Tuesday, December 21, 2010
Indonesia, 1 Jan 2011
Issues intra the region have actually already been endless matters among members. Myanmar political situation, border conflicts between Indonesia-Malaysia-Singapore, and poverty eradication in almost all the members are parts of them. So, if intra problems are a concentration absorber, how can this cooperation has time and mind to answer global challenges?
Strategically, If ASEAN want to take advantage over current global condition, it must start with economic self sustainability. ASEAN market is huge market, maybe one of the big five in the world. Sustainability would be formed if intra production and consumption in the region have reached more than 50%. Moreover, intra-industry trade relation must also reach over 80%. Most importantly, inter-regional investment must increase in steady growth toward a border-less investment activity among members.
I think, the practical measure for this is when ASEAN citizen proudly answer question about their nationality by saying "I am an ASEANese". So, conclusively speaking, Mr. Chairman has so much work to do, although so little time to spend. Congratulation for Indonesia, and hope best for the leadership next year.
Thursday, November 25, 2010
back from dormant conditon 2
The Dynamics and The Role of Government
Memang jalanan Jakarta sangat ramah dengan orang-orang yang gemar melamun seperti saya. Saya tidak diberi kesempatan untuk melepaskan diri dari hobby ini selama masih tinggal di Jakarta. Apalagi kalau hari sedang hujan, saya diberikan keleluasaan yang optimal untuk melamun.
Lamunan saya masih seputar tulisan sebelumnya mengenai vegetarianism. Bagi pembaca budiman yang bosan, saya ijinkan untuk membaca postingan lain di Blog ini yang tentunya lebih berkualitas dan berbobot. Sebelumnya sekali lagi saya utarakan disini, bahwa posisi saya dalam hal vegetarianism adalah netral. Kebetulan saja lamunan saya entah mengapa selalu mengarah ke topik ini.
Recall dari tulisan terdahulu (bisa dilihat dibawah), fungsi konsumsi Mankind dalam kondisi normal adalah: XM = XPM + XHM + XIKM+ XIBM. Dengan tingkat pertumbuhan populasi M = ICM + GMN - XMN.
Mother Earth atau Planet Bumi memiliki kapasitas maksimum dalam menampung jumlah seluruh organisme hidup. Dalam set model tulisan ini, kapasitas maksimum dari Mother Earth (ME) adalah ME = P + H + C + IK + IB +M. Cukup logis apabila diasumsikan Mankind mendapatkan tampat khusus di hati ME karena kemampuan dan tingkah lakunya. Sehingga dalam memaksimumkan kapasitasnya, ME mengikuti fungsi:
max : ME Capacity
s.t : M dan XM
dimana M adalah fungsi pertumbuhan populasi Mankind dan XM adalah fungsi konsumsi Mankind.
Melalui derivasi dan penyelesaian menggunakan Lagrange, dapat diketahui jumlah Mankind Optimum serta jumlah Konsumsi optimumnya yang sesuai dengan ME capacity. Dalam hal ini mohon untuk tidak memaksa saya mengeluarkan hitung-hitungannya. Terus terang saya sendiri belum membuatnya. Saya hanya dapat membayangkan hasil akhirnya.
Analisa sebelumnya merupakan analisa statis. Sehingga terkesan dangkal dan kurang kontroversial. Dalam hal ini saya akan memaksa dimensi waktu untuk masuk kedalam model ‘kurang kerjaan’ ini.
Dengan memasukkan analisa waktu, modelnya menjadi sedikit rumit. Konsumsi mankind menjadi XM(t) = XPM(t) + XHM(t) + XIKM(t)+ XIBM(t). Sedangkan tingkat pertumbuhan populasi mankind menjadi M(t) = ICM(t) + GMN(t) - XMN(t). Salah satu logika yang mendasari dimasukkannya variabel waktu ini adalah adanya faktor musim. Dalam suatu rentang waktu tertentu Mankind akan mengkonsumsi katakanlah herbivore lebih banyak karena sedang turun salju. Namun bisa jadi ketika sedang musim panas, Mankind akan lebih banyak mengkonsumsi Ikan. Dengan set model demikian, fungsi optimalimasi ME menjadi
max : ME Capacity (t)
s.t : M(t) dan XM(t)
Hasilnya adalah jumlah Mankind Optimum pada time (t) dan konsumsi Mankind optimum pada time (t) yang dapat diterima oleh ME. Kemudian apa dampaknya apabila suddenly Mankind menjadi vegetarian? Fungsi optimalisasinya akan berubah menjadi
max : ME Capacity (t)
s.t : M(t) dan X’M(t)
dimana X’M(t) adalah Konsumsi Mankind dalam kondisi vegetarian.
