Sunday, November 30, 2008
Ketahanan Pangan di Batam (Chaikal)
Friday, November 28, 2008
Gunakan Produk Lokal, Siapa Lagi Kalau Bukan Kita?
Monday, November 24, 2008
Yuk Beli Dollar...!!!
Friday, November 21, 2008
Indonesia Economic Outlook 11/14/08
The beginning of the end of the financial crisis? Perhaps... The beginning of the end of the recession? Far from it. (Jean-Marc Lucas, BNP Paribas)
Resesi ekonomi global membuat memburuknya sentimen perekonomian yang juga berdampak pada Indonesia bersamaan dengan kecenderungan timbulnya flight to quality. Indikator pertama yang tergoncang adalah IHSG dan nilai tukar Rupiah.
Seiring dengan tekanan terhadap Rupiah, intervensi moneter yang pantang menyerah membuat cadangan devisa semakin menipis, dan merosot tajam sampai 50.58 Milyar USD pada November 2008. Kenaikan BI rate secara bertahap tidak dapat menghalangi perginya hot money dari perekonomian Indonesia. Padahal hal tersebut dilakukan ketika bank-bank sentral lain secara umum menurunkan suku bunga acuannya. Namun, 4 jurus kebijakan GWM valas BI dinilai cukup berhasil dalam mengatasi keringnya suplai USD di pasar domestik, sehingga sempat sedikit memberikan pertahanan pada Rupiah yang sedang tergoncang. Kendati demikian, penurunan GWM valas tersebut juga mempunyai andil terhadap merosotnya cadangan devisa.
IHSG juga terlihat bertahan pada posisi 1250-1350 setelah sempat terjun bebas beberapa waktu sebelumnya. Bahkan pada 13 November, IHSG terpuruk hingga level dibawah 1300 didorong oleh kembali ambruknya wallstreet dan bursa-bursa regional. Penurunan terparah dialami oleh saham-saham pertambangan dan infrastruktur, yang juga dipicu oleh harga minyak yang amblas hingga level 55 USD/barrel pada tanggal yang sama, dan skandal grup Bakrie. IHSG juga belum terlihat akan mengalami kenaikan yang stabil, sehingga investor cenderung hanya mencari margin tipis dalam periode sangat pendek. Namun, perubahan FDI masih cukup stabil menandakan bahwa sentimen global ini tidak terlalu signifikan pada investasi yang bersifat jangka panjang.
There’s a saying in international economics: “If the U.S catches a cold, the world sneezes” (Sunil Rongala – (Delloite Research)
Meskipun ekonomi global sedang lesu, namun ekspor belum terlihat menurun, hal ini sejalan dengan depresiasi rupiah yang secara riil menurunkan harga barang ekspor Indonesia.
Walaupun pada 3 November 2008 BPS mengumumkan inflasi Oktober 2008 dengan level yang cukup baik, yakni 0.45% mtm dan 11.77% yoy, namun perubahan sentimen terhadap perekonomian Indonesia hanya bersifat sangat temporer, pengaruh sentimen global sudah terlalu besar jika dibandingkan pasar Indonesia yang kecil. Sehingga, Rupiah secara bertahap terus melemah dan ditaksir menembus level Rp. 12000/USD pada pertengahan November walaupun fundamental ekonomi dan kebijakan moneter telah dipandang cukup baik.
Demikian pula dengan indikator pertumbuhan lain, juga menunjukkan bahwa ekonomi terus bertumbuh kendati sentimen global sedang buruk. Namun, walaupun belum ditunjukkan pada data, sejumlah industri di Indonesia sudah mulai merumahkan dan melakukan PHK terhadap tenaga kerjanya karena permintaan ekspor yang tergerus, dan ancaman PHK terus muncul dan bertambah (Kompas.com). Sehingga, besar kemungkinan bahwa nilai ekspor akan sedikit mengalami penurunan pada publikasi BoP berikutnya. Kendati demikian, current account belum tentu mengalami defisit karena adanya penurunan harga minyak dunia yang menurunkan nilai impor. Pada periode sebelumnya, current account sempat mengalami penurunan drastis pada Q2 2008 karena melonjaknya biaya impor, baik dari kategori Oil maupun Non-Oil.
Permintaan riil domestik juga terlihat masih konstan jika di-proxy melalui penjualan otomotif dan penjualan ritel.
