Wednesday, June 18, 2008

BI: Pertumbuhan Ekonomi atau Inflasi?

BI memutuskan untuk kembali menaikkan BI-rate menjadi 8,5% dan tidak menutup kemungkinan akan kembali menaikkannya hingga level 9%, mengingat tekanan inflasi yang begitu besar. Bahkan prediksi yang ada memperkirakan inflasi akhir tahun akan ada pada level 11,5-12,5%.

Keputusan BI menaikkan BI-rate ini, di satu sisi menuai pujian, di sisi lain disayangkan, terutama oleh pemerintah yang menganggap keputusan itu akan berpengaruh besar terhadap target pertumbuhan ekonomi.

Memang, seperti terlihat pada grafik di bawah, jelas ada trade off dari pilihan kebijakan yang harus diambil. Di saat ekspektasi inflasi 3 bulan dan 6 bulan ke depan sangatlah tinggi, ekpektasi terhadap perekonomian (growth) 6 bulan ke depan terus menurun.


Tapi tetap, pilihan kebijakan harus diambil oleh BI. Apakah membantu pertumbuhan atau menahan laju inflasi? Kalau saya, pro dengan menahan laju inflasi. Yang artinya BI rate perlu untuk kembali dinaikkan.

Alasan saya, secara sederhana dan singkat (mungkin terlalu sederhana), selain growth kita masih cukup bagus (6,28% kuartal I 2008), inflasi yang ada sudah terlalu tinggi. Kembali ke teori, inflasi bisa jadi bagus, tapi dalam level yang moderat. 12%, saya kira itu sudah terlalu tinggi dan tentu akan ada biaya yang tidak sedikit dari inflasi yang begitu tinggi tersebut.

Bagaimana dengan anda?

Tuesday, June 17, 2008

Inpres No. 5 Tahun 2008

Ditengah hingar bingar piala euro, demo ahmadiyah vs FPI, Sri Mulyani merangkap dua jabatan menteri, "kelakuan" anggota DPR, rekaman video "polisi sableng", kenaikan harga BBM rata-rata 30%, harga minyak bumi dunia hampir mencapai 150 USD/barrel (kini masih 139 USD/barrel), tim thomas-uber Indonesia gagal mengukir prestasi, PKB memiliki dua kubu, Iklan "hidup adalah perbuatan", orang-orang asing di china diusir sementara keluar demi persiapan menuju olimpiade, barack obama menang lawan hillary clinton, kunjungan Kevin Rudd ke Indonesia, hingga kembali menjomblonya claudya chintya bella setelah putus dengan ananda mikola, sebenarnya ada satu isu penting yang agak terlewatkan oleh publik, yaitu Presiden SBY mengeluarkan instruksi no. 5 thn 2008 yang secara resmi ditanda-tangani pada tanggal 22 Mei 2008.

Kebijakan ini berisi langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Fokus Program Ekonomi Tahun 2008-2009 guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, kelestarian sumber daya alam, peningkatan ketahanan energi dan kualitas lingkungan, dan untuk pelaksanaan berbagai komitmen Masyarakat Ekonomi Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Lebih jelasnya dapat dibaca disini.

Saya perhatikan penekanan dari kebijakan baru ini ada pada menyambut ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015 dan menciptakan iklim investasi yang lebih mantap lagi. Tapi kembali lagi, saya rasa isu-isu lain yang lebih HOT masih ramai dibicarakan publik, jadi kita percayakan saja kebijakan baru bidang ekonomi ini kepada para pengemban tugas mengelola negeri.

Bukan Sekedar Orang Lari-larian Mengejar Bola

Bisnis sepakbola belakangan ini bukanlah ladang yang kering; Piala dunia 2006 menghasilkan 135 juta euro pendapatan sebelum pajak, piala champions 2007/2008 menghasilkan 824.5 juta euro. Kini, piala euro yang sedang berlangsung diperkirakan akan menghasilkan 1,25 milyar euro. Semua itu adalah angka-angka yang fantastis untuk sekedar acara kejar-kejaran bola antara 2 kelompok orang-orang yang bertubuh atletis. Lalu apakah Liga Indonesia sudah siap untuk ikut memarakkan bisnis ini?

