Tuesday, November 23, 2010

Eco-friendly plastic bags

Postingan Bung Luthfi sebelumnya yang sangat terkait dengan semangat greenomics, menjadi vegetarian ataupun tidak apakah memiliki imbas signifikan dalam kelestarian lingkungan memang masih menyimpan perdebatan.

Tapi bagi saya, sebuah upaya yang sangat disambut baik adalah mulai maraknya penggunaan kantung plastik yang mudah terdegradasi dalam waktu singkat. Penemuan ini tidak mudah, butuh riset cukup lama untuk menemukan "ramuan" dalam penciptaan kantong plastik ramah lingkungan ini.

Oxium menjadi salah satu pelopor dalam memproduksi plastik jenis ini (lihat di sini). Tentunya hal ini menjawab dari keresahan masih sangat bergantungnya konsumen di Indonesia dalam menggunakan kantung plastik, terutama ketika berbelanja. Plastik menjadi salah satu kontributor terbesar dalam sampah rumah tangga. Tentu ini berimplikasi pada persoalan lain, mulai dari manajemen pengelolaan sampah, hingga pencemaran lingkungan yang tidak hanya berdampak sekarang, namun juga generasi selanjutnya.

Saya rasa, menjadi vegetarian atau tidak sebagai bentuk upaya "saving or planet" hanyalah persoalan "ibadah ritual" saja. Ujung-ujungnya balik pada kebaikan bagi diri pelakunya, dampak terhadap lingkungan "wallahu a'lam". Saya lebih menghargai orang yang berfikir ke depan, salah satunya ikhtiar berinovasi melalui penemuan kantung plastik ramah lingkungan. Ini merupakan bentuk "ibadah sosial", lebih memberi kemashlahatan bagi sesuatu yang lebih besar.

Monday, November 22, 2010

Back from Dormant Condition


Are We Actually Saving Our Planet by Turning Into a Vegetarian?

Dalam perjalanan panjang di belantara jalan raya Jakarta, sebuah spanduk yang sudah usang dimakan polusi menarik perhatian saya. Di spanduk tersebut terdapat tulisan “prevent global warming by becoming a vegetarian”.

Saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh kebanyakan pengemudi di Jalanan Jakarta ketika sedang macet, namun saya pribadi biasanya menghabiskan waktu dengan melamun. Tulisan di spanduk tadi membuat lamunan saya menjadi berkualitas.

Saya membayangkan apa yang akan terjadi apabila jumlah vegetarian mengalami peningkatan. Sebelumnya perlu digarisbawahi bahwa posisi saya dalam hal “vegetarianism” ini adalah netral. Saya tidak against, namun juga tidak agree dengan konsep vegetarianism. Saya hanya mencoba meng-konkrit-kan lamunan saya menjadi sebuah bahan diskusi.

Tulisan ini tidak dibuat berdasarkan pengetahuan ilmiah dalam hal Biologi atau bidang ilmu apapun yang terkait dengan Rantai Makanan. Angle yang diambil adalah perspektif orang awam yang memiliki sedikit pengetahuan dibidang hitung-menghitung. Sehingga apabila banyak penyederhanaan yang dilakukan, semoga tidak mengurangi sense dari analisa mengenai “apakah benar Bumi akan terselamatkan apabila manusia menjadi vegetarian”.

Analisa mengenai vegetarianism akan saya mulai dari gambar rantai makanan dibawah


Gambar di atas mencoba menggambarkan rantai makanan yang terjadi dalam kehidupan di Bumi. Secara sekilas dapat diihat bahwa gambar tersebut merupakan penyederhanaan dari kondisi actual yang terjadi. Namun demikian hal ini dimaksudkan agar fokus dari tulisan ini tidak keluar dari konteks. Saya membagi rantai makanan kedalam dua bagian, kehidupan darat dan kehidupan air. Rantai makanan tersebut akan berakhir di mankind, subject tulisan ini sekaligus berstatus sebagai omnivore.

Analisa Rantai Makanan dimulai dari natural resource tanaman dan biota laut (sungai) yang berkembang biak dengan mengambil energi dari matahari. Herbivore adalah pemakan tumbuhan pada kehidupan darat, sedangkan Ikan Kecil merupakan agregasi dari segala binatang air yang memakan natural resources yang ada di laut (sungai). Pada kehidupan darat, herbivoreakan dimakan oleh carnivore, sedangkan di kehidupan air, Ikan Kecil akan dimakan oleh Ikan Besar. Ikan Besar dalam hal ini merupakan agregasi dari segala binatang air yang tidak memakan natural resources.

Tingkat pertambahan jumlah (growth) masing-masing entitas dalam gambar dinotasikan dalam persamaan yang ada di-‘dalam kurung’. Pertumbuhan jumlah tanaman P adalah ICP + GPN + GPM. Dimana: IC adalah Initial Condition, GPN adalah pertumbuhan tanaman yang secara natural terjadi dan GPM adalah pertumbuhan tanaman yang dihasilkan oleh mankind.

