Tuesday, March 25, 2008

Curhat: Atheis, Islamic Fund dan Randomness Process

Sebenernya sudah lama saya ingin menulis tentang dosen yang satu ini. Namanya David Hampton, PhD di bidang Electrical Engineering plus MBA dari ESCP-EAP, sekaligus juga manager untuk sebuah CTA Fund(Commodity Trading Advisor Fund) yang bulan Februari kemarin merupakan fund dengan second best return di seluruh dunia. Dia ini mengajar Quantitative Method in Finance dan Advanced Global Risk Management di program yang saya ikuti sekarang. Pintar dan jenius, meski sering pula ngajarnya tidak terstruktur (gejala terlalu pinter kali ya?).

Dosen saya ini juga seorang Atheis. Dia tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Apa yang ada bagi dia adalah segala sesuatu yang bisa dibuktikan secara empiris, misalnya lewat sebuah uji hipotesis. Menurut dia, karena eksistensi Tuhan tidak bisa diuji lewat sebuah hypotesis testing, maka membicarakan eksistensi Tuhan adalah sesuatu yang tidak relevan. Bagaimana Anda bisa beranggapan bahwa Tuhan itu ada, sedangkan untuk menguji eksistensinya saja tidak dimungkinkan ?

Hari kamis sore kemarin, dosen saya ini kembali mengungkit-ungkit soal ideologi keatheisannya. Kemudian dia membandingkan CTA Fund performance-nya dengan beberapa index fund yang lain, termasuk Global Islamic Index Fund-nya Dow Jones. Di situ dia menunjukkan bahwa, Global Islamic Fund ternyata punya volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan CTA Fund-nya dia, dan sharpe ratio-nya juga lebih rendah. "It is not a good investment," simpulnya.

Saya yang sudah agak-agak ngantuk, jadi tertarik mendengar ulasannya. Dia menambahkan, bahwa pelarangan short selling dalam Islamic Finance membuat Islamic Fund tidak memiliki fleksibilitas dalam upaya untuk menurunkan tingkat volatilitas. Hal ini yang menjadi hipotesisnya dia kenapa Global Islamic Fund memiliki volatilitas yang tinggi dan sharpe ratio yang rendah. Tapi saya tidak terima argumennya bahwa short selling bisa menjadi cara yang efektif untuk menurunkan volatilitas hanya jika kita dapat menentukan dengan tepat asset mana yang sudah overvalued dan ke depannya memiliki trend harga yang menurun, dan jika pilihan Anda salah, maka kerugian yang akan Anda dapatkan adalah tidak terbatas. The sky is the limit.

Dan hohohoho...Dosen saya ini sempat terdiam, sebelum kemudian setuju sama pernyataan saya. Tentang hal ini, Nassim Nicholas Taleb, dalam bukunya Fooled by Randomness, mengemukakan sebuah argumen yang menarik. Kita tidak boleh mengukur keberhasilan dari sebuah keputusan hanya sekedar dari output yang dicapai dari keputusan tersebut, tapi juga harus melihat dari sisi biaya jika situasi yang ada ternyata tidak berjalan sesuai dengan keputusan yang diambil. Dalam ilmu ekonomi, metode ini kemudian dikenal dengan "what-if scenarios."

So, kalo Anda sukses melakukan short selling, maka jangan berbangga hati dulu, karena siapa tahu kesuksesan Anda adalah sebuah hasil dari randomness process (baca: keberuntungan). Apa jadinya jika ternyata harga asset yang Anda short selling terus naik? Short selling sendiri dilarang dalam Islam karena tidak boleh menjual barang yang belum Anda miliki. Tapi dari kelas ini ada satu pertanyaan yang sangat menarik bagi saya, terutama karena di kelas ini dosen saya banyak membahas random walk process dalam dunia keuangan. Dalam finance, asumsi bahwa pergerakan harga sebuah aset adalah mengikuti pola yang acak, atau dikenal dengan random walk process atau brownian motion dalam dunia fisika. Dengan kata lain, adalah sangat mustahil untuk bisa memprediksi harga sebuah asset di masa depan.

Implikasinya, dalam dunia asset management, sangat sulit bagi seorang fund manager untuk bisa mengalahkan return pasar secara konsisten dan signifikan. Penelitian dari dosen saya yang disebutkan diatas juga membuktikan bahwa, nilai alpha, yang menunjukkan skill seorang fund manager dalam mengalahkan return pasar, ternyata sangat kecil dan cenderung tidak signifikan.

Dari sini saya mulai mengkonfrontasikan dengan keyakinan yang selama ini saya anut, bahwa segala yang berjalan di dunia ini sebenarnya sudah ditentukan oleh Tuhan. Jika process randomness ini memang terjadi, tentunya, dalam kerangka pemahaman manusia, tidak ada kehendak Tuhan dalam pasar, karena ternyata pasar bergerak secara acak. Atau karena pemahaman manusia yang sangat terbatas untuk menyadari bahwa process acak ini sesungguhnya adalah sebuah proses berpola dalam kehendak Tuhan?

Septian, sedang studi mengambil Master of Science in International Finance, CERAM Sophia Antipolis, Perancis.

Thursday, March 20, 2008

Siapa Ekonom Paling Produktif?

Berikut hasil survey terakhir (Februari 2008) yang memperlihatkan ranking ekonom-ekonom kelas dunia dalam produktifitas di bidangnya. Silahkan buka dan pelajari link berikut di sini.

Ingat, hati-hati dan teliti membacanya, siapa tahu ada nama Anda di situ (Ho3...Ngarep!).

Wednesday, March 19, 2008

Satu lagi solusi bagi kemiskinan; Jangan beri sedekah pada GePeng!

Betul! memang terdengar kontradiktif; di satu sisi ingin hentaskan kemiskinan tapi di sisi lain tidak bisa kasih bantuan kepada si miskin (GePeng=gelandangan dan pengemis).

Dari kacamata ekonomi, GePeng dapat dikategorikan menjadi salah satu pekerjaan yang persaingannya semakin meningkat di wilayah perkotaan. Ingat! GePeng tidak ada di desa, hanya ada di kota, dan persaingan yang semakin meningkat itu adalah akibat jumlahnya yang kian bertambah tetapi tempat kerjanya tidak bertumbuh secepat pertumbuhan jumlah pekerjanya. Ini salah satunya disebabkan oleh tidak ada proses seleksi untuk menjadi GePeng, tapi ada seleksi bagi tempat praktek GePeng.

Tidak banyak tempat di kota dimana GePeng diperbolehkan berkeliaran. Oleh karena itu, GePeng terdorong untuk berpraktek di jalanan dan di sekitar lampu lalu lintas, yaitu tempat dimana dia juga termasuk sebagai pemiliknya (sebab jalanan adalah milik publik). Ini juga salah satu alasan mengapa sulit untuk membersihkan jalanan dari para GePeng.

Seperti teori ekonomi menjelaskan, selama masih ada insentif maka sebuah profesi akan terus terpelihara. Sedekah yang diberikan kepada GePeng baik berupa cash maupun in-kind menjadi insentif bagi mereka untuk tetap pada profesi mereka. Oleh karena itu, profesi ini masih terus terpelihara hingga sekarang.

Ada argumen yang mengatakan bahwa sebenarnya GePeng tidak punya pilihan lain sehingga memilih profesi ini. Tapi ada baiknya kita lihat dari sisi lain, yaitu jika kita terus-menerus memberi sedekah kepada mereka, berarti kita memelihara mereka untuk tetap pada profesi mereka, sebab insentif terus mengalir. Ini sama saja artinya dengan memelihara mereka untuk tetap miskin sedang kita menikmati kehidupan yang jauh lebih enak. Bukankah ini keji??

Selanjutnya, bila insentif itu sudah berhasil di-nol-kan dengan tidak ada lagi sedekah, maka perlu dipersiapkan sistem insentif alternatif yang memberi masa depan dan kehidupan yang lebih baik, sehingga mereka bergeser dari profesi lamanya. Untuk ini bentuknya bisa macam-macam, dan diantaranya sudah dipraktekkan dalam program pengentasan kemiskinan pemerintah. Intinya adalah cara ini akan lebih menjanjikan bagi semua pihak. Si miskin bisa hidup lebih baik, dan si kaya tidak akan menjerumuskan si miskin.

Jadi, apakah Anda masih berniat memberi sedekah pada gelandangan dan pengemis?

Tuesday, March 18, 2008

Ekonom VS Sosiolog

Prof. Gary S. Becker, the Nobel Laureate in Economic Sciences 1992 dari University of Chicago, merupakan tokoh yang mempopulerkan bagaimana teori-teori ekonomi mampu bersinggungan dengan berbagai disiplin ilmu sosial lainnya seperti sosiologi, demografi dan kriminologi melalui penilitian-penelitiannya.

Arus pemikirannya sedikit menentang mainstream umum para kawakan ekonomi di University of Chicago yang seringkali menganggap faktor-faktor non-ekonomi dianggap konstan (ceteris paribus).

Ekonom
Kekurangan seorang ekonom adalah terlalu menggantungkan diri pada data-data sekunder hasil diseminasi lembaga-lembaga pemerintah yang menurutnya seringkali meragukan keakuratannya, bahkan yang mengumpulkan data-datanya pun juga seringkali meragukan hasil data collecting yang dilakukannya (seperti kondisi di Indonesia salah satu contohnya). Menurut Becker, analisis-analisis para ekonom terlalu menggantungkan pada data-data massal yang dianggap tidak menjamin penggambaran kenyataan yang terjadi sebenarnya.

Sosiolog
Sosiolog dapat dianggap lebih kreatif dalam penggunaan data-data, karena pada umumnya melalui survey langsung di lapangan. Dengan demikian menurut Becker, analisis sosiolog dianggap lebih realistik, dan ini berguna untuk mengoreksi atau melengkapi analisis ekonomi melalui data lapangan hasil survey mikro yang mendalam.

Secara tidak sadar, apa yang dilakukan Becker mengakibatkan terjadinya invasi ilmu ekonomi terhadap ilmu sosiologi. Dengan mengadaptasikan tools yang ada dalam ilmu sosiologi ke dalam perangkat analisis ekonomi, membuat ilmu sosiologi menjadi tidak lagi berguna, yaitu berbagai aspek sosiologis dan bahkan antropologis menjadi sudah ter-cover dengan ilmu ekonomi.

Bahkan ada hal yang lebih ekstrim, seperti apa yang diungkapkan Frank Knight, yang juga professor di University of Chicago dalam pernyataannya seperti dikutip oleh McDonald (2000), page 19:Sosiology is the science of talk, and there is only one law in sociology. Bad talk drives out good talk.

Tapi menurut saya, apabila sering melihat dialog-dialog di TV akhir-akhir ini, terutama perbincangan para ekonom partikelir yang pendapatnya tidak didasari landasan yang kuat, bisa saja Frank Knight akan mengubah pernyataannya tersebut: “Economics is the science of talk, and there is only one law in economics. Bad talk drives out good talk.”

Monday, March 17, 2008

Partai Politik Islam: Religion Loyalty yang Meragukan

Ada suatu fenomena menarik mengenai perkembangan partai politik di Indonesia yang memiliki basis ke-Islaman sebagai salah satu pembentuk ideologinya, meskipun ada beberapa yang mengatakan berdasarkan Pancasila, namun tetap saja basis massa yang digerakkan dibelakangnya tidak bisa dilepaskan dari ideologi agama Islam.

Studi yang dilakukan oleh Aris Ananta, Evi N. Arifin, dan Leo Suryadinata dalam buku Indonesian Electoral Behavior: A Statistical Perspective (Singapore: ISEAS, 2004) pada Chapter 8 saya ringkas hasil analisis secara ekonometrik terhadap 4 Partai Politik Islam di Indonesia sebagai berikut:



Dalam studi ini yang menjadi variabel dependen adalah suara (vote) yang didapatkan oleh partai politik tersebut pada Pemilu 1999 (walaupun datanya sudah obsolete, namun saya rasa hasil studi ini masih relevan hingga sekarang), sedangkan variabel independen-nya dalam hal ini meliputi berbagai aspek-aspek sosial-ekonomi.

Dengan pemilih di Indonesia yang 80 persen lebih adalah muslim, tentu embel-embel partai politik yang berdasarkan atau ada kaitan dengan agama Islam memang menjadi sangat potensial untuk digarap. Namun, berdasarkan hasil yang didapatkan studi tersebut menunjukkan bahwa variabel religion sendiri hanya mencerminkan koefisien yang jauh lebih kecil dibandingkan variabel region (dalam hal ini wilayah basis partai politik).

Dengan demikian, hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kondisi ke-Islam-an di sini lebih sangat kental pada basis kewilayahan (region) tertentu, bukan lebih pada ideologi agamanya.

Bisa saja saya pada akhirnya membuat terminologi sebagai berikut, yaitu: PKB adalah Partai Islam Region Tapal Kuda, Jawa Timur; PAN adalah Partai Islam Region Jawa Tengah dan Yogyakarta; PKS adalah Partai Islam Region Perkotaan Jabodetabek; sedangkan PPP adalah Partai Islam Sisa Region dari Partai-Partai Islam lainnya.

So, apakah benar bahwa religion loyalty terhadap partai-partai politik yang berkaitan dengan haluan religi Islam masih relevan? Atau memang terminologi yang saya buat di atas lebih tepat?

Tambahan:

Seperti yang terjadi saat ini, di mana ada trend Partai Politik berhaluan Islam mulai menggeser pendulumnya ke tengah. Misalkan saja, PAN yang sekarang menyatakan sebagai partai nasionalis-religius, PKS yang sekarang mulai menggarap massa non-muslim dan bahkan mengadakan Rakernas di Bali. Jadi, pertimbangan memperluas region dengan tanpa mempertimbangkan religion (Islam dan Non-Islam) menjadi lebih dititikberatkan untuk meperbesar votes.

Secara platform, katakan saja platform ekonominya, secara garis besar tidak ada yang spesial ataupun berbeda secara spesifik, dan untuk Pemilu 2009, saya yakin seputar perdebatan dan perbincangan yang terjadi akan kurang menyentuh substansi.

Saturday, March 15, 2008

Mengapa karir profesional mantan ketua-ketua organisasi mahasiswa jaman sekarang kalah bagus dari mantan anggota-anggotanya?

Pertanyaan diatas sangat menarik dibahas, karena fenomena ini dapat menandakan pergeseran nilai-nilai dalam dunia kemahasiswaan jaman sekarang dibanding jaman dahulu.

Ketua-ketua organisasi mahasiswa jaman sekarang bila dibanding dengan jaman dahulu lebih banyak lahir karena kepopuleran secara akademis, penampilan, pergaulan dan kemampuan menciptakan program-program kerja organisasi yang mampu menarik perhatian massa. Sedangkan para ketua organisasi mahasiswa jaman dahulu kebanyakan lahir dari masa pergerakan mahasiswa.

Perbedaan cukup mendasar dari dua periode jaman ini ada pada bobot antara tugas manajerial dan teknikal. Pada jaman dahulu, seorang ketua organisasi mahasiswa memiliki peran yang hampir seimbang antara manajerial dan teknikal. Artinya selain mengatur, seorang ketua juga harus turun ke jalan (melakukan hal teknikal) karena jaman menuntutnya untuk berada di baris depan ketika memimpin pergerakan mahasiswa. Sedangkan sekarang, ketua organisasi mahasiswa akan lebih banyak membuat program kerja dan melakukan tugas-tugas manajerial. Atau dengan kata lain, mereka lebih cenderung ”menyuruh” anggotanya daripada bersama anggota-anggotanya untuk melakukan langsung tugas-tugas keorganisasian.

Apakah efek samping dari kondisi jaman sekarang? Jadi, pada diri ketua-ketua organisasi mahasiswa jaman sekarang akan tercipta ”ego” yang lebih tinggi dibanding jaman dahulu. Karena rasa tersebut sangat diperlukan sewaktu me-manage para anggota organisasi agar mampu menyelesaikan program-program yang telah ditetapkan.

Lalu apakah hubungannya ego itu dengan karir profesional sang mantan ketua?? Jadi setelah lulus menjadi sarjana, rasa ini sering kali terbawa-bawa hingga ke dunia kerja. Sang mantan ketua menjadi selalu merasa harus no.1 dibanding mantan para anggota organisasinya.

Ego ini mendorong dia untuk cenderung memilih-milih pekerjaan berdasarkan gengsi dan prestis yang sebenarnya tidak masuk diakal, dimana seharusnya minat dan potensi diri adalah dasar utama. Lebih dari itu, seringkali para mantan ketua ini, tidak sepenuh hati dalam melakukan pekerjaan teknikal di kantor dan ingin cepat-cepat mendapat tanggung jawab manajerial padahal dirinya masih seorang pegawai dasar.

Alhasil sang mantan ketua organisasi tersebut menjadi tidak betah pada lingkungan kerjanya, meskipun sebenarnya dia telah berada di profesi yang akan membawa dirinya menuju kesuksesan.

Hal lain yang juga sering terjadi adalah kebiasaan sang mantan ketua untuk membandingkan karir dia dengan karir para mantan anggotanya. Sehingga secara tidak sadar dia telah membuat dirinya sendiri menjadi stress/depresi ketika melihat karir yang lebih baik pada mantan anggotanya. Padahal ketekunan dan kesabaran adalah kunci buat dia untuk mencapai karir yang lebih baik. Akibat dari tindakannya tersebut sang mantan ketua menjadi kurang berkonsentrasi pada profesinya dan melakukan tindakan-tindakan yang malah memperlambat karirnya.

Akhir kata, mohon kritisi ulasan saya atas fenomena ini. Terima kasih.

Wednesday, March 12, 2008

Kebijakan Rumah Susun: Sebuah Penyimpangan

Posting ini terinspirasi pada sebuah pemandangan kompleks Rumah Susun Kebon Kacang yang kebetulan persis berada di belakang gedung saya bekerja.

Kebijakan rumah susun pada awalnya merupakan sebuah konsep kebijakan yang baik oleh Perumas. Penduduk yang bekerja di kota besar khususnya Jakarta, tentu saja perumahan yang layak untuk masyarakat dengan pendapatan kelas ke menengah bawah menjadi bagian yang penting dalam menyokong roda ekonomi di Jakarta. Penduduk ini tentu saja membutuhkan akses perumahan yang layak dan dekat dengan pusat aktivitas ekonomi.

Namun yang terjadi saat ini adalah sebuah penyimpangan, di mana banyak rumah susun tersebut menjadi beralih fungsi sebagai tempat tinggal yang disewakan, berdasarkan pengamatan saya, rumah susun tersebut banyak ditempati pekerja dengan pendapatan menengah ke atas.

Mengapa penyimpangan ini terjadi?
Bayangkan saja, penduduk dengan pendapatan menengah ke bawah dan pada umumnya memiliki pekerjaan dengan penghasilan tidak tetap dihadapkan pada pemenuhan tempat tinggal yang membutuhkan biaya yang dikeluarkan secara rutin. Pada akhirnya, penduduk yang seharusnya menempati rumah susun tersebut memutuskan untuk menyewakannya pada orang lain yang memiliki penghasilan tetap. Dengan ini, dia akan menerima pemasukkan tetap dari hasil sewa, dan bahkan tanpa harus lagi mencari pekerjaan atau bekerja (as simple as that!).

Berdasarkan perbincangan dengan salah satu orang yang tinggal di rumah susun tersebut, cukup hanya mengeluarkan biaya Rp4 juta per tahun untuk menyewa rumah susun dengan tipe studio berfasilitas lengkap dengan kamar mandi, dapur, pendingin ruangan, TV kabel, dan bahkan jaringan internet (murah kan?).

Lihat saja hasil jepretan foto-foto yang saya ambil di bawah ini;

Keterangan foto:
1.
Dua blok rumah susun kebon kacang dengan fasilitas pendingin ruangan dan TV kabel.
2. Gambar lebih dekat, rumah susun berfasilitas pendingin ruangan.
3. Gambar lebih dekat, atap-atap rumah susun penuh dengan parabola dan pemancar TV kabel.
4. Mercedes Benz, salah satu mobil dari beberapa mobil mewah yang terparkir di pelataran parkir rumah susun.

Seharusnya, pemerintah melaksanakan monitoring dalam pelaksanaan kebijakan rumah susun ini dengan tujuan memastikan bahwa rumah susun tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh penduduk yang dijadikan target kebijakan ini. Barangsiapa yang menyalahgunakan harus dikenakan sangsi atau denda.

Pernah ada isu bahwa perumahan kompleks rumah susun kebon kacang ini sempat ingin digusur oleh salah satu pengembang kompleks pertokoan dan apartemen. Kalau saat ini penggunaannya sudah menyimpang dengan terus menerus disalahfungsikan dan sekali lagi menguntungkan kelas masyarakat menengah ke atas (seperti halnya subsidi BBM), yah apa mau dikata, yah digusur sajalah! Hahahaha…….

Thursday, March 6, 2008

The Delusion of Obamanomics

The Economist said, “For a man who has placed “hope” at the centre of his campaign, Barack Obama can sound pretty darned depressing.”

Just look at this video:



But hey, where are all those his economic programs?

You’d be better to look at his website rather than listen to his speeches, there are plenty of intelligently designed, reasonably centrist proposals to be found (or download his economic policy plan in pdf one).

The Economist said:

"The sad thing is that one might reasonably have expected better from Mr. Obama. He wants to improve America's international reputation yet campaigns against NAFTA. He trumpets “the audacity of hope” yet proposes more government intervention. He might have chosen to use his silver tongue to address America's problems in imaginative ways—for example, by making the case for reforming the distorting tax code. Instead, he wants to throw money at social problems and slap more taxes on the rich, and he is using his oratorical powers to prey on people's fears."

"Mr. Obama advertises himself as something fresh, hopeful and new. But on economic matters at least he, like Mrs. Clinton, has begun to look a rather ordinary old-style Democrat."

On the different note, a Singaporean blog wrote that "Obama is not fit to lead" in here


What do you think guys?

Tuesday, March 4, 2008

Industri Film, Pembajakan, dan Internet

Sepertinya perkembangan industri film baik di Indonesia ataupun di belahan dunia manapun semakin banyak menghadapi ancaman seiring dengan perkembangan teknologi internet yang semakin pesat. Setali tiga uang, teknologi internet yang semakin canggih tentu saja memudahkan kita untuk mengakses informasi maupun berkomunikasi secara global. Namun di sisi lain, ini juga menjadi sebuah ancaman bagi industri film.

Baru-baru ini dirilis sebuah film Ayat-Ayat Cinta yang diangkat dari best selling novelnya Habiburrachman El Shirazy. Film ini seakan membius antusiasme penonton untuk menyaksikannya. Namun di sisi lain, ketika film ini masih hangat-hangatnya dirilis, sudah muncul film bajakan ini yang bisa di download secara gratis melalui Youtube. Hanung Bramantyo, sang sutradara, sangat menyesalkan bisa terjadinya hal ini seperti yang dia ceritakan di blog pribadinya di sini. Bukan hanya pendapatannya akan semakin berkurang, namun apresiasi terhadap film industri negeri sendiri masih belum terlihat begitu besar.

Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di dalam negeri, industri Film Hollywood pun mengalami masalah serupa. Seperti yang dilansir majalah the Economist, pendapatan industri Film Hollywood semakin menurun, hal ini terjadi karena salah satu pendapatannya dari penjualan kepingan DVD semakin berkurang akibat makin menjamurnya situs-situs penyedia film-film baik legal maupun illegal, yaitu baik dengan mengunduh secara gratis maupun dengan harga yang sangat miring.

Hal ini semakin membuat pihak-pihak dalam industri Film Hollywood pusing bukan kepalang. Satu sisi mereka menghadapi biaya pembuatan film yang semakin mahal, terutama ketika mereka menggunakan aktor atau artis ternama-untuk memikat para penonton-yang bayarannya pun semakin tinggi, dan di sisi lain penerimaan mereka semakin terus terkikis dengan penerimaan mereka yang semakin menurun.

Berikut ini beberapa situs-situs penyedia film-film secara download di mana ada beberapa situs mampu menyuguhkan puluhan ribu katalog film yang sangat lengkap dari berbagai tahun pembuatan dan bermacam-macam genre, seperti: ZML.com, Pirate Bay, FilmOn.com, MovieFlix, Movielink, CinemaNow, Joost, aintitcool.com, Jaman.com, dan lain-lain.

Di Amerika, seperti dikutip juga dari majalah the Economist, penjualan DVD pada tahun 2007 (USD23.4 miliar) menurun sebesar 3 % dari tahun 2006 seperti terlihat pada gambar di bawah ini:


Hal ini tentu saja diakibatkan seiring dengan tingkat kecepatan download bytes per menit internet yang semakin cepat di Amerika serta di beberapa negara maju. Seperti pada gambar di bawah ini:


Ke depannya, tantangan industri Film Hollywood semakin besar, kecuali jika mereka mampu mengatasi serta menertibkan banyaknya situs-situs penyedia film secara bajakan dan menjadikan situs-situs penyedia jasa download film tersebut sebagai alat menghasilkan pemasukan yang tetap ke kantong mereka.

Di Indonesia, beruntung saja kemampuan atau perkembangan internet masih sangatlah terbatas, untuk men-download film-film saja masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi, untuk sekedar membajak, tentu harus memiliki kesabaran cukup tinggi, belum lagi di tengah-tengah kita men-download terkadang koneksi internet seringkali terputus. Namun, jalan menuju pembajakan di Indonesia masihlah terbuka lebar, kita masih bisa membeli DVD bajakan secara mudah dengan harga yang sangat miring. Ini tidak hanya menjadi ancaman pihak-pihak industri film dalam negeri, namun juga para investor penyedia jasa bioskop.

Ada hal yang menarik, sepertinya para pembajak di negeri ini terkadang masih saja ada sisi moralitas untuk menghargai industri film dalam negeri seperti apa yang ditulis Hanung Bramantyo dalam blognya, dan saya kutip sebagai berikut:

"Saya kaget, karena belum pernah sepanjang sejarah saya membuat film, pembajak membajak film Nasional. Saya punya kenalan pengusaha dvd bajakan di Glodok yang bahkan pernah bilang ‘Kita tidak membajak film-film Indonesia. Kasihanlah, film Indonesia kan lagi tumbuh. Sayang kalau dibajak. Film Amerika aja yang kita bajak. Mereka kan udah kaya.’ Saya tersenyum dalam hati. Moralitas kadang muncul tanpa kita duga dari jenis manusia seperti apa."


Okey guys, Selamat prihatin, dan jangan asal "Membajak" Hahahaha.........

Monday, March 3, 2008

Gaji PNS Naik, Crowding Out Effect?

Oke, begini. Kita semua mungkin sudah mendengar berita mengenai kenaikan gaji PNS sebesar 20%, anggota TNI dan Polri sebesar 20%, dan para hakim sebesar 10%.

Kemudian, saya iseng dengan Mundell Fleming model untuk menerangkan fenomena ini. Mudah-mudahan saya tidak salah dan tidak keliru mengenai teori IS-LM.

Oke, sekarang kita masuk pada inti persoalan. Kenaikan gaji PNS sudah barang tentu menyebabkan pos pengeluaran Pemerintah di APBN meningkat, betul tidak? Nah, berarti government spending meningkat, ya kan? Dalam kerangka IS-LM, hal ini secara otomatis menggeser kurva IS ke kanan atas bukan? karena dalam hal ini, Pemerintah mungkin saja sedang menerapkan kebijakan fiskal ekspansif. Sedangkan, kurva LM tetap.

Sampai disini mudah-mudahan saya tidak keliru. Oke, lalu kita juga pasti sudah fasih di luar kepala mengenai sumbu X dan sumbu Y pada kurva IS-LM. Sumbu X = national income (Y), ya kan? Kemudian, sumbu Y = interest rate (i).

Oke, dengan menerapkan kebijakan fiskal yang ekspansif, memang betul bahwa Y akan meningkat, begitu juga dengan i. Oke?

Kemudian, kalian masih ingat dengan crowding out effect? crowding out effect yaitu salah satu fenomena ekonomi dimana ketika Pemerintah meningkatkan pengeluarannya, kemudian terjadi penurunan aliran modal dari swasta (investasi). Hal ini jelas disebabkan karena i naik. Apabila i naik maka secara otomatis I (investasi) turun.

Jadi, bola api yang saya mau lemparkan di blog ini adalah apakah memang kebijakan Pemerintah dalam menaikkan gaji PNS kemungkinan akan menyebabkan penurunan investasi? Atau dengan kata lain, crowding out effect terjadi? Atau ada proses yang saya alpa saya cantumkan di atas? Saya akui bahwa analisa iseng di atas sangatlah simple dan tidak komprehensif.

Maka dari itu mari kita diskusikan di blog tercinta ini.

Wednesday, February 27, 2008

Starbucks@Pacific Place: Treat a Friend


This is a kind of buy-one-get-one promotions.

We just simply fill out this postcard, and present it to Starbucks Coffee at Pacific Place 4th floor.


How does it work?

- Treat a friend: Buy any beverage and get another one of your choice.

- The second beverage must be of equal or lesser value.

- Not valid for promotional beverage.

- Can not be combined with any other promotion.

- Limited to one "treat a friend" per postcard, valid only at Starbucks Coffee Pacific Place till April 30, 2008
.
.
.
Let's enjoy......

Friday, February 22, 2008

Why is it hard to gather the starbuckers?

Akhir-akhir ini sulit sekali rasanya bertemu para starbuckers. Memang banyak alasan yang melatarbelakanginya dan juga sangat beragam.
Survey yang dilakukan Roy Morgan, CLSA Asia Pacific Markets for Indonesia 2007 "Mr & Mrs Indonesia" mungkin bisa dijadikan beberapa alasan tersebut. Survey ini menggunakan sampel 21 ribu responden yang mewakili sekitar 67 juta penduduk Indonesia.

Di tengah kehidupan di Jakarta, sebagai para new comers di lapangan kerja tentu segala macam aktivitas kita memiliki budget contraint yang disesuaikan dengan income kita.

Sebenarnya keinginan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga merupakan aktivitas favorit di Indonesia seperti yang diperlihatkan dalam hasil survey, salah satunya terciptalah grup diskusi ini.

Tetapi mengapa sulit untuk kumpul diskusi? Wajar saja, menurut survey sekitar lebih dari 65 persen memilih untuk melakukan kegiatan entertainment (diskusi kita termasuk entertaining kita ga ya?).

On the different note, hanya sekitar 5 persen saja yang memilih untuk pergi ke kafe (termasuk starbucks) dan lebih tinggi memilih pergi ke bioskop untuk menonton film-film baru sebesar 7 persen. Bisa jadi keinginan untuk diskusi tinggi tetapi tidak diimbangi keinginan yang tinggi pula untuk kumpul di kafe. Kenapa juga ngumpulnya di Kafe? Warung kopi kaki lima boleh juga dijajal.

Memang dari kita hanya sedikit yang punya mobil pribadi. Apa alasannya sama soal ngumpul untuk diskusi? Sebagai para pengguna setia taksi (padahal cuma mau naik Express atau Putra yang mematok tarif lama) ternyata kita hanya bagian dari 20 persen orang, sedangkan hampir 60 persen orang lebih memilih menggunakan bis sebagai transportasinya. Bisa jadi, keinginan untuk diskusi tidak match dengan jasa transportasi yang kita pilih.

