Thursday, May 14, 2009

Para Pengamat Politik Kita...

Di satu saat mereka mengatakan pasangan X-Y tidak akan menang karena dua-duanya Jawa.Di waktu yang lain, pengamat berpendapat harus ada perpaduan nasionalis-islam supaya bisa menarik massa. Ada pendapat juga bahwa cawapres harus dari parpol. Jangan lupa juga, sangat populer juga dikatakan oleh pengamat yang mengatakan bahwa pasangan harus sipil-militer. Yang terbaru, capres Z disarankan oleh pengamat untuk mengubah gaya bicaranya, karena katanya masyarakat suka gaya bicara yang santun dan sopan. Bahkan dia bilang masyarakat suka yang gagah. hemmm... jangan heran kalau para capres rajin ke fitness menjelang pilpres nanti. Yang hot juga, salah satu cawapres dibilang antek asing tanpa bisa dibuktikan dengan fakta yang jelas. 

Akhirnya yang terjadi apa. Para capres sibuk memikirkan harus milih wapres yang jawa atau non jawa. Cari yang gagah karena dia agak pendek. Karena pendek itu, akhirnya juga mulai pake peci supaya keliatan tinggi. Selain itu supaya dibilang mencerminkan islam, karena pasangannya nasionalis. Di sisi lain, yang militer cari pasangan yang sipil. Di waktu yang lain, si capres 5-6 jam berlatih di depan cermin untuk mengubah gaya bicaranya. Pokoknya, mbulet aja sampai lupa bikin program.

Yang lebih parah, akhirnya rakyat juga memiliki pikiran yang sama. Yang dipikirkan cuma jawa non jawa, sipil militer, ganteng - gak ganteng, gagah - gak gagah, atau wah ini orang antek asing vs bukan antek asing. Dan rakyat pun dibikin lupa untuk menanyakan program-program yang ditawarkan para capres-cawapres.

Lihat permasalahannya kan.. para pengamat yang menganggap dirinya expert, lebih pintar dari yang lain, dan karena itu hampir 24 jam begitu larisnya muncul di berbagai acara TV keluar dengan analisis-analisis mereka yang menurutku tidak berbeda dengan ramalan Mama Lauren (99% wangsit, wahyu atau semacamnya) atau obrolan tukang becak di warkop, bukannya menjadikan rakyat dan para pemain politik menjadi pintar, tetapi sebaliknya.

Terjadi pembodohan besar-besaran, dan kita diam saja menikmatinya. 

Yang mereka katakan harus saya akui tidak salah. Namun faktor-faktor yang mereka sebutkan: faktor jawa-non jawa, sipil militer, gaya bicara, dll adalah faktor no. ke-45 ke-46 dstnya. Kenapa tidak sekali-kali para pengamat menanyakan program yang dimiliki para pasangan capres-cawapres dan membahasnya? Karena dengan begitu, masyarakat dan para pasangan menjadikan program tersebut prioritas mereka. Faktor yang seharusnya menjadi no.1 akhirnya ditempatkan menjadi faktor no.1.

Tapi, lagi-lagi saya hanya bisa mengomel dan menunggu jawaban dari rumput yang bergoyang.

Mitos dan Fakta: Boediono, CaWapres SBY

SBY akhirnya memilih Boediono sebagai cawapres-nya. Terkait dengan peluang politiknya, saya sendiri tidak terlalu yakin akan pesimisme publik dan pengamat politik mengenai peluang pasangan ini. Apalagi mendasarkan pada pandangan bahwa pasangan itu harus Jawa-non jawa, nasionalis-islam, ataupun harus dari parpol, yang saya kira hanya mitos yang dibangun oleh orang-orang politik. Dan sayangnya mitos itu lebih dipercaya ketimbang hal-hal yang lebih rasional, seperti mempertanyakan program apa yang sebenarnya diusung oleh pasangan capres-cawapres.

Diluar mitos yang disebutkan diatas, ada lagi 1 mitos yang paling aneh dan lucu, dan ditentang paling keras oleh publik, yakni Pak Boediono adalah antek asing dan pengusung neoliberalisme. Saya akan coba beberkan beberapa fakta terkait mitos yang satu ini. 

Tampaknya bangsa ini adalah bangsa yang gampang lupa. Tidak kah mereka ingat bagaimana Pak Boediono, bersama Pak Djatun ketika itu (di masa Megawati: ratunya wong cilik), berhasil mengatasi kondisi keuangan Indonesia yang carut marut dan mengembalikan momentum perekonomian setelah krisis? Tidak kah mereka ingat, pertumbuhan dan perbaikan ekonomi di masa SBY mereka puji-puji, padahal di satu sisi ini adalah kerja Pak Boediono dan Bu Ani tentunya (satu lagi antek asing dan pengusung neoliberalisme)? 

Kalau Pak Boediono cs memang antek asing, sudah dibangkrutkan aja negara ini, lalu AS dan konco-konconya bisa dengan mudah datang dan mengambil alih. Kenapa harus repot-repot pusing memikirkan jalan keluar dari krisis.

Lalu jika antek asing disamakan dengan hamba-hamba IMF, World Bank dan semacamnya, sudah lupakah publik bahwa kita keluar dari IMF ketika orang-orang ini memegang kendali kebijakan ekonomi di Indonesia?

PNPM, penurunan harga BBM, BLT, produk-produk yang jauh dari neoliberalisme, juga diambil di zaman orang-orang ini, dimana Pak Boediono termasuk di dalamnya. Mana neoliberalisme-nya? apakah hanya karena mereka sempat mencabut subsidi BBM, yang kita tahu semua harus dilakukan karena kalau tidak pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial lainnya terbengkalai hanya untuk ngisi mobil mercy atau BMW para pejabat korup? (saya tahu pasti masih ada kasus-kasus lain yang ingin diangkat oleh mereka yang kontra Pak Boediono cs, seperti: blok cepu, dllnya. tapi analogi pencabutan subsidi BBM juga bisa digunakan di kasus-kasus tersebut, dimana pilihan kebijakan yang diambil, secara umum/sebagian besar, memiliki dasar yang kuat terutama mungkin dari sudut pandang saya, secara akademik, meski harus saya akui tidak semua kebijakan ekonomi dimana Pak Boediono terlibat adalah tepat) 

Tambahan lagi, ingat Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli, orang-orang yang dianggap non antek asing dan non neoliberalisme/kerakyatan (katanya) ? Ada perbedaankah dalam menghadapi IMF ataupun semacamnya? nope. bahkan dari segi prestasi ekonomi, jauh rasanya untuk dibandingkan.

