakteristik pemilih yang satu ini.

3. Pemilih yang memutuskan untuk golput sebagai bentuk expressive voting

Karakteristik pemilih ini memutuskan untuk golput, melawan keinginan dalam hati paling dalamnya, karena merasa pilihannya tidak akan menentukan/mengubah hasil dari pemilu. Pemilih ekspresif kurang lebih akan berkata begini dalam hatinya: Yah buat apa sih, toh cm 1 suara, mending gk usah deh, gua golput aja deh, kan keren tuh. Nah, buat pemilih dengan karakteristik ini, kebijakan starbucks juga tidak akan efektif. Tentu pemilih, yang merupakan pelanggan setia starbucks, akan berpikir ulang, tapi kopi gratis tidak mengubah fakta bahwa perasaannya berkata pilihannya tidak berpengaruh apa-apa. Akhirnya ya sudahlah, gua tetap golput aja deh.

4. Karakteristik yang tidak disebutkan bung chaikal adalah golput karena terpaksa

Contoh kasus ini adalah bung Gaffar ato saya yang tidak terdaftar di DPT. Poor me :( Untuk kasus ini, kebijakan starbucks malah akan cenderung menimbulkan moral hazard. Sebagai pencinta kopi starbucks, saya tentu sangat tergiur dengan iklan ini, apalagi ketika emang lagi jalan-jalan deket salah satu warung starbucks. Tapi apa boleh buat, karena tidak terdaftar saya gak bisa milih, yang artinya tidak bisa menunjukkan jari yang sudah terkena tinta sebagai bukti ke starbucks. Apa yang akhirnya saya lakukan, saya pake tinta2an deh buat nipu si barista. Siapa tahu dia ketipu. Toh tintanya tinta murah yang gak unik2 banget. lol

Jadi gimana kesimpulannya? kebijakan ini punya efek yang berbeda-beda untuk tiap pelanggan setia starbucks, tergantung karakteristik alasan untuk golputnya. Namun, karena dalam pandangan saya banyak pemilih yang memutuskan untuk golput karena alasan rational ignorant, maka agaknya kebijakan ini tidak akan efektif. Yang pastinya sudah diperkirakan oleh Starbucks sendiri. Pastinya mereka kan gak mau rugi-rugi banget. Ngasih kopi gratis kebanyakan bisa gawat cuy, terutama di zaman krisis kayak gini.. :)

NB: Tulisan ini dibuat agak cepat-cepat dengan bacaan literatur yang terbatas dan gaya slengehan. Jadi maaf kalo ada analisis atau definisi yang kurang tepat.

Segelas Kopi Gratis untuk Demokrasi????

Berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan antusiasme masyarakat untuk ikut Pemilu 2009.

Sampe2 ada promo segelas kopi gratis dari Starbucks:

























Hmmm....tetep aja gue GOLPUT.....(kecuali ada yg mau beliin gue tiket pesawat PP Jakarta-Padang).




Friday, November 28, 2008

Gunakan Produk Lokal, Siapa Lagi Kalau Bukan Kita?

Beberapa hari ini sering banget denger iklan di TV yang menyuruh kita menggunakan produk lokal. Kurang lebih tagline-nya: "gunakan produk lokal, siapa lagi kalau bukan kita?"

Mendengar tagline itu di kepala terlintas sebuah pertanyaan: loh, emangnya kenapa yang lain gak mau pake produk lokal? hemm... jawabannya sederhana, pasti karena ada produk (non-lokal) yang lebih bagus. Lalu kalau begitu, ngapain kita dipaksa beli produk yang lebih jelek? hanya alasan nasionalisme-kah? yang benar saja...

Bukan saya menganggap bahwa kualitas produk lokal tidak bagus, tapi tag-line di iklan itu yang memberi cap tidak bagus. Tag-line itu harus diganti, cari yang lebih sederhana dan tepat sasaran, misalkan: "gunakan produk lokal, kualitasnya tidak kalah dengan produk asing." Saya kira ini lebih baik, meski bahasanya harus dibikin lebih menarik lagi. Lagipula, bo'ong sedikit gapapa kok... namanya juga iklan. Mana ada kecap  no.2. Semua kecap pasti nomor 1. ;) 

Wednesday, July 2, 2008

Selamat Ulang Tahun Perak Bung Gaff


Selamat ulang tahun Bung Gaff...

