Barusan saya menemani teman saya untuk window shopping mencari sebuah dompet untuk ibunya. Kami berjalan menyusuri pertokoan di dalam pasific place mall. Lalu singkat cerita sampailah kami di depan toko Louis Vuitton. Teman saya melihat ada berderet produk-produk yang kualitasnya baik. Langsung kami masuk dan menanyakan harganya. Ternyata untuk sebuah dompet perempuan, harga termurah adalah sekitar 3 juta, dan untuk tas perempuan minimal 8 juta. Kami tidak kaget untuk harga tersebut karena LV adalah produk kelas atas yang mengutamakan kesempurnaan.
Namun, pikiran kami malah bergerak ke arah, apakah teman-teman dari ibu teman saya itu akan percaya bahwa ibunya itu memiliki LV yang asli. Secara LV sudah banyak barang bajakannya saat ini. Tidak mungkin dong kwitansi pembayaran ditempel menggantung terus di dompet yang akan dibeli itu.
Hal ini mengingatkan saya pada sebuah teori ekonomi yang dikenal sebagai teori signaling. Signaling dalam kasus ini menurut saya seperti ini, apabila ada ibu pejabat menggunakan dompet LV palsu pasti orang akan lebih percaya bahwa itu LV asli, sedangkan bila ada ibu rumah tangga biasa menggunakan LV asli pasti orang-orang akan meragukan keaslian dari LV yang dimilikinya.
Jadi, dari sini saya berkesimpulan bahwa sebaiknya untuk merk-merk kelas atas seperti LV mungkin ada baiknya untuk men-double atau bahkan triple-kan harganya, agar konsumennya benar-benar kelas atas, sebab orang-orang pada kelas margin antara atas dan menengah kurang bisa dihargai sebagaimana seharusnya bila mereka membeli produk kelas atas.
Mengerti maksud saya?
Showing posts with label Economic Thought. Show all posts
Showing posts with label Economic Thought. Show all posts
Monday, October 19, 2009
Saturday, August 22, 2009
Harga Tiket Pesawat Berbentuk Kurva U Terbalik
Saya diawal bulan kemarin baru melakukan sebuah perjalanan menggunakan pesawat, perjalanannya cukup jauh, melintasi lautan bahkan samudera.
Sebulan sebelum saya berangkat, saya diberitahu untuk booking tiket secepatnya agar dapat harga lebih murah. Ketika itu harga tiketnya sekitar $800an untuk sebuah perjalanan pulang-pergi (return).
Kira-kira seminggu setelah itu, saya pergi ke sebuah outlet maskapai penerbangan untuk membooking tiket untuk perjalanan saya tersebut karena seminggu sebelumnya saya tidak sempat untuk melakukan itu. Lalu teller disana mengatakan bahwa, harga tiket return ke tempat tujuan saya itu senilai $1106,4. (kalo tidak salah inget).
Jelas saya terperanjak mendengar harganya yang mahal banget, sebab saya tau kisaran harga normalnya dan harga itu sudah naik sekitar $ 200 dari harga seminggu sebelumnya. Teller itu bilang bahwa penerbangan menjadi penuh oleh karena kasus bom marriot-ritz carlton kemarin. Sehingga ada exodus wisman dari Indonesia. Jadi pesawat-pesawat almost fully booked.
Tetapi, sungguh aneh karena berita di televisi mengatakan bahwa turis-turis Bali tidak banyak terpengaruh oleh kasus tersebut, dan mereka juga tidak lantas pada pulang kembali ke negaranya. Kalo benar ada exodus, mestinya turis di Bali juga ikut exodus.
Tidak habis akal, demi mendapat harga tiket yang lebih normal, maka saya jambangi sebuah travel agent kenamaan di bilangan pasar festival, kira-kira 2 hari setelah kunjungan saya ke outlet maskapai tadi. Lalu travel agent itu bilang bahwa untuk penerbangan yang sama, harga tiket pesawat adalah $ 910. Dalam hati jadi merasa aneh, kok harganya turun lumayan besar?
