Thursday, May 29, 2008

Survey BBM

Setelah bosan membaca tulisan yang puitis, saya tergelitik untuk posting hasil polling kemarin di lebih dari 12 kota di Indonesia. Pada responden ditanyakan "Bagi Anda yang pada 2009 memilih SBY, apakah anda tetap memilih SBY apabila harga BBM kembali dinaikkan ?". Secara logis tentunya jawaban "tidak" akan muncul sebagai pendapat mayoritas. Namun hasilnya ternyata diluar dugaan.


Metode polling adalah by phone dengan jumlah sampel 800 orang. Apabila asumsi penduduk yang memiliki telepon adalah menengah keatas, maka saya pribadi merasa lega. Dengan Asumsi polling ini mewakili pendapat populasi penduduk menengah keatas maka saya berpendapat masih banyak orang waras di Indonesia.


Apalagi setelah membaca email dari bung chaikal di millist yang mendukung pendapat Pak Kwik bahwa minyak di Bumi Indonesia merupakan hak rakyat indonesia maka dari itu harganya adalah Rp. 0. Oke argumen ini begitu noble, mulia, kerakyatan. Namun penduduk Indonesia tidak semuanya melarat. Masa' orang kayak Bakrie atau soekanto tanoto boleh menikmati minyak bumi secara gratis?


Selain itu pendapat dari Pak Kwik menurut saya akan membawa pada pola konsumsi energi yang boros. Pada akhirnya adalah meningkatnya polusi dan kerusakan Alam. Demikian, tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

Sunday, May 25, 2008

Untuk apa berpuisi?

Sudah mendengar puisi Bangkit-nya Deddy Mizwar, mmmmhh… pastinya lebih bisa dihayati dari pada iklan retorika seorang pemimpin partai dan seorang mantan jenderal (ngapain coba ngabisin duit bermilyar-milyar hampir setiap bulan hanya untuk.. hanya untuk… ah sudahlah, saya tidak bisa melengkapinya)

Anw, apa-sih arti puisi untuk kehidupan ini? Apakah puisi punya peran dalam pergerakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara? Atau apakah pada akhirnya, Deddy Mizwar hanya sibuk untuk bercuap-cuap?

Bagi saya, sebagai seorang pecinta puisi, jawabnya jelas puisi punya peran dan pastinya dengan magnitude yang cukup signifikan. Dan lebih khusus bagi ekonom, puisi ternyata memiliki peran yang cukup signifikan, setidaknya itu yang telah dibuktikan oleh artikel ini bahwa judul yang puitis untuk paper empiris memberikan margin empat kali lebih besar (positif) untuk di-sitasi dibanding yang tidak dan memiliki pengaruh yang negatif untuk artikel teoretis dengan margin dua kali lebih kecil.

Kesimpulan bagi ekonom, puisi punya peran signifikan tetapi dengan magnitude yang beragam. Pelajaran lainnya adalah jika ekonom menyampaikan teori gak usahlah beretorika terlalu banyak, demikian Bung2 Starbuckers...

Sebagai tambahan berikut beberapa judul artikel yang dianggap puitis dalam paper tersebut:

Metaphor: “Digging for Golden Carrots” (Taylor, 1995)
Personification: “Ant, Rationality, and Recruitment” (Kirman, 1993)
Oxymoron: “The Optimality of Myopic Behavior” (Leahy, 1993)
Synecdoche: “Competing Head-to-Head May be Less Competitive” (Klemperer, 1992)

Sunday, May 18, 2008

Efektifkah Inflation Targeting?

Ada sebuah tulisan sangat menarik oleh peraih Nobel Ekonomi 2001 Joseph E. Stiglitz dalam artikelnya The Failure of Inflation Targeting. Dalam artikel tersebut, Stiglitz seperti menggugat bagaimana kebijakan moneter yang dilakukan Bank Sentral dengan menggunakan inflation targeting tidak bekerja maksimal dengan menghadapi tingkat inflasi saat ini yang dihadapi ancaman peningkatan harga minyak internasional dan komoditi yang terus menanjak.

