Showing posts with label economic crisis. Show all posts
Showing posts with label economic crisis. Show all posts

Tuesday, August 30, 2011

Bener Gak Harga Emas pada Keseimbangan Baru?



APA BENAR HARGA EMAS SUDAH PADA KESEIMBANGAN BARU?

Itulah sebuah pertanyaan yang menjadi perhatian banyak investor. Grafik diatas, berasal dari sumber yang sama dengan sumber grafik di tulisan gaffar (dibawah). Pada dasarnya grafik itu membandingkan antara harga emas dan nasdaq financial. Kalo diperhatikan secara seksama, kedua kurva seperti saling bercermin satu sama lainnya semenjak Desember 2010. Apakah artinya?

Kemungkinan arti dari kondisi tersebut adalah "lari"nya modal dari pasar uang menuju ke emas. Yang kemungkinan besar diakibatkan oleh meningkatnya risiko menanam modal di pasar uang.

Apa hubungannya dengan keseimbangan harga emas?

Apabila risiko di pasar uang kembali menurun maka tidak tertutup kemungkinan harga emas akan kembali ke posisi semula. Yang artinya tidak ada keseimbangan baru untuk harga emas atau harga emas saat ini hanyalah bersifat sementara saja.

Apakah mungkin harga emas tetap meningkat tanpa dipengaruhi oleh membaiknya risiko di pasar uang? Iya bisa juga. Hal ini bisa terjadi apabila kredibilitas pemerintah dunia meningkat kembali... Apakah hal itu akan terjadi? Yes but don't know when..

Jadi, perlukah kita invest rame-rame di emas?

Jawabnya, just be yourself.. gak perlu terpengaruh oleh perilaku para pemilik modal yang lagi pada beli emas. Kalo memang lagi mau invest silakan aja... tapi gak perlu berpikir bahwa emas adalah pembuat kamu akan lebih kaya lagi... mungkin benar di jangka pendek tapi belum tentu di jangka panjang..


Akhir kata.. Selamat Idul Fitri bagi para pembaca semua. Mohon maaf lahir dan Bathin. Tingkatkan terus berpikir rasional dan pengetahuan ekonomi kita secara bersama-sama. Salam.

Friday, March 5, 2010

Pengangguran dan "Warteg"

Salah satu akibat dari krisis global belakangan ini adalah bertumbuhnya jumlah pengangguran di Indonesia. Lantas bagaimanakah hubungannya jumlah pengangguran dengan jumlah warung/kedai makanan yang suka disebut sebagai "warteg" oleh orang-orang jakarta?

Warteg memang merupakan bisnis relatif mudah untuk di"entry", dilain sisi, harga makanan di warteg sangat terjangkau, sehingga bila ada orang yang sedang mengalami masalah finansial, warteg bisa menjadi solusi untuk mengatasi rasa lapar di perut.

Berikut ini saya melakukan regresi cross-section jumlah pengangguran (dalam ribuan orang) ditiap propinsi terhadap jumlah warung/kedai makanan, dari data podes tahun 2008.



Dari hasil regresi ini maka bisa kita simpulkan bahwa untuk tiap penambahan seribu penganguran maka jumlah warteg yang bertambah adalah sekitar 69 atau 70 warung.

Akan tetapi memang perhitungan ini masih jauh dari kesempurnaan karena semestinya bisa lebih baik lagi kalau ada data time-seriesnya. silakan di komentari oleh kawan-kawan semua, terutama oleh teman-teman yang dulu pernah suka makan di warteg tapi kini gengsi kalo tidak makan di restoran, hehe..

Saturday, January 31, 2009

Obama dan Program Bail Out AS

Tepat sudah 10 hari semenjak Obama memegang tahta Amerika Serikat (AS), kini dia akan menjalankan program bail-out bagi perusahaan-perusahaan AS yang krusial bagi ekonomi namun tertekan oleh krisis.

Bicara program bail-out AS maka kita bicara jumlah uang sebesar 850 milyar dollar AS. Dari mana pemerintah AS akan peroleh dana sebesar itu? Kemungkinan dari penerbitan obligasi. 850 milyar dollar AS adalah setaraf 17 kali cadangan devisa Indonesia saat ini. Jadi, bila obligasi tersebut diterbitkan maka separah-parahnya AS akan menyedot habis 17 cadangan devisa negara seukuran Indonesia.

Apa akibatnya bila cadangan devisa tersedot habis menjadi nol? Singkat cerita, Indonesia mengalami cadangan devisa sama dengan nol adalah ketika krisis 97/98. Jadi bisa disimpulkan bahwa program bail-out AS separah-parahnya bisa membuat 17 negara seukuran Indonesia mengalami krisis ekonomi yang parah. Kita lihat saja nanti..

Wednesday, January 7, 2009

BI Rate Turun 50 point: Perlu Takut atau Tidak?

