Teman-teman starbuckers, atas permintaan sesepuh kita yang saat ini sedang di Jepang, sy cb untuk kembali meramaikan blog kita.
Dalam posting blog ini, sy akan mengajak teman-teman untuk bermain sebuah game. Nama gamenya: Minority Rule. Bagaimana cara mainnya? gampang saja. Jika dalam demokrasi kita mengenal majority rule (dalam sebuah pengambilan keputusan, suara mayoritas yang menang), dalam minority rule, yang terjadi sebaliknya. Pemenang adalah suara minoritas.
Dalam game ini, ada 4 orang yang ikut bermain (3 cewek dan 1 cowok), termasuk Anda di dalamnya. Sebuah pertanyaan akan ditanyakan, "Apakah Anda ganteng?" dan setiap peserta harus menjawab "ya" atau "tidak". Peserta tidak boleh tidak menjawab dan tidak boleh menjawab keduanya. Anda diberikan waktu 6 jam untuk menjawab. Selama 6 jam tersebut Anda diperkenankan melakukan apapun yang diperlukan. Pemenang adalah yang jawabannya minoritas (hanya dijawab oleh 1 orang).
Pemenang akan mendapatkan Rp 1 miliar. 3 orang yang kalah harus membayar denda Rp 200 juta rupiah.
Pertanyaannya apa yang akan Anda lakukan? Jawaban apa yang akan Anda pilih? ya atau tidak? Bisakah Anda menang?
Jawaban dalam poin2 saja ya..
Showing posts with label Game Theory. Show all posts
Showing posts with label Game Theory. Show all posts
Wednesday, December 9, 2009
Monday, December 17, 2007
Asian Idol #2: Kenapa Hady Mirza?
Buat kebanyakan orang yang menonton Asian Idol (termasuk saya), terpilihnya Hady Mirza sebagai Asian Idol pertama tentu sesuatu yang mengejutkan. Bila dibandingkan Mike (Indonesia), Mau (Philippines), atau Jac (Malaysia), kualitas olah vokal Hady Mirza jelas di bawah. Para juri pun tidak ada yang menjagokan Hady Mirza. Lalu kenapa akhirnya Hady Mirza bisa menang? Kok bukan penyanyi terbaik yang menang? Bukannya panitia telah merancang mekanisme voting yang oke (lihat posting sebelumnya)?
Dengan mengharuskan pemirsa untuk memilih dua negara, pemirsa pasti memberikan satu pilihannya pada wakil negaranya, dan tempat yang lain (seharusnya) pada penyanyi terbaik (bisa Mike, Mau, atau Jac). Lalu kenapa akhirnya Hady Mirza?
Apa yang terjadi dalam kasus Asian Idol ini hanyalah sebuah mind game yang saya namakan dengan “kerugian menjadi yang terbaik”. Ketika pemirsa akan mem-vote, pada awalnya dia akan berpikir untuk memberikan tempat pada Mike, Mau, atau Jac. Namun pada detik berikutnya, dia akan berpikir “Mereka kan bagus banget. Yang lain pasti udah milih mereka. Vote yang lain aja-lah”. Akhirnya mereka pun mem-vote pilihan ketiga mereka (setelah wakil negara dan kualitas suara terbaik). Dan akhirnya, bila pilihan pertama berdasarkan wakil negara, lalu pilihan kedua berdasarkan kualitas suara, pilihan ketiga mereka tentu tidak lagi berdasarkan kedua faktor tersebut, bisa berbagai macam alasan yang muncul. Dalam kasus Asian Idol, tampaknya faktor appearance yang akhirnya memegang peranan penting.
Terlepas dari itu, Congratz buat Hady Mirza. Salut buat RCTI!! Penyelenggaraan Asian Idol di Jakarta merupakan sarana promosi yang bagus buat negara ini. (maaf.. endingnya menyedihkan banget.. hehe)
Update: Di milis Forum Pembaca Kompas ada analisis yang berkebalikan dengan analisis di atas. Dengan mekanisme untuk memilih 2 negara, bukannya mereka akan memilih wakil negara dan tempat lain diberikan untuk penyanyi terbaik, voter akhirnya memutuskan memberikan tempat pada idol yang kemungkinan menangnya paling kecil (suaranya paling ancur dan jumlah populasi negaranya paling sedikit, yakni Hady Mirza) dengan harapan mempermudah jalan Idol dari negara mereka. Untuk referensi, sama seperti di posting sebelumnya, Mas Dendi memberikan referensi yang sangat relevan di sini.
Dengan mengharuskan pemirsa untuk memilih dua negara, pemirsa pasti memberikan satu pilihannya pada wakil negaranya, dan tempat yang lain (seharusnya) pada penyanyi terbaik (bisa Mike, Mau, atau Jac). Lalu kenapa akhirnya Hady Mirza?