Thursday, June 12, 2008

CDT 31 vs LSI, Bagaikan David melawan Goliath

(Laporan Eksklusif dari Pangkalpinang)
-----------------------------------------------------------------------
Beberapa hari tinggal di Pangkalpinang membuat saya semakin percaya bahwa ketimpangan pembangunan Di Indonesia begitu tinggi. Disini setiap hari mati listrik. Pernah dalam dua hari, hanya 5 jam listrik menyala. Hal ini diperparah dengan kondisi sanitasi dan air bersih yang lumayan memprihatinkan. Padahal saya tinggal di rumah yang cukup baik dan terletak di pusat kota.

Ketimpangan pendapatan juga terlihat cukup mencolok. Hasil tambang timah inkonvensional yang melimpah kebanyakan hanya dinikmati oleh pejabat dan cukong-cukong China yang memiliki modal. Walaupun tidak ada data, dari pengamatan lapangan sangat jelas perbedaan antara yang mengendarai sepeda motor dan yang mengendarai Mitsubishi Strada. Kondisi sekolah negeri dan fasilitas publik juga sangat jauh bila dibandingkan dengan Jakarta. Beruntung sekolah swasta disini cukup megah dan halaman parkirnya penuh.

Saya pribadi kurang mendalami bagaimana asal-muasal pilkada sampai di tingkat kabupaten/kota. Namun sampai saat ini saya berpendapat Pilkada sampai tingkat kabupaten/kota tidak bermanfaat bagi pembangunan dan hanya memboroskan anggaran. Ajang Pilkada ini banyak dijadikan oleh opportunis politik (penganngguran) sebagai ajang merengguk uang. Hampir setiap hari di basecamp ada orang dari negeri antah berantah yang menyodorkan proposal kegiatan. Ada juga yang mengaku memiliki ratusan massa dan siap menjadi simpatisan tapi pas mau pulang minta ceban buat ongkos.

Paling parah adalah incumbent. Karena memiliki modal yang besar serta akses ke elite politik yang luas, ajang Pilkada disini seperti mengikuti kemauan si incumbent. Langkah-langkahnya mudah ditebak. Pertama adalah menyewa konsultan politik yang jempolan, lalu buat bancakan dengan para elite politik. Masa’ ada walikota yang berkampanye namun belum mundur dari jabatannya ? lebih aneh lagi hal ini didiamkan saja oleh KPUD. Paling aneh Ketika masuk jadwal kampanye resmi, si walikota itu juga tidak mundur tapi CUTI.

Yang paling gila adalah ada petugas survey yang membawa foto si incumbent dan menawarkan program asuransi. Mungkin terdengar sepele, namun form yang di bawa sama si petugas survey ada pendataan penduduk yang tidak memiliki KTP dan ada data No TPS. Kecurigaan saya langsung mengarah pada pencetakan KTP dan Kartu pemilih besar-besaran. Kalau sudah selesai tinggal di-coblosin saja satu-persatu.
Sementara si david, karena masih bau kencur dan gak punya akses ke elite politik manapun hanya melihat di tepian jalan sambil bergumam, “kapan Indonesia bisa maju dengan segala macam omong kosong ini.....”
PS: Tulisan ini pendapat pribadi dan Sumber data didapat dari pengamatan induvidu. kemungkinan adanya bias sangat besar.

Wednesday, June 11, 2008

Sadapan Telelepon Kasus Suap BLBI

Buat yang tidak sempat membaca, berikut selingan menarik kutipan telepon Artalyta Suryani (tersangka kasus suap BLBI) dengan Untung Udji Santoso (Jaksa) beberapa jam setelah jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap tangan menerima suap. Sebuah kutipan yang menggambarkan carut-marutnya birokrasi kita: (disadur dari detik.com)

Untung (U):
Memang dikasih berapa duit?

Artalyta (A):
660 ribu dolar.

U:
4 M (miliar--red)?

