Monday, June 30, 2008

Produktivitas Konsumsi Energi Indonesia

Menjawab pertanyaan Septian (Seto) tentang produktivitas konsumsi energi Indonesia, saya sajikan data yang sedikit berbeda dengan yang bung Seto punya.

Data di atas menunjukkan, Indonesia membutuhkan 470 ton energi untuk menghasilkan 1 juta US$ PDB. Jauh lebih besar dibanding Jepang yang hanya membutuhkan 97 juta ton. Bila kita sedikit ubah angkanya, setiap 1 ton energi yang digunakan di Indonesia hanya menghasilkan 2127,66 US$ PDB, sementara di Jepang menghasilkan 10309,28 US$ PDB.

Sempat mengutak-utik angka supaya setara dengan data yang dimiliki Seto, angka yang keluar untuk Indonesia adalah 52,46 (untuk tahun 2003-2004). Gak tahu ini benar atau enggak, tapi anyway, pesan penting yang didapat adalah produktivitas kita tidak terlalu tinggi. Jauh dibanding dengan Jepang, negara-negara Eropa, atau Amerika Utara.

Btw, saya tidak sabar menunggu bagian kelima tulisan Seto. Rasa-rasanya bung Seto akan menyalahkan spekulan sebagai penyebab melonjaknya harga minyak dunia. Yang sayangnya saya tidak setuju. Benar gak bung Seto? hehehe.. atau jangan-jangan salah.. Tapi kita tunggu nanti lah. :)

Harga Minyak Dunia: Supply and Demand, Aksi Spekulasi, atau Faktor Geopolitik (1)

Harga minyak dunia beberapa waktu lalu menembus US$ 140 per barrel. Angka yang sangat fantastis, dimana banyak pihak yang menyalahkan aksi para spekulan sebagai penyebab utamanya. Tapi apa itu benar? Salah satu rekan kami yang sedang belajar di Prancis mencoba membedah permasalahan harga minyak dunia ini secara mendalam dalam enam bagian. Ini bagian pertamanya. Selamat menikmati...

Topik pergerakan harga minyak dunia masih menjadi isu global yang cukup hangat. Tulisan Rhenald Kasali di Kompas hari ini sedikit mendeskripsikan bahwa aksi spekulan di pasar finansial lah yang terus mendorong harga minyak menuju langit. Tulisan saya kali ini mencoba menganalisis sejauh mana validitas analisis Rhenald Kasali tersebut dengan memberikan data dan analisis lebih lengkap mengenai struktur pasar minyak dunia saat ini.

Tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian, dimana setiap bagian akan saya upload diblog ini setiap minggunya. Pada bagian pertama, saya akan mencoba memaparkan konsumsi penggunaan energi dunia saat ini berdasarkan sumbernya dan disertai dengan analisis produktivitas energi dunia saat ini. Hal ini cukup penting sebagai pengantar untuk menjelaskan bagaimana posisi sumber daya hydrokarbon dalam memenuhi kebutuhan konsumsi energi global terutama ditengah maraknya diskusi mengenai sumber energi alternatif. Pada bagian kedua, saya akan menjelaskan lebih dalam mengenai kondisi permintaan dan penawaran dari pasar minyak dunia saat ini, terutama mengenai tingkat produksi dan konsumsi serta jumlah cadangan minyak yang dimiliki oleh masing-masing negara. Bagian ketiga, saya akan menjelaskan mengenai dampak geopolitik dari kondisi supply and demand saat ini serta implikasi dari windfall profit yang dinikmati oleh negara pengekspor minyak terhadap ekonomi dunia, lebih spesifik terhadap pasar keuangan dunia saat ini. Bagian kelima, saya memaparkan bagaimana para pelaku pasar keuangan mempengaruhi harga minyak dunia. Bagian keenam kesimpulan.

Struktur Konsumsi Energi Dunia dan Tingkat Produktivitasnya.

Meskipun telah banyak energi alternatif ditemukan, namun ternyata energi hidrokarbon, yaitu minyak, gas bumi dan batubara, masih menjadi sumber energi utama dunia saat ini kira-kira 79% dari tingkat konsumsi energi dunia pada tahun 2003. Tabel berikut ini menggambarkan lebih detail bagaimana struktur konsumsi energi dunia saat ini (klik gambar untuk memperbesar):