Tugas Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi, bukanlah inflasi secara keseluruhan. Namun, Bank Indonesia hanya bertugas mengendalikan inflasi inti (core inflation). Sedangkan bagian lain seperti volatile food dan administered price sebagai bagian tingkat inflasi secara keseluruhan yang berasal dari peningkatan harga makanan dan dampak kebijakan fiskal bukan bagian dari tanggung jawab Bank Indonesia.

Sayangnya, kedua bagian terakhir pembentuk inflasi tersebut justru yang sedang mengancam tingginya tingkat inflasi. Tingginya harga komoditas, peningkatan harga bahan pangan, serta rencana peningkatan harga BBM sebesar 30 persen tentu akan semakin mendorong tingginya tingkat inflasi di Indonesia. Secara teoritis, inflasi ini bisa dijelaskan melalui cost-push inflation, di mana aggregate supply tereduksi akibat production cost yang semakin meningkat, seperti apa yang ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Lalu, kebijakan moneter seperti yang diungkapkan Stiglitz dalam artikelnya pada negara-negara penganut Inflation Targeting (salah satunya Indonesia) akan bereaksi meningkatkan tingkat suku bunga dengan tujuan untuk mencegah semakin berkurangnya nilai riil mata uangnya akibat tingkat inflasi yang terus meningkat. Tetapi, di satu sisi ingin menyelamatkan nilai riil, namun peningkatan suku bunga tersebut akan menyebabkan disinsentif bagi investasi dalam peminjaman modal dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Hal ini mengakibatkan menurunnya permintaan agregat (aggregate demand).

Berdasarkan grafik di atas, apabila peningkatan suku bunga ditentukan secara tepat, akan mengembalikan tingkat inflasi seperti kondisi sebelumnya. Namun, di sisi lain hal ini akan berdampak pada menurunnnya tingkat pendapatan nasional (Y) yang semakin besar. Tapi sekali lagi ingat, tingkat inflasi saat ini banyak yang di luar kemampuan Bank Indonesia. Peningkatan harga minyak internasional, menyebakan imported inflation pun semakin besar. Selain itu, peningkatan pada harga kebutuhan pokok akan semakin mendorong tingkat inflasi karena merupakan faktor pembentuk harga dengan porsi yang cukup besar dalam perhitungan Indeks Harga Konsumen.

Mungkin, sangatlah kita berbeda dengan Amerika, penetapan tingkat suku bunga oleh Federal Reserve sangatlah memberi pengaruh besar pada perekonomian baik domestik maupun global. Sedangkan di Indonesia, saat ini pengendalian tingkat inflasi secara keseluruhan akan sangat sulit, dan kebijakan inflation targeting tidak akan terlalu efektif untuk menurunkan tingkat inflasi secara keseluruhan. Peningkatan suku bunga tentu akan menggerus permintaan aggregat, dan hal itu akan terus terancam apabila daya beli masyarakat terus tertekan dengan tingkat inflasi akibat volatile food dan administered prices yang juga terus membayangi.

Peningkatan Harga BBM (Lagi)

Rencana pemerintah untuk meningkatkan harga BBM sepertinya kembali mengundang berbagai macam pro-kontra. Dampak peningkatan harga minyak internasional yang menembus angka USD120 per barel tentu semakin membebani anggaran subsidi BBM. Dalam milis Departemen IE FEUI ada yang menyisipkan materi yang mungkin bisa kita perdebatkan yang dapat lihat di sini:

http://www.mediafire.com/?m1bnwwyatmb

Isi dari materi tersebut merupakan seperti apa yang diutarakan Kwik Kian Gie yang menentang peningkatan harga BBM dengan berdasarkan analisisnya bahwa subsidi BBM menurutnya tidak pernah ada. Secara tendensius Kwik mengungkapkan bahwa usaha pemerintah meningkatkan harga BBM karena pemerintah tidak bisa mengambil untung lebih besar dari harga internasional karena mensubsidi rakyatnya. Sanggahan mengenai pendapat Kwik, salah satunya bisa lihat di sini.