Terdapat satu entitas yang pertumbuhannya tidak dipengaruhi oleh aktivitas dari mankind, yaitu Ikan Besar. Dalam hal ini saya mengsumsikan bahwa tidak logis bagi mankind untuk membuka sebuah peternakan Ikan Paus atau Ikan apapun yang berukuran jumbo. GCM atau pertumbuhan carnivore oleh mankind, merupakan notasi bagi hewan peliharaan mankind seperti Anjing atau Kucing.

Notasi ‘X’ yang terdapat disetiap garis panah merupakan tingkat konsumsi oleh masing-masing entitas. Sehingga dalam hal ini XPH adalah jumlah plant yang dikonsumsi oleh herbivore, XHMadalah jumlah herbivore yang dikonsumsi oleh mankind, dan seterusnya.

Terdapat Tiga asumsi yang dianggap ceteris paribus dalam analisa ini. Pertama adalah mankind diasumsikan tidak mengkonsumsi carnivore. Kedua adalah apabila terjadi ‘kecelakaan’ yang mengakibatkan carnivore memakan mankind. Misalkan dalam perjalanan di gunung terjadi musibah mankind dimakan oleh harimau atau dalam sebuah liburan di laut ada mankind yang dimakan oleh ikan hiu. Ketiga adalah apabila terjadi bencana alam seperti kebakaran hutan atau tsunami.

Secara umum persamaan pertumbuhan dari masing-masing entitas adalah tingkat pertumbuhannya dikurangi entitas lain yang mengkonsumsinya. Sehingga dalam hal ini pertumbuhan dari entitas Plant adalah ICP + GPN + GPM - XPH - XPM - XPN. Dimana XPN adalah jumlah plant yang mati secara alamiah (natural). à P = ICP + GPN + GPM - XPH - XPM - XPN

Khusus untuk mankind tidak terdapat entitas yang mengkonsumsinya sehingga persamaan pertumbuhannya adalah M = ICM + GMN - XMN. Dimana XMN adalah jumlah Mankind yang mati secara natural.

Pola konsumsi mankind dalam menjalani kehidupannya didasari pada tiga prinsip, yaitu:

  1. Untuk kebutuhan (subsisten)
  2. Untuk Stock
  3. Untuk pengolahan (industri)

Pada kondisi yang natural mankind mengkonsumsi Plant, Herbivore dan Ikan untuk bertahan hidup. Sehingga dalam kondisi equilibrium fungsi konsumsi Mankind adalah: XPM + XHM + XIKM+ XIBM.

Jumlah dari fungsi konsumsi mankind sama dengan kebutuhan berdasarkan tiga prinsip diatas. Sehingga dalam kondisi equilibrium setiap entitas masih dapat berkembang biak karena tidak habis seluruhnya dikonsumsi oleh mankind. Setiap entitas yang dikonsumsi oleh mankind merupakan proporsi dari kapasitas maksimum mankind. Sehingga apabila mankind tidak mengkonsumsi XHM, maka proporsi konsumsi XIKM misalnya, akan meningkat sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas maksimumnya.

Kemudian apa yang akan terjadi apabila mankind menjadi vegetarian atau dalam set bahasa diatas menjadi herbivore. Secara langsung jumlah populasi Herbivore, Ikan Kecil dan Ikan Besar akan mengalami peningkatan karena tidak lagi dikonsumsi oleh mankind (XHM, XIKM, XIBM hilang dari persamaan).

Mankind akan berkompetisi dengan herbivore dalam bertahan hidup. Dalam hal ini pemenangnya jelas mankind karena keunggulannya dalam kemampuan berfikir. Jumlah herbivore yang menurun akan mengakibatkan carnivore mencari sumber makanan lain, yaitu mankind.

Sedangkan untuk kehidupan di laut. Karena tidak lagi dikonsumsi oleh mankind, maka populasi Ikan Kecil dan Ikan Besar akan meningkat. Dalam kondisi yang ekstrem, mankind tidak lagi dapat berlibur ke pantai karena sudah penuh dengan Ikan Hiu atau lainnya. Atau dapat juga diprediksi bahwa jumlah plankton menjadi berkurang karena semakin banyak yang mengkonsumsi. Sehingga terjadi gangguan dalam ekosistem Air.

Apakah kondisi demikian merupakan solusi yang masuk dalam kategori menyelamatkan Bumi?



Friday, October 8, 2010

Masa Depan Cinta 212

Seringkali kita menerawang jauh ke depan, menerka-nerka apakah yang akan terjadi kemudian. Sekali lagi masalah cinta, yang perjalanannya kadang tak seindah puisi berbait kata-kata. Yah, lagi-lagi seseorang hadir lagi, berkonsultasi masalah asmara. Memang begitulah dunia, jika rajutan asmara ini mudah diterjemahkan, mungkin sudah selesailah kehidupan dunia.