Bisa dilihat pada tabel 1 diatas, bahwa pada negara-negara maju sekalipun, energi hidrokarbon masih mensuplai lebih dari 60% tingkat konsumsi energi pada negara-negara tersebut. Negara-negara Arab, yang merupakan negara pengekspor minyak, memiliki tingkat ketergantungan yang paling besar terhadap energi hidrokarbon, dengan 92% kebutuhan konsumsi energinya dipenuhi oleh minyak dan gas bumi. Untuk Indonesia, berdasarkan data dari Intenational Energy Agency, sekitar 67% supply energi dipenuhi oleh batubara serta minyak dan gas bumi. China, yang merupakan perekonomian kedua terbesar saat ini, sekitar 54% kebutuhan energinya dipenuhi dari Batubara, salah satu sumber energi yang memiliki tingkat polusi tertinggi. Tidak heran, jika China tetap memiliki tingkat konsumsi seperti saat ini, pada tahun 2010 mereka akan mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai negara penghasil CO2 terbesar di dunia. China, dengan ekonominya yang tumbuh pesat, juga merupakan negara utama yang menjadi pendorong pertumbuhan tingkat konsumsi dunia.


Namun cukup sulit untuk menganalisis kebijakan energi tiap-tiap negara hanya dengan melakukan analisis diatas. Pada tabel berikut saya tampilkan bagaimana tingkat produktivitas (efisiensi) energi beberapa negara maju. Tingkat produktivitas disini diukur dengan tingkat GDP yang dihasilkan dari total konsumsi energi per tahunnya.

Pada tahun 2003, Uni Eropa memiliki tingkat produktivitas energi terbesar, baru kemudian diikuti dengan Amerika Serikat. Cukup jelas bahwa dua wilayah tersebut memiliki kebijakan energi yang mendorong efisiensi terhadap konsumsi energi. Dengan tingkat konsumsi yang sama, mereka mampu menghasilkan GDP yang jauh lebih besar dibandingkan wilayah lain. Cukup miris jika kita melihat negara-negara arab, jika kita melihat perkembangannya dari tahun 1980, produktivitas konsumsi energi mereka justru mengalami penurunan hampir 50%. Sumber daya hidrokarbon yang melimpah, justru menjadikan mereka menjadi boros.

Memang dalam melakukan analisis ini, kita tidak mengesampingkan faktor penguasaan teknologi yang di negara-negara maju, yang jauh lebih unggul dibandingkan negara-negara berkembang. Namun, peningkatan produktivitas yang mereka alami pun bukan suatu proses sekejap. Amerika Serikat setidaknya membutuhkan waktu 23 tahun untuk meningkatkan tingkat produktivitas konsumsi energinya sebesar 55%. Hal ini menunjukkan bahwa program peningkatan produktivitas energi membutuhkan perencanaan dan konsep yang matang, sekaligus juga implementasi yang terarah. Nah bagaimana dengan Indonesia..? terus terang saya tidak punya cukup data untuk menghitung tingkat produktivitas konsumsi energi negara kita saat ini. Mungkin, saya akan coba lengkapi minggu depan. Ditunggu komentarnya...


Septian

Saturday, June 28, 2008

Depkeu: Reformasi Birokrasi dan Rekrutmen Pegawai????

Berikut ada artikel menarik di harian Kompas, Birokrasi, Reformasi Komedi Putar. Departemen Keuangan sebagai salah satu lembaga pemerintah yang menjadi bagian dari program reformasi birokrasi sudah banyak menjalankan berbagai langkah. Mulai dari peningkatan gaji pegawai, budaya organisasi berbasis kinerja, dan sejumlah langkah lainnya.

Namun, berbagai langkah tersebut masihlah belum selesai. Masih saja ada beberapa hal yang membuat program reformasi birokrasi itu terlihat belum efektif. Seperti kita ketahui, baru saja KPK berhasil menemukan sejumlah dana pada bagian Bea Cukai yang dianggap sebagai uang “pelicin” untuk memuluskan sejumlah urusan pada kantor tersebut.

Dalam artikel di Kompas tersebut, menyebutkan bahwa Depkeu kelebihan sekitar 6000 pegawai dengan kompetensi yang “dipertanyakan.” Sebagai pegawai dengan status PNS, perampingan pegawai tentu hal yang sulit. Pada dasarnya PNS itu sulit diberhentikan secara formal meskipun dengan melihat kompetensi dan kinerjanya yang buruk.

Secara kebutuhan, Depkeu menyatakan membutuhkan sekitar 11.000 pegawai dengan kompetensi khusus untuk mendukung kinerja lembaga tersebut. Bukan sebuah angka yang kecil, mengingat gaji pegawai yang akan turut menjadi beban dalam APBN.