Lalu, saya jadi berpikir apa mungkin harga tiket ini akan turun lagi? Sambil membayangkan sebuah pola harga tiket pesawat berbentuk kurva U terbalik (seperti kurva kuznet) dimana harga tiket pesawat pertama-tama akan naik dulu ketika mendekati hari H keberangkatan, lalu kemudian kembali menurun pada waktu sangat dekat dengan hari keberangkatan.
Meski merasa was-was takut gak kedapatan tiket, saya beranikan diri untuk mempercayai pola tersebut. Dan akhirnya benar sodara-sodara, pada waktu kira-kira 3 hari sebelum keberangkatan saja mendapatkan kembali tiket pesawat seharga kurang lebih sama dengan harga sebulan lalu, yaitu pada harga $840.
Saya bersintesa, bahwa pada awalnya, calon penumpang pesawat pada buru-buru booking tiket, meski bisa jadi mereka mem-booking tiket di lebih dari satu maskapai guna men-secure tiket yang terbaik dilihat dari kombinasi harga dan kualitas penerbangan. Lalu, mendekat hari keberangkatan tentu mereka hanya memilih salah satunya saja. Oleh karena itulah saya akhirnya dapat tiket yang saya inginkan dengan harga yang saya inginkan. Karena ada calon penumpang yang telah melepas booking tiketnya.
Jadi, secara umum saya berkesimpulan bahwa harga tiket pesawat berbentuk kurva U terbalik. Sepakat kah Anda? (semoga bisa sekaligus menjawab pertanyaan di comment Chaikal juga)
Sebulan sebelum saya berangkat, saya diberitahu untuk booking tiket secepatnya agar dapat harga lebih murah. Ketika itu harga tiketnya sekitar $800an untuk sebuah perjalanan pulang-pergi (return).
Kira-kira seminggu setelah itu, saya pergi ke sebuah outlet maskapai penerbangan untuk membooking tiket untuk perjalanan saya tersebut karena seminggu sebelumnya saya tidak sempat untuk melakukan itu. Lalu teller disana mengatakan bahwa, harga tiket return ke tempat tujuan saya itu senilai $1106,4. (kalo tidak salah inget).
Jelas saya terperanjak mendengar harganya yang mahal banget, sebab saya tau kisaran harga normalnya dan harga itu sudah naik sekitar $ 200 dari harga seminggu sebelumnya. Teller itu bilang bahwa penerbangan menjadi penuh oleh karena kasus bom marriot-ritz carlton kemarin. Sehingga ada exodus wisman dari Indonesia. Jadi pesawat-pesawat almost fully booked.
Tetapi, sungguh aneh karena berita di televisi mengatakan bahwa turis-turis Bali tidak banyak terpengaruh oleh kasus tersebut, dan mereka juga tidak lantas pada pulang kembali ke negaranya. Kalo benar ada exodus, mestinya turis di Bali juga ikut exodus.
Tidak habis akal, demi mendapat harga tiket yang lebih normal, maka saya jambangi sebuah travel agent kenamaan di bilangan pasar festival, kira-kira 2 hari setelah kunjungan saya ke outlet maskapai tadi. Lalu travel agent itu bilang bahwa untuk penerbangan yang sama, harga tiket pesawat adalah $ 910. Dalam hati jadi merasa aneh, kok harganya turun lumayan besar?
Lalu, saya jadi berpikir apa mungkin harga tiket ini akan turun lagi? Sambil membayangkan sebuah pola harga tiket pesawat berbentuk kurva U terbalik (seperti kurva kuznet) dimana harga tiket pesawat pertama-tama akan naik dulu ketika mendekati hari H keberangkatan, lalu kemudian kembali menurun pada waktu sangat dekat dengan hari keberangkatan.
Meski merasa was-was takut gak kedapatan tiket, saya beranikan diri untuk mempercayai pola tersebut. Dan akhirnya benar sodara-sodara, pada waktu kira-kira 3 hari sebelum keberangkatan saja mendapatkan kembali tiket pesawat seharga kurang lebih sama dengan harga sebulan lalu, yaitu pada harga $840.