Menurunnya harga minyak dunia juga memberikan perbaikan dalam defisit fiskal karena menurunnya beban subsidi. Penurunan harga minyak dunia tersebut juga memberikan keleluasaan pemerintah untuk mengoreksi harga Premium sebesar Rp. 500/liter, yang direncanakan awal Desember ini. Namun, masih belum dapat dipastikan bahwa hal tersebut akan secara signifikan menstimulus perekonomian dan menghalangi laju inflasi, karena adanya menu cost. Kendati demikian, inflasi dapat diperkirakan turun seiring dengan kecenderungan turunnya permintaan beberapa waktu kedepan.
Yield SBI mencapai hampir 1.5% di atas BI rate dan base lending rate terus merangkak naik. Pada saat yang bersamaan, spread CDS (credit default swap) untuk INDON (SUN yang diperdagangkan di luar negeri dengan rate USD) terus meningkat, yang berarti kepercayaan akan pembayaran surat utang Indonesia semakin menurun. Hal ini konsisten dengan seluruh tekanan yang telah dideskripsikan sebelumnya.
Dalam kerangka teoretis, BI berperan besar dalam mengatasi dampak krisis global secara jangka pendek melalui intervensi. Namun, kecukupan cadangan devisa mulai mengkhawatirkan melihat fase krisis yang masih panjang dan pasar Indonesia yang terlalu kecil dibandingkan dunia secara keseluruhan. BI telah melakukan langkah yang tepat dengan mengeluarkan regulasi-regulasi yang kreatif yang terkait dengan perdagangan valas. Langkah BI dalam memperketat transaksi valas diatas USD 100000 berhasil membatasi transaksi valas yang bersifat spekulatif, sekalipun mempersulit perbankan karena banyaknya keluhan nasabah dan pembatalan transaksi. Kebijakan tersebut dapat meminimalkan volatilitas Rupiah yang terus akan mengalami tekanan, sehingga dapat meminimalkan potensi penggunaan cadangan devisa.
Pengeluaran pemerintah yang tinggi pada bulan November-Desember juga dapat membantu mempertahankan gairah perekonomian domestik sampai dengan awal tahun 2009. Namun, patut diperhatikan bahwa perekonomian nasional belum sampai pada titik nadir pada saat ini, walaupun Indonesia dapat dikatakan “korban tidak bersalah”.
pakasa@gmail.com
Monday, November 17, 2008
Mencoba Mencari Alasan Teori Dari Krisis Finansial Global
Menarik kalo melihat fenomena krisis finansial global saat ini, dimana gagal bayar kredit perumahan di AS, ternyata mengakibatkan dunia jadi ikut mengalami krisis. Tapi tepatnya apa sih yang menjadi penyebab krisis finansial global ini???
Mungkin media massa atau penerbitan ilmiah sudah banyak yang membahas tentang penyebab krisis. Namun disini saya mau coba mengulasnya menggunakan teori quantity of money Irving Fisher.
Coba Anda bayangkan sisi kanan persamaan adalah perkalian antara harga dan quantitas. Asumsikan dulu bahwa sisi kanan ini tidak ada perubahan sama sekali, maka nilai perkaliannya adalah konstan. Lalu sisi kirinya adalah perkalian antara jumlah uang dan kecepatannya.
Sebelum terjadi krisis, menjamurnya produk-produk turunan dalam dunia finansial telah menambah kecepatan uang menjadi berkali-kali lipat dari kondisi semula. Sehingga semestinya diimbangi oleh pengurangan jumlah uang beredar agar sisi kanan tetap konstan. Tapi nyatanya tidak, yang terjadi malah sebaliknya. Yaitu uang beredar dibiarkan meningkat dengan tidak terkontrol oleh karena less-restrictive management dari pihak bank sentral.
Alhasil sisi kanan tidak bisa konstan seperti kita asumsikan diawal. Lalu, oleh karena kuantitas dari produksi adalah sesuatu yang tidak mudah diubah, sebab membutuhkan perubahan teknologi, investasi baru, pengetahuan yang lebih maju dan sebagainya, maka dapat ditebak bahwa yang paling cepat merespon di sisi kanan adalah komponen harga. Sehingga terjadilah inflasi... (inilah awal-awal gejala krisis di AS, berbulan-bulan yang lalu, sayangnya the Fed tidak cepat sadar).
