Akhirnya yang terjadi apa. Para capres sibuk memikirkan harus milih wapres yang jawa atau non jawa. Cari yang gagah karena dia agak pendek. Karena pendek itu, akhirnya juga mulai pake peci supaya keliatan tinggi. Selain itu supaya dibilang mencerminkan islam, karena pasangannya nasionalis. Di sisi lain, yang militer cari pasangan yang sipil. Di waktu yang lain, si capres 5-6 jam berlatih di depan cermin untuk mengubah gaya bicaranya. Pokoknya, mbulet aja sampai lupa bikin program.
Yang lebih parah, akhirnya rakyat juga memiliki pikiran yang sama. Yang dipikirkan cuma jawa non jawa, sipil militer, ganteng - gak ganteng, gagah - gak gagah, atau wah ini orang antek asing vs bukan antek asing. Dan rakyat pun dibikin lupa untuk menanyakan program-program yang ditawarkan para capres-cawapres.
Lihat permasalahannya kan.. para pengamat yang menganggap dirinya expert, lebih pintar dari yang lain, dan karena itu hampir 24 jam begitu larisnya muncul di berbagai acara TV keluar dengan analisis-analisis mereka yang menurutku tidak berbeda dengan ramalan Mama Lauren (99% wangsit, wahyu atau semacamnya) atau obrolan tukang becak di warkop, bukannya menjadikan rakyat dan para pemain politik menjadi pintar, tetapi sebaliknya.
Terjadi pembodohan besar-besaran, dan kita diam saja menikmatinya.
Yang mereka katakan harus saya akui tidak salah. Namun faktor-faktor yang mereka sebutkan: faktor jawa-non jawa, sipil militer, gaya bicara, dll adalah faktor no. ke-45 ke-46 dstnya. Kenapa tidak sekali-kali para pengamat menanyakan program yang dimiliki para pasangan capres-cawapres dan membahasnya? Karena dengan begitu, masyarakat dan para pasangan menjadikan program tersebut prioritas mereka. Faktor yang seharusnya menjadi no.1 akhirnya ditempatkan menjadi faktor no.1.
Tapi, lagi-lagi saya hanya bisa mengomel dan menunggu jawaban dari rumput yang bergoyang.

No comments:
Post a Comment