Wednesday, September 2, 2009

Ah Teori... !!!!

Sedikit berbeda dengan yang dialami oleh bung Gaffar, saya juga punya cerita tentang kondisi yang saya alami tentang Ilmu Ekonomi, lebih spesifiknya tentang teori dan model kuantitatif.

Sudah sekitar 8 bulan bekerja di tempat yang baru, saya menemukan beberapa hal “menarik” di dalamnya. Namun ada satu hal yang sangat mengganggu, yakni orang-orang di tempat saya bekerja kerapkali tidak percaya dengan yang namanya teori ataupun model kuantitatif. Kata-kata senada dengan ah itu kan teori.. atau itu cuma model.. sering kali saya dengar dalam berbagai diskusi, rapat, atau seminar. Mereka lebih percaya pada pengalaman mereka, perasaan mereka, berita di koran, ataupun obrolan di rapat-rapat.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan, karena bisa jadi apa yang menjadi pengalaman mereka itu benar, sesuai dengan apa yang terjadi di realita. Namun entah karena menjadi kebiasaan atau karena frustrasi ternyata teori yang mereka pelajari susah-susah di kampus sering tidak sama dengan realita, landasan teori pun kerap ditinggalkan dalam analisis-analisis yang dilakukan sebelum pengambilan kebijakan. Nasib lebih parah dialami oleh penggunaan metode kuantitatif. Kendati salah satu tugas di tempat saya bekerja adalah melakukan proyeksi, model kuantitatif bagai menjadi anak tiri disini.

Bila kita coba rangkum, tampaknya bagi mereka dan saya yakin juga banyak orang lainnya, baik teori ataupun model kuantitatif telah gagal menjelaskan apa yang terjadi dalam dunia sebenarnya. Artinya, keduanya gak ada gunanya. Ketika keduanya gak ada gunanya, tentu lebih baik untuk ditinggalkan saja.

Berhadapan dengan orang-orang ini, rasanya susah banget untuk meyakinkan kembali akan pentingnya teori ataupun model kuantitatif. Tapi analogi berikut, dari Mark Thoma, layak dicoba. Analogi yang digunakan adalah antara krisis ekonomi dengan bencana gempa bumi. Keduanya sama-sama coba dijelaskan dan diproyeksikan melalui teori dan model kuantitatif, tetapi hingga saat ini keduanya bernasib sama.

Hingga saat ini tidak kurang upaya, baik penjelasan teori ataupun berbagai model prediksi, untuk memperkirakan kapan dan dimana bencana gempa bumi terjadi. Namun hingga saat ini pula, manusia tidak bisa memperkirakan dengan tepat kapan dan dimana bencana gempa bumi akan terjadi. Pertanyaannya adalah apakah itu berarti ilmu yang mempelajari gempa bumi ataupun model- prediksi yang digunakan tidak berguna??

Tentu tidak. Meski pada akhirnya belum mampu memprediksikan dengan tepat, tetapi teori dan model tetap memberikan manfaat pada kita. Ketika terjadi gempa bumi, dengan menggunakan bantuan teori dan model, kita bisa sedikit banyak tahu mengapa dan bagaimana gempa bumi itu terjadi. Apa yang menyebabkannya, tanda-tandanya seperti apa, dllnya. Di poin ini, teori maupun model, memberikan kita pemahaman lebih dalam bagaimana dunia ini bekerja. Selain itu, dengan info-info tambahan tsb, kemampuan prediksi kita diharapkan akan lebih meningkat. Jika saat ini belum benar-benar mampu memprediksi dengan tepat, itu berarti masih harus dilakukan perbaikan dan peningkatan pada teori maupun model tadi. Tapi bukan berarti tidak berguna dan lebih baik ditinggalkan.

Lebih jauh, info-info yang kita kumpulkan akan berguna untuk bersiap dalam menghadapi gempa berikutnya, baik itu melakukan tindakan sebelum terjadi gempa atau sesudahnya. Contoh tindakan sebelum terjadi gempa: dengan bantuan teori dan model, kita dapat mendesain rumah atau gedung yang lebih kokoh terhadap bencana gempa bumi. Contoh tindakan sesudah: seandainya pun gempa bumi sudah terjadi, dengan bantuan teori dan model kita dapat mengurangi secara signifikan kerusakan yang ada, misalkan dengan mendesain semacam skema pertolongan darurat.

