Sunday, May 8, 2011
Hingar Bingar KTT
Tetapi pertanyaan selalu muncul tentang, APAKAH GUNANYA MEMBUAT SEBUAH KTT?
ada golongan yang optimis, ada pesimis dan ada yang netral..
Optimis bilang, ini adalah cara untuk bertemu berkomunikasi dan menyelesaikan masalah serta mengatur rencana kedepan. Pesimis bilang KTT cuma buang uang saja dan hanya memberi kemewahan untuk para peserta KTT. Netral berpikir untuk tidak ambil pikir mengenai KTT yang penting "life goes on" aja.
terserah Anda mau berpikir bagaimana tentang KTT, yang pasti semua yang terlibat di KTT bukan untuk senang-senang dan semoga hasilnya bisa dipakai untuk kemajuan kehidupan masyarakat.
Tuesday, December 21, 2010
Indonesia, 1 Jan 2011
Issues intra the region have actually already been endless matters among members. Myanmar political situation, border conflicts between Indonesia-Malaysia-Singapore, and poverty eradication in almost all the members are parts of them. So, if intra problems are a concentration absorber, how can this cooperation has time and mind to answer global challenges?
Strategically, If ASEAN want to take advantage over current global condition, it must start with economic self sustainability. ASEAN market is huge market, maybe one of the big five in the world. Sustainability would be formed if intra production and consumption in the region have reached more than 50%. Moreover, intra-industry trade relation must also reach over 80%. Most importantly, inter-regional investment must increase in steady growth toward a border-less investment activity among members.
I think, the practical measure for this is when ASEAN citizen proudly answer question about their nationality by saying "I am an ASEANese". So, conclusively speaking, Mr. Chairman has so much work to do, although so little time to spend. Congratulation for Indonesia, and hope best for the leadership next year.
Monday, December 21, 2009
The Momentum of Indonesia's Economic Recovery
my short paper just published in Elcano Royal Institute website. Elcano Royal Instute is one of think-tanks in Madrid, Spain.
This paper just wants to describe the recent economic condition in Indonesia, specifically about its economic growth and trade performance. If you interested to read it, just click or copy paste this link: http://www.realinstitutoelcano.org/wps/portal/rielcano_eng/Content?WCM_GLOBAL_CONTEXT=/elcano/elcano_in/zonas_in/ari167-2009
Herewith I also enclosed the theme and summary.
Theme: It is clear that no single country can be immune from the global recession, including Indonesia. The impact on the latter has distorted some of its economic indicators, especially growth and trade. In line with the efforts made by its government to handle the crisis, Indonesia held elections, both legislative and presidential, in 2009. This ARI looks at the implications of the elections and the prospects for Indonesia’s economy after them.
Summary: After experiencing an economic downturn in the second half of 2008, Indonesia’s economic recovery has begun to show some momentum following the legislative elections of 9 April 2009 and the presidential elections of 8 July 2009. Indonesia’s government was quick to respond to the crisis by combining both monetary and fiscal policy instruments in order to minimise the effects of the global crisis. Swift action and a lack of panic in handling the impact since August 2008 have made all the difference. Indonesia has now become far more dependent on its own spending as an engine of growth.
I hope it will be useful. I am sorry for not being active to this blog recently.Fajar
Friday, April 4, 2008
ASEAN Jangan Takuti AS Krisis
AS yang merupakan tujuan ekpor utama negara-negara di Asia Tenggara, tentu membuat khawatir para pengambil kebijakan kawasan ini bila tiba-tiba mengalami krisis. “Jika perekonomian di AS suram, daya beli masyarakatnya melemah. Ini membuat permintaan akan produk dari Asia Tenggara menurun sehingga menekan volume ekspor Asia Tenggara”, begitulah saya kutip dari kompas hari ini (Jumat, 4 April 2008 hal 11).
Pertanyaannya, apa itu benar??? Kalo menurut saya tidak! Perlu kita cermati baik-baik bahwa berbeda antara AS mengalami krisis dengan ASEAN mengalami krisis. Pendapatan per kapita AS selama ini berada diatas negara-negara ASEAN, jadi bila AS krisis maka paling buruk-buruknya pendapatan per kapita AS akan jadi sederajat dengan ASEAN (itu pun rada mustahil terdengar), lalu bila AS krisis maka proses produksi di dalam negerinya akan sangat terganggu, sehingga demand mereka pun ikut menurun. Tapi pertanyaannya, sampai berapa lama demand menurun? Cepat atau lambat demand mesti dipenuhi. Hal inilah yang menurut saya, akan mendorong subtitusi demand AS dari barang kualitas tinggi (notabene harga tinggi) ke barang kualitas lebih rendah (harga juga lebih rendah) dengan utilitas yang sama. Untungnya barang-barang seperti ini banyak di kawasan kita. Jadi saya menduga, bila AS krisis maka ekspor ASEAN ke AS akan meningkat. Bahkan mungkin akan terjadi diversion demand AS dari kawasan Eropa ke ASIA Timur dan Tenggara. Yang sebenernya kondisi ini sudah ter-refleksi dari sekarang pada current account balance AS yang terus menerus makin defisit untuk beberapa tahun belakangan.
Intinya, saya hanya mau bilang, bahwa ASEAN gak usah repot soal ekspor bila AS benar-benar mengalami krisis. Teruskan saja aktivitas sebagaimana biasanya, dan siap-siaplah menerima Winfall yang akan jatuh ke kita.
Tuesday, January 29, 2008
Bagai Menjual Pisang pada Penanam Pisang (suatu pengantar untuk diskusi jumat)
Semenjak terhentinya negosiasi putaran Doha, negara-negara di dunia semakin yakin untuk mengambil langkah taktis dengan membentuk kerjasama-kerjasama perdagangan di luar skema multilateral WTO. Asia tenggara yang terdiri atas 9 negara berkembang dan 1 negara maju (Singapura) pun sepakat untuk membentuk ASEAN-Free Trade Area atau yang lebih dikenal sebagai AFTA di tahun 1992.
Salah satu wujud konkrit dari AFTA adalah program penurunan tarif impor di masing-masing negara ASEAN hingga dibawah 5% selama suatu rentang waktu yang disepakati kemudian. Namun, muncul pertanyaan lanjutan dari program ini, yaitu produk macam apa yang akan menjadi komoditi utama dalam perdagangan antar negara-negara yang sebagian besar masih bersifat agraris ini?
Menjadi sebuah negara yang agraris, tentu produk andalannya tidaklah jauh-jauh dari produk agrikultur (pertanian), tetapi sulit rasanya untuk berdagang suatu barang yang negara partner dagang dapat pula memproduksinya. Seperti bunyi judul pada tulisan ini, “Jual Pisang pada Penanam Pisang”. Untuk itu, diperlukan kecerdasan dan kreativitas dalam mendifferensiasi produk agrikultur yang diperdagangkan di antara negara-negara ASEAN. Ambil contoh pisang; sebaiknya yang diperdagangkan bukanlah wujud pisang sisir lagi, namun produk pisang yang sudah semi-olah atau benar-benar hasil olahan (contohnya pisang goreng).
Bukti empiris menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan demand (diwakili efek negara) dan supply (diwakili efek kompetisi) dari perdagangan produk agro-industri (HS21) Indonesia di pasar ASEAN, sedang produk agrikultur lainnya relatif tidak banyak berubah bahkan ada juga yang semakin menurun antara sebelum krisis dibanding setelah krisis. Proses yang bersifat positif ini ditunjukkan oleh keberadaan bubble HS 21 di kuadran 1 pada grafik masa setelah krisis padahal sebelum krisis tidak tampak. Dalam hal ini, besar bubble mewakili pangsa pasar produk di pasar ASEAN. Semakin besar maka semakin besar pula pangsa pasarnya.
Dengan mulai memfokuskan diri kepada produk agri-industri maka Indonesia juga semakin menunjang proses terciptanya ASEAN Production Network, sehingga wilayah ASEAN dapat menjadi sebuah kesatuan “pabrik” ukuran raksasa yang memproduksi produk-produk unggulan yang bisa bersaing di regional lain. Meski impian ini terasa masih jauh untuk terwujud tetapi lagi-lagi bukti empiris menunjukkan bahwa kita memang sedang mengarah kesana. Hal ini ditandai oleh semakin meningkatnya Intra-regional trade produk pertanian di pasar ASEAN padahal regional lain sebaliknya sedang mengalami penurunan.
[Persentase Perdagangan Intra-Regional Produk-produk Pertanian ASEAN dan regional lainnya, 1995-2006]
Tuesday, November 20, 2007
Menggugat Proses Globalisasi ???
Seperti kita telah ketahui bersama, basis dari globalisasi adalah mekanisme pasar. Artinya, alokasi sumber daya sepenuhnya diserahkan kepada pasar dan equilibrium akan sendirinya ditentukan melalui apa yang disebut dengan “the invisible hand”. Di sisi lain, segala bentuk intervensi terhadap pasar akan menyebabkan terjadinya distorsi sehingga alokasi yang ada menjadi tidak optimal.
Dalam proses globalisasi yang terjadi saat ini, ada satu lembaga, yakni WTO yang sangat berperan di dalamnya. WTO disini berperan sebagai lembaga internasional yang mengurusi aturan perdagangan internasional antar-negara. Tentunya, bila kita merujuk pada mekanisme pasar, keberadaan WTO jelas sebuah bentuk intervensi dan merupakan distorsi terhadap mekanisme pasar.
Ketika pemikiran ini saya ungkapkan kepada seseorang, seseorang tersebut berpendapat: “WTO diperlukan untuk mengatur negara-negara supaya mampu mengurangi tariff perdagangan mereka”.
Seandainya memang itu benar, apa yang diungkapkan tersebut juga jelas menyalahi semangat mekanisme pasar. Bila kita menganggap dunia ini adalah sebuah pasar besar dengan negara-negara sebagai individu pelaku pasarnya, sudah seharusnya masing-masing individu diberikan kebebasan untuk menentukan jalannya masing-masing. Biarkan saja bila ada suatu negara yang memutuskan untuk melakukan proteksi terhadap industri dalam negerinya atau sebaliknya. Tidak perlu diatur-atur karena toh akan ada “the invisible hand” yang akan membawa kepada equilibrium nantinya.
Berdasarkan pemikiran tersebut, sudah jelas pelaksanaan globalisasi sudah menyimpang dari semangat mekanisme pasar.
Lalu apakah kita harus berpaling dari globalisasi? Saya kira tidak. Tidak berbeda dengan kasus agama. Ketika kita melihat misalkan seseorang beragama A mabok atau main wanita, kita tidak bisa menyalahkan agama A tersebut karena agama A pasti mengajarkan nilai-nilai yang baik.
Ketika proses globalisasi telah menyimpang, kita juga tidak harus berpaling dari globalisasi itu sendiri. Kita telah belajar, baik di ekonomi internasional 1 dan ekonomi internasional 2, bagaimana globalisasi memberikan dampak yang baik. Artinya, tanpa perlu memperhatikan bagaimana negara lain, tanpa perlu ada WTO, tanpa perlu saling mengatur, kita dengan tegas, kalau perlu menjadi garda terdepan dalam memajukan globalisasi, melepaskan hambatan-hambatan perdagangan yang ada.
Dengan begitu kita pun kembali pada semangat original dari mekanisme pasar dan proses globalisasi akhirnya mengalami pemurnian.

