Friday, November 21, 2008

Indonesia Economic Outlook 11/14/08



The beginning of the end of the financial crisis? Perhaps... The beginning of the end of the recession? Far from it. (Jean-Marc Lucas, BNP Paribas)


Resesi ekonomi global membuat memburuknya sentimen perekonomian yang juga berdampak pada Indonesia bersamaan dengan kecenderungan timbulnya flight to quality. Indikator pertama yang tergoncang adalah IHSG dan nilai tukar Rupiah.

Seiring dengan tekanan terhadap Rupiah, intervensi moneter yang pantang menyerah membuat cadangan devisa semakin menipis, dan merosot tajam sampai 50.58 Milyar USD pada November 2008. Kenaikan BI rate secara bertahap tidak dapat menghalangi perginya hot money dari perekonomian Indonesia. Padahal hal tersebut dilakukan ketika bank-bank sentral lain secara umum menurunkan suku bunga acuannya. Namun, 4 jurus kebijakan GWM valas BI dinilai cukup berhasil dalam mengatasi keringnya suplai USD di pasar domestik, sehingga sempat sedikit memberikan pertahanan pada Rupiah yang sedang tergoncang. Kendati demikian, penurunan GWM valas tersebut juga mempunyai andil terhadap merosotnya cadangan devisa.

IHSG juga terlihat bertahan pada posisi 1250-1350 setelah sempat terjun bebas beberapa waktu sebelumnya. Bahkan pada 13 November, IHSG terpuruk hingga level dibawah 1300 didorong oleh kembali ambruknya wallstreet dan bursa-bursa regional. Penurunan terparah dialami oleh saham-saham pertambangan dan infrastruktur, yang juga dipicu oleh harga minyak yang amblas hingga level 55 USD/barrel pada tanggal yang sama, dan skandal grup Bakrie. IHSG juga belum terlihat akan mengalami kenaikan yang stabil, sehingga investor cenderung hanya mencari margin tipis dalam periode sangat pendek. Namun, perubahan FDI masih cukup stabil menandakan bahwa sentimen global ini tidak terlalu signifikan pada investasi yang bersifat jangka panjang.

There’s a saying in international economics: “If the U.S catches a cold, the world sneezes” (Sunil Rongala – (Delloite Research)


Meskipun ekonomi global sedang lesu, namun ekspor belum terlihat menurun, hal ini sejalan dengan depresiasi rupiah yang secara riil menurunkan harga barang ekspor Indonesia.

Walaupun pada 3 November 2008 BPS mengumumkan inflasi Oktober 2008 dengan level yang cukup baik, yakni 0.45% mtm dan 11.77% yoy, namun perubahan sentimen terhadap perekonomian Indonesia hanya bersifat sangat temporer, pengaruh sentimen global sudah terlalu besar jika dibandingkan pasar Indonesia yang kecil. Sehingga, Rupiah secara bertahap terus melemah dan ditaksir menembus level Rp. 12000/USD pada pertengahan November walaupun fundamental ekonomi dan kebijakan moneter telah dipandang cukup baik.

Demikian pula dengan indikator pertumbuhan lain, juga menunjukkan bahwa ekonomi terus bertumbuh kendati sentimen global sedang buruk. Namun, walaupun belum ditunjukkan pada data, sejumlah industri di Indonesia sudah mulai merumahkan dan melakukan PHK terhadap tenaga kerjanya karena permintaan ekspor yang tergerus, dan ancaman PHK terus muncul dan bertambah (Kompas.com). Sehingga, besar kemungkinan bahwa nilai ekspor akan sedikit mengalami penurunan pada publikasi BoP berikutnya. Kendati demikian, current account belum tentu mengalami defisit karena adanya penurunan harga minyak dunia yang menurunkan nilai impor. Pada periode sebelumnya, current account sempat mengalami penurunan drastis pada Q2 2008 karena melonjaknya biaya impor, baik dari kategori Oil maupun Non-Oil.



Permintaan riil domestik juga terlihat masih konstan jika di-proxy melalui penjualan otomotif dan penjualan ritel.
Menurunnya harga minyak dunia juga memberikan perbaikan dalam defisit fiskal karena menurunnya beban subsidi. Penurunan harga minyak dunia tersebut juga memberikan keleluasaan pemerintah untuk mengoreksi harga Premium sebesar Rp. 500/liter, yang direncanakan awal Desember ini. Namun, masih belum dapat dipastikan bahwa hal tersebut akan secara signifikan menstimulus perekonomian dan menghalangi laju inflasi, karena adanya menu cost. Kendati demikian, inflasi dapat diperkirakan turun seiring dengan kecenderungan turunnya permintaan beberapa waktu kedepan.


Yield SBI mencapai hampir 1.5% di atas BI rate dan base lending rate terus merangkak naik. Pada saat yang bersamaan, spread CDS (credit default swap) untuk INDON (SUN yang diperdagangkan di luar negeri dengan rate USD) terus meningkat, yang berarti kepercayaan akan pembayaran surat utang Indonesia semakin menurun. Hal ini konsisten dengan seluruh tekanan yang telah dideskripsikan sebelumnya.
Dalam kerangka teoretis, BI berperan besar dalam mengatasi dampak krisis global secara jangka pendek melalui intervensi. Namun, kecukupan cadangan devisa mulai mengkhawatirkan melihat fase krisis yang masih panjang dan pasar Indonesia yang terlalu kecil dibandingkan dunia secara keseluruhan. BI telah melakukan langkah yang tepat dengan mengeluarkan regulasi-regulasi yang kreatif yang terkait dengan perdagangan valas. Langkah BI dalam memperketat transaksi valas diatas USD 100000 berhasil membatasi transaksi valas yang bersifat spekulatif, sekalipun mempersulit perbankan karena banyaknya keluhan nasabah dan pembatalan transaksi. Kebijakan tersebut dapat meminimalkan volatilitas Rupiah yang terus akan mengalami tekanan, sehingga dapat meminimalkan potensi penggunaan cadangan devisa.
Pengeluaran pemerintah yang tinggi pada bulan November-Desember juga dapat membantu mempertahankan gairah perekonomian domestik sampai dengan awal tahun 2009. Namun, patut diperhatikan bahwa perekonomian nasional belum sampai pada titik nadir pada saat ini, walaupun Indonesia dapat dikatakan “korban tidak bersalah”.

pakasa@gmail.com

Monday, November 17, 2008

Mencoba Mencari Alasan Teori Dari Krisis Finansial Global

Irving Fisher dahulu kalo saya tidak salah ingat, pernah memperkenalkan teori quantity of money. Yang berbunyi bahwa “Jumlah uang beredar yang dikalikan kecepatan perpindahannya adalah sama dengan harga produk-produk dikalikan jumlah kuantitasnya”. Inti dari teori ini menurut saya adalah bahwa nilai dari sebuah perekonomian dihitung melalui jumlah uang beredar dan secepat apa uang sedang berputar didalamnya.