Gambaran pada kasus gempa bumi juga bisa diterapkan dalam hal ini secara spesifik pada kasus krisis ekonomi. Namun secara lebih luas, gambaran tadi memberikan pemahaman lebih bagaimana teori dan model bila digunakan secara tepat dapat sangat berguna di dalam kehidupan kita, dibandingkan dengan omongan orang di rapat-rapat. Ingin mendapat bukti lebih lanjut (terutama dalam kasus model kuantitatif), silahkan baca buku ”super crunchers”.

Kalau di kasus Gaffar entah bagaimana ceritanya lingkungannya seakan-akan mendewakan teori dan model kuantitatif, di lingkungan sekitar saya sebaliknya, mereka benar-benar melupakan teori dan model kuantitatif.

Teori bagi saya adalah landasan awal kita berpikir. Meski begitu, bagi saya tidak selamanya semua harus sesuai teori (karena teori kebanyakan menyederhanakan permasalahan dan tidak ada yang sempurna). Tapi satu hal, kalau kita tidak punya teori sebagai landasan awal berpikir, tentu argumen yang kita keluarkan akan kemana-mana (aka tidak jelas). Teori memberikan kita koridor dalam pemikiran yang dilakukan.

Sementara itu, benar kata gaffar bahwa model kuantitatif itu hanyalah alat. Karena dia alat, yang dalam hal ini bebas nilai (berbeda dengan manusia), apa yang dihasilkan seharusnya benar-benar gambaran objektif dari apa yang ada. Hasil dari model kuantitatif kemudian akan menjadi pembanding dengan apa yang diungkapkan teori. Bila ternyata tidak sesuai, yah tidak apa-apa. Ketidaksesuaian itulah yang kemudian menjadi pertanyaan berikutnya. Siapa tahu dari hasil ketidaksesuaian tersebut teori yang ada bisa dikembangkan. Karena kita perlu ingat lagi di awal, teori bukanlah sesuatu yang sempurna.

Kalau gaffar mengingatkan akan bahaya penggunaan berlebihan teori ataupun model kuantitatif, saya coba mengingatkan bahaya yang lebih besar ketika keduanya sama sekali tidak diperhatikan.

Ketika Ilmu Ekonomi Kehilangan Sisi Sosialnya

Tak tahu kenapa akhir-akhir ini saya merasa ilmu ekonomi menjadi kurang menarik, seperti tercerabut dari hakikatnya sebagai ilmu sosial yang dinamis.

Subordinasi hirarki ini seperti menjadikan ilmu ekonomi melupakan ranahnya sebagai sebuah laboratorium sosial.Makin lama hanya semakin mengagung-agungkan teori layaknya ayat-ayat Tuhan.

Kita akan terlihat berdosa dan menggelikan ketika hasil estimasi yang kita dapatkan tidak sesuai teori yang sudah mapan. Secara tak sadar Mengapa ada saja upaya mengerdilkan upaya kita untuk menuntaskan pemikiran mengapa realitas yang ada menjadi tidak sejalan.

Ilmu ekonomi akhir-akhir ini menjadi tidak menarik bagi saya. Ketika semuanya seperti mesin berjalan, cenderung kaku, tidak dinamis, dan stagnan.

Semuanya seperti menjadi saklak dan tak terbantahkan. Ketika sebuah persamaan ekonomi mengharuskan variabel-variabelnya berstatus signifikan. Tetapi ada saja upaya untuk menihilkan rasionalitas untuk menjelaskan mengapa variabel yang didapatkan menjadi tidak signifikan.

Akhir-akhir ini ilmu ekonomi menjadi tidak menarik bagi saya. Ketika ekonometrik yang seharusnya berfungsi sebagai alat mencapai tujuan, malah menjadi sesuatu yang didewakan.

Akhir-akhir ini ilmu ekonomi menjadi tidak menarik bagi saya. Ketika koefisien suatu variabel sejak awal dengan jumawa sudah ditentukan, tanpa membolehkan berfikir bagaimana mencari alasan agar kita bisa menerima koefisien yang sebenarnya dihasilkan.