Saya bersintesa, bahwa pada awalnya, calon penumpang pesawat pada buru-buru booking tiket, meski bisa jadi mereka mem-booking tiket di lebih dari satu maskapai guna men-secure tiket yang terbaik dilihat dari kombinasi harga dan kualitas penerbangan. Lalu, mendekat hari keberangkatan tentu mereka hanya memilih salah satunya saja. Oleh karena itulah saya akhirnya dapat tiket yang saya inginkan dengan harga yang saya inginkan. Karena ada calon penumpang yang telah melepas booking tiketnya.
Jadi, secara umum saya berkesimpulan bahwa harga tiket pesawat berbentuk kurva U terbalik. Sepakat kah Anda? (semoga bisa sekaligus menjawab pertanyaan di comment Chaikal juga)
Thursday, July 2, 2009
Netbooks: Selanjutnya Apalagi?
Dahulu saya ingat, untuk memiliki laptop dengan layar kecil sedikitnya kita harus merogoh kocek dikisaran 20jutaan. Fujitsu dan Sony Vaio adalah leading producernya. Namun setelah hadirnya intel atom yang menggunakan IC chip berukuran 45nm (dahulu biasanya 60nm) semua perusahaan komputer tiba-tiba berlomba-lomba untuk menciptakan laptop layar kecil, ringan, low electricity dan cukup kuat untuk performa standar khususnya kebutuhan kerja dan bermain internet, serta yang jelas harganya MURAH, hanya sekitar 5jutaan. Laptop jenis ini kemudian dikenal sebagai netbooks. Namun sayangnya laptop ini gak ada CD/DVD ROM/Burnernya.
Pertanyaan saya saat ini adalah, jenis komputer macam apalagi yang merupakan kebutuhan publik setelah netbook?
Untuk membuat tulisan ini rada berbau ekonomi maka saya mau perkenalkan anda pada sebuah model permintaan laptop: Jika Y adalah jumlah permintaan laptop maka;
Y=f(harga,kemampuan processor laptop,berat laptop,garansi service, ukuran layar, warna body laptop, lama baterai laptop, ketersediaan CD/DVD ROM)
Harga sudah jelas lebih murah lebih baik, meski murah yang terlalu murah bisa jadi quality reduction. Kemampuan processor pastinya adalah semakin kuat dan cerdas maka akan semakin menarik minat pembeli, namun harus jadi pertimbangan bahwa sebuah processor semakin cerdas biasanya semakin butuh listrik besar. Berat Laptop, tentu semua maunya yang ringan. Garansi service semakin lama pastinya semakin diminati tapi sayangnya hal ini berkorelasi erat dengan harga. Ukuran layar, variabel ini benar2 ambigu apakah makin kecil makin diminati atau sebaliknya, dahulu orang cenderung mencari layar kecil karena akan meningkatkan gengsi, sebab semua laptop layar kecil pasti harga mahal, sedangkan sekarang hal itu menjadi tidak saklek lagi. Warna merupakan serentetan variabel dummy dari warna-warna, kemungkinan nilai koefisien terbesar adalah di warna hitam dan putih, tetapi tidak menutup kemungkinan ada warna lain yang bisa berefek besar seiring dengan perjalanan waktu, misalkan pink yang sangat digemari kaum perempuan. Lama baterai, kalo untuk variable ini jelas semakin lama semakin digemari, namun sayangnya berkorelasi positif dengan harga lagi. Terakhir, ketersediaan CD/DVD rom, ini adalah variable dummy, namun nilai koefisiennya semakin mengecil semenjak orang kini lebih senang menggunakan flashdisk dan virtual memory.
Lalu dari model itu saya simpulkan bahwa harga yang berkorelasi dengan kemampuan processor, garansi service, lama baterai dan ketersediaan CD/DVD. Sehingga keempat variabel ini bisa besar kemungkinan untuk menciptakan multikolinearity sehingga sebaiknya dibuang saja. Alhasil kita akan temukan sebuah model permintaan yang hanya dipengaruhi oleh harga, berat laptop, ukuran layar, dan warna laptop.