Inflasi kemudian menyebabkan para pengambil kredit perumahan menjadi sulit melunasi hutangnya sebab dalam kondisi semua harga sedang mahal (inflasi) maka yang paling utama diprioritaskan adalah kebutuhan pangan. Alhasil, setelah gagal bayar maka rolling-back effect terjadi. Dan ternyata turunan subprime mortgage sudah ada dimana-mana. Otomatis semua kena dampak.
Disaat pasar finansial mengalami kekacauan maka kecepatan uang menjadi menurun, padahal sisi kanan sudah terlanjur tinggi akibat harga yang mengalami inflasi. Otomatis dibutuhkan penambahan jumlah uang beredar agar sisi kiri bisa mengimbangi sisi kanan. Inilah solusi yang pemerintah AS sedang akan lakukan setelah mendapat persetujuan dari Parlemennya (nyatanya semua negara yang terkena dampak juga melakukan hal yang sama).
Pendapat saya atas masalah ini adalah, sebaiknya pemerintah AS atau pemerintah negara manapun tidak usah terlalu berfokus pada penambahan jumlah uang beredar. Sebaiknya fokuskan diri dalam penanganan inflasi. Yaitu turunkan nilai dari sisi kanan bukan malah mencoba meningkatkan nilai sisi kiri. Maksudnya adalah untuk mengembalikan daya beli masyarakat agar roda ekonomi kembali berputar sehingga kecepatan perpindahan uang dapat meningkat kembali tapi dengan level yang terkontrol. Tidak selepas bebas seperti waktu sebelum krisis. Seperti bunyi pepatah jalan raya, “Semakin Cepat, Maka Semakin Dekat Dengan Maut”.
Friday, November 7, 2008
Will Capitalism Die?
Terkait dengan ini, banyak orang menganggap bahwa Indonesia dikuasai oleh kaum neoliberal. Tapi fakta berbicara berbeda. Hingga akhir 2007 saja, jumlah BUMN masih sebanyak 140 perusahaan. Dan kita tahu, besar subsidi dalam anggaran mencapai ratusan triliun. Ketika harga minyak bumi mencapai US$ 140, porsi subisidi hampir 1/3 dari total anggaran. Bahkan, pemerintah mengatur cara kita berpakaian, melalui UU Pornografi, dan mengatur cara kita beragama, dalam kasus Ahmadiyah misalnya. Ketika pemerintah ada dimana-mana, apakah itu identik dengan neoliberal? Jawabannya tidak.
Sedikit beralih, karena bukan neoliberal yang sebenarnya akan kita bahas, bicara neoliberal sebenarnya kita bicara soal kapitalisme, karena kapitalisme adalah intinya. Nasibnya tidak berbeda, dibenci oleh banyak orang. Kapitalisme diidentikkan dengan perusahaan besar yang hanya mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan mengorbankan banyak hal, kapitalisme dianggap sebagai pihak asing yang ingin menguasai kekayaan domestik, kapitalisme berarti keberadaan para spekulan yang bermain-main dengan ketidakpastian, dan tidak lupa kapitalisme menghasilkan kesenjangan. Tidak aneh jika ketika krisis financial menimpa AS (gurunya kapitalisme), mereka yang anti kapitalisme seakan mendapatkan pembenaran untuk menolak kehadiran kapitalisme. Dalam sebuah karikatur yang dimuat di The Economist, euforia penolakan kapitalisme digambarkan dengan larisnya T-Shirt dengan tulisan Capitalism is Dead di bagian dada.
Benarkah Kapitalisme Akan Mati?
Sedikit flash back, kapitalisme muncul dari Adam Smith melalui bukunya The Wealth of Nation di tahun 1776. Sejak itu, kapitalisme sempat mengalami masa gelap setelah terjadinya Great Depression pada tahun 1930-an di Amerika Serikat. Persis dengan apa yang terjadi saat ini. Namun kapitalisme bangkit dengan dimotori oleh seorang ekonom tak dikenal kala itu, bernama Milton Friedman. Milton Friedman dengan buku berjudul “Capitalism and Freedom” mempromosikan kembali kapitalisme, hingga terus berjaya hingga sekarang. Dan ini terjadi di tahun 1962, sekitar 30 tahun setelah Great Depression. Bila sekarang tampaknya kapitalisme akan kembali ke masa gelap, bukan berarti kapitalisme akan mati. Mati suri mungkin. Namun dengan begitu banyak pembela (relatif dibanding di masa Milton Friedman menerbitkan bukunya), mati surinya akan sebentar atau mungkin sama sekali tidak akan mati suri.