Akhir-akhir ini ilmu ekonomi semakin tidak menarik bagi saya. Ketika hal-hal teknis menjadi sesuatu yang lebih diutamakan, namun hanya didukung oleh sebuah analisis yang dangkal dan hanya menangkap permukaan. Tetapi dengan lucunya bisa bertingkah pongah seolah-olah hasil tersebut adalah sebuah mahakarya yang patut dibanggakan.

Akhir-akhir ini ilmu ekonomi semakin tidak menarik bagi saya.Terutama ketika ruang diskusi dan rasa saling menghargai berbagai pemikiran dan pendapat telah dimatikan.

Apa dayalah untuk mengatakan ini itu berharap didengarkan, jika menyadari diri ini yang tidak cantik dan rupawan.

Saturday, August 22, 2009

Harga Tiket Pesawat Berbentuk Kurva U Terbalik

Saya diawal bulan kemarin baru melakukan sebuah perjalanan menggunakan pesawat, perjalanannya cukup jauh, melintasi lautan bahkan samudera.

Sebulan sebelum saya berangkat, saya diberitahu untuk booking tiket secepatnya agar dapat harga lebih murah. Ketika itu harga tiketnya sekitar $800an untuk sebuah perjalanan pulang-pergi (return).

Kira-kira seminggu setelah itu, saya pergi ke sebuah outlet maskapai penerbangan untuk membooking tiket untuk perjalanan saya tersebut karena seminggu sebelumnya saya tidak sempat untuk melakukan itu. Lalu teller disana mengatakan bahwa, harga tiket return ke tempat tujuan saya itu senilai $1106,4. (kalo tidak salah inget).

Jelas saya terperanjak mendengar harganya yang mahal banget, sebab saya tau kisaran harga normalnya dan harga itu sudah naik sekitar $ 200 dari harga seminggu sebelumnya. Teller itu bilang bahwa penerbangan menjadi penuh oleh karena kasus bom marriot-ritz carlton kemarin. Sehingga ada exodus wisman dari Indonesia. Jadi pesawat-pesawat almost fully booked.

Tetapi, sungguh aneh karena berita di televisi mengatakan bahwa turis-turis Bali tidak banyak terpengaruh oleh kasus tersebut, dan mereka juga tidak lantas pada pulang kembali ke negaranya. Kalo benar ada exodus, mestinya turis di Bali juga ikut exodus.

Tidak habis akal, demi mendapat harga tiket yang lebih normal, maka saya jambangi sebuah travel agent kenamaan di bilangan pasar festival, kira-kira 2 hari setelah kunjungan saya ke outlet maskapai tadi. Lalu travel agent itu bilang bahwa untuk penerbangan yang sama, harga tiket pesawat adalah $ 910. Dalam hati jadi merasa aneh, kok harganya turun lumayan besar?

Lalu, saya jadi berpikir apa mungkin harga tiket ini akan turun lagi? Sambil membayangkan sebuah pola harga tiket pesawat berbentuk kurva U terbalik (seperti kurva kuznet) dimana harga tiket pesawat pertama-tama akan naik dulu ketika mendekati hari H keberangkatan, lalu kemudian kembali menurun pada waktu sangat dekat dengan hari keberangkatan.

Meski merasa was-was takut gak kedapatan tiket, saya beranikan diri untuk mempercayai pola tersebut. Dan akhirnya benar sodara-sodara, pada waktu kira-kira 3 hari sebelum keberangkatan saja mendapatkan kembali tiket pesawat seharga kurang lebih sama dengan harga sebulan lalu, yaitu pada harga $840.

Saya bersintesa, bahwa pada awalnya, calon penumpang pesawat pada buru-buru booking tiket, meski bisa jadi mereka mem-booking tiket di lebih dari satu maskapai guna men-secure tiket yang terbaik dilihat dari kombinasi harga dan kualitas penerbangan. Lalu, mendekat hari keberangkatan tentu mereka hanya memilih salah satunya saja. Oleh karena itulah saya akhirnya dapat tiket yang saya inginkan dengan harga yang saya inginkan. Karena ada calon penumpang yang telah melepas booking tiketnya.