"Bang, bagaimana nasibku dengan cewekku ini Bang?" Akhhh, kau lagi, sudah berapa kali kau menggerutu masalah dunia percintaanmu dengan Abangmu yang bujang lapuk ini. Seperti tak ada masalah substansial lagi apa? Kau pikir aku ini tukang ramal? Yang bermodal kartu tarot atau membaca guratan-guratan di telapak tanganmu, lalu aku bisa membaca nasibmu? Akh, kau ini, makin hari bukan bertambah dewasa saja.

"Lalu aku mesti bagaimana Bang? Akankah aku bisa menjadi lebih baik dengan cewekku Bang?" Hmm, meski sesungguhnya tak peduli dengan urusanmu itu, tetapi Abang bisa berusaha memprediksi dirimu, tapi sayangnya hanya dalam jangka pendek.
"Jangka pendek? Maksud Abang?" Iyah, Abang tak punya informasi lengkap tentang keadaan faktor-faktor di seputar dirimu. Abang tak tahu bagaimana keluargamu, pendidikanmu selama ini, pekerjaanmu, yang kutahu hanya rupa dan kelakuanmu selama Abang kenal dirimu.

"Dengan Abang hanya tahu tentang perilaku diriku memang Abang bisa meramal keadaanku?" Yah bisa saja, kamu ini bagaikan sebuah variabel, yang bisa bergerak bak sebuah persamaan autoregressive. Ya, AR, kau tahu kan, diri kau sekarang tak lepas dengan dirimu kemarin. Masa lalu membentuk perilakumu sekarang, dan juga saat ini. Hmmm, dan bisa juga dirimu seperti rata-rata bergerak, moving average, dirimu adalah hasil dari perilaku salahmu di masa lalu, dan juga sekarang.

Jadi begitulah kita manusia ini, berdiri saat ini, hasil dari perjalanan jejak-jejak hidup kita di masa lalu, dan ratapan kesalahan (error) kita di masa lalu.

Kau tahu ARMA? "Apa itu Bang?" Yah itu, apa yang aku omongkan barusan, bahasa bekennya, prediksi ARMA. Tunggu, tunggu, tunggu..pembicaraan yang lalu, kau masih punya persoalan kan dengan kejiwaanmu yang tidak stasioner? Kalau begitu, terpaksa aku akan meramal bukan dirimu, tapi perubahan dirimu sekarang dengan waktu sebelumnya. Jadilah kita punya model peramalan bernama ARIMA. Alamak, lebih cantik nama ARIMA dibandingkan nama cewekmu itu!

"Abang sedang apa, seperti asik mengutak-ngatik sesuatu?" Aha, benar-benar beruntung kau, modelmu bak macam kapak sakti Wiro Sableng saja, 212. Kini kita punya model peramalan dirimu ARIMA (212), itu sudah yang paling mantap, tak ada lagi model lain sebagus ini.

"Lalu Bang, bagaimana nasibku 5 tahun lagi?" Apa? Lima tahun lagi? Abang saja punya rekap kelakuanmu dari bulan-bulan selama kita bertemu, sekarang macam manapula kau minta aku ramal tentang nasib asmaramu 60 bulan ke depan. Abang bisa prediksi kau 1-2 bulan ke depan saja mestinya kau sudah bersyukur.

"Lho, kenapa Bang?"
Heh, begini yah anak muda, aku ini meramal kau secara dinamis, ketika kau minta aku mengira-ngira nasib dengan waktu nun jauh ke depan, aku terpaksa menggunakan peramalanku sebelumnya. Kau tahu, ramalanku saja bisa salah, dan alangkah kesalahan itu akan berakumulasi jika aku terpaksa menggunakan hasil ramalanku yang tak jelas benar salahnya untuk meramal kembali nasibmu itu.

"Ah payah Abang ini, meramal kehidupanku dengan cewekku itu kalau 1-2 bulan lagi sih tak ada guna Bang. Aku mau menikahinya 5 tahun lagi, sekarang tabunganku belum cukup, lagian untuk makan saja masih sering minta sama Emak."

Dasar kau ini, pergi sana! Kumpulkan dulu semua informasi tentang dirimu,biarku tak hanya bergantung dengan informasi dari kelakuan dirimu saja. Terpaksa kubuang saja ARIMA (2,1,2) ini, buang-buang waktuku saja....

Thursday, October 7, 2010

Stasioneritas Cinta

Seseorang datang berbicara soal cinta, masa depan asmara, pertalian dua insan manusia.

Hati dan jiwanya sungguh tidak stasioner, kadang pola kejiwaannya memiliki kecenderungan bergerak ke atas ataupun ke bawah. Ya, jiwanya memiliki trend tertentu, kadang dengan varians yang tidak konstan.

Diriku bertanya: "Mengapa kamu seperti itu?" Dia menjawab, "Sayapun tak tahu Bang, secara eksplisit grafis saja diriku kau bisa lihat dengan jelas seperti itu."

Diriku balik bertanya: "Sudahkah kau lihat correlogram jiwamu? Atau sudahkah kamu melakukan uji unit akar?"