Klo saya teman karib bill gates, kemungkinan saya akan bilang dia untuk ciptakan sebuah laptop yang harga murah, layar besar, ringan dan warnanya bisa disesuaikan ketika akan dibeli. Mengapa saya bilang itu kebutuhan laptop yang berikutnya adalah karena layar kecil ternyata sudah ada yang murah dan ringan, mungkin sekarang saatnya layar besar murah dan ringan. Tetapi jangan lupa bahwa warna laptop harus tersedia untuk segala warna yang dikehendaki oleh pembeli. Hal yang terakhir ini sangat jarang sekali dipenuhi oleh produsen. Saya cukup yakin mengapa laptop warna hitam sangat laku adalah karena supply creates its own demand, bukan karena demand creates supply. Jadi Bill, maukah anda terima saran saya?
Pertanyaan saya saat ini adalah, jenis komputer macam apalagi yang merupakan kebutuhan publik setelah netbook?
Untuk membuat tulisan ini rada berbau ekonomi maka saya mau perkenalkan anda pada sebuah model permintaan laptop: Jika Y adalah jumlah permintaan laptop maka;
Y=f(harga,kemampuan processor laptop,berat laptop,garansi service, ukuran layar, warna body laptop, lama baterai laptop, ketersediaan CD/DVD ROM)
Harga sudah jelas lebih murah lebih baik, meski murah yang terlalu murah bisa jadi quality reduction. Kemampuan processor pastinya adalah semakin kuat dan cerdas maka akan semakin menarik minat pembeli, namun harus jadi pertimbangan bahwa sebuah processor semakin cerdas biasanya semakin butuh listrik besar. Berat Laptop, tentu semua maunya yang ringan. Garansi service semakin lama pastinya semakin diminati tapi sayangnya hal ini berkorelasi erat dengan harga. Ukuran layar, variabel ini benar2 ambigu apakah makin kecil makin diminati atau sebaliknya, dahulu orang cenderung mencari layar kecil karena akan meningkatkan gengsi, sebab semua laptop layar kecil pasti harga mahal, sedangkan sekarang hal itu menjadi tidak saklek lagi. Warna merupakan serentetan variabel dummy dari warna-warna, kemungkinan nilai koefisien terbesar adalah di warna hitam dan putih, tetapi tidak menutup kemungkinan ada warna lain yang bisa berefek besar seiring dengan perjalanan waktu, misalkan pink yang sangat digemari kaum perempuan. Lama baterai, kalo untuk variable ini jelas semakin lama semakin digemari, namun sayangnya berkorelasi positif dengan harga lagi. Terakhir, ketersediaan CD/DVD rom, ini adalah variable dummy, namun nilai koefisiennya semakin mengecil semenjak orang kini lebih senang menggunakan flashdisk dan virtual memory.
Lalu dari model itu saya simpulkan bahwa harga yang berkorelasi dengan kemampuan processor, garansi service, lama baterai dan ketersediaan CD/DVD. Sehingga keempat variabel ini bisa besar kemungkinan untuk menciptakan multikolinearity sehingga sebaiknya dibuang saja. Alhasil kita akan temukan sebuah model permintaan yang hanya dipengaruhi oleh harga, berat laptop, ukuran layar, dan warna laptop.
Klo saya teman karib bill gates, kemungkinan saya akan bilang dia untuk ciptakan sebuah laptop yang harga murah, layar besar, ringan dan warnanya bisa disesuaikan ketika akan dibeli. Mengapa saya bilang itu kebutuhan laptop yang berikutnya adalah karena layar kecil ternyata sudah ada yang murah dan ringan, mungkin sekarang saatnya layar besar murah dan ringan. Tetapi jangan lupa bahwa warna laptop harus tersedia untuk segala warna yang dikehendaki oleh pembeli. Hal yang terakhir ini sangat jarang sekali dipenuhi oleh produsen. Saya cukup yakin mengapa laptop warna hitam sangat laku adalah karena supply creates its own demand, bukan karena demand creates supply. Jadi Bill, maukah anda terima saran saya?