A:
6 M (miliar--red).

U:
Lailahailallah!

A:
Jadi bagaimana ini menyelamatkan itu semua, orang-orang kita?

U:
Nggak iso ngelak kalau 6 M. Gila.

A:
Jadi gimana?

U:
Tak pikir enam atus juto (enam ratus juta-Red) gitu.

A:
nggak, itu banyak. Gimana?

U:
Itu untuk siapa?

A:
Ah, ya udahlah. Sekarang kita jalan keluarnya gimana?

U:
Adu biyung gimana?

A:
Heh.

U:
Sek...sek (sebentar--red). Kalau kayak gitu, susah itu.

A:
Aku kena lho, Mas, kayak gini.

U:
Lha iya.

A:
Aku bilang kan ajudanku.

U:
Ajudan kok duite samono gede ne. Soko ngendi? Ngarang ae. Yo wes. (Ajudan kok uangnya begitu banyak. Dari mana? Ngarang aja. Ya sudah--red). Gimananya caranya hubungi Antasari.

A:
Ya, coba Sampeyan telepon dulu.

U:
Udah, mati teleponnya.

A:
Mati? Dicari. Suruh nyari dong. Feri (Direktur Penuntutan KPK Feri Wibisono--red) suruh nyari.

U:
Feri juga nggak ngangkat.

A:
Jadi gimana? Ini kan mesti ngamanin bos kita semua.

U:
(terdiam lama)

A:
Aku jawabnya apa ya? Sekarang anakku kan masuk lewat belakang. Dia pegang juga. Dia masuk (tiba-tiba terinterupsi, Artalyta seperti menyuruh seseorang di rumahnya melakukan sesuatu).

U:
Usahakan cepat you keluar. Nyari Antasari deh.

A:
Ya, di mana dia rumahnya?

U:
Di anu, di BSD. Waduh, tapi saya tidak tahu juga rumahnya. Tapi jangan, jangan ke rumahnya. Ketemu di mana, di hotel atau di mana gitu deh.

A:
Ya, aku kan udah mau dibawa. Sampeyanlah yang kejar, yang nyari dia, Mas. Kan nggak kentara kalau sampeyan.

U:
Ya, iya. Tapi teleponnya aku gak ngerti rumahnya (suara Untung terdengar gelagapan). Teleponnya gak diangkat, aku sudah minta Wisnu (Jamintel Wisnu Subroto--red).

A: Sekarang susulin.

U:
Tak telepon dulu.

A:
Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu.

U:
Aku udah telepon Wisnu, demi Allah ini.

A:
Kata Wisnu apa?

U:
Aku sudah dibuka teleponnya. Aku juga nggak buka. Kamu punya nomor lainnya nggak?nggak punya, lah gimana? (Untung menirukan perkataan Wisnu padanya ke Artalyta)

A:
Sekarang aku kan mau dibawa. Supaya keterangannya sama gimana? Nanti kan kena gimana? Kan jangan sampai kena semua.

U:
Kenapa sih kok bingung gini? Aduh, gawean ae.

A:
Makane. Makanya, aku dari luar Jakarta, dia (jaksa Urip--red) maksa (ambil uang US$ 660 ribu) hari ini.

Sadapan telepon lanjutan bisa dicek disini. Fakta ini menunjukkan, reformasi birokrasi atau penguatan institusi/kelembagaan masih menjadi PR besar dan harus menjadi salah satu agenda prioritas bangsa ini. Usul saya cuma dua untuk ini, yakni deregulasi dan debirokratisasi.

Monday, June 9, 2008

Harga Komoditas Jangka Panjang: Mengapa Mas Pri (dan Malthus) Keliru

Priyadi melalui blognya priyadi.net bisa dibilang salah satu dedengkot blogger Indonesia terpopuler. Setiap posting di blognya, dimana dia membahas banyak hal, pasti mendapatkan banyak komentar. Sayangnya, Mas Pri dalam salah satu postingnya membuat kesalahan dalam menjelaskan tren kenaikan harga komoditas yang baru-baru ini terjadi.

