Sudah lebih dari 7 hari Pak Harto telah meninggal. Bila mengingat masanya, memang banyak yang bisa dikenang dan dipuji dari zaman Pak Harto, seperti yang dilakukan oleh banyak media kita. Tetapi dari berbagai media yang ada, obituari majalah Economist disini (dengan judul Soeharto, dictator of Indonesia) dan tajuk rencananya yang berjudul "the epitaph on a crook and a tyrant" adalah yang paling menarik, kalau tidak bisa dibilang paling objektif meskipun sedikit sinis. Bayangkan, a crook, a tyrant, dan dictator.. !! "IN THE summer of 1998, just after the fall of President Suharto, the United States Treasury detected some odd movements of large sums of money, allegedly $9 billion, to a bank in Austria. The money was his. Or rather it was a small part of the billions he was said to have screwed out of Indonesia between 1966 and 1998, when he had held absolute power there. At one point Mr Suharto was the sixth-richest person in the world. Indonesia—though he had modernised this sprawling mass of archipelagoes and islands, paved it, brought foreign investors in and promoted an economic boom—was the poorer." Dan satu hal, hidup jalan terus. Kita sudah move on ketika Pak Harto mundur di tahun 1998. Oleh karenanya, tidak perlu memuja terlalu berlebihan, apalagi mengungkit-ungkit untuk kembali kepada masa itu. |
Tuesday, February 5, 2008
Pak Harto Bukan Robin Hood
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comments:
Menurut saya Pak Harto agak susah untuk masuk kategori Pahlawan. Karena menurut saya jasanya kurang lebih sebanding dengan kerusakan yang dia buat.
yang menarik justru spanduk dari Forum Betawi Rese' (FBR). Spanduk tersebut di pajang di jembatan penyeberangan Jl. Pramuka (Halte Busway Pramuka).
Spanduknya berbunyi seperti ini:
"Pak Harto Adalah Pahlawan.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya"
Dalam hal ini saya melihat arogansi dari kelompok tersebut. Mudah-mudahan bung Chaikal bisa membuat sebuah forum baru. mungkin namanya Forum Betawi Damai. Atau Forum Betawi Intelek
Pak Harto bukan Robin Hood, tapi based on majalah Tempo terbaru, Pak Harto adalah Yesus...(Lukisan Last Supper).
Pojok 412
Post a Comment