Jadi, secara umum saya berkesimpulan bahwa harga tiket pesawat berbentuk kurva U terbalik. Sepakat kah Anda? (semoga bisa sekaligus menjawab pertanyaan di comment Chaikal juga)

Thursday, July 30, 2009

Lagi, Spekulasi Susunan Kabinet 2009-2014

Sebenernya saya bingung juga bagaimana orang-orang menyusun daftar-daftar seperti ini.
namun ini saya posting benar-benar dari apa yang saya temukan pada milis-milis lain. Tanpa saya ubah-ubah sama sekali. Silakan dilihat-lihat, dan diikuti tar apakah ada yang tetap sesuai dengan yang pengumuman resmi atau tidak. terima kasih.

1. Menteri Negara Riset dan Teknologi: Onno W Purbo
2. Menteri Negara Koperasi dan UKM : Sandiaga S Uno
3. Menteri Negara Lingkungan Hidup: Ismid Hadad
4. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan: Zoemrotin
5. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara: Sudirman Said
6. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal: August Rumansara
7. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional: Marie Pangestu
8. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara: Faisal Basri
9. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga: Anas Urbaningrum
10. Menteri Negara Perumahan Rakyat: Eko Budihardjo/Darwis Khudori
11. Menteri Sekretaris Negara: Satya Arinanto
12. Menteri Dalam Negeri: Anies Baswedan
13. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa
14. Menteri Pertahanan: Agus Widjojo
15. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Todung Mulya Lubis
16. Menteri Keuangan: Sri Mulyani
17. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Kuntoro Mangkusubroto/ Muhammad Lutfi
18. Menteri Perdagangan dan Perindustrian: Hatta Sinatra
19. Menteri Pertanian: Agus Pakpahan
20. Menteri Kehutanan: Mas Achmad Santosa
21. Menteri Perhubungan: Danang Parikesit
22. Menteri Kelautan dan Perikanan: Dwisuryo Indroyono Susilo
23. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Didik J Rachbini
24. Menteri Pekerjaan Umum: Bambang Susantono
25. Menteri Kesehatan: DR. Dr. Fachmi Idris
26. Menteri Pendidikan Nasional: Dr Arif Rahman/Satryo Soemantri Brodjonegoro
27. Menteri Sosial: Imam B Prasodjo
28. Menteri Agama: Komaruddin Hidayat
29. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Meity Robot
30. Menteri Komunikasi dan Informatika: Adi Rahman Adiwoso

Panglima TNI: Marsekal TNI Subandrio
Kapolri: Bagus Ekodanto
Gubernur BI: Hartadi A Sarwono
Jaksa Agung: Marwan Effendy

Friday, July 24, 2009

Latest Speculation on Cabinet Line-up

Menko Politik Hukum dan Keamanan : Sutanto ( Mantan Kapolri )
Menko Perekonomian : Sri Mulyani Indrawati
Menko Kesra : Hatta Rajasa (PAN)
Sekretaris Negara : Sudi Silalahi

MENTERI DEPARTEMEN
Menteri Dalam Negeri : Andi Malaranggeng (Partai Demokrat)
Menteri Luar Negeri : Marty Natalegawa (Dubes RI di PBB)
Menteri Pertahanan : Djoko Suyanto (Mantan Panglima TNI)
Menteri Hukum dan HAM : Ruhut Sitompul (Partai Demokrat)
Menteri Keuangan : M.Chatib Basri (Dir. LPEM - FEUI)
Menteri Pertambangan dan Energi : Tubagus Haryono(BP Migas)
Menteri Perindustrian & Pedagangan : MS Hidayat (KADIN)
Menteri Pertanian : Dr.Ir.H. Herry Suhardiyanto M.Sc. (Rektor IPB)
Menteri Kehutanan : Taufik Efendy (Partai Demokrat)
Menteri Perhubungan : Prof. Dr. Sutanto Soehodho (UI)
Menteri Kelautan dan Perikanan : DR. Ir. Mohammad Jafar Hafsah (Partai Demokrat)
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : M.Jumhur Hidayat (Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI)
Menteri Pekerjaan Umum : Prof Dr.Ir Boedi Soesilo Supanji (Dirjen Potensi Pertahanan Dephan)
Menteri Kesehatan : Dr.dr Fachmi Idris, M Kes (Ketua Umum IDI)
Menteri Pendidikan Nasional : Anis Rasyid Bawesdan pHd (Rektor Univ.
Paramadina)
Menteri Sosial : Hidayat Nur Wahid (PKS)/Tifatul Sembiring (PKS)
Menteri Agama : Dr Salim Segaf Al Jufri ( Dubes RI untuk Saudi Arabia/ PKS)