Dengan menggunakan cara berpikir Malthusian, Mas Pri menulis "di luar fluktuasi yang terjadi dari waktu ke waktu, tren harga komoditas dalam jangka panjang bisa dipastikan akan meningkat. Alasannya penduduk dunia selalu bertambah..." Lalu dia tambahkan "...Semakin besar populasi manusia, maka akan semakin tinggi permintaan terhadap barang-barang yang dibutuhkan manusia. Manusia akan mencoba beradaptasi menyesuaikan tingkat permintaan ini dengan meningkatkan produksi barang-barang kebutuhan manusia tersebut. Tapi hal ini tentunya ada batasnya. Besar bumi dan apapun yang ada di dalamnya tetap sama. Kenyataan ini akan mengakibatkan harga-harga akan selalu meningkat."

Saya akan tunjukkan kesalahan analisis si Mas Pri ini dengan melihat tren harga komoditas pada tembaga. Berikut grafik yang menunjukkan pergerakan harga internasional tembaga sejak 1900 hingga 2002.



Bila dilihat grafiknya, sejak 1900 hingga 2002 terjadi penambahan permintaan dunia, dan benar salah satu penyebabnya adalah penambahan populasi. Namun, selain permintaan yang berubah, ternyata persediaan (supply) juga berubah. Seiring dengan teknologi yang terus meningkat, kemampuan eksplorasi dan eksploitasi tembaga juga semakin membaik. Akibatnya, biaya produksi menurun dan persediaan (supply) meningkat pesat. Seperti terlihat pada grafik, penambahan pada persediaan (supply) mampu meng-offset penambahan pada permintaan, sehingga tren jangka panjang dari harga komoditas ini bukannya meningkat, tetapi menurun.

Kasus lain juga bisa dilihat pada harga telor. Saya tidak punya grafiknya, tapi penjelasan tentang ini bisa dilihat pada buku Microeconomics, Pindyck. Harga telor semakin lama juga semakin menurun. Selain karena teknologi yang mengakibatkan ayam semakin bisa bertelor banyak, perubahan juga terjadi pada selera masyarakat. Kendati populasi terus bertambah, tapi selera masyarakat terhadap telor semakin menurun. Ini disebabkan salah satunya faktor kesehatan. Mengkonsumsi telor terlalu banyak, tidak terlalu baik untuk kesehatan. Akibatnya, permintaan telor dari tahun ke tahun hanya bertambah sedikit, sementara persediaan (supply) meningkat pesat, sehingga harga akan semakin rendah.

Jelas, dari dua kasus di atas saja, tidak benar bahwa harga-harga komoditas akan selalu meningkat.

Wednesday, June 4, 2008

Distorsi Subsidi BBM II

Masih soal subsidi BBM. Angka inflasi Mei tercatat sebesar 1,41% dan 10,38% year-on-year. Sebuah angka yang sangat tinggi dan tentu menjadi cost yang besar bagi perekonomian.

Kendati bila dilihat datanya kontributor utama adalah kelompok bahan makanan, tetapi menurut hemat saya penyebab terbesar tingginya angka inflasi bulan Mei adalah akibat ekspektasi yang muncul dari uncertainty yang dipicu ketidaktegasan pemerintah dalam mengambil kebijakan mencabut subsidi BBM. Padahal bila pemerintah tegas, hal ini bisa dicegah.

Coba kita hitung berdasarkan kenaikan pada premium. Setelah menghabiskan waktu yang lama untuk bingung mau naik atau tidak, akhirnya pemerintah menaikkan premium sebesar Rp 1500 per liternya. Itupun dengan sangat terpaksa, karena harga minyak dunia telah melebihi US$ 120 per barrelnya. Sekarang kita berangan-angan, bagaimana seandainya sejak Oktober 2005 pemerintah dengan tegas menyatakan akan menaikkan premium Rp 50 per liter per bulan. Dari hitungan sederhana yang bisa dilakukan, mulai Oktober 2005 hingga Mei 2008 ada 30 bulan, yang berarti kenaikan per Mei 2008 juga sama, yakni Rp 1500 per liter. Bagaimana dampaknya? tentu pasti berbeda, dan tidak akan sebesar sekarang costnya.