Hal ini seperti mengingatkan kembali pada perdebatan mengenai peningkatan harga BBM pada tahun 2005 lalu, yaitu pada bulan Maret rata-rata 30 persen dan Oktober rata-rata 90 persen. Penjelasan mengenai apa yang terjadi pada saat itu, dan juga masih relevan untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ini, mungkin bisa kita lihat artikel di sini.

Berdasarkan pada materi presentasi Departemen Perdagangan yang disampaikan oleh Bung Leo. Simulasi yang dilakukan oleh Departemen Perdagangan mengenai dampak peningkatan harga BBM sekitar 30 persen adalah sebagai berikut:

Indonesia: Impact of Higher International Oil Prices, Domestic Petroleum, and Government Expenditures in 2008

Source: MoT staff estimates

Saya kira, kasus ini seperti menjadi perdebatan yang tiada akhir, dan terkadang seperti sebuah de javu.

Tuesday, May 6, 2008

Kebijakan Perbankan April 2008

(tulisan ini adalah bahan dan hasil diskusi starbuckers 30 april lalu)

15 April lalu, BI mengeluarkan kebijakan perbankan terbaru yang didasari oleh latar belakang: (i) mengatasi permasalahan yang dihadapi usaha kecil untuk mendapatkan pembiayaan bank, (ii) pendalaman pasar keuangan (financial deepening) dan mendorong perkembangan pasar modal, (iii) memperbaiki dan memperkuat struktur kelembagaan bank, dan (iv) meningkatkan manajemen risiko bank melalui implementasi Basel II yang didukung dengan ketersediaan industri pemeringkatan. Untuk lebih jelas lagi apa isi kebijakan tersebut dapat dilihat disini.

Muliaman Hadad, Deputi Gubernur BI, mengatakan
, "paket regulasi perbankan tersebut diharapkan menjadi stimulus untuk pertumbuhan perekonomian dan sekaligus dapat menjaga kestabilan sistem keuangan di tengah kondisi perekonomian dunia yang masih belum kondusif dewasa ini".

Hasil diskusi starbuckers, menyimpulkan beberapa poin kritisi atas kebijakan tersebut. Satu, kebijakan BI mestinya tidak perlu bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sebab hal itu adalah tanggung jawab pemerintah bukan BI (yang adalah seputar inflasi dan perbankan). Dua, niat BI untuk meningkatkan kredit usaha kecil dan mikro dengan cara menurunkan aset-tertimbang-menurut-risiko (ATMR) tidak akan efektif, karena masalah utama perbankan dalam memberi kredit ke usaha kecil dan mikro adalah pada risiko bisnis yang sesungguhnya pada sektor itu, atau dengan kata lain turunnya ATMR tidak akan memperkecil risiko dunia nyata. Ketiga, kondisi global saat ini secara signifikan telah berkontribusi pada perlambatan ekonomi, jadi segala usaha melonggarkan sistem kredit bisa jadi tidak akan punya dampak signifikan pada dunia usaha, apalagi sektor usaha kecil dan mikro. Terakhir dan merupakan kesimpulan kami yang paling penting adalah bahwa tindakan BI menurunkan ATMR melalui paket kebijakan ini jelas-jelas bertentangan dengan niat menjaga kestabilan sistem keuangan!

Akhir kata, terima kasih kepada teman-teman yang senantiasa meluangkan waktu untuk diskusi starbuckerseconomists. Semoga diskusi ini bisa terpelihara dengan baik.

Thursday, April 24, 2008

An exercise on Welfare Analysis of Pulling out BBM Subsidy and Converting It into Cash Transfer (Part 1)

It is a compelling task in making economic assessment in this issue. Firstly, it originated from the theoretical base in which the correct welfare analysis is a debatable concept due to various approach for the equilibrium. Secondly, we realize the political economy’s complexity for any policy implementation if any scheme should be take in place.

The Story

Let us begin with a simple notion of the policy change. The government aims to pull out the BBM subsidy and converts it into a specific cash transfer to targeted beneficiaries (the poor). The reasons are assumed to be limitation of government budget and a good intention to improve welfare consequences from the old policy scheme.