MENTERI NEGARA
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata : Jero Wajik (Partai Demokrat)
Menteri Riset dan Teknologi : Dr Andy N. Sommeang (Dirjen HAKI)
Menteri Koperasi dan UKM : Muhaimin Iskandar (PKB)
Menteri Lingkungan Hidup : Prof Dr Jhony W Soedarsono (Guru Besar FTUI)
Menteri Pemberdayaan Perempuan : Rahmawati Soekarnoputri
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : Marzuki Alie (Partai Demokrat)
enteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal : Lukman Edy (PKB)
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional : Prof Bambang PS Brojonegoro (FEUI, IDB)
Menteri BUMN : Sofyan Djalil (Meneg BUMN saat ini)
Menteri Komunikasi dan Informasi : Rizal Malarangeng (Tim Sukses SBY-Boediono)
Menteri Pemuda dan Olahraga : Anas Urbaningrum (P Demokrat)
Menteri Perumahan Rakyat : Zulkifli Hasan (PAN)
Jaksa Agung; Amir Syamsudin
Gubernur BI: Srimulyani/Darmin Nasution

sumber: berbagai milis

Wednesday, July 22, 2009

Dahsyat, Inbox, Kissvaganza, dll: Bukti Pengangguran Meningkat!

Acara-acara musik live di pagi hari yang rutin seperti inbox, dashyat, kissvaganza dan sebagainya banyak bermunculan dan ratingnya cukup baik. Penggemar utama dari acara-acara ini adalah anak-anak muda utamanya. Tidak saja anak-anak muda menonton dari TV tetapi bahkan secara live di studio maupun lokasi syuting acara tersebut.

Anehnya, mengapa anak-anak muda tersebut sempat-sempatnya menonton acara itu? Mengingat jam tayangnya adalah tepat pada jam sekolah atau bekerja. Lalu apakah para penontonnya tidak sekolah atau bekerja? Sebab kalo kita perhatikan jumlah mereka cukup banyak bila di studio dan sangat banyak bila di lokasi outdoor.

Saya menduga, bahwa ini adalah salah satu bukti bahwa pengangguran Indonesia sedang meningkat pesat. Sebab acara anak muda yang ditayangkan pada jam sekolah/bekerja ternyata ratingnya tinggi dan meningkat terus, ini berarti anak-anak muda yang seharusnya pada umur produktif sedang tidak menggunakan waktu produktifnya.

Tuesday, July 21, 2009

Jakarta Bombings and President Comment

Two bombs exploded at JW Marriott and Ritz Carlton hotel Jakarta on FRi, July 17th. President SBY had commented on it, telling that the bombings may be related to not-so-final result of presidental election that held just 9 days earlier, in which he has been predicted to win by various survey institutions. He also announced inteligent reports of radical activities and plans which counter his candidancy. Some people then critisized his speech, especially his rivals at the election.

As public knows that there's hard (or even nasty) competition among presidential candidates, along with elector list problems and surveys subjectivity issues, hearing this speech, SBY rivals may be felt that it's likely to be pointed at them, so they protested. Or, it could be another chance to put another trial to decrease SBY popularity.

In my opinion, it's possible that the bomb related to election result, not caused by his predicted-to-lose rivals, but caused by terrorist preference: in fact, in SBY era terrorist attack was minimal, and there was Bali-bombing terrorists executions. Here's a citation from bloomberg:
"Yudhoyono, a 59-year-old former general, weakened the group by winning cooperation from captured terrorists, who convinced former comrades that the government doesn’t oppose their religion. The government also rewarded informants, including tuition aid for their children, relocation expenses and the privilege of forgoing uniforms in prison."

