Sebenernya saya bingung juga bagaimana orang-orang menyusun daftar-daftar seperti ini.
namun ini saya posting benar-benar dari apa yang saya temukan pada milis-milis lain. Tanpa saya ubah-ubah sama sekali. Silakan dilihat-lihat, dan diikuti tar apakah ada yang tetap sesuai dengan yang pengumuman resmi atau tidak. terima kasih.
1. Menteri Negara Riset dan Teknologi: Onno W Purbo
2. Menteri Negara Koperasi dan UKM : Sandiaga S Uno
3. Menteri Negara Lingkungan Hidup: Ismid Hadad
4. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan: Zoemrotin
5. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara: Sudirman Said
6. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal: August Rumansara
7. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional: Marie Pangestu
8. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara: Faisal Basri
9. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga: Anas Urbaningrum
10. Menteri Negara Perumahan Rakyat: Eko Budihardjo/Darwis Khudori
11. Menteri Sekretaris Negara: Satya Arinanto
12. Menteri Dalam Negeri: Anies Baswedan
13. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa
14. Menteri Pertahanan: Agus Widjojo
15. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Todung Mulya Lubis
16. Menteri Keuangan: Sri Mulyani
17. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Kuntoro Mangkusubroto/ Muhammad Lutfi
18. Menteri Perdagangan dan Perindustrian: Hatta Sinatra
19. Menteri Pertanian: Agus Pakpahan
20. Menteri Kehutanan: Mas Achmad Santosa
21. Menteri Perhubungan: Danang Parikesit
22. Menteri Kelautan dan Perikanan: Dwisuryo Indroyono Susilo
23. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Didik J Rachbini
24. Menteri Pekerjaan Umum: Bambang Susantono
25. Menteri Kesehatan: DR. Dr. Fachmi Idris
26. Menteri Pendidikan Nasional: Dr Arif Rahman/Satryo Soemantri Brodjonegoro
27. Menteri Sosial: Imam B Prasodjo
28. Menteri Agama: Komaruddin Hidayat
29. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Meity Robot
30. Menteri Komunikasi dan Informatika: Adi Rahman Adiwoso
Panglima TNI: Marsekal TNI Subandrio
Kapolri: Bagus Ekodanto
Gubernur BI: Hartadi A Sarwono
Jaksa Agung: Marwan Effendy
Thursday, July 30, 2009
Friday, July 24, 2009
Latest Speculation on Cabinet Line-up
Menko Politik Hukum dan Keamanan : Sutanto ( Mantan Kapolri )
Menko Perekonomian : Sri Mulyani Indrawati
Menko Kesra : Hatta Rajasa (PAN)
Sekretaris Negara : Sudi Silalahi
MENTERI DEPARTEMEN
Menteri Dalam Negeri : Andi Malaranggeng (Partai Demokrat)
Menteri Luar Negeri : Marty Natalegawa (Dubes RI di PBB)
Menteri Pertahanan : Djoko Suyanto (Mantan Panglima TNI)
Menteri Hukum dan HAM : Ruhut Sitompul (Partai Demokrat)
Menteri Keuangan : M.Chatib Basri (Dir. LPEM - FEUI)
Menteri Pertambangan dan Energi : Tubagus Haryono(BP Migas)
Menteri Perindustrian & Pedagangan : MS Hidayat (KADIN)
Menteri Pertanian : Dr.Ir.H. Herry Suhardiyanto M.Sc. (Rektor IPB)
Menteri Kehutanan : Taufik Efendy (Partai Demokrat)
Menteri Perhubungan : Prof. Dr. Sutanto Soehodho (UI)
Menteri Kelautan dan Perikanan : DR. Ir. Mohammad Jafar Hafsah (Partai Demokrat)
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : M.Jumhur Hidayat (Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI)
Menteri Pekerjaan Umum : Prof Dr.Ir Boedi Soesilo Supanji (Dirjen Potensi Pertahanan Dephan)
Menteri Kesehatan : Dr.dr Fachmi Idris, M Kes (Ketua Umum IDI)
Menteri Pendidikan Nasional : Anis Rasyid Bawesdan pHd (Rektor Univ.