Menarik kalo melihat fenomena krisis finansial global saat ini, dimana gagal bayar kredit perumahan di AS, ternyata mengakibatkan dunia jadi ikut mengalami krisis. Tapi tepatnya apa sih yang menjadi penyebab krisis finansial global ini???

Mungkin media massa atau penerbitan ilmiah sudah banyak yang membahas tentang penyebab krisis. Namun disini saya mau coba mengulasnya menggunakan teori quantity of money Irving Fisher.

Coba Anda bayangkan sisi kanan persamaan adalah perkalian antara harga dan quantitas. Asumsikan dulu bahwa sisi kanan ini tidak ada perubahan sama sekali, maka nilai perkaliannya adalah konstan. Lalu sisi kirinya adalah perkalian antara jumlah uang dan kecepatannya.

Sebelum terjadi krisis, menjamurnya produk-produk turunan dalam dunia finansial telah menambah kecepatan uang menjadi berkali-kali lipat dari kondisi semula. Sehingga semestinya diimbangi oleh pengurangan jumlah uang beredar agar sisi kanan tetap konstan. Tapi nyatanya tidak, yang terjadi malah sebaliknya. Yaitu uang beredar dibiarkan meningkat dengan tidak terkontrol oleh karena less-restrictive management dari pihak bank sentral.

Alhasil sisi kanan tidak bisa konstan seperti kita asumsikan diawal. Lalu, oleh karena kuantitas dari produksi adalah sesuatu yang tidak mudah diubah, sebab membutuhkan perubahan teknologi, investasi baru, pengetahuan yang lebih maju dan sebagainya, maka dapat ditebak bahwa yang paling cepat merespon di sisi kanan adalah komponen harga. Sehingga terjadilah inflasi... (inilah awal-awal gejala krisis di AS, berbulan-bulan yang lalu, sayangnya the Fed tidak cepat sadar).

Inflasi kemudian menyebabkan para pengambil kredit perumahan menjadi sulit melunasi hutangnya sebab dalam kondisi semua harga sedang mahal (inflasi) maka yang paling utama diprioritaskan adalah kebutuhan pangan. Alhasil, setelah gagal bayar maka rolling-back effect terjadi. Dan ternyata turunan subprime mortgage sudah ada dimana-mana. Otomatis semua kena dampak.

Disaat pasar finansial mengalami kekacauan maka kecepatan uang menjadi menurun, padahal sisi kanan sudah terlanjur tinggi akibat harga yang mengalami inflasi. Otomatis dibutuhkan penambahan jumlah uang beredar agar sisi kiri bisa mengimbangi sisi kanan. Inilah solusi yang pemerintah AS sedang akan lakukan setelah mendapat persetujuan dari Parlemennya (nyatanya semua negara yang terkena dampak juga melakukan hal yang sama).

Pendapat saya atas masalah ini adalah, sebaiknya pemerintah AS atau pemerintah negara manapun tidak usah terlalu berfokus pada penambahan jumlah uang beredar. Sebaiknya fokuskan diri dalam penanganan inflasi. Yaitu turunkan nilai dari sisi kanan bukan malah mencoba meningkatkan nilai sisi kiri. Maksudnya adalah untuk mengembalikan daya beli masyarakat agar roda ekonomi kembali berputar sehingga kecepatan perpindahan uang dapat meningkat kembali tapi dengan level yang terkontrol. Tidak selepas bebas seperti waktu sebelum krisis. Seperti bunyi pepatah jalan raya, “Semakin Cepat, Maka Semakin Dekat Dengan Maut”.

Friday, November 7, 2008

Will Capitalism Die?

Neoliberal, kata ini tidak begitu disukai di Indonesia. Meski sebenarnya tidak jelas apa yang dimaksud dengan neoliberal, tapi kata ini identik dengan pasar bebas, privatisasi, pihak asing, sedikit regulasi, dan yang pasti bukan pemerintah.

Terkait dengan ini, banyak orang menganggap bahwa Indonesia dikuasai oleh kaum neoliberal. Tapi fakta berbicara berbeda. Hingga akhir 2007 saja, jumlah BUMN masih sebanyak 140 perusahaan. Dan kita tahu, besar subsidi dalam anggaran mencapai ratusan triliun. Ketika harga minyak bumi mencapai US$ 140, porsi subisidi hampir 1/3 dari total anggaran. Bahkan, pemerintah mengatur cara kita berpakaian, melalui UU Pornografi, dan mengatur cara kita beragama, dalam kasus Ahmadiyah misalnya. Ketika pemerintah ada dimana-mana, apakah itu identik dengan neoliberal? Jawabannya tidak.

Sedikit beralih, karena bukan neoliberal yang sebenarnya akan kita bahas, bicara neoliberal sebenarnya kita bicara soal kapitalisme, karena kapitalisme adalah intinya. Nasibnya tidak berbeda, dibenci oleh banyak orang. Kapitalisme diidentikkan dengan perusahaan besar yang hanya mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan mengorbankan banyak hal, kapitalisme dianggap sebagai pihak asing yang ingin menguasai kekayaan domestik, kapitalisme berarti keberadaan para spekulan yang bermain-main dengan ketidakpastian, dan tidak lupa kapitalisme menghasilkan kesenjangan. Tidak aneh jika ketika krisis financial menimpa AS (gurunya kapitalisme), mereka yang anti kapitalisme seakan mendapatkan pembenaran untuk menolak kehadiran kapitalisme. Dalam sebuah karikatur yang dimuat di The Economist, euforia penolakan kapitalisme digambarkan dengan larisnya T-Shirt dengan tulisan Capitalism is Dead di bagian dada.