Dia menjawab: "Jelas sudah jiwaku yang tidak stasioner itu tergambar dalam correlogram Bang! Si Augmented Dickey-Fuller pun mengatakan demikian,bahkan dia menerima hipotesis jiwaku yang tidak stasioner." "Aku sebal dengan ADF itu, macam manapula dia menyuruhku menjadi turunan pertama atau kedua, diriku ingin tetap yang asli, apa adanya."

Hmm, tak usahlah kau menggerutu seperti itu, masalahmu sebenarnya tidak sulit-sulit amat, kau hanya butuh seseorang yang memiliki jiwa stasioner ataupun tidak stasioner.

"Kok bisa begitu Bang?" Jelas bisa, mungkin saja cewekmu sekarang bisa menangani masalah kejiwaanmu itu. Konsultasilah kamu pada Engle dan Granger, kalau kau tak mau pusing mereka-reka bentuk model jiwamu, datang saja kepada si Johansen.

"Lalu apa yang mesti kutanyakan Bang?" Tanya kepada mereka, apakah kamu dengan cewekmu itu benar-benar jodohmu yang baik, jika kamu menikahinya,kamu bisa menghasilkan kombinasi dua pasang manusia yang stasioner.

"Kok bisa begitu Bang?" Jelas bisa, kita manusia sesungguhnya diciptakan berpasang-pasangan, stasioneritas jiwamu akan tertutupi oleh stasioneritas jiwa cewekmu itu. Atau, jika cewekmu juga tidak stasioner, kegilaan kalian berdua bisa menghasilkan pasangan stasioner.

Abang tak rela jika kamu nekat begitu saja menautkan hatimu dengan cewekmu itu, tanpa kau obati atau kau siasati dulu jiwamu yang tidak stasioner itu. Ingat ya, jika kau tidak dengar perkataan Abang, kalian berdua hanya akan menghasilkan hubungan yang spurious, alias hubungan yang palsu.

"Hoo, begitu ya, baik Bang, akan saya laksanakan perintah Abang!"

Monday, September 6, 2010

Mencari Rasionalitas “Ekonomi-Perang” : Belajar dari Pengalaman Pembangunan Indonesia

Kisruh hubungan Indonesia-Malaysia lagi-lagi memanas, sepertinya selalu saja ada perseteruan yang muncul dari dua negara sesama rumpun Melayu ini. Mulai dari permasalahan pengakuan budaya Indonesia oleh Malaysia, hingga perihal masalah perbatasan. Perselisihan ini selalu saja terdapat ruang pendapat dari sebagian ranah publik yang menjurus upaya menghadapi negeri tetangga itu melalui peperangan. Di sudut publik lain berusaha untuk tetap menunjunjung upaya diplomasi menyelesaikan perseteruan tersebut.

Saya mencoba untuk mencari rasionalitas ekonomi dari sebagian pihak yang menginginkan perang “Ganyang Malaysia” tersebut. Sesungguhnya problem ini adalah problem klasik. Emil Salim pada tulisan kata sambutannya dalam buku Pengalaman Pembangunan Indonesia: Kumpulan Tulisan dan Uraian Widjojo Nitisastro, Penerbit Buku Kompas, 2010 sepertinya mampu menguraikan untung-rugi “ekonomi-perang” di masa periode 1960-an yang saya kira masih relevan untuk dijadikan pelajaran saat ini.

Berikut saya kutip dari buku tersebut (lebih tepatnya saya ketik ulang):

“...Ketika Indonesia memasuki tahun enampuluhan tampaklah ekonomi secara eksponensial menderita kemunduran yang sangat mencemaskan. Indeks biaya hidup di kota Jakarta naik mencapai 100 persen per tahun antara 1962-1964 untuk kemudian “terbang” mencapai 650 persen dari Desember 1964 ke Desember 1965. Harga barang kebutuhan hidup naik setiap hari dan Indonesia terperangkap dalam spiral hyper-inflasi.

Membangun Bangsa

Sebab utama merajalelanya hyper-inflasi ini adalah tak terkendali naiknya volume uang yang didorong oleh defisit dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Antara laju kenaikan defisit anggaran dengan melesatnya volume uang terdapat korelasi yang erat. Bila secara umum 45 persen dari seluruh APBN disalurkan untuk keperluan militer, maka dampaknya tidaklah besar pada pembangunan ekonomi menaikkan volume arus barang dan jasa bagi masyarakat. Pengaruhnya pada peningkatan penerimaan negara pun tidak berarti karena kebanyakan anggaran dipakai untuk pengeluaran persiapan berperang. Maka, gabungan membesarnya defisit anggaran, arah alokasi penggunaan anggaran kejurusan tidak produktif dan naiknya volume uang mendorong kenaikan laju hyper-inflasi.

Neraca perdagangan dan jasa dalam tahun 1960-an juga menunjukkan defisit yang semakin besar. Ekspor dan impor menurun, sedangkan utang luar negeri perlu dibayar. Semua ini menggerogoti cadangan devisa dari 326,4 juta dollar AS (1960) turun secara mencolok menjadi 8,6 juta dollar AS (1965).