Paramadina)
Menteri Sosial : Hidayat Nur Wahid (PKS)/Tifatul Sembiring (PKS)
Menteri Agama : Dr Salim Segaf Al Jufri ( Dubes RI untuk Saudi Arabia/ PKS)
MENTERI NEGARA
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata : Jero Wajik (Partai Demokrat)
Menteri Riset dan Teknologi : Dr Andy N. Sommeang (Dirjen HAKI)
Menteri Koperasi dan UKM : Muhaimin Iskandar (PKB)
Menteri Lingkungan Hidup : Prof Dr Jhony W Soedarsono (Guru Besar FTUI)
Menteri Pemberdayaan Perempuan : Rahmawati Soekarnoputri
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : Marzuki Alie (Partai Demokrat)
enteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal : Lukman Edy (PKB)
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional : Prof Bambang PS Brojonegoro (FEUI, IDB)
Menteri BUMN : Sofyan Djalil (Meneg BUMN saat ini)
Menteri Komunikasi dan Informasi : Rizal Malarangeng (Tim Sukses SBY-Boediono)
Menteri Pemuda dan Olahraga : Anas Urbaningrum (P Demokrat)
Menteri Perumahan Rakyat : Zulkifli Hasan (PAN)
Jaksa Agung; Amir Syamsudin
Gubernur BI: Srimulyani/Darmin Nasution
sumber: berbagai milis
Menko Perekonomian : Sri Mulyani Indrawati
Menko Kesra : Hatta Rajasa (PAN)
Sekretaris Negara : Sudi Silalahi
MENTERI DEPARTEMEN
Menteri Dalam Negeri : Andi Malaranggeng (Partai Demokrat)
Menteri Luar Negeri : Marty Natalegawa (Dubes RI di PBB)
Menteri Pertahanan : Djoko Suyanto (Mantan Panglima TNI)
Menteri Hukum dan HAM : Ruhut Sitompul (Partai Demokrat)
Menteri Keuangan : M.Chatib Basri (Dir. LPEM - FEUI)
Menteri Pertambangan dan Energi : Tubagus Haryono(BP Migas)
Menteri Perindustrian & Pedagangan : MS Hidayat (KADIN)
Menteri Pertanian : Dr.Ir.H. Herry Suhardiyanto M.Sc. (Rektor IPB)
Menteri Kehutanan : Taufik Efendy (Partai Demokrat)
Menteri Perhubungan : Prof. Dr. Sutanto Soehodho (UI)
Menteri Kelautan dan Perikanan : DR. Ir. Mohammad Jafar Hafsah (Partai Demokrat)
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : M.Jumhur Hidayat (Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI)
Menteri Pekerjaan Umum : Prof Dr.Ir Boedi Soesilo Supanji (Dirjen Potensi Pertahanan Dephan)
Menteri Kesehatan : Dr.dr Fachmi Idris, M Kes (Ketua Umum IDI)
Menteri Pendidikan Nasional : Anis Rasyid Bawesdan pHd (Rektor Univ.
Paramadina)
Menteri Sosial : Hidayat Nur Wahid (PKS)/Tifatul Sembiring (PKS)
Menteri Agama : Dr Salim Segaf Al Jufri ( Dubes RI untuk Saudi Arabia/ PKS)
MENTERI NEGARA
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata : Jero Wajik (Partai Demokrat)
Menteri Riset dan Teknologi : Dr Andy N. Sommeang (Dirjen HAKI)
Menteri Koperasi dan UKM : Muhaimin Iskandar (PKB)
Menteri Lingkungan Hidup : Prof Dr Jhony W Soedarsono (Guru Besar FTUI)
Menteri Pemberdayaan Perempuan : Rahmawati Soekarnoputri
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : Marzuki Alie (Partai Demokrat)
enteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal : Lukman Edy (PKB)
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional : Prof Bambang PS Brojonegoro (FEUI, IDB)
Menteri BUMN : Sofyan Djalil (Meneg BUMN saat ini)
Menteri Komunikasi dan Informasi : Rizal Malarangeng (Tim Sukses SBY-Boediono)
Menteri Pemuda dan Olahraga : Anas Urbaningrum (P Demokrat)
Menteri Perumahan Rakyat : Zulkifli Hasan (PAN)
Jaksa Agung; Amir Syamsudin
Gubernur BI: Srimulyani/Darmin Nasution
sumber: berbagai milis
Wednesday, July 22, 2009
Dahsyat, Inbox, Kissvaganza, dll: Bukti Pengangguran Meningkat!
Acara-acara musik live di pagi hari yang rutin seperti inbox, dashyat, kissvaganza dan sebagainya banyak bermunculan dan ratingnya cukup baik. Penggemar utama dari acara-acara ini adalah anak-anak muda utamanya. Tidak saja anak-anak muda menonton dari TV tetapi bahkan secara live di studio maupun lokasi syuting acara tersebut.
Anehnya, mengapa anak-anak muda tersebut sempat-sempatnya menonton acara itu? Mengingat jam tayangnya adalah tepat pada jam sekolah atau bekerja. Lalu apakah para penontonnya tidak sekolah atau bekerja? Sebab kalo kita perhatikan jumlah mereka cukup banyak bila di studio dan sangat banyak bila di lokasi outdoor.
Saya menduga, bahwa ini adalah salah satu bukti bahwa pengangguran Indonesia sedang meningkat pesat. Sebab acara anak muda yang ditayangkan pada jam sekolah/bekerja ternyata ratingnya tinggi dan meningkat terus, ini berarti anak-anak muda yang seharusnya pada umur produktif sedang tidak menggunakan waktu produktifnya.
Anehnya, mengapa anak-anak muda tersebut sempat-sempatnya menonton acara itu? Mengingat jam tayangnya adalah tepat pada jam sekolah atau bekerja. Lalu apakah para penontonnya tidak sekolah atau bekerja? Sebab kalo kita perhatikan jumlah mereka cukup banyak bila di studio dan sangat banyak bila di lokasi outdoor.
Saya menduga, bahwa ini adalah salah satu bukti bahwa pengangguran Indonesia sedang meningkat pesat. Sebab acara anak muda yang ditayangkan pada jam sekolah/bekerja ternyata ratingnya tinggi dan meningkat terus, ini berarti anak-anak muda yang seharusnya pada umur produktif sedang tidak menggunakan waktu produktifnya.
Tuesday, July 21, 2009
Jakarta Bombings and President Comment
Two bombs exploded at JW Marriott and Ritz Carlton hotel Jakarta on FRi, July 17th. President SBY had commented on it, telling that the bombings may be related to not-so-final result of presidental election that held just 9 days earlier, in which he has been predicted to win by various survey institutions. He also announced inteligent reports of radical activities and plans which counter his candidancy. Some people then critisized his speech, especially his rivals at the election.
