UU Badan Hukum Pendidikan(BHP) baru saja disahkan oleh DPR. Mahasiswa menolak pengesahannya sebab khawatir akan meningkatnya biaya perkuliahan. Silahkan dibaca disini.
Sedangkan di sisi lain, anggaran pendidikan sudah naik jadi 20 persen dari APBN (artikelnya baca disini).
Lantas, bagaimana paradox ini bisa terjadi? Apakah UU BHP benar-benar dibutuhkan? Lalu dengan kondisi dimana UU BHP saat ini sudah disahkan dan subsidi ke PT akan dicabut, bagaimanakah anggaran pendidikan akan digunakan?
Showing posts with label Education. Show all posts
Showing posts with label Education. Show all posts
Wednesday, December 17, 2008
Tuesday, January 15, 2008
“Tolong menolong” vs. “Kerjasama”
Sejak SD atau bahkan TK, kita sering dijejali asas dalam kehidupan rakyat Indonesia yang konon merupakan derivatif dari Pancasila, yaitu “tolong-menolong”, “kekeluargaan” atau “gotong royong”. Asas ini merupakan cerminan dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak dulu yang roughly harus dipertahankan, demi budaya dan kepribadian nasional. Mungkin juga nilai ini sengaja ditanamkan untuk meningkatkan persatuan pada rakyat Indonesia yang sejak dulu termakan politik devide et impera.
Bila kita menengok fenomena sosial yang ada saat ini, cenderung yang ada bukanlah tolong menolong, namun “ingin ditolong”. Seolah-olah, segenap elemen masyarakat seperti itu, terutama masyarakat ekonomi menengah bawah. ”Tolong menolong” yang bersifat dualistik telah salah diartikan sebagai “pasti ada yang menolong saya”. Repotnya, jika setiap orang ingin ditolong, lantas siapakah yang menolong? Sampai melonglong pun ya tidak ada dong.
Sebagai contohnya, seringkali kita melihat orang meminta-minta di jalanan, padahal kondisi tubuhnya masih segar bugar. Perilaku “ingin ditolong” ini sudah dipandang layaknya bisnis yang lumrah, yang mempertimbangkan skill nggak penting seperti teknik pura-pura cacat, teknik pasang muka penjahat, dll - harusnya mereka melamar kepada Raam Punjabi. Bahkan, seringkali ”bisnis” ini disangkutpautkan kepada masalah religius. Pernah suatu hari Ayah saya mengatakan kepada peminta sumbangan yang berasal dari pesantren, “gimana sih, mestinya pesantren itu membuat usaha untuk mendapatkan uang”. Sesudah itu mereka menjawab, “Lho, meminta sumbangan ini kan usaha mencari uang Pak”.
Perilaku ini juga menyebabkan berbagai derivasi kelakuan yang tidak pada tempatnya, antara lain kecenderungan untuk menyalahkan orang lain, bukan mengintrospeksi diri sendiri. Sudah satu dekade reformasi berlangsung, hal yang sering kita temukan masih saja kritik-kritik minim solusi yang dilontarkan kepada pemerintah. Selalu saja koruptor disalahkan oleh seseorang secara tendensius atas nasibnya yang kurang beruntung. Padahal dia sendiri dalam kerjanya diselingi kegiatan merokok dan ngobrol nggak karuan setiap setengah jam. Saya sangat setuju bila koruptor bersalah, namun harus ada struggle yang dilakukan mas-mas tersebut untuk memperbaiki kehidupannya. Hal yang dapat menjadi salah satu indikator dari kecenderungan menyalahkan orang lain ini adalah demonstrasi yang tidak jelas juntrungannya, yang saat ini semakin marak. Era reformasi pun menjadi momentum bagi kecenderungan ini.
Sebagai perbandingan, Jepang tidak mengenal istilah “tolong menolong”, sebaliknya, mereka mempunyai asas “kerjasama”. Bila kita melihat dari performa aktual, jelas Jepang mempunyai kinerja yang jauh lebih besar dari masyarakat Indonesia yang sering dikatakan pemalas, bahkan sering saya mendengar orang asing yang bekerja dengan seorang Indonesia mengatakan “Indonesian is shit” karena dianggap pemalas. Suatu pernyataan yang membuat saya panas.
“Kerjasama” mungkin telah memberikan stimulus pada setiap orang Jepang untuk memberikan kontribusi individual atas suatu pekerjaan. “Tolong menolong” dan “kerjasama” terlihat mirip dari sisi pengertian namun dapat menjadi sangat berbeda dari sisi implementasinya. ”Tolong menolong” dapat memberikan pemikiran ”harus ada yang menolong saya”, sebaliknya, ”kerjasama” secara jelas memberikan arti bahwa setiap individu harus memberikan kontribusi, setiap orang memiliki tanggung jawab individual atas suatu pekerjaan.
Sebenarnya, konsep kerjasama ini telah ada pada “gotong royong”, namun asas yang satu ini menurut saya tidak secara mendalam dipahami oleh masyarakat, dan lebih sering dipakai pada kegiatan nggak penting seperti kegiatan pembersihan saluran got se-RT, bukan untuk sesuatu yang lebih besar.
Kesimpulan dari tulisan ad hoc ini adalah juga ad hoc. Perlu adanya pelurusan padangan masyarakat dari konsep tolong-menolong, sehingga setiap individu mengintrospeksi diri dan berusaha berkontribusi sebaik-baiknya dalam bidangnya masing-masing. Daripada menuntut dan mengkritik, lebih baik memberikan solusi dan berkontribusi dalam suatu pembaruan. Hal sekecil ini pada akhirnya mungkin dapat menolong disparitas pendapatan Indonesia yang sudah semakin parah dan juga pertumbuhan ekonomi Indonesia yang seharusnya lebih tinggi dari sekarang.
Bila kita menengok fenomena sosial yang ada saat ini, cenderung yang ada bukanlah tolong menolong, namun “ingin ditolong”. Seolah-olah, segenap elemen masyarakat seperti itu, terutama masyarakat ekonomi menengah bawah. ”Tolong menolong” yang bersifat dualistik telah salah diartikan sebagai “pasti ada yang menolong saya”. Repotnya, jika setiap orang ingin ditolong, lantas siapakah yang menolong? Sampai melonglong pun ya tidak ada dong.
Sebagai contohnya, seringkali kita melihat orang meminta-minta di jalanan, padahal kondisi tubuhnya masih segar bugar. Perilaku “ingin ditolong” ini sudah dipandang layaknya bisnis yang lumrah, yang mempertimbangkan skill nggak penting seperti teknik pura-pura cacat, teknik pasang muka penjahat, dll - harusnya mereka melamar kepada Raam Punjabi. Bahkan, seringkali ”bisnis” ini disangkutpautkan kepada masalah religius. Pernah suatu hari Ayah saya mengatakan kepada peminta sumbangan yang berasal dari pesantren, “gimana sih, mestinya pesantren itu membuat usaha untuk mendapatkan uang”. Sesudah itu mereka menjawab, “Lho, meminta sumbangan ini kan usaha mencari uang Pak”.
Perilaku ini juga menyebabkan berbagai derivasi kelakuan yang tidak pada tempatnya, antara lain kecenderungan untuk menyalahkan orang lain, bukan mengintrospeksi diri sendiri. Sudah satu dekade reformasi berlangsung, hal yang sering kita temukan masih saja kritik-kritik minim solusi yang dilontarkan kepada pemerintah. Selalu saja koruptor disalahkan oleh seseorang secara tendensius atas nasibnya yang kurang beruntung. Padahal dia sendiri dalam kerjanya diselingi kegiatan merokok dan ngobrol nggak karuan setiap setengah jam. Saya sangat setuju bila koruptor bersalah, namun harus ada struggle yang dilakukan mas-mas tersebut untuk memperbaiki kehidupannya. Hal yang dapat menjadi salah satu indikator dari kecenderungan menyalahkan orang lain ini adalah demonstrasi yang tidak jelas juntrungannya, yang saat ini semakin marak. Era reformasi pun menjadi momentum bagi kecenderungan ini.
Sebagai perbandingan, Jepang tidak mengenal istilah “tolong menolong”, sebaliknya, mereka mempunyai asas “kerjasama”. Bila kita melihat dari performa aktual, jelas Jepang mempunyai kinerja yang jauh lebih besar dari masyarakat Indonesia yang sering dikatakan pemalas, bahkan sering saya mendengar orang asing yang bekerja dengan seorang Indonesia mengatakan “Indonesian is shit” karena dianggap pemalas. Suatu pernyataan yang membuat saya panas.
“Kerjasama” mungkin telah memberikan stimulus pada setiap orang Jepang untuk memberikan kontribusi individual atas suatu pekerjaan. “Tolong menolong” dan “kerjasama” terlihat mirip dari sisi pengertian namun dapat menjadi sangat berbeda dari sisi implementasinya. ”Tolong menolong” dapat memberikan pemikiran ”harus ada yang menolong saya”, sebaliknya, ”kerjasama” secara jelas memberikan arti bahwa setiap individu harus memberikan kontribusi, setiap orang memiliki tanggung jawab individual atas suatu pekerjaan.
Sebenarnya, konsep kerjasama ini telah ada pada “gotong royong”, namun asas yang satu ini menurut saya tidak secara mendalam dipahami oleh masyarakat, dan lebih sering dipakai pada kegiatan nggak penting seperti kegiatan pembersihan saluran got se-RT, bukan untuk sesuatu yang lebih besar.
Kesimpulan dari tulisan ad hoc ini adalah juga ad hoc. Perlu adanya pelurusan padangan masyarakat dari konsep tolong-menolong, sehingga setiap individu mengintrospeksi diri dan berusaha berkontribusi sebaik-baiknya dalam bidangnya masing-masing. Daripada menuntut dan mengkritik, lebih baik memberikan solusi dan berkontribusi dalam suatu pembaruan. Hal sekecil ini pada akhirnya mungkin dapat menolong disparitas pendapatan Indonesia yang sudah semakin parah dan juga pertumbuhan ekonomi Indonesia yang seharusnya lebih tinggi dari sekarang.
Monday, October 29, 2007
Biaya Pendidikan dan Prestasi Akademik II (Comment for Letjes)
Kalau yang ditampilkan data negara OECD, tentu sedikit lebih jauh dari ruang teritorial kita Bung Letjes.
Ini beberapa data yang ada di slide-slide kuliah Ekonomi Politik-nya Faisal Basri, dan juga data dari bahan paper untuk Background Paper untuk Kolombo, Sri Langka.
Bagaimana dengan besarnya pengeluaran untuk pendidikan di beberapa negara Asia:

Lalu bagaimana dengan performance penduduk usia sekolah di beberapa negara Asia dan Amerika Latin?

Sekarang, apabila beberapa anak-anak Indonesia sering menjuarai Olimpiade dalam Ilmu Science tentu saja mereka sebenarnya hanyalah outliers dalam rata-rata kemampuan anak-anak di Indonesia. Lihat ini:

Secara index, pendidikan di Indonesia terbilang rendah dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Masih banyak catatan yang perlu diperbaiki mengenai sistem pendidikan di Indonesia, tidak hanya sistem kurikulum yang sering berubah-ubah, namun juga dari segi sarana dan prasarana pendidikan yang lebih baik, terutama untuk aksesnya. Selain itu juga akses penyediaan lapangan pekerjaan berdasarkan tingkat pendidikan juga harus lebih baik, hingga tidak terjadi apa yang dikatakan pemborosan intelektual.

Apa yang saya rasakan selama kuliah, banyak teman-teman daerah dengan keterbatasan ekonomi tapi punya semangat belajar yang tinggi, tapi mengapa banyak teman-teman yang tinggal menjalani hidup dengan kemampuan ekonomi yang lebih baik justru semangat atau spiritnya kurang. Kalau begini terus, pendidikan tinggi terbaik akan banyak terisi oleh orang-orang yang beruntung secara struktural dalam ekonomi.
Ini beberapa data yang ada di slide-slide kuliah Ekonomi Politik-nya Faisal Basri, dan juga data dari bahan paper untuk Background Paper untuk Kolombo, Sri Langka.
Bagaimana dengan besarnya pengeluaran untuk pendidikan di beberapa negara Asia:
Lalu bagaimana dengan performance penduduk usia sekolah di beberapa negara Asia dan Amerika Latin?
Sekarang, apabila beberapa anak-anak Indonesia sering menjuarai Olimpiade dalam Ilmu Science tentu saja mereka sebenarnya hanyalah outliers dalam rata-rata kemampuan anak-anak di Indonesia. Lihat ini:
Secara index, pendidikan di Indonesia terbilang rendah dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Masih banyak catatan yang perlu diperbaiki mengenai sistem pendidikan di Indonesia, tidak hanya sistem kurikulum yang sering berubah-ubah, namun juga dari segi sarana dan prasarana pendidikan yang lebih baik, terutama untuk aksesnya. Selain itu juga akses penyediaan lapangan pekerjaan berdasarkan tingkat pendidikan juga harus lebih baik, hingga tidak terjadi apa yang dikatakan pemborosan intelektual.
Apa yang saya rasakan selama kuliah, banyak teman-teman daerah dengan keterbatasan ekonomi tapi punya semangat belajar yang tinggi, tapi mengapa banyak teman-teman yang tinggal menjalani hidup dengan kemampuan ekonomi yang lebih baik justru semangat atau spiritnya kurang. Kalau begini terus, pendidikan tinggi terbaik akan banyak terisi oleh orang-orang yang beruntung secara struktural dalam ekonomi.
Thursday, October 25, 2007
Biaya Pendidikan dan Prestasi Akademik

Melihat grafik di atas, jadi teringat obrolan YM sama Gaffar kemarin. Tampaknya memang banyak uang bukan berarti akan mampu meningkatkan prestasi akademik seseorang.
Tren yang sama dengan negara-negara tersebut, aku rasa juga terjadi di Indonesia. Semakin mahalnya biaya pendidikan, munculnya jalur khusus, kelas internasional, atau jalur-jalur yang lain, aku yakin tidak meningkatkan kualitas akademis mahasiswa atau murid. Malah bisa jadi sebaliknya.
It's not all about the money..
Subscribe to:
Posts (Atom)
