
Wednesday, February 27, 2008
Starbucks@Pacific Place: Treat a Friend

Friday, February 22, 2008
Why is it hard to gather the starbuckers?
Survey yang dilakukan Roy Morgan, CLSA Asia Pacific Markets for Indonesia 2007 "Mr & Mrs Indonesia" mungkin bisa dijadikan beberapa alasan tersebut. Survey ini menggunakan sampel 21 ribu responden yang mewakili sekitar 67 juta penduduk Indonesia.

Di tengah kehidupan di Jakarta, sebagai para new comers di lapangan kerja tentu segala macam aktivitas kita memiliki budget contraint yang disesuaikan dengan income kita.
Sebenarnya keinginan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga merupakan aktivitas favorit di Indonesia seperti yang diperlihatkan dalam hasil survey, salah satunya terciptalah grup diskusi ini.
Tetapi mengapa sulit untuk kumpul diskusi? Wajar saja, menurut survey sekitar lebih dari 65 persen memilih untuk melakukan kegiatan entertainment (diskusi kita termasuk entertaining kita ga ya?).
On the different note, hanya sekitar 5 persen saja yang memilih untuk pergi ke kafe (termasuk starbucks) dan lebih tinggi memilih pergi ke bioskop untuk menonton film-film baru sebesar 7 persen. Bisa jadi keinginan untuk diskusi tinggi tetapi tidak diimbangi keinginan yang tinggi pula untuk kumpul di kafe. Kenapa juga ngumpulnya di Kafe? Warung kopi kaki lima boleh juga dijajal.
Memang dari kita hanya sedikit yang punya mobil pribadi. Apa alasannya sama soal ngumpul untuk diskusi? Sebagai para pengguna setia taksi (padahal cuma mau naik Express atau Putra yang mematok tarif lama) ternyata kita hanya bagian dari 20 persen orang, sedangkan hampir 60 persen orang lebih memilih menggunakan bis sebagai transportasinya. Bisa jadi, keinginan untuk diskusi tidak match dengan jasa transportasi yang kita pilih.
Kenapa akhir-akhir ini starbuckers seperti “kering” ide dan gagasan? Hmm, ternyata memilih untuk melakukan kegiatan hobi dan olah raga (misal: futsal) jauh lebih tinggi sekitar 5-7 persen dibandingkan membaca buku. Kalo gini sih wajar aja kalo kurang ide dan gagasan baru.
Anyway, bolehlah kita katakan bahwa diskusi kita bukan suatu kegiatan entertainment dan boleh dikatakan juga high-cost pula. Tapi kenapa sekedar karokean atau nonton konser musik Jazz (Jak Jazz atau Java Jazz) tetap aja kita sulit ngumpul?
Yah wajar juga sih, menurut survey, 10 persen atau sekitar 6 juta orang di Indonesia lebih memilih datang ke konser dangdut. Hmm, next time kita datang konser dang dut aja apa? Goyang ngebor!
Anyhow, semoga kita bisa tetep ngumpul-ngumpul....
Thursday, February 21, 2008
Mitos dan Statistik
Sebagai seorang paman, saya memiliki seorang keponakan perempuan yang umurnya kemarin baru lengkap satu tahun. Ibunya pernah bercerita bahwa ponakan ini sudah cukup sering (mungkin lebih dari sekali) jatuh dari tempat tidur. Jika sudah jatuh begitu, ibunya pasti akan membawa si ponakan berobat ke dukun bayi untuk diurut (massage).
Dari si dukun bayi ini, sang ibu diberitahu bahwa si ponakan akan berhenti jatuh dari tempat jika sudah jatuh sebanyak tujuh kali.. Kesan pertama dari pernyataan tersebut adalah sang dukun (karena memang dukun) pasti punya kemampuan supranatural, bahwa pernyataan sang dukun bayi adalah sebuah pernyataan berbau mitos atau gaib (apalagi berhubungan dengan angka tujuh..)
Sebelum si ibu (kakak saya) mengatakan yang aneh-aneh, saya jelaskan kepadanya bahwa bagi saya, pernyataan sang dukun bayi tidak lebih dari sebuah kesimpulan statistik. Bahwa sang dukun bayi selama ini telah merekam data dan informasi mengenai frekuensi bayi untuk jatuh dari tempat tidur (tentu saja dari pasien-pasiennya selama ini). Berdasarkan data statistik tersebut, sang dukun bayi menyimpulkan bahwa bayi tidak akan pernah jatuh lebih dari tujuh kali..
