Thursday, January 24, 2008
Starbucks Offers US$1 Coffee
Tuesday, January 22, 2008
Pemanasan Global dan Posisi Indonesia
Konferensi Perubahan Iklim yang diselenggarakan PBB di Bali berhasil mengeluarkan sebuah kesepakatan yang dinamakan Bali Action Plan. Konferensi yang menghabiskan APBN sebesar Rp115 milliar tersebut masih meninggalkan banyak kejanggalan dan ketidakpuasan diantara negara peserta. Secara umum dapat digambarkan bahwa konferensi tersebut pada dasarnya merupakan pertempuran antara negara-negara Uni Eropa dan negara berkembang dengan Amerika Serikat dan Jepang.
AS dan Jepang enggan memberikan komitmen konkrit untuk mereduksi tingkat emisi karbon dan konsentrasi GRK yang dimilikinya. Sedangkan inti dari Konferensi tersebut adalah kepastian dari negara maju, dalam hal ini AS dan Jepang, untuk memberikan komitmennya.
Immanuel Wallerstein seorang sosiolog terkemuka mengklasifikasikan negara-negara di dunia kedalam tiga kelompok, negara Inti (core), semiperiphery dan periphery. Pengelompokan tersebut apabila dianalogikan kedalam bahasa ekonomi adalah kelompok negara maju (developed country), negara berkembang (developing country) dan negara terbelakang (underdeveloped country). Menurut Wallerstein, kelompok negara inti memegang kendali dunia dalam berbagai aspek seperti ekonomi, politik dan budaya. Sehingga dapat dikatakan bahwa negara-negara seperti AS, Jepang, Negara Uni Eropa, Australia, Selandia Baru dan Kanada (G8) memiliki posisi yang krusial dalam peta kekuatan dunia.
Pada intinya saya ingin mengatakan bahwa sebagai negara periphery yang masih berkutat dengan berbagai permasalahan pertumbuhan ekonomi, Indonesia belum waktunya berbicara mengenai perubahan iklim. Hutan yang indah lestari tidak menghasilkan apa-apa kecuali oksigen yang dinikmati secara gratis oleh dunia. Lebih baik kita manfaatkan seluas-luasnya menjadi sesuatu yang produktif dan meningkatkan kesejahteraan.
Bencana Alam Akibat Ulah Sendiri
Awal tahun ini dibuka dengan headline sebagian besar media massa yang menampilkan berita mengenai banjir yang terjadi akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo. Banjir yang tadinya hanya menenggelamkan Kabupaten Bojonegoro, sekarang telah meluas ke Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik (Kompas, 3/1/2008). Kerugian material akibat banjir ini ditaksir tidak kurang dari puluhan miliar Rupiah. Belum lagi kerugian immateriil berupa korban tewas dan luka berat akibat banjir.
Sebelum berita meluapnya Bengawan Solo menjadi headline, didaerah Jawa Tengah terjadi tanah longsor yang juga menelan korban jiwa. Di Ibukota DKI Jakarta sendiri saat ini sedang dilanda kekhawatiran datangnya banjir seperti di awal 2007. Menarik untuk memahami khususnya bencana banjir dan tanah longsor yang seringkali terjadi di berbagai daerah Di Indonesia. Patut dicermati bahwa berdasarkan data BMG, tingkat curah hujan yang terjadi tidak dapat dikategorikan abnormal. Sehingga perlu dipertanyakan apabila sampai terjadi banjir. Apakah banjir dikategorikan sebagai bencana alam atau sebagai bencana ulah sendiri
Berdasarkan pantauan dari Balai Penelitian dan Kehutanan Surakarta tingkat erosi di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo wilayah Keduang pada 2005 adalah 95 ton per hektar per tahun atau 6 mm pertahun. Pada 2006 erosi meningkat menjadi 105 ton per hektar per tahun atau sekitar 8.5 mm per tahun. Hasil dari erosi ini kemudian terbawa arus dan membentuk sedimentasi di Waduk Gajah Mungkur. Dalam hal ini perlu ditelaah lebih dalam mengenai penyebab dari erosi. Beberapa media massa menulis bahwa pembangunan di sekitar DAS Bengawan Solo dilakukan tanpa proses verifikasi amdal yang memadai. Sehingga terdapat dugaan bahwa telah terjadi perusakan lingkungan di sekitar DAS Bengawan Solo yang kemudian menyebabkan erosi. Apabila fakta penyebab erosi di Bengawan Solo adalah pembangunan yang tidak terencana lalu mengakibatkan meluapnya Bengawan Solo maka patut dipertanyakan apakah ini bencana alam atau bencana alam akibat ulah sendiri. Eksploitasi alam adalah suatu keharusan, namun ada baiknya apabila eksploitasi tersebut dilakukan dengan cerdas. Who cares about the UNFCCC!
Anggaran Pemerintah: Antara Budaya Deadliners dan Korupsi
Tahun 2007 telah berlalu dengan meninggalkan banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah. Sebagian besar pekerjaan rumah tersebut berkaitan dengan agenda Mensejahterakan Rakyat yang berkaitan erat dengan permasalahan ekonomi. Berbicara mengenai permasalahan ekonomi, menarik untuk mengikuti perkembangan terbaru mengenai realisasi anggaran belanja pemerintah. Dalam beberapa teori ekonomi bermazhab Keynesian, anggaran belanja pemerintah atau government expenditure merupakan salah satu variabel penting yang dapat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi.