Terlepas dari pasang surut yang dialami dengan perbaikan disana sini, kapitalisme telah menguasai dunia beratus-ratus tahun lamanya. Ini menjadi bukti sahih kehebatan kapitalisme. Suatu sistem bisa bertahan dan terus dipakai karena mampu memberikan bukti nyata. Tidak percaya? Berbagai kemajuan di dunia, misalkan komputer, mobil, lalu kemajuan di dunia kesehatan misalnya, dan masih banyak yang lain, adalah buah kapitalisme (kita akan masuk lebih dalam ke bagian ini nanti). Dan ini adalah argument penting bahwa kapitalisme tidak akan mati. Apalagi bila dibanding sistem selain kapitalisme, perkembangan kapitalisme jauh meninggalkan lawan-lawannya.
Argumen lain terkait dengan diri kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme berasal dari kata kapital yang berarti modal. Kapitalisme mensyaratkan adanya legalitas kepemilikan pribadi dalam artian kemampuan untuk mengakumulasi modal, meraih profit, dan menumpuk kekayaan. Namun definisi kapitalisme lebih luas dari itu, dimana terdapat karakteristik-karakteristik yang menyertainya, antara lain (berdasarkan tulisan Robert J. Samuelson -- The Rebirth of Capitalism -- di dalam Encyclopedia of Capitalism Volume I):
- Kapitalisme menjawab pertanyaan-pertanyaan ekonomi (alokasi sumber daya) melalui pasar bebas dengan harga sebagai instrument/indikator utama. Jika masyarakat ingin lebih banyak mobil, maka harga mobil meningkat, dan produksi meningkat. Sebaliknya dari sudut yang berbeda, ketika harga mobil meningkat, maka permintaan mobil akan berkurang, lebih banyak orang yang naik kendaraan umum. Apa yang diproduksi-dikonsumsi di suatu negara, dan ini berhubungan dengan pekerjaan apa yang akan tercipta, dan pada akhirnya perilaku masyarakat ditentukan sepenuhnya oleh pasar.
- Kapitalisme menciptakan sistem insentif-disinsentif yang berfungsi memotivasi orang dalam bertingkah laku, dengan memberikan reward atas kerja yang dilakukan. Kapitalisme mengasumsikan setiap orang pasti berusaha memenuhi ambisi, meraih cita-cita, menjadikan dirinya dalam posisi yang lebih baik. Karenanya orang akan bekerja sekeras mungkin, mencoba berinovasi, dan mungkin mengambil resiko untuk memenuhi keinginan dan kepentingan tersebut. Di sini-lah asumsi greed/serakah muncul sebagai bagian dari kapitalisme. Sesuatu yang merupakan sifat alami dari manusia.
- Di dalam kapitalisme terdapat sistem “trial and error” yang permanent. Maksudnya, karena setiap orang bebas menentukan apa yang ingin mereka produksi, dimana setiap orang bisa meraih profit dengan memuaskan pasar, setiap orang bebas untuk melakukan eksperimen. Dengan eksperimen, akan muncul teknologi baru, produk baru, jasa baru, atau inovasi dalam membuat atau menjual produk yang lama, tetapi dengan biaya lebih murah. Ini pada akhirnya mampu meningkatkan tingkat standar hidup masyarakat. Di poin ini, kapitalisme telah menghadirkan kemajuan di dunia, seperti diungkapkan sebelumnya.
Bila dilihat poin 2 dan 3, di dua poin ini terdapat kehebatan dari sistem kapitalisme. Dengan menggunakan sistem insentif-disinsentif, kapitalisme menjembatani antara kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat banyak. Ketika seseorang berusaha memenuhi kepentingan pribadinya, di saat yang sama dia akan memberikan manfaat bagi masyarakat banyak.
