Hari ini Kota Jakarta mulai sepi. Keramaian ibukota bukan lagi terlihat di jalan-jalan raya, tetapi di terminal bis, stasiun kereta, pelabuhan dan bandara, serta tidak terkecuali pasar-pasar dan supermarket.
Harga-harga mulai naik. Saya dengar harga cabe di pasar tradisional sudah ada yang mencapai Rp 50 rb per kilo. Luar biasa multiplier dan fenomena ekonomi yang tercipta dari perayaan lebaran tahun ini. Prof Bambang Setiaji (Univ. Muhammadiyah) pernah mengatakan dalam tulisannya bahwa pemerintah tidak memiliki strategi kebudayaan tertentu untuk mengubah budaya konsumtifisme pada masa lebaran.
Mestinya ada strategi khusus untuk ini karena tentunya kita semua ingin memiliki momen hari raya yang terjangkau oleh semua khalayak, dan tidak mencekik leher. Memang inflasi tidak bisa terhindarkan untuk momen-momen khusus seperti ini. Tetapi apakah perlu setinggi itu? Anda sendiri yang bisa menjawab ini.
Akhir kata saya ucapkan selamat Idul Fitri untuk semua penulis dan pembaca blog ini. Mohon maaf lahir bathin.
Friday, September 18, 2009
Wednesday, September 2, 2009
Ah Teori... !!!!
Sedikit berbeda dengan yang dialami oleh bung Gaffar, saya juga punya cerita tentang kondisi yang saya alami tentang Ilmu Ekonomi, lebih spesifiknya tentang teori dan model kuantitatif.
Sudah sekitar 8 bulan bekerja di tempat yang baru, saya menemukan beberapa hal “menarik” di dalamnya. Namun ada satu hal yang sangat mengganggu, yakni orang-orang di tempat saya bekerja kerapkali tidak percaya dengan yang namanya teori ataupun model kuantitatif. Kata-kata senada dengan ah itu kan teori.. atau itu cuma model.. sering kali saya dengar dalam berbagai diskusi, rapat, atau seminar. Mereka lebih percaya pada pengalaman mereka, perasaan mereka, berita di koran, ataupun obrolan di rapat-rapat.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan, karena bisa jadi apa yang menjadi pengalaman mereka itu benar, sesuai dengan apa yang terjadi di realita. Namun entah karena menjadi kebiasaan atau karena frustrasi ternyata teori yang mereka pelajari susah-susah di kampus sering tidak sama dengan realita, landasan teori pun kerap ditinggalkan dalam analisis-analisis yang dilakukan sebelum pengambilan kebijakan. Nasib lebih parah dialami oleh penggunaan metode kuantitatif. Kendati salah satu tugas di tempat saya bekerja adalah melakukan proyeksi, model kuantitatif bagai menjadi anak tiri disini.
Bila kita coba rangkum, tampaknya bagi mereka dan saya yakin juga banyak orang lainnya, baik teori ataupun model kuantitatif telah gagal menjelaskan apa yang terjadi dalam dunia sebenarnya. Artinya, keduanya gak ada gunanya. Ketika keduanya gak ada gunanya, tentu lebih baik untuk ditinggalkan saja.
Berhadapan dengan orang-orang ini, rasanya susah banget untuk meyakinkan kembali akan pentingnya teori ataupun model kuantitatif. Tapi analogi berikut, dari Mark Thoma, layak dicoba. Analogi yang digunakan adalah antara krisis ekonomi dengan bencana gempa bumi. Keduanya sama-sama coba dijelaskan dan diproyeksikan melalui teori dan model kuantitatif, tetapi hingga saat ini keduanya bernasib sama.
Hingga saat ini tidak kurang upaya, baik penjelasan teori ataupun berbagai model prediksi, untuk memperkirakan kapan dan dimana bencana gempa bumi terjadi. Namun hingga saat ini pula, manusia tidak bisa memperkirakan dengan tepat kapan dan dimana bencana gempa bumi akan terjadi. Pertanyaannya adalah apakah itu berarti ilmu yang mempelajari gempa bumi ataupun model- prediksi yang digunakan tidak berguna??