Hasil dari derivasi dan penyelesaian fungsi lagrange-nya menjadi aneh dan tidak logis. Dalam hal ini saya menyimpulkan akan terjadi natural imbalance.
Analisa diatas bisa saja dikembangkan lagi kedalam dimensi ruang dan waktu, sehingga salah satu fungsi-nya menjadi M(it) dan XM(it). Namun penyelesaian masalah ini dengan ikhlas saya serahkan bagi siapapun yang punya waktu melamun lebih banyak dari saya.
The Role of Government
Sekarang bayangkan apabila secara serta merta hadir sebuah sindikat Mankind yang menamakan dirinya government. Sindikat Mankind ini memiliki tugas yang mulia, oleh karenanya berhak mengambil pajak dari Mankind lainnya. Government dalam hal ini mempunyai dua pilihan haluan kebijakan. Pertama adalah promote vegetarianism, kedua adalah ban vegetarianism. Government dapat menggunakan kebijakan moneter atau kebijakan fiskal untuk melakukan dua pilihan haluan kebijakan tersebut.
Apabila haluan kebijakan yang dipilih adalah promote, government dapat melakukan proyek penanaman Plant (P) secara besar-besaran atau memberikan subsidi pada P. Sedangkan untuk haluan kebijakan ban, government dapat menerapkan pajak bagi P atau subsidi bagi herbivore (H).
Karena tulisan ini sudah demikian panjang, saya akan persingkat analisanya langsung pada kesimpulan. Pada haluan kebijakan promote, hasil dari kebijakan government akan mempercepat proses “vegetarianisasi”. Dengan kata lain, government akan speed up pencapaian natural imbalance. Sedangkan untuk haluan kebijakan ban, kebijakan pajak bagi P dan subsidi bagi H akan menimbulkan lonjakan populasi pada H. Which in return akan menimbulkan natural imbalance. Either way, kebijakan government akan berujung pada natural imbalance.
Sebagai penutup dari tulisan ini, poin penting yang dapat dijadikan diskusi adalah kemunculan government yang in the end selalu menimbulkan natural imbalance. Apabila Mankind dibiarkan left alone, turn around ke fungsi konsumsi semula dapat langsung dilakukan apabila benar menjadi vegetarian akan menimbulkan natural imbalance. Sedangkan dengan adanya government, turn around tersebut bisa jadi lebih lama atau kearah lain yang juga imbalance.
Wednesday, November 24, 2010
Andai Bisa Memilih Kapan Dilahirkan
Saya cukup merasa bosan membaca buku kisah sukses seseorang, yang menurut saya "itu-itu" saja. Intinya sukses bisa diraih dengan kerja keras, dan jangan lupa diiringi dengan doa. Tidak beda dengan nasihat klasik yang sering kita dengar waktu kecil hingga remaja. Tuesday, November 23, 2010
Eco-friendly plastic bags
Postingan Bung Luthfi sebelumnya yang sangat terkait dengan semangat greenomics, menjadi vegetarian ataupun tidak apakah memiliki imbas signifikan dalam kelestarian lingkungan memang masih menyimpan perdebatan.Tapi bagi saya, sebuah upaya yang sangat disambut baik adalah mulai maraknya penggunaan kantung plastik yang mudah terdegradasi dalam waktu singkat. Penemuan ini tidak mudah, butuh riset cukup lama untuk menemukan "ramuan" dalam penciptaan kantong plastik ramah lingkungan ini.
Oxium menjadi salah satu pelopor dalam memproduksi plastik jenis ini (lihat di sini). Tentunya hal ini menjawab dari keresahan masih sangat bergantungnya konsumen di Indonesia dalam menggunakan kantung plastik, terutama ketika berbelanja. Plastik menjadi salah satu kontributor terbesar dalam sampah rumah tangga. Tentu ini berimplikasi pada persoalan lain, mulai dari manajemen pengelolaan sampah, hingga pencemaran lingkungan yang tidak hanya berdampak sekarang, namun juga generasi selanjutnya.