Boleh lah tidak setuju dengan Pak Boediono sebagai Wapres. Tapi mbok ya jangan dengan alasan karena dia antek asing ataupun pengusung neoliberalisme. Apalagi pake membandingkan dengan Budi Anduk. Come on...!!!!!

Tolonglah lebih rasional dan jangan mau diperdaya oleh mitos-mitos yang dimunculkan oleh mereka yang disebut pengamat politik ataupun pemain lainnya. Jangan sedikit-sedikit, ini pasti Yahudi di baliknya atau ini pasti ada Amerika di balik semua (kalimat-kalimat yang biasa digunakan untuk menggambarkan konspirasi asing di balik sebuah kasus). Kasian orang Yahudi atau AS yang gak tahu apa-apa. Janganlah cari kambing hitam akan ketidakmampuan kita sendiri.

Seorang Ki Hajar Dewantara pernah berharap masyarakat Indonesia bisa menjadi orang-orang yang cerdas. Tolong jangan kecewakan leluhur bangsa yang telah berjuang keras. 

NB: ohiya, saya tidak akan memilih SBY siapapun cawapresnya. Jadi pandangan di atas mudah-mudahan adalah pandangan objektif saya terhadap sosok Pak Boediono.

Update:

Monday, May 11, 2009

Gak Jelasnya Politik Indonesia

Bersembunyi di belakang argumen: politics is the art of possibilities, politik itu penuh dinamika yang bisa berubah dari hari ke hari, dan argumen-argumen lain yang lebih abstrak, permainan parpol dan tokoh politik menjelang pilpres mulai semakin memuakkan. Kasus terakhirnya bisa dilihat disini.

Saya pribadi gak pernah berpikir politik adalah permainan yang begitu murahan seperti ini. Kalau cuma menjalin komunikasi politik gak jelas kesana sini, pindah sana pindah sini, mereka yang gak lulus SD pun bisa. Jika menaati janji politik antar mereka sendiri cuma bertahan hitungan hari, bagaimana mau menaati janjinya kepada rakyat!!! Mungkin bagi mereka, rakyat juga sudah menjadi masa lalu.

Politik seharusnya dimainkan dengan lebih bermartabat. Setidaknya, ketimbang muter-muter gak jelas, para parpol dan capres lebih baik membuat program dan membeberkannya kepada masyarakat untuk diuji dan dibandingkan.

Sayangnya yang terjadi sebaliknya. 2 bulan kurang menuju pilpres dan kita sama sekali tidak tahu program apa yang ditawarkan oleh capres untuk memecahkan permasalahan yang ada.

Lalu kita harus memilih berdasarkan apa? gender? tampang? tinggi badan? duit yang dikasih? fiuuhh,,, membingungkan.

Tanpa program yang jelas, mau dibawa kemana negara ini. Mungkin dipikirnya ini mirip kisah legenda lara jonggrang. Indonesia bisa dibangun dalam 1 malam. Sayangnya mereka lupa, kisah legenda lara jonggrang tidak berakhir dengan happy ending.

Friday, April 24, 2009

Bonus Bonus Bonus

Sebenarnya saya tidak terlalu mengerti moneter dan perbankan, tapi kali ini saya coba menulis tentang ini karena ada satu hal yang sangat mengganggu pikiran. Tolong kalo ada kesalahan, bankir atau ahli moneter di blog ini (chaikal, pakasa, dan gaffar) silahkan dikoreksi.

Sebagai awalan saya akan sedikit flashback dan menyeberang ke negeri Paman Sam sana. Masih ingat kasus AIG? ....

Bila tidak, saya coba sedikit refresh. AIG adalah salah satu lembaga keuangan yang terpaksa di-bail-out oleh pemerintah AS seiring dengan kerugian yang dideritanya akibat krisis finansial yang melanda. Meski ada perdebatan soal bail out ini, tapi akhirnya lolos juga. Masalah mulai muncul ketika setelah di-bail out, AIG berencana memberikan bonus kepada eksekutif dan karyawannya. Kebijakan yang kontan memicu reaksi besar dari masyarakat AS, termasuk Presiden Obama, yang menganggap kebijakan itu sangat tidak tepat dan tidak beralasan. Udah untung dibantuin, eh di saat rakyat sedang kesulitan karena krisis dan udah berkorban buat nutupin kerugian yang notabene salah eksekutif-eksekutif AIG dan bukan salah rakyat, bisa-bisanya si AIG memberikan bonus menggunakan duit itu. Muke gile kali ye.. ;)

Sekarang coba Anda bayangkan jika Anda menjadi rakyat AS........

Pertanyaannya adalah apakah Anda akan memberikan reaksi yang sama? Saya kira jawabannya pasti ya. Namun satu hal, ketika anda menjawab ya, jawaban itu sungguh lucu dan ironis. Tidakkah Anda sadar, bertahun-tahun lamanya, praktek yang mirip, terjadi di Indonesia, tanpa satupun yang bereaksi sebagaimana jika Anda membayangkan menjadi rakyat AS di kasus AIG tadi.