However, Even if it's true that the speech is emotional and quite improper, with also-emotional responses from the rivals, the issue is minor and cannot be the main issue, the bombing itself and economic impact. An International news portal, Bloomberg website doesn't care about it, and stay focused updating news on bombing investigations and economic fundamentals or sentiments.

How do you guys comment on it?

Monday, July 13, 2009

Konsultan Korea akan Reformasi Perbendaharaan Depkeu

Aneh meski nyata. Tetapi hal ini memang terjadi. Akan ada konsultan asing yang mereformasi departemen keuangan kita. Mengapa?

Silakan dibaca disini.

Reformasi adalah pembaharuan. Apakah pembaharuan mesti menggunakan orang luar? maksudnya orang yang benar-benar dari luar negara ini? kalo memang demikian, apakah itu artinya kita akan mengikuti pola reformasi di negara tersebut? Banyak pertanyaan lahir dari kondisi ini. Semoga kebijakan ini memang sudah benar-benar bijak.

Saturday, July 11, 2009

Reformasi Dunia Kesehatan: Mimpi Indah Kita Bersama

Saya kalo datang ke rumah sakit ada kalanya berpikir mengapa biayanya mahal sekali. Kalo saya berpikir itu mahal bagaimana dengan orang-orang yang penghasilannya lebih kecil dari saya.

Lalu pernah suatu kali saya sakit, cukup parah, namun pas lagi "bulan tua", tiba-tiba bingung, bagaimana harus bayar biaya berobatnya. Mengambil tabungan sebenernya bisa saja, namun bagaimana dengan orang-orang yang tidak punya tabungan.

Mengapa negara kita tidak bisa pakai sistem kesehatan seperti di AS yang mana orang kalo sakit tinggal datang saja ke rumah sakit maka pengobatan yang paling optimum akan diberikan ke orang tersebut dan semuanya sudah ter-cover oleh sistem asuransi. Mungkin jawabnya adalah karena negara belum cukup dana untuk dialokasikan ke sektor kesehatan sebagaimana sektor pendidikan sudah memperolehnya.

Selanjutnya mengapa sih banyak orang pingin anaknya sekolah di fakultas kedokteran? Mungkin agar si anak bisa merawat orang tuanya tersebut bila sudah tua dan mulai sakit-sakitan, supaya pengeluaran kesehatan keluarga menjadi tidak mahal. Kemudian supaya si anak bisa memiliki pendapatan yang tinggi. Karena secara umum, profesi dokter adalah salah satu profesi dengan penghasilan tertinggi, tidak hanya di Indonesia, tetapi bahkan di dunia. Percaya tidak percaya, untuk seorang dokter senior, penghasilan ratusan juta dalam sebulan adalah tidak mustahil. Luar biasaaa...

Reformasi kesehatan mungkin sudah waktunya didengungkan.. Bukan hanya untuk yang miskin dan sakit, tapi bahkan untuk yang mampu dan sehat. Sebab lebih baik mencegah dari pada mengobati. Benar khan?

Thursday, July 9, 2009

Quick count: 24%, 60%, 16%; Resmi 1 putaran?

Hasil quick count pemilu presiden kali ini adalah menunjukkan bahwa pasangan mega-pro mendapat 24%, pasangan SBY-Boediono 60% dan pasangan JK-Win 16%. Sambil menunggu hasil resmi dari KPU, muncul pertanyaan apakah hasil quick count bisa dipandang sebagai pertanda resmi tidak akan ada pemilu presiden putaran kedua? Untuk membuktikan hal ini maka kita bisa memakai pendekatan matematis.

Jumlah pemilih pemilu kita saat ini kurang lebih adalah sekitar 120 juta orang. Secara hitungan kasar maka untuk mengetahui apakah akan ada pemilu kedua adalah apabila ada kemelesetan hasil quick count sebesar 10% lebih pada quick count pasangan SBY-Boediono sehingga suara pasangan tersebut tidak memenuhi untuk menang dalam satu putaran.

10% suara dari 120 juta pemilih adalah 12 juta suara. Oleh karena itu perlu ada kemelesetan hasil quick count yang sangat besar dibanding hasil perhitungan resmi. Meskipun quick count tidak melibatkan perhitungan suara sebanyak itu, tetapi persentasenya adalah sebuah gambaran dari jumlah suara sesungguhnya. Jadi, Apakah mungkin quick count meleset sebesar itu???