Ilustrasi-nya seperti ini: Misalkan Anda adalah seorang pegawai IT di sebuah perusahaan mobil swasta. Di perusahaan Anda diterapkan sistem insentif, bagi yang mampu memperbarui sistem produksi mobil akan mendapat bonus 10x gaji. Melihat bonus yang begitu besar, yang nanti bisa digunakan oleh Anda untuk beli rumah, beli mobil baru, dll (semua kepentingan dan ambisi pribadi Anda), Anda pasti akan bekerja dengan keras. Mencoba berbagai kemungkinan, membaca berbagai teori, mengkalkulasikan dengan tekun, pada intinya Anda akan terus berusaha. Misalkan ada 10 orang yang sama dengan Anda sehingga di satu titik pasti akan ada yang mampu menghasilkan sistem yang lebih baik dari sebelumnya dan misalkan Anda orangnya. Ternyata dengan sistem baru, produksi mobil mampu dihemat waktu produksi menjadi ½-nya dan biaya juga dihemat ½-nya. Akhirnya produksi mobil meningkat dengan harga menjadi lebih murah. Dengan begitu, akan lebih banyak orang yang bisa menggunakan mobil dibanding sebelumnya, dan Anda sendiri akhirnya bisa beli rumah yang Anda idamkan. Bermula dari pemenuhan kepentingan pribadi dan bukan karena Anda bertujuan untuk membantu orang lain, orang banyak diuntungkan dengan apa yang Anda lakukan. Persis seperti yang ditulis oleh Adam Smith beratus tahun yang lalu:
Kehebatan dari kapitalisme adalah kesederhanaan dan kedekatan dengan sifat alami dari manusia. Bahkan bisa dibilang setiap orang pada dasarnya adalah seorang kapitalis. Poin ini yang menjadikan sulit untuk menghilangkan sistem kapitalisme ini.
Apa yang terjadi di AS, sangat terkait dengan poin 3 soal “trial and error”. Perubahan sistem financial menjadi begitu kompleks adalah bentuk trial yang sebenarnya cukup sukses di awal. Namun akhirnya ada beberapa error yang membutuhkan pembenahan. Meski kapitalisme juga berperan, tapi perlu diperhatikan bahwa keberadaan pasar bebas yang disyaratkan tidak sepenuhnya terjadi. Pasar bebas yang menjadi kambing hitam tidak sepenuhnya bebas. Lihat saja, dua perusahaan mortgage terbesar, Fanny Mae dan Freddie Mac adalah milik negara. Selain itu, keberadaan subprime mortgage berawal dari niat baik untuk kepentingan banyak, bukan untuk memenuhi kepentingan pribadi, seperti yang terjadi di kapitalisme. Meski begitu, satu hal terpenting, kapitalisme adalah konsep yang mengalami proses yang terus berjalan. Kesalahan yang terjadi saat ini akan mengalami pembenahan. Satu lagi keunggulan dari kapitalisme.
Akhir kata, dengan memperhatikan fakta sejarah dan karakteristik yang menjadi keunggulannya, kapitalisme tidak akan mati. Itu tidak lebih dikarenakan, meminjam kalimat dari The Economist, terlepas dari segala kekurangannya, kapitalisme adalah sistem ekonomi terbaik yang pernah diciptakan manusia hingga saat ini.
Wednesday, November 5, 2008
Pelajaran Tentang Demokrasi dari Sang Guru
Monday, October 27, 2008
Bersiap Untuk Yang Terburuk
Hal ini bisa dijelaskan oleh 2 hal: Pertama, terkait sifat dari krisis. Krisis di AS menyebabkan terjadi kekurangan likuiditas di sana. Terkait dengan itu, sangat natural bila kemudian berbagai perusahaan, investor individu, atau lembaga keuangan menarik dana mereka yang ada di luar negeri untuk memenuhi kekeringan yang dialami. Akibatnya, terjadi capital outflow dari emerging market kembali ke induknya. Permintaan Dollar meningkat, mendorong penguatan Dollar terhadap mata uang lain. Dan ini terjadi terlepas dari faktor, misalkan tingkat suku bunga.