Tentu tidak. Meski pada akhirnya belum mampu memprediksikan dengan tepat, tetapi teori dan model tetap memberikan manfaat pada kita. Ketika terjadi gempa bumi, dengan menggunakan bantuan teori dan model, kita bisa sedikit banyak tahu mengapa dan bagaimana gempa bumi itu terjadi. Apa yang menyebabkannya, tanda-tandanya seperti apa, dllnya. Di poin ini, teori maupun model, memberikan kita pemahaman lebih dalam bagaimana dunia ini bekerja. Selain itu, dengan info-info tambahan tsb, kemampuan prediksi kita diharapkan akan lebih meningkat. Jika saat ini belum benar-benar mampu memprediksi dengan tepat, itu berarti masih harus dilakukan perbaikan dan peningkatan pada teori maupun model tadi. Tapi bukan berarti tidak berguna dan lebih baik ditinggalkan.
Lebih jauh, info-info yang kita kumpulkan akan berguna untuk bersiap dalam menghadapi gempa berikutnya, baik itu melakukan tindakan sebelum terjadi gempa atau sesudahnya. Contoh tindakan sebelum terjadi gempa: dengan bantuan teori dan model, kita dapat mendesain rumah atau gedung yang lebih kokoh terhadap bencana gempa bumi. Contoh tindakan sesudah: seandainya pun gempa bumi sudah terjadi, dengan bantuan teori dan model kita dapat mengurangi secara signifikan kerusakan yang ada, misalkan dengan mendesain semacam skema pertolongan darurat.
Gambaran pada kasus gempa bumi juga bisa diterapkan dalam hal ini secara spesifik pada kasus krisis ekonomi. Namun secara lebih luas, gambaran tadi memberikan pemahaman lebih bagaimana teori dan model bila digunakan secara tepat dapat sangat berguna di dalam kehidupan kita, dibandingkan dengan omongan orang di rapat-rapat. Ingin mendapat bukti lebih lanjut (terutama dalam kasus model kuantitatif), silahkan baca buku ”super crunchers”.
Kalau di kasus Gaffar entah bagaimana ceritanya lingkungannya seakan-akan mendewakan teori dan model kuantitatif, di lingkungan sekitar saya sebaliknya, mereka benar-benar melupakan teori dan model kuantitatif.
Teori bagi saya adalah landasan awal kita berpikir. Meski begitu, bagi saya tidak selamanya semua harus sesuai teori (karena teori kebanyakan menyederhanakan permasalahan dan tidak ada yang sempurna). Tapi satu hal, kalau kita tidak punya teori sebagai landasan awal berpikir, tentu argumen yang kita keluarkan akan kemana-mana (aka tidak jelas). Teori memberikan kita koridor dalam pemikiran yang dilakukan.
Sementara itu, benar kata gaffar bahwa model kuantitatif itu hanyalah alat. Karena dia alat, yang dalam hal ini bebas nilai (berbeda dengan manusia), apa yang dihasilkan seharusnya benar-benar gambaran objektif dari apa yang ada. Hasil dari model kuantitatif kemudian akan menjadi pembanding dengan apa yang diungkapkan teori. Bila ternyata tidak sesuai, yah tidak apa-apa. Ketidaksesuaian itulah yang kemudian menjadi pertanyaan berikutnya. Siapa tahu dari hasil ketidaksesuaian tersebut teori yang ada bisa dikembangkan. Karena kita perlu ingat lagi di awal, teori bukanlah sesuatu yang sempurna.
Kalau gaffar mengingatkan akan bahaya penggunaan berlebihan teori ataupun model kuantitatif, saya coba mengingatkan bahaya yang lebih besar ketika keduanya sama sekali tidak diperhatikan.
Ketika Ilmu Ekonomi Kehilangan Sisi Sosialnya
Tak tahu kenapa akhir-akhir ini saya merasa ilmu ekonomi menjadi kurang menarik, seperti tercerabut dari hakikatnya sebagai ilmu sosial yang dinamis.
Subordinasi hirarki ini seperti menjadikan ilmu ekonomi melupakan ranahnya sebagai sebuah laboratorium sosial.Makin lama hanya semakin mengagung-agungkan teori layaknya ayat-ayat Tuhan.
Kita akan terlihat berdosa dan menggelikan ketika hasil estimasi yang kita dapatkan tidak sesuai teori yang sudah mapan. Secara tak sadar Mengapa ada saja upaya mengerdilkan upaya kita untuk menuntaskan pemikiran mengapa realitas yang ada menjadi tidak sejalan.
