Sempat lama terpendam di benak saya tentang ketiga kata di atas, doa, spekulasi, dan judi. Tadinya sangat sungkan sekali saya ingin menumpahkannya ke dalam blog ini, namun karena sudah lama absen di forum blog ini, saya beranikan diri untuk menuliskan secuil kata, kalimat, dan paragraf.
Sebagai umat beragama, sudah tidak asing lagi di telinga dan mulut kita tentang apa itu doa. Apabila kita mencari apa arti dari doa, ketika melakukan pencarian di google, banyak sekali saya mendapatkan arti kata doa, antara lain doa adalah senjata orang yang beragama, doa adalah intipati kepada segala ibadah, doa adalah tali penolong, doa adalah denyut jantung, doa adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya, dan lain sebagainya. Anehnya, tak ada satupun definisi doa yang sejalan dengan pikiran saya. Namun, berdasarkan definisi doa yang terakhir, secara implisit dapat dikatakan bahwa doa adalah suatu hal yang tidak dapat dilihat atau diperkirakan sebelumnya.
Sebelum beranjak lebih jauh, selanjutnya saya ingin mendefinisikan arti kata spekulasi. Berdasarkan wikipedia, spekulasi berasal dari bahasa latin, yaitu speculatus, yang merupakan bentuk lampau dari speculari yang memiliki arti "melihat ke depan." Suatu hal yang juga tidak bisa dilihat atau diperkirakan sebelumnya.
Kemudian, kita beralih kepada kata yang sering dianggap tabu di masyarakat, yaitu judi. Judi adalah pertaruhan. Judi seringkali dipakai untuk permainan yang mensyaratkan kepiawaian dan keberuntungan si pemainnya. Judi juga didefinisikan mencoba peruntungan atau mengadu nasib untuk mendapatkan sesuatu yang "lebih". Berdasarkan hal ini, kita juga bisa menganggap judi, lagi-lagi, sebagai suatu hal yang tidak bisa dilihat atau diperkirakan sebelumnya.
Sampailah kita pada bagian akhir dari tulisan ini. Jadi, menurut akal pikiran saya (yang mungkin tidak terlalu sehat kali ini), tidak ada perbedaan yang mendasar antara doa, spekulasi, dan judi. Ketiga kata tersebut sama-sama mengandung hal yang tidak pasti. Dalam hal ini saya membicarakan masalah output dari ketiga kata tersebut. Maka dari itu, dengan akal pikiran saya yang tidak terlalu sehat kali ini, bisa saya katakan bahwa doa sama halnya dengan spekulasi sama halnya dengan judi adalah riba dan hukumnya haram bagi beberapa umat beragama.
Showing posts with label Islamic Finance. Show all posts
Showing posts with label Islamic Finance. Show all posts
Saturday, July 26, 2008
Tuesday, March 25, 2008
Curhat: Atheis, Islamic Fund dan Randomness Process
Sebenernya sudah lama saya ingin menulis tentang dosen yang satu ini. Namanya David Hampton, PhD di bidang Electrical Engineering plus MBA dari ESCP-EAP, sekaligus juga manager untuk sebuah CTA Fund(Commodity Trading Advisor Fund) yang bulan Februari kemarin merupakan fund dengan second best return di seluruh dunia. Dia ini mengajar Quantitative Method in Finance dan Advanced Global Risk Management di program yang saya ikuti sekarang. Pintar dan jenius, meski sering pula ngajarnya tidak terstruktur (gejala terlalu pinter kali ya?).
Dosen saya ini juga seorang Atheis. Dia tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Apa yang ada bagi dia adalah segala sesuatu yang bisa dibuktikan secara empiris, misalnya lewat sebuah uji hipotesis. Menurut dia, karena eksistensi Tuhan tidak bisa diuji lewat sebuah hypotesis testing, maka membicarakan eksistensi Tuhan adalah sesuatu yang tidak relevan. Bagaimana Anda bisa beranggapan bahwa Tuhan itu ada, sedangkan untuk menguji eksistensinya saja tidak dimungkinkan ?
Hari kamis sore kemarin, dosen saya ini kembali mengungkit-ungkit soal ideologi keatheisannya. Kemudian dia membandingkan CTA Fund performance-nya dengan beberapa index fund yang lain, termasuk Global Islamic Index Fund-nya Dow Jones. Di situ dia menunjukkan bahwa, Global Islamic Fund ternyata punya volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan CTA Fund-nya dia, dan sharpe ratio-nya juga lebih rendah. "It is not a good investment," simpulnya.
Saya yang sudah agak-agak ngantuk, jadi tertarik mendengar ulasannya. Dia menambahkan, bahwa pelarangan short selling dalam Islamic Finance membuat Islamic Fund tidak memiliki fleksibilitas dalam upaya untuk menurunkan tingkat volatilitas. Hal ini yang menjadi hipotesisnya dia kenapa Global Islamic Fund memiliki volatilitas yang tinggi dan sharpe ratio yang rendah. Tapi saya tidak terima argumennya bahwa short selling bisa menjadi cara yang efektif untuk menurunkan volatilitas hanya jika kita dapat menentukan dengan tepat asset mana yang sudah overvalued dan ke depannya memiliki trend harga yang menurun, dan jika pilihan Anda salah, maka kerugian yang akan Anda dapatkan adalah tidak terbatas. The sky is the limit.
Dan hohohoho...Dosen saya ini sempat terdiam, sebelum kemudian setuju sama pernyataan saya. Tentang hal ini, Nassim Nicholas Taleb, dalam bukunya Fooled by Randomness, mengemukakan sebuah argumen yang menarik. Kita tidak boleh mengukur keberhasilan dari sebuah keputusan hanya sekedar dari output yang dicapai dari keputusan tersebut, tapi juga harus melihat dari sisi biaya jika situasi yang ada ternyata tidak berjalan sesuai dengan keputusan yang diambil. Dalam ilmu ekonomi, metode ini kemudian dikenal dengan "what-if scenarios."
So, kalo Anda sukses melakukan short selling, maka jangan berbangga hati dulu, karena siapa tahu kesuksesan Anda adalah sebuah hasil dari randomness process (baca: keberuntungan). Apa jadinya jika ternyata harga asset yang Anda short selling terus naik? Short selling sendiri dilarang dalam Islam karena tidak boleh menjual barang yang belum Anda miliki. Tapi dari kelas ini ada satu pertanyaan yang sangat menarik bagi saya, terutama karena di kelas ini dosen saya banyak membahas random walk process dalam dunia keuangan. Dalam finance, asumsi bahwa pergerakan harga sebuah aset adalah mengikuti pola yang acak, atau dikenal dengan random walk process atau brownian motion dalam dunia fisika. Dengan kata lain, adalah sangat mustahil untuk bisa memprediksi harga sebuah asset di masa depan.
Implikasinya, dalam dunia asset management, sangat sulit bagi seorang fund manager untuk bisa mengalahkan return pasar secara konsisten dan signifikan. Penelitian dari dosen saya yang disebutkan diatas juga membuktikan bahwa, nilai alpha, yang menunjukkan skill seorang fund manager dalam mengalahkan return pasar, ternyata sangat kecil dan cenderung tidak signifikan.
Dari sini saya mulai mengkonfrontasikan dengan keyakinan yang selama ini saya anut, bahwa segala yang berjalan di dunia ini sebenarnya sudah ditentukan oleh Tuhan. Jika process randomness ini memang terjadi, tentunya, dalam kerangka pemahaman manusia, tidak ada kehendak Tuhan dalam pasar, karena ternyata pasar bergerak secara acak. Atau karena pemahaman manusia yang sangat terbatas untuk menyadari bahwa process acak ini sesungguhnya adalah sebuah proses berpola dalam kehendak Tuhan?
Septian, sedang studi mengambil Master of Science in International Finance, CERAM Sophia Antipolis, Perancis.
Dosen saya ini juga seorang Atheis. Dia tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Apa yang ada bagi dia adalah segala sesuatu yang bisa dibuktikan secara empiris, misalnya lewat sebuah uji hipotesis. Menurut dia, karena eksistensi Tuhan tidak bisa diuji lewat sebuah hypotesis testing, maka membicarakan eksistensi Tuhan adalah sesuatu yang tidak relevan. Bagaimana Anda bisa beranggapan bahwa Tuhan itu ada, sedangkan untuk menguji eksistensinya saja tidak dimungkinkan ?
Hari kamis sore kemarin, dosen saya ini kembali mengungkit-ungkit soal ideologi keatheisannya. Kemudian dia membandingkan CTA Fund performance-nya dengan beberapa index fund yang lain, termasuk Global Islamic Index Fund-nya Dow Jones. Di situ dia menunjukkan bahwa, Global Islamic Fund ternyata punya volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan CTA Fund-nya dia, dan sharpe ratio-nya juga lebih rendah. "It is not a good investment," simpulnya.
Saya yang sudah agak-agak ngantuk, jadi tertarik mendengar ulasannya. Dia menambahkan, bahwa pelarangan short selling dalam Islamic Finance membuat Islamic Fund tidak memiliki fleksibilitas dalam upaya untuk menurunkan tingkat volatilitas. Hal ini yang menjadi hipotesisnya dia kenapa Global Islamic Fund memiliki volatilitas yang tinggi dan sharpe ratio yang rendah. Tapi saya tidak terima argumennya bahwa short selling bisa menjadi cara yang efektif untuk menurunkan volatilitas hanya jika kita dapat menentukan dengan tepat asset mana yang sudah overvalued dan ke depannya memiliki trend harga yang menurun, dan jika pilihan Anda salah, maka kerugian yang akan Anda dapatkan adalah tidak terbatas. The sky is the limit.
Dan hohohoho...Dosen saya ini sempat terdiam, sebelum kemudian setuju sama pernyataan saya. Tentang hal ini, Nassim Nicholas Taleb, dalam bukunya Fooled by Randomness, mengemukakan sebuah argumen yang menarik. Kita tidak boleh mengukur keberhasilan dari sebuah keputusan hanya sekedar dari output yang dicapai dari keputusan tersebut, tapi juga harus melihat dari sisi biaya jika situasi yang ada ternyata tidak berjalan sesuai dengan keputusan yang diambil. Dalam ilmu ekonomi, metode ini kemudian dikenal dengan "what-if scenarios."
So, kalo Anda sukses melakukan short selling, maka jangan berbangga hati dulu, karena siapa tahu kesuksesan Anda adalah sebuah hasil dari randomness process (baca: keberuntungan). Apa jadinya jika ternyata harga asset yang Anda short selling terus naik? Short selling sendiri dilarang dalam Islam karena tidak boleh menjual barang yang belum Anda miliki. Tapi dari kelas ini ada satu pertanyaan yang sangat menarik bagi saya, terutama karena di kelas ini dosen saya banyak membahas random walk process dalam dunia keuangan. Dalam finance, asumsi bahwa pergerakan harga sebuah aset adalah mengikuti pola yang acak, atau dikenal dengan random walk process atau brownian motion dalam dunia fisika. Dengan kata lain, adalah sangat mustahil untuk bisa memprediksi harga sebuah asset di masa depan.
Implikasinya, dalam dunia asset management, sangat sulit bagi seorang fund manager untuk bisa mengalahkan return pasar secara konsisten dan signifikan. Penelitian dari dosen saya yang disebutkan diatas juga membuktikan bahwa, nilai alpha, yang menunjukkan skill seorang fund manager dalam mengalahkan return pasar, ternyata sangat kecil dan cenderung tidak signifikan.
Dari sini saya mulai mengkonfrontasikan dengan keyakinan yang selama ini saya anut, bahwa segala yang berjalan di dunia ini sebenarnya sudah ditentukan oleh Tuhan. Jika process randomness ini memang terjadi, tentunya, dalam kerangka pemahaman manusia, tidak ada kehendak Tuhan dalam pasar, karena ternyata pasar bergerak secara acak. Atau karena pemahaman manusia yang sangat terbatas untuk menyadari bahwa process acak ini sesungguhnya adalah sebuah proses berpola dalam kehendak Tuhan?
Septian, sedang studi mengambil Master of Science in International Finance, CERAM Sophia Antipolis, Perancis.
Labels:
Financial Economics,
Islamic Finance,
Religion
Subscribe to:
Posts (Atom)