Lalu, apakah kita harus mempercayai penyataan sang dukun tersebut? Untuk bisa mempercayainya, saya harus melihat dulu prosedur-prosedur statistik yang digunakan sang dukun, termasuk seberapa banyak jumlah pasien bayi-jatuhnya (ribet amat ya, ya pokoknya gitulah..) Sebenarnya apapun itu, sangat beralasan jika bayi tidak akan jatuh dari tempat tidur lebih dari tujuh kali. Alasan pertama: orang tuanya sudah lebih waspada, kedua: usia bayi mungkin usia yang terlalu pendek untuk jatuh lebih dari tujuh kali, ketiga: lain-lain..
And you know guys, banyak yang bilang bahwa primbon jawa sebenarnya adalah buku tentang statistik kehidupan, nah kalo sudah begitu.. bukannya sah-sah saja ya untuk mempercayainya...
Wednesday, February 13, 2008
Untuk Bung Fajar: Starlight - Muse
Mengiringi perjalanan bung Fajar ke Italia, sepertinya ini waktu yang pas buat kita bersulang dengan segelas kopi di tangan untuk kesuksesan Bung Fajar dan kita semua. Dan tentunya akan lebih pas lagi bila bersama-sama bernyanyi lagu kesukaan Bung Fajar..
Mari kita mainkan Starlight -- Muse !!!
Bung Gaffar dan Bung Pakasa di drum, Bung Luthfi di bass, Bung Carlos dan Bung Letjes di Gitar, Bung Chaikal dan Bung Fajar di vokal...
Selamat jalan bung Fajar... Sukses untuk dirimu di Italia...
"Far away; This ship is taking me far away; Far away from the memories; Of the people who care if I live or die...."
Monday, February 11, 2008
Change
"... I think having the first woman president is a huge change with consequences across our country and the world."
Hey guys, kita sudah pernah punya itu semua, seorang presiden wanita, presiden yang cacat, bahkan yang jenius... tetapi dengan semua itu, entah kemana perubahan (change) itu pergi.
Wednesday, February 6, 2008
Subsidi BBM, Distorsi, dan Policy Driven-Inflation
| Cek kompas hari ini disini. Langkah penghematan subsidi BBM untuk kemudian dialokasikan ke pangan memang adalah langkah yang baik. Terutama bila mengingat beban subsidi BBM yang besar di APBN, sementara BBM sendiri cenderung lebih dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke atas (subsidinya tidak tepat sasaran). Namun bila lagi-lagi langkah pembatasan konsumsi yang diambil, bukannya menaikkan harga, pemerintah kok gak pernah belajar ya. Niat baik tanpa langkah yang tepat hanya akan menciptakan distorsi-distorsi seperti yang sudah-sudah, dan diantaranya pernah saya bahas disini. Berita kelangkaan, antrean, demo masyarakat percayalah akan kembali menghiasi media dalam beberapa waktu ke depan. Yang terbaru, angka inflasi bulan Januari benar-benar mengejutkan, yakni sebesar 1,77%. Dan bila diperhatikan laporan dari BPS, secara general memang bahan pangan yang menyebabkan tingginya angka inflasi tersebut. Tapi, bila dilihat per komoditi, komoditi yang menjadi kontributor terbesar dari inflasi adalah minyak tanah, yang sebesar 0,35%. Apa penyebabnya? tidak lain tidak bukan adalah hasil dari kebijakan konversi minyak tanah ke gas. Saya menyebutnya dengan istilah "policy driven inflation". Melihat itu, okelah pemerintah pernah berjanji tidak akan naikin harga. Tapi apa salahnya dengan besar hati mengubah janji itu demi kebaikan bersama, demi mencegah distorsi lebih lanjut, yang dampak sosialnya bisa lebih besar dibanding dengan menaikkan harga secara bertahap. |
Tuesday, February 5, 2008
Inflasi di Zimbabwe: Buruk bagi Daya Beli Masyarakat dan juga Ahli Statistik
Keadaan ini tidak hanya membuat kondisi daya beli penduduk Zimbabwe yang semakin terpuruk, di mana hanya untuk membeli roti saja mesti mengeluarkan uang sebesar 1,7 juta dolar Zimbabwe, namun juga membuat kesulitan bagi para ahli statistik di BPS Zimbabwe.