As public knows that there's hard (or even nasty) competition among presidential candidates, along with elector list problems and surveys subjectivity issues, hearing this speech, SBY rivals may be felt that it's likely to be pointed at them, so they protested. Or, it could be another chance to put another trial to decrease SBY popularity.
In my opinion, it's possible that the bomb related to election result, not caused by his predicted-to-lose rivals, but caused by terrorist preference: in fact, in SBY era terrorist attack was minimal, and there was Bali-bombing terrorists executions. Here's a citation from bloomberg:
"Yudhoyono, a 59-year-old former general, weakened the group by winning cooperation from captured terrorists, who convinced former comrades that the government doesn’t oppose their religion. The government also rewarded informants, including tuition aid for their children, relocation expenses and the privilege of forgoing uniforms in prison."
However, Even if it's true that the speech is emotional and quite improper, with also-emotional responses from the rivals, the issue is minor and cannot be the main issue, the bombing itself and economic impact. An International news portal, Bloomberg website doesn't care about it, and stay focused updating news on bombing investigations and economic fundamentals or sentiments.
How do you guys comment on it?
As public knows that there's hard (or even nasty) competition among presidential candidates, along with elector list problems and surveys subjectivity issues, hearing this speech, SBY rivals may be felt that it's likely to be pointed at them, so they protested. Or, it could be another chance to put another trial to decrease SBY popularity.
In my opinion, it's possible that the bomb related to election result, not caused by his predicted-to-lose rivals, but caused by terrorist preference: in fact, in SBY era terrorist attack was minimal, and there was Bali-bombing terrorists executions. Here's a citation from bloomberg:
"Yudhoyono, a 59-year-old former general, weakened the group by winning cooperation from captured terrorists, who convinced former comrades that the government doesn’t oppose their religion. The government also rewarded informants, including tuition aid for their children, relocation expenses and the privilege of forgoing uniforms in prison."
However, Even if it's true that the speech is emotional and quite improper, with also-emotional responses from the rivals, the issue is minor and cannot be the main issue, the bombing itself and economic impact. An International news portal, Bloomberg website doesn't care about it, and stay focused updating news on bombing investigations and economic fundamentals or sentiments.
How do you guys comment on it?
Monday, July 13, 2009
Konsultan Korea akan Reformasi Perbendaharaan Depkeu
Aneh meski nyata. Tetapi hal ini memang terjadi. Akan ada konsultan asing yang mereformasi departemen keuangan kita. Mengapa?
Silakan dibaca disini.
Reformasi adalah pembaharuan. Apakah pembaharuan mesti menggunakan orang luar? maksudnya orang yang benar-benar dari luar negara ini? kalo memang demikian, apakah itu artinya kita akan mengikuti pola reformasi di negara tersebut? Banyak pertanyaan lahir dari kondisi ini. Semoga kebijakan ini memang sudah benar-benar bijak.
Silakan dibaca disini.
Reformasi adalah pembaharuan. Apakah pembaharuan mesti menggunakan orang luar? maksudnya orang yang benar-benar dari luar negara ini? kalo memang demikian, apakah itu artinya kita akan mengikuti pola reformasi di negara tersebut? Banyak pertanyaan lahir dari kondisi ini. Semoga kebijakan ini memang sudah benar-benar bijak.
Saturday, July 11, 2009
Reformasi Dunia Kesehatan: Mimpi Indah Kita Bersama
Saya kalo datang ke rumah sakit ada kalanya berpikir mengapa biayanya mahal sekali. Kalo saya berpikir itu mahal bagaimana dengan orang-orang yang penghasilannya lebih kecil dari saya.
Lalu pernah suatu kali saya sakit, cukup parah, namun pas lagi "bulan tua", tiba-tiba bingung, bagaimana harus bayar biaya berobatnya. Mengambil tabungan sebenernya bisa saja, namun bagaimana dengan orang-orang yang tidak punya tabungan.
Mengapa negara kita tidak bisa pakai sistem kesehatan seperti di AS yang mana orang kalo sakit tinggal datang saja ke rumah sakit maka pengobatan yang paling optimum akan diberikan ke orang tersebut dan semuanya sudah ter-cover oleh sistem asuransi. Mungkin jawabnya adalah karena negara belum cukup dana untuk dialokasikan ke sektor kesehatan sebagaimana sektor pendidikan sudah memperolehnya.
Selanjutnya mengapa sih banyak orang pingin anaknya sekolah di fakultas kedokteran? Mungkin agar si anak bisa merawat orang tuanya tersebut bila sudah tua dan mulai sakit-sakitan, supaya pengeluaran kesehatan keluarga menjadi tidak mahal. Kemudian supaya si anak bisa memiliki pendapatan yang tinggi. Karena secara umum, profesi dokter adalah salah satu profesi dengan penghasilan tertinggi, tidak hanya di Indonesia, tetapi bahkan di dunia. Percaya tidak percaya, untuk seorang dokter senior, penghasilan ratusan juta dalam sebulan adalah tidak mustahil. Luar biasaaa...
Reformasi kesehatan mungkin sudah waktunya didengungkan.. Bukan hanya untuk yang miskin dan sakit, tapi bahkan untuk yang mampu dan sehat. Sebab lebih baik mencegah dari pada mengobati. Benar khan?
Lalu pernah suatu kali saya sakit, cukup parah, namun pas lagi "bulan tua", tiba-tiba bingung, bagaimana harus bayar biaya berobatnya. Mengambil tabungan sebenernya bisa saja, namun bagaimana dengan orang-orang yang tidak punya tabungan.