Now, we can start to examine these two reasons using agent’s preferences in the economy.

Efficiency Analysis Using Preferences: The Utility of Poor People

Since the government is focusing on the welfare of poor people, we can start to analyze the welfare changes for poor individual and put aside for a while the welfare consequences for the rich. We will reconcile those two later.

Read more here!

By Rus'an Nasrudin


Wednesday, April 23, 2008

Apakah Menguntungkan Bagi ASTRO Untuk Mengambil Liga Champions Juga?

Publik Indonesia pertengahan tahun lalu dikagetkan dengan menangnya Astro dalam hak siar liga inggris atau yang lebih dikenal dengan singkatan EPL (baca:ipiel). Kemudian kini Astro diisukan berniat untuk membeli Liga Champions untuk musim depan. Apakah ini adalah sebuah keputusan bisnis yang tepat bagi Astro atau tidak?

Ada beberapa perbedaan mendasar antara liga inggris dengan liga champions. Jam tayang liga champions di Indonesia selalu diatas jam 12 malam sedang liga inggris memiliki pertandingan akhir pekan yang ditayangkan antara jam 7 malam hingga jam 11 malam (ini adalah waktu favorit para penonton EPL). Lalu, karena waktu tayang yang lebih larut maka bisa dipastikan bahwa hampir seluruh penonton liga champions adalah orang yang niat banget nonton liga itu.

Selanjutnya, perbedaan lainnya adalah pada pola jumlah penonton. Pada liga inggris, jumlah penonton akan meningkat tajam bila 4 klub utama liga inggris (MU, Chelsea, Arsenal, Liverpool) sedang bertanding. Apalagi bila 2 diantara 4 klub itu sedang bertemu. Sudah dapat dipastikan jumlah penonton akan membeludak. Sedang liga champions memiliki pola yang cenderung linear, yaitu semakin menuju final maka jumlah penonton akan semakin banyak.

Dari kacamata jenis siaran, membeli sebuah acara live olahraga bola sebenernya tidak terlalu menguntungkan. Karena pengiklan tidak akan banyak yang tertarik untuk menayangkan iklannya. Oleh karena slot waktu iklan sangat terbatas yaitu diawal acara ketika pertandingan belum mulai, tengah acara ketika turun minum pemain dan akhir acara ketika pertandingan telah selesai. Dari ketiga slot tersebut, semua pengiklan pastinya akan cenderung memilih mengiklan di tengah acara. Cuma masalahnya tengah acara terbatas sekali waktunya yaitu hanya 15 menit dikurangi sesi pembahasan dari para komentator.

Berikutnya yang tidak kalah menarik adalah proses memenangkan sebuah acara yang sifatnya udah terlanjur barang “publik”. Saya katakan barang publik adalah karena acara tersebut sudah seperti barang publik semenjak awalnya masuk ke Indonesia. Sehingga penontonnya hanya dengan bermodal TV dan antena dulunya sudah bisa menonton acara ini. Jadi, “mindset” publik sudah terlanjur dimanjakan dengan barang yang bersifat “probono”. Akan sulit mengubah mindset publik agar mau membayar untuk menonton acara ini.

Memang benar bahwa pelanggan Astro meningkat sejak EPL dikuasai Astro. Tapi pertanyaannya apakah keuntungan yang diperoleh Astro telah melebihi keuntungan yang diperoleh stasiun TV non-berlangganan ketika menayangkan EPL? Tentu stasiun TV non-berlangganan juga menawar acara tersebut cukup tinggi, namun kalah karena Astro bersedia membayar lebih mahal lagi untuk hak eksklusif tersebut. Jadi, cost untuk membeli acara tersebut amat tinggi. Sedang dari sisi profit, pengiklan tentunya tidak akan mau membayar Astro semahal iklan dia waktu EPL masih di stasiun non-berlangganan. Sebab jumlah penonton EPL di Astro gak sebanyak penonton EPL di stasiun non-berlangganan. Logika serupa berlaku juga bila liga champions jadi dibeli Astro. Dengan tidak melupakan bahwa penonton liga champions secara rata-rata tidak sebanyak penonton EPL (sebagaimana dijelaskan di paragraf 3) dan banyak penonton EPL yang ber”irisan” dengan penonton liga champions. Jadi bila dihitung secara absolut tentu efek penambahan pelanggan Astro akibat membeli liga champions tidak akan sebesar ketika EPL Astro beli.

