Hari ini Kota Jakarta mulai sepi. Keramaian ibukota bukan lagi terlihat di jalan-jalan raya, tetapi di terminal bis, stasiun kereta, pelabuhan dan bandara, serta tidak terkecuali pasar-pasar dan supermarket.
Harga-harga mulai naik. Saya dengar harga cabe di pasar tradisional sudah ada yang mencapai Rp 50 rb per kilo. Luar biasa multiplier dan fenomena ekonomi yang tercipta dari perayaan lebaran tahun ini. Prof Bambang Setiaji (Univ. Muhammadiyah) pernah mengatakan dalam tulisannya bahwa pemerintah tidak memiliki strategi kebudayaan tertentu untuk mengubah budaya konsumtifisme pada masa lebaran.
Mestinya ada strategi khusus untuk ini karena tentunya kita semua ingin memiliki momen hari raya yang terjangkau oleh semua khalayak, dan tidak mencekik leher. Memang inflasi tidak bisa terhindarkan untuk momen-momen khusus seperti ini. Tetapi apakah perlu setinggi itu? Anda sendiri yang bisa menjawab ini.
Akhir kata saya ucapkan selamat Idul Fitri untuk semua penulis dan pembaca blog ini. Mohon maaf lahir bathin.
Friday, September 18, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comments:
Lagi berandai-andai, inflasi budaya ini baik Ied, natal, maupun tahun baru, adalah inflasi yang diakomodasi oleh BI (MS) dan pemerintah (THR, dll).
Jadi sebenarnya, jika tidak diakomodasi, inflasi bisa, atau paling tidak bisa ditekan..
betullll pak chaikal.
Mengapa sih THR harus dikasih bersamaan dalam beberapa minggu sebelum lebaran. Mengapa tidak divariasi dan dipencar secara merata di beberapa momen yang berbeda. Misalkan Kantor Pemerintah kasih THR selalu 1 bulan lebih cepat. Sehingga memaksa spending lebih cepat dan besaran inflasi gak terlalu besar. Karena di menjelang hari-h hanya karyawan swasta yang berkonsumsi. Begitulah salah satu caranya. Tapi pasti gw yakin masih banyak metode lainnya
RCM
Post a Comment