Kenapa? Ini bisa dijelaskan dengan teori Permanent Income Hypothesis. Dengan adanya kepastian kenaikan per bulan, konsumen akan secara rasional menyesuaikan diri dalam melakukan pilihan konsumsi disesuaikan dengan ekspektasi pendapatannya. Akibatnya efek dari uncertainty bisa dihilangkan dan ekspektasi bisa terkontrol. Selain itu, dengan memberikan kepastian, dampak negatif akibat adanya spekulasi juga bisa ditekan.

Melihat itu, okelah saat ini memang telah dilakukan pencabutan subsidi BBM dan pemerintah bisa sedikit bernafas lega. Tapi beban subsidi BBM masih sangat besar. Bila sewaktu-waktu harga minyak dunia kembali liar, semisal ke level US$ 200 seperti yang diperkirakan beberapa pihak, jangan sampai langkah reaktif terburu-buru seperti sekarang yang diambil. Saran saya, sudah seharusnya pemerintah mengambil langkah tegas dengan menaikkan kembali harga BBM, tapi secara bertahap dan pasti. Net-benefitnya akan jauh lebih besar.

Distorsi Subsidi BBM

Greg Mankiw post mengenai Law of Demand di blognya. Lalu Pak Aco menyatakan bagaimana Law of Demand tidak mungkin terjadi di Indonesia di sini. Setuju 100% dengan Pak Aco. Buktinya ditunjukkan oleh artikel Republika Senin kemarin.

Lalu Robert Reich menulis lebih jauh mengenai komplain dia terhadap transportasi publik di AS. Mr. Reich tampaknya belum pernah datang ke Indonesia. Bisa lebih stress lagi Mr. Reich melihat kondisi kita.

Semua salah siapa? Subsidi BBM jawabnya. Atau lebih tepatnya mereka yang dulu menerapkan subsidi BBM dengan entah apa alasannya.

Monday, June 2, 2008

Survey BBM II

Sedikit berbeda dengan hasil polling yang dilakukan Luthfi, berikut hasil awal polling Syahrir Research mengenai popularitas SBY setelah kebijakan pencabutan subsidi BBM:


Perlu diketahui, di polling bulan sebelumnya dengan pertanyaan yang sama dukungan SBY mencapai 32,8%.

Namun berita baiknya, kendati masyarakat kesal terhadap SBY, pada dasarnya mereka memahami alasan di balik keputusan ini. Masyarakat sudah semakin cerdas dalam memahami kondisi yang ada.


Terkesan kontradiktif memang. Tapi mungkin masyarakat kesal karena SBY terkesan mencla-mencle. Tadi bilangnya gak mau naikin, tapi akhirnya naikin juga. Ini bisa dilihat dari hasil polling untuk pertanyaan berikut:


Untuk informasi, polling dilakukan by phone dengan 800 responden di 23 Kota.

"Bubarkan Laskar Islam/FPI"

Post ini saya tujukan untuk siapapun pemimpin Laskar Islam/FPI.

Saya Islam, tapi saya tidak rela jika nama Islam direpresentasikan oleh tindakan brutal penuh kekerasan seperti yang kemarin Anda dan teman-teman Anda tunjukkan. Apalagi dengan tanpa rasa bersalah kalian bilang punya hak untuk menghalalkan segala cara. Apakah itu Islam?

Saya memang bukan orang yang sangat dalam pemahaman ke-Islaman-nya, tapi bagi saya Islam jauh lebih indah dari apa yang kalian tunjukkan.

Anda bilang Anda pembela umat Islam, tapi saya kira Anda tidak membela umat Islam. Anda hanya membawa umat Islam pada posisi yang lebih buruk.

Anda bilang Anda punya alasan menyerang karena Anda menemukan bukti bahwa ada tangan-tangan asing (AS) yang bermain. Tapi saya curiga jangan-jangan Anda yang sebenarnya kepanjangan tangan dari pihak asing untuk membikin kacau bangsa ini dan memperburuk citra Islam.