Baru-baru aja, Rapat Dewan Gubernur BI (RDG-BI) menetapkan BI rate untuk turun 50 basis point atau lebih mudah dimengerti sebagai 0,5 persen (bisa dilihat disini). Pertanyaannya adalah; ada apa dengan ekonomi negeri ini?

Sedikit mengintip samar-samar akan tahun yang sedang berjalan ini, tahun 2009 diperkirakan akan menjadi tahun perlambatan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena kredit yang melambat, perdagangan luar negeri menurun dan investasi mandek.

Kredit melambat karena pebisnis sulit untuk menjual produk-produknya, jadi bikin males buat meminjam.

Perdagangan luar negeri menurun karena total ekspor turun yang disebabkan oleh pembelinya berkurang, ekspor migas yang motor utama perdagangan juga menurun oleh karena nilai jual minyak sedang turun. Selain itu, usaha untuk menurunkan impor alhasil cuma akan melahirkan pasar gelap dan penyelundupan dimana-mana.

Investasi yang mandek, adalah karena pemerintah secara tidak sengaja memberi signal untuk menahan investasi kepada publik, itu karena pemerintah menunda banyak projek. Oleh karenanya pihak swasta dan asing tentunya juga ikut menahan.

Lalu, apa arti dari turunnya BI-rate sebanyak 50 basis point? BI mungkin bermaksud untuk menggairahkan kembali dunia bisnis melalui pemberian keringanan biaya meminjam dari bank karena BI-rate dah turun banyak. Tapi apa bisa efektif?? Apakah 3 "penyakit" bisa diobati oleh satu "obat"?

Kita tunggu saja hasilnya..

Tuesday, December 16, 2008

We are all Keynesians now

Artikel menarik dari Stiglitz....

"We are all Keynesians now. Even the right in the United States has joined the Keynesian camp with unbridled enthusiasm and on a scale that at one time would have been truly unimaginable....

...Keynes argued not only that markets are not self-correcting, but that in a severe downturn, monetary policy was likely to be ineffective. Fiscal policy was required...."


Read more here

"The world has not been kind to neo-liberalism, that grab-bag of ideas based on the fundamentalist notion that markets are self-correcting, allocate resources efficiently, and serve the public interest well..."


Read more here

Not Too Big Too Fail

Dari blognya mankiw...



Monday, December 15, 2008

Bilamana The FED Potong Bunga Hingga 0,5 Persen

Wacana untuk kembali menurunkan suku bunga the FED (bank sentral amerika) sudah nyaring berbunyi dimana-mana, bahkan target penurunan hingga 0.5 persen dah disebut-sebut oleh Mr.Ben (gubernur the FED). Lebih dari itu, Ben juga mengatakan ada peluang suku bunga the FED bisa turun hingga 0 persen atau bahkan level persen negatif.

Apa akibat dari penurunan suku bunga the FED tersebut pada ekonomi Indonesia?

Pada dasarnya kebijakan penurunan suku bunga adalah untuk menurunkan cost-of-borrowing dan meningkatkan jumlah uang beredar dalam perekonomian. Kedua-dua tujuan tadi adalah demi menggerakkan roda sektor riil. Tapi ternyata obligasi pemerintah AS yang bersuku bunga 0 persen pun masih laku terjual. Ini berarti tingkat resiko memegang uang di AS lebih tinggi daripada time-value of money yang hilang akibat inflasi. Secara sederhana, bisa kita katakan bahwa, orang amerika sudah kurang percaya memasukkan uangnya ke dalam bank lagi sehingga mencari tempat yang lebih aman selain di bank. Jadi apakah kebijakan penurunan suku bunga akan efektif pada kondisi time-value of money sudah mulai di-ignore???

Indonesia bila suku bunga di AS turun lagi menurut saya perlu hati-hati di sektor riil, mungkin dalam kondisi normal bila suku bunga AS turun maka Indonesia akan kebanjiran aliran modal dari luar negeri. Namun dalam situasi krisis seperti sekarang, hal itu menjadi unlikely. Kemungkinan terbesar adalah sektor riil menjadi makin sulit untuk cari sokongan dana dari luar negeri. Lebih-lebih berharap meningkat kembalinya ekspor Indonesia ke AS, saya rasa hal itu mustahil selama periode krisis ini.

Yang terbaik saat ini, bila mana suku bunga the FED turun adalah ikut menurunkan suku bunga dalam negeri sambi diiringi peningkatan financing dalam negeri untuk sektor-sektor ekonomi yang bersifat vital.

Akhir kata, banyak poin dalam tulisan ini yang bersifat pandangan pribadi, jadi mohon dikritisi. Terima kasih.

Thursday, December 4, 2008

Pertumbuhan Ekonomi Rendah, Waktunya Kembali Ke Kampus

Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diperkirakan dapat mencapai level terburuk hingga 4,5 persen. Website Kompas menerbitkan:

"Pertumbuhan ekonomi pada 2009 diperkirakan mencapai level terburuk di posisi 4,5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan target APBN 2009, yakni 6 persen.."