Tuesday, June 30, 2009
Penumpang Kelas Ekonomi mensubsidi kelas-kelas diatasnya
Minggu lalu saya naik sebuah pesawat yang memiliki kelas satu (first class), kelas bisnis (business class) dan kelas ekonomi (economy class). Saya berada di kelas ekonomi. Jumlah penumpang ekonomi umumnya lebih banyak dari pada penumpang kelas diatasnya. Lalu hal ini membuat saya bertanya-tanya, siapakah yang diuntungkan dalam situasi ini?
Secara logika umum, penumpang kelas satu dan bisnis adalah yang mensubsidi kelas ekonomi karena mereka membayar lebih mahal. Namun secara akumulasi nilai uang, maka adalah kelas ekonomi yang membiayai kelas diatasnya. Berikut adalah logikanya:
Total pendapatan dari sebuah pesawat tentu adalah dari kelas ekonomi yang terbesar, oleh karena itu pembiayaan investasi pesawat tersebut utamanya adalah dari penumpang ekonomi. Jadi bila kita asumsikan bahwa pesawat tersebut dibeli dengan hutang bank, maka adalah penumpang ekonomi yang paling banyak membayar hutang tersebut. Oleh karena itu kita bisa simpulkan adalah bahwa penumpang ekonomi yang secara tidak langsung men"subsidi" penumpang kelas diatasnya. Atau dengan kata lain, orang lebih miskin mensubsidi orang lebih kaya. hehehe...
Setuju kah Anda?
Secara logika umum, penumpang kelas satu dan bisnis adalah yang mensubsidi kelas ekonomi karena mereka membayar lebih mahal. Namun secara akumulasi nilai uang, maka adalah kelas ekonomi yang membiayai kelas diatasnya. Berikut adalah logikanya:
Total pendapatan dari sebuah pesawat tentu adalah dari kelas ekonomi yang terbesar, oleh karena itu pembiayaan investasi pesawat tersebut utamanya adalah dari penumpang ekonomi. Jadi bila kita asumsikan bahwa pesawat tersebut dibeli dengan hutang bank, maka adalah penumpang ekonomi yang paling banyak membayar hutang tersebut. Oleh karena itu kita bisa simpulkan adalah bahwa penumpang ekonomi yang secara tidak langsung men"subsidi" penumpang kelas diatasnya. Atau dengan kata lain, orang lebih miskin mensubsidi orang lebih kaya. hehehe...
Setuju kah Anda?
Tuesday, December 16, 2008
We are all Keynesians now
Artikel menarik dari Stiglitz....
Read more here
Read more here
"We are all Keynesians now. Even the right in the United States has joined the Keynesian camp with unbridled enthusiasm and on a scale that at one time would have been truly unimaginable....
...Keynes argued not only that markets are not self-correcting, but that in a severe downturn, monetary policy was likely to be ineffective. Fiscal policy was required...."
Read more here
"The world has not been kind to neo-liberalism, that grab-bag of ideas based on the fundamentalist notion that markets are self-correcting, allocate resources efficiently, and serve the public interest well..."
Read more here
Sunday, December 7, 2008
Pragmatisme Ideologi Ekonomi
Krisis keuangan global yang terjadi bermula dari krisis kredit perumahan di Amerika Serikat, seakan pendulum ideologi ekonomi dunia kembali bergerak. Terkadang mengherankan untuk negara-negara maju yang mungkin mengusung liberalisme dalam ekonomi, dalam artian mengurangi intervensi pemerintah dalam ekonomi, dikarenakan campur tangan pemerintah adalah penyakit yang mengakibatkan keseimbangan pasar menjadi tidak efisien, seakan-akan semuanya menjadi tergoyahkan.
Hari-hari ini kita, menyaksikan betapa lembaga keuangan swasta berkelas dunia berteriak mengaharapkan bailout. Sekitar 700miliar USD telah dikeluarkan oleh Pemerintah AS untuk mengurangi dampak krisis ini yang semakin dalam. Begitupula di sebagian besar negara-negara Eropa.