Mengapa negara kita tidak bisa pakai sistem kesehatan seperti di AS yang mana orang kalo sakit tinggal datang saja ke rumah sakit maka pengobatan yang paling optimum akan diberikan ke orang tersebut dan semuanya sudah ter-cover oleh sistem asuransi. Mungkin jawabnya adalah karena negara belum cukup dana untuk dialokasikan ke sektor kesehatan sebagaimana sektor pendidikan sudah memperolehnya.
Selanjutnya mengapa sih banyak orang pingin anaknya sekolah di fakultas kedokteran? Mungkin agar si anak bisa merawat orang tuanya tersebut bila sudah tua dan mulai sakit-sakitan, supaya pengeluaran kesehatan keluarga menjadi tidak mahal. Kemudian supaya si anak bisa memiliki pendapatan yang tinggi. Karena secara umum, profesi dokter adalah salah satu profesi dengan penghasilan tertinggi, tidak hanya di Indonesia, tetapi bahkan di dunia. Percaya tidak percaya, untuk seorang dokter senior, penghasilan ratusan juta dalam sebulan adalah tidak mustahil. Luar biasaaa...
Reformasi kesehatan mungkin sudah waktunya didengungkan.. Bukan hanya untuk yang miskin dan sakit, tapi bahkan untuk yang mampu dan sehat. Sebab lebih baik mencegah dari pada mengobati. Benar khan?
Thursday, July 9, 2009
Quick count: 24%, 60%, 16%; Resmi 1 putaran?
Hasil quick count pemilu presiden kali ini adalah menunjukkan bahwa pasangan mega-pro mendapat 24%, pasangan SBY-Boediono 60% dan pasangan JK-Win 16%. Sambil menunggu hasil resmi dari KPU, muncul pertanyaan apakah hasil quick count bisa dipandang sebagai pertanda resmi tidak akan ada pemilu presiden putaran kedua? Untuk membuktikan hal ini maka kita bisa memakai pendekatan matematis.
Jumlah pemilih pemilu kita saat ini kurang lebih adalah sekitar 120 juta orang. Secara hitungan kasar maka untuk mengetahui apakah akan ada pemilu kedua adalah apabila ada kemelesetan hasil quick count sebesar 10% lebih pada quick count pasangan SBY-Boediono sehingga suara pasangan tersebut tidak memenuhi untuk menang dalam satu putaran.
10% suara dari 120 juta pemilih adalah 12 juta suara. Oleh karena itu perlu ada kemelesetan hasil quick count yang sangat besar dibanding hasil perhitungan resmi. Meskipun quick count tidak melibatkan perhitungan suara sebanyak itu, tetapi persentasenya adalah sebuah gambaran dari jumlah suara sesungguhnya. Jadi, Apakah mungkin quick count meleset sebesar itu???
Jumlah pemilih pemilu kita saat ini kurang lebih adalah sekitar 120 juta orang. Secara hitungan kasar maka untuk mengetahui apakah akan ada pemilu kedua adalah apabila ada kemelesetan hasil quick count sebesar 10% lebih pada quick count pasangan SBY-Boediono sehingga suara pasangan tersebut tidak memenuhi untuk menang dalam satu putaran.
10% suara dari 120 juta pemilih adalah 12 juta suara. Oleh karena itu perlu ada kemelesetan hasil quick count yang sangat besar dibanding hasil perhitungan resmi. Meskipun quick count tidak melibatkan perhitungan suara sebanyak itu, tetapi persentasenya adalah sebuah gambaran dari jumlah suara sesungguhnya. Jadi, Apakah mungkin quick count meleset sebesar itu???
Wednesday, July 8, 2009
Dag dig dug.. pilpres satu putaran atau dua..
Mengikuti berseri-seri survey dari berbagai lembaga yang berusaha memprediksi hasil pemilu pilpres, kebanyakan menghasilkan bahwa pilpres kali ini hanya akan satu putaran dengan dimenangkan oleh incumbent. Meski ada juga satu dua hasil survey yang hasilnya berbeda dengan hasil survey pada umumnya.
Terlepas dari itu semua, hari ini adalah hari pembuktian mana yang benar yaitu apakah hasil survey-survey/polling-polling politik kita dapat dipercaya dan akurat, atau tidak. Jadi selain kita dag dig dug siapa yang akan jadi pemimpin kita berikutnya untuk periode 2009-2014, ada juga orang-orang yang dag dig dug khawatir akan kredibilitas lembaga surveynya bila ternyata nanti hasil polling mereka berbeda jauh dengan hasil pemilu yang sebenarnya.
Selamat berdag-dig-dug ria...
Terlepas dari itu semua, hari ini adalah hari pembuktian mana yang benar yaitu apakah hasil survey-survey/polling-polling politik kita dapat dipercaya dan akurat, atau tidak. Jadi selain kita dag dig dug siapa yang akan jadi pemimpin kita berikutnya untuk periode 2009-2014, ada juga orang-orang yang dag dig dug khawatir akan kredibilitas lembaga surveynya bila ternyata nanti hasil polling mereka berbeda jauh dengan hasil pemilu yang sebenarnya.
Selamat berdag-dig-dug ria...
Friday, July 3, 2009
the fake sharp drop
As predicted, people is amazed on sharp drop of yoy inflation from 6,04% to 3,65% which announced by statistics body yesterday. But, If we take a closer look to the data, the above 2% decline of yoy inflation is affected more by mtm deflation on early 2009, sharp rise of commodity prices on Q2-Q3 2008, and several colleagues suggest that it is related to base year change. So, the sharp drop of May-June inflation only explains economic condition in the past, but for now it is merely a technical issue, not economic. I predict that “the fake downward trend of May-June inflation” will continue to minimum on Q3-09. Future inflation (6mo to 1 year), will be slightly higher as economy recovers that expected, cyclical effects, and a technical issue (again).
