Tuesday, August 26, 2008

Tingkat Produktivitas Seorang Pemain Bola: Studi Kasus Sheva

AC Milan akhirnya dapat merebut kembali striker andalan yang sempat mengharumkan nama AC Milan dalam kancah persepakbolaan. Sheva sudah dipastikan akan merumput kembali di Italia setelah beberapa lama bermain di klub sepakbola Inggris, Chelsea. Selengkapnya secara resmi beritanya di sini.


Tingkat produktivitas seorang pemain bola, terutama striker, tentu memiliki indikator yang dapat secara jelas dilihat, yaitu banyaknya gol yang dihasilkannya. Berdasarkan kasus Shevchenko, tentu kita dapat mengatakan bahwa marginal cost (MC) yang harus dikeluarkan Chelsea untuk menghasilkan per gol-nya sangatlah besar. Total dana yang dikeluarkan Roman Abramovich untuk membayar Sheva sejak dia datang hingga akhirnya dipinjamkan ke Milan lalu adalah 45,62 juta poundsterling (Rp 780,3 miliar). Secara hitungan kasar, berarti setiap gol yang dibuat Sheva bisa dikatakan seharga Rp 85,5 miliar (780,3 miliar : 9 gol). Selengkapnya lihat di sini.


Apakah marginal benefit (MB) kehadiran Sheva dalam Chelsea telah melebihi MC-nya tersebut, atau setidaknya sama (MC=MB)?


Atau mungkin analisis ini menjadi terlalu bias jika hanya mengukur MC dan MB seorang pemain bola hanya berdasarkan produktivitas menghasilkan gol dengan biaya yang dikeluarkan klub-nya. Lebih lagi, peran seorang pemain bola tidak hanya bagaimana menghasilkan gol dan membuat klub-nya mendapatkan berbagai gelar dalam setiap musimnya. Seperti yang diungkapkan di sini, peran sentral dalam menghimpun pemain satu tim dan menjaga kekompakan bermain sepertinya indikator yang juga patut diperhitungkan.

Saturday, August 23, 2008

Iklan dan Politik

Sudah lama tidak blogwalking, iseng-iseng buka blog pribadi milik rekan kita bung gaff kemudian menemukan 1 posting yang menarik dan membuat saya tergelitik untuk berkomentar.

Posting yang saya maksud berjudul "Siapa Dia?". Dalam posting ini bung gaff mengemukakan kegusarannya melihat iklan-iklan politik yang gak jelas, yang mungkin bisa saya sebut antara lain iklan Soetrisno Bachir (SB) atau Rizal Mallarangeng (RM). Yang saya tangkap dari posting tersebut, bung gaff gusar karena dua alasan, yakni: (1) ragu akan efektivitasnya terhadap elektabilitas nanti di pemilu. (2) juga berdasarkan alasan pertama, akhirnya yang terjadi hanya buang-buang duit saja.

Menanggapi alasan pertama, perlu kita ketahui dalam tahapan pemasaran politik ada tahap-tahap yang harus dilalui, yakni awareness - pemahaman (convincing) - elektabilitas. Dari sini, jelas iklan-iklan milik SB atau RM masih merupakan tahapan pertama dari pemasaran politik, yakni untuk membangun awareness masyarakat terhadap sang tokoh. Mungkin bung gaff kenal baik SB atau RM, tapi saya yakin masyarakat kebanyakan, terutama yang diluar kota-kota besar tidak terlalu mengenal mereka berdua. Bahkan posisi SB sebagai ketua PAN saja, mungkin masih banyak yang lebih kenal Amien Rais. Apalagi RM yang kebanyakan orang hanya tahu dia adalah pembawa acara save our nation di Metro TV. Oleh karena itu, penting kiranya bagi mereka untuk mempopulerkan diri. Untuk masalah apakah akan yakin dan kemudian memilih, saya yakin akan ada langkah berikutnya dari tokoh-tokoh politik yang dimaksud.