Ilmu ekonomi akhir-akhir ini menjadi tidak menarik bagi saya. Ketika semuanya seperti mesin berjalan, cenderung kaku, tidak dinamis, dan stagnan.
Semuanya seperti menjadi saklak dan tak terbantahkan. Ketika sebuah persamaan ekonomi mengharuskan variabel-variabelnya berstatus signifikan. Tetapi ada saja upaya untuk menihilkan rasionalitas untuk menjelaskan mengapa variabel yang didapatkan menjadi tidak signifikan.
Akhir-akhir ini ilmu ekonomi menjadi tidak menarik bagi saya. Ketika ekonometrik yang seharusnya berfungsi sebagai alat mencapai tujuan, malah menjadi sesuatu yang didewakan.
Akhir-akhir ini ilmu ekonomi menjadi tidak menarik bagi saya. Ketika koefisien suatu variabel sejak awal dengan jumawa sudah ditentukan, tanpa membolehkan berfikir bagaimana mencari alasan agar kita bisa menerima koefisien yang sebenarnya dihasilkan.
Akhir-akhir ini ilmu ekonomi semakin tidak menarik bagi saya. Ketika hal-hal teknis menjadi sesuatu yang lebih diutamakan, namun hanya didukung oleh sebuah analisis yang dangkal dan hanya menangkap permukaan. Tetapi dengan lucunya bisa bertingkah pongah seolah-olah hasil tersebut adalah sebuah mahakarya yang patut dibanggakan.
Akhir-akhir ini ilmu ekonomi semakin tidak menarik bagi saya.Terutama ketika ruang diskusi dan rasa saling menghargai berbagai pemikiran dan pendapat telah dimatikan.
Apa dayalah untuk mengatakan ini itu berharap didengarkan, jika menyadari diri ini yang tidak cantik dan rupawan.
Subordinasi hirarki ini seperti menjadikan ilmu ekonomi melupakan ranahnya sebagai sebuah laboratorium sosial.Makin lama hanya semakin mengagung-agungkan teori layaknya ayat-ayat Tuhan.
Kita akan terlihat berdosa dan menggelikan ketika hasil estimasi yang kita dapatkan tidak sesuai teori yang sudah mapan. Secara tak sadar Mengapa ada saja upaya mengerdilkan upaya kita untuk menuntaskan pemikiran mengapa realitas yang ada menjadi tidak sejalan.
Ilmu ekonomi akhir-akhir ini menjadi tidak menarik bagi saya. Ketika semuanya seperti mesin berjalan, cenderung kaku, tidak dinamis, dan stagnan.
Semuanya seperti menjadi saklak dan tak terbantahkan. Ketika sebuah persamaan ekonomi mengharuskan variabel-variabelnya berstatus signifikan. Tetapi ada saja upaya untuk menihilkan rasionalitas untuk menjelaskan mengapa variabel yang didapatkan menjadi tidak signifikan.
Akhir-akhir ini ilmu ekonomi menjadi tidak menarik bagi saya. Ketika ekonometrik yang seharusnya berfungsi sebagai alat mencapai tujuan, malah menjadi sesuatu yang didewakan.
Akhir-akhir ini ilmu ekonomi menjadi tidak menarik bagi saya. Ketika koefisien suatu variabel sejak awal dengan jumawa sudah ditentukan, tanpa membolehkan berfikir bagaimana mencari alasan agar kita bisa menerima koefisien yang sebenarnya dihasilkan.
Akhir-akhir ini ilmu ekonomi semakin tidak menarik bagi saya. Ketika hal-hal teknis menjadi sesuatu yang lebih diutamakan, namun hanya didukung oleh sebuah analisis yang dangkal dan hanya menangkap permukaan. Tetapi dengan lucunya bisa bertingkah pongah seolah-olah hasil tersebut adalah sebuah mahakarya yang patut dibanggakan.
Akhir-akhir ini ilmu ekonomi semakin tidak menarik bagi saya.Terutama ketika ruang diskusi dan rasa saling menghargai berbagai pemikiran dan pendapat telah dimatikan.
Apa dayalah untuk mengatakan ini itu berharap didengarkan, jika menyadari diri ini yang tidak cantik dan rupawan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