Untuk menjelaskan itu, sejenak kita harus flashback lebih jauh ke tahun 1998, dimana ketika terjadi krisis perbankan, pemerintah terpaksa mengeluarkan apa yang disebut dengan obligasi rekap untuk menyelamatkan bank-bank yang ada. Jumlahnya kurang lebih sekitar Rp 430 T. Hingga sekarang, pemerintah masih harus menanggung beban bunga obligasi rekap tersebut, dengan jumlah lebih dari Rp 60 T per tahunnya, yang dibayarkan kepada bank-bank tersebut.

Nah sekarang kita coba lihat laporan keuangan salah satu bank terbesar di Indonesia. Berdasarkan posisi per Januari 2009, tercatat di sisi aktiva obligasi pemerintah sebesar Rp 87 T. Angkanya tidak jauh berbeda dengan Januari 2008 yang sebesar Rp 88 T. Dari sini bisa kita simpulkan bahwa sepanjang 2008 obligasi rekap di bank tersebut sekitar Rp 87 T.

Bunga obligasi rekap adalah bunga variabel mengikuti SBI 3 bulan. Sepanjang tahun 2008, bila kita mengacu data BI, dengan sedikit menyederhanakan dan sebenarnya underestimate, kita tetapkan rata-ratanya sebesar 8,5%. Dengan menggunakan tingkat bunga sebesar itu, didapatkan pendapatan bunga dari obligasi rekap saja sebesar Rp 7,4 T.

Nah disini mulai bagian yang sedikit ironis. Tahukah kalian berapa laba bersih bank tersebut di tahun 2008? jawabannya adalah sedikit lebih dari Rp 5 T. Sekarang saatnya matematika sederhana, Rp 7,4 T > Rp 5, sekian T. jika Rp 7,4 T itu dihilangkan, hemmm.....

Mulai kepikiran kasus AIG tadi tidak??? belum ya. klo belum kita lanjut lagi..

Yang lebih ironis, karena mendapatkan laba yg kebetulan meningkat dibanding tahun lalu, para eksekutif diguyur bonus yang sangat besar. Berdasarkan koran (sy lp koran apa) kemaren total-total remunerasi direksi dan komisaris bank ada yang mencapai 800 juta/bulan. Buset dah !!!!! 800 juta/bulan!!! hampir 800x gaji PNS golongan IIIA tuh... (kenapa dulu gk jadi bankir aja ya :( ... )

mulai terihat kesamaan dengan kasus AIG tadi kan ??? .....

Yups, > Rp 60 T duit pembayar pajak, alias rakyat yang masih banyak miskin tersebut, digunakan buat bonus para eksekutif bank-bank kita. Bahkan akibat akuisisi dari bank asing, obligasi rekap ada yang akhirnya dimiliki bank asing. Komplit sudah... duit rakyat digunakan untuk mensubsidi mereka yang berdasi dan bermobil mewah + ditransfer ke orang-orang asing di luar sana. Fiuuhh.... dahsyat nian negara ini. Harus diubah nih statusnya,, dari negara berkembang jadi negara maju... ;p

Tapi belom selesai sampai disitu saja, ada lagi yang lebih ironis. Subsidi > Rp 60 T ke orang kelas atas dibiarkan saja, ngasih Rp 100 rb per bulan ke orang miskin (total tidak sampai Rp 10 T per tahun) ditentang habis-habisan. Subsidi BBM, dinikmati ratusan ribu oleh pemilik mobil mewah juga dibiarkan saja.. ups ini topik yang laen lagi.. maaf maaf.. terbawa emosi..

Sungguh ironis. Mungkin saya salah. Tapi yang patut disyukuri dari sini adalah kita dapat simpulkan bahwa rakyat Indonesia adalah orang yang sabar dan sangat murah hati... :) ohiya, saya harus objektif juga, harus diakui bahwa obligasi rekap ini berhasil menyelamatkan kondisi perbankan kita di saat krisis.

NB: maaf nih, gaya nulisnya masih gaya sok asikk.. hehehe.. moodnya lagi gk mw bikin seriuss.. ;)

Tuesday, April 14, 2009

Wisdom of the Crowds

Wisdom of the Crowds (WOC) adalah suatu terminologi yang diperkenalkan oleh Jim Surowiecki. Secara sederhana, terminologi ini menyatakan bahwa pendapat banyak orang lebih baik daripada pendapatan individual yang ahli sekalipun (makanya diskusi bungs).

Terminologi ini juga diadaptasi oleh Ian Ayres dalam bukunya Super Crunchers untuk mendeksripsikan peristiwa hipotesis berikut ini:
Jika diambil suatu angka random, dan mahasiswa dalam suatu kelas dipersilahkan untuk menebak angka random tersebut. Sesuai dengan WOC, tebakan terbaik untuk angka random tersebut adalah angka rata-rata dari seluruh tebakan individual mahasiswa dalam kelas.

Dengan mengikuti alur pikir yang sama, WOC saya aplikasikan untuk kasus hasil quick count pemilu legislatif oleh beberapa lembaga survey. Dengan tidak mempertimbangkan perbedaan metode sampling dan margin of errors, maka prediksi terbaik dari hasil pemilu legislatif adalah rata-rata dari hasil quick count lembaga survey tersebut.

Apakah WOC ini terbukti atau tidak untuk kasus quick count? ada baiknya kita tunggu (atau gak?) hasil perhitungan riil KPU.

Cinta tidak bisa menunggu, katanya. Oleh sebab itu, saya melakukan excercise terhadap data yang bertujuan untuk mengetahui adakah hasil quick count dari suatu lembaga survey yang bersifat “tidak biasa” (outliers) relatif terhadap distribusi hasil quick count keseluruhan lembaga survey.

Dari hasil pada tabel di atas, tidak ada data hasil quick count yang bersifat extreme outliers. Namun setidaknya ada empat hasil estimasi yang bersifat mild outliers, yaitu LP3ES pada Demokrat yang underestimate, LeSI pada Golkar yang underestimate, CIRUS pada PPP yang overestimate, dan LSN pada PKB yang bersifat underestimate.

Apakah hasil ini bisa menunjukkan adanya gejala yang lain, semisal membuktikan adanya “pesanan politik” terhadap lembaga survey? Apakah “pesanan politik” ini jikapun ada, justru dilakukan bukan dengan menambah jumlah suara parpol yang memesan namun mengurangi jumlah suara parpol saingannya? Atau, tidak ada kesimpulan yang sedemikian seperti itu dapat diambil?

Saya pribadi memilih menjawab ya untuk pertanyaan ketiga, oleh karena hasilnya memang tidak cukup kuat secara statistik untuk merujuk pada kesimpulan yang lain. Namun setidaknya, excercise ini akan berguna bagi saya untuk merevisi ketepatan dari prediksi WOC nantinya. Data yang bersifat mild outliers ini, mungkin akan jadi kandidat untuk saya exclude dalam pembentukan rata-rata hasil estimasi WOC.

Friday, April 10, 2009

Pengamatan Sementara Pemilu 2009

Pemilu untuk pemilihan anggota legislatif telah dilakukan 9 April yang lalu. Hasil berdasarkan quick count menempatkan Partai Demokrat pada urutan teratas dengan lebih dari 20% perolehan suara. Tentunya, tingkat elektibilitas SBY untuk terpilih kembali menjadi presiden sangat tinggi. Di lain pihak, kondisi ini tentu membuat pening para petinggi Golkar, terutama yang berambisi untuk menjagokan kadernya sendiri sebagai calon presiden. JK yang digadang-gadang oleh partainya sebagai capres, dan sempat melakukan berbagai manuver politik untuk memperlihatkan keseriusannya, tentu sekarang berfikir ulang.

Posisi Golkar berdasarkan quick count diperkirakan hanya sekitar 14-15% suara. Anjlok dibandingkan pemilu 2004 sebesar 21%. Apabila koalisi kebangsaan yang kemudian melebar menjadi segitiga emas (Golkar, PDI-P, PPP) benar-benar terjadi, total suaranya masih hanya sekitar 34-35% (Golkar 14%, PDI-P 15%, dan PPP 5%). Posisi SBY, selain citra pemerintahannya yang masih terjaga, serta perolehan suara lebih dari 20%, tentu lebih leluasa untuk membangun koalisi menambah pundi-pundi suaranya. Hanya cukup dengan menggaet PKS dan PAN, SBY sudah bisa mengalahkan tipis calon presiden siapapun yang diusungkan dari koalisi kebangsaan dengan suara sekitar 36%.

Untuk partai pemula yang cukup mendapatkan suara seperti Hanura dan Gerindra, apabila ingin bersikap “oportunis”, keputusan merapat ke kubu SBY mungkin lebih baik dibandingkan ke kubu Megawati. Namun sayangnya latar belakang militer yang mungkin tidak “sehaluan” bisa saja akhirnya Hanura atau Gerindra lebih memilih merapat ke kubu Mega. Selain itu, masih ada suara PKB yang harus diperebutkan. Feeling saya, PKB Muhaimin akan merapat ke kubu SBY. Mengingat dalam pemerintahan SBY-lah Muhaimin memenangkan peradilan dalam sengketa-nya dengan Gus Dur.

Tapi tentunya analisisnya tak semudah apa yang akan terjadi. Keputusan seseorang dalam memilih bisa jadi berbeda antara partai politik dan capresnya. Mungkin saja, seseorang memilih Golkar, namun presidennya tetap SBY. Dan juga, apabila dikompetisikan individual, tentunya SBY versus Mega akan kelihatan jelas mana yang memiliki kapabilitas dan mana yang tidak. Jadi kondisi terburuknya, seseorang bisa saja memilih PDI-P, namun belum tentu memilih Mega sebagai presiden. Kemungkinan-kemungkinan ini bisa cukup banyak, layaknya mengolah probabilitas statistik melalui permutasi dan kombinasi.

Pendapat pribadi saya, sesungguhnya bola sudah di tangan SBY bersama Demokrat-nya, tinggal digelindingkan saja dalam tipe permainan apa yang diinginkan. Konstelasi politik saat ini sudah berubah. Saatnya Demokrat menjadi partai teratas dalam percaturan politik “sementara” negeri ini, dan mampu mengalahkan Golkar yang proses kaderisasinya sudah berlangsung lama dibanding Demokrat. Semoga saja ketika SBY terpilih kembali menjadi Presiden, tak lupa mempersiapkan kader penerus, dan juga menutup pemerintahannya dengan manis. Demi nasib Demokrat ke depan. Karena bagaimanapun dalam politik tak selamanya berada di atas, dan kadang harus menerima kenyataan, meskipun pahit. Seperti Golkar yang suaranya terpuruk, dan JK pun akan ditujuk hidung atas keterpurukan itu.

Wednesday, April 8, 2009

Efektivitas Insentif Starbucks Untuk Meningkatkan Partisipasi Masyarakat di Pemilu

Sesuai arahan tetua blog ini, berikut beberapa analisis terkait efektivitas kebijakan insentif dari starbucks dikaitkan dengan perilaku pemilih sesuai yg bung chaikal bilang di comment post sebelumnya.

Sebelum masuk ke analisis, sebenarnya hampir bisa dipastikan secara nasional efek kebijakan starbucks ini sangat tidak signifikan. Berapa sih pelanggan starbucks? Ada di kota mana aja sih starbucks? tentu sangat sedikit dibanding total jumlah pemilih.

Untuk itu, analisis ini hanya ditujukan untuk melihat perubahan preferensi dari golput untuk kemudian memilih atau tetap golput pada pelanggan setia starbucks saja. Mungkin jumlahnya hanya ratusan ribu atau puluhan ribu, tapi mereka-lah target utama kebijakan starbucks.

1. Pemilih yang memutuskan untuk golput karena alasan benefit dan cost

Untuk pemilih dengan karakteristik seperti ini, mereka golput karena merasa cost untuk memilih lebih besar ketimbang benefitnya. Ketimbang panas-panas nyontreng, ngeluarin tenaga buat jalan ke TPS, mending tidur siang ato nonton sama pacar deh. Nah, mengingat yang kita bicarakan adalah pelanggan setia starbucks, tentu kebijakan starbucks akan punya efek yang signifikan pada pemilih seperti ini. Dengan kebijakan kopi gratis, benefit untuk memilih jadi akan lebih besar dan bisa melebih cost-nya. Sederhananya, klo tadinya lebih memilih untuk nonton bareng pacar, sekarang ya udah deh gak papa nyontreng bentar, habis itu lumayanlah bisa ngopi2 sama pacar habis nonton. Gratis bo'.. Apalagi buat mereka yang pencinta frappucino caramel seperti bung luthfi. Dibela-belain deh buat dapet frappucino caramel gratis.

2. Pemilih yang memutuskan untuk golput karena alasan rational ignorant

Nah sebenarnya di kasus ini juga menggunakan pendekatan yang sama dengan benefit-cost analysis. Cuma akhirnya ditekankan pada tidak sampainya/tidak cukup informasi yang didapat oleh pemilih, dalam hal ini tentang caleg dan partainya, sehingga benefit untuk memilih pun kecil. Pemilih jadi malas untuk memilih karena dia merasa emang siapa tuh orang, partai apa sih gak jelas amat, dan ekspresi-ekspresi lainnya. Dalam kasus ini, kebijakan starbucks kurang efisien. Jika mau efisien, seharusnya starbucks melakukan kebijakan ini sebelum-sebelumnya, dengan iming-iming insentif kopi gratis untuk mendengarkan pemaparan caleg live di starbucks. Jadi dialog caleg bukan hanya di TV, tapi di starbucks. Niscaya, kebijakan ini akan lebih efektif untuk karakteristik pemilih yang satu ini.

3. Pemilih yang memutuskan untuk golput sebagai bentuk expressive voting

Karakteristik pemilih ini memutuskan untuk golput, melawan keinginan dalam hati paling dalamnya, karena merasa pilihannya tidak akan menentukan/mengubah hasil dari pemilu. Pemilih ekspresif kurang lebih akan berkata begini dalam hatinya: Yah buat apa sih, toh cm 1 suara, mending gk usah deh, gua golput aja deh, kan keren tuh. Nah, buat pemilih dengan karakteristik ini, kebijakan starbucks juga tidak akan efektif. Tentu pemilih, yang merupakan pelanggan setia starbucks, akan berpikir ulang, tapi kopi gratis tidak mengubah fakta bahwa perasaannya berkata pilihannya tidak berpengaruh apa-apa. Akhirnya ya sudahlah, gua tetap golput aja deh.

4. Karakteristik yang tidak disebutkan bung chaikal adalah golput karena terpaksa

Contoh kasus ini adalah bung Gaffar ato saya yang tidak terdaftar di DPT. Poor me :( Untuk kasus ini, kebijakan starbucks malah akan cenderung menimbulkan moral hazard. Sebagai pencinta kopi starbucks, saya tentu sangat tergiur dengan iklan ini, apalagi ketika emang lagi jalan-jalan deket salah satu warung starbucks. Tapi apa boleh buat, karena tidak terdaftar saya gak bisa milih, yang artinya tidak bisa menunjukkan jari yang sudah terkena tinta sebagai bukti ke starbucks. Apa yang akhirnya saya lakukan, saya pake tinta2an deh buat nipu si barista. Siapa tahu dia ketipu. Toh tintanya tinta murah yang gak unik2 banget. lol

Jadi gimana kesimpulannya? kebijakan ini punya efek yang berbeda-beda untuk tiap pelanggan setia starbucks, tergantung karakteristik alasan untuk golputnya. Namun, karena dalam pandangan saya banyak pemilih yang memutuskan untuk golput karena alasan rational ignorant, maka agaknya kebijakan ini tidak akan efektif. Yang pastinya sudah diperkirakan oleh Starbucks sendiri. Pastinya mereka kan gak mau rugi-rugi banget. Ngasih kopi gratis kebanyakan bisa gawat cuy, terutama di zaman krisis kayak gini.. :)

NB: Tulisan ini dibuat agak cepat-cepat dengan bacaan literatur yang terbatas dan gaya slengehan. Jadi maaf kalo ada analisis atau definisi yang kurang tepat.

Segelas Kopi Gratis untuk Demokrasi????

Berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan antusiasme masyarakat untuk ikut Pemilu 2009.

Sampe2 ada promo segelas kopi gratis dari Starbucks:

























Hmmm....tetep aja gue GOLPUT.....(kecuali ada yg mau beliin gue tiket pesawat PP Jakarta-Padang).




Thursday, April 2, 2009

Shalat Jamak dan Makna Efisiensi

Shalat, khususnya shalat lima waktu, merupakan kewajiban bagi setiap manusia yang berstatuskan Islam sebagai identitas kerohaniannya. Sebagai salah satu rukun Islam, "shalat" sangatlah dianjurkan demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan, konon katanya, shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Singkat saja, dalam tulisan ini saya hanya ingin menguak masalah efisiensi, sebagai konsekuensi dari sangat gencarnya gerakan atau kampanye untuk menyelamatkan bumi. Baru-baru ini ada gerakan "Earth Hour" yang disponsori oleh WWF dan beberapa institusi yang peduli akan keselamatan bumi dengan cara mematikan lampu hingga 1 jam lamanya. Dan saya yakin masih banyak lagi gerakan-gerakan atau tindakan-tindakan yang bertujuan untuk menyelamatkan bumi.

Untuk mencegah utopisme dalam pengaplikasiannya, maka dari itu, saya memiliki ide untuk menyelamatkan bumi, khususnya untuk melestarikan keberadaan air di bumi ini. Dan berdasarkan judul di atas, jelas saya akan mengikutsertakan umat Islam dalam proses aktualisasi penghematan air di dunia.

Sebagai penganut agama Islam, sudah tidak asing lagi kita mendengar kata "jamak." Jamak digunakan sebagai cara umat Islam untuk melakukan dua waktu shalat di dalam satu waktu. Dalam hal ini, menggabungkan shalat maghrib dengan isya dan shalat dzuhur dengan ashar, baik itu jamak takhir maupun jamak takdim.

Sekarang, kita masuk ke makna efisiensi. Secara kasar, melakukan shalat dengan cara dijamak, otomatis dapat menghemat waktu (dengan catatan bahwa si pelaku shalat memiliki halangan yang reasonable). Selain itu, sesuai dengan judul yang diangkat dalam tulisan ini, saya lebih memfokuskan diri pada penghematan guna menyelamatkan bumi.

Secara logika, apabila kita ingin melakukan shalat, jelas kita membutuhkan air (wudhu). Meskipun kita juga diberikan keleluasaan (dengan syarat dan ketentuan berlaku) untuk bertayamum (wudhu dengan debu). Namun dalam hal ini, kita asumsikan sumber air tersedia dimana-mana.

Jika kita shalat (wajib) lima kali dalam sehari, pastinya kita butuh lima kali pengambilan air wudhu. Untuk air wudhu, kira-kira air yang dibutuhkan sekitar 4-5 liter. Berarti 5 liter dikalikan dengan 5, berarti kira-kira untuk shalat wajib adalah 25 liter. Namun, jika kita melakukan shalat dengan di jamak, secara matematis kita hanya melakukan pengambilan wudhu sebanyak 3 kali. Jadi, 3 dikalikan 5 liter sama dengan 15 liter. Dalam sehari kita bisa menghemat 10 liter air.

Bayangkan jika, ada 200 juta manusia yang melakukan shalat lima waktu dan melakukan pengambilan wudhu sebanyak lima kali. Jadi 5 liter dikalikan dengan 5 dikalikan lagi dengan 200 juta sama dengan 5 miliar liter air akan dihabiskan. Kemudian jika shalatnya dijamak, 5 liter dikalikan dengan 3 dikalikan lagi dengan 200 juta sama dengan 3 miliar liter air akan dihabiskan. Jadi kalau shalatnya dijamak, otomatis akan menghemat sebanyak 2 miliar liter air per hari.

Jadi, kita dapat berkontribusi dalam gerakan penyelamatan bumi dengan cara menghemat air. Apabila ada pemeluk agama Islam yang menjamak shalat lima waktunya, maka secara langsung, dia telah membantu gerakan penyelamatan bumi.

Jadi, sekarang terserah anda, mau dijamak shalatnya atau tidak?




Wednesday, April 1, 2009

Menjelang Pemilu 2009

Bentar lagi Pemilihan Umum 2009 akan dimulai tanggal 9 April nanti. Pemilihan untuk anggota legislatif DPR, DPRD I, DPRD II, dan DPD. Jumlah partai yang sangat banyak, belom lagi caleg-calegnya, membuat kertas suara begitu besar. Tentunya, semakin sulit bagi masyarakat dihadapkan sejumlah pilihan. Secara teknis pun pelaksanaan Pemilu 2009 akan lebih ruwet, terutama yang tak pernah mengikuti atau bahkan mencoba memahami tata cara Pemilu yang baru secara benar.

Belum lagi potensi Golput yang cukup besar, bukan hanya soal teknis menjadi kendala para calon pemilih dengan menerima kenyataan namanya tidak terdaftar dalam daftar pemilih, namun juga banyak yang secara "sadar" memilih untuk Golput.

Pemilu setelah era reformasi memang mencoba meletakan pilihan masyarakat sebagai prioritas dalam menentukan wakil-wakilnya serta pemimpin negeri ini. Berbeda dengan era Orde Baru, di mana siapa dan apa yang akan memenangkan Pemilu sudah jelas, otoritarian di masa itu punya kekuatan besar menentukan pilihan dalam Pemilu. Namun apakah saat ini di masa rakyat memiliki kekuatan lebih dalam demokrasi akan membawa negeri ini ke arah lebih baik?

Saya sedikit ragu, atau apakah akhirnya seperti apa yang dikatakan George Bernard Shaw, dalam Man and Superman (1903) "Maxims for Revolutionists" menjadi terasa benar, yang saya kutip seperti berikut:

"Democracy substitutes election by the incompetent many for appointment by the corrupt few."

Artinya, demokrasi pada akhirnya hanya memindahkan penentuan kekuasaan dari sekelompok kecil yang korup kepada orang banyak yang tidak kompeten. Terutama di Indonesia, pemilih yang cerdas lebih sedikit dibandingkan pemilih yang gampang dimobilisasi oleh pihak-pihak tertentu, tentunya dengan imbalan secukupnya. Apalagi, banyak kaum intelektual memilih untuk Golput (mungkin termasuk Anda?).

Apakah itu akan terjadi? Kita lihat saja....

Selagi masih ada waktu untuk berfikir, apabila ada yang mau tahu lebih banyak tentang Pemilu di Indonesia, bisa lihat di sini.

Tuesday, February 17, 2009

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah

Seiring dengan semakin parahnya krisis keuangan global, banyak ekonom yang cenderung pesimis dengan kondisi perekonomian dunia dalam 2 tahun kedepan. Menteri Keuangan di hampir seluruh negara sedang giat melakukan program stimulus guna menyelamatkan perekonomian domestik masing-masing negara. Dalam hal ini paket dan besaran stimulus berbeda di tiap negara tergantung dari tingkat keparahan krisis.

Membuka kembali sejarah krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1998, salah satu penyebab utama krisis adalah nilai tukar Rupiah yang turun sangat dalam. Kondisi serupa sedang terjadi belakangan ini, walaupun dalam magnitude yang lebih kecil dibandingkan keadaan tahun 1998. Ekonom A. Tony Prasetiantono di Kompas (Senin 16-02-09) mengulas beberapa faktor-faktor penyebab tren melemahnya nilai tukar rupiah. Diantara lima faktor yang dibahas, terdapat tiga faktor yang dapat dikatakan penyebab utama tren melemahnya nilai tukar Rupiah. Faktor tersebut adalah:
1. Penurunan Surplus Perdagangan.
2. Penurunan Arus Modal Masuk.
3. Penurunan Suku Bunga BI.


Penurunan Surplus Perdagangan
Dengan melemahnya perekonomian dunia, permintaan barang dari Indonesia secara logika akan menurun. Menkeu Sri Mulyani dalam rapat dengan DPR mengatakan bahwa Ekspor Indonesia bulan Januari turun menjadi 5.5% dari sekitar 12% (YoY). Tren penurunan ini telah terjadi sejak Desember 2008 dan diprediksi akan terus mengalami penurunan selama kondisi perekonomian global belum membaik. Berikut data Ekspor-Impor dari BPS pada bulan Desember.


Walaupun secara keseluruhan kinerja ekspor dalam tahun 2008 mengalami peningkatan dari tahun 2007, namun pada akhir tahun 2008 tren penurunan kinerja ekspor mulai terlihat. Sebagaimana dapat dilihat pada tabel diatas, persentase perubahan ekspor dari November 2008 ke Desember 2008 mengalami penurunan di seluruh komoditi terutama pada Komoditi Hasil Minyak sebesar -58.19%. Sedangkan pada Komoditi Non Migas penurunan ekspor terjadi sebesar -8.84%. Penurunan kinerja ekspor tersebut berdampak pada menurunnya permintaan akan Rupiah. Sehingga apabila kinerja ekspor tidak membaik, maka nilai tukar Rupiah diprediksi akan terus mengalami pelemahan. Chain effect yang secara logis dapat terjadi selain melemahnya Rupiah adalah meningkatnya pengangguran. Hal ini dikarenakan banyak produsen atau pabrik yang mengalami over production sebagai akibat dari penurunan permintaan dari abroad.

Poin penting yang dapat didiskusikan adalah menurunnya kinerja ekspor juga mengakibatkan penurunan permintaan akan USD. Sehingga seharusnya penurunan kinerja ekspor tidak berdampak signifikan pada melemahnya Rupiah. Namun demikian hal ini baru dapat dikonfirmasi apabila ada hasil regresi pada data terkait.


Penurunan Arus Modal Masuk
Krisis perekonomian global mengakibatkan aliran dana pada emerging markets seperti Indonesia mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan investor mencari tempat yang aman untuk memarkir dana, sehingga negara dengan tingkat resiko tinggi seperti Indonesia mulai ditinggalkan. Fakta yang terjadi kemudian adalah investor tetap memarkir dananya di US treasury bonds walaupun yield-nya negatif. Fenomena ini disebut flight to quality. Berikut data balance of Payment Indonesia yang dirilis oleh BI.


BOP ( Juta USD)

Penurunan Suku Bunga BI
Faktor terakhir yang menyebabkan Rupiah tidak kunjung menguat adalah penurunan Suku Bunga BI menjadi 8.25 persen. Penurunan tersebut dapat dikatakan membuat arus modal asing semakin menjauh, sehingga tekanan pada permintaan akan Rupiah meningkat. Beberapa referensi mengatakan bahwa kondisi yang menyebabkan penurunan tersebut adalah deflasi yang terjadi akibat penurunan harga BBM. Dalam hal ini BI berani menurunkan suku bunga karena laju inflasi lebih rendah dari yang diperkirakan. Sehingga dapat dikatakan penurunan tersebut merupakan upaya BI untuk meningkatkan likuiditas di pasar, sehingga sektor riil masih dapat bergerak walaupun arus modal asing banyak yang keluar. Namun demikian apakah kekuatan modal domestik mampu menopang jalannya perekonomian? Implikasi kebijakan ini pada perekonomian baru dapat dilihat dalam beberapa bulan kedepan.

Prediksi Nilai Rupiah
Nilai tukar Rupiah dalam beberapa bulan kedepan diprediksi masih akan melemah. Faktor penting yang menurut saya dapat mempengaruhi kekuatan Rupiah adalah arus modal asing yang masuk ke Indonesia. Dalam hal ini program stimulus fiskal yang akan dilakukan oleh Barrack Obama merupakan momen krusial perekonomian AS. Apabila program tersebut berhasil membawa AS keluar dari krisis, maka kemungkinan meningkatnya arus modal asing ke Indonesia menjadi besar. Hal ini kemudian diharapkan dapat kembali meningkatkan nilai tukar Rupiah. Namun apakah meningkatnya nilai tukar Rupiah merupakan hal yang baik bagi perekonomian Indonesia? Wallahualam bis Sowwab

Wednesday, February 11, 2009

Ngobrol Seputar Biaya Hidup

Pembicaraan mengenai biaya hidup antara teman-teman sesama BI yang sedang ditempatkan di daerah cukup hangat, mengingat biaya pengeluaran hidup untuk kebutuhan makan, tempat tinggal, hingga biaya-biaya jasa lainnya seperti transportasi hingga kebersihan rumah/pakaian yang sungguh beragam.

Namun ada hal yang menarik, pembicaraan mengenai keragaman harga makanan diukur melalui dengan harga makanan di warung nasi padang. Anggap saja satu porsi makanan nasi plus rendang. Melalui ini kita dapat mengukur keragaman tingkat harga di suatu daerah, atau mengetahui seberapa besar kebutuhan hidup untuk makan jenis makanan yang sama di hampir semua daerah di Indonesia.

Dengan demikian, kita juga dapat mengukur tingkat daya beli penduduk setempat dan juga tingkat kesejahteraan penduduk daerah tersebut. Seperti dalam teori Engel, semakin meningkat pendapatan seseorang, maka proporsi dari pendapatannya untuk membeli kebutuhan makanan semakin kecil, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan non-makanan semakin besar. Oleh karena itu, daerah yang harga nasi padangnya sangat mahal mengindikasikan bahwa porsi pendapatan penduduknya akan tergerus untuk membeli kebutuhan makanan yang semakin besar, sehingga ruang pendapatan untuk membeli kebutuhan non-makanan semakin kecil.