Mengapa?
Dengan kondisi tingkat inflasi yang sekian parah, BPS Zimbabwe mengalami kesulitan untuk mengeluarkan laporan perkembangan harga bulanan akibat dari tidak cukupnya barang yang dapat digunakan dalam perhitungan badan pusat statistik itu.
Ini kondisi yang sangat lucu, jadi tidak hanya daya beli masyarakat yang semakin menurun drastis, bahkan barang kebutuhan masyarakat pun tidak ada. Jadi daya beli terpuruk tidak hanya karena peningkatan harga yang sangat drastis saja, namun juga supply barang tersebut pun tidak ada.
Pak Harto Bukan Robin Hood
Sudah lebih dari 7 hari Pak Harto telah meninggal. Bila mengingat masanya, memang banyak yang bisa dikenang dan dipuji dari zaman Pak Harto, seperti yang dilakukan oleh banyak media kita. Tetapi dari berbagai media yang ada, obituari majalah Economist disini (dengan judul Soeharto, dictator of Indonesia) dan tajuk rencananya yang berjudul "the epitaph on a crook and a tyrant" adalah yang paling menarik, kalau tidak bisa dibilang paling objektif meskipun sedikit sinis. Bayangkan, a crook, a tyrant, dan dictator.. !! "IN THE summer of 1998, just after the fall of President Suharto, the United States Treasury detected some odd movements of large sums of money, allegedly $9 billion, to a bank in Austria. The money was his. Or rather it was a small part of the billions he was said to have screwed out of Indonesia between 1966 and 1998, when he had held absolute power there. At one point Mr Suharto was the sixth-richest person in the world. Indonesia—though he had modernised this sprawling mass of archipelagoes and islands, paved it, brought foreign investors in and promoted an economic boom—was the poorer." Dan satu hal, hidup jalan terus. Kita sudah move on ketika Pak Harto mundur di tahun 1998. Oleh karenanya, tidak perlu memuja terlalu berlebihan, apalagi mengungkit-ungkit untuk kembali kepada masa itu. |
Coblos Kumisnya, Coblos Ahlinya, Banjir Lagi Hasilnya
Agak miris memang, kalau kita atau beberapa kalangan sudah memiliki hipotesa bahwa banjir besar di Jakarta hanya terjadi lima tahunan, tapi ternyata hipotesa tersebut hancur lebur terbantahkan. Baru 2007 terjadi banjir, kemudian setahun sesudahnya, 2008, terjadi kembali banjir besar di Jakarta.
Banjir di Jakarta memang sudah mulai menjadi langganan, terlebih lagi, masyarakat Jakarta sepertinya sudah sampai pada titik imun dalam menghadapi banjir. Lihat saja, para penduduk Jakarta yang terekam kamera TV masih menebarkan senyum mempesona, padahal sedang didera bencana.
Yang jadi perhatian saya dan mungkin menjadi perhatian beberapa kalangan, reaksi dari si kumis dalam menanggapi masalah banjir kali ini. Sepengetahuan saya ada 3 pihak yang disalahkan oleh si kumis:
1. Kontraktor. Si kumis sangat kesal dengan hasil karya para kontraktor di Jakarta, khususnya kontraktor yang menangani masalah drainase.
2. Masyarakat. Si kumis merasa banjir yang terjadi di Jakarta terjadi karena kebiasaan buruk masyarakat yang bukan gemar menabung, akan tetapi gemar membuang sampah sembarangan.
3. Alam. Si kumis merasa banjir kali ini disebabkan karena faktor alam yang tidak bersahabat.
Sungguh aneh, si kumis yang merasa dirinya paling ahli menangani kota Jakarta, justru mencari kambing hitam atas terjadinya banjir. Seseorang yang mengaku dirinya ahli, seharusnya solutif dalam menghadapi suatu masalah, bukan malah secara terus menerus mencari kambing hitam.
Kalau terus mencari kambing hitam, sampai kapan pun bencana banjir di Jakarta tak mungkin bisa teratasi. Jadi tolong para pendukung atau tim kampanye si kumis bekerja dengan baik dan jangan hanya mencari kambing hitam.