Thursday, July 2, 2009
Netbooks: Selanjutnya Apalagi?
Dahulu saya ingat, untuk memiliki laptop dengan layar kecil sedikitnya kita harus merogoh kocek dikisaran 20jutaan. Fujitsu dan Sony Vaio adalah leading producernya. Namun setelah hadirnya intel atom yang menggunakan IC chip berukuran 45nm (dahulu biasanya 60nm) semua perusahaan komputer tiba-tiba berlomba-lomba untuk menciptakan laptop layar kecil, ringan, low electricity dan cukup kuat untuk performa standar khususnya kebutuhan kerja dan bermain internet, serta yang jelas harganya MURAH, hanya sekitar 5jutaan. Laptop jenis ini kemudian dikenal sebagai netbooks. Namun sayangnya laptop ini gak ada CD/DVD ROM/Burnernya.
Pertanyaan saya saat ini adalah, jenis komputer macam apalagi yang merupakan kebutuhan publik setelah netbook?
Untuk membuat tulisan ini rada berbau ekonomi maka saya mau perkenalkan anda pada sebuah model permintaan laptop: Jika Y adalah jumlah permintaan laptop maka;
Y=f(harga,kemampuan processor laptop,berat laptop,garansi service, ukuran layar, warna body laptop, lama baterai laptop, ketersediaan CD/DVD ROM)
Harga sudah jelas lebih murah lebih baik, meski murah yang terlalu murah bisa jadi quality reduction. Kemampuan processor pastinya adalah semakin kuat dan cerdas maka akan semakin menarik minat pembeli, namun harus jadi pertimbangan bahwa sebuah processor semakin cerdas biasanya semakin butuh listrik besar. Berat Laptop, tentu semua maunya yang ringan. Garansi service semakin lama pastinya semakin diminati tapi sayangnya hal ini berkorelasi erat dengan harga. Ukuran layar, variabel ini benar2 ambigu apakah makin kecil makin diminati atau sebaliknya, dahulu orang cenderung mencari layar kecil karena akan meningkatkan gengsi, sebab semua laptop layar kecil pasti harga mahal, sedangkan sekarang hal itu menjadi tidak saklek lagi. Warna merupakan serentetan variabel dummy dari warna-warna, kemungkinan nilai koefisien terbesar adalah di warna hitam dan putih, tetapi tidak menutup kemungkinan ada warna lain yang bisa berefek besar seiring dengan perjalanan waktu, misalkan pink yang sangat digemari kaum perempuan. Lama baterai, kalo untuk variable ini jelas semakin lama semakin digemari, namun sayangnya berkorelasi positif dengan harga lagi. Terakhir, ketersediaan CD/DVD rom, ini adalah variable dummy, namun nilai koefisiennya semakin mengecil semenjak orang kini lebih senang menggunakan flashdisk dan virtual memory.
Lalu dari model itu saya simpulkan bahwa harga yang berkorelasi dengan kemampuan processor, garansi service, lama baterai dan ketersediaan CD/DVD. Sehingga keempat variabel ini bisa besar kemungkinan untuk menciptakan multikolinearity sehingga sebaiknya dibuang saja. Alhasil kita akan temukan sebuah model permintaan yang hanya dipengaruhi oleh harga, berat laptop, ukuran layar, dan warna laptop.
Klo saya teman karib bill gates, kemungkinan saya akan bilang dia untuk ciptakan sebuah laptop yang harga murah, layar besar, ringan dan warnanya bisa disesuaikan ketika akan dibeli. Mengapa saya bilang itu kebutuhan laptop yang berikutnya adalah karena layar kecil ternyata sudah ada yang murah dan ringan, mungkin sekarang saatnya layar besar murah dan ringan. Tetapi jangan lupa bahwa warna laptop harus tersedia untuk segala warna yang dikehendaki oleh pembeli. Hal yang terakhir ini sangat jarang sekali dipenuhi oleh produsen. Saya cukup yakin mengapa laptop warna hitam sangat laku adalah karena supply creates its own demand, bukan karena demand creates supply. Jadi Bill, maukah anda terima saran saya?
Pertanyaan saya saat ini adalah, jenis komputer macam apalagi yang merupakan kebutuhan publik setelah netbook?
Untuk membuat tulisan ini rada berbau ekonomi maka saya mau perkenalkan anda pada sebuah model permintaan laptop: Jika Y adalah jumlah permintaan laptop maka;
Y=f(harga,kemampuan processor laptop,berat laptop,garansi service, ukuran layar, warna body laptop, lama baterai laptop, ketersediaan CD/DVD ROM)
Harga sudah jelas lebih murah lebih baik, meski murah yang terlalu murah bisa jadi quality reduction. Kemampuan processor pastinya adalah semakin kuat dan cerdas maka akan semakin menarik minat pembeli, namun harus jadi pertimbangan bahwa sebuah processor semakin cerdas biasanya semakin butuh listrik besar. Berat Laptop, tentu semua maunya yang ringan. Garansi service semakin lama pastinya semakin diminati tapi sayangnya hal ini berkorelasi erat dengan harga. Ukuran layar, variabel ini benar2 ambigu apakah makin kecil makin diminati atau sebaliknya, dahulu orang cenderung mencari layar kecil karena akan meningkatkan gengsi, sebab semua laptop layar kecil pasti harga mahal, sedangkan sekarang hal itu menjadi tidak saklek lagi. Warna merupakan serentetan variabel dummy dari warna-warna, kemungkinan nilai koefisien terbesar adalah di warna hitam dan putih, tetapi tidak menutup kemungkinan ada warna lain yang bisa berefek besar seiring dengan perjalanan waktu, misalkan pink yang sangat digemari kaum perempuan. Lama baterai, kalo untuk variable ini jelas semakin lama semakin digemari, namun sayangnya berkorelasi positif dengan harga lagi. Terakhir, ketersediaan CD/DVD rom, ini adalah variable dummy, namun nilai koefisiennya semakin mengecil semenjak orang kini lebih senang menggunakan flashdisk dan virtual memory.