Kesimpulan akhir saya, saya rasa tidak akan menguntungkan bagi Astro untuk membeli liga champions.

IMF dan False-Paradigm Model

Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith dalam Economic Development, di mana penjelasan mengenai International Dependence Revolution salah satunya adalah pendekatan Model Paradigma Palsu (False-Paradigm Model). Model ini berusaha untuk menjelaskan bahwa keterbelakangan yang terjadi di negara-negara berkembang diakibatkan oleh kesalahan dan ketidakakuratan “resep” yang diberikan oleh para ahli atau pengamat internasional yang bernaung atas nama lembaga bantuan negara-negara maju, atau lembaga donor internasional. Dan juga, seringkali konsep ataupun solusi yang ditawarkan terkadang tidak sesuai dengan kondisi di negara-negara berkembang atau dapat dikatakan kurang efektif untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Kalau menurut saya, model pendekatan ini memang sedikit bersifat konspiratif untuk menjelaskan keterbelakangan yang terjadi di negara-negara Dunia Ketiga. Namun, ketika saya membaca artikel dari Hector R. Torres, Could the IMF Have Prevented This Crisis? Sepertinya model tersebut bisa jadi ada benarnya, hanya kasusnya terjadi di negara maju, dan bukan mengenai penyebab keterbelakangan, namun salah “diagnosa.”

Torres dalam artikelnya mengulas bagaimana kegagalan IMF dalam membaca krisis subprime mortgage yang terjadi saat ini di Amerika Serikat. Bahkan pada 10 bulan sebelum krisis subprime mortgage terjadi, IMF masih tetap saja belum bisa membaca peluang terjadinya krisis tersebut, seperti yang dikutip dari artikelnya Torres:

“....the problem was not mentioned in one of the IMF’s flagship publications, the Global Financial Stability Report (GFSR), in September 2006, just ten months before the sub-prime mortgage crisis became apparent to all. In the IMF’s view, ‘[m]ajor financial institutions in mature...markets [were]...healthy, having remained profitable and well capitalized,’ and ‘the financial sectors in many countries are in a strong position to cope with any cyclical challenges and further market corrections to come.’”

“...The IMF began to take notice only in April 2007, when the problem was already erupting, but there was still no sense of urgency. On the contrary, according to the IMF, “weakness has been contained to certain portions of the sub-prime market and, to a lesser extent, the Alt-A market), and is not likely to pose a serious systemic threat.” Moreover, “the US housing market appears to be stabilizing....Overall, the US mortgage market has remained resilient, although the sub-prime segment has deteriorated a bit more rapidly than had been expected...”

Ketika IMF banyak disoroti perannya di negara-negara berkembang, ternyata juga tidak menunjukkan performa optimalnya dalam membaca krisis subprime mortgage yang akhirnya berdampak juga ke perekonomian global.

Ada apa sebenarnya dengan IMF?

Bukankah krisis subprime mortgage yang terjadi di Amerika, merupakan negara yang memiliki peran besar di IMF?

Apakah memang terjadi problem dalam governance structure di tubuh IMF sendiri, seperti yang diungkapkan Torres:

“...The answer may be found in the IMF’s governance structure. Currently, the distribution of power within the IMF follows the logic of its lending role. The more money a country puts in, the more influence it has.”

Friday, April 18, 2008

Sekedar Curhatan Politik

Ada sebuah artikel bagus di Jakarta Post di sini, yang saya rasa merupakan tulisan cukup objektif menangkap fenomena kemenangan pasangan Heryawan dan Dede Yusuf yang didukung oleh PKS dan PAN di Pilkada Jabar.