PS: Hanya pendapat pribadi sebagai warga Jakarta dan tidak bermaksud menyerang secara politis
Monday, February 4, 2008
Sovereign Wealth Fund or Single White Female?
Lain dengan Singapore, United Emirat Arab punya cerita yang lebih seksi dengan petro dollarnya. Cerita Dubai Port ketika membeli P&O, pengelola pelabuhan terbesar ke empat di dunia yang mengurus banyak pelabuhan di AS seharga 7 milyar USD dan berujung kepada intervensi veto dari kongres AS. Selain itu pembelian 20 persen saham NASDAQ Agustus 2007 oleh Borse Dubai, perusahaan gabungan Dubai Financial Market dan Dubai International Financial Exchange. Selain itu, Abu Dabhi juga punya cerita lain dalam pembelian saham Citibank dengan 7,5 Milyar USD atau 4,9 persen saham Citibank.
Cina, sebagai negara pembuat headline terbanyak beberapa tahun terakhir ini punya keunggulan lain. Kalau Singapore mengandalkan tabungan pensiun penduduknya dan UEA karena booming minyak. Dengan 1,2 triliun USD di cadangan devisa dan surplus perdagangan sekitar 100 milyar USD pertahun juga ikut bermain dengan pembelian terbesar di America Treasury Bonds.
Meskipun begitu, keberadaan SWF bukanlah barang baru. SWF pertama yang ter-register dibuat oleh pemerintah kolonial Inggris pada 1956 di Micronesia. Lima besar Negara dengan aset terbesar adalah Jepang (USD 975Bn), UAE (USD 724), Norway (USD 357), Singapore (USD 323), US (USD 299). Namun, dengan total estimasi aset sebesar 4,7 Trilyun USD, isu untuk SWF bukan lagi mengenai konflik kepentingan pemerintah bersangkutan dan keberadaan mereka yang membahayakan ekonomi global. Tapi lebih kepada isu transparansi dan akuntabilitas. Dengan kekuatan modal sebesar itu tanpa transparansi dan akuntabilitas, SWF hanya akan memunculkan kembali ketakutan terhadap dua isu diatas. Hasil studi dari Peterson Institute menunjukan Singapore dan UAE menjadi 2 negara paling buruk dalam masalah ini. Sedangkan Norway dan New Zealand bisa dijadikan barometer untuk hal yang sama.
Masalah transparansi dan akuntabilitas selain penting untuk sisi ekonomi, juga untuk sisi politik. Sebagai contoh, penduduk Singapore yang tidak bisa banyak mengakses data apa yang diperbuat oleh pemerintah terhadap tabungan pension mereka banyak menimbulkan keresahan. Apalagi mengingat dua SWF milik Singapore dipimpin oleh klan Lee Kuan Yew, dengan GIC dipimpin oleh MM LKY sendiri dan diperkuat oleh putranya, Perdana Mentri BG Lee sebagai wakil. Sedangkan Temasek dipimpin oleh Ho Ching, Istri dari BG Lee yang juga dinobatkan sebagai no 3 the most powerful woman in the world 2007 oleh majalah Forbes setelah Angela Merkel dan Wu Yi (Vice Premier China).
Dari sedikit lihat-lihat mengenai SWF, informasi resmi yang didapat terutama dari GIC, Abu Dhabi IC dan Dubai sangatlah minim. Sebagai contoh, Abu Dabhi Investment Authority (http://www.adia.ae) yang mengelola sekitar USD 500 Milyar hanya memiliki situs resmi yang tidak memadai. Begitu pula dengan GIC, yang hanya memberikan profile singkat dan terbatas. Bahkan ketika pembelian Citibank, GIC tidak banyak berkomentar mengenai hal tersebut.
Bagaimanapun, SWF terutama bagi Singapore dan UAE telah menjadi produk paling seksi dari keberhasilan pembangunan ekonomi mereka. Bagaimana dengan Indonesia?
Sudahkah kita berfikir 20 tahun kedepan sebagai kekuatan ekonomi baru?
Atau kita membiarkan defisit budget dan hutang-hutang baru sementara Singapore dan UAE setiap tahun terus mengembangkan investasi-investasinya?