Lalu dari model itu saya simpulkan bahwa harga yang berkorelasi dengan kemampuan processor, garansi service, lama baterai dan ketersediaan CD/DVD. Sehingga keempat variabel ini bisa besar kemungkinan untuk menciptakan multikolinearity sehingga sebaiknya dibuang saja. Alhasil kita akan temukan sebuah model permintaan yang hanya dipengaruhi oleh harga, berat laptop, ukuran layar, dan warna laptop.
Klo saya teman karib bill gates, kemungkinan saya akan bilang dia untuk ciptakan sebuah laptop yang harga murah, layar besar, ringan dan warnanya bisa disesuaikan ketika akan dibeli. Mengapa saya bilang itu kebutuhan laptop yang berikutnya adalah karena layar kecil ternyata sudah ada yang murah dan ringan, mungkin sekarang saatnya layar besar murah dan ringan. Tetapi jangan lupa bahwa warna laptop harus tersedia untuk segala warna yang dikehendaki oleh pembeli. Hal yang terakhir ini sangat jarang sekali dipenuhi oleh produsen. Saya cukup yakin mengapa laptop warna hitam sangat laku adalah karena supply creates its own demand, bukan karena demand creates supply. Jadi Bill, maukah anda terima saran saya?
Tuesday, June 30, 2009
Penumpang Kelas Ekonomi mensubsidi kelas-kelas diatasnya
Minggu lalu saya naik sebuah pesawat yang memiliki kelas satu (first class), kelas bisnis (business class) dan kelas ekonomi (economy class). Saya berada di kelas ekonomi. Jumlah penumpang ekonomi umumnya lebih banyak dari pada penumpang kelas diatasnya. Lalu hal ini membuat saya bertanya-tanya, siapakah yang diuntungkan dalam situasi ini?
Secara logika umum, penumpang kelas satu dan bisnis adalah yang mensubsidi kelas ekonomi karena mereka membayar lebih mahal. Namun secara akumulasi nilai uang, maka adalah kelas ekonomi yang membiayai kelas diatasnya. Berikut adalah logikanya:
Total pendapatan dari sebuah pesawat tentu adalah dari kelas ekonomi yang terbesar, oleh karena itu pembiayaan investasi pesawat tersebut utamanya adalah dari penumpang ekonomi. Jadi bila kita asumsikan bahwa pesawat tersebut dibeli dengan hutang bank, maka adalah penumpang ekonomi yang paling banyak membayar hutang tersebut. Oleh karena itu kita bisa simpulkan adalah bahwa penumpang ekonomi yang secara tidak langsung men"subsidi" penumpang kelas diatasnya. Atau dengan kata lain, orang lebih miskin mensubsidi orang lebih kaya. hehehe...
Setuju kah Anda?
Secara logika umum, penumpang kelas satu dan bisnis adalah yang mensubsidi kelas ekonomi karena mereka membayar lebih mahal. Namun secara akumulasi nilai uang, maka adalah kelas ekonomi yang membiayai kelas diatasnya. Berikut adalah logikanya:
Total pendapatan dari sebuah pesawat tentu adalah dari kelas ekonomi yang terbesar, oleh karena itu pembiayaan investasi pesawat tersebut utamanya adalah dari penumpang ekonomi. Jadi bila kita asumsikan bahwa pesawat tersebut dibeli dengan hutang bank, maka adalah penumpang ekonomi yang paling banyak membayar hutang tersebut. Oleh karena itu kita bisa simpulkan adalah bahwa penumpang ekonomi yang secara tidak langsung men"subsidi" penumpang kelas diatasnya. Atau dengan kata lain, orang lebih miskin mensubsidi orang lebih kaya. hehehe...
Setuju kah Anda?
Friday, May 15, 2009
WOC2
Sebelum benar-benar basi dan terbuang, saya harus posting artikel ini sebagai lanjutan dari posting sebelumnya. Berikut adalah hasil perbandingan quick count beberapa lembaga survey, WOC, dan hasil riil KPU. Tabel ini menegaskan supremasi WOC terhadap prediksi individual lembaga survey. Jadi kurang tepat jika LiSI yang paling akurat. (hehehe.)

Apakah LiSI berhak meng-klaim bahwa survey mereka paling akurat (selain WOC tentunya)? Secara rata-rata memang LiSI yang paling akurat (MAD paling kecil), tetapi tidak secara individual. Paling tidak LiSI dengan margin of error satu persen yang mereka gunakan, gagal menduga dengan benar hasil perolehan suara Partai Demokrat. Dengan demikian, setidaknya perlu sedikit kejujuran kepada publik untuk mengakui ketidak-akuratan ini.

Thursday, May 14, 2009
Para Pengamat Politik Kita...
Di satu saat mereka mengatakan pasangan X-Y tidak akan menang karena dua-duanya Jawa.Di waktu yang lain, pengamat berpendapat harus ada perpaduan nasionalis-islam supaya bisa menarik massa. Ada pendapat juga bahwa cawapres harus dari parpol. Jangan lupa juga, sangat populer juga dikatakan oleh pengamat yang mengatakan bahwa pasangan harus sipil-militer. Yang terbaru, capres Z disarankan oleh pengamat untuk mengubah gaya bicaranya, karena katanya masyarakat suka gaya bicara yang santun dan sopan. Bahkan dia bilang masyarakat suka yang gagah. hemmm... jangan heran kalau para capres rajin ke fitness menjelang pilpres nanti. Yang hot juga, salah satu cawapres dibilang antek asing tanpa bisa dibuktikan dengan fakta yang jelas.
Akhirnya yang terjadi apa. Para capres sibuk memikirkan harus milih wapres yang jawa atau non jawa. Cari yang gagah karena dia agak pendek. Karena pendek itu, akhirnya juga mulai pake peci supaya keliatan tinggi. Selain itu supaya dibilang mencerminkan islam, karena pasangannya nasionalis. Di sisi lain, yang militer cari pasangan yang sipil. Di waktu yang lain, si capres 5-6 jam berlatih di depan cermin untuk mengubah gaya bicaranya. Pokoknya, mbulet aja sampai lupa bikin program.
Yang lebih parah, akhirnya rakyat juga memiliki pikiran yang sama. Yang dipikirkan cuma jawa non jawa, sipil militer, ganteng - gak ganteng, gagah - gak gagah, atau wah ini orang antek asing vs bukan antek asing. Dan rakyat pun dibikin lupa untuk menanyakan program-program yang ditawarkan para capres-cawapres.
Lihat permasalahannya kan.. para pengamat yang menganggap dirinya expert, lebih pintar dari yang lain, dan karena itu hampir 24 jam begitu larisnya muncul di berbagai acara TV keluar dengan analisis-analisis mereka yang menurutku tidak berbeda dengan ramalan Mama Lauren (99% wangsit, wahyu atau semacamnya) atau obrolan tukang becak di warkop, bukannya menjadikan rakyat dan para pemain politik menjadi pintar, tetapi sebaliknya.
Terjadi pembodohan besar-besaran, dan kita diam saja menikmatinya.
Yang mereka katakan harus saya akui tidak salah. Namun faktor-faktor yang mereka sebutkan: faktor jawa-non jawa, sipil militer, gaya bicara, dll adalah faktor no. ke-45 ke-46 dstnya. Kenapa tidak sekali-kali para pengamat menanyakan program yang dimiliki para pasangan capres-cawapres dan membahasnya? Karena dengan begitu, masyarakat dan para pasangan menjadikan program tersebut prioritas mereka. Faktor yang seharusnya menjadi no.1 akhirnya ditempatkan menjadi faktor no.1.
Tapi, lagi-lagi saya hanya bisa mengomel dan menunggu jawaban dari rumput yang bergoyang.
Mitos dan Fakta: Boediono, CaWapres SBY
SBY akhirnya memilih Boediono sebagai cawapres-nya. Terkait dengan peluang politiknya, saya sendiri tidak terlalu yakin akan pesimisme publik dan pengamat politik mengenai peluang pasangan ini. Apalagi mendasarkan pada pandangan bahwa pasangan itu harus Jawa-non jawa, nasionalis-islam, ataupun harus dari parpol, yang saya kira hanya mitos yang dibangun oleh orang-orang politik. Dan sayangnya mitos itu lebih dipercaya ketimbang hal-hal yang lebih rasional, seperti mempertanyakan program apa yang sebenarnya diusung oleh pasangan capres-cawapres.
Diluar mitos yang disebutkan diatas, ada lagi 1 mitos yang paling aneh dan lucu, dan ditentang paling keras oleh publik, yakni Pak Boediono adalah antek asing dan pengusung neoliberalisme. Saya akan coba beberkan beberapa fakta terkait mitos yang satu ini.
Tampaknya bangsa ini adalah bangsa yang gampang lupa. Tidak kah mereka ingat bagaimana Pak Boediono, bersama Pak Djatun ketika itu (di masa Megawati: ratunya wong cilik), berhasil mengatasi kondisi keuangan Indonesia yang carut marut dan mengembalikan momentum perekonomian setelah krisis? Tidak kah mereka ingat, pertumbuhan dan perbaikan ekonomi di masa SBY mereka puji-puji, padahal di satu sisi ini adalah kerja Pak Boediono dan Bu Ani tentunya (satu lagi antek asing dan pengusung neoliberalisme)?
Kalau Pak Boediono cs memang antek asing, sudah dibangkrutkan aja negara ini, lalu AS dan konco-konconya bisa dengan mudah datang dan mengambil alih. Kenapa harus repot-repot pusing memikirkan jalan keluar dari krisis.
Lalu jika antek asing disamakan dengan hamba-hamba IMF, World Bank dan semacamnya, sudah lupakah publik bahwa kita keluar dari IMF ketika orang-orang ini memegang kendali kebijakan ekonomi di Indonesia?