Sudah menjadi tradisi di instansi pemerintahan bahwa akhir tahun adalah waktu untuk menyelesaikan berbagai urusan yang berkaitan dengan anggaran. Pada umumnya setiap Departemen dan Lembaga Pemerintahan sibuk mempersiapkan DIPA dengan Departemen Keuangan sebagai kasirnya. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, dalam dua minggu terakhir di bulan Desember 2007 terjadi lonjakan realisasi anggaran yang luar biasa. Menurut beliau dalam dua minggu tersebut telah terjadi kenaikan realisasi anggaran sampai sekitar 5 persen dari total realisasi anggaran 2007 atau sebesar Rp3.1 Triliun.
Kecurigaan Menkeu tertuju pada realisasi DAK. Ada beberapa daerah yang sebelumnya menyatakan tidak sanggup melaksanakan proyek fisik, tiba-tiba di akhir tahun mengajukan permohonan pencairan dana. Kecurigaan Menkeu ini dapat dianalisis dari dua sisi. Pertama adalah dengan tetap memegang asas praduga tidak bersalah, atau dengan kata lain pejabat daerah pada akhirnya merasa siap mengerjakan proyek fisik namun entah bagaimana time frame pengerjaannya. Kedua adalah indikasi adanya korupsi pada DAK, dalam artian pejabat daerah telah mampu menjebol sistem pencarian dana pemerintah pusat.
Pertanyaan paling mendasar untuk analisis pertama adalah mengapa pencairan dana baru dilakukan pada akhir tahun. Apabila manajemen waktu diterapkan dengan baik, proses pencairan dana DAK tentu tidak akan terjadi hanya dalam dua minggu terakhir sebelum tahun 2008. Budaya deadline seperti ini acap kali terjadi dikalangan mahasiswa ketika sedang menghadapi ujian atau pengumpulan tugas makalah. Istilah yang sering dipakai adalah SKS atau sistem kebut semalam. Tidak jarang mahasiswa yang menerapkan cara ini mendapat nilai yang baik, karena mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh. Apabila budaya ini berlanjut pada tataran dunia kerja, maka dapat dikatakan bahwa pejabat daerah mengerjakan proyek fisik terlebih dahulu kemudian hal-hal yang berkaitan dengan keuangan dilakukan pada tahap akhir sebelum tutup buku. Seberapa jauh teori ini relevan pada tataran empiris, adalah tugas Badan Pemeriksa Keuangan untuk menyelidikinya. Sampai saat ini, proses audit pencairan dana DAK ini sedang dilakukan oleh BPKP.
Pada analisis yang kedua, dapat dikatakan pada akhirnya pejabat daerah menemukan celah untuk menjebol sistem keuangan pemerintah. Menurut pakar korupsi Prof. Robert J. Klitgaard dari Claremont University, sistem yang diterapkan oleh pemerintah seharusnya dinamis dan mengalami proses perbaikan dari waktu ke waktu (continuous improvement) guna mencegah terjadinya praktek korupsi. Sehingga apabila telah terbukti bahwa terdapat celah dalam sistem yang ada saat ini, maka yang perlu dilakukan adalah melakukan proses perbaikan agar dimasa yang akan datang praktek ini tidak terjadi lagi. Namun demikian, hal ini dapat berimplikasi pada rendahnya pengerjaan proyek fisik karena banyak Pimpinan Proyek (Pimpro) yang enggan mengerjakan proyek.
Menurut saya, Indonesia saat ini belum pada tahap yang tepat untuk berbicara optimum level of corruption, whether it is a grease or sand. Perang melawan korupsi adalah sebuah never ending story karena pelaku korupsi tidak pernah lelah untuk melakukan evolusi dan regenerasi. Ada sebuah pernyataan terkenal dari Bob Marley yang dapat dijadikan amunisi bagi para pejuang kebenaran, pernyataannya kira-kira berbunyi seperti ini:
“People who are trying to destroy the world aren’t going to rest, how can I?”
Kedelai dan Utopisme Revitalisasi Pertanian
Apakah perlu dibuat pelatihan khusus atau kuliah umum mengenai kebijakan? Saya pribadi mengusulkan mata kuliah atau pelatihan yang berjudul "rasionalitas kebijakan" sebagai pedoman para pejabat di pemerintahan yang berkaitan langsung dengan pembentukan program kebijakan.
Monday, January 21, 2008
Benarkah Gaji PNS “Kecil”?
Seperti umum diketahui bahwa Pegawai Negeri Sipil (PNS) mendapatkan gaji yang terbilang kecil dibandingkan pekerja pada sektor swasta, di mana hal ini telah berlangsung beberapa dekade. Studi yang dilakukan dalam paper tersebut mencoba melihat keterkaitan antara kompensasi pada lembaga-lembaga pemerintah dengan swasta dengan menggunakan data Sakernas 1998 dan Susenas 1999.
Pertanyaan sekarang adalah apakah benar gaji PNS itu benar-benar lebih kecil dibandingkan dengan gaji yang didapatkan pegawai di sektor swasta?
Jawaban mengenai hal ini mungkin kita akan serta-merta menjawab bahwa benar terjadi hal demikian. Namun, apabila kita melihat berdasarkan komposisi pegawai pada level pendidikannya, akan menjadi lain kesimpulannya.

Berdasarkan Tabel tersebut, menunjukkan perbandingan pendapatan antara PNS dengan pegawai swasta berdasarkan level pendidikannya. Secara rata-rata, PNS memiliki pendapatan Rp. 414.000 per bulan, melebihi pendapatan pegawai non-PNS dengan rata-rata 274.000 per bulan.
Komposisi PNS selama ini memang mengarah kepada education-intensive dibandingkan pada institusi non-pemerintah. Pada iklim kerja PNS, tingginya level pendidikan menjadi salah satu penentu tingkat level atau strata golongan pegawai.