Kedua, langkah bail out, nasionalisasi, yang kemudian diikuti penjaminan sistem finansial di negara maju juga akan memainkan peran terhadap masalah capital outflow dari emerging market dan kemudian penurunan nilai tukar. Jika dalam kondisi biasa saja, aset di negara maju dianggap sebagai aset yang aman, langkah bail out dan penjaminan pemerintah semakin mempertegas posisi mereka sebagai aset yang aman. Jika ada aset aman, berarti ada aset yang beresiko. Dan aset beresiko adalah aset yang ada di emerging market. Sederhananya, di tengah kepanikan dan krisis, apa artinya jaminan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia dibanding dengan jaminan yang diberikan oleh pemerintah AS atau Inggris, misalnya. Akibatnya, terjadilah flight to quality (modal lari ke tempat yang dirasa lebih aman). Jika tadinya capital outflow terjadi karena pelarian modal terutama oleh investor AS, langkah melarikan modal juga akan diambil oleh investor negara lain, termasuk yang lebih mengkhawatirkan adalah investor domestik. Seperti banyak dibilang, "capital has no nationality".
Ini akan diperparah mengingat krisis yang ada juga berdampak pada ekspor-impor, yang menyebabkan defisit pada neraca perdagangan. Ekspor akan turun karena 3 hal: 1. efek langsung penurunan ekspor ke AS, dan efek tidak langsung penurunan ekonomi global berupa 2. Penurunan ekspor ke negara lain 3. Penurunan ekspor akibat penurunan harga komoditas. Defisit neraca perdagangan ini kemudian mendorong defisit pada neraca berjalan. Bila defisit ini tidak mampu dibiayai oleh surplus pada neraca modal (yang seperti dijelaskan di atas tidak mungkin terjadi), akan menyebabkan defisit pada neraca pembayaran. Defisit pada neraca pembayaran akan menyebabkan tergerusnya cadangan devisa dan penurunan lebih tajam dari nilai tukar.
Agak sedikit menyingkat cerita, ketika yang diatas terjadi, yakinlah ekonomi akan kolaps (dalam hal ini termasuk sektor riil). Permasalahannya, semua yang terjadi adalah faktor eksternal yang sulit dikendalikan oleh pemerintah. Kondisi yang ada membutuhkan koordinasi tingkat internasional untuk menjaga agar emerging market tidak kesulitan mendapatkan dana. Solusinya: IMF sebagai lender of the last resort. Cuma, tampaknya lembaga yang satu ini sudah di-black list di Indonesia. Sanggupkah kita menerima IMF kembali? Karena bila tidak, sepertinya kita harus bersiap untuk yang terburuk sedari sekarang.
Panggilan Untuk Pejuang Kapitalisme
Hemm.. Sepertinya panggilan untuk kita tuh...
Wednesday, October 22, 2008
The Pursuit of Happiness
Every people in the world agree that happiness in life needs to be pursuit, of course with their own definition of what happiness should it be. By definition, happiness is a form of feeling of pleasure or fortunate. The level of happiness itself is varying from a person to another and the form of happiness itself has no tangible form to describe.
I wonder of my personal definition of happiness. I wonder if decent jobs, promising career, great education achievement and good social acknowledgement are the level of happiness I should achieve. Nonetheless, I learned that such kind of things are definition of happiness formed by my surroundings and internalize to my consent by active communication of people around me.
One of the jargon in modern society relates to happiness is called “financial freedom”. Financial freedom is a situation where a person tends not to depend on regular paycheck. Instead, they could direct their views on things outside financial necessity.
I remember a movie based on true story of Chris Gardner, the movie titled The Pursuit of Happiness. At the beginning, Chris was just a salesman of bone scanners. He has to find clients and sell his scanners to survive, the position where he directly attached with financial constraints. One day, he crossed a big building and looked that most of the people came out the building, showed happy faces, those people works as stock brokers.
It was back in early 80’s where stocks market was emerging, and people stacked their wealth from stocks profits. Many people ended up rich, and this lesson learns brought more people to jump in and follow their footsteps. But the story is obsolete these days.
I would like to bring the story to late 20th century and early 21st century. After years of financial boom, a crisis hit several regions in the world. In 1997, there was a crisis of finance in
Many people question about what the real cause of the economic downfall. Well, there’s no exact economic theory to explain on how the crisis. But in my consent, I remember a simple economic theory of transaction. The equation is M.V=P.T, where more transaction increase the value of economy. Because each transaction creates mark-up on price, which can also be define as profits. The question is whether the transaction is real or its just a flawless in economy, where we just wait until the perfect time of correction faded the intangible price and set it back to its original.