Ini juga mengingatkan dengan konsep paritas daya beli (purchasing-power parity-PPP) di mana mengukur perbandingan sejauh mana tingkat daya beli penduduk suatu negara pada suatu satuan nilai tukar tertentu. Untuk itu, muncullah pendekatan dari konsep ini dengan proksi menggunakan seberapa besar harga dari burger Big Mac di gerai McDonald di seluruh negara, seperti apa yang digagas majalah The Economist (lihat selengkapnya di sini). Ataupun saat ini ada gagasan baru dengan menggunakan harga secangkir kopi latte di gerai Starbucks, sehingga munculah istilah Lattenimocs (lihat selengkapnya di sini).

Saya rasa, mengukur tingkat daya beli penduduk di berbagai daerah di Indonesia terlalu jauh apabila didekati setangkap burger Big Mac atau secangkir kopi latte Starbucks. Untuk ukuran Indonesia, komoditas tersebut masihlah terlalu mewah. Saya kira ukuran harga nasi padang+rendang bisa dijadikan sebuah indeks alternatif yang dapat mengukur keragaman daya beli penduduk di berbagai daerah di Indonesia. Namun juga ada kendala kecil, bagi sebagian penduduk daerah, makan daging rendang mungkin suatu kemewahan, atau bahkan hanya makan daging hanya saat lebaran kurban. Hmmm, kalau begitu bila nasi padang+rendang tidak memungkinkan, kita cukup dengan Warung Tegal saja alias Warteg saja….

Tuesday, February 10, 2009

Boxing Day

July 11th 2007, Vargas and Mayorga had a press conference for the formal announcement of their fight on September 8th 2007. The fight, as you know, begun prematurely:

Mayorga: "I will do Vargas a favor by retiring him in this fight so his family doesn't have to suffer every time he steps in the ring. I'm going to do your wife a favor and not let her cry anymore after I disfigure you."

He continued: ” I'm going to finish you, but you're finished already”

Vargas replied: “This will be my last fight for one reason only. It's for pride. I can't leave my career after a loss… Mayorga can disrespect me all he wants but not my queens”

And finally:

Vargas: "We should have sold tickets to this press conference; we had a little firework here today. There will definitely be fireworks in the ring at Staples Center on Sept. 8."

Yup, that’s it! The center of this trash talks is one and always one: the tickets!

Here is a hint for you for what have just happened today: ticket is equal to voting ballot and press conference plus 'trash talks' is equal to campaign minus cost!

Tuesday, February 3, 2009

Valentine & Materi

Tahun 2006 Kanada dan Amerika Serikat menghabiskan sekitar 15,3 milyar dollar untuk hari Valentine (sumber: google.com). Sebuah angka yang fantastis buat hari CINTA..
Tidak terbayang berapa besar yang Dunia habiskan.

Pertanyaan; Apakah cinta layak dinilai dengan materi?

"Cinta itu butuh pengorbanan", semua pasti setuju akan preposisi itu. Namun, sering kali pengorbanan diukur dengan nilai uang atau apa saja yang dibeli dengan uang. Padahal, di jaman sekarang, orang yang bekerja paling keras belum tentu orang yang paling besar penghasilannya. Ada orang-orang cuma duduk dan diam tapi dapat duit (3D=duduk, diam, dapat duit).

Saya simpulkan disini, bahwa Cinta ternyata terlambat ber-evolusi dibanding jenis-jenis profesi manusia. Ketika manusia sudah bergerak dari labor theory of value menjadi marginal benefit theory, tetapi cinta masih sepakat bahwa pengorbanan dapat kurang lebih diukur dengan materi. Semoga Anda tidak termasuk diantaranya..

Akhir kata, saya ucapkan selamat menyambut hari KASIH SAYANG kepada seluruh pembaca blog ini. Salam.

Makin Banyak Pekerja yang Sakit, Benarkah?


Hasil survei di beberapa perusahaan di Amerika dan Eropa seperti yang dilansir di The Economist menunjukkan adanya peningkatan cukup pesat mengenai para pekerja kantoran yang mengajukan izin sakit.
Hasil survei ini memang tidak begitu dijelaskan mengenai interpretasi dibalik hasil surveinya dan juga makna yang terkandung di dalamnya. Andai saja dalam survei tersebut ada tercantum Indonesia, sungguh saya penasaran, selain dengan jumlah penduduk yang besar, juga pola bekerja di beberapa instansi pemerintahan yang masih belum disiplin, dan lebih menarik lagi adalah proses perpindahan pekerja dari tempat kerja yang satu ke tempat kerja lainnya.
Yang menarik memang di proses ketika seseorang telah bekerja di suatu tempat, namun masih saja mengikuti proses penerimaan bekerja di tempat lain. Apa motivasinya? Klise saja, selain menawarkan gaji yang lebih tinggi, fasilitas yang lebih baik, tidak akur dengan bos yang sekarang, hingga mengejar tempat yang lebih prestisius.
Untuk pindah, tentu ada sejumlah test yang mesti dilewati, bahkan dengan tahapan yang melelahkan dan panjang, terutama untuk tempat bekerja yang boleh dibilang “bonafit.” Lebih sulit lagi, ketika serangkaian test tersebut dilakukan pada hari-hari yang berdekatan. Sakit, sebuah alasan paling gampang untuk mangkir dari kantor, daripada sejumlah surat cuti yang mesti diajukan, belum lagi menghadapi jatah cuti yang semakin berkurang. Bukankah begitu? Bagi yang sudah bekerja dan masih mencari pekerjaan yang lain, silahkan, kantor Anda memang siap atau tidak siap akan menerima alasan “sakit” Anda. Selamat “sakit,” dan dokter Wawan akan menyambut Anda, alias Wawan-cara….