Wednesday, July 8, 2009

Dag dig dug.. pilpres satu putaran atau dua..

Mengikuti berseri-seri survey dari berbagai lembaga yang berusaha memprediksi hasil pemilu pilpres, kebanyakan menghasilkan bahwa pilpres kali ini hanya akan satu putaran dengan dimenangkan oleh incumbent. Meski ada juga satu dua hasil survey yang hasilnya berbeda dengan hasil survey pada umumnya.

Terlepas dari itu semua, hari ini adalah hari pembuktian mana yang benar yaitu apakah hasil survey-survey/polling-polling politik kita dapat dipercaya dan akurat, atau tidak. Jadi selain kita dag dig dug siapa yang akan jadi pemimpin kita berikutnya untuk periode 2009-2014, ada juga orang-orang yang dag dig dug khawatir akan kredibilitas lembaga surveynya bila ternyata nanti hasil polling mereka berbeda jauh dengan hasil pemilu yang sebenarnya.

Selamat berdag-dig-dug ria...

Friday, July 3, 2009

the fake sharp drop

As predicted, people is amazed on sharp drop of yoy inflation from 6,04% to 3,65% which announced by statistics body yesterday. But, If we take a closer look to the data, the above 2% decline of yoy inflation is affected more by mtm deflation on early 2009, sharp rise of commodity prices on Q2-Q3 2008, and several colleagues suggest that it is related to base year change. So, the sharp drop of May-June inflation only explains economic condition in the past, but for now it is merely a technical issue, not economic. I predict that “the fake downward trend of May-June inflation” will continue to minimum on Q3-09. Future inflation (6mo to 1 year), will be slightly higher as economy recovers that expected, cyclical effects, and a technical issue (again).

Thursday, July 2, 2009

Netbooks: Selanjutnya Apalagi?

Dahulu saya ingat, untuk memiliki laptop dengan layar kecil sedikitnya kita harus merogoh kocek dikisaran 20jutaan. Fujitsu dan Sony Vaio adalah leading producernya. Namun setelah hadirnya intel atom yang menggunakan IC chip berukuran 45nm (dahulu biasanya 60nm) semua perusahaan komputer tiba-tiba berlomba-lomba untuk menciptakan laptop layar kecil, ringan, low electricity dan cukup kuat untuk performa standar khususnya kebutuhan kerja dan bermain internet, serta yang jelas harganya MURAH, hanya sekitar 5jutaan. Laptop jenis ini kemudian dikenal sebagai netbooks. Namun sayangnya laptop ini gak ada CD/DVD ROM/Burnernya.

Pertanyaan saya saat ini adalah, jenis komputer macam apalagi yang merupakan kebutuhan publik setelah netbook?

Untuk membuat tulisan ini rada berbau ekonomi maka saya mau perkenalkan anda pada sebuah model permintaan laptop: Jika Y adalah jumlah permintaan laptop maka;

Y=f(harga,kemampuan processor laptop,berat laptop,garansi service, ukuran layar, warna body laptop, lama baterai laptop, ketersediaan CD/DVD ROM)

Harga sudah jelas lebih murah lebih baik, meski murah yang terlalu murah bisa jadi quality reduction. Kemampuan processor pastinya adalah semakin kuat dan cerdas maka akan semakin menarik minat pembeli, namun harus jadi pertimbangan bahwa sebuah processor semakin cerdas biasanya semakin butuh listrik besar. Berat Laptop, tentu semua maunya yang ringan. Garansi service semakin lama pastinya semakin diminati tapi sayangnya hal ini berkorelasi erat dengan harga. Ukuran layar, variabel ini benar2 ambigu apakah makin kecil makin diminati atau sebaliknya, dahulu orang cenderung mencari layar kecil karena akan meningkatkan gengsi, sebab semua laptop layar kecil pasti harga mahal, sedangkan sekarang hal itu menjadi tidak saklek lagi. Warna merupakan serentetan variabel dummy dari warna-warna, kemungkinan nilai koefisien terbesar adalah di warna hitam dan putih, tetapi tidak menutup kemungkinan ada warna lain yang bisa berefek besar seiring dengan perjalanan waktu, misalkan pink yang sangat digemari kaum perempuan. Lama baterai, kalo untuk variable ini jelas semakin lama semakin digemari, namun sayangnya berkorelasi positif dengan harga lagi. Terakhir, ketersediaan CD/DVD rom, ini adalah variable dummy, namun nilai koefisiennya semakin mengecil semenjak orang kini lebih senang menggunakan flashdisk dan virtual memory.