Ingat umur !!! Sudah waktunya khawatir tentang pernikahan.. hehehe :) Tapi gapapa ding. Masih ada bung Chaikal kok :) :) :)

Doanya apa ya? emm... ini aja deh. Moga-moga cepet jadi Gubernur BI. Bangsa ini membutuhkan perubahan bung, dan mungkin anda jawabannya. Selain itu, tidak lupa... moga-moga cepet dapat jodoh (bukannya udah ya? Klo gitu, langsung hajar aja bung... piss ;p) dan yang pasti jangan pernah malas untuk berdiskusi dan menggali ilmu. Jangan lupa sholat juga, jangan lupa makan, jangan lupa mandi, dan jangan lupa yang lain. Wah kok jadi kepanjangan.. hehe.. :)

Anyway, mari bersulang untuk Ultah bung Gaff. Bebas milih semua kopi, mau frappucino, macchiato, atau yang lain. Semua Bung Gaff yang bayar...!!!

Last but not least: May our friendship last forever...

All Starbuckers and Friends

Wednesday, June 11, 2008

Sadapan Telelepon Kasus Suap BLBI

Buat yang tidak sempat membaca, berikut selingan menarik kutipan telepon Artalyta Suryani (tersangka kasus suap BLBI) dengan Untung Udji Santoso (Jaksa) beberapa jam setelah jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap tangan menerima suap. Sebuah kutipan yang menggambarkan carut-marutnya birokrasi kita: (disadur dari detik.com)

Untung (U):
Memang dikasih berapa duit?

Artalyta (A):
660 ribu dolar.

U:
4 M (miliar--red)?

A:
6 M (miliar--red).

U:
Lailahailallah!

A:
Jadi bagaimana ini menyelamatkan itu semua, orang-orang kita?

U:
Nggak iso ngelak kalau 6 M. Gila.

A:
Jadi gimana?

U:
Tak pikir enam atus juto (enam ratus juta-Red) gitu.

A:
nggak, itu banyak. Gimana?

U:
Itu untuk siapa?

A:
Ah, ya udahlah. Sekarang kita jalan keluarnya gimana?

U:
Adu biyung gimana?

A:
Heh.

U:
Sek...sek (sebentar--red). Kalau kayak gitu, susah itu.

A:
Aku kena lho, Mas, kayak gini.

U:
Lha iya.

A:
Aku bilang kan ajudanku.

U:
Ajudan kok duite samono gede ne. Soko ngendi? Ngarang ae. Yo wes. (Ajudan kok uangnya begitu banyak. Dari mana? Ngarang aja. Ya sudah--red). Gimananya caranya hubungi Antasari.

A:
Ya, coba Sampeyan telepon dulu.

U:
Udah, mati teleponnya.

A:
Mati? Dicari. Suruh nyari dong. Feri (Direktur Penuntutan KPK Feri Wibisono--red) suruh nyari.

U:
Feri juga nggak ngangkat.

A:
Jadi gimana? Ini kan mesti ngamanin bos kita semua.

U:
(terdiam lama)

A:
Aku jawabnya apa ya? Sekarang anakku kan masuk lewat belakang. Dia pegang juga. Dia masuk (tiba-tiba terinterupsi, Artalyta seperti menyuruh seseorang di rumahnya melakukan sesuatu).

U:
Usahakan cepat you keluar. Nyari Antasari deh.

A:
Ya, di mana dia rumahnya?

U:
Di anu, di BSD. Waduh, tapi saya tidak tahu juga rumahnya. Tapi jangan, jangan ke rumahnya. Ketemu di mana, di hotel atau di mana gitu deh.

A:
Ya, aku kan udah mau dibawa. Sampeyanlah yang kejar, yang nyari dia, Mas. Kan nggak kentara kalau sampeyan.

U:
Ya, iya. Tapi teleponnya aku gak ngerti rumahnya (suara Untung terdengar gelagapan). Teleponnya gak diangkat, aku sudah minta Wisnu (Jamintel Wisnu Subroto--red).

A: Sekarang susulin.

U:
Tak telepon dulu.

A:
Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu.

U:
Aku udah telepon Wisnu, demi Allah ini.

A:
Kata Wisnu apa?

U:
Aku sudah dibuka teleponnya. Aku juga nggak buka. Kamu punya nomor lainnya nggak?nggak punya, lah gimana? (Untung menirukan perkataan Wisnu padanya ke Artalyta)

A:
Sekarang aku kan mau dibawa. Supaya keterangannya sama gimana? Nanti kan kena gimana? Kan jangan sampai kena semua.

U:
Kenapa sih kok bingung gini? Aduh, gawean ae.

A:
Makane. Makanya, aku dari luar Jakarta, dia (jaksa Urip--red) maksa (ambil uang US$ 660 ribu) hari ini.

Sadapan telepon lanjutan bisa dicek disini. Fakta ini menunjukkan, reformasi birokrasi atau penguatan institusi/kelembagaan masih menjadi PR besar dan harus menjadi salah satu agenda prioritas bangsa ini. Usul saya cuma dua untuk ini, yakni deregulasi dan debirokratisasi.

Monday, June 2, 2008

"Bubarkan Laskar Islam/FPI"

Post ini saya tujukan untuk siapapun pemimpin Laskar Islam/FPI.

Saya Islam, tapi saya tidak rela jika nama Islam direpresentasikan oleh tindakan brutal penuh kekerasan seperti yang kemarin Anda dan teman-teman Anda tunjukkan. Apalagi dengan tanpa rasa bersalah kalian bilang punya hak untuk menghalalkan segala cara. Apakah itu Islam?

Saya memang bukan orang yang sangat dalam pemahaman ke-Islaman-nya, tapi bagi saya Islam jauh lebih indah dari apa yang kalian tunjukkan.

Anda bilang Anda pembela umat Islam, tapi saya kira Anda tidak membela umat Islam. Anda hanya membawa umat Islam pada posisi yang lebih buruk.

Anda bilang Anda punya alasan menyerang karena Anda menemukan bukti bahwa ada tangan-tangan asing (AS) yang bermain. Tapi saya curiga jangan-jangan Anda yang sebenarnya kepanjangan tangan dari pihak asing untuk membikin kacau bangsa ini dan memperburuk citra Islam.

Satu kata untuk Anda dan teman-teman, GILA !!!

Saya menuntut dengan keras, tolong jangan pernah lagi gunakan label Islam dalam setiap aksi Anda.

Satu hal lain, bagi saya, Ahmadiyah memang sesat. Tapi untuk meminta negara melarang, membubarkan, atau mengusir Ahmadiyah itu lain soal. Bagi saya, yang lebih layak dibubarkan adalah Laskar Islam, FPI, atau apapun namanya.

*Pendapat ini murni pendapat pribadi

Sunday, May 25, 2008

Untuk apa berpuisi?

Sudah mendengar puisi Bangkit-nya Deddy Mizwar, mmmmhh… pastinya lebih bisa dihayati dari pada iklan retorika seorang pemimpin partai dan seorang mantan jenderal (ngapain coba ngabisin duit bermilyar-milyar hampir setiap bulan hanya untuk.. hanya untuk… ah sudahlah, saya tidak bisa melengkapinya)

Anw, apa-sih arti puisi untuk kehidupan ini? Apakah puisi punya peran dalam pergerakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara? Atau apakah pada akhirnya, Deddy Mizwar hanya sibuk untuk bercuap-cuap?

Bagi saya, sebagai seorang pecinta puisi, jawabnya jelas puisi punya peran dan pastinya dengan magnitude yang cukup signifikan. Dan lebih khusus bagi ekonom, puisi ternyata memiliki peran yang cukup signifikan, setidaknya itu yang telah dibuktikan oleh artikel ini bahwa judul yang puitis untuk paper empiris memberikan margin empat kali lebih besar (positif) untuk di-sitasi dibanding yang tidak dan memiliki pengaruh yang negatif untuk artikel teoretis dengan margin dua kali lebih kecil.

Kesimpulan bagi ekonom, puisi punya peran signifikan tetapi dengan magnitude yang beragam. Pelajaran lainnya adalah jika ekonom menyampaikan teori gak usahlah beretorika terlalu banyak, demikian Bung2 Starbuckers...

Sebagai tambahan berikut beberapa judul artikel yang dianggap puitis dalam paper tersebut:

Metaphor: “Digging for Golden Carrots” (Taylor, 1995)
Personification: “Ant, Rationality, and Recruitment” (Kirman, 1993)
Oxymoron: “The Optimality of Myopic Behavior” (Leahy, 1993)
Synecdoche: “Competing Head-to-Head May be Less Competitive” (Klemperer, 1992)

Thursday, April 17, 2008

Standar Gaji Ekonom

Iseng-iseng coba search interval gaji ekonom swasta (corporate) di Amerika. Contohnya di Los Angeles, California, interval gajinya bisa di lihat di sini. Kalo di Indonesia interval gajinya berapa ya?

Cerita Tentang Seorang Pemimpin Bangsa

Ini merupakan pernyataan seorang mantan presiden yang dimuat di detik.com:

"Seharusnya ulama memberikan nasehat kepada umat untuk ber-KB. Mengingat harga yang sekarang ini melambung"

Fiuuuhh... (sambil geleng-geleng dan mengusap keringat di dahi)... Kok bisa ya dulu jadi Presiden?? Dan lebih parahnya.. mau maju lagi di Pilpres 2009 nanti!!!! Waduh, gawatt nian bangsa ini!!!

Atau jangan-jangan emang akunya yang bego, atau si mantan Presiden ini emang punya lompatan quantum yang luar biasa di otaknya??!! Hhh... Mungkin hanya Tuhan yang tahu...

Untungnya fenomena ini gk terjadi di Indonesia aja. Di AS sekalipun, mereka punya Bush yang mungkin lebih parah dibanding pemimpin kita. Coba cek disini atau disini.