I believe that this is the heart of financial crisis which hit the economy severely. Just like the story of Chris Gardner, people need to search and pursue their happiness. The jargon says that it can only achieve by economic dependency. Is it? The fact that many people jumped in, answer the question.
Transaction by transaction occurred in stocks, money market and hedging market. People tend not pursue long term economic security but start to seek for easy prosperity. Speculative action brings the economy to different level. Goods and products are not set on its real price; the speed of transaction doubled and even tripled the actual value. Who benefited from this and who loosed from it.
The answer is simple; the early starter gets more benefit while the late starter tends to be loosed. There is not enough room for all players to win, some have to loose. This sets the economy backward. When the early starter took their profits, they took it from others. They can actually dive the economy straight to the bottom, patience to wait paid off.
Those are the reason why government needs to supervise strictly on the money and stocks market. In contrast, maximum support has to be given toward banking industry, which role as intermediaries and provide real financial support to the economy by supporting the business practitioners.
The real support of the economy, coupled with balanced in financial market, will bring the economy on its real form. This is what supposes to be done; this is my definition of happiness. Happiness is where most people benefited real economy instead intangible economy. Don’t call me capitalist or socialist, because for me those do not exist. In my point of view, both had to walk side by side and filling in each other gap. I don’t know how to call it. But that is my place of happiness. Prosperity is the right of all people, in excludable!
By Leo MC Siagian
Saturday, October 11, 2008
Wednesday, October 1, 2008
Demokrasi dan Ekonomi
Pendapat Bung Firman membuat saya resah. Saya khawatir bidang pekerjaan yang sedang saya lakoni saat ini bukan meningkatkan malah menurunkan standar akademik dan intelektualitas yang saya miliki. Mungkin terdengar sombong dan angkuh, namun memang demikian adanya. Saya melihat secara langsung di beberapa Pilkada, pidato dari para calon Bupati atau Walikota yang kurang bermutu, hanya mengobral janji, mengangkat topik yang itu itu saja dan minim pejelasan mengenai teknis pelaksanaan program.
Ketika sedang membandingkan orasi para calon Bupati/Walikota dengan diskusi di Freedom Institute pikiran saya langsung melayang ke awal februari 2007. Saat itu saya sedang diwawancarai oleh Satish Mishra untuk lowongan di Strategic Asia. Terjadi sedikit perdebatan ketika saya mengungkapkan bahwa “pilkada langsung” sebagai implementasi perbaikan iklim demokrasi tidak baik untuk Indonesia. Selain biaya yang dikeluarkan amat besar (untuk Bupati bisa kurang lebih 4 M per satu putaran), hasil dari pilkada belum tentu menghasilkan pemimpin yang kredibel. Alhamdulillah sampai saat ini pendapat itu belum berubah.
Pendapat ini semakin mengkristal ketika membaca Gatra edisi terakhir yang memuat laporan Forbes tentang kekayaan Raja/Ratu di seluruh dunia. Raja Thailand dinobatkan sebagai raja terkaya didunia dan mengalahkan para Raja dari Arab yang bergelimang minyak. Ia begitu dicintai oleh rakyatnya sampai dijuluki “Rama”, saya sendiri terus terang tidak paham artinya. Ia mempelopori banyak program kesejahteraan rakyat, sehingga secara umum rakyat yakin bahwa kudeta yang dilakukan tempo hari merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Menurut saya apa yang terjadi di Thailand ini merupakan contoh bagaimana demokrasi dan ekonomi tidak mempunyai korelasi yang positif.
Saya yakin pendapat ini bertolak belakang dengan banyak literatur dan logika berpikir akal sehat. Namun demikian apa yang saya lihat dilapangan demikian adanya. Bisa jadi sampel saya masih terlalu sedikit atau bisa juga saya lebih banyak menggunakan judgement pribadi yang bias. Mudah-mudahan saja pendapat ini tidak seperti khotbah Ied pagi ini yang mengatakan bahwa menaikkan harga BBM adalah suatu kemaksiatan. Atau seperti pendapat saudari Siti Musdah Mulia yang mengatakan bahwa Homoseksual diperbolehkan dalam Islam.