Ketika data di-break down berdasarkan tingkat pendidikan, ternyata PNS memiliki pendapatan lebih tinggi dibandingkan sektor swasta pada tingkat pendidikan rendah (tingkat pendidikan SMA ke bawah). Sedangkan pada level pendidikan tinggi (Diploma dan Universitas) sektor swasta lebih tinggi dibandingkan PNS.
Jadi, berdasarkan Tabel tersebut dapat ditarik kesimpulan:
Secara umum, mayoritas PNS tidak menerima pendapatan yang lebih rendah dengan pekerja di sektor swasta. Hal ini dikarenakan komposisi PNS dengan level pendidikan rendah jauh lebih besar dibandingkan PNS dengan level pendidikan tinggi. Dengan ini, secara keseluruhan rasio pendapatan sektor swasta terhadap PNS adalah 0,7 : 1. Jika saat ini ada kebijakan untuk meningkatkan gaji PNS, maka rasio tersebut akan semakin besar bagi pendapatan PNS.
Apabila seringkali dikatakan bahwa gaji PNS yang kecil menjadi penyebab terjadinya korupsi yang terjadi pada lembaga-lembaga pemerintahan, hal ini akan menjurus pada sebuah kesimpulan bahwa korupsi bisa jadi lebih banyak dilakukan pada PNS dengan level pendidikan tinggi.
Jadi, level pendidikan tinggi pada PNS memiliki potensi untuk korupsi jauh lebih besar karena opportunity cost mereka lebih besar pula, yaitu pendapatan yang hilang ketika mereka memutuskan menjadi PNS dibandingkan menjadi pekerja swasta.
Kalau ingin melihat perilaku PNS kita saat ini secara umum bisa lihat ilustrasinya di sini.
Friday, January 18, 2008
Intinya Cuma Mau Nomongin tentang Sapi
Memang intinya ngomongin Sapi, tapi cukup menyentil baik sisi ideologi, bisnis, religi, sampe politik internasional....
Entah e-mail ini aslinya dari siapa...saya posting di sini sekedar buat interupsi sejenak dari isi blog ini yang serius melulu.
Berikut isinya:
SOCIALISME
Kau punya 2 sapi.
1 sapi kau berikan untuk tetanggamu.
COMMUNISME
Kau punya 2 sapi.
Negara mengambil alih keduanya dan memberimu 2 kaleng susu.
FASCISME
Kau punya 2 sapi.
Negara mengambil alih keduanya dan menjual susu padamu.
NAZISM
Kau punya 2 sapi.
Negara mengambil keduanya dan menembakmu.
BUREAUCRATISM
Kau punya 2 sapi.
Negara mengambil keduanya
yang satu ditembak
yang satu diperah susunya trus dibuang.
TRADITIONAL CAPITALISM
Kau punya 2 sapi betina.
Kau jual satu, dan beli satu sapi jantan.
Ternakmu bertambah, dan ekonomi tumbuh.
SURREALISM
Kau punya 2 jerapah.
Pemerintah memintamu untuk kursus harmonika.
AN AMERICAN CORPORATION
Kau punya 2 sapi.
Kau jual satu,
dan satunya kau paksa untuk memproduksi susu sebanyak 4 sapi.
Kemudian, kau menyewa konsultan untuk menganalisa mengapa sapinya
mati.
THE ANDERSEN MODEL
Kau punya 2 sapi.
Kau cincang-cincang dua-duanya.
A FRENCH CORPORATION
Kau punya 2 sapi
Kau turun ke jalan, menyusun massa, memblokade jalanan, karena kau
ingin punya 3 sapi.
A JAPANESE CORPORATION
Kau punya 2 sapi.
Kau medesignnya ulang hingga bisa menghasilkan 20 kali lipat susu.
Kemudian kau buat profil kartun sapipintar "Cowkimon" dan menjualnya
ke seluruh dunia.
A GERMAN CORPORATION
Kau punya 2 sapi.
Kau merekayasanya supaya bisa hidup lebih dari 100 tahun, makan cukup sekali
sebulan, dan mereka bisa saling memerah susu sendiri.
AN ITALIAN CORPORATION
Kau punya 2 sapi.
Tapi kau tak tahu dimana mereka.
Kau putuskan untuk makan siang saja.
A RUSSIAN CORPORATION
Kau punya 2 sapi.
Kau menghitungnya dan berandai bagaimana bilamana punya 5 sapi.
Kau menghitungnya lagi dan berandai bagaimana bilamana punya 42 sapi.
Kau menghitungnya lagi dan menemukan bahwa sapimu cuma dua.
Kau berhenti mengitung.
Lalu buka sebotol vodka.
A SWISS CORPORATION
Kau ada 5000 sapi.
Tak satupun adalah milikmu.
Kau mengenakan biaya adaministratif kepada pemiliknya untuk
menyimpannya.
A CHINESE CORPORATION
Kau punya 2 sapi.
Kau punya 300 orang untuk memerah susunya.
Kau nyatakan bahwa tak ada pengangguran, dan nilai produksi susu
tinggi.
Kau menangkap wartawan yang melaporkan kenyataanya.
AN INDIAN CORPORATION
Kau punya 2 sapi.
Kau sembah mereka.
BRITISH CORPORATION
Kau punya 2 sapi.
Dua-duanya sapi gila.
IRAQ CORPORATION
Semua orang berpikir kau punya banyak sapi.
Kau bilang ke meraka kau cuma punya satu.
Tak ada yang percaya.
Maka mereka mengebom daerahmu dan menginvasi negaramu.
Kau masih tak punya sapi satupun. Tapi setidaknya sekarang kau bagian dari demokrasi.
NEW ZEALAND CORPORATION
Kau punya 2 sapi.
Sapi yang di kiri kelihatan sangat atraktif.
AUSTRALIAN CORPORATION
Kau punya 2 sapi.
