Monday, October 27, 2008
Bersiap Untuk Yang Terburuk
Hal ini bisa dijelaskan oleh 2 hal: Pertama, terkait sifat dari krisis. Krisis di AS menyebabkan terjadi kekurangan likuiditas di sana. Terkait dengan itu, sangat natural bila kemudian berbagai perusahaan, investor individu, atau lembaga keuangan menarik dana mereka yang ada di luar negeri untuk memenuhi kekeringan yang dialami. Akibatnya, terjadi capital outflow dari emerging market kembali ke induknya. Permintaan Dollar meningkat, mendorong penguatan Dollar terhadap mata uang lain. Dan ini terjadi terlepas dari faktor, misalkan tingkat suku bunga.
Kedua, langkah bail out, nasionalisasi, yang kemudian diikuti penjaminan sistem finansial di negara maju juga akan memainkan peran terhadap masalah capital outflow dari emerging market dan kemudian penurunan nilai tukar. Jika dalam kondisi biasa saja, aset di negara maju dianggap sebagai aset yang aman, langkah bail out dan penjaminan pemerintah semakin mempertegas posisi mereka sebagai aset yang aman. Jika ada aset aman, berarti ada aset yang beresiko. Dan aset beresiko adalah aset yang ada di emerging market. Sederhananya, di tengah kepanikan dan krisis, apa artinya jaminan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia dibanding dengan jaminan yang diberikan oleh pemerintah AS atau Inggris, misalnya. Akibatnya, terjadilah flight to quality (modal lari ke tempat yang dirasa lebih aman). Jika tadinya capital outflow terjadi karena pelarian modal terutama oleh investor AS, langkah melarikan modal juga akan diambil oleh investor negara lain, termasuk yang lebih mengkhawatirkan adalah investor domestik. Seperti banyak dibilang, "capital has no nationality".
Ini akan diperparah mengingat krisis yang ada juga berdampak pada ekspor-impor, yang menyebabkan defisit pada neraca perdagangan. Ekspor akan turun karena 3 hal: 1. efek langsung penurunan ekspor ke AS, dan efek tidak langsung penurunan ekonomi global berupa 2. Penurunan ekspor ke negara lain 3. Penurunan ekspor akibat penurunan harga komoditas. Defisit neraca perdagangan ini kemudian mendorong defisit pada neraca berjalan. Bila defisit ini tidak mampu dibiayai oleh surplus pada neraca modal (yang seperti dijelaskan di atas tidak mungkin terjadi), akan menyebabkan defisit pada neraca pembayaran. Defisit pada neraca pembayaran akan menyebabkan tergerusnya cadangan devisa dan penurunan lebih tajam dari nilai tukar.
Agak sedikit menyingkat cerita, ketika yang diatas terjadi, yakinlah ekonomi akan kolaps (dalam hal ini termasuk sektor riil). Permasalahannya, semua yang terjadi adalah faktor eksternal yang sulit dikendalikan oleh pemerintah. Kondisi yang ada membutuhkan koordinasi tingkat internasional untuk menjaga agar emerging market tidak kesulitan mendapatkan dana. Solusinya: IMF sebagai lender of the last resort. Cuma, tampaknya lembaga yang satu ini sudah di-black list di Indonesia. Sanggupkah kita menerima IMF kembali? Karena bila tidak, sepertinya kita harus bersiap untuk yang terburuk sedari sekarang.
Panggilan Untuk Pejuang Kapitalisme
Hemm.. Sepertinya panggilan untuk kita tuh...
Wednesday, October 22, 2008
The Pursuit of Happiness
Every people in the world agree that happiness in life needs to be pursuit, of course with their own definition of what happiness should it be. By definition, happiness is a form of feeling of pleasure or fortunate. The level of happiness itself is varying from a person to another and the form of happiness itself has no tangible form to describe.
I wonder of my personal definition of happiness. I wonder if decent jobs, promising career, great education achievement and good social acknowledgement are the level of happiness I should achieve. Nonetheless, I learned that such kind of things are definition of happiness formed by my surroundings and internalize to my consent by active communication of people around me.
One of the jargon in modern society relates to happiness is called “financial freedom”. Financial freedom is a situation where a person tends not to depend on regular paycheck. Instead, they could direct their views on things outside financial necessity.
I remember a movie based on true story of Chris Gardner, the movie titled The Pursuit of Happiness. At the beginning, Chris was just a salesman of bone scanners. He has to find clients and sell his scanners to survive, the position where he directly attached with financial constraints. One day, he crossed a big building and looked that most of the people came out the building, showed happy faces, those people works as stock brokers.
It was back in early 80’s where stocks market was emerging, and people stacked their wealth from stocks profits. Many people ended up rich, and this lesson learns brought more people to jump in and follow their footsteps. But the story is obsolete these days.
I would like to bring the story to late 20th century and early 21st century. After years of financial boom, a crisis hit several regions in the world. In 1997, there was a crisis of finance in
Many people question about what the real cause of the economic downfall. Well, there’s no exact economic theory to explain on how the crisis. But in my consent, I remember a simple economic theory of transaction. The equation is M.V=P.T, where more transaction increase the value of economy. Because each transaction creates mark-up on price, which can also be define as profits. The question is whether the transaction is real or its just a flawless in economy, where we just wait until the perfect time of correction faded the intangible price and set it back to its original.
I believe that this is the heart of financial crisis which hit the economy severely. Just like the story of Chris Gardner, people need to search and pursue their happiness. The jargon says that it can only achieve by economic dependency. Is it? The fact that many people jumped in, answer the question.
Transaction by transaction occurred in stocks, money market and hedging market. People tend not pursue long term economic security but start to seek for easy prosperity. Speculative action brings the economy to different level. Goods and products are not set on its real price; the speed of transaction doubled and even tripled the actual value. Who benefited from this and who loosed from it.
The answer is simple; the early starter gets more benefit while the late starter tends to be loosed. There is not enough room for all players to win, some have to loose. This sets the economy backward. When the early starter took their profits, they took it from others. They can actually dive the economy straight to the bottom, patience to wait paid off.
Those are the reason why government needs to supervise strictly on the money and stocks market. In contrast, maximum support has to be given toward banking industry, which role as intermediaries and provide real financial support to the economy by supporting the business practitioners.
The real support of the economy, coupled with balanced in financial market, will bring the economy on its real form. This is what supposes to be done; this is my definition of happiness. