Showing posts with label Employment. Show all posts
Showing posts with label Employment. Show all posts

Friday, March 5, 2010

Pengangguran dan "Warteg"

Salah satu akibat dari krisis global belakangan ini adalah bertumbuhnya jumlah pengangguran di Indonesia. Lantas bagaimanakah hubungannya jumlah pengangguran dengan jumlah warung/kedai makanan yang suka disebut sebagai "warteg" oleh orang-orang jakarta?

Warteg memang merupakan bisnis relatif mudah untuk di"entry", dilain sisi, harga makanan di warteg sangat terjangkau, sehingga bila ada orang yang sedang mengalami masalah finansial, warteg bisa menjadi solusi untuk mengatasi rasa lapar di perut.

Berikut ini saya melakukan regresi cross-section jumlah pengangguran (dalam ribuan orang) ditiap propinsi terhadap jumlah warung/kedai makanan, dari data podes tahun 2008.



Dari hasil regresi ini maka bisa kita simpulkan bahwa untuk tiap penambahan seribu penganguran maka jumlah warteg yang bertambah adalah sekitar 69 atau 70 warung.

Akan tetapi memang perhitungan ini masih jauh dari kesempurnaan karena semestinya bisa lebih baik lagi kalau ada data time-seriesnya. silakan di komentari oleh kawan-kawan semua, terutama oleh teman-teman yang dulu pernah suka makan di warteg tapi kini gengsi kalo tidak makan di restoran, hehe..

Tuesday, February 3, 2009

Makin Banyak Pekerja yang Sakit, Benarkah?


Hasil survei di beberapa perusahaan di Amerika dan Eropa seperti yang dilansir di The Economist menunjukkan adanya peningkatan cukup pesat mengenai para pekerja kantoran yang mengajukan izin sakit.
Hasil survei ini memang tidak begitu dijelaskan mengenai interpretasi dibalik hasil surveinya dan juga makna yang terkandung di dalamnya. Andai saja dalam survei tersebut ada tercantum Indonesia, sungguh saya penasaran, selain dengan jumlah penduduk yang besar, juga pola bekerja di beberapa instansi pemerintahan yang masih belum disiplin, dan lebih menarik lagi adalah proses perpindahan pekerja dari tempat kerja yang satu ke tempat kerja lainnya.
Yang menarik memang di proses ketika seseorang telah bekerja di suatu tempat, namun masih saja mengikuti proses penerimaan bekerja di tempat lain. Apa motivasinya? Klise saja, selain menawarkan gaji yang lebih tinggi, fasilitas yang lebih baik, tidak akur dengan bos yang sekarang, hingga mengejar tempat yang lebih prestisius.
Untuk pindah, tentu ada sejumlah test yang mesti dilewati, bahkan dengan tahapan yang melelahkan dan panjang, terutama untuk tempat bekerja yang boleh dibilang “bonafit.” Lebih sulit lagi, ketika serangkaian test tersebut dilakukan pada hari-hari yang berdekatan. Sakit, sebuah alasan paling gampang untuk mangkir dari kantor, daripada sejumlah surat cuti yang mesti diajukan, belum lagi menghadapi jatah cuti yang semakin berkurang. Bukankah begitu? Bagi yang sudah bekerja dan masih mencari pekerjaan yang lain, silahkan, kantor Anda memang siap atau tidak siap akan menerima alasan “sakit” Anda. Selamat “sakit,” dan dokter Wawan akan menyambut Anda, alias Wawan-cara….