Bisnis kelihatannya sedang bagus.
Kau tutup kantor dan pergi mencari beer untuk merayakannya.
INDONESIAN CORPORATION
Kau punya 2 sapi.
Dua-duanya curian.
Lalu kau jual dua-duanya.
Kemudian kau simpan uangnya di account non budgeter yang tak jelas.
Kemudian kau gunakan beberapa untuk mendanai kampanye partaimu.
Tapi sebagian besar kau simpan untuk anak cucumu.
MALAYSIAN CORPORATION
Kau punya 2 sapi.
Dua-duanya kau curi dari Indonesia
Tuesday, January 15, 2008
“Tolong menolong” vs. “Kerjasama”
Bila kita menengok fenomena sosial yang ada saat ini, cenderung yang ada bukanlah tolong menolong, namun “ingin ditolong”. Seolah-olah, segenap elemen masyarakat seperti itu, terutama masyarakat ekonomi menengah bawah. ”Tolong menolong” yang bersifat dualistik telah salah diartikan sebagai “pasti ada yang menolong saya”. Repotnya, jika setiap orang ingin ditolong, lantas siapakah yang menolong? Sampai melonglong pun ya tidak ada dong.
Sebagai contohnya, seringkali kita melihat orang meminta-minta di jalanan, padahal kondisi tubuhnya masih segar bugar. Perilaku “ingin ditolong” ini sudah dipandang layaknya bisnis yang lumrah, yang mempertimbangkan skill nggak penting seperti teknik pura-pura cacat, teknik pasang muka penjahat, dll - harusnya mereka melamar kepada Raam Punjabi. Bahkan, seringkali ”bisnis” ini disangkutpautkan kepada masalah religius. Pernah suatu hari Ayah saya mengatakan kepada peminta sumbangan yang berasal dari pesantren, “gimana sih, mestinya pesantren itu membuat usaha untuk mendapatkan uang”. Sesudah itu mereka menjawab, “Lho, meminta sumbangan ini kan usaha mencari uang Pak”.
Perilaku ini juga menyebabkan berbagai derivasi kelakuan yang tidak pada tempatnya, antara lain kecenderungan untuk menyalahkan orang lain, bukan mengintrospeksi diri sendiri. Sudah satu dekade reformasi berlangsung, hal yang sering kita temukan masih saja kritik-kritik minim solusi yang dilontarkan kepada pemerintah. Selalu saja koruptor disalahkan oleh seseorang secara tendensius atas nasibnya yang kurang beruntung. Padahal dia sendiri dalam kerjanya diselingi kegiatan merokok dan ngobrol nggak karuan setiap setengah jam. Saya sangat setuju bila koruptor bersalah, namun harus ada struggle yang dilakukan mas-mas tersebut untuk memperbaiki kehidupannya. Hal yang dapat menjadi salah satu indikator dari kecenderungan menyalahkan orang lain ini adalah demonstrasi yang tidak jelas juntrungannya, yang saat ini semakin marak. Era reformasi pun menjadi momentum bagi kecenderungan ini.
Sebagai perbandingan, Jepang tidak mengenal istilah “tolong menolong”, sebaliknya, mereka mempunyai asas “kerjasama”. Bila kita melihat dari performa aktual, jelas Jepang mempunyai kinerja yang jauh lebih besar dari masyarakat Indonesia yang sering dikatakan pemalas, bahkan sering saya mendengar orang asing yang bekerja dengan seorang Indonesia mengatakan “Indonesian is shit” karena dianggap pemalas. Suatu pernyataan yang membuat saya panas.
“Kerjasama” mungkin telah memberikan stimulus pada setiap orang Jepang untuk memberikan kontribusi individual atas suatu pekerjaan. “Tolong menolong” dan “kerjasama” terlihat mirip dari sisi pengertian namun dapat menjadi sangat berbeda dari sisi implementasinya. ”Tolong menolong” dapat memberikan pemikiran ”harus ada yang menolong saya”, sebaliknya, ”kerjasama” secara jelas memberikan arti bahwa setiap individu harus memberikan kontribusi, setiap orang memiliki tanggung jawab individual atas suatu pekerjaan.
Sebenarnya, konsep kerjasama ini telah ada pada “gotong royong”, namun asas yang satu ini menurut saya tidak secara mendalam dipahami oleh masyarakat, dan lebih sering dipakai pada kegiatan nggak penting seperti kegiatan pembersihan saluran got se-RT, bukan untuk sesuatu yang lebih besar.
Kesimpulan dari tulisan ad hoc ini adalah juga ad hoc. Perlu adanya pelurusan padangan masyarakat dari konsep tolong-menolong, sehingga setiap individu mengintrospeksi diri dan berusaha berkontribusi sebaik-baiknya dalam bidangnya masing-masing. Daripada menuntut dan mengkritik, lebih baik memberikan solusi dan berkontribusi dalam suatu pembaruan. Hal sekecil ini pada akhirnya mungkin dapat menolong disparitas pendapatan Indonesia yang sudah semakin parah dan juga pertumbuhan ekonomi Indonesia yang seharusnya lebih tinggi dari sekarang.
Monday, January 14, 2008
More Laissez Faire?
Pertanyaannya adalah kalau di Indonesia sekarang gimana ya? Seberapa jauh si proses deregulasi dan juga privatisasi yang sudah ada? Bagaimana dampaknya? Evaluasinya seperti apa? Ke depannya seperti apa?
Kalau saya pribadi, dari jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut akan memunculkan sebuah artikel dengan judul Why Indonesia needs much much more laissez faire. Bagaimana menurut Anda?