Atau mungkin terminologi SWF memang harus diubah menjadi Single White Female agar kita mungkin melihatnya lebih seksi lagi.
Fauzan Zidni, Mahasiswa MPP di Lee Kuan Yew School of Public Policy, NUS.
Penulis salah satu pengunjung blog ini, dan ingin sekali ngopi-ngopi dengan dengan para kontributor blog ini.
Penulis bisa diakses di http://bukittimahschool.blogspot.com/
Bank Indonesia: Benarkah Independen?
Bank Indonesia sebagai otoritas moneter memiliki kekuatan untuk berdiri sebagai lembaga independen yang terlepas dari intervensi pemerintah.
Namun, apabila menilik kasus aliran dana Bank Indonesia ke DPR, sangat terlihat kental nuansa politis. Mungkinkah dengan proses politik di pemerintah (dalam hal ini Presiden yang berwenang mengajukan nama-nama calon Gubernur BI) dan DPR yang begitu sedemikian rupa dapat menjamin kebijakan moneter yang dibuat BI akan tetap independen?
Mengenai peran Gubernur Bank Sentral, kita mungkin masih teringat bagaimana Gubernur Federal Reserve Amerika, Alan Greenspan yang begitu fenomenal. Ada salah satu artikel dari Rizal Mallarengeng (Demokrasi, Alan Greenspan, dan Sembilan Sulaiman, Kompas Senin, 15-01-2001) yang saya kutip sebagai berikut:
“Salah satu contoh terbaik dari hal itu adalah peranan Alan Greenspan. Dirut Bank Federal AS ini sering dianggap sebagai manusia paling berkuasa di Washington DC. Presiden dan wakil-wakil rakyat di kongres bisa memainkan tarif pajak, mengirim tentara ke Kosovo, membatasi tindakan aborsi dan sebagainya. Namun, hanya Alan Greenspan yang berhak mengambil keputusan dalam menentukan kebijakan moneter.
Dengan menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga, dia bisa mengharu-birukan ekonomi AS, dalam hitungan detik. Uang adalah darahnya kapitalisme modern, dan tingkat suku bunga berfungsi sebagai katup yang menentukan seberapa banyak darah itu mengalir untuk memutar roda perekonomian..........Tidak heran, tokoh pertama yang dikunjungi George W Bush di Washington DC setelah ia dinyatakan sebagai pemenang Pemilu 2000 adalah Alan Greenspan, bukan Bill Clinton atau tokoh-tokoh politik lainnya.
Berbeda dengan posisi seorang presiden atau para politisi di Kongres, kekuasaan Greenspan tidak berdasarkan pada pilihan rakyat, Ia memang diangkat oleh presiden dan disetujui Senat, lembaga perwakilan negara bagian. Tetapi setelah itu, ia bebas melakukan apa pun. Dalam hal ini, ia bertindak sebagai seorang Platonic guardian, Sang Penjaga Kemaslahatan Bersama yang terpisah dan dipisahkan dari dinamika politik. Tanpa dipengaruhi suara dan desakan rakyat, ia mengelola elemen terpenting dari perekonomian Amerika hanya bertolak pada apa yang dianggapnya baik dan perlu....”
Saat ini, kasus dana aliran BI ke DPR dengan menyudutkan nama Burharnuddin Abdullah, the Best Central Bankers Award 2007 versi Global Magazine Award, sebagai tersangka sepertinya memiliki kaitan dengan bursa pemilihan Gubernur BI baru yang tinggal beberapa bulan lagi. Bagi KPK sendiri, ini merupakan pekerjaan yang high profile di mana mengusut orang nomor satu dalam otoritas moneter. Walaupun Burhanuddin menyatakan bahwa keputusan yang diambil BI adalah keputusan kolektif dalam Dewan Gubernur, namun tetap saja yang menyeruak ke ruang publik adalah dirinya secara personal.
Sepertinya, proses pemilihan Gubernur BI yang baru bagaimanapun juga harus melewati sebuah proses politik. Tapi, yakinkah bahwa kebijakan dan keputusan yang diambil Bank Indonesia akan independen ke depannya? Benarkah tidak akan ada kepentingan politik sama sekali di dalamnya?
Ingat, dalam politik, tidak ada yang gratis, “Saya bisa kasih kau, tapi kau bisa kasih apa?”
Sunday, February 3, 2008
Kredit Perbankan
Sebenarnya, saya sedang mencoba menjauh sebentar dari economics of love dan memberi ruang dalam kepala saya untuk ekonomi moneter. Deskripsi ini mungkin sedikit membuka alternatif pandangan terhadap permasalahan kredit perbankan di Indonesia. Sudah menjadi kesepakatan umum bahwa rendahnya penyaluran kredit perbankan diakibatkan sektor riil yang tersendat. Pernyataan ini mungkin benar tetapi tidak komprehensif.
Secara umum, struktur suku bunga kredit terdiri dari empat komponen berikut:
1. Cost of fund (suku bunga simpanan)
2. Biaya operasional (incl: monitoring cost)
3. Premi risiko
4. Margin pendapatan

A= suku bunga kredit investasi Bank Umum
B= suku bunga deposito 3-bulan Bank Umum
A-B= interest rate margin
Tabel di atas merepresentasikan suku bunga kredit yang semakin menurun namun penurunan suku bunga ini lebih rendah dari penurunan suku bunga deposito menyebabkan interest rate margin-nya semakin besar. Suku bunga kredit dalam hal ini lebih rigid perilakunya dibandingkan suku bunga deposito.
Lebih lanjut, komponen dari interest rate margin ini dalam struktur pembentukan suku bunga kredit adalah komponen 2, 3, dan 4. Yang harus menjadi pertanyaan adalah dari ketiga komponen ini komponen mana yang menyebabkan interest rate margin semakin besar apakah karena biaya operasional yang meningkat, risiko yang meningkat, atau margin pendapatan yang memang ingin ditingkatkan oleh perbankan.
Tahun 2006 dan 2007, menurut saya, tidak ada alasan kuat untuk merasionalisasi naiknya risiko kredit (sektor riil cukup stabil). Tidak ada alasan kuat juga bahwa biaya operasional meningkat (economies of scale donk harusnya) dan jikapun yang terjadi adalah kenaikan biaya maka dapat dikatakan perbankan nasional tidak efisien (jadi ada transfer ketidakefisienan ini ke debitor—lebih parah).
Jadi satu-satunya rasioning adalah perbankan meningkatkan margin pendapatan. Jika demikian, apakah bisa kita terima pernyataan oleh banyak bankers termasuk para chief economist-nya bahwa selama ini mereka bersedia menyalurkan kredit ke sektor riil dan menyalahkan sektor riil yang tidak mampu menyerap kredit tersebut.
Kredit yang tersendat (Q) tidak bisa dilepaskan dari permasalahan suku bunga (P). Penjual sepatu sangat bersedia menjual sepatu jika harga sepatu tinggi, begitu juga para bankers (kreditor) namun apakah debitor (sektor riil) akan tetap meminjam dengan suku bunga kredit yang tinggi itu.. (sebagian mungkin iya, karena sektor riil di Indonesia masih sangat bank-dependent i.e. inelastis, tetapi sebagian lagi tidak mampu)
Jadi pertanyaan berikutnya, mengapa bank dapat mempertahankan tingkat suku bunga kredit (meningkatkan margin)? Tidak lain tidak bukan disebabkan industri perbankan yang tidak kompetitif, bahkan sangat mungkin (kolusif ?) oligopoli.... dan parahnya lagi industri perbankan adalah industri dominan dalam sektor keuangan di Indonesia (perbankan tidak punya pesaing kompetitif dari sektor non-perbankan) dan lebih aneh lagi, adakah yang perduli?
Friday, February 1, 2008
Transportasi Baru di Jl. MH. Thamrin, Jakarta
[Kalo naik mobil sih namanya ”nekat”]
[Sarana transportasi baru pun akhirnya diluncurkan]
[Sebelum naik, antri dulu untuk beli tiket di loket]
[Menunggulah pada tempatnya..Seperti Bapak yang satu ini...]
[Kalo masih lapar, transportasi baru ini bisa mengantar Anda sampai depan Mc Donalds]
[Dan Busway pun mogok beroperasi..alias kalah pamor]
Nah ini dia kalo DKI Jakarta diserahkan pada "ahli"-nya.
Sama yang ahlinya aja, Jakarta jadi kayak begini, gimana yang bukan ahlinya?
Rehat Sejenak : Tebak-tebakan Ekonomi (Jakarta boleh tenggelam, namun Ghirah ekonomi tetap tinggi)
Jadi ceritanya begini:
Suatu ketika fulan mendapat tiket gratis untuk nonton Metallica yang tidak dapat dijual kembali. Di jam dan waktu yang sama, Guns n Roses mengadakan konser juga.
Konser GnR tersebut adalah satu-satunya aktifitas yang akan dilakukan fulan apabila tidak menonton konser Metallica. Jadi aktifitas-nya hanya dua, nonton Metallica atau Guns n Roses.
Menonton salah satu dari konser tersebut menghasilkan utilitas yang sama, atau dengan kata lain perfect subtitutes.
Tiket menonton GnR adalah $40, sedangkan willingness to pay fulan untuk konser GnR tersebut adalah $50.
Pertanyaannya:
Berapakah opportunity cost fulan apabila ia memutuskan untuk menonton konser Metallica:
a. $50
b. $40
c. $10
d. $ 0
Demikian. Mohon maaf ya bagi yang sudah membaca Buku itu, silahkan untuk membaca tulisan lain di-blog ini.
Aksi Porno atau Pikiran Porno?
Kalau tidak salah, sudah sekitar dua tahun wacana anti pornografi dan pornoaksi menyeruak di hadapan publik. Sejak timbulnya wacana tersebut, majalah-majalah pria Indonesia semakin mensopankan content-nya. Bila sebelumnya terdapat tren pose foto yang mendukung imajinasi bahwa model tampil polos – contohnya seperti cover film ‘Striptease’-nya Demi Moore, setelah itu trennya adalah sekedar baju ketekan.. tidak berbeda dengan gaya remaja sewaktu pergi ke restoran bersama ibunya, atau bahkan gaya ibunya sendiri. Tabloid-tabloid panas murahan yang biasanya mengambil gambar secara sembrono dari internet, atau yang tidak pernah absen menampilkan ukuran BH disamping gambar sang model – yang selalu tertulis ‘36B’, langsung hilang seketika.
Tulisan ini mungkin lebih terfokus pada pornoaksi, yang mungkin agak basi. Namun, tetap perlu dibahas karena masalah ini sebenarnya masih ada, biarpun tidak muncul ke permukaan. ‘pornoaksi’ adalah kelakuan yang tidak senonoh terkait dengan seks – ini definisi asal dari saya. Bertolak dari definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa batasan pornoaksi adalah sangat relatif. Bagi orang bule, ciuman membabi-buta di tempat umum bukanlah pornoaksi, namun di Timur Tengah sana, memicingkan mata pun mungkin sudah dapat dikatakan pornoaksi. Karena itu, di Indonesia yang mempunyai masyarakat yang sangat beraneka ragam, membuat batasan legal atas pornoaksi adalah hal yang hampir mustahil. Bila tidak percaya, silahkan buktikan dengan jalan-jalan di Jakarta dengan hanya menggunakan koteka.
Namun, secara aji mumpung, mereka yang berada pada mimbar politik sempat memanfaatkan momentum adanya wacana anti-pornoaksi. Banyak sekali bermunculan Perda yang terkait dengan masalah pornoaksi. Namun, implementasinya kemudian kelewat ngaco. Di suatu daerah di Indonesia, seorang ibu-ibu pegawai kantoran diciduk aparat karena berada di jalanan pada malam hari, pada saat ia menunggu bis untuk pulang ke rumah. Apakah aparat tersebut bertindak tanpa dasar hukum? Dalam Perda tersebut, dijelaskan definisi WTS kalau tidak salah adalah ”wanita yang berada di pinggir jalan pada malam hari”. Berarti aparat tersebut tidak bertindak tanpa dasar hukum. Edan.
Anehnya, wacana ini terlihat hanya menekan kaum perempuan. Secara tidak sadar, terjadi diskriminasi kepada perempuan, bahkan wanita disalahkan atas kesalahan yang dilakukan laki-laki. Sebagai ilustrasinya, artis yang sedang memakai pakaian yang memperlihatkan belahan dadanya sempat diarak ramai-ramai ke kantor polisi, karena mereka pikir wanita tersebut bersalah karena telah membuat mereka terangsang. Sebenarnya siapakah yang salah dan pantas ditindak polisi, apakah wanita tersebut telah melakukan pornoaksi, ataukah memang pikiran mereka lah yang porno?