Masyarakat sekarang mungkin sudah jenuh dengan para politikus tua, mantan rezim Orde Baru, dan juga para pesakitan atau pensiunan militer. Masyarakat sekarang juga seperti hidup dalam dunia pesimistis dengan berbagai masalah hidup yang semakin tak menentu di Indonesia ini. Pelarian terhadap semua masalah itu, bisa jadi (alasan hipokrit) diserahkan pada Tuhan, dan masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam akan lari ke partai politik berhaluan Islam.

Tapi tunggu dulu, Partai Islam pun ada asumsinya, masyarakat beragama Islam di Indonesia pun kalo ditilik lebih mendalam bukan karena semata-mata ingin Islam menjadi landasan di negara Indonesia, namun menurut saya pilihannya sedikit pragmatis, yang penting mendapatkan pemimpin yang jujur dan anti-korupsi. Lihat saja Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dengan status partai hasil Orde Baru, anggota partainya banyak terlibat kasus korupsi, dan terpecahnya unsur di dalam partai yang akhirnya banyak menciptakan partai baru. Nasibnya akan tinggal menunggu waktu, kalau hanya dengan mengandalkan pemilih tradisional. Atau contoh lain, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang masih saja terjadi konflik internal tiada akhir.

Hasil survey Lembaga Survei Indonesia (LSI) baru-baru ini seperti dikutip pada tulisan Bung Letjes di blog ini, yaitu mengenai fakta rendahnya posisi Partai Islam dihadapkan pada fenomena meningkatnya nilai-nilai religi di masyarakat namun tidak diikuti oleh pemilihan electoral-nya. Dan juga, masyarakat kecewa akibat tidak ada perubahan signifikan yang diberikan para wakil-wakil Partai Islam terhadap proses politik yang ada. Tapi menurut saya, tetap ada point positif di situ, masyarakat akan tetap memilih figur yang didukung oleh Partai Islam, terutama yang menyuarakan anti-korupsi dan kejujuran, terlepas bagaimana nanti kiprahnya dalam pemerintahan. Istilahnya, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, pilih yang optimis dulu, bila tetap tidak ada perubahan, pesimistis kemudian.

Mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan Barack Obama, "It's time for the youth to lead.” Walaupun belum makan asam garam cukup lama, saya rasa masyarakat pun sudah jengah dengan situasi iklim politik yang didominasi dengan politikus gaek, konvensional, tidak ada inovasi perubahan, dan banyak yang memiliki track-record buruk. Belum lagi, bursa calon presiden di Pemilu 2009 akan banyak diwarnai oleh para penderita post-power syndrome dan megalomaniak.

Mungkin sudah saatnya yang muda bicara....atau setidaknya kita perlu alternatif yang “relatif” lebih baik.

Thursday, April 17, 2008

Standar Gaji Ekonom

Iseng-iseng coba search interval gaji ekonom swasta (corporate) di Amerika. Contohnya di Los Angeles, California, interval gajinya bisa di lihat di sini. Kalo di Indonesia interval gajinya berapa ya?

Inovasi Instrumen Keuangan Penyebab Krisis, Benarkah?

Akhir-akhir ini banyak orang bersikap skeptis bahwa krisis sub-prime mortgage yang terjadi di Amerika merupakan salah satu akibat dari inovasi keuangan yang terjadi di pasar uang yang semakin liberal.

Robert J. Shiller dalam artikelnya, Has Financial Innovation Been Discredited? Mengatakan bahwa seiring dengan terliberalisasinya pasar uang akan mendorong timbulnya berbagai inovasi yang berfungsi untuk memberikan banyak pilihan untuk mendorong modal dan investasi, hal ini kemudian berujung pada terdorongnya pertumbuhan ekonomi.

Saya rasa semuanya ada baik buruknya. Satu sisi, inovasi keuangan membuat para pihak di pasar mencari bagaimana menemukan instrumen investasinya yang paling efisien, dan juga membuat semakin banyaknya pilihan untuk mendiversifikasi resiko yang mungkin terjadi. Namun di sisi lain, inovasi keuangan juga berbuntut pada semakin besarnya peluang moral hazard dalam pasar uang.