Hampir separuh dari jumlah utang luar negeri sebanyak 2,4 miliar dollar AS digunakan untuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Sehingga alat perlengkapan dan persenjataan tentara, armada pesawat tempur, serta kapal perang ABRI kita maju sangat pesat untuk ukuran negara berkembang yang masih rendah pendapatannya seperti Indonesia ini. Namun, hal ini tidak bisa dihindari oleh karena pimpinan negara telah mengambil keputusan politik menyiapkan diri untuk perang merebut Irian Barat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Indonesia. Kemudian diambil langkah “mengganyang” Malaysia. Sehingga genderang perang ditabuh melawan negara-negara “Blok Kapitalis dan Imperialis” dalam masa Perang Dingin ketika itu.

Dalam suasana “ekonomi-perang” seperti ini dibakar emosi dan membangkitkan semangat patriotisme kebangsaan yang tinggi. Dalam periode inilah Presiden Sukarno menempa proses nation dan character buliding sehingga di tahun enampuluhan ini berlangsunglah proses pematangan kesadaran berbangsa dan bertanah air. Kemampuan Presiden Sukarno membangkitkan semangat dan elan nasionalisme dengan gaya orator yang ulung, menjadikan peranan beliau sangat tepat untuk kurun masa pembinaan bangsa ini, namun dengan menggusurkan pembangunan ekonomi ke skala prioritas rendah.

Sementara proses pembinaan bangsa berlangsung ini, lahir dan tumbuh generasi baru yang mendambakan kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia. Revolusi Indonesia telah mendewasakan generasi baru yang semakin banyak berpendidikan universitas. Apabila kondisi “ekonomi-perang” ini berlanjut dan prospek kesempatan kerja tak kunjung cerah, tumbuh keresahan di lingkungan masyarakat universitas, tidak saja lapisan mahasiswa, tetapi juga para dosen semakin kritis menanggapi perkembangan kehidupan bangsa dan mengaspirasikan Indonesia yang maju.

Juga di pentas dunia, perang bersenjata yang semulanya dominan di Vietnam, RRC, dan Korea kini mulai reda dan beralih ke kegiatan pembangunan ekonomi. Indonesia tidak luput dari perubahan semangat zaman yang meniup di kawasan Asia di tahun 1970-an ini.
Sesudah perang dunia selesai, banyak negara baru lahir di Asia dan Afrika yang semuanya sebagai negara berkembang harus bergelut dengan keterbelakangan ekonominya. Apabila mahzab ekonomi mencurahkan semula lebih banyak perhatian pada masalah ekonomi mikro, maka semangat zaman di tahun 1950-an menuntut pergeseran fokus ilmu ekonomi untuk dipusatkan pada pemecahan masalah ekonomi pembangunan yang relevan dengan kebutuhan negara berkembang...”

“...Sementara pemimpin-pemimpin Indonesia hanyut dalam semangat perang dan jor-joran politik merebut kepercayaan Presiden Sukarno, perkembangan rasionalitas ekonomi terabaikan dalam masyarakat. Sedangkan di kalangan pemerintah tumbuh pendapat kuat bahwa ilmu ekonomi tidak penting. Bahkan buku-buku teori ekonomi Keynes harus dibakar...”

Pelajaran yang dapat diambil:
  1. Mungkin banyak sebagian dari kita merasa kecewa dengan Pidato Politik SBY di Mabes TNI beberapa waktu lalu. SBY memang bukan Sukarno, dan mungkin tidak ada ada presiden lain pasca Sukarno yang mampu membakar emosi dan semangat patriotisme dengan kemampuan orasi yang luar biasa. Namun zaman sudah berbeda, masing-masing kita sudah punya cara sendiri untuk menemukan dan menumbuhkan rasa nasionalisme-nya, tak perlu lagi dengan orasi-orasi ataupun retorika-retorika dari seorang pemimpin negara.
  2. Pilihan melakukan perang memang memiliki biaya tersendiri, khususnya pada pengalokasian APBN. Memang dengan perang, pengeluaran pemerintah dari sisi pengeluaran militer akan meningkat, dan tentu akan pula meningkatkan Produk Domestik Bruto kita. Namun, pilihan tersebut tidak lebih baik di tengah bangsa ini yang masih berkutat pada permasalahan pemerataan dan peningkatan fasilitas dan kualitas pendidikan, kesehatan serta berbagai infrastrukur dasar.
  3. Ada hal yang menarik bagi saya, perang mungkin bisa jadi salah satu solusi bagi masalah pengangguran. Perang selain melibatkan pasukan angkatan bersenjata, juga biasanya melibatkan masyarakat sipil yang oleh negara dapat diperintahkan untuk terlibat dalam perang. Para penganggur ini dapat direkrut menambah anggota pasukan, tentu dengan juga mendapatkan gaji seperti halnya pasukan angkatan bersenjata lainnya. Namun mungkin ini adalah solusi jalan pintas yang sempit, solusi utama mengatasi pengangguran tetaplah dengan menciptakan lapangan pekerjaan, tentunya terkait pula dengan penciptaan iklim investasi yang kondusif.
  4. Tapi hey ada yang ketinggalan, terserah ini penting atau ngga. Dari kutipan dalam kata sambutan Pak Emil Salim sepertinya ada bagian yang kontradiktif, terutama pada kutipan paling terakhir. “...Bahkan buku-buku teori ekonomi Keynes harus dibakar...” Bukankah dengan perang berarti juga meningkatkan pengeluaran pemerintah? Padahal Keynes sendiri memberikan ruang keterlibatan peran pemerintah dalam ekonomi melalui government spending. Apakah tidak salah orang-orang dulu yang membakar bukunya? Apa yang membakar sebenarnya juga belum baca bukunya? Atau, apa saya yang salah mengerti?