Apa yang terjadi dalam kasus Asian Idol ini hanyalah sebuah mind game yang saya namakan dengan “kerugian menjadi yang terbaik”. Ketika pemirsa akan mem-vote, pada awalnya dia akan berpikir untuk memberikan tempat pada Mike, Mau, atau Jac. Namun pada detik berikutnya, dia akan berpikir “Mereka kan bagus banget. Yang lain pasti udah milih mereka. Vote yang lain aja-lah”. Akhirnya mereka pun mem-vote pilihan ketiga mereka (setelah wakil negara dan kualitas suara terbaik). Dan akhirnya, bila pilihan pertama berdasarkan wakil negara, lalu pilihan kedua berdasarkan kualitas suara, pilihan ketiga mereka tentu tidak lagi berdasarkan kedua faktor tersebut, bisa berbagai macam alasan yang muncul. Dalam kasus Asian Idol, tampaknya faktor appearance yang akhirnya memegang peranan penting.
Terlepas dari itu, Congratz buat Hady Mirza. Salut buat RCTI!! Penyelenggaraan Asian Idol di Jakarta merupakan sarana promosi yang bagus buat negara ini. (maaf.. endingnya menyedihkan banget.. hehe)
Update: Di milis Forum Pembaca Kompas ada analisis yang berkebalikan dengan analisis di atas. Dengan mekanisme untuk memilih 2 negara, bukannya mereka akan memilih wakil negara dan tempat lain diberikan untuk penyanyi terbaik, voter akhirnya memutuskan memberikan tempat pada idol yang kemungkinan menangnya paling kecil (suaranya paling ancur dan jumlah populasi negaranya paling sedikit, yakni Hady Mirza) dengan harapan mempermudah jalan Idol dari negara mereka. Untuk referensi, sama seperti di posting sebelumnya, Mas Dendi memberikan referensi yang sangat relevan di sini.
Monday, November 5, 2007
Cewek/Cowok Tidak Baik Atau Cewek/Cowok Baik-Baik?
Judul di atas adalah sebuah pertanyaan yang menarik untuk dijawab, terutama di zaman sekarang di mana sulit untuk membedakan antara kedua kelompok kategori orang seperti itu. Saya rasa, saya tidak perlu untuk mendefinisikan apa yang dimaksud tidak baik dan apa yang sebaliknya. Tetapi, dalam tulisan ini saya akan mengetengahkan sebuah analisa game theory mengenai hal itu dan bagaimana dampaknya secara ekonomi. Berikut silahkan disimak.
Ackerloff dalam teori mengenai jeruk lemon yang dijual di pasar menjelaskan bahwa sulit untuk mengetahui manakah di antara jeruk yang akan dibeli yang tidak busuk, sebab semua jeruk tampak sama dari kulitnya. Akan tetapi, bila kita ingin mengetahui dalamnya kita perlu mengupas kulit jeruk yang membuat kita terpaksa harus membeli. Tentunya tidak mungkin kita mau membeli jeruk yang busuk setelah kita tahu dalamnya demikian.
Menggunakan logika diatas, maka saya berkesimpulan bahwa bila ada cewek/cowok mengaku dirinya adalah baik-baik, bisa berarti dua, yaitu bener seorang cewek/cowok baik-baik atau cewek/cowok tidak baik yang berpura-pura baik-baik. Akan tetapi, sebaliknya kalo ada cewek/cowok mengaku dirinya adalah tidak baik maka sudah pasti dia itu bukan cewek/cowok baik-baik sebab bila saja ternyata sebenarnya dia itu adalah baik-baik maka dia baru saja berubah menjadi tidak baik karena dia berbohong dengan berpura-pura menjadi tidak baik. Sebab berbohong adalah tidak baik.
Dari kaca mata ekonomi, maka dapat disimpulkan bahwa adalah lebih mahal untuk menghadapi cewek/cowok yang mengaku baik-baik dari pada yang sebaliknya. Sebab kita akan memerlukan biaya lebih untuk mengetahui lebih lanjut apakah dia benar-benar baik-baik atau tidak baik. Kelanjutan dari ini, timbul pertanyaan kedua yaitu apakah ada orang di dunia ini yang tidak menginginkan cewek/cowok baik-baik. Perhatikan, bahwa perlu hati-hati dalam membaca kalimat tadi, sebab tidak menginginkan cewek/cowok baik-baik bukan berarti menginginkan cewek/cowok tidak baik (ingat ilmu statistik mengenai desain hipotesis Ho dan Ha).
Secara keseluruhan, saya berkesimpulan bahwa terasa agak aneh bila ada cewek/cowok mengaku dirinya adalah tidak baik. Satu, sebab dengan demikian akan dapat langsung ditarik kesimpulan bahwa dirinya adalah seorang tidak baik. Kedua, mengapa pula pengakuan itu perlu disebutkan, toh baik atau tidaknya seseorang bisa disimpulkan langsung dari kehidupannya sehari-hari. Rasa-rasanya tidak ada orang yang sanggup “bertopeng” setiap detik dalam hidupnya, dan bila memang dia memutuskan untuk melakukan itu sebenarnya dia sudah berwajah sesuai topeng itu.
Akhir kata, saya hanya mau berpesan bahwa adalah pekerjaan sia-sia untuk mencoba mendefinisikan diri kita termasuk baik-baik atau tidak apalagi sampai menyatakannya ke orang lain, sebab masih banyak pekerjaan lain yang lebih berguna daripada itu. Masih banyak orang diluar sana yang membutuhkan uluran tangan daripada kita berpangku tangan untuk mengetahui kita ini baik-baik atau tidak. Tetapi kemudian pasti akan timbul pertanyaan lanjutan, apakah kalo kita sudah membantu orang atau teman maka kita sudah termasuk kategori baik-baik??? Akh pusing..pusing... stop sampai sini dulu deh. Ok
Cheers,
Carlos
Ackerloff dalam teori mengenai jeruk lemon yang dijual di pasar menjelaskan bahwa sulit untuk mengetahui manakah di antara jeruk yang akan dibeli yang tidak busuk, sebab semua jeruk tampak sama dari kulitnya. Akan tetapi, bila kita ingin mengetahui dalamnya kita perlu mengupas kulit jeruk yang membuat kita terpaksa harus membeli. Tentunya tidak mungkin kita mau membeli jeruk yang busuk setelah kita tahu dalamnya demikian.
Menggunakan logika diatas, maka saya berkesimpulan bahwa bila ada cewek/cowok mengaku dirinya adalah baik-baik, bisa berarti dua, yaitu bener seorang cewek/cowok baik-baik atau cewek/cowok tidak baik yang berpura-pura baik-baik. Akan tetapi, sebaliknya kalo ada cewek/cowok mengaku dirinya adalah tidak baik maka sudah pasti dia itu bukan cewek/cowok baik-baik sebab bila saja ternyata sebenarnya dia itu adalah baik-baik maka dia baru saja berubah menjadi tidak baik karena dia berbohong dengan berpura-pura menjadi tidak baik. Sebab berbohong adalah tidak baik.
Dari kaca mata ekonomi, maka dapat disimpulkan bahwa adalah lebih mahal untuk menghadapi cewek/cowok yang mengaku baik-baik dari pada yang sebaliknya. Sebab kita akan memerlukan biaya lebih untuk mengetahui lebih lanjut apakah dia benar-benar baik-baik atau tidak baik. Kelanjutan dari ini, timbul pertanyaan kedua yaitu apakah ada orang di dunia ini yang tidak menginginkan cewek/cowok baik-baik. Perhatikan, bahwa perlu hati-hati dalam membaca kalimat tadi, sebab tidak menginginkan cewek/cowok baik-baik bukan berarti menginginkan cewek/cowok tidak baik (ingat ilmu statistik mengenai desain hipotesis Ho dan Ha).
Secara keseluruhan, saya berkesimpulan bahwa terasa agak aneh bila ada cewek/cowok mengaku dirinya adalah tidak baik. Satu, sebab dengan demikian akan dapat langsung ditarik kesimpulan bahwa dirinya adalah seorang tidak baik. Kedua, mengapa pula pengakuan itu perlu disebutkan, toh baik atau tidaknya seseorang bisa disimpulkan langsung dari kehidupannya sehari-hari. Rasa-rasanya tidak ada orang yang sanggup “bertopeng” setiap detik dalam hidupnya, dan bila memang dia memutuskan untuk melakukan itu sebenarnya dia sudah berwajah sesuai topeng itu.
Akhir kata, saya hanya mau berpesan bahwa adalah pekerjaan sia-sia untuk mencoba mendefinisikan diri kita termasuk baik-baik atau tidak apalagi sampai menyatakannya ke orang lain, sebab masih banyak pekerjaan lain yang lebih berguna daripada itu. Masih banyak orang diluar sana yang membutuhkan uluran tangan daripada kita berpangku tangan untuk mengetahui kita ini baik-baik atau tidak. Tetapi kemudian pasti akan timbul pertanyaan lanjutan, apakah kalo kita sudah membantu orang atau teman maka kita sudah termasuk kategori baik-baik??? Akh pusing..pusing... stop sampai sini dulu deh. Ok
Cheers,
Carlos
Subscribe to:
Posts (Atom)