* Secara khusus saya sangat menunggu jawaban dari Bung Chaikal, Pakasa, dan juga Starbuckers yg lain.. Gimana guys? hehehe.. sekalian meneruskan diskusi kita tentang liberalisasi di Bakul Koffie kemarin.
Sunday, January 13, 2008
Prof. Sadli
| Mungkin ini memang agak terlambat, tetapi ada pepatah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Bila di sini, sini, sini, sini, dan sini adalah kenangan dari mereka yang lebih dekat secara generasi dan personal dengan Prof. Sadli, posting ini adalah kenangan dari seorang lulusan FEUI angkatan 2000-an yang meski jauh, baik secara generasi maupun personal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh figur Prof. Sadli. Bicara tentang Prof. Sadli, memori ini seakan dibawa kembali kepada masa beberapa tahun lalu ketika saya bersama teman-teman Kanopi mengundang beliau untuk menjadi pembicara pada salah satu seminar. Dalam momen tersebut itulah, saya mulai mengenal beliau. Layaknya cinta pada pandangan pertama, rasa kagum terhadap beliau langsung muncul saat itu juga. Di usianya yang sudah jauh di atas rata-rata usia hidup orang Indonesia, Prof. Sadli mampu memberikan pemaparan yang tajam dan sangat sistematis tentang perekonomian Indonesia terkini. Mendengar pemaparan beliau ketika itu, rasanya seperti mendengar sebuah seorang pendongeng yang menceritakan sebuah cerita menarik. Pandangan dan pendengaran ini rasanya tidak bisa lepas dari beliau dan apa yang dipaparkannya. Dalam hati saya berkata: suatu saat nanti saya harus bisa seperti Prof. Sadli. Tetap produktif di usia tua dan mampu menyampaikan apa yang ada di pikiran dengan baik. Selepas seminar itu, mulailah saya rajin browsing-browsing tulisan lama beliau di internet. Selain itu, tulisan beliau yang biasanya dimuat di editorial business news selalu diposting di milis economics dan menjadi bacaan wajib serta selalu ditunggu. Banyak yang bisa dipelajari dari tulisan-tulisan beliau, terutama bagaimana Prof. Sadli, mampu menyampaikan pemikiran ekonominya dengan bahasa-bahasa yang sederhana. Setiap membaca tulisan beliau, kembali dalam hati saya bertekad: suatu saat nanti saya harus bisa menulis seperti Prof. Sadli. Di mata saya, beliau juga haus akan ilmu dan pengetahuan baru. Kesimpulan ini saya ambil setelah datang pada beberapa seminar ISEI, dimana beliau hadir dan duduk paling depan, mendengarkan pemaparan-pemaparan dari narasumber. Bahkan beliau juga tidak segan bertanya dalam sesi tanya-jawab. Benak saya ketika itu pun berkata: Nah saya juga harus seperti ini ni, bahkan seharusnya lebih. Terlepas dari pemikiran ekonomi Pak Sadli, kesederhanaan beliau juga sangat berpengaruh bagi diri saya. Masih jelas dalam ingatan, sebagai seorang bekas menteri, mobil yang mengantarkan beliau ke kampus ketika itu begitu ‘biasa’. Dari cerita teman-teman tentang kondisi rumah, sikap dia, dan keseharian Prof. Sadli juga menunjukkan kesederhanaan dan kesahajaan. Kesan mengenai kesederhanaan Prof. Sadli ini yang menjadi pelengkap dan bagian terpenting kekaguman diri ini terhadap beliau. Melihat kesederhanaan beliau tersebut, ketika itu saya selalu teringat dengan sebutan ‘mafia berkeley’ yang disematkan kepada beliau sebagai salah satu bagiannya. Kemudian pasti saya akan membandingkannya dengan grup ekonom lain yang selalu mengangkat soal rakyat, kerakyatan, dsbnya. Sungguh kontras bedanya!!! Beliau yang dianggap ‘mafia berkeley’, antek-antek Amerika, kaum-kaum liberal yang tidak pernah mementingkan rakyat, ternyata hidup begitu bersahaja. Sementara ekonom-ekonom yang berulang-ulang menyebut soal rakyat, di sisi lain banyak bercerita tentang bagaimana dia sangat cinta dengan jam rolex, punya mobil mewah, harus makan keju tertentu yang mahal harganya, atau salah satu berita terbaru, salah satunya punya istri muda dengan perbedaan umur sangat jauh. Mana yang sebenarnya banyak omong tapi gak ada isi dan aksi, dan mana yang sedikit omong tapi berisi dan penuh aksi tidak sulit dibedakan. Kenyataan itu pada akhirnya selain menjadi motivator diri untuk berbuat yang sama, juga semakin mengukuhkan keyakinan dalam diri mengenai pilihan mazhab ekonomi yang selama ini saya pegang. Akhir kata, kendati hanya mengenal sosok beliau dari jauh dan sangat singkat, tapi apa yang beliau tunjukkan kepada saya sangatlah berharga. Prof. Sadli telah memberikan contoh yang baik bagaimana menjadi seorang ekonom. Selamat jalan Prof. Sadli. Andai saja saya bisa mengenal beliau lebih dekat…. |
Friday, January 11, 2008
Soal Konversi Energi
Sebenarnya bagi saya, kebijakan konversi minyak tanah ke gas awalnya bukanlah ide yang buruk. Kebijakan ini, selain bisa mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi sesuai target bauran energi pemerintah, juga dilakukan dalam usaha untuk mengurangi beban subsidi, terutama dalam hal ini minyak tanah.