Saturday, June 12, 2010

Marriage Model

In this paper I estimate empirical marriage model simultaneously considering endogenous regression and model uncertainty. I apply Bayesian methods with love as the prior and marriage as the posterior. The likelihood function assumed to follow binomial distribution (1: married, 0: not-married). The resulting maximum likelihood estimator for the probability of a man getting married to someone that he loves is 73.49%. On the other hand, the probability of a woman getting married to someone that she loves is only 23.12%. (Forthcoming: Journal of Economics of Love, No. x, 201x)

Saturday, June 5, 2010

Apakah Sepakbola adalah Olahraga Laki-laki?

Demam dan gaung piala dunia 2010 sudah dimana-mana diseluruh negeri kita. Perhelatan akbar ini akan dimulai beberapa hari ini. Ada satu pertanyaan kecil sehubungan dengan ini yang mungkin iseng-iseng baik juga untuk dibuktikan secara statistik. Yaitu, Apakah di Indonesia sepakbola hanyalah sebuah olahraga hanya untuk laki-laki atau bukan? Secara umum kita mungkin sepakat berkata bahwa jawabannya adalah tidak, meski tentunya motif kegemaran akan sepakbola dari kamu laki-laki dan kaum perempuan tentu ada bedanya.

Berikut ini akan ditunjukkan sebuah pembuktian statistik untuk menjawab pertanyaan tersebut. Variabel yang digunakan hanya 2 yaitu persentase penduduk laki-laki di Indonesia per propinsi dan persentase keberadaan lapangan sepakbola di tiap propinsi. Dalam hal ini variabel kedua adalah sebuah proxy dari kadar kegemaran akan sepakbola. Semua data berasal dari podes 2008.

Uji yang dilakukan adalah uji matriks korelasi yang hasilnya sebagai berikut:


Dengan ini bisa kita simpulkan bahwa benar, di Indonesia bukanlah olahraga laki-laki saja. Namun memang dibutuhkan pembuktian lebih lanjut apakah benar motif kegemaran akan sepakbola dari laki-laki dan perempuan adalah berbeda. Silakan bagi yang berminat untuk melanjutkannya. Akhir kata, selamat bagi kita semua yang akan mulai menikmati menonton world cup 2010. Viva Soccer..

Tuesday, May 18, 2010

Kuesioner Tentang Starbucks

Hello guys....
Ada salah satu mahasiswi FEUI angkatan 2006 sedang menyelesaikan skripsinya.

Kebetulan topiknya mengenai Starbucks....
Berikut link untuk pengisian kuesionernya..klik di sini
Bagi yang masih suka nongkrong, jika ada waktu..silahkan diisi....

Kalau gue kebetulan udah lama gak nongkrong di situ..maklum deh jauh dari peradaban..hehehehe....

Friday, April 9, 2010

Ngigau Jadi Juragan Baru di Dunia

Salah satu tulisan pada bagian Igauan dalam buku Isu dan Igauan yang diterbitkan oleh Badan Otonom Economica bercerita tentang seorang Indonesia yang dapat berlibur dengan mudah keliling-keliling Amerika Serikat meski pekerjaan sangat sederhana di Indonesia karena kurs rupiah jauh diatas dollar AS. Akankah igauan ini bisa terwujud? Dalam cerita di tulisan itu, Indonesia digambarkan sebagai negara pengekspor minyak bumi yang dominan. Kalau kita bandingkan kondisi cerita tersebut dengan realita terkini, hal itu mustahil. Pengekspor dominan minyak bumi di dunia saat ini adalah negara-negara timur tengah. Sehingga cerita itu bisa jadi kenyataan bagi penduduk timur tengah. Namun, belakangan ini penduduk RRC juga hampir mengalami hal serupa. Industri RRC menjadi sangat maju oleh karena ekspornya mendominasi dunia, tetapi bukan minyak bumi. Sayangnya, baru-baru ini terjadi krisis global sehingga negara manapun pasti pontang-panting mengurusi unemployment. Lantas negara mana yang penduduknya akan mampu seperti pada cerita igauan tersebut. Saya perhatikan, dalam tahun-tahun kedepan tetaplah negara-negara pengekspor energi yang tetap berpeluang. Apakah Indonesia punya peluang? Ya, Indonesia sangat berpeluang. Harga minyak bumi sudah pernah turun tapi kini kembali meroket lagi. Sebenarnya ini sebuah sinyal bahwa manusia akan mendekati situasi shortage of oil, atau mungkin sebenernya itu memang sudah terjadi. Jadi, minyak bumi pelan-pelan sudah tidak bisa diandalkan jadi sumber energi dominan dunia. Mungkin jawabannya adalah renewable energi seperti sawit, jarak, jagung dsb. Oleh karena itu saya mau lanjutkan igauan tersebut menjadi petani-petani sawit yang rada-rada "ngampung" tapi jalan-jalan ke amerika sambil kipas-kipas pake uang dollar karna udara pantai miami agak terlalu panas buat kulitnya. Hehe.. Silahkan lanjutkan sendiri igauan versi Anda sendiri.