Benarkah Kapitalisme Akan Mati?

Sedikit flash back, kapitalisme muncul dari Adam Smith melalui bukunya The Wealth of Nation di tahun 1776. Sejak itu, kapitalisme sempat mengalami masa gelap setelah terjadinya Great Depression pada tahun 1930-an di Amerika Serikat. Persis dengan apa yang terjadi saat ini. Namun kapitalisme bangkit dengan dimotori oleh seorang ekonom tak dikenal kala itu, bernama Milton Friedman. Milton Friedman dengan buku berjudul “Capitalism and Freedom” mempromosikan kembali kapitalisme, hingga terus berjaya hingga sekarang. Dan ini terjadi di tahun 1962, sekitar 30 tahun setelah Great Depression. Bila sekarang tampaknya kapitalisme akan kembali ke masa gelap, bukan berarti kapitalisme akan mati. Mati suri mungkin. Namun dengan begitu banyak pembela (relatif dibanding di masa Milton Friedman menerbitkan bukunya), mati surinya akan sebentar atau mungkin sama sekali tidak akan mati suri.

Terlepas dari pasang surut yang dialami dengan perbaikan disana sini, kapitalisme telah menguasai dunia beratus-ratus tahun lamanya. Ini menjadi bukti sahih kehebatan kapitalisme. Suatu sistem bisa bertahan dan terus dipakai karena mampu memberikan bukti nyata. Tidak percaya? Berbagai kemajuan di dunia, misalkan komputer, mobil, lalu kemajuan di dunia kesehatan misalnya, dan masih banyak yang lain, adalah buah kapitalisme (kita akan masuk lebih dalam ke bagian ini nanti). Dan ini adalah argument penting bahwa kapitalisme tidak akan mati. Apalagi bila dibanding sistem selain kapitalisme, perkembangan kapitalisme jauh meninggalkan lawan-lawannya.

Argumen lain terkait dengan diri kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme berasal dari kata kapital yang berarti modal. Kapitalisme mensyaratkan adanya legalitas kepemilikan pribadi dalam artian kemampuan untuk mengakumulasi modal, meraih profit, dan menumpuk kekayaan. Namun definisi kapitalisme lebih luas dari itu, dimana terdapat karakteristik-karakteristik yang menyertainya, antara lain (berdasarkan tulisan Robert J. Samuelson -- The Rebirth of Capitalism -- di dalam Encyclopedia of Capitalism Volume I):

  1. Kapitalisme menjawab pertanyaan-pertanyaan ekonomi (alokasi sumber daya) melalui pasar bebas dengan harga sebagai instrument/indikator utama. Jika masyarakat ingin lebih banyak mobil, maka harga mobil meningkat, dan produksi meningkat. Sebaliknya dari sudut yang berbeda, ketika harga mobil meningkat, maka permintaan mobil akan berkurang, lebih banyak orang yang naik kendaraan umum. Apa yang diproduksi-dikonsumsi di suatu negara, dan ini berhubungan dengan pekerjaan apa yang akan tercipta, dan pada akhirnya perilaku masyarakat ditentukan sepenuhnya oleh pasar.
  2. Kapitalisme menciptakan sistem insentif-disinsentif yang berfungsi memotivasi orang dalam bertingkah laku, dengan memberikan reward atas kerja yang dilakukan. Kapitalisme mengasumsikan setiap orang pasti berusaha memenuhi ambisi, meraih cita-cita, menjadikan dirinya dalam posisi yang lebih baik. Karenanya orang akan bekerja sekeras mungkin, mencoba berinovasi, dan mungkin mengambil resiko untuk memenuhi keinginan dan kepentingan tersebut. Di sini-lah asumsi greed/serakah muncul sebagai bagian dari kapitalisme. Sesuatu yang merupakan sifat alami dari manusia.
  3. Di dalam kapitalisme terdapat sistem “trial and error” yang permanent. Maksudnya, karena setiap orang bebas menentukan apa yang ingin mereka produksi, dimana setiap orang bisa meraih profit dengan memuaskan pasar, setiap orang bebas untuk melakukan eksperimen. Dengan eksperimen, akan muncul teknologi baru, produk baru, jasa baru, atau inovasi dalam membuat atau menjual produk yang lama, tetapi dengan biaya lebih murah. Ini pada akhirnya mampu meningkatkan tingkat standar hidup masyarakat. Di poin ini, kapitalisme telah menghadirkan kemajuan di dunia, seperti diungkapkan sebelumnya.

Bila dilihat poin 2 dan 3, di dua poin ini terdapat kehebatan dari sistem kapitalisme. Dengan menggunakan sistem insentif-disinsentif, kapitalisme menjembatani antara kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat banyak. Ketika seseorang berusaha memenuhi kepentingan pribadinya, di saat yang sama dia akan memberikan manfaat bagi masyarakat banyak.

Ilustrasi-nya seperti ini: Misalkan Anda adalah seorang pegawai IT di sebuah perusahaan mobil swasta. Di perusahaan Anda diterapkan sistem insentif, bagi yang mampu memperbarui sistem produksi mobil akan mendapat bonus 10x gaji. Melihat bonus yang begitu besar, yang nanti bisa digunakan oleh Anda untuk beli rumah, beli mobil baru, dll (semua kepentingan dan ambisi pribadi Anda), Anda pasti akan bekerja dengan keras. Mencoba berbagai kemungkinan, membaca berbagai teori, mengkalkulasikan dengan tekun, pada intinya Anda akan terus berusaha. Misalkan ada 10 orang yang sama dengan Anda sehingga di satu titik pasti akan ada yang mampu menghasilkan sistem yang lebih baik dari sebelumnya dan misalkan Anda orangnya. Ternyata dengan sistem baru, produksi mobil mampu dihemat waktu produksi menjadi ½-nya dan biaya juga dihemat ½-nya. Akhirnya produksi mobil meningkat dengan harga menjadi lebih murah. Dengan begitu, akan lebih banyak orang yang bisa menggunakan mobil dibanding sebelumnya, dan Anda sendiri akhirnya bisa beli rumah yang Anda idamkan. Bermula dari pemenuhan kepentingan pribadi dan bukan karena Anda bertujuan untuk membantu orang lain, orang banyak diuntungkan dengan apa yang Anda lakukan. Persis seperti yang ditulis oleh Adam Smith beratus tahun yang lalu:

“It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest. We address ourselves, not to their humanity but to their self-love, and never talk to them of our own necessities but of their advantages.”