Satu kata untuk Anda dan teman-teman, GILA !!!

Saya menuntut dengan keras, tolong jangan pernah lagi gunakan label Islam dalam setiap aksi Anda.

Satu hal lain, bagi saya, Ahmadiyah memang sesat. Tapi untuk meminta negara melarang, membubarkan, atau mengusir Ahmadiyah itu lain soal. Bagi saya, yang lebih layak dibubarkan adalah Laskar Islam, FPI, atau apapun namanya.

*Pendapat ini murni pendapat pribadi

Thursday, May 29, 2008

Survey BBM

Setelah bosan membaca tulisan yang puitis, saya tergelitik untuk posting hasil polling kemarin di lebih dari 12 kota di Indonesia. Pada responden ditanyakan "Bagi Anda yang pada 2009 memilih SBY, apakah anda tetap memilih SBY apabila harga BBM kembali dinaikkan ?". Secara logis tentunya jawaban "tidak" akan muncul sebagai pendapat mayoritas. Namun hasilnya ternyata diluar dugaan.


Metode polling adalah by phone dengan jumlah sampel 800 orang. Apabila asumsi penduduk yang memiliki telepon adalah menengah keatas, maka saya pribadi merasa lega. Dengan Asumsi polling ini mewakili pendapat populasi penduduk menengah keatas maka saya berpendapat masih banyak orang waras di Indonesia.


Apalagi setelah membaca email dari bung chaikal di millist yang mendukung pendapat Pak Kwik bahwa minyak di Bumi Indonesia merupakan hak rakyat indonesia maka dari itu harganya adalah Rp. 0. Oke argumen ini begitu noble, mulia, kerakyatan. Namun penduduk Indonesia tidak semuanya melarat. Masa' orang kayak Bakrie atau soekanto tanoto boleh menikmati minyak bumi secara gratis?


Selain itu pendapat dari Pak Kwik menurut saya akan membawa pada pola konsumsi energi yang boros. Pada akhirnya adalah meningkatnya polusi dan kerusakan Alam. Demikian, tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

Sunday, May 25, 2008

Untuk apa berpuisi?

Sudah mendengar puisi Bangkit-nya Deddy Mizwar, mmmmhh… pastinya lebih bisa dihayati dari pada iklan retorika seorang pemimpin partai dan seorang mantan jenderal (ngapain coba ngabisin duit bermilyar-milyar hampir setiap bulan hanya untuk.. hanya untuk… ah sudahlah, saya tidak bisa melengkapinya)

Anw, apa-sih arti puisi untuk kehidupan ini? Apakah puisi punya peran dalam pergerakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara? Atau apakah pada akhirnya, Deddy Mizwar hanya sibuk untuk bercuap-cuap?

Bagi saya, sebagai seorang pecinta puisi, jawabnya jelas puisi punya peran dan pastinya dengan magnitude yang cukup signifikan. Dan lebih khusus bagi ekonom, puisi ternyata memiliki peran yang cukup signifikan, setidaknya itu yang telah dibuktikan oleh artikel ini bahwa judul yang puitis untuk paper empiris memberikan margin empat kali lebih besar (positif) untuk di-sitasi dibanding yang tidak dan memiliki pengaruh yang negatif untuk artikel teoretis dengan margin dua kali lebih kecil.

Kesimpulan bagi ekonom, puisi punya peran signifikan tetapi dengan magnitude yang beragam. Pelajaran lainnya adalah jika ekonom menyampaikan teori gak usahlah beretorika terlalu banyak, demikian Bung2 Starbuckers...

Sebagai tambahan berikut beberapa judul artikel yang dianggap puitis dalam paper tersebut:

Metaphor: “Digging for Golden Carrots” (Taylor, 1995)
Personification: “Ant, Rationality, and Recruitment” (Kirman, 1993)
Oxymoron: “The Optimality of Myopic Behavior” (Leahy, 1993)
Synecdoche: “Competing Head-to-Head May be Less Competitive” (Klemperer, 1992)

Sunday, May 18, 2008

Efektifkah Inflation Targeting?