Thursday, April 8, 2010

Mengintip Makroekonomi Akhir 2010

Ekonomi bisa berpeluang bertumbuh hingga 6%, diiringi dengan cadangan devisa yang lebih dari 70 milyar USD. Ekspor mungkin tidak banyak berubah tetapi sudah lebih bergairah dan memiliki fokus-fokus sektor yang makin bervariasi. Faktor utama yang menjadi multiplier efek pertumbuhan kemungkinan besar adalah dampak dari usaha pemerintah untuk menurunkan suku bunga kredit dan memperluas jangkauan kredit. Apakah persaingan ekspor dengan negara-negara tetangga adalah ancaman? Kemungkinan tidak sebab selain demand perdagangan internasional masih merayap naik juga nilai kurs yg menguat membuat daya saing relatif kurang baik. Mungkin fokus terbaik saat ini adalah bagaimana untuk saling berebut dana aliran modal internasional yang terus mengalir ke kawasan ini. Semakin besar dana aliran ini maka besar kemungkinan pertumbuhan ekonomi bisa capai level yang lebih baik. Tetapi semua ini masih berupa intipan saja. Terima kasih.

Wednesday, March 10, 2010

Mengapa harga minyak bumi naik tetapi kurs menguat?

Harga minyak bumi di pasar internasional kembali mencapai kisaran 80 USD/ barel, beberapa tahun lalu ketika hal serupa terjadi kurs USD ikut meningkat. Hal ini mungkin dikarenakan aliran keluarnya investasi asing di dalam negeri untuk ikut mengambil keuntungan pada jual-beli minyak bumi di pasar internasional.

Kini, hal itu berbeda. Harga minyak bumi meningkat tetapi kurs rupiah ikut meningkat. Ini bisa berarti bahwa aliran investasi asing belum mengalir keluar meski pasar minyak bumi internasional sedang bergairah. Pertanyaannya mengapa hal ini terjadi?

Satu alasan singkat mengenai hal ini adalah karena masih ada kekhawatiran bahwa industri di AS masih low on demand. Sehingga para pemain pasar masih "ragu-ragu" untuk berebut membeli kontrak kepemilikan minyak bumi yang di perjual-belikan di pasar.

Mengapa industri AS yang jadi acuan? Karena industri AS adalah pembeli dominan atas minyak bumi di dunia, meski sedikit-demi-sedikit sudah bergeser ke RRC, tetapi sama saja untuk negara ini tetap masih belum bertumbuh sama besar dengan tahun sebelumnya.

Jadi jika pertanyaannya adalah apakah nilai kurs rupiah terus menguat? itu semua tergantung pada aliran investasi asing yang masuk ke Indonesia. demikian analisa saya.

Friday, March 5, 2010

Pengangguran dan "Warteg"

Salah satu akibat dari krisis global belakangan ini adalah bertumbuhnya jumlah pengangguran di Indonesia. Lantas bagaimanakah hubungannya jumlah pengangguran dengan jumlah warung/kedai makanan yang suka disebut sebagai "warteg" oleh orang-orang jakarta?

Warteg memang merupakan bisnis relatif mudah untuk di"entry", dilain sisi, harga makanan di warteg sangat terjangkau, sehingga bila ada orang yang sedang mengalami masalah finansial, warteg bisa menjadi solusi untuk mengatasi rasa lapar di perut.

Berikut ini saya melakukan regresi cross-section jumlah pengangguran (dalam ribuan orang) ditiap propinsi terhadap jumlah warung/kedai makanan, dari data podes tahun 2008.



Dari hasil regresi ini maka bisa kita simpulkan bahwa untuk tiap penambahan seribu penganguran maka jumlah warteg yang bertambah adalah sekitar 69 atau 70 warung.