Saya rasa, menjadi vegetarian atau tidak sebagai bentuk upaya "saving or planet" hanyalah persoalan "ibadah ritual" saja. Ujung-ujungnya balik pada kebaikan bagi diri pelakunya, dampak terhadap lingkungan "wallahu a'lam". Saya lebih menghargai orang yang berfikir ke depan, salah satunya ikhtiar berinovasi melalui penemuan kantung plastik ramah lingkungan. Ini merupakan bentuk "ibadah sosial", lebih memberi kemashlahatan bagi sesuatu yang lebih besar.
Monday, November 22, 2010
Back from Dormant Condition

Are We Actually Saving Our Planet by Turning Into a Vegetarian?
Dalam perjalanan panjang di belantara jalan raya Jakarta, sebuah spanduk yang sudah usang dimakan polusi menarik perhatian saya. Di spanduk tersebut terdapat tulisan “prevent global warming by becoming a vegetarian”.
Saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh kebanyakan pengemudi di Jalanan Jakarta ketika sedang macet, namun saya pribadi biasanya menghabiskan waktu dengan melamun. Tulisan di spanduk tadi membuat lamunan saya menjadi berkualitas.
Saya membayangkan apa yang akan terjadi apabila jumlah vegetarian mengalami peningkatan. Sebelumnya perlu digarisbawahi bahwa posisi saya dalam hal “vegetarianism” ini adalah netral. Saya tidak against, namun juga tidak agree dengan konsep vegetarianism. Saya hanya mencoba meng-konkrit-kan lamunan saya menjadi sebuah bahan diskusi.
Tulisan ini tidak dibuat berdasarkan pengetahuan ilmiah dalam hal Biologi atau bidang ilmu apapun yang terkait dengan Rantai Makanan. Angle yang diambil adalah perspektif orang awam yang memiliki sedikit pengetahuan dibidang hitung-menghitung. Sehingga apabila banyak penyederhanaan yang dilakukan, semoga tidak mengurangi sense dari analisa mengenai “apakah benar Bumi akan terselamatkan apabila manusia menjadi vegetarian”.
Analisa mengenai vegetarianism akan saya mulai dari gambar rantai makanan dibawah

Gambar di atas mencoba menggambarkan rantai makanan yang terjadi dalam kehidupan di Bumi. Secara sekilas dapat diihat bahwa gambar tersebut merupakan penyederhanaan dari kondisi actual yang terjadi. Namun demikian hal ini dimaksudkan agar fokus dari tulisan ini tidak keluar dari konteks. Saya membagi rantai makanan kedalam dua bagian, kehidupan darat dan kehidupan air. Rantai makanan tersebut akan berakhir di mankind, subject tulisan ini sekaligus berstatus sebagai omnivore.
Analisa Rantai Makanan dimulai dari natural resource tanaman dan biota laut (sungai) yang berkembang biak dengan mengambil energi dari matahari. Herbivore adalah pemakan tumbuhan pada kehidupan darat, sedangkan Ikan Kecil merupakan agregasi dari segala binatang air yang memakan natural resources yang ada di laut (sungai). Pada kehidupan darat, herbivoreakan dimakan oleh carnivore, sedangkan di kehidupan air, Ikan Kecil akan dimakan oleh Ikan Besar. Ikan Besar dalam hal ini merupakan agregasi dari segala binatang air yang tidak memakan natural resources.
Tingkat pertambahan jumlah (growth) masing-masing entitas dalam gambar dinotasikan dalam persamaan yang ada di-‘dalam kurung’. Pertumbuhan jumlah tanaman P adalah ICP + GPN + GPM. Dimana: IC adalah Initial Condition, GPN adalah pertumbuhan tanaman yang secara natural terjadi dan GPM adalah pertumbuhan tanaman yang dihasilkan oleh mankind.
Terdapat satu entitas yang pertumbuhannya tidak dipengaruhi oleh aktivitas dari mankind, yaitu Ikan Besar. Dalam hal ini saya mengsumsikan bahwa tidak logis bagi mankind untuk membuka sebuah peternakan Ikan Paus atau Ikan apapun yang berukuran jumbo. GCM atau pertumbuhan carnivore oleh mankind, merupakan notasi bagi hewan peliharaan mankind seperti Anjing atau Kucing.
Notasi ‘X’ yang terdapat disetiap garis panah merupakan tingkat konsumsi oleh masing-masing entitas. Sehingga dalam hal ini XPH adalah jumlah plant yang dikonsumsi oleh herbivore, XHMadalah jumlah herbivore yang dikonsumsi oleh mankind, dan seterusnya.