Kehebatan dari kapitalisme adalah kesederhanaan dan kedekatan dengan sifat alami dari manusia. Bahkan bisa dibilang setiap orang pada dasarnya adalah seorang kapitalis. Poin ini yang menjadikan sulit untuk menghilangkan sistem kapitalisme ini.

Apa yang terjadi di AS, sangat terkait dengan poin 3 soal “trial and error”. Perubahan sistem financial menjadi begitu kompleks adalah bentuk trial yang sebenarnya cukup sukses di awal. Namun akhirnya ada beberapa error yang membutuhkan pembenahan. Meski kapitalisme juga berperan, tapi perlu diperhatikan bahwa keberadaan pasar bebas yang disyaratkan tidak sepenuhnya terjadi. Pasar bebas yang menjadi kambing hitam tidak sepenuhnya bebas. Lihat saja, dua perusahaan mortgage terbesar, Fanny Mae dan Freddie Mac adalah milik negara. Selain itu, keberadaan subprime mortgage berawal dari niat baik untuk kepentingan banyak, bukan untuk memenuhi kepentingan pribadi, seperti yang terjadi di kapitalisme. Meski begitu, satu hal terpenting, kapitalisme adalah konsep yang mengalami proses yang terus berjalan. Kesalahan yang terjadi saat ini akan mengalami pembenahan. Satu lagi keunggulan dari kapitalisme.

Akhir kata, dengan memperhatikan fakta sejarah dan karakteristik yang menjadi keunggulannya, kapitalisme tidak akan mati. Itu tidak lebih dikarenakan, meminjam kalimat dari The Economist, terlepas dari segala kekurangannya, kapitalisme adalah sistem ekonomi terbaik yang pernah diciptakan manusia hingga saat ini.

Wednesday, November 5, 2008

Pelajaran Tentang Demokrasi dari Sang Guru

Akhirnya Barack Obama terpilih menjadi Presiden AS pertama yang berdarah Afrika. Sesuatu yang spektakuler, apalagi bila mengikuti sejak awal kiprah dia menuju kursi Presiden. From no-one to someone. Mengutip acceptance speech dari sang Presiden baru, kemenangan Obama menjadi bukti sahih kehebatan demokrasi AS : 

"If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible; who still wonders if the dream of our founders is alive in our time; who still questions the power of our democracy, tonight is your answer."   

Selain itu, di balik kemenangan Obama ada satu hal lain yang juga bikin saya tertarik, yakni ketika mendengarkan pidato politik John McCain, mengakui kekalahannya. Sangat berjiwa besar dan menunjukkan kualitas kehidupan demokrasi AS yang jauh lebih baik di atas kita. Ketika anda maju untuk menang, anda harus siap juga untuk kalah.

Kemenangan Barack Obama mungkin tidak akan berpengaruh langsung secara signifikan terhadap Indonesia, tetapi seharusnya politisi Indonesia bisa belajar banyak dari perjalanan demokrasi dari pelaksanaan pemilihan Presiden AS ini (yang saya kira diliput dengan begitu luas di DN untuk pertama kalinya). Jangan hanya meniru slogan, soal muda-nya, atau template design website-nya saja. Baru dengan begitu, kemenangan Obama memiliki arti bagi Indonesia.

Kita tahu perjalanan demokrasi Indonesia masih panjang untuk menyamai yang terjadi di AS, tapi setidaknya kita telah diyakinkan bahwa kita berada di jalur yang benar.

Monday, October 27, 2008

Bersiap Untuk Yang Terburuk

Terlepas dari berbagai langkah pemerintah dan BI, menaikkan BI-rate atau menaikkan blanket guarantee menjadi 2M dan beberapa langkah lain mencegah capital outflow, nilai tukar Rupiah terus mengalami penurunan.

Hal ini bisa dijelaskan oleh 2 hal: Pertama, terkait sifat dari krisis. Krisis di AS menyebabkan terjadi kekurangan likuiditas di sana. Terkait dengan itu, sangat natural bila kemudian berbagai perusahaan, investor individu, atau lembaga keuangan menarik dana mereka yang ada di luar negeri untuk memenuhi kekeringan yang dialami. Akibatnya, terjadi capital outflow dari emerging market kembali ke induknya. Permintaan Dollar meningkat, mendorong penguatan Dollar terhadap mata uang lain. Dan ini terjadi terlepas dari faktor, misalkan tingkat suku bunga.

Kedua, langkah bail out, nasionalisasi, yang kemudian diikuti penjaminan sistem finansial di negara maju juga akan memainkan peran terhadap masalah capital outflow dari emerging market dan kemudian penurunan nilai tukar. Jika dalam kondisi biasa saja, aset di negara maju dianggap sebagai aset yang aman, langkah bail out dan penjaminan pemerintah semakin mempertegas posisi mereka sebagai aset yang aman. Jika ada aset aman, berarti ada aset yang beresiko. Dan aset beresiko adalah aset yang ada di emerging market. Sederhananya, di tengah kepanikan dan krisis, apa artinya jaminan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia dibanding dengan jaminan yang diberikan oleh pemerintah AS atau Inggris, misalnya. Akibatnya, terjadilah flight to quality (modal lari ke tempat yang dirasa lebih aman). Jika tadinya capital outflow terjadi karena pelarian modal terutama oleh investor AS, langkah melarikan modal juga akan diambil oleh investor negara lain, termasuk yang lebih mengkhawatirkan adalah investor domestik. Seperti banyak dibilang, "capital has no nationality".

Ini akan diperparah mengingat krisis yang ada juga berdampak pada ekspor-impor, yang menyebabkan defisit pada neraca perdagangan. Ekspor akan turun karena 3 hal: 1. efek langsung penurunan ekspor ke AS, dan efek tidak langsung penurunan ekonomi global berupa 2. Penurunan ekspor ke negara lain 3. Penurunan ekspor akibat penurunan harga komoditas. Defisit neraca perdagangan ini kemudian mendorong defisit pada neraca berjalan. Bila defisit ini tidak mampu dibiayai oleh surplus pada neraca modal (yang seperti dijelaskan di atas tidak mungkin terjadi), akan menyebabkan defisit pada neraca pembayaran. Defisit pada neraca pembayaran akan menyebabkan tergerusnya cadangan devisa dan penurunan lebih tajam dari nilai tukar.

Agak sedikit menyingkat cerita, ketika yang diatas terjadi, yakinlah ekonomi akan kolaps (dalam hal ini termasuk sektor riil). Permasalahannya, semua yang terjadi adalah faktor eksternal yang sulit dikendalikan oleh pemerintah. Kondisi yang ada membutuhkan koordinasi tingkat internasional untuk menjaga agar emerging market tidak kesulitan mendapatkan dana. Solusinya: IMF sebagai lender of the last resort. Cuma, tampaknya lembaga yang satu ini sudah di-black list di Indonesia. Sanggupkah kita menerima IMF kembali? Karena bila tidak, sepertinya kita harus bersiap untuk yang terburuk sedari sekarang.

Panggilan Untuk Pejuang Kapitalisme

"Capitalism is at bay, but those who believe in it must fight for it. For all its flaws, it is the best economic system man has invented yet." The Economist, Oct 18th.

Hemm.. Sepertinya panggilan untuk kita tuh...

Wednesday, October 22, 2008

The Pursuit of Happiness

Every people in the world agree that happiness in life needs to be pursuit, of course with their own definition of what happiness should it be. By definition, happiness is a form of feeling of pleasure or fortunate. The level of happiness itself is varying from a person to another and the form of happiness itself has no tangible form to describe.


I wonder of my personal definition of happiness. I wonder if decent jobs, promising career, great education achievement and good social acknowledgement are the level of happiness I should achieve. Nonetheless, I learned that such kind of things are definition of happiness formed by my surroundings and internalize to my consent by active communication of people around me.


One of the jargon in modern society relates to happiness is called “financial freedom”. Financial freedom is a situation where a person tends not to depend on regular paycheck. Instead, they could direct their views on things outside financial necessity.


I remember a movie based on true story of Chris Gardner, the movie titled The Pursuit of Happiness. At the beginning, Chris was just a salesman of bone scanners. He has to find clients and sell his scanners to survive, the position where he directly attached with financial constraints. One day, he crossed a big building and looked that most of the people came out the building, showed happy faces, those people works as stock brokers.


It was back in early 80’s where stocks market was emerging, and people stacked their wealth from stocks profits. Many people ended up rich, and this lesson learns brought more people to jump in and follow their footsteps. But the story is obsolete these days.


I would like to bring the story to late 20th century and early 21st century. After years of financial boom, a crisis hit several regions in the world. In 1997, there was a crisis of finance in Asia, which not just created bankruptcy of companies but also set back the economy to a decade earlier. The most similar crisis is about to hit us again in short time. The same starter of the crisis is the downfall of construction industry, followed with the downfall of the financial industry. I tend not to discuss the construction but I would bring your attention to the financial industry, which bring Chris Gardner rich and bring thousands poor.


Many people question about what the real cause of the economic downfall. Well, there’s no exact economic theory to explain on how the crisis. But in my consent, I remember a simple economic theory of transaction. The equation is M.V=P.T, where more transaction increase the value of economy. Because each transaction creates mark-up on price, which can also be define as profits. The question is whether the transaction is real or its just a flawless in economy, where we just wait until the perfect time of correction faded the intangible price and set it back to its original.


I believe that this is the heart of financial crisis which hit the economy severely. Just like the story of Chris Gardner, people need to search and pursue their happiness. The jargon says that it can only achieve by economic dependency. Is it? The fact that many people jumped in, answer the question.


Transaction by transaction occurred in stocks, money market and hedging market. People tend not pursue long term economic security but start to seek for easy prosperity. Speculative action brings the economy to different level. Goods and products are not set on its real price; the speed of transaction doubled and even tripled the actual value. Who benefited from this and who loosed from it.


The answer is simple; the early starter gets more benefit while the late starter tends to be loosed. There is not enough room for all players to win, some have to loose. This sets the economy backward. When the early starter took their profits, they took it from others. They can actually dive the economy straight to the bottom, patience to wait paid off.


Those are the reason why government needs to supervise strictly on the money and stocks market. In contrast, maximum support has to be given toward banking industry, which role as intermediaries and provide real financial support to the economy by supporting the business practitioners.


The real support of the economy, coupled with balanced in financial market, will bring the economy on its real form. This is what supposes to be done; this is my definition of happiness. Happiness is where most people benefited real economy instead intangible economy. Don’t call me capitalist or socialist, because for me those do not exist. In my point of view, both had to walk side by side and filling in each other gap. I don’t know how to call it. But that is my place of happiness. Prosperity is the right of all people, in excludable!


By Leo MC Siagian

Saturday, October 11, 2008

Market Panic


Gambaran sesungguhnya yang terjadi di lantai bursa belakangan ini.

HT: Paul Krugman

Wednesday, October 1, 2008

Demokrasi dan Ekonomi

Diskusi di Freedom Institute bertajuk “creative capitalism” pada hari kamis lalu cukup membekas di memori saya. Setelah cukup lama tidak menghadiri seminar di bidang ekonomi, saya cukup takjub mendengarkan “ceramah” dari M. Chatib Basri dan Rizal Malarangeng. Namun demikian ketika saya konfrontasikan dengan saudara M. Firman, apa yang saya rasakan berbeda dengan yang dialami olehnya. Menurut-nya diskusi ini mengecewakan karena tidak sesuai dengan topik creative capitalism. Apa yang diungkapkan lebih banyak keluar dari konteks creative capitalism dan apa yang dipaparkan menurut-nya biasa saja. (correct me if im wrong bung).

Pendapat Bung Firman membuat saya resah. Saya khawatir bidang pekerjaan yang sedang saya lakoni saat ini bukan meningkatkan malah menurunkan standar akademik dan intelektualitas yang saya miliki. Mungkin terdengar sombong dan angkuh, namun memang demikian adanya. Saya melihat secara langsung di beberapa Pilkada, pidato dari para calon Bupati atau Walikota yang kurang bermutu, hanya mengobral janji, mengangkat topik yang itu itu saja dan minim pejelasan mengenai teknis pelaksanaan program.