Akan tetapi memang perhitungan ini masih jauh dari kesempurnaan karena semestinya bisa lebih baik lagi kalau ada data time-seriesnya. silakan di komentari oleh kawan-kawan semua, terutama oleh teman-teman yang dulu pernah suka makan di warteg tapi kini gengsi kalo tidak makan di restoran, hehe..

Sunday, February 28, 2010

Mari Bermain Matematika Politik Indonesia saat ini

Setelah tugas pansus kasus bank century hampir selesai. Kini merebak dugaan-dugaan perubahan koalisi partai politik di DPR. Komposisi kursi DPR saat ini adalah sebagai berikut:

Demokrat (PD): 150
Golkar (PG): 107
PDIP : 95
PKS : 57
PAN : 43
PPP : 37
PKB : 27
Gerindra (PGer): 26
Hanura (PH): 18

Koalisi awal yang ada saat ini adalah PD+PG+PKS+PAN+PPP+PKB=75,2%. Kini dengan perbedaan pendapat jelang kesimpulan akhir pansus bank century, ada "gosip-gosip" bahwa PG dan PKS akan tidak masuk koalisi lagi. Bila hal itu benar terjadi maka minus kedua partai tersebut koalisi hanya menjadi 45,9%. Namun, bila PGer joint koalisi yang sudah minus PG dan PKS maka alhasil koalisi akan menjadi sebesar 50,5%. Dengan kata lain, koalisi tetap menjadi mayoritas suara di dalam dewan.Yang lebih menarik lagi adalah apabila ternyata PKS tidak jadi keluar dari koalisi, otomatis koalisi akan menjadi 60,7%.

Saya bukanlah seorang ahli politik apalagi matematika politik. Disini saya cuma ingin menyoroti political cost of establishing a "pansus". Agar kedepannya bisa lebih dipertimbangkan lagi masak-masak bila ingin membentuk sebuah pansus.

Jadi, dari matematika diatas maka bisa disimpulkan bahwa political cost dari pansus century (bila memang peta koalisi jadi berubah) adalah 14,5% s/d 29,3% suara dalam dewan. Atau dengan kata lain, sebuah pansus dapat mereduksi kemampuan pengambilan keputusan homogen secara kolektif dalam dewan antara sepertujuh hingga sepertiga bagian. Dengan demikian sungguh luar biasa political cost dari sebuah pansus ini.

Sunday, February 14, 2010

Kesalahan Ekonomi di Film-Film Superhero

Berikut ini merupakan tulisan dari M.Anggito Zhafranny, masih duduk di bangku kelas 5 SD, namun mampu menuangkan pertanyaan kritis dari sisi ekonomi mengenai beberapa lakon superhero. Perkenankan untuk berbagi di blog ini, berikut postingannya:

Ada kesalahan ekonomi yang terdapat di film Spiderman dan Superman. Mari kita lihat kesalahan ekonominya:

Spiderman
Peter Parker sebagai tokoh utama di Film Spiderman digambarkan sebagai orang yang sederhana, hanya tinggal bersama bibinya, dan bekerja sebagai fotografer sebuah koran yang gajinya hanya cukup untuk kebutuhan sehari -hari. Kira-kira dimana kesalahan ekonominya? Kesalahan ekonominya terletak pada kostumnya. Kenapa Peter Parker dapat membeli kostum Spiderman dengan harga murah? Padahal harga kostum di dunia ini sangatlah mahal! Tapi kenapa Peter dapat membelinya? Jika pembaca tidak mengerti maksudnya, bacalah lagi agar lebih dimengerti (maksudnya silahkan cari rujukan jurnal-jurnal mengenai hal tersebut-red).

Superman
Clark Kent yang berperan sebagai Superman adalah anak seorang petani, jadi kehidupannya tentulah sangat sederhana, dan Ia hanya bekerja sebagai wartawan Koran Daily Planet. Kesalahannya sama dengan Spiderman, yaitu kenapa Superman dapat memiliki kostum yang ketat itu? Padahal harga pasar baju seperti itu di dunia ini sangat mahal, dan lebih mahal dari kostum Spiderman. Selain itu, tak mungkin Superman dapat menjahitnya karena bahan menjahitnya pun sangat mahal. Bahan baju Superman terbuat dari kain parasit yang sangat ketat dan kuat.

Berbeda dengan Batman dan Iron Man, wajarlah mereka punya kostum berteknologi tinggi karena mereka adalah orang-orang kaya.

Bagaimana menurut kakak-kakak sekalian?












Sunday, February 7, 2010

Least Square and WOC

As I posted here many moths ago, WOC roughly states that the best guess to predict a random number is the average of the distribution of this number.

As Ordinary Least Square (OLS) is one of the estimation methods to predict the value of say a dependent variable Y, then it must be correct to state that the OLS is a better method if “it can predicts (explains) the value of Yi better than could be explained by the sample mean (Ybar)”(Studenmund)

In short, we can see this comparison by the formula of the “Explained Sum Square” (ESS) in OLS method which is

So, it is clear now that to evaluate every prediction (forecasting) methods, it is always and should be compared to the WOC’s prediction.