PNPM, penurunan harga BBM, BLT, produk-produk yang jauh dari neoliberalisme, juga diambil di zaman orang-orang ini, dimana Pak Boediono termasuk di dalamnya. Mana neoliberalisme-nya? apakah hanya karena mereka sempat mencabut subsidi BBM, yang kita tahu semua harus dilakukan karena kalau tidak pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial lainnya terbengkalai hanya untuk ngisi mobil mercy atau BMW para pejabat korup? (saya tahu pasti masih ada kasus-kasus lain yang ingin diangkat oleh mereka yang kontra Pak Boediono cs, seperti: blok cepu, dllnya. tapi analogi pencabutan subsidi BBM juga bisa digunakan di kasus-kasus tersebut, dimana pilihan kebijakan yang diambil, secara umum/sebagian besar, memiliki dasar yang kuat terutama mungkin dari sudut pandang saya, secara akademik, meski harus saya akui tidak semua kebijakan ekonomi dimana Pak Boediono terlibat adalah tepat)
Tambahan lagi, ingat Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli, orang-orang yang dianggap non antek asing dan non neoliberalisme/kerakyatan (katanya) ? Ada perbedaankah dalam menghadapi IMF ataupun semacamnya? nope. bahkan dari segi prestasi ekonomi, jauh rasanya untuk dibandingkan.
Boleh lah tidak setuju dengan Pak Boediono sebagai Wapres. Tapi mbok ya jangan dengan alasan karena dia antek asing ataupun pengusung neoliberalisme. Apalagi pake membandingkan dengan Budi Anduk. Come on...!!!!!
Tolonglah lebih rasional dan jangan mau diperdaya oleh mitos-mitos yang dimunculkan oleh mereka yang disebut pengamat politik ataupun pemain lainnya. Jangan sedikit-sedikit, ini pasti Yahudi di baliknya atau ini pasti ada Amerika di balik semua (kalimat-kalimat yang biasa digunakan untuk menggambarkan konspirasi asing di balik sebuah kasus). Kasian orang Yahudi atau AS yang gak tahu apa-apa. Janganlah cari kambing hitam akan ketidakmampuan kita sendiri.
Seorang Ki Hajar Dewantara pernah berharap masyarakat Indonesia bisa menjadi orang-orang yang cerdas. Tolong jangan kecewakan leluhur bangsa yang telah berjuang keras.
NB: ohiya, saya tidak akan memilih SBY siapapun cawapresnya. Jadi pandangan di atas mudah-mudahan adalah pandangan objektif saya terhadap sosok Pak Boediono.
Update:
Labels:
Elections,
Political Economy,
Politics
Monday, May 11, 2009
Gak Jelasnya Politik Indonesia
Bersembunyi di belakang argumen: politics is the art of possibilities, politik itu penuh dinamika yang bisa berubah dari hari ke hari, dan argumen-argumen lain yang lebih abstrak, permainan parpol dan tokoh politik menjelang pilpres mulai semakin memuakkan. Kasus terakhirnya bisa dilihat disini.
Saya pribadi gak pernah berpikir politik adalah permainan yang begitu murahan seperti ini. Kalau cuma menjalin komunikasi politik gak jelas kesana sini, pindah sana pindah sini, mereka yang gak lulus SD pun bisa. Jika menaati janji politik antar mereka sendiri cuma bertahan hitungan hari, bagaimana mau menaati janjinya kepada rakyat!!! Mungkin bagi mereka, rakyat juga sudah menjadi masa lalu.
Politik seharusnya dimainkan dengan lebih bermartabat. Setidaknya, ketimbang muter-muter gak jelas, para parpol dan capres lebih baik membuat program dan membeberkannya kepada masyarakat untuk diuji dan dibandingkan.
Sayangnya yang terjadi sebaliknya. 2 bulan kurang menuju pilpres dan kita sama sekali tidak tahu program apa yang ditawarkan oleh capres untuk memecahkan permasalahan yang ada.
Lalu kita harus memilih berdasarkan apa? gender? tampang? tinggi badan? duit yang dikasih? fiuuhh,,, membingungkan.
Tanpa program yang jelas, mau dibawa kemana negara ini. Mungkin dipikirnya ini mirip kisah legenda lara jonggrang. Indonesia bisa dibangun dalam 1 malam. Sayangnya mereka lupa, kisah legenda lara jonggrang tidak berakhir dengan happy ending.
Saya pribadi gak pernah berpikir politik adalah permainan yang begitu murahan seperti ini. Kalau cuma menjalin komunikasi politik gak jelas kesana sini, pindah sana pindah sini, mereka yang gak lulus SD pun bisa. Jika menaati janji politik antar mereka sendiri cuma bertahan hitungan hari, bagaimana mau menaati janjinya kepada rakyat!!! Mungkin bagi mereka, rakyat juga sudah menjadi masa lalu.
Politik seharusnya dimainkan dengan lebih bermartabat. Setidaknya, ketimbang muter-muter gak jelas, para parpol dan capres lebih baik membuat program dan membeberkannya kepada masyarakat untuk diuji dan dibandingkan.
Sayangnya yang terjadi sebaliknya. 2 bulan kurang menuju pilpres dan kita sama sekali tidak tahu program apa yang ditawarkan oleh capres untuk memecahkan permasalahan yang ada.
Lalu kita harus memilih berdasarkan apa? gender? tampang? tinggi badan? duit yang dikasih? fiuuhh,,, membingungkan.
Tanpa program yang jelas, mau dibawa kemana negara ini. Mungkin dipikirnya ini mirip kisah legenda lara jonggrang. Indonesia bisa dibangun dalam 1 malam. Sayangnya mereka lupa, kisah legenda lara jonggrang tidak berakhir dengan happy ending.
Subscribe to:
Posts (Atom)