Ada sebuah tulisan sangat menarik oleh peraih Nobel Ekonomi 2001 Joseph E. Stiglitz dalam artikelnya The Failure of Inflation Targeting. Dalam artikel tersebut, Stiglitz seperti menggugat bagaimana kebijakan moneter yang dilakukan Bank Sentral dengan menggunakan inflation targeting tidak bekerja maksimal dengan menghadapi tingkat inflasi saat ini yang dihadapi ancaman peningkatan harga minyak internasional dan komoditi yang terus menanjak.

Tugas Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi, bukanlah inflasi secara keseluruhan. Namun, Bank Indonesia hanya bertugas mengendalikan inflasi inti (core inflation). Sedangkan bagian lain seperti volatile food dan administered price sebagai bagian tingkat inflasi secara keseluruhan yang berasal dari peningkatan harga makanan dan dampak kebijakan fiskal bukan bagian dari tanggung jawab Bank Indonesia.

Sayangnya, kedua bagian terakhir pembentuk inflasi tersebut justru yang sedang mengancam tingginya tingkat inflasi. Tingginya harga komoditas, peningkatan harga bahan pangan, serta rencana peningkatan harga BBM sebesar 30 persen tentu akan semakin mendorong tingginya tingkat inflasi di Indonesia. Secara teoritis, inflasi ini bisa dijelaskan melalui cost-push inflation, di mana aggregate supply tereduksi akibat production cost yang semakin meningkat, seperti apa yang ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Lalu, kebijakan moneter seperti yang diungkapkan Stiglitz dalam artikelnya pada negara-negara penganut Inflation Targeting (salah satunya Indonesia) akan bereaksi meningkatkan tingkat suku bunga dengan tujuan untuk mencegah semakin berkurangnya nilai riil mata uangnya akibat tingkat inflasi yang terus meningkat. Tetapi, di satu sisi ingin menyelamatkan nilai riil, namun peningkatan suku bunga tersebut akan menyebabkan disinsentif bagi investasi dalam peminjaman modal dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Hal ini mengakibatkan menurunnya permintaan agregat (aggregate demand).

Berdasarkan grafik di atas, apabila peningkatan suku bunga ditentukan secara tepat, akan mengembalikan tingkat inflasi seperti kondisi sebelumnya. Namun, di sisi lain hal ini akan berdampak pada menurunnnya tingkat pendapatan nasional (Y) yang semakin besar. Tapi sekali lagi ingat, tingkat inflasi saat ini banyak yang di luar kemampuan Bank Indonesia. Peningkatan harga minyak internasional, menyebakan imported inflation pun semakin besar. Selain itu, peningkatan pada harga kebutuhan pokok akan semakin mendorong tingkat inflasi karena merupakan faktor pembentuk harga dengan porsi yang cukup besar dalam perhitungan Indeks Harga Konsumen.

Mungkin, sangatlah kita berbeda dengan Amerika, penetapan tingkat suku bunga oleh Federal Reserve sangatlah memberi pengaruh besar pada perekonomian baik domestik maupun global. Sedangkan di Indonesia, saat ini pengendalian tingkat inflasi secara keseluruhan akan sangat sulit, dan kebijakan inflation targeting tidak akan terlalu efektif untuk menurunkan tingkat inflasi secara keseluruhan. Peningkatan suku bunga tentu akan menggerus permintaan aggregat, dan hal itu akan terus terancam apabila daya beli masyarakat terus tertekan dengan tingkat inflasi akibat volatile food dan administered prices yang juga terus membayangi.