Hari-hari ini kita kembali tertegun, bahkan merenungkan kembali apa yang pernah diusung oleh Adam Smith ataupun Friedrich Hayek. Seharusnya, keseimbangan pasarlah yang menentukan siapa yang pantas bertahan dalam pasar itu sendiri. Okelah dengan alasan mencegah snowball effect yang terlalu dalam dari krisis ini sebagai alasan melakukan bailout dan campur tangan pemerintah. Kalo demikian, buat apalagi ada keseimbangan pasar? Toh, yang sudah tak pantas bertahan masih dipertahankan!
Hari-hari ini mungkin kita kembali melihat Keynes tersenyum, atau bahkan sedang tertawa terbahak-bahak, di mana peran pemerintah kembali dielu-elukan untuk memperbaiki kegagalan pasar. Mungkin itulah siklus pargmatisme ideologi ekonomi dunia, yang selalu bergerak ke mana arah yang lebih menguntungkan.
Ibaratnya, ketika pasar berjalan dan menghasilkan keuntungan yang besar pada pelaku-pelakunya, semua berteriak butuh liberalisme ekonomi yang mengurangi sedikit peran pemerintah dalam pasar, bahkan seakan-akan semua menjadi penganut ekonomi liberal paling konservatif di dunia ini.
Namun ketika pasar berjalan tidak seperti yang diharapkan dan kerugian material secara signifikan dihadapi oleh para pelakunya, maka semua berteriak meminta campur tangan pemerintah untuk terselamatkan dari krisis yang semakin parah. Seolah-olah semua adalah pengikut aliran Keynesian paling ekstrim di dunia ini.
Lalu, mau apa sebenarnya ideologi ekonomi dunia ini????
Hari-hari ini kita, menyaksikan betapa lembaga keuangan swasta berkelas dunia berteriak mengaharapkan bailout. Sekitar 700miliar USD telah dikeluarkan oleh Pemerintah AS untuk mengurangi dampak krisis ini yang semakin dalam. Begitupula di sebagian besar negara-negara Eropa.
Hari-hari ini kita kembali tertegun, bahkan merenungkan kembali apa yang pernah diusung oleh Adam Smith ataupun Friedrich Hayek. Seharusnya, keseimbangan pasarlah yang menentukan siapa yang pantas bertahan dalam pasar itu sendiri. Okelah dengan alasan mencegah snowball effect yang terlalu dalam dari krisis ini sebagai alasan melakukan bailout dan campur tangan pemerintah. Kalo demikian, buat apalagi ada keseimbangan pasar? Toh, yang sudah tak pantas bertahan masih dipertahankan!
Hari-hari ini mungkin kita kembali melihat Keynes tersenyum, atau bahkan sedang tertawa terbahak-bahak, di mana peran pemerintah kembali dielu-elukan untuk memperbaiki kegagalan pasar. Mungkin itulah siklus pargmatisme ideologi ekonomi dunia, yang selalu bergerak ke mana arah yang lebih menguntungkan.
Ibaratnya, ketika pasar berjalan dan menghasilkan keuntungan yang besar pada pelaku-pelakunya, semua berteriak butuh liberalisme ekonomi yang mengurangi sedikit peran pemerintah dalam pasar, bahkan seakan-akan semua menjadi penganut ekonomi liberal paling konservatif di dunia ini.
Namun ketika pasar berjalan tidak seperti yang diharapkan dan kerugian material secara signifikan dihadapi oleh para pelakunya, maka semua berteriak meminta campur tangan pemerintah untuk terselamatkan dari krisis yang semakin parah. Seolah-olah semua adalah pengikut aliran Keynesian paling ekstrim di dunia ini.
Lalu, mau apa sebenarnya ideologi ekonomi dunia ini????
Friday, December 5, 2008
Mengapa Manusia Cantik Disuruh Bertemu Orang Sakit?
Setiap tahun hampir di seluruh negara di bumi ini melakukan kontes ratu kecantikan, lalu pemenang di tiap-tiap negara diadu dalam kontes ratu kecantikan sejagat. Ritual ini dilakukan secara rutin setiap tahunnya. Yang menarik dari ritual ini adalah dimana para pemenang kontes akan dibebani tugas-tugas kemanusiaan yang seperti mengunjungi orang-orang sakit dan kekurangan di berbagai pelosok negeri dan bumi.