Kenapa akhir-akhir ini starbuckers seperti “kering” ide dan gagasan? Hmm, ternyata memilih untuk melakukan kegiatan hobi dan olah raga (misal: futsal) jauh lebih tinggi sekitar 5-7 persen dibandingkan membaca buku. Kalo gini sih wajar aja kalo kurang ide dan gagasan baru.

Anyway, bolehlah kita katakan bahwa diskusi kita bukan suatu kegiatan entertainment dan boleh dikatakan juga high-cost pula. Tapi kenapa sekedar karokean atau nonton konser musik Jazz (Jak Jazz atau Java Jazz) tetap aja kita sulit ngumpul?
Yah wajar juga sih, menurut survey, 10 persen atau sekitar 6 juta orang di Indonesia lebih memilih datang ke konser dangdut. Hmm, next time kita datang konser dang dut aja apa? Goyang ngebor!

Anyhow, semoga kita bisa tetep ngumpul-ngumpul....

Thursday, February 21, 2008

Mitos dan Statistik

Sebagai seorang paman, saya memiliki seorang keponakan perempuan yang umurnya kemarin baru lengkap satu tahun. Ibunya pernah bercerita bahwa ponakan ini sudah cukup sering (mungkin lebih dari sekali) jatuh dari tempat tidur. Jika sudah jatuh begitu, ibunya pasti akan membawa si ponakan berobat ke dukun bayi untuk diurut (massage).

Dari si dukun bayi ini, sang ibu diberitahu bahwa si ponakan akan berhenti jatuh dari tempat jika sudah jatuh sebanyak tujuh kali.. Kesan pertama dari pernyataan tersebut adalah sang dukun (karena memang dukun) pasti punya kemampuan supranatural, bahwa pernyataan sang dukun bayi adalah sebuah pernyataan berbau mitos atau gaib (apalagi berhubungan dengan angka tujuh..)

Sebelum si ibu (kakak saya) mengatakan yang aneh-aneh, saya jelaskan kepadanya bahwa bagi saya, pernyataan sang dukun bayi tidak lebih dari sebuah kesimpulan statistik. Bahwa sang dukun bayi selama ini telah merekam data dan informasi mengenai frekuensi bayi untuk jatuh dari tempat tidur (tentu saja dari pasien-pasiennya selama ini). Berdasarkan data statistik tersebut, sang dukun bayi menyimpulkan bahwa bayi tidak akan pernah jatuh lebih dari tujuh kali..

Lalu, apakah kita harus mempercayai penyataan sang dukun tersebut? Untuk bisa mempercayainya, saya harus melihat dulu prosedur-prosedur statistik yang digunakan sang dukun, termasuk seberapa banyak jumlah pasien bayi-jatuhnya (ribet amat ya, ya pokoknya gitulah..) Sebenarnya apapun itu, sangat beralasan jika bayi tidak akan jatuh dari tempat tidur lebih dari tujuh kali. Alasan pertama: orang tuanya sudah lebih waspada, kedua: usia bayi mungkin usia yang terlalu pendek untuk jatuh lebih dari tujuh kali, ketiga: lain-lain..

And you know guys, banyak yang bilang bahwa primbon jawa sebenarnya adalah buku tentang statistik kehidupan, nah kalo sudah begitu.. bukannya sah-sah saja ya untuk mempercayainya...

Wednesday, February 13, 2008

Untuk Bung Fajar: Starlight - Muse

Mengiringi perjalanan bung Fajar ke Italia, sepertinya ini waktu yang pas buat kita bersulang dengan segelas kopi di tangan untuk kesuksesan Bung Fajar dan kita semua. Dan tentunya akan lebih pas lagi bila bersama-sama bernyanyi lagu kesukaan Bung Fajar..

Mari kita mainkan Starlight -- Muse !!!

Bung Gaffar dan Bung Pakasa di drum, Bung Luthfi di bass, Bung Carlos dan Bung Letjes di Gitar, Bung Chaikal dan Bung Fajar di vokal...

Selamat jalan bung Fajar... Sukses untuk dirimu di Italia...

"Far away; This ship is taking me far away; Far away from the memories; Of the people who care if I live or die...."

Monday, February 11, 2008

Change

Dalam suatu debat partai demokrat, Hillary berkata seperti ini:

"... I think having the first woman president is a huge change with consequences across our country and the world."

Hey guys, kita sudah pernah punya itu semua, seorang presiden wanita, presiden yang cacat, bahkan yang jenius... tetapi dengan semua itu, entah kemana perubahan (change) itu pergi.