Lalu dari model itu saya simpulkan bahwa harga yang berkorelasi dengan kemampuan processor, garansi service, lama baterai dan ketersediaan CD/DVD. Sehingga keempat variabel ini bisa besar kemungkinan untuk menciptakan multikolinearity sehingga sebaiknya dibuang saja. Alhasil kita akan temukan sebuah model permintaan yang hanya dipengaruhi oleh harga, berat laptop, ukuran layar, dan warna laptop.

Klo saya teman karib bill gates, kemungkinan saya akan bilang dia untuk ciptakan sebuah laptop yang harga murah, layar besar, ringan dan warnanya bisa disesuaikan ketika akan dibeli. Mengapa saya bilang itu kebutuhan laptop yang berikutnya adalah karena layar kecil ternyata sudah ada yang murah dan ringan, mungkin sekarang saatnya layar besar murah dan ringan. Tetapi jangan lupa bahwa warna laptop harus tersedia untuk segala warna yang dikehendaki oleh pembeli. Hal yang terakhir ini sangat jarang sekali dipenuhi oleh produsen. Saya cukup yakin mengapa laptop warna hitam sangat laku adalah karena supply creates its own demand, bukan karena demand creates supply. Jadi Bill, maukah anda terima saran saya?

Tuesday, June 30, 2009

Penumpang Kelas Ekonomi mensubsidi kelas-kelas diatasnya

Minggu lalu saya naik sebuah pesawat yang memiliki kelas satu (first class), kelas bisnis (business class) dan kelas ekonomi (economy class). Saya berada di kelas ekonomi. Jumlah penumpang ekonomi umumnya lebih banyak dari pada penumpang kelas diatasnya. Lalu hal ini membuat saya bertanya-tanya, siapakah yang diuntungkan dalam situasi ini?

Secara logika umum, penumpang kelas satu dan bisnis adalah yang mensubsidi kelas ekonomi karena mereka membayar lebih mahal. Namun secara akumulasi nilai uang, maka adalah kelas ekonomi yang membiayai kelas diatasnya. Berikut adalah logikanya:
Total pendapatan dari sebuah pesawat tentu adalah dari kelas ekonomi yang terbesar, oleh karena itu pembiayaan investasi pesawat tersebut utamanya adalah dari penumpang ekonomi. Jadi bila kita asumsikan bahwa pesawat tersebut dibeli dengan hutang bank, maka adalah penumpang ekonomi yang paling banyak membayar hutang tersebut. Oleh karena itu kita bisa simpulkan adalah bahwa penumpang ekonomi yang secara tidak langsung men"subsidi" penumpang kelas diatasnya. Atau dengan kata lain, orang lebih miskin mensubsidi orang lebih kaya. hehehe...

Setuju kah Anda?

Friday, May 15, 2009

WOC2

Sebelum benar-benar basi dan terbuang, saya harus posting artikel ini sebagai lanjutan dari posting sebelumnya. Berikut adalah hasil perbandingan quick count beberapa lembaga survey, WOC, dan hasil riil KPU. Tabel ini menegaskan supremasi WOC terhadap prediksi individual lembaga survey. Jadi kurang tepat jika LiSI yang paling akurat. (hehehe.)

Apakah LiSI berhak meng-klaim bahwa survey mereka paling akurat (selain WOC tentunya)? Secara rata-rata memang LiSI yang paling akurat (MAD paling kecil), tetapi tidak secara individual. Paling tidak LiSI dengan margin of error satu persen yang mereka gunakan, gagal menduga dengan benar hasil perolehan suara Partai Demokrat. Dengan demikian, setidaknya perlu sedikit kejujuran kepada publik untuk mengakui ketidak-akuratan ini.