Sudah umum untuk membahas siapa pemenang kontes dan sebagaimana cantik pemenangnya tersebut. Tapi pernahkah Anda bertanya sebenarnya apa logika dibalik kegiatan kemanusiaan mengunjungi orang-orang sakit?
Misalkan Anda adalah seorang ratu kecantikan namun tidak dibebani tugas untuk mengunjungi orang sakit, apakah Anda akan mengunjungi orang-orang sakit itu? Bila iya, misi apa yang Anda emban pada kegiatan Anda tersebut? Bila memang Anda datang untuk memberi semangat bagi yang sakit, apakah semangat yang Anda suntikan adalah sebuah semangat yang tepat??
Bilasanya ada seorang dokter yang sangat cantik dan pintar mengobati pasien. Lalu setiap hari yang dilakukannya adalah mengobati orang sakit. Apakah situasi tersebut akan membuat jumlah pasiennya semakin sedikit? Ataukah jumlah pasiennya makin bertambah karena orang sakit dari tempat lain akan cenderung datang ke dia, lalu orang yang semestinya sudah sembuh akan cenderung berpura-pura sakit atau sengaja sakit demi bertemu sang dokter. Benarkah itu??
Yang saya pikir, mungkin sebaiknya duta kesehatan semacam ini diberikan kepada para olahragawan ternama seperti seorang pemain sepakbola. Sebab dengan demikian semangat yang ditumpuk kepada para pasien adalah semangat untuk bisa berolahraga bersama sang olahragawan, yang notabene seseorang mesti sehat bugar untuk berolahraga.
Sudah umum untuk membahas siapa pemenang kontes dan sebagaimana cantik pemenangnya tersebut. Tapi pernahkah Anda bertanya sebenarnya apa logika dibalik kegiatan kemanusiaan mengunjungi orang-orang sakit?
Misalkan Anda adalah seorang ratu kecantikan namun tidak dibebani tugas untuk mengunjungi orang sakit, apakah Anda akan mengunjungi orang-orang sakit itu? Bila iya, misi apa yang Anda emban pada kegiatan Anda tersebut? Bila memang Anda datang untuk memberi semangat bagi yang sakit, apakah semangat yang Anda suntikan adalah sebuah semangat yang tepat??
Bilasanya ada seorang dokter yang sangat cantik dan pintar mengobati pasien. Lalu setiap hari yang dilakukannya adalah mengobati orang sakit. Apakah situasi tersebut akan membuat jumlah pasiennya semakin sedikit? Ataukah jumlah pasiennya makin bertambah karena orang sakit dari tempat lain akan cenderung datang ke dia, lalu orang yang semestinya sudah sembuh akan cenderung berpura-pura sakit atau sengaja sakit demi bertemu sang dokter. Benarkah itu??
Yang saya pikir, mungkin sebaiknya duta kesehatan semacam ini diberikan kepada para olahragawan ternama seperti seorang pemain sepakbola. Sebab dengan demikian semangat yang ditumpuk kepada para pasien adalah semangat untuk bisa berolahraga bersama sang olahragawan, yang notabene seseorang mesti sehat bugar untuk berolahraga.
Tuesday, March 18, 2008
Ekonom VS Sosiolog
Prof. Gary S. Becker, the Nobel Laureate in Economic Sciences 1992 dari University of Chicago, merupakan tokoh yang mempopulerkan bagaimana teori-teori ekonomi mampu bersinggungan dengan berbagai disiplin ilmu sosial lainnya seperti sosiologi, demografi dan kriminologi melalui penilitian-penelitiannya.
Arus pemikirannya sedikit menentang mainstream umum para kawakan ekonomi di University of Chicago yang seringkali menganggap faktor-faktor non-ekonomi dianggap konstan (ceteris paribus).
Ekonom
Kekurangan seorang ekonom adalah terlalu menggantungkan diri pada data-data sekunder hasil diseminasi lembaga-lembaga pemerintah yang menurutnya seringkali meragukan keakuratannya, bahkan yang mengumpulkan data-datanya pun juga seringkali meragukan hasil data collecting yang dilakukannya (seperti kondisi di Indonesia salah satu contohnya). Menurut Becker, analisis-analisis para ekonom terlalu menggantungkan pada data-data massal yang dianggap tidak menjamin penggambaran kenyataan yang terjadi sebenarnya.