Kemudian, tingkat pengangguran menjadi meningkat:

"....Badan Pusat Statistik menyebutkan, pada 2008 setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi akan menambah 702.000 lapangan kerja baru. Dengan demikian, jika pertumbuhan turun dari 6 persen ke 4,5 persen, tenaga kerja yang tidak terserap bisa mencapai 1,053 juta orang..."

Saya menyimpulkan bahwa; satu, orang baru lulus kuliah akan lebih sulit cari kerja; dua, orang kerja sulit dapat order, dan ada kemungkinan kena lay-off; tiga, orang yang kena lay-off akan sulit mencari lapangan kerja baru; empat, memilih berwiraswasta di masa krisis kemungkinan akan lebih sulit untuk mendapat demand.

Untuk itu, saya mengusulkan tahun 2009 untuk menjadi tahun studi atau tahun kembali ke kampus. Lupakan dulu mencari profit, carilah ilmu bila ekonomi sedang sulit. Maka bila itu benar terjadi, tingkat pengangguran pasti menurun, dan ketika ekonomi dunia kembali "bergairah" manusia Indonesia sudah semakin berkualitas dari yang sebelumnya. Setujukah Anda?

Monday, October 27, 2008

Bersiap Untuk Yang Terburuk

Terlepas dari berbagai langkah pemerintah dan BI, menaikkan BI-rate atau menaikkan blanket guarantee menjadi 2M dan beberapa langkah lain mencegah capital outflow, nilai tukar Rupiah terus mengalami penurunan.

Hal ini bisa dijelaskan oleh 2 hal: Pertama, terkait sifat dari krisis. Krisis di AS menyebabkan terjadi kekurangan likuiditas di sana. Terkait dengan itu, sangat natural bila kemudian berbagai perusahaan, investor individu, atau lembaga keuangan menarik dana mereka yang ada di luar negeri untuk memenuhi kekeringan yang dialami. Akibatnya, terjadi capital outflow dari emerging market kembali ke induknya. Permintaan Dollar meningkat, mendorong penguatan Dollar terhadap mata uang lain. Dan ini terjadi terlepas dari faktor, misalkan tingkat suku bunga.

Kedua, langkah bail out, nasionalisasi, yang kemudian diikuti penjaminan sistem finansial di negara maju juga akan memainkan peran terhadap masalah capital outflow dari emerging market dan kemudian penurunan nilai tukar. Jika dalam kondisi biasa saja, aset di negara maju dianggap sebagai aset yang aman, langkah bail out dan penjaminan pemerintah semakin mempertegas posisi mereka sebagai aset yang aman. Jika ada aset aman, berarti ada aset yang beresiko. Dan aset beresiko adalah aset yang ada di emerging market. Sederhananya, di tengah kepanikan dan krisis, apa artinya jaminan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia dibanding dengan jaminan yang diberikan oleh pemerintah AS atau Inggris, misalnya. Akibatnya, terjadilah flight to quality (modal lari ke tempat yang dirasa lebih aman). Jika tadinya capital outflow terjadi karena pelarian modal terutama oleh investor AS, langkah melarikan modal juga akan diambil oleh investor negara lain, termasuk yang lebih mengkhawatirkan adalah investor domestik. Seperti banyak dibilang, "capital has no nationality".

Ini akan diperparah mengingat krisis yang ada juga berdampak pada ekspor-impor, yang menyebabkan defisit pada neraca perdagangan. Ekspor akan turun karena 3 hal: 1. efek langsung penurunan ekspor ke AS, dan efek tidak langsung penurunan ekonomi global berupa 2. Penurunan ekspor ke negara lain 3. Penurunan ekspor akibat penurunan harga komoditas. Defisit neraca perdagangan ini kemudian mendorong defisit pada neraca berjalan. Bila defisit ini tidak mampu dibiayai oleh surplus pada neraca modal (yang seperti dijelaskan di atas tidak mungkin terjadi), akan menyebabkan defisit pada neraca pembayaran. Defisit pada neraca pembayaran akan menyebabkan tergerusnya cadangan devisa dan penurunan lebih tajam dari nilai tukar.

Agak sedikit menyingkat cerita, ketika yang diatas terjadi, yakinlah ekonomi akan kolaps (dalam hal ini termasuk sektor riil). Permasalahannya, semua yang terjadi adalah faktor eksternal yang sulit dikendalikan oleh pemerintah. Kondisi yang ada membutuhkan koordinasi tingkat internasional untuk menjaga agar emerging market tidak kesulitan mendapatkan dana. Solusinya: IMF sebagai lender of the last resort. Cuma, tampaknya lembaga yang satu ini sudah di-black list di Indonesia. Sanggupkah kita menerima IMF kembali? Karena bila tidak, sepertinya kita harus bersiap untuk yang terburuk sedari sekarang.