Ketika sedang membandingkan orasi para calon Bupati/Walikota dengan diskusi di Freedom Institute pikiran saya langsung melayang ke awal februari 2007. Saat itu saya sedang diwawancarai oleh Satish Mishra untuk lowongan di Strategic Asia. Terjadi sedikit perdebatan ketika saya mengungkapkan bahwa “pilkada langsung” sebagai implementasi perbaikan iklim demokrasi tidak baik untuk Indonesia. Selain biaya yang dikeluarkan amat besar (untuk Bupati bisa kurang lebih 4 M per satu putaran), hasil dari pilkada belum tentu menghasilkan pemimpin yang kredibel. Alhamdulillah sampai saat ini pendapat itu belum berubah.

Pendapat ini semakin mengkristal ketika membaca Gatra edisi terakhir yang memuat laporan Forbes tentang kekayaan Raja/Ratu di seluruh dunia. Raja Thailand dinobatkan sebagai raja terkaya didunia dan mengalahkan para Raja dari Arab yang bergelimang minyak. Ia begitu dicintai oleh rakyatnya sampai dijuluki “Rama”, saya sendiri terus terang tidak paham artinya. Ia mempelopori banyak program kesejahteraan rakyat, sehingga secara umum rakyat yakin bahwa kudeta yang dilakukan tempo hari merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Menurut saya apa yang terjadi di Thailand ini merupakan contoh bagaimana demokrasi dan ekonomi tidak mempunyai korelasi yang positif.

Saya yakin pendapat ini bertolak belakang dengan banyak literatur dan logika berpikir akal sehat. Namun demikian apa yang saya lihat dilapangan demikian adanya. Bisa jadi sampel saya masih terlalu sedikit atau bisa juga saya lebih banyak menggunakan judgement pribadi yang bias. Mudah-mudahan saja pendapat ini tidak seperti khotbah Ied pagi ini yang mengatakan bahwa menaikkan harga BBM adalah suatu kemaksiatan. Atau seperti pendapat saudari Siti Musdah Mulia yang mengatakan bahwa Homoseksual diperbolehkan dalam Islam.



Starbuckerseconomists mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Taqabalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faidzin.



Tuesday, September 16, 2008

Betapa Ironis Negeri Ini!

Betapa ironisnya wajah antara pejabat-pejabat negara dan masyarakat miskin negeri ini ditampilkan saat bulan suci Ramadhan ini. Di saat para pejabat baru-baru ini tertangkap basah (lagi) menerima suap di sebuah hotel berbintang (baca di sini), atau saling bantah dan mengelak menerima traveller check 400 lembar yang masing-masing bernilai Rp. 50 juta (baca di sini), masyarakat miskin di Pasuruan meregang nyawa hanya untuk antri menerima ”zakat” sebesar Rp. 30 ribu (baca di sini dan di sini).

Apa yang bisa dikomentari dari kejadian di Pasuruan ini?


Kita kadang terpukau dengan angka kemiskinan turun (baca di sini). Namun apalah jadinya ketika warga misikin, demi Rp 30.000, harus antri berdesak-desakan, mencoba sekuat tenaga untuk berdiri dan tetap bernafas, bahkan mempertaruhkan nyawa. Lalu apalah yang terjadi di luar sana. Pejabat negara yang menerima uang haram, menikmati kesejukan pendingin ruangan di hotel berbintang, segelas wine, sepotong keju Belanda, sejumput caviar, kepulan cerutu Kuba, dan ditemani gadis-gadis pemuas nafsu. Mereka masih saja bisa tertawa di atas penderitaan rakyat.


Cuma satu kata yang mau gue bilang: GILA!



(Sorry, cuma pendapat pribadi yang emosional dan pandangan subjektif semata....maaf mungkin seharusnya posting ini semestinya tidak masuk blog ini)



Thursday, September 4, 2008

SBY Janji Tidak Naikkan Harga Elpiji

Berita hari ini memuat, pemerintah menjamin PT Pertamina (Persero) tidak akan menaikkan harga elpiji 12 dan 50 kilogram. "Rencana kenaikan setiap bulan sudah dinyatakan tidak akan dinaikkan," ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin. Menurut dia, kenaikan harga elpiji pada 25 Agustus lalu merupakan kenaikan terakhir pada masa pemerintahannya. SBY menambahkan, keputusan pemerintah dan manajemen tidak boleh menimbulkan masalah baru. Namun sayangnya, buat saya keputusan SBY tidak menyelesaikan permasalahan secara mendasar dan malah berpotensi menimbulkan permasalahan baru nantinya.

Masalah elpiji diawali ketika 25 Agustus lalu Pertamina menaikkan harga jual elpiji 12 dan 50 kilogram rata-rata 9,5 persen, sementara elpiji 3 kilogram tetap. Akibatnya, konsumen elpiji 12 dan 50 kilogram beralih ke elpiji 3 kilogram sehingga terjadi excess demand elpiji 3 kilogram yang berujung pada kelangkaan. Hal ini diperparah dengan telah ditariknya minyak tanah dari pasaran yang menyebabkan masyarakat, terutama masyarakat kecil tidak lagi punya pilihan.

Dari paparan singkat di atas, terlihat bahwa terjadinya pergeseran konsumsi disebabkan oleh perbedaan harga antara elpiji non subsidi dengan yang bersubsidi. Terjadi praktek diskriminasi harga, tanpa bisa dengan jelas membagi dan membatasi kelompok konsumen. Dengan memutuskan untuk tidak menaikkan lagi harga elpiji, permasalahan perbedaan harga ini tidak teratasi. Terkait hal ini, saya kira masalah kelangkaan elpiji 3 kilogram masih akan terus berlanjut.

Janji Presiden untuk tidak menaikkan harga elpiji bisa menjadi bumerang. Benar, bahwa Presiden berjanji akan menutup kerugian Pertamina dengan dana yang diambil oleh pemerintah. Tapi kebijakan ini memiliki kelemahan, diantaranya: (1) Jika terjadi kenaikan harga elpiji internasional di akhir tahun 2008 atau tahun 2009, pemerintah harus menanggung beban anggaran yang besar untuk menutup selisih harga yang timbul. Apalagi dengan alokasi pendidikan yang harus 20%, tentu fleksibilitas anggaran akan jauh berkurang. (2) Kebijakan ini juga tidak mendidik Pertamina sebagai sebuah perusahaan.

Semoga saja, SBY tidak mengulang blunder-nya ketika berjanji tidak akan menaikkan harga BBM di waktu lalu.

Tuesday, August 26, 2008

Tingkat Produktivitas Seorang Pemain Bola: Studi Kasus Sheva

AC Milan akhirnya dapat merebut kembali striker andalan yang sempat mengharumkan nama AC Milan dalam kancah persepakbolaan. Sheva sudah dipastikan akan merumput kembali di Italia setelah beberapa lama bermain di klub sepakbola Inggris, Chelsea. Selengkapnya secara resmi beritanya di sini.


Tingkat produktivitas seorang pemain bola, terutama striker, tentu memiliki indikator yang dapat secara jelas dilihat, yaitu banyaknya gol yang dihasilkannya. Berdasarkan kasus Shevchenko, tentu kita dapat mengatakan bahwa marginal cost (MC) yang harus dikeluarkan Chelsea untuk menghasilkan per gol-nya sangatlah besar. Total dana yang dikeluarkan Roman Abramovich untuk membayar Sheva sejak dia datang hingga akhirnya dipinjamkan ke Milan lalu adalah 45,62 juta poundsterling (Rp 780,3 miliar). Secara hitungan kasar, berarti setiap gol yang dibuat Sheva bisa dikatakan seharga Rp 85,5 miliar (780,3 miliar : 9 gol). Selengkapnya lihat di sini.


Apakah marginal benefit (MB) kehadiran Sheva dalam Chelsea telah melebihi MC-nya tersebut, atau setidaknya sama (MC=MB)?


Atau mungkin analisis ini menjadi terlalu bias jika hanya mengukur MC dan MB seorang pemain bola hanya berdasarkan produktivitas menghasilkan gol dengan biaya yang dikeluarkan klub-nya. Lebih lagi, peran seorang pemain bola tidak hanya bagaimana menghasilkan gol dan membuat klub-nya mendapatkan berbagai gelar dalam setiap musimnya. Seperti yang diungkapkan di sini, peran sentral dalam menghimpun pemain satu tim dan menjaga kekompakan bermain sepertinya indikator yang juga patut diperhitungkan.

Saturday, August 23, 2008

Iklan dan Politik

Sudah lama tidak blogwalking, iseng-iseng buka blog pribadi milik rekan kita bung gaff kemudian menemukan 1 posting yang menarik dan membuat saya tergelitik untuk berkomentar.

Posting yang saya maksud berjudul "Siapa Dia?". Dalam posting ini bung gaff mengemukakan kegusarannya melihat iklan-iklan politik yang gak jelas, yang mungkin bisa saya sebut antara lain iklan Soetrisno Bachir (SB) atau Rizal Mallarangeng (RM). Yang saya tangkap dari posting tersebut, bung gaff gusar karena dua alasan, yakni: (1) ragu akan efektivitasnya terhadap elektabilitas nanti di pemilu. (2) juga berdasarkan alasan pertama, akhirnya yang terjadi hanya buang-buang duit saja.

Menanggapi alasan pertama, perlu kita ketahui dalam tahapan pemasaran politik ada tahap-tahap yang harus dilalui, yakni awareness - pemahaman (convincing) - elektabilitas. Dari sini, jelas iklan-iklan milik SB atau RM masih merupakan tahapan pertama dari pemasaran politik, yakni untuk membangun awareness masyarakat terhadap sang tokoh. Mungkin bung gaff kenal baik SB atau RM, tapi saya yakin masyarakat kebanyakan, terutama yang diluar kota-kota besar tidak terlalu mengenal mereka berdua. Bahkan posisi SB sebagai ketua PAN saja, mungkin masih banyak yang lebih kenal Amien Rais. Apalagi RM yang kebanyakan orang hanya tahu dia adalah pembawa acara save our nation di Metro TV. Oleh karena itu, penting kiranya bagi mereka untuk mempopulerkan diri. Untuk masalah apakah akan yakin dan kemudian memilih, saya yakin akan ada langkah berikutnya dari tokoh-tokoh politik yang dimaksud.

Lalu alasan kedua, kenapa harus lewat iklan di TV? Buang duit aja! Saya kira tidak demikian. Demi membangun awareness masyarakat, beriklan di TV adalah sarana yang paling tepat dan mungkin paling mudah dan murah. Hitung-hitungannya seperti ini. Iklan di TV di waktu prime time per 10 detik menghabiskan 30 juta. Anggap saja iklannya 30 detik sehingga sekali iklan habis 90 juta. Lalu dalam sehari si tokoh beriklan 10 kali. Berarti dalam 1 hari biaya yang diperlukan adalah 900 juta. Dalam sebulan si tokoh membutuhkan dana sebesar 27 miliar. Sangat besar memang.

Tapi tunggu sebentar. Asumsi 80% dari pemilih yang berjumlah 120 juta memiliki TV di rumahnya. Artinya akan ada 96 juta orang yang melihat iklan tersebut dan mulai mengenal si tokoh. Cukup banyak bukan. Lalu yang terpenting, dengan biaya total sebesar 27 miliar, berarti biaya per kapita-nya hanya Rp 281,25. Coba bandingkan dengan harus datang ke daerah-daerah, dimana paling banter dalam satu lapangan ada 100 ribu orang yang bisa dikumpulkan. Lalu per orangnya minimal harus diberi Rp 10 ribu + makan siang. Sudah biaya per kapitanya jadi mahal, hanya 100 ribu orang yang jadi lebih mengenal si tokoh, capek dan habis waktu pula.

Dari ilustrasi di atas, saya rasa beriklan di TV tidaklah buang-buang duit dan sangat efektif. Dalam realitanya, siapa sih yang akhirnya tidak mengenal SB atau RM. Apalagi slogan "hidup adalah perbuatan" milik SB yang mulai melekat di pikiran masyarakat.