Sosiolog
Sosiolog dapat dianggap lebih kreatif dalam penggunaan data-data, karena pada umumnya melalui survey langsung di lapangan. Dengan demikian menurut Becker, analisis sosiolog dianggap lebih realistik, dan ini berguna untuk mengoreksi atau melengkapi analisis ekonomi melalui data lapangan hasil survey mikro yang mendalam.
Secara tidak sadar, apa yang dilakukan Becker mengakibatkan terjadinya invasi ilmu ekonomi terhadap ilmu sosiologi. Dengan mengadaptasikan tools yang ada dalam ilmu sosiologi ke dalam perangkat analisis ekonomi, membuat ilmu sosiologi menjadi tidak lagi berguna, yaitu berbagai aspek sosiologis dan bahkan antropologis menjadi sudah ter-cover dengan ilmu ekonomi.
Bahkan ada hal yang lebih ekstrim, seperti apa yang diungkapkan Frank Knight, yang juga professor di University of Chicago dalam pernyataannya seperti dikutip oleh McDonald (2000), page 19: “Sosiology is the science of talk, and there is only one law in sociology. Bad talk drives out good talk.”
Tapi menurut saya, apabila sering melihat dialog-dialog di TV akhir-akhir ini, terutama perbincangan para ekonom partikelir yang pendapatnya tidak didasari landasan yang kuat, bisa saja Frank Knight akan mengubah pernyataannya tersebut: “Economics is the science of talk, and there is only one law in economics. Bad talk drives out good talk.”
Arus pemikirannya sedikit menentang mainstream umum para kawakan ekonomi di University of Chicago yang seringkali menganggap faktor-faktor non-ekonomi dianggap konstan (ceteris paribus).
Ekonom
Kekurangan seorang ekonom adalah terlalu menggantungkan diri pada data-data sekunder hasil diseminasi lembaga-lembaga pemerintah yang menurutnya seringkali meragukan keakuratannya, bahkan yang mengumpulkan data-datanya pun juga seringkali meragukan hasil data collecting yang dilakukannya (seperti kondisi di Indonesia salah satu contohnya). Menurut Becker, analisis-analisis para ekonom terlalu menggantungkan pada data-data massal yang dianggap tidak menjamin penggambaran kenyataan yang terjadi sebenarnya.
Sosiolog
Sosiolog dapat dianggap lebih kreatif dalam penggunaan data-data, karena pada umumnya melalui survey langsung di lapangan. Dengan demikian menurut Becker, analisis sosiolog dianggap lebih realistik, dan ini berguna untuk mengoreksi atau melengkapi analisis ekonomi melalui data lapangan hasil survey mikro yang mendalam.
Secara tidak sadar, apa yang dilakukan Becker mengakibatkan terjadinya invasi ilmu ekonomi terhadap ilmu sosiologi. Dengan mengadaptasikan tools yang ada dalam ilmu sosiologi ke dalam perangkat analisis ekonomi, membuat ilmu sosiologi menjadi tidak lagi berguna, yaitu berbagai aspek sosiologis dan bahkan antropologis menjadi sudah ter-cover dengan ilmu ekonomi.
Bahkan ada hal yang lebih ekstrim, seperti apa yang diungkapkan Frank Knight, yang juga professor di University of Chicago dalam pernyataannya seperti dikutip oleh McDonald (2000), page 19: “Sosiology is the science of talk, and there is only one law in sociology. Bad talk drives out good talk.”
Tapi menurut saya, apabila sering melihat dialog-dialog di TV akhir-akhir ini, terutama perbincangan para ekonom partikelir yang pendapatnya tidak didasari landasan yang kuat, bisa saja Frank Knight akan mengubah pernyataannya tersebut: “Economics is the science of talk, and there is only one law in economics. Bad talk drives out good talk.”
Subscribe to:
Posts (Atom)