Lalu alasan kedua, kenapa harus lewat iklan di TV? Buang duit aja! Saya kira tidak demikian. Demi membangun awareness masyarakat, beriklan di TV adalah sarana yang paling tepat dan mungkin paling mudah dan murah. Hitung-hitungannya seperti ini. Iklan di TV di waktu prime time per 10 detik menghabiskan 30 juta. Anggap saja iklannya 30 detik sehingga sekali iklan habis 90 juta. Lalu dalam sehari si tokoh beriklan 10 kali. Berarti dalam 1 hari biaya yang diperlukan adalah 900 juta. Dalam sebulan si tokoh membutuhkan dana sebesar 27 miliar. Sangat besar memang.

Tapi tunggu sebentar. Asumsi 80% dari pemilih yang berjumlah 120 juta memiliki TV di rumahnya. Artinya akan ada 96 juta orang yang melihat iklan tersebut dan mulai mengenal si tokoh. Cukup banyak bukan. Lalu yang terpenting, dengan biaya total sebesar 27 miliar, berarti biaya per kapita-nya hanya Rp 281,25. Coba bandingkan dengan harus datang ke daerah-daerah, dimana paling banter dalam satu lapangan ada 100 ribu orang yang bisa dikumpulkan. Lalu per orangnya minimal harus diberi Rp 10 ribu + makan siang. Sudah biaya per kapitanya jadi mahal, hanya 100 ribu orang yang jadi lebih mengenal si tokoh, capek dan habis waktu pula.

Dari ilustrasi di atas, saya rasa beriklan di TV tidaklah buang-buang duit dan sangat efektif. Dalam realitanya, siapa sih yang akhirnya tidak mengenal SB atau RM. Apalagi slogan "hidup adalah perbuatan" milik SB yang mulai melekat di pikiran masyarakat.

Akhir kata, beriklan di TV saya kira adalah tindakan yang tepat, meski masih banyak usaha yang harus dilakukan untuk menyaingi SBY atau Mega. Ada istilah ekonomi yang cukup pas untuk menggambarkan, yakni: beriklan di TV tuh "necessary but not sufficient", tapi dengan satu kondisi, yakni budget constraint yang besar.

Friday, August 22, 2008

Israel

Saya tiba-tiba teringat ketika Gus dur masih menjadi Presiden, ketika itu beliau mempunyai ide untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Banyak pihak menentang keras ide itu termasuk saya pribadi. Karena sebagai negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar didunia, berhubungan dengan Negara zionis dianggap suatu dosa. Namun demikian seiring dengan berjalannya waktu saya rasa ide ini bermanfaat untuk Indonesia. Tidak seperti tulisan lain di blog ini yang berbobot dan langitan, tulisan ini bersifat opini tanpa ada embel-embel teoritis. Saya memohon maaf sebelumnya bagi para pemeluk agama yang “agama”-nya akan saya sebutkan disini dan minta ijin to speak freely.


Sebenarnya siapa yang bertanggung jawab dalam pembinaan akhlak dan moral umat? Saya sebagai seorang muslim tentunya akan mengatakan Ulama, Kyai atau Ustadz. Dalam hal ini akhlak dan moral umat perlu di-maintain dengan khotbah yang kontinu, menggugah dan memberikan pencerahan. Sehingga saya berpendapat posisi Khotbah Jumat itu luar biasa penting. Karena sebagian besar umat yang sedang dalam tahap pengembangan karier dan perjuangan kemapanan finansial, tidak memiliki waktu yang luang dan lapang untuk menghadiri dakwah atau acara pengajian khusus.


Kondisi tersebut sewajarnya menuntut Khotib Jumat untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam menjaga moral dan akhlak umat. Namun sampai sejauh ini, khotbah jumat yang menurut saya baik dan mampu memberikan pencerahan dapat dihitung dengan jari. Dari mesjid di kampung sampai mesjid modern di Cut Mutiah, seringkali Khotib Jumat memberikan khotbah yang kurang bermutu dan saya harus berjuang keras melawan godaan setan yang me-ninabobo-kan.