Monday, April 14, 2008

Ramalan Jayabaya

Sedikit intermezzo, ini ada artikel menarik (meski agak lama) di opini Kompas tentang Ramalan Jayabaya. Tanpa perlu model ekonometrika atau model-model lainnya, percaya gak percaya, ramalan ini hampir tepat memprediksikan kondisi bangsa ini. Apalagi melihat kasus-kasus belakangan ini. Hhh... Jadi pesimis melihat perkembangan bangsa ini.

Kalau udah begini, solusinya cuma satu ni. Sebelum terlambat, harus secepatnya hengkang ke negara lain!!! Ayo-ayo!! buru-buru cari beasiswa ke LN dan gak usah balik lagi. hehehe.. Brain Drain deh.. ;)

Ramalan Jayabaya lengkapnya (dengan terjemahan ke bahasa Inggris) bisa dilihat disini.

Thursday, March 20, 2008

Siapa Ekonom Paling Produktif?

Berikut hasil survey terakhir (Februari 2008) yang memperlihatkan ranking ekonom-ekonom kelas dunia dalam produktifitas di bidangnya. Silahkan buka dan pelajari link berikut di sini.

Ingat, hati-hati dan teliti membacanya, siapa tahu ada nama Anda di situ (Ho3...Ngarep!).

Wednesday, February 27, 2008

Starbucks@Pacific Place: Treat a Friend


This is a kind of buy-one-get-one promotions.

We just simply fill out this postcard, and present it to Starbucks Coffee at Pacific Place 4th floor.


How does it work?

- Treat a friend: Buy any beverage and get another one of your choice.

- The second beverage must be of equal or lesser value.

- Not valid for promotional beverage.

- Can not be combined with any other promotion.

- Limited to one "treat a friend" per postcard, valid only at Starbucks Coffee Pacific Place till April 30, 2008
.
.
.
Let's enjoy......

Friday, February 22, 2008

Why is it hard to gather the starbuckers?

Akhir-akhir ini sulit sekali rasanya bertemu para starbuckers. Memang banyak alasan yang melatarbelakanginya dan juga sangat beragam.
Survey yang dilakukan Roy Morgan, CLSA Asia Pacific Markets for Indonesia 2007 "Mr & Mrs Indonesia" mungkin bisa dijadikan beberapa alasan tersebut. Survey ini menggunakan sampel 21 ribu responden yang mewakili sekitar 67 juta penduduk Indonesia.

Di tengah kehidupan di Jakarta, sebagai para new comers di lapangan kerja tentu segala macam aktivitas kita memiliki budget contraint yang disesuaikan dengan income kita.

Sebenarnya keinginan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga merupakan aktivitas favorit di Indonesia seperti yang diperlihatkan dalam hasil survey, salah satunya terciptalah grup diskusi ini.

Tetapi mengapa sulit untuk kumpul diskusi? Wajar saja, menurut survey sekitar lebih dari 65 persen memilih untuk melakukan kegiatan entertainment (diskusi kita termasuk entertaining kita ga ya?).

On the different note, hanya sekitar 5 persen saja yang memilih untuk pergi ke kafe (termasuk starbucks) dan lebih tinggi memilih pergi ke bioskop untuk menonton film-film baru sebesar 7 persen. Bisa jadi keinginan untuk diskusi tinggi tetapi tidak diimbangi keinginan yang tinggi pula untuk kumpul di kafe. Kenapa juga ngumpulnya di Kafe? Warung kopi kaki lima boleh juga dijajal.

Memang dari kita hanya sedikit yang punya mobil pribadi. Apa alasannya sama soal ngumpul untuk diskusi? Sebagai para pengguna setia taksi (padahal cuma mau naik Express atau Putra yang mematok tarif lama) ternyata kita hanya bagian dari 20 persen orang, sedangkan hampir 60 persen orang lebih memilih menggunakan bis sebagai transportasinya. Bisa jadi, keinginan untuk diskusi tidak match dengan jasa transportasi yang kita pilih.

Kenapa akhir-akhir ini starbuckers seperti “kering” ide dan gagasan? Hmm, ternyata memilih untuk melakukan kegiatan hobi dan olah raga (misal: futsal) jauh lebih tinggi sekitar 5-7 persen dibandingkan membaca buku. Kalo gini sih wajar aja kalo kurang ide dan gagasan baru.

Anyway, bolehlah kita katakan bahwa diskusi kita bukan suatu kegiatan entertainment dan boleh dikatakan juga high-cost pula. Tapi kenapa sekedar karokean atau nonton konser musik Jazz (Jak Jazz atau Java Jazz) tetap aja kita sulit ngumpul?
Yah wajar juga sih, menurut survey, 10 persen atau sekitar 6 juta orang di Indonesia lebih memilih datang ke konser dangdut. Hmm, next time kita datang konser dang dut aja apa? Goyang ngebor!

Anyhow, semoga kita bisa tetep ngumpul-ngumpul....