Terdapat Tiga asumsi yang dianggap ceteris paribus dalam analisa ini. Pertama adalah mankind diasumsikan tidak mengkonsumsi carnivore. Kedua adalah apabila terjadi ‘kecelakaan’ yang mengakibatkan carnivore memakan mankind. Misalkan dalam perjalanan di gunung terjadi musibah mankind dimakan oleh harimau atau dalam sebuah liburan di laut ada mankind yang dimakan oleh ikan hiu. Ketiga adalah apabila terjadi bencana alam seperti kebakaran hutan atau tsunami.
Secara umum persamaan pertumbuhan dari masing-masing entitas adalah tingkat pertumbuhannya dikurangi entitas lain yang mengkonsumsinya. Sehingga dalam hal ini pertumbuhan dari entitas Plant adalah ICP + GPN + GPM - XPH - XPM - XPN. Dimana XPN adalah jumlah plant yang mati secara alamiah (natural). à P = ICP + GPN + GPM - XPH - XPM - XPN
Khusus untuk mankind tidak terdapat entitas yang mengkonsumsinya sehingga persamaan pertumbuhannya adalah M = ICM + GMN - XMN. Dimana XMN adalah jumlah Mankind yang mati secara natural.
Pola konsumsi mankind dalam menjalani kehidupannya didasari pada tiga prinsip, yaitu:
- Untuk kebutuhan (subsisten)
- Untuk Stock
- Untuk pengolahan (industri)
Pada kondisi yang natural mankind mengkonsumsi Plant, Herbivore dan Ikan untuk bertahan hidup. Sehingga dalam kondisi equilibrium fungsi konsumsi Mankind adalah: XPM + XHM + XIKM+ XIBM.
Jumlah dari fungsi konsumsi mankind sama dengan kebutuhan berdasarkan tiga prinsip diatas. Sehingga dalam kondisi equilibrium setiap entitas masih dapat berkembang biak karena tidak habis seluruhnya dikonsumsi oleh mankind. Setiap entitas yang dikonsumsi oleh mankind merupakan proporsi dari kapasitas maksimum mankind. Sehingga apabila mankind tidak mengkonsumsi XHM, maka proporsi konsumsi XIKM misalnya, akan meningkat sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas maksimumnya.
Kemudian apa yang akan terjadi apabila mankind menjadi vegetarian atau dalam set bahasa diatas menjadi herbivore. Secara langsung jumlah populasi Herbivore, Ikan Kecil dan Ikan Besar akan mengalami peningkatan karena tidak lagi dikonsumsi oleh mankind (XHM, XIKM, XIBM hilang dari persamaan).
Mankind akan berkompetisi dengan herbivore dalam bertahan hidup. Dalam hal ini pemenangnya jelas mankind karena keunggulannya dalam kemampuan berfikir. Jumlah herbivore yang menurun akan mengakibatkan carnivore mencari sumber makanan lain, yaitu mankind.
Sedangkan untuk kehidupan di laut. Karena tidak lagi dikonsumsi oleh mankind, maka populasi Ikan Kecil dan Ikan Besar akan meningkat. Dalam kondisi yang ekstrem, mankind tidak lagi dapat berlibur ke pantai karena sudah penuh dengan Ikan Hiu atau lainnya. Atau dapat juga diprediksi bahwa jumlah plankton menjadi berkurang karena semakin banyak yang mengkonsumsi. Sehingga terjadi gangguan dalam ekosistem Air.
Apakah kondisi demikian merupakan solusi yang masuk dalam kategori menyelamatkan Bumi?
Friday, October 8, 2010
Masa Depan Cinta 212
Thursday, October 7, 2010
Stasioneritas Cinta
Hati dan jiwanya sungguh tidak stasioner, kadang pola kejiwaannya memiliki kecenderungan bergerak ke atas ataupun ke bawah. Ya, jiwanya memiliki trend tertentu, kadang dengan varians yang tidak konstan.
Diriku bertanya: "Mengapa kamu seperti itu?" Dia menjawab, "Sayapun tak tahu Bang, secara eksplisit grafis saja diriku kau bisa lihat dengan jelas seperti itu."
Diriku balik bertanya: "Sudahkah kau lihat correlogram jiwamu? Atau sudahkah kamu melakukan uji unit akar?"
