Showing posts with label discrimination. Show all posts
Showing posts with label discrimination. Show all posts

Friday, February 1, 2008

Aksi Porno atau Pikiran Porno?

Kalau tidak salah, sudah sekitar dua tahun wacana anti pornografi dan pornoaksi menyeruak di hadapan publik. Sejak timbulnya wacana tersebut, majalah-majalah pria Indonesia semakin mensopankan content-nya. Bila sebelumnya terdapat tren pose foto yang mendukung imajinasi bahwa model tampil polos – contohnya seperti cover film ‘Striptease’-nya Demi Moore, setelah itu trennya adalah sekedar baju ketekan.. tidak berbeda dengan gaya remaja sewaktu pergi ke restoran bersama ibunya, atau bahkan gaya ibunya sendiri. Tabloid-tabloid panas murahan yang biasanya mengambil gambar secara sembrono dari internet, atau yang tidak pernah absen menampilkan ukuran BH disamping gambar sang model – yang selalu tertulis ‘36B’, langsung hilang seketika.

Tulisan ini mungkin lebih terfokus pada pornoaksi, yang mungkin agak basi. Namun, tetap perlu dibahas karena masalah ini sebenarnya masih ada, biarpun tidak muncul ke permukaan. ‘pornoaksi’ adalah kelakuan yang tidak senonoh terkait dengan seks – ini definisi asal dari saya. Bertolak dari definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa batasan pornoaksi adalah sangat relatif. Bagi orang bule, ciuman membabi-buta di tempat umum bukanlah pornoaksi, namun di Timur Tengah sana, memicingkan mata pun mungkin sudah dapat dikatakan pornoaksi. Karena itu, di Indonesia yang mempunyai masyarakat yang sangat beraneka ragam, membuat batasan legal atas pornoaksi adalah hal yang hampir mustahil. Bila tidak percaya, silahkan buktikan dengan jalan-jalan di Jakarta dengan hanya menggunakan koteka.

Namun, secara aji mumpung, mereka yang berada pada mimbar politik sempat memanfaatkan momentum adanya wacana anti-pornoaksi. Banyak sekali bermunculan Perda yang terkait dengan masalah pornoaksi. Namun, implementasinya kemudian kelewat ngaco. Di suatu daerah di Indonesia, seorang ibu-ibu pegawai kantoran diciduk aparat karena berada di jalanan pada malam hari, pada saat ia menunggu bis untuk pulang ke rumah. Apakah aparat tersebut bertindak tanpa dasar hukum? Dalam Perda tersebut, dijelaskan definisi WTS kalau tidak salah adalah ”wanita yang berada di pinggir jalan pada malam hari”. Berarti aparat tersebut tidak bertindak tanpa dasar hukum. Edan.

Anehnya, wacana ini terlihat hanya menekan kaum perempuan. Secara tidak sadar, terjadi diskriminasi kepada perempuan, bahkan wanita disalahkan atas kesalahan yang dilakukan laki-laki. Sebagai ilustrasinya, artis yang sedang memakai pakaian yang memperlihatkan belahan dadanya sempat diarak ramai-ramai ke kantor polisi, karena mereka pikir wanita tersebut bersalah karena telah membuat mereka terangsang. Sebenarnya siapakah yang salah dan pantas ditindak polisi, apakah wanita tersebut telah melakukan pornoaksi, ataukah memang pikiran mereka lah yang porno?

Namun apa kabar dengan gigolo? Mereka masih bebas berkeliaran dengan tante girang. Hal absurd yang lain adalah banci-banci telah mendominasi dunia entertainment kita. Banci datang, pemirsa senang. Lebih parah lagi, saya sempat melihat tabloid anak-anak yang dibeli keponakan saya, disana terdapat poster full-page artis pria bertelanjang dada, namun hal ini tidak ada yang protes. Bila tren yang terjadi terus begini, mungkin sepuluh tahun ke depan Indonesia berubah dari negara burung garuda menjadi negara burung cucakrawa. Banyak bulune!

Contoh dalam kehidupan sehari-hari juga dapat kita temui. Baru sebentar wanita berpakaian modis berjalan kaki, pasti terdengar reaksi mas-mas yang tidak sopan seperti mereka memanggil kambing di kampungnya. Selain itu, berbagai opini lebih mendingan juga ada pada masyarakat ketika mereka melihat wanita berpakaian terbuka. Sebagian terlihat biasa-biasa saja, yang lain berkomentar , ”oh itu karena mode”, atau ”oh mungkin dia kepanasan”, sebagian melotot sampai menabrak dinding, sebagian latah, ”waduh, anonoh! (baca: tidak senonoh)”, bahkan ada sebagian ibu-ibu berbisik kepada anaknya, ”itu cewek nggak bener!”. Repotnya, kebebasan men-judgment semacam ini sudah melekat di masyarakat dan dianggap hal yang wajar. Bahkan hal ini terlihat di Televisi, dalam sinetron atau film-film ’horor’ berkedok religi, biasanya perempuan berhati mulia berpakaian tertutup, dan perempuan jahat berpakaian terbuka. Padahal dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu seperti itu, terkadang malah terjadi sebaliknya. Saya jadi ingat salah satu judul buku yang sempat menjadi best-seller, ’Whatever you think, think the opposite”.

Dengan demikian, Indonesia menjadi tempat yang tidak nyaman bagi kaum perempuan, namun hal ini tidak pernah dipersoalkan. Apa implikasinya? Wanita cantik banyak yang mengidap demam kekayaan, karena dengan begini mereka dapat menghindar dari mas-mas tersebut – contohnya dengan selalu menggunakan mobil pribadi, menyewa centeng, dll. Tentu saja hal ini membuat cinta laki-laki berpenghasilan pas-pasan kandas di tengah jalan karena pacarnya memilih oom-oom. ’Cinta itu buta’? Jelas sudah tidak valid. Dengan batasan pornoaksi yang tidak mungkin bisa disepakati semua pihak, dan dengan mendiskriminasikan ketentuan tersebut practically hanya kepada perempuan, saya rasa kita telah semakin membuat mereka tidak nyaman. Sekali lagi emansipasi wanita mendapatkan ancaman serius. Fenomena menyalahkan kaum perempuan ini, menurut saya, merupakan salah satu derivatif lain dari ’budaya menyalahkan orang lain’ yang telah dibahas pada posting saya sebelumnya.

Bila kelakuan wajar dari seorang wanita tetap telah melewati batas pornoaksi seseorang yang lugu, seharusnya yang dilakukan adalah menahan diri, bukan menahan wanita tersebut. Sepertinya, sejak SD kita sudah sampai muntah diajari tentang ’tenggang rasa’. Bukan tanpa alasan burung garuda gepeng memegang dengan erat semboyan ’Bhineka Tunggal Ika’. Terkait dengan hal ini, bila kita tidak ingin burung garuda tersebut terbang dan berubah seperti di film ’I am Legend’ menjadi burung cucakrawa, maka tentunya semboyan tersebut harus dipertahankan agar tidak patah, yakni dengan bertenggang rasa. Ini lah solusi yang tersimpel dan paling mak nyus. Perbedaan itu tidak bermasalah selama tidak ada yang menyakiti. Wanita tidak menyakiti anda dengan berpakaian terbuka (sepanjang nggak bau). Namun, andalah yang menyakitinya bila anda merespon dengan cara yang tidak sopan.