Namun apa kabar dengan gigolo? Mereka masih bebas berkeliaran dengan tante girang. Hal absurd yang lain adalah banci-banci telah mendominasi dunia entertainment kita. Banci datang, pemirsa senang. Lebih parah lagi, saya sempat melihat tabloid anak-anak yang dibeli keponakan saya, disana terdapat poster full-page artis pria bertelanjang dada, namun hal ini tidak ada yang protes. Bila tren yang terjadi terus begini, mungkin sepuluh tahun ke depan Indonesia berubah dari negara burung garuda menjadi negara burung cucakrawa. Banyak bulune!
Contoh dalam kehidupan sehari-hari juga dapat kita temui. Baru sebentar wanita berpakaian modis berjalan kaki, pasti terdengar reaksi mas-mas yang tidak sopan seperti mereka memanggil kambing di kampungnya. Selain itu, berbagai opini lebih mendingan juga ada pada masyarakat ketika mereka melihat wanita berpakaian terbuka. Sebagian terlihat biasa-biasa saja, yang lain berkomentar , ”oh itu karena mode”, atau ”oh mungkin dia kepanasan”, sebagian melotot sampai menabrak dinding, sebagian latah, ”waduh, anonoh! (baca: tidak senonoh)”, bahkan ada sebagian ibu-ibu berbisik kepada anaknya, ”itu cewek nggak bener!”. Repotnya, kebebasan men-judgment semacam ini sudah melekat di masyarakat dan dianggap hal yang wajar. Bahkan hal ini terlihat di Televisi, dalam sinetron atau film-film ’horor’ berkedok religi, biasanya perempuan berhati mulia berpakaian tertutup, dan perempuan jahat berpakaian terbuka. Padahal dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu seperti itu, terkadang malah terjadi sebaliknya. Saya jadi ingat salah satu judul buku yang sempat menjadi best-seller, ’Whatever you think, think the opposite”.
Dengan demikian, Indonesia menjadi tempat yang tidak nyaman bagi kaum perempuan, namun hal ini tidak pernah dipersoalkan. Apa implikasinya? Wanita cantik banyak yang mengidap demam kekayaan, karena dengan begini mereka dapat menghindar dari mas-mas tersebut – contohnya dengan selalu menggunakan mobil pribadi, menyewa centeng, dll. Tentu saja hal ini membuat cinta laki-laki berpenghasilan pas-pasan kandas di tengah jalan karena pacarnya memilih oom-oom. ’Cinta itu buta’? Jelas sudah tidak valid. Dengan batasan pornoaksi yang tidak mungkin bisa disepakati semua pihak, dan dengan mendiskriminasikan ketentuan tersebut practically hanya kepada perempuan, saya rasa kita telah semakin membuat mereka tidak nyaman. Sekali lagi emansipasi wanita mendapatkan ancaman serius. Fenomena menyalahkan kaum perempuan ini, menurut saya, merupakan salah satu derivatif lain dari ’budaya menyalahkan orang lain’ yang telah dibahas pada posting saya sebelumnya.
Bila kelakuan wajar dari seorang wanita tetap telah melewati batas pornoaksi seseorang yang lugu, seharusnya yang dilakukan adalah menahan diri, bukan menahan wanita tersebut. Sepertinya, sejak SD kita sudah sampai muntah diajari tentang ’tenggang rasa’. Bukan tanpa alasan burung garuda gepeng memegang dengan erat semboyan ’Bhineka Tunggal Ika’. Terkait dengan hal ini, bila kita tidak ingin burung garuda tersebut terbang dan berubah seperti di film ’I am Legend’ menjadi burung cucakrawa, maka tentunya semboyan tersebut harus dipertahankan agar tidak patah, yakni dengan bertenggang rasa. Ini lah solusi yang tersimpel dan paling mak nyus. Perbedaan itu tidak bermasalah selama tidak ada yang menyakiti. Wanita tidak menyakiti anda dengan berpakaian terbuka (sepanjang nggak bau). Namun, andalah yang menyakitinya bila anda merespon dengan cara yang tidak sopan.