Peningkatan Harga BBM (Lagi)

Rencana pemerintah untuk meningkatkan harga BBM sepertinya kembali mengundang berbagai macam pro-kontra. Dampak peningkatan harga minyak internasional yang menembus angka USD120 per barel tentu semakin membebani anggaran subsidi BBM. Dalam milis Departemen IE FEUI ada yang menyisipkan materi yang mungkin bisa kita perdebatkan yang dapat lihat di sini:

http://www.mediafire.com/?m1bnwwyatmb

Isi dari materi tersebut merupakan seperti apa yang diutarakan Kwik Kian Gie yang menentang peningkatan harga BBM dengan berdasarkan analisisnya bahwa subsidi BBM menurutnya tidak pernah ada. Secara tendensius Kwik mengungkapkan bahwa usaha pemerintah meningkatkan harga BBM karena pemerintah tidak bisa mengambil untung lebih besar dari harga internasional karena mensubsidi rakyatnya. Sanggahan mengenai pendapat Kwik, salah satunya bisa lihat di sini.

Hal ini seperti mengingatkan kembali pada perdebatan mengenai peningkatan harga BBM pada tahun 2005 lalu, yaitu pada bulan Maret rata-rata 30 persen dan Oktober rata-rata 90 persen. Penjelasan mengenai apa yang terjadi pada saat itu, dan juga masih relevan untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ini, mungkin bisa kita lihat artikel di sini.

Berdasarkan pada materi presentasi Departemen Perdagangan yang disampaikan oleh Bung Leo. Simulasi yang dilakukan oleh Departemen Perdagangan mengenai dampak peningkatan harga BBM sekitar 30 persen adalah sebagai berikut:

Indonesia: Impact of Higher International Oil Prices, Domestic Petroleum, and Government Expenditures in 2008

Source: MoT staff estimates

Saya kira, kasus ini seperti menjadi perdebatan yang tiada akhir, dan terkadang seperti sebuah de javu.

Tuesday, May 6, 2008

Kebijakan Perbankan April 2008

(tulisan ini adalah bahan dan hasil diskusi starbuckers 30 april lalu)

15 April lalu, BI mengeluarkan kebijakan perbankan terbaru yang didasari oleh latar belakang: (i) mengatasi permasalahan yang dihadapi usaha kecil untuk mendapatkan pembiayaan bank, (ii) pendalaman pasar keuangan (financial deepening) dan mendorong perkembangan pasar modal, (iii) memperbaiki dan memperkuat struktur kelembagaan bank, dan (iv) meningkatkan manajemen risiko bank melalui implementasi Basel II yang didukung dengan ketersediaan industri pemeringkatan. Untuk lebih jelas lagi apa isi kebijakan tersebut dapat dilihat disini.

Muliaman Hadad, Deputi Gubernur BI, mengatakan
, "paket regulasi perbankan tersebut diharapkan menjadi stimulus untuk pertumbuhan perekonomian dan sekaligus dapat menjaga kestabilan sistem keuangan di tengah kondisi perekonomian dunia yang masih belum kondusif dewasa ini".

Hasil diskusi starbuckers, menyimpulkan beberapa poin kritisi atas kebijakan tersebut. Satu, kebijakan BI mestinya tidak perlu bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sebab hal itu adalah tanggung jawab pemerintah bukan BI (yang adalah seputar inflasi dan perbankan). Dua, niat BI untuk meningkatkan kredit usaha kecil dan mikro dengan cara menurunkan aset-tertimbang-menurut-risiko (ATMR) tidak akan efektif, karena masalah utama perbankan dalam memberi kredit ke usaha kecil dan mikro adalah pada risiko bisnis yang sesungguhnya pada sektor itu, atau dengan kata lain turunnya ATMR tidak akan memperkecil risiko dunia nyata. Ketiga, kondisi global saat ini secara signifikan telah berkontribusi pada perlambatan ekonomi, jadi segala usaha melonggarkan sistem kredit bisa jadi tidak akan punya dampak signifikan pada dunia usaha, apalagi sektor usaha kecil dan mikro. Terakhir dan merupakan kesimpulan kami yang paling penting adalah bahwa tindakan BI menurunkan ATMR melalui paket kebijakan ini jelas-jelas bertentangan dengan niat menjaga kestabilan sistem keuangan!

Akhir kata, terima kasih kepada teman-teman yang senantiasa meluangkan waktu untuk diskusi starbuckerseconomists. Semoga diskusi ini bisa terpelihara dengan baik.