Starbuckerseconomists mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Taqabalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faidzin.
Tuesday, September 16, 2008
Betapa Ironis Negeri Ini!
Apa yang bisa dikomentari dari kejadian di Pasuruan ini?
Kita kadang terpukau dengan angka kemiskinan turun (baca di sini). Namun apalah jadinya ketika warga misikin, demi Rp 30.000, harus antri berdesak-desakan, mencoba sekuat tenaga untuk berdiri dan tetap bernafas, bahkan mempertaruhkan nyawa. Lalu apalah yang terjadi di luar sana. Pejabat negara yang menerima uang haram, menikmati kesejukan pendingin ruangan di hotel berbintang, segelas wine, sepotong keju Belanda, sejumput caviar, kepulan cerutu Kuba, dan ditemani gadis-gadis pemuas nafsu. Mereka masih saja bisa tertawa di atas penderitaan rakyat.
Cuma satu kata yang mau gue bilang: GILA!
(Sorry, cuma pendapat pribadi yang emosional dan pandangan subjektif semata....maaf mungkin seharusnya posting ini semestinya tidak masuk blog ini)
Thursday, September 4, 2008
SBY Janji Tidak Naikkan Harga Elpiji
Masalah elpiji diawali ketika 25 Agustus lalu Pertamina menaikkan harga jual elpiji 12 dan 50 kilogram rata-rata 9,5 persen, sementara elpiji 3 kilogram tetap. Akibatnya, konsumen elpiji 12 dan 50 kilogram beralih ke elpiji 3 kilogram sehingga terjadi excess demand elpiji 3 kilogram yang berujung pada kelangkaan. Hal ini diperparah dengan telah ditariknya minyak tanah dari pasaran yang menyebabkan masyarakat, terutama masyarakat kecil tidak lagi punya pilihan.
Dari paparan singkat di atas, terlihat bahwa terjadinya pergeseran konsumsi disebabkan oleh perbedaan harga antara elpiji non subsidi dengan yang bersubsidi. Terjadi praktek diskriminasi harga, tanpa bisa dengan jelas membagi dan membatasi kelompok konsumen. Dengan memutuskan untuk tidak menaikkan lagi harga elpiji, permasalahan perbedaan harga ini tidak teratasi. Terkait hal ini, saya kira masalah kelangkaan elpiji 3 kilogram masih akan terus berlanjut.
Janji Presiden untuk tidak menaikkan harga elpiji bisa menjadi bumerang. Benar, bahwa Presiden berjanji akan menutup kerugian Pertamina dengan dana yang diambil oleh pemerintah. Tapi kebijakan ini memiliki kelemahan, diantaranya: (1) Jika terjadi kenaikan harga elpiji internasional di akhir tahun 2008 atau tahun 2009, pemerintah harus menanggung beban anggaran yang besar untuk menutup selisih harga yang timbul. Apalagi dengan alokasi pendidikan yang harus 20%, tentu fleksibilitas anggaran akan jauh berkurang. (2) Kebijakan ini juga tidak mendidik Pertamina sebagai sebuah perusahaan.
Semoga saja, SBY tidak mengulang blunder-nya ketika berjanji tidak akan menaikkan harga BBM di waktu lalu.
Tuesday, August 26, 2008
Tingkat Produktivitas Seorang Pemain Bola: Studi Kasus Sheva
Tingkat produktivitas seorang pemain bola, terutama striker, tentu memiliki indikator yang dapat secara jelas dilihat, yaitu banyaknya gol yang dihasilkannya. Berdasarkan kasus Shevchenko, tentu kita dapat mengatakan bahwa marginal cost (MC) yang harus dikeluarkan
Apakah marginal benefit (MB) kehadiran Sheva dalam
Atau mungkin analisis ini menjadi terlalu bias jika hanya mengukur MC dan MB seorang pemain bola hanya berdasarkan produktivitas menghasilkan gol dengan biaya yang dikeluarkan klub-nya. Lebih lagi, peran seorang pemain bola tidak hanya bagaimana menghasilkan gol dan membuat klub-nya mendapatkan berbagai gelar dalam setiap musimnya. Seperti yang diungkapkan di sini, peran sentral dalam menghimpun pemain satu tim dan menjaga kekompakan bermain sepertinya indikator yang juga patut diperhitungkan.