Bagi saya, sah-sah saja apabila ada pihak yang mendiskreditkan inovasi keuangan sebagai penyebab krisis. Kalau kita hidup masih di jaman seperti pada sebelum tahun 1994 mungkin saja saat ini tidak akan terjadi namanya krisis sub-prime mortgage.

SBY Resah dengan Usaha KPK

Baru-baru saja Presiden SBY berkomentar mengenai bagaimana kinerja KPK dalam menangkap tangan para pejabat yang memanfaatkan jabatannya untuk menerima suap dari pihak lain.

SBY mengatakan bahwa tidak seharusnya KPK menjebak orang yang sedang melakukan tindak korupsi. Menurut SBY, seharusnya KPK mengingatkan mereka sebelum mereka melakukan korupsi. Baca selengkapnya di sini.

SBY juga tidak setuju dengan upaya KPK yang melakukan kerja intelijen seperti menyadap pembicaraan di telvon dan berbagai usaha penjebakan lainnya.

Hello SBY, maunya apa sih?
Bukannya Anda sendiri ya yang berkomitmen untuk memberantas korupsi? Kenapa kok mau ikut campur bahkan malah tidak membenarkan usaha yang dilakukan KPK seperti menjebak berbagai pejabat seperti Al Amin NAsution (FPPP-DPR RI) kasus alih fungsi Hutan di Bintan, Irawady Joeneos (Komisi Yudisial) kasus pengadaan tanah untuk gedung Komisi Yudisial, dan Jaksa Urip (Kejaksaan Agung) kasus BLBI dengan suap USD600.000.
Menurut SBY, lebih baik mengedepankan usaha preventif dan penyelesaian melalui legal hukum dibandingkan penjebakan-penjebakan demikian.

Pak SBY, jangan-jangan Anda takut apa yang dilakukan KPK melalui kerja intelijensi-nya akan mengusik kenyamanan Anda?
Kalo Pak SBY memang jujur dan tidak mengambil yang bukan hak Anda, seharusnya tenang-tenang saja donk.

Cerita Tentang Seorang Pemimpin Bangsa

Ini merupakan pernyataan seorang mantan presiden yang dimuat di detik.com:

"Seharusnya ulama memberikan nasehat kepada umat untuk ber-KB. Mengingat harga yang sekarang ini melambung"

Fiuuuhh... (sambil geleng-geleng dan mengusap keringat di dahi)... Kok bisa ya dulu jadi Presiden?? Dan lebih parahnya.. mau maju lagi di Pilpres 2009 nanti!!!! Waduh, gawatt nian bangsa ini!!!

Atau jangan-jangan emang akunya yang bego, atau si mantan Presiden ini emang punya lompatan quantum yang luar biasa di otaknya??!! Hhh... Mungkin hanya Tuhan yang tahu...

Untungnya fenomena ini gk terjadi di Indonesia aja. Di AS sekalipun, mereka punya Bush yang mungkin lebih parah dibanding pemimpin kita. Coba cek disini atau disini.

Tuesday, April 15, 2008

Artis di Pilkada

Marissa Hague, Rano Karno, baru-baru ini Dede Yusuf, dan sekarang Saiful Jamil??!!! Damn.. !!!! Dasar partai-partai pragmatis...

Monday, April 14, 2008

Ramalan Jayabaya

Sedikit intermezzo, ini ada artikel menarik (meski agak lama) di opini Kompas tentang Ramalan Jayabaya. Tanpa perlu model ekonometrika atau model-model lainnya, percaya gak percaya, ramalan ini hampir tepat memprediksikan kondisi bangsa ini. Apalagi melihat kasus-kasus belakangan ini. Hhh... Jadi pesimis melihat perkembangan bangsa ini.

Kalau udah begini, solusinya cuma satu ni. Sebelum terlambat, harus secepatnya hengkang ke negara lain!!! Ayo-ayo!! buru-buru cari beasiswa ke LN dan gak usah balik lagi. hehehe.. Brain Drain deh.. ;)

Ramalan Jayabaya lengkapnya (dengan terjemahan ke bahasa Inggris) bisa dilihat disini.