Akhir kata, beriklan di TV saya kira adalah tindakan yang tepat, meski masih banyak usaha yang harus dilakukan untuk menyaingi SBY atau Mega. Ada istilah ekonomi yang cukup pas untuk menggambarkan, yakni: beriklan di TV tuh "necessary but not sufficient", tapi dengan satu kondisi, yakni budget constraint yang besar.

Friday, August 22, 2008

Israel

Saya tiba-tiba teringat ketika Gus dur masih menjadi Presiden, ketika itu beliau mempunyai ide untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Banyak pihak menentang keras ide itu termasuk saya pribadi. Karena sebagai negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar didunia, berhubungan dengan Negara zionis dianggap suatu dosa. Namun demikian seiring dengan berjalannya waktu saya rasa ide ini bermanfaat untuk Indonesia. Tidak seperti tulisan lain di blog ini yang berbobot dan langitan, tulisan ini bersifat opini tanpa ada embel-embel teoritis. Saya memohon maaf sebelumnya bagi para pemeluk agama yang “agama”-nya akan saya sebutkan disini dan minta ijin to speak freely.


Sebenarnya siapa yang bertanggung jawab dalam pembinaan akhlak dan moral umat? Saya sebagai seorang muslim tentunya akan mengatakan Ulama, Kyai atau Ustadz. Dalam hal ini akhlak dan moral umat perlu di-maintain dengan khotbah yang kontinu, menggugah dan memberikan pencerahan. Sehingga saya berpendapat posisi Khotbah Jumat itu luar biasa penting. Karena sebagian besar umat yang sedang dalam tahap pengembangan karier dan perjuangan kemapanan finansial, tidak memiliki waktu yang luang dan lapang untuk menghadiri dakwah atau acara pengajian khusus.


Kondisi tersebut sewajarnya menuntut Khotib Jumat untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam menjaga moral dan akhlak umat. Namun sampai sejauh ini, khotbah jumat yang menurut saya baik dan mampu memberikan pencerahan dapat dihitung dengan jari. Dari mesjid di kampung sampai mesjid modern di Cut Mutiah, seringkali Khotib Jumat memberikan khotbah yang kurang bermutu dan saya harus berjuang keras melawan godaan setan yang me-ninabobo-kan.


Saya seringkali bertanya dalam hati mengapa kondisi ini terjadi. Apakah income dari khotib tidak memadai? Apakah ini merupakan kegagalan institusi pesantren? Atau memang khotib-nya saja yang malas? Akhirnya sebagai seorang ekonom, saya mengambil kesimpulan bahwa kondisi ini terjadi karena kurangnya derajat kompetisi dalam industri per-dakwah-an.


Dengan asumsi bahwa para Ulama, Kyai dan Ustadz merasa bahwa aklak dan moral umat merupakan tanggung jawab mereka, maka kompetisi terkuat yang saat ini mereka hadapi hanya dari misionaris Nasrani. Walaupun masih ada misionaris Budha dan Hindu, pangsa pasar mereka terlalu kecil untuk dapat dikategorikan ber-“bahaya”. Dalam set industri yang demikian, maka saya asumsikan industri per-dakwah-an di Indonesia adalah duopoly, dengan Ulama, Kyai dan Ustadz sebagai market leader.


Bangsa Yahudi yang notabene gifted dengan kemampuan otak yang luar biasa (ada di Al-Quran), dapat saya prediksi akan menjadi kompetitor yang ber-“bahaya”. Apabila dapat terjadi suatu kondisi dimana mereka dapat masuk ke Indonesia, maka secara otomatis derajat kompetisi industri per-dakwah-an akan meningkat. Dilain pihak, Umat Yahudi akan membela kepentingan Indonesia habis-habisan. Karena sebagai thinking parasite, mereka tidak mau inang mereka rusak. Secara logis mereka akan menjaga kepentingan Indonesia agar mereka dapat tinggal dan hidup dengan tenang. Andaikan seperti ini kondisinya, akan ada Eksternalitas Positif yang dinikmati oleh umat lain dengan kehadiran mereka. Secara umum dapat saya simpulkan bahwa membuka hubungan diplomatik dengan Israel diprediksi akan membawa banyak manfaat bagi Indonesia, walaupun resikonya adalah akan ada orang Indonesia yang masuk menjadi Yahudi. Resiko yang amat mengerikan.

Wallahualam bis Sowwab.

Friday, August 8, 2008

Prepayment utang

Sesuai fungsi intermediasinya, bank meminjamkan uang ke unit defisit. Para debitur yang meminjam uang untuk tujuan tertentu seringkali melunasinya ditengah-tengah ketika mendapatkan uang dadakan, agar tidak terbebani di kemudian hari. Biasanya, para debitur yang demikian rela membayar sejumlah uang penalti yang tidak seberapa dibanding jumlah utangnya. Jika skema utang tersebut sesuai dengan ekspektasi orang awam, mungkin keputusan prepayment tersebut menguntungkan. Namun, utang kepada bank biasanya menggunakan konsep amortisasi. Sehingga, yang dibayar debitur di awal-awal cicilan secara praktis adalah bunganya saja. Sebagai contoh, umpamakan KPR senilai Rp. 2 Milyar, dengan suku bunga flat 10% dan jangka waktu 30 tahun. Dalam kondisi ini, PVIFA=9,427, dan PMT (pembayaran per tahun) sebesar principal/PVIFA.

(dalam ribu Rp)


Dimana IO(t) dan PO(t) berturut-turut adalah pembayaran interest dan principal pada tahun t. Dapat diperhatikan terdapat.. katakanlah decreasing marginal interest payment dan increasing marginal principal payment. Misalnya, pada akhir tahun ke 15, atau setelah setengah periode, debitur melunasi hutangnya. Apakah yang terjadi? Pada tahun ke 15, ia sudah membayar PMT sebanyak 15 kali, yaitu sebesar Rp. 3.182.348.570. namun, ia tetap harus membayar pula sisa principal sebesar RP. 1.659.920.110, atau dengan kata lain, ia dianggap hanya telah melunasi sekitar 20% dari keseluruhan principal, atau hanya sekitar 10% dari PMT yang telah ia bayar.
Dengan demikian, maka keputusan prepayment yang dilakukan debitur tidak menguntungkan. Lebih menguntungkan bila tetap melakukan cicilan utang sampai jatuh tempo. Mari pelihara utang kita!