Saya seringkali bertanya dalam hati mengapa kondisi ini terjadi. Apakah income dari khotib tidak memadai? Apakah ini merupakan kegagalan institusi pesantren? Atau memang khotib-nya saja yang malas? Akhirnya sebagai seorang ekonom, saya mengambil kesimpulan bahwa kondisi ini terjadi karena kurangnya derajat kompetisi dalam industri per-dakwah-an.


Dengan asumsi bahwa para Ulama, Kyai dan Ustadz merasa bahwa aklak dan moral umat merupakan tanggung jawab mereka, maka kompetisi terkuat yang saat ini mereka hadapi hanya dari misionaris Nasrani. Walaupun masih ada misionaris Budha dan Hindu, pangsa pasar mereka terlalu kecil untuk dapat dikategorikan ber-“bahaya”. Dalam set industri yang demikian, maka saya asumsikan industri per-dakwah-an di Indonesia adalah duopoly, dengan Ulama, Kyai dan Ustadz sebagai market leader.


Bangsa Yahudi yang notabene gifted dengan kemampuan otak yang luar biasa (ada di Al-Quran), dapat saya prediksi akan menjadi kompetitor yang ber-“bahaya”. Apabila dapat terjadi suatu kondisi dimana mereka dapat masuk ke Indonesia, maka secara otomatis derajat kompetisi industri per-dakwah-an akan meningkat. Dilain pihak, Umat Yahudi akan membela kepentingan Indonesia habis-habisan. Karena sebagai thinking parasite, mereka tidak mau inang mereka rusak. Secara logis mereka akan menjaga kepentingan Indonesia agar mereka dapat tinggal dan hidup dengan tenang. Andaikan seperti ini kondisinya, akan ada Eksternalitas Positif yang dinikmati oleh umat lain dengan kehadiran mereka. Secara umum dapat saya simpulkan bahwa membuka hubungan diplomatik dengan Israel diprediksi akan membawa banyak manfaat bagi Indonesia, walaupun resikonya adalah akan ada orang Indonesia yang masuk menjadi Yahudi. Resiko yang amat mengerikan.

Wallahualam bis Sowwab.

Friday, August 8, 2008

Prepayment utang

Sesuai fungsi intermediasinya, bank meminjamkan uang ke unit defisit. Para debitur yang meminjam uang untuk tujuan tertentu seringkali melunasinya ditengah-tengah ketika mendapatkan uang dadakan, agar tidak terbebani di kemudian hari. Biasanya, para debitur yang demikian rela membayar sejumlah uang penalti yang tidak seberapa dibanding jumlah utangnya. Jika skema utang tersebut sesuai dengan ekspektasi orang awam, mungkin keputusan prepayment tersebut menguntungkan. Namun, utang kepada bank biasanya menggunakan konsep amortisasi. Sehingga, yang dibayar debitur di awal-awal cicilan secara praktis adalah bunganya saja. Sebagai contoh, umpamakan KPR senilai Rp. 2 Milyar, dengan suku bunga flat 10% dan jangka waktu 30 tahun. Dalam kondisi ini, PVIFA=9,427, dan PMT (pembayaran per tahun) sebesar principal/PVIFA.

(dalam ribu Rp)


Dimana IO(t) dan PO(t) berturut-turut adalah pembayaran interest dan principal pada tahun t. Dapat diperhatikan terdapat.. katakanlah decreasing marginal interest payment dan increasing marginal principal payment. Misalnya, pada akhir tahun ke 15, atau setelah setengah periode, debitur melunasi hutangnya. Apakah yang terjadi? Pada tahun ke 15, ia sudah membayar PMT sebanyak 15 kali, yaitu sebesar Rp. 3.182.348.570. namun, ia tetap harus membayar pula sisa principal sebesar RP. 1.659.920.110, atau dengan kata lain, ia dianggap hanya telah melunasi sekitar 20% dari keseluruhan principal, atau hanya sekitar 10% dari PMT yang telah ia bayar.
Dengan demikian, maka keputusan prepayment yang dilakukan debitur tidak menguntungkan. Lebih menguntungkan bila tetap melakukan cicilan utang sampai jatuh tempo. Mari pelihara utang kita!