Dia menjawab: "Jelas sudah jiwaku yang tidak stasioner itu tergambar dalam correlogram Bang! Si Augmented Dickey-Fuller pun mengatakan demikian,bahkan dia menerima hipotesis jiwaku yang tidak stasioner." "Aku sebal dengan ADF itu, macam manapula dia menyuruhku menjadi turunan pertama atau kedua, diriku ingin tetap yang asli, apa adanya."
Hmm, tak usahlah kau menggerutu seperti itu, masalahmu sebenarnya tidak sulit-sulit amat, kau hanya butuh seseorang yang memiliki jiwa stasioner ataupun tidak stasioner.
"Kok bisa begitu Bang?" Jelas bisa, mungkin saja cewekmu sekarang bisa menangani masalah kejiwaanmu itu. Konsultasilah kamu pada Engle dan Granger, kalau kau tak mau pusing mereka-reka bentuk model jiwamu, datang saja kepada si Johansen.
"Lalu apa yang mesti kutanyakan Bang?" Tanya kepada mereka, apakah kamu dengan cewekmu itu benar-benar jodohmu yang baik, jika kamu menikahinya,kamu bisa menghasilkan kombinasi dua pasang manusia yang stasioner.
"Kok bisa begitu Bang?" Jelas bisa, kita manusia sesungguhnya diciptakan berpasang-pasangan, stasioneritas jiwamu akan tertutupi oleh stasioneritas jiwa cewekmu itu. Atau, jika cewekmu juga tidak stasioner, kegilaan kalian berdua bisa menghasilkan pasangan stasioner.
Abang tak rela jika kamu nekat begitu saja menautkan hatimu dengan cewekmu itu, tanpa kau obati atau kau siasati dulu jiwamu yang tidak stasioner itu. Ingat ya, jika kau tidak dengar perkataan Abang, kalian berdua hanya akan menghasilkan hubungan yang spurious, alias hubungan yang palsu.
"Hoo, begitu ya, baik Bang, akan saya laksanakan perintah Abang!"
Monday, September 6, 2010
Mencari Rasionalitas “Ekonomi-Perang” : Belajar dari Pengalaman Pembangunan Indonesia

- Mungkin banyak sebagian dari kita merasa kecewa dengan Pidato Politik SBY di Mabes TNI beberapa waktu lalu. SBY memang bukan Sukarno, dan mungkin tidak ada ada presiden lain pasca Sukarno yang mampu membakar emosi dan semangat patriotisme dengan kemampuan orasi yang luar biasa. Namun zaman sudah berbeda, masing-masing kita sudah punya cara sendiri untuk menemukan dan menumbuhkan rasa nasionalisme-nya, tak perlu lagi dengan orasi-orasi ataupun retorika-retorika dari seorang pemimpin negara.
- Pilihan melakukan perang memang memiliki biaya tersendiri, khususnya pada pengalokasian APBN. Memang dengan perang, pengeluaran pemerintah dari sisi pengeluaran militer akan meningkat, dan tentu akan pula meningkatkan Produk Domestik Bruto kita. Namun, pilihan tersebut tidak lebih baik di tengah bangsa ini yang masih berkutat pada permasalahan pemerataan dan peningkatan fasilitas dan kualitas pendidikan, kesehatan serta berbagai infrastrukur dasar.
- Ada hal yang menarik bagi saya, perang mungkin bisa jadi salah satu solusi bagi masalah pengangguran. Perang selain melibatkan pasukan angkatan bersenjata, juga biasanya melibatkan masyarakat sipil yang oleh negara dapat diperintahkan untuk terlibat dalam perang. Para penganggur ini dapat direkrut menambah anggota pasukan, tentu dengan juga mendapatkan gaji seperti halnya pasukan angkatan bersenjata lainnya. Namun mungkin ini adalah solusi jalan pintas yang sempit, solusi utama mengatasi pengangguran tetaplah dengan menciptakan lapangan pekerjaan, tentunya terkait pula dengan penciptaan iklim investasi yang kondusif.
- Tapi hey ada yang ketinggalan, terserah ini penting atau ngga. Dari kutipan dalam kata sambutan Pak Emil Salim sepertinya ada bagian yang kontradiktif, terutama pada kutipan paling terakhir. “...Bahkan buku-buku teori ekonomi Keynes harus dibakar...” Bukankah dengan perang berarti juga meningkatkan pengeluaran pemerintah? Padahal Keynes sendiri memberikan ruang keterlibatan peran pemerintah dalam ekonomi melalui government spending. Apakah tidak salah orang-orang dulu yang membakar bukunya? Apa yang membakar sebenarnya juga belum baca bukunya? Atau, apa saya yang salah mengerti?