Baru-baru ini Depkeu kembali membuka rekrutmen pegawai seperti yang bisa dilihat di sini. Semoga saja, dengan jumlah pegawai Depkeu yang sudah mencapai 63 ribu pegawai, rekrutmen yang akan dilakukan benar-benar dilakukan untuk merekrut pegawai berkompeten, dan tidak hanya turut menjadi bagian 6000 pegawai yang “dipertanyakan” kinerjanya serta hanya semakin membebani anggaran negara.

Friday, June 27, 2008

Diskriminasi Harga BBM

Jika selama ini penyelundupan BBM ke luar negeri menjadi concern utama karena disparitas harga internasional dan domestik yang besar, sepertinya saat ini kita harus lebih khawatir pada arbitrase yang sangat mungkin terjadi di dalam wilayah NKRI.

Seperti kita ketahui, di domestik kita menerapkan kebijakan diskriminasi harga, yakni harga BBM untuk industri berbeda dengan harga BBM untuk eceran (konsumen biasa). Harga BBM untuk industri mengikuti harga minyak dunia, sementara untuk eceran masih disubsidi.

Kondisi saat ini: Terlihat di grafik (hanya premium), dengan harga minyak dunia yang terus meningkat, disparitas harga di domestik saat ini jauh lebih besar dibanding beberapa waktu lalu, bahkan lebih besar daripada disparitas harga domestik dengan harga internasional.

Sekarang kita sedikit flashback ke tahun ke-2, semester ke-3 kuliah ekonomi. Di kuliah mikroekonomi kita belajar, untuk diskriminasi harga berhasil, ada dua syarat utama yang harus dipenuhi. (1) Kita bisa membedakan antara kelompok/individu yang menjadi subjek diskriminasi harga, dan (2) Arbitrase atau jual beli di antara kelompok/individu subjek diskriminasi harga tidak mungkin terjadi.

Bila dipadukan antara disparitas harga yang begitu besar (yang berarti insentif untuk penyelewengan juga besar) dengan track record bangsa yang lemah soal pengawasan, tentu kita patut ragu akan pelaksanaan diskriminasi harga ini. Arbitrase berupa a.l pengoplosan akan banyak terjadi, atau dalam kata lain BBM bersubsidi akan banyak diselewengkan.

Pertanyaannya, haruskah kebijakan penuh distorsi ini harus dipertahankan? Saya kira tidak. Solusi: hilangkan diskriminasi harga, yang sayangnya juga berarti cabut subsidi BBM. Pilihan pahit tapi tepat, meski dengan resiko akan kembali ada aksi bakar-bakar ban di jalan.

Wednesday, June 25, 2008

Money Supply: Exogenous atau Endogenous?

Posting ini diangkat dari sebuah perdebatan yang belum selesai di kelas Ekonomi Moneter di Bank Indonesia. Dalam kuliah tersebut, ada perdebatan apakah Money Supply (Ms) adalah exogenous atau endogenous. Selama ini mungkin saya mempelajari ekonomi moneter selama di FEUI seringkali dipelajari bahwa Ms adalah exogenous, dan itu masih tersangkut di pikiran saya hingga saat ini.

Ms adalah exogenous menurut teori secara umum terjadi ketika kebijakan supply uang adalah sepenuhnya otoritas bank sentral, dan bank sentral punya kontrol dan kekuasaan penuh dalam mengatur peredaran jumlah uang, di mana diilustrasikan dalam grafik berikut:

Namun, Ms ternyata juga bisa dalam bentuk endogenous, yang berarti bahwa supply uang bukan sesuatu yang given, namun bisa dikatakan ada variabel lain yang turut mempengaruhi supply uang sehingga sepenuhnya tidak dapat dikontrol oleh otoritas bank sentral. Ilustrasinya seperti pada grafik berikut:

Lalu pertanyaannya, bagaimana bentuk model yang mendasari bahwa Ms adalah endogenous? Kemudian, variabel-variabel apa yang turut mempengaruhi Ms? Apakah dengan Ms yang bersifat endogenous dapat dikatakan bahwa bank sentral tidak efektif dalam sepenuhnya memegang peranan terhadap peredaran uang? Bagaimana kondisi Ms di Indonesia, exogenous atau endogenous?

Untuk mencoba menjawab beberapa pertanyaan di atas, berdasarkan literatur yang dapat saya telusuri ternyata mengenai apakah Ms itu exogenous atau endogenous didasarkan beberapa argumen. Kita akan berangkat pada dua perdebatan besar antara accomodationist (horizontalist) approach dan structuralist approach. Fenomena tersebut juga dapat dijelaskan melalui Post Keynesian Approaches seperti dijelaskan oleh Fontana (2003), Post Keynesian Approaches to Endogenous Money: a time framework explanation. Doktrin Post Keynesian berargumen bahwa money stock dan monetary base bersifat endogenous.

L Randall Wray (2007) dalam papernya Endogenous Money: Structuralist and Horizontalist, di mana accomodationist (horizontalist) approach menjelaskan mengapa money supply bersifat endogenous akibat dari proses yang dinamakan deposit multiplier, yaitu di mana peran antar bank dalam menciptakan loans menjadi deposit dan menciptakan deposit menjadi cadangan (reserves). Dalam hal ini peran bank cukup besar dalam seberapa besar mengatur supply dari credit dan deposit-nya, maka supply money credit dapat secara endogenous ditentukan oleh bank dalam mencapai kepentingannya. Sedangkan pendekatan structuralist berasumsi bahwa bank adalah lembaga keuangan yang pasif atau kurang aktif , yaitu di mana seringkali menggunakan instrumen keuangan baru untuk memanfaatkan dana dalam cadangannya. Prinsipnya, bank merupakan badan usaha yang berorientasi mencari keuntungan dengan berusaha menghindari berbagai kendala dan mengambil keuntungan dari kesempatan yang ada. Dari dua pendekatan tersebut setidaknya berusaha menjelaskan mengapa pada akhirnya ada faktor-faktor lain yang berperan pada peredaran uang di luar otoritas bank sentral, dan secara umum mengatakan bawa Money Supply (Ms) adalah endogenous.

Ms yang bersifat endogenous dapat menyebabkan kebijakan moneter dengan menggunakan target pertumbuhan uang akan menjadi tidak berhasil. Dalam Kevin S. Nell (1999), menjelaskan bagaimana kasus di Afrika Selatan ketika bank sentral Afrika Selatan (South African Reserve Bank atau SARB) tidak berhasil dalam mencapai target pertumbuhan M3-nya akibat dari endogenous money supply yang berasal dari money income.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Namun, dengan diterapkannya Inflation Targeting Framework (ITF) dan tidak lagi menggunakan money supply (Ms) sebagai target mungkin perdebatan bahwa Ms itu exogenous atau endogenous bisa jadi tak lagi relevan, apakah benar demikian? Bagaimana tanggapan kalian?

Wednesday, June 18, 2008

BI: Pertumbuhan Ekonomi atau Inflasi?

BI memutuskan untuk kembali menaikkan BI-rate menjadi 8,5% dan tidak menutup kemungkinan akan kembali menaikkannya hingga level 9%, mengingat tekanan inflasi yang begitu besar. Bahkan prediksi yang ada memperkirakan inflasi akhir tahun akan ada pada level 11,5-12,5%.

Keputusan BI menaikkan BI-rate ini, di satu sisi menuai pujian, di sisi lain disayangkan, terutama oleh pemerintah yang menganggap keputusan itu akan berpengaruh besar terhadap target pertumbuhan ekonomi.

Memang, seperti terlihat pada grafik di bawah, jelas ada trade off dari pilihan kebijakan yang harus diambil. Di saat ekspektasi inflasi 3 bulan dan 6 bulan ke depan sangatlah tinggi, ekpektasi terhadap perekonomian (growth) 6 bulan ke depan terus menurun.


Tapi tetap, pilihan kebijakan harus diambil oleh BI. Apakah membantu pertumbuhan atau menahan laju inflasi? Kalau saya, pro dengan menahan laju inflasi. Yang artinya BI rate perlu untuk kembali dinaikkan.

Alasan saya, secara sederhana dan singkat (mungkin terlalu sederhana), selain growth kita masih cukup bagus (6,28% kuartal I 2008), inflasi yang ada sudah terlalu tinggi. Kembali ke teori, inflasi bisa jadi bagus, tapi dalam level yang moderat. 12%, saya kira itu sudah terlalu tinggi dan tentu akan ada biaya yang tidak sedikit dari inflasi yang begitu tinggi tersebut.

Bagaimana dengan anda?

Tuesday, June 17, 2008

Inpres No. 5 Tahun 2008

Ditengah hingar bingar piala euro, demo ahmadiyah vs FPI, Sri Mulyani merangkap dua jabatan menteri, "kelakuan" anggota DPR, rekaman video "polisi sableng", kenaikan harga BBM rata-rata 30%, harga minyak bumi dunia hampir mencapai 150 USD/barrel (kini masih 139 USD/barrel), tim thomas-uber Indonesia gagal mengukir prestasi, PKB memiliki dua kubu, Iklan "hidup adalah perbuatan", orang-orang asing di china diusir sementara keluar demi persiapan menuju olimpiade, barack obama menang lawan hillary clinton, kunjungan Kevin Rudd ke Indonesia, hingga kembali menjomblonya claudya chintya bella setelah putus dengan ananda mikola, sebenarnya ada satu isu penting yang agak terlewatkan oleh publik, yaitu Presiden SBY mengeluarkan instruksi no. 5 thn 2008 yang secara resmi ditanda-tangani pada tanggal 22 Mei 2008.

Kebijakan ini berisi langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Fokus Program Ekonomi Tahun 2008-2009 guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, kelestarian sumber daya alam, peningkatan ketahanan energi dan kualitas lingkungan, dan untuk pelaksanaan berbagai komitmen Masyarakat Ekonomi Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Lebih jelasnya dapat dibaca disini.

Saya perhatikan penekanan dari kebijakan baru ini ada pada menyambut ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015 dan menciptakan iklim investasi yang lebih mantap lagi. Tapi kembali lagi, saya rasa isu-isu lain yang lebih HOT masih ramai dibicarakan publik, jadi kita percayakan saja kebijakan baru bidang ekonomi ini kepada para pengemban tugas mengelola negeri.

Bukan Sekedar Orang Lari-larian Mengejar Bola

Bisnis sepakbola belakangan ini bukanlah ladang yang kering; Piala dunia 2006 menghasilkan 135 juta euro pendapatan sebelum pajak, piala champions 2007/2008 menghasilkan 824.5 juta euro. Kini, piala euro yang sedang berlangsung diperkirakan akan menghasilkan 1,25 milyar euro. Semua itu adalah angka-angka yang fantastis untuk sekedar acara kejar-kejaran bola antara 2 kelompok orang-orang yang bertubuh atletis. Lalu apakah Liga Indonesia sudah siap untuk ikut memarakkan bisnis ini?

Thursday, June 12, 2008

CDT 31 vs LSI, Bagaikan David melawan Goliath

(Laporan Eksklusif dari Pangkalpinang)
-----------------------------------------------------------------------
Beberapa hari tinggal di Pangkalpinang membuat saya semakin percaya bahwa ketimpangan pembangunan Di Indonesia begitu tinggi. Disini setiap hari mati listrik. Pernah dalam dua hari, hanya 5 jam listrik menyala. Hal ini diperparah dengan kondisi sanitasi dan air bersih yang lumayan memprihatinkan. Padahal saya tinggal di rumah yang cukup baik dan terletak di pusat kota.

Ketimpangan pendapatan juga terlihat cukup mencolok. Hasil tambang timah inkonvensional yang melimpah kebanyakan hanya dinikmati oleh pejabat dan cukong-cukong China yang memiliki modal. Walaupun tidak ada data, dari pengamatan lapangan sangat jelas perbedaan antara yang mengendarai sepeda motor dan yang mengendarai Mitsubishi Strada. Kondisi sekolah negeri dan fasilitas publik juga sangat jauh bila dibandingkan dengan Jakarta. Beruntung sekolah swasta disini cukup megah dan halaman parkirnya penuh.

Saya pribadi kurang mendalami bagaimana asal-muasal pilkada sampai di tingkat kabupaten/kota. Namun sampai saat ini saya berpendapat Pilkada sampai tingkat kabupaten/kota tidak bermanfaat bagi pembangunan dan hanya memboroskan anggaran. Ajang Pilkada ini banyak dijadikan oleh opportunis politik (penganngguran) sebagai ajang merengguk uang. Hampir setiap hari di basecamp ada orang dari negeri antah berantah yang menyodorkan proposal kegiatan. Ada juga yang mengaku memiliki ratusan massa dan siap menjadi simpatisan tapi pas mau pulang minta ceban buat ongkos.

Paling parah adalah incumbent. Karena memiliki modal yang besar serta akses ke elite politik yang luas, ajang Pilkada disini seperti mengikuti kemauan si incumbent. Langkah-langkahnya mudah ditebak. Pertama adalah menyewa konsultan politik yang jempolan, lalu buat bancakan dengan para elite politik. Masa’ ada walikota yang berkampanye namun belum mundur dari jabatannya ? lebih aneh lagi hal ini didiamkan saja oleh KPUD. Paling aneh Ketika masuk jadwal kampanye resmi, si walikota itu juga tidak mundur tapi CUTI.

Yang paling gila adalah ada petugas survey yang membawa foto si incumbent dan menawarkan program asuransi. Mungkin terdengar sepele, namun form yang di bawa sama si petugas survey ada pendataan penduduk yang tidak memiliki KTP dan ada data No TPS. Kecurigaan saya langsung mengarah pada pencetakan KTP dan Kartu pemilih besar-besaran. Kalau sudah selesai tinggal di-coblosin saja satu-persatu.
Sementara si david, karena masih bau kencur dan gak punya akses ke elite politik manapun hanya melihat di tepian jalan sambil bergumam, “kapan Indonesia bisa maju dengan segala macam omong kosong ini.....”
PS: Tulisan ini pendapat pribadi dan Sumber data didapat dari pengamatan induvidu. kemungkinan adanya bias sangat besar.

Wednesday, June 11, 2008

Sadapan Telelepon Kasus Suap BLBI

Buat yang tidak sempat membaca, berikut selingan menarik kutipan telepon Artalyta Suryani (tersangka kasus suap BLBI) dengan Untung Udji Santoso (Jaksa) beberapa jam setelah jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap tangan menerima suap. Sebuah kutipan yang menggambarkan carut-marutnya birokrasi kita: (disadur dari detik.com)

Untung (U):
Memang dikasih berapa duit?

Artalyta (A):
660 ribu dolar.

U:
4 M (miliar--red)?

A:
6 M (miliar--red).

U:
Lailahailallah!

A:
Jadi bagaimana ini menyelamatkan itu semua, orang-orang kita?

U:
Nggak iso ngelak kalau 6 M. Gila.

A:
Jadi gimana?

U:
Tak pikir enam atus juto (enam ratus juta-Red) gitu.

A:
nggak, itu banyak. Gimana?

U:
Itu untuk siapa?

A:
Ah, ya udahlah. Sekarang kita jalan keluarnya gimana?

U:
Adu biyung gimana?

A:
Heh.

U:
Sek...sek (sebentar--red). Kalau kayak gitu, susah itu.

A:
Aku kena lho, Mas, kayak gini.

U:
Lha iya.

A:
Aku bilang kan ajudanku.

U:
Ajudan kok duite samono gede ne. Soko ngendi? Ngarang ae. Yo wes. (Ajudan kok uangnya begitu banyak. Dari mana? Ngarang aja. Ya sudah--red). Gimananya caranya hubungi Antasari.

A:
Ya, coba Sampeyan telepon dulu.

U:
Udah, mati teleponnya.

A:
Mati? Dicari. Suruh nyari dong. Feri (Direktur Penuntutan KPK Feri Wibisono--red) suruh nyari.

U:
Feri juga nggak ngangkat.

A:
Jadi gimana? Ini kan mesti ngamanin bos kita semua.

U:
(terdiam lama)

A:
Aku jawabnya apa ya? Sekarang anakku kan masuk lewat belakang. Dia pegang juga. Dia masuk (tiba-tiba terinterupsi, Artalyta seperti menyuruh seseorang di rumahnya melakukan sesuatu).

U:
Usahakan cepat you keluar. Nyari Antasari deh.

A:
Ya, di mana dia rumahnya?

U:
Di anu, di BSD. Waduh, tapi saya tidak tahu juga rumahnya. Tapi jangan, jangan ke rumahnya. Ketemu di mana, di hotel atau di mana gitu deh.

A:
Ya, aku kan udah mau dibawa. Sampeyanlah yang kejar, yang nyari dia, Mas. Kan nggak kentara kalau sampeyan.

U:
Ya, iya. Tapi teleponnya aku gak ngerti rumahnya (suara Untung terdengar gelagapan). Teleponnya gak diangkat, aku sudah minta Wisnu (Jamintel Wisnu Subroto--red).

A: Sekarang susulin.

U:
Tak telepon dulu.

A:
Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu.

U:
Aku udah telepon Wisnu, demi Allah ini.

A:
Kata Wisnu apa?

U:
Aku sudah dibuka teleponnya. Aku juga nggak buka. Kamu punya nomor lainnya nggak?nggak punya, lah gimana? (Untung menirukan perkataan Wisnu padanya ke Artalyta)

A:
Sekarang aku kan mau dibawa. Supaya keterangannya sama gimana? Nanti kan kena gimana? Kan jangan sampai kena semua.

U:
Kenapa sih kok bingung gini? Aduh, gawean ae.

A:
Makane. Makanya, aku dari luar Jakarta, dia (jaksa Urip--red) maksa (ambil uang US$ 660 ribu) hari ini.

Sadapan telepon lanjutan bisa dicek disini. Fakta ini menunjukkan, reformasi birokrasi atau penguatan institusi/kelembagaan masih menjadi PR besar dan harus menjadi salah satu agenda prioritas bangsa ini. Usul saya cuma dua untuk ini, yakni deregulasi dan debirokratisasi.

Monday, June 9, 2008

Harga Komoditas Jangka Panjang: Mengapa Mas Pri (dan Malthus) Keliru

Priyadi melalui blognya priyadi.net bisa dibilang salah satu dedengkot blogger Indonesia terpopuler. Setiap posting di blognya, dimana dia membahas banyak hal, pasti mendapatkan banyak komentar. Sayangnya, Mas Pri dalam salah satu postingnya membuat kesalahan dalam menjelaskan tren kenaikan harga komoditas yang baru-baru ini terjadi.

Dengan menggunakan cara berpikir Malthusian, Mas Pri menulis "di luar fluktuasi yang terjadi dari waktu ke waktu, tren harga komoditas dalam jangka panjang bisa dipastikan akan meningkat. Alasannya penduduk dunia selalu bertambah..." Lalu dia tambahkan "...Semakin besar populasi manusia, maka akan semakin tinggi permintaan terhadap barang-barang yang dibutuhkan manusia. Manusia akan mencoba beradaptasi menyesuaikan tingkat permintaan ini dengan meningkatkan produksi barang-barang kebutuhan manusia tersebut. Tapi hal ini tentunya ada batasnya. Besar bumi dan apapun yang ada di dalamnya tetap sama. Kenyataan ini akan mengakibatkan harga-harga akan selalu meningkat."

Saya akan tunjukkan kesalahan analisis si Mas Pri ini dengan melihat tren harga komoditas pada tembaga. Berikut grafik yang menunjukkan pergerakan harga internasional tembaga sejak 1900 hingga 2002.



Bila dilihat grafiknya, sejak 1900 hingga 2002 terjadi penambahan permintaan dunia, dan benar salah satu penyebabnya adalah penambahan populasi. Namun, selain permintaan yang berubah, ternyata persediaan (supply) juga berubah. Seiring dengan teknologi yang terus meningkat, kemampuan eksplorasi dan eksploitasi tembaga juga semakin membaik. Akibatnya, biaya produksi menurun dan persediaan (supply) meningkat pesat. Seperti terlihat pada grafik, penambahan pada persediaan (supply) mampu meng-offset penambahan pada permintaan, sehingga tren jangka panjang dari harga komoditas ini bukannya meningkat, tetapi menurun.

Kasus lain juga bisa dilihat pada harga telor. Saya tidak punya grafiknya, tapi penjelasan tentang ini bisa dilihat pada buku Microeconomics, Pindyck. Harga telor semakin lama juga semakin menurun. Selain karena teknologi yang mengakibatkan ayam semakin bisa bertelor banyak, perubahan juga terjadi pada selera masyarakat. Kendati populasi terus bertambah, tapi selera masyarakat terhadap telor semakin menurun. Ini disebabkan salah satunya faktor kesehatan. Mengkonsumsi telor terlalu banyak, tidak terlalu baik untuk kesehatan. Akibatnya, permintaan telor dari tahun ke tahun hanya bertambah sedikit, sementara persediaan (supply) meningkat pesat, sehingga harga akan semakin rendah.

Jelas, dari dua kasus di atas saja, tidak benar bahwa harga-harga komoditas akan selalu meningkat.

Wednesday, June 4, 2008

Distorsi Subsidi BBM II

Masih soal subsidi BBM. Angka inflasi Mei tercatat sebesar 1,41% dan 10,38% year-on-year. Sebuah angka yang sangat tinggi dan tentu menjadi cost yang besar bagi perekonomian.

Kendati bila dilihat datanya kontributor utama adalah kelompok bahan makanan, tetapi menurut hemat saya penyebab terbesar tingginya angka inflasi bulan Mei adalah akibat ekspektasi yang muncul dari uncertainty yang dipicu ketidaktegasan pemerintah dalam mengambil kebijakan mencabut subsidi BBM. Padahal bila pemerintah tegas, hal ini bisa dicegah.

Coba kita hitung berdasarkan kenaikan pada premium. Setelah menghabiskan waktu yang lama untuk bingung mau naik atau tidak, akhirnya pemerintah menaikkan premium sebesar Rp 1500 per liternya. Itupun dengan sangat terpaksa, karena harga minyak dunia telah melebihi US$ 120 per barrelnya. Sekarang kita berangan-angan, bagaimana seandainya sejak Oktober 2005 pemerintah dengan tegas menyatakan akan menaikkan premium Rp 50 per liter per bulan. Dari hitungan sederhana yang bisa dilakukan, mulai Oktober 2005 hingga Mei 2008 ada 30 bulan, yang berarti kenaikan per Mei 2008 juga sama, yakni Rp 1500 per liter. Bagaimana dampaknya? tentu pasti berbeda, dan tidak akan sebesar sekarang costnya.

Kenapa? Ini bisa dijelaskan dengan teori Permanent Income Hypothesis. Dengan adanya kepastian kenaikan per bulan, konsumen akan secara rasional menyesuaikan diri dalam melakukan pilihan konsumsi disesuaikan dengan ekspektasi pendapatannya. Akibatnya efek dari uncertainty bisa dihilangkan dan ekspektasi bisa terkontrol. Selain itu, dengan memberikan kepastian, dampak negatif akibat adanya spekulasi juga bisa ditekan.

Melihat itu, okelah saat ini memang telah dilakukan pencabutan subsidi BBM dan pemerintah bisa sedikit bernafas lega. Tapi beban subsidi BBM masih sangat besar. Bila sewaktu-waktu harga minyak dunia kembali liar, semisal ke level US$ 200 seperti yang diperkirakan beberapa pihak, jangan sampai langkah reaktif terburu-buru seperti sekarang yang diambil. Saran saya, sudah seharusnya pemerintah mengambil langkah tegas dengan menaikkan kembali harga BBM, tapi secara bertahap dan pasti. Net-benefitnya akan jauh lebih besar.

Distorsi Subsidi BBM

Greg Mankiw post mengenai Law of Demand di blognya. Lalu Pak Aco menyatakan bagaimana Law of Demand tidak mungkin terjadi di Indonesia di sini. Setuju 100% dengan Pak Aco. Buktinya ditunjukkan oleh artikel Republika Senin kemarin.

Lalu Robert Reich menulis lebih jauh mengenai komplain dia terhadap transportasi publik di AS. Mr. Reich tampaknya belum pernah datang ke Indonesia. Bisa lebih stress lagi Mr. Reich melihat kondisi kita.

Semua salah siapa? Subsidi BBM jawabnya. Atau lebih tepatnya mereka yang dulu menerapkan subsidi BBM dengan entah apa alasannya.

Monday, June 2, 2008

Survey BBM II

Sedikit berbeda dengan hasil polling yang dilakukan Luthfi, berikut hasil awal polling Syahrir Research mengenai popularitas SBY setelah kebijakan pencabutan subsidi BBM:


Perlu diketahui, di polling bulan sebelumnya dengan pertanyaan yang sama dukungan SBY mencapai 32,8%.

Namun berita baiknya, kendati masyarakat kesal terhadap SBY, pada dasarnya mereka memahami alasan di balik keputusan ini. Masyarakat sudah semakin cerdas dalam memahami kondisi yang ada.


Terkesan kontradiktif memang. Tapi mungkin masyarakat kesal karena SBY terkesan mencla-mencle. Tadi bilangnya gak mau naikin, tapi akhirnya naikin juga. Ini bisa dilihat dari hasil polling untuk pertanyaan berikut:


Untuk informasi, polling dilakukan by phone dengan 800 responden di 23 Kota.

"Bubarkan Laskar Islam/FPI"

Post ini saya tujukan untuk siapapun pemimpin Laskar Islam/FPI.

Saya Islam, tapi saya tidak rela jika nama Islam direpresentasikan oleh tindakan brutal penuh kekerasan seperti yang kemarin Anda dan teman-teman Anda tunjukkan. Apalagi dengan tanpa rasa bersalah kalian bilang punya hak untuk menghalalkan segala cara. Apakah itu Islam?

Saya memang bukan orang yang sangat dalam pemahaman ke-Islaman-nya, tapi bagi saya Islam jauh lebih indah dari apa yang kalian tunjukkan.

Anda bilang Anda pembela umat Islam, tapi saya kira Anda tidak membela umat Islam. Anda hanya membawa umat Islam pada posisi yang lebih buruk.

Anda bilang Anda punya alasan menyerang karena Anda menemukan bukti bahwa ada tangan-tangan asing (AS) yang bermain. Tapi saya curiga jangan-jangan Anda yang sebenarnya kepanjangan tangan dari pihak asing untuk membikin kacau bangsa ini dan memperburuk citra Islam.

Satu kata untuk Anda dan teman-teman, GILA !!!

Saya menuntut dengan keras, tolong jangan pernah lagi gunakan label Islam dalam setiap aksi Anda.

Satu hal lain, bagi saya, Ahmadiyah memang sesat. Tapi untuk meminta negara melarang, membubarkan, atau mengusir Ahmadiyah itu lain soal. Bagi saya, yang lebih layak dibubarkan adalah Laskar Islam, FPI, atau apapun namanya.

*Pendapat ini murni pendapat pribadi