Ilustrasinya seperti ini: subsidi minyak tanah melibatkan dua komponen, yakni komponen harga (P) dan volume (Q). Semakin P jauh dari harga pasar (harga internasional), semakin besar subsidi. Sementara untuk Q, semakin banyak minyak tanah yang dikonsumsi, semakin besar pula subsidi. Untuk itu, agar beban subsidi bisa berkurang, pemerintah bisa menaikkan harga atau mengurangi penggunaan minyak tanah dan mengalihkannya ke energi yang lebih rendahnya subsidinya, yakni gas. Mengingat dampak sosial dan penolakan yang keras dari masyarakat bila pilihan pertama yang diambil, maka dari sisi pengambilan kebijakan publik, pilihan dua yang lebih realistis. Namun sayangnya tidak berbuah manis. Pengalihan energi tidak terjadi, chaos terjadi dimana-mana.
Dalam ilmu ekonomi, ada kalanya masuknya pemerintah dapat menciptakan hasil yang lebih baik ketimbang mekanisme pasar. Melihat progress dari pelaksanaan kebijakan ini dari awal hingga sekarang, sayangnya bukan itu yang terjadi atau malah mungkin memang seharusnya itu sama sekali tidak terjadi. Dengan kondisi normal saja dan ceteris paribus, akan sangat susah menentukan dengan tepat berapa sebenarnya Q -- gas yang harus ada dan minyak tanah yang ditarik--. Dari sisi supply mungkin lebih mudah, tetapi dari sisi demand lain lagi. Apalagi kondisi yang ada tidaklah normal, tetapi penuh distorsi yang salah satu sebabnya adalah keberadaan subsidi itu sendiri. (note: kelangkaan minyak tanah yang terjadi saat ini menurut saya penyebab utamanya adalah disparitas minyak tanah subsidi dan nonsubsidi yang mencapai Rp 6000. Akibatnya insentif untuk menyalahgunakan minyak tanah subsidi menjadi sangat besar)
Dan yang lebih parah, kita punya pemerintah yang kualitasnya sangat buruk. Analoginya jadi mirip dengan ini: A lagi sakit parah, lalu disuruh minum obat yang salah, dan lebih parah lagi obatnya sebenarnya sudah rusak. Hasilnya, kalau tidak si A mati, ya paling tidak koma berbulan-bulan.
Melihat itu, ditambah dengan kondisi eksternal -- harga minyak mentah dunia yang terus meningkat -- yang menuntut solusi segera, mau tidak mau pilihan menaikkan harga -- mencabut subsidi -- adalah pilihan paling rasional. Dengan begitu proses konversi akan terjadi dengan sendirinya, kelangkaan minyak tanah tidak akan terjadi, beban subsidi pun hilang. Sementara itu, soal masalah efek sosial, dengan pilihan sekarang pun efek sosial yang ditimbulkan cukup besar.
Obatnya memang agak pahit, tapi efeknya manjur. Bukti nyatanya sudah ada: coba bayangkan apa yang terjadi sekarang (dengan harga minyak mentah > US$ 90) bila pemerintah tidak mencabut subsidi BBM di tahun 2005!!!
Wednesday, January 9, 2008
Pengantar Diskusi: Liberalisasi Sektor Jasa, Indonesia?
Dalam kuliah ekonomi pengantar, penggabungan istilah barang dan jasa seringkali tidak terlalu dihiraukan oleh para mahasiswanya. Kadangkala, dosen pun tidak terlalu memahami atau membedakan kedua unsur tersebut. Barang dan jasa merupakan sebuah perpaduan yang tidak dapat terpisahkan, sama halnya seperti kita menyandingkan Adam dan Hawa, Soekarno dan Orla, atau Soeharto dan Orba.
Dalam kesempatan kali ini, diskusi rutin jumatan yang diselenggarakan oleh orang-orang yang "kurang kerjaan," akan menyuguhkan sebuah tinjauan secara semi holistik (karena saya yakin kami tak mampu terlalu holistik) tentang sektor yang sering dikesampingkan oleh banyak kalangan, yaitu sektor jasa.
Poin-poin penting yang kemungkinan besar akan menjadi menu diskusi jumat (January 11th 2008) antara lain:
1. Perkembangan kontribusi tiga sektor utama (pertanian, industri, dan jasa) terhadap PDB. Tinjauan ini sangat relevan untuk melihat sektor apakah yang berkontribusi besar terhadap PDB?
2. Perjanjian-perjanjian mengenai perdagangan jasa di tingkat WTO maupun ASEAN. Apa tujuan disepakatinya GATS di WTO dan AFAS di ASEAN dengan segala dinamikanya?
3. Pembagian mode of supply dalam perdagangan jasa.
4. Sumber-sumber dan data perdagangan jasa.
5. Lebih spesifik lagi ttg MRA (Mutual Recognition Arrangements).
6. Kemudian, kita perlu meninjau apa yang telah dilakukan Indonesia dalam menghadapi liberalisasi sektor jasa?
7. Dan poin lainnya yang mungkin berkembang dalam diskusi nanti.
Monday, January 7, 2008
Studi Kasus Program Kemiskinan
Pemerintah daerah pusing bagaimana menentukan satu dari tiga jenis minuman tersebut yang memaksimalkan welfare anak-anak SD. Data yang dimiliki oleh Dinas Pendidikan Kabupaten hanya tahu preferensi anak-anak SD didaerahnya adalah anak-anak SD lebih suka minum kacang ijo daripada susu dan anak-anak SD lebih suka susu daripada jus buah.
Anda diminta menentukan hanya satu jenis minuman yang memaksimisasi welfare. Rekomendasi minuman apa yang sebaiknya diberikan Pemerintah Daerah Kabupaten ke anak-anak SD?
Jika anda merasa perlu melakukan data tambahan, anda akan diberikan dana untuk melakukan riset lapangan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten.
Oleh: Dendi R.
Thursday, January 3, 2008
PR Besar Soal Kemiskinan
Menyimak polemik yang muncul akibat iklan kemiskinan milik Wiranto, saya merasakan ada sesuatu yang aneh disana. Saya tidak mempermasalahkan siapa yang benar – karena dua-duanya benar – atau lebih jauh memperdebatkan standar mana yang harus kita pakai, BPS atau World Bank – karena sekali lagi dua-duanya memiliki metode valid masing-masing. Yang aneh bagi saya adalah bagaimana reaksi Presiden kita, SBY, yang marah dan menganggap dia telah mencetak prestasi sendiri soal kemiskinan. Tampak pula bahwa pucuk pemerintahan kita tidak terlalu mengerti angka-angka dan metode perhitungan yang digunakan, baik oleh BPS ataupun World Bank. Ketidaktahuan ini ditunjukkan dengan bangganya oleh Wapres kita, Jusuf Kalla (JK).
Sebagai awal, bagi yang menonton acara Today’s Dialogue “Meretas Jalan Reformasi” –nya Metro TV kemarin, JK mengeluarkan statement yang menyebutkan bahwa jika menggunakan standar World Bank PPP US$ 2 per hari, berarti untuk menjadi tidak miskin masyarakat diharuskan memiliki pendapatan Rp … (saya lupa JK sebut berapa) juta per bulan. Lalu dia menyebut pula, sementara itu BPS menggunakan standar setara 2100 kalori dan bla bla bla..
World Bank menggunakan estimasi nilai tukar Power Purchasing Parity (PPP), bukan nilai tukar biasa. Nilai tukar PPP menunjukkan berapa banyak Rupiah dibutuhkan untuk membeli barang dan jasa di Indonesia dengan jumlah yang sama dengan US$ 1 di Amerika Serikat. Karena tingkat harga di Indonesia masih lebih rendah dibanding dengan Amerika Serikat, maka nilai tukar PPP akan lebih rendah dibanding nilai tukar biasa.
Kembali ke penentuan standar kemiskinan, dengan nilai tukar PPP, standar US$ 2 per hari yang digunakan oleh World Bank setara dengan Rp 194.439 per orang per bulan. Sementara itu, bila kita perhatikan standar yang digunakan BPS, kebutuhan 2100 kalori setara dengan Rp 166.697 per orang per bulan. Atau bila menggunakan standar PPP US$, nilainya sekitar 1,55. Dapat dilihat disini, bagaimana perbedaan standar World Bank dan BPS tidak terlalu jauh, hanya Rp 30 ribu per bulan (apalagi dilihat dari sudut pandang kita, masyarakat kota dan menengah ke atas pula).
Berikutnya saya akan masuk kepada pernyataan SBY yang menganggap pemerintahannya telah meraih prestasi di penanganan kemiskinan. Ada tiga poin yang dilupakan oleh Presiden SBY ketika dia memberi pernyataan tersebut: Pertama, angka 16,58% tingkat kemiskinan setara dengan 37,17 juta orang. Tentu itu tetap bukan sebuah angka yang kecil. Dua, bila dibandingkan dengan masa pemerintahan Presiden sebelumnya, Megawati, tingkat kemiskinan yang sebesar 16,58% tidaklah berbeda jauh (di masa Megawati tingkat kemiskinan sebesar 16,60%), bahkan jumlah nominal di masa Megawati lebih kecil, yakni 36,10 juta orang miskin. Terlepas dari ada pengaruh dari harga minyak dunia yang menjulang dan berujung pada pencabutan subsidi BBM atau faktor eksternal lainnya, dampaknya terhadap kemiskinan yang tidak turun, tetap menjadi tanggung jawab pemerintah. Ketiga, melihat perbandingan perhitungan World Bank dengan BPS yang hanya berbeda sedikit, dengan standar BPS sekalipun, ini menunjukkan bahwa jumlah masyarakat yang sangat dekat dengan kemiskinan (near-poor) begitu besar, sekitar 32,3%. Penurunan sedikit saja pada pendapatan akan membawa kelompok near-poor ini ke jurang kemiskinan.
Kemiskinan Non Pendapatan
Perdebatan soal kemiskinan selama ini hanya berkutat pada masalah kemiskinan pendapatan (income poverty), seperti dibahas diatas. Padahal ada sisi lain, yakni kemiskinan non pendapatan (non-income poverty) yang sebenarnya jauh lebih memprihatinkan.
Kemiskinan non-pendapatan erat kaitannya dengan dimensi-dimensi kemanusiaan, seperti: kebutuhan konsumsi yang mendasar, pendidikan, kesehatan, akses ke infrastruktur dasar. Kemiskinan non-pendapatan berkorelasi langsung dengan output sumber daya manusia yang dihasilkan oleh suatu negara. Salah satu indikator umum yang bisa digunakan untuk melihat tingkat kemiskinan non-pendapatan adalah tingkat Human Development Index (HDI). Pada publikasi terakhir yang dirilis oleh UNDP, Indonesia berada pada peringkat 107, lebih rendah dibanding Vietnam, Filipina, apalagi Malaysia, Thailand, atau Singapura.
Tingkat kemiskinan non-pendapatan juga erat dengan tujuan-tujuan yang ada pada Millenium Development Goals (MDGs). Untuk Indonesia, kendati telah terdapat kemajuan pada jumlah yang masuk pendidikan dasar (SD), jangkauan kesehatan, dan penurunan kematian anak, tetapi pada indikator-indikator lain masih jauh tertinggal, seperti dilansir oleh World Bank sebagai berikut:
52% dari orang miskin tidak memiliki akses terhadap air bersih.
44% dari orang miskin tidak memilik sarana sanitasi yang layak. 80% orang miskin di desa dan 59% orang miskin di kota tidak memiliki akses terhadap septic tank.
Tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara (307 per 100.000). Angka ini tiga kali lebih tinggi dibanding Vietnam dan enam kali lebih tinggi dibanding China dan Malaysia.
Hanya 72% kelahiran yang ditemani oleh tenaga ahli, seperti bidan atau dokter.
HIV/AIDS menjalar dengan cepat di seluruh daerah.
Adanya ketimpangan antara daerah satu dengan lain yang begitu besar, terutama untuk Indonesia bagian Timur.
Tingkat malnutrisi yang tinggi dan terus meningkat: 25% balita mengalami malnutrisi di Indonesia.
- Kendati jumlah yang masuk SD terus meningkat, tetapi transisi dari SD ke SMP masih mengalami masalah
Masih buruknya kedua kondisi kemiskinan Indonesia ini tentu menjadi PR besar bagi semua.
Penempatan Dana Pemda Di SBI: Sebuah Pengantar Diskusi
Di hadapan DPD pertengahan tahun 2007 lalu, Presiden SBY mengkritik Pemerintah Daerah (Pemda) yang menempatkan dananya – APBD – di perbankan. Dalam pidatonya di depan DPD tersebut, Presiden SBY menyebutkan ada lebih dari Rp 90 triliun dana Pemda yang menganggur di perbankan dan Rp 50 triliun-nya ditempatkan di SBI, melalui BPD sebagai perantaranya. Pernyataan yang kemudian diikuti pula oleh Menkeu Sri Mulyani yang ‘marah’ ke BPD-BPD ini menjadi salah satu klimaks dari sebuah fenomena yang memiliki akar permasalahan kompleks.
Begitu besarnya dana APBD yang ditaruh di perbankan, di SBI tentu bukan suatu hal yang baik bagi perekonomian daerah. Apalagi di saat-saat sekarang ini, masa-masa pasca-krisis, dimana seharusnya daerah-daerah sedang giat-giatnya membangun. Ketika ada dana yang ditaruh di perbankan atau SBI, berarti dana tersebut tidak digunakan untuk proyek-proyek pembangunan atau untuk program-program peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ketika tidak terjadi pembangunan dan tidak ada dana untuk program-program masyarakat, artinya tidak akan terjadi peningkatan aktivitas ekonomi; tidak akan terjadi penambahan infrastruktur, seperti: jalan, jembatan, dll; dan pada akhirnya kesejahteraan masyarakat pun tidak akan meningkat. Tentu kasus yang ada menjadi sebuah ironi.
Melihat kondisi itu, ditambah dengan sangat besarnya alokasi dana yang telah dikucurkan pemerintah pusat ke daerah sejak Otoda, tentu sangat wajar bila akhirnya pemerintah pusat bak kebakaran jenggot, mencak-mencak mengetahuinya. Terlihat sangat wajar pula bila pemerintah pusat kemudian menyalahkan pemerintah daerah dan BPD karena ketidakmampuan menyalurkan dana tersebut ke sesuatu yang lebih riil.
Namun di sisi lain, ternyata permasalahan yang muncul bukan murni disebabkan kesalahan Pemda. Bahkan bila ditelisik lebih jauh, apa yang dilakukan oleh Pemda dan terutama oleh BPD adalah sesuatu yang wajar, sebuah pilihan yang rasional secara ekonomi. Oleh karenanya, yang harus dilakukan bukanlah menyalahkan tindakan yang diambil, melainkan mempertanyakan kondisi apa yang menyebabkan tindakan itu yang dipilih oleh Pemda dan BPD. Dengan menjawab pertanyaan itu, kita akan menemukan akar dari permasalahan ini, yang ternyata sangat kompleks.
Sebagai overview awal dan sebagai gambaran kondisi yang ada, kita bisa lihat grafik yang menggambarkan penerimaan dan pengeluaran Kas Daerah Jawa Timur sebagai berikut:

Dari grafik di atas dapat dilihat bagaimana di awal-awal tahun, penerimaan jauh lebih besar dari pengeluaran. Ini terjadi karena lambatnya penetapan APBD yang menyebabkan APBD tidak mungkin efektif sejak awal tahun. APBD baru efektif di bulan Maret atau April. Di pertengahan tahun, dengan berbagai proses yang harus dilalui dan dilaksanakan sebuah proyek, sementara penerimaan juga terus meningkat, besar penerimaan tetap lebih besar dari pengeluaran. Besar pengeluaran baru memuncak di akhir tahun. Selisih penerimaan dan pengeluaran ini yang akhirnya ditaruh di perbankan dan kemudian ditaruh di SBI oleh BPD. – Sebagai info tambahan: Besarnya penerimaan dalam grafik tersebut belum memperhitungkan SILPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) tahun sebelumnya, yang tentu akan semakin memperbesar dana yang ditaruh di perbankan –.
Gambaran diatas tentu hanya sekelumit kecil dan umum dari kompleksnya berbagai permasalahan di daerah. Namun, dari grafik diatas, sedikit banyak kita telah mendapatkan gambaran kondisi sebenarnya di daerah. Gagasan-gagasan tentang penyebabnya, tentu telah muncul dalam benak kita semua.
Apa hubungan kondisi ini dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah? Bagaimana proses anggaran negara berjalan? Bagaimana sebenarnya proses pencairan dana dari pusat ke daerah? Bagaimana peran BPD di daerah? Adakah kaitannya dengan ketakutan untuk menjadi Pimpro? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang akan coba diulas lebih dalam pada diskusi Jumat ini.
Lebih jauh: Akankah Pemda mampu membersihkan namanya? Apa solusi yang bisa dirancang? Dua pertanyaan ini yang akan menjadi klimaks diskusi Jumat ini.