Saturday, June 12, 2010
Marriage Model
Saturday, June 5, 2010
Apakah Sepakbola adalah Olahraga Laki-laki?
Berikut ini akan ditunjukkan sebuah pembuktian statistik untuk menjawab pertanyaan tersebut. Variabel yang digunakan hanya 2 yaitu persentase penduduk laki-laki di Indonesia per propinsi dan persentase keberadaan lapangan sepakbola di tiap propinsi. Dalam hal ini variabel kedua adalah sebuah proxy dari kadar kegemaran akan sepakbola. Semua data berasal dari podes 2008.
Uji yang dilakukan adalah uji matriks korelasi yang hasilnya sebagai berikut:
Dengan ini bisa kita simpulkan bahwa benar, di Indonesia bukanlah olahraga laki-laki saja. Namun memang dibutuhkan pembuktian lebih lanjut apakah benar motif kegemaran akan sepakbola dari laki-laki dan perempuan adalah berbeda. Silakan bagi yang berminat untuk melanjutkannya. Akhir kata, selamat bagi kita semua yang akan mulai menikmati menonton world cup 2010. Viva Soccer..
Tuesday, May 18, 2010
Kuesioner Tentang Starbucks
Hello guys....Ada salah satu mahasiswi FEUI angkatan 2006 sedang menyelesaikan skripsinya.
Kebetulan topiknya mengenai Starbucks....
Berikut link untuk pengisian kuesionernya..klik di sini
Bagi yang masih suka nongkrong, jika ada waktu..silahkan diisi....
Kalau gue kebetulan udah lama gak nongkrong di situ..maklum deh jauh dari peradaban..hehehehe....
Friday, April 9, 2010
Ngigau Jadi Juragan Baru di Dunia
Thursday, April 8, 2010
Mengintip Makroekonomi Akhir 2010
Wednesday, March 10, 2010
Mengapa harga minyak bumi naik tetapi kurs menguat?
Kini, hal itu berbeda. Harga minyak bumi meningkat tetapi kurs rupiah ikut meningkat. Ini bisa berarti bahwa aliran investasi asing belum mengalir keluar meski pasar minyak bumi internasional sedang bergairah. Pertanyaannya mengapa hal ini terjadi?
Satu alasan singkat mengenai hal ini adalah karena masih ada kekhawatiran bahwa industri di AS masih low on demand. Sehingga para pemain pasar masih "ragu-ragu" untuk berebut membeli kontrak kepemilikan minyak bumi yang di perjual-belikan di pasar.
Mengapa industri AS yang jadi acuan? Karena industri AS adalah pembeli dominan atas minyak bumi di dunia, meski sedikit-demi-sedikit sudah bergeser ke RRC, tetapi sama saja untuk negara ini tetap masih belum bertumbuh sama besar dengan tahun sebelumnya.
Jadi jika pertanyaannya adalah apakah nilai kurs rupiah terus menguat? itu semua tergantung pada aliran investasi asing yang masuk ke Indonesia. demikian analisa saya.
Friday, March 5, 2010
Pengangguran dan "Warteg"
Warteg memang merupakan bisnis relatif mudah untuk di"entry", dilain sisi, harga makanan di warteg sangat terjangkau, sehingga bila ada orang yang sedang mengalami masalah finansial, warteg bisa menjadi solusi untuk mengatasi rasa lapar di perut.
Berikut ini saya melakukan regresi cross-section jumlah pengangguran (dalam ribuan orang) ditiap propinsi terhadap jumlah warung/kedai makanan, dari data podes tahun 2008.
Dari hasil regresi ini maka bisa kita simpulkan bahwa untuk tiap penambahan seribu penganguran maka jumlah warteg yang bertambah adalah sekitar 69 atau 70 warung.
Akan tetapi memang perhitungan ini masih jauh dari kesempurnaan karena semestinya bisa lebih baik lagi kalau ada data time-seriesnya. silakan di komentari oleh kawan-kawan semua, terutama oleh teman-teman yang dulu pernah suka makan di warteg tapi kini gengsi kalo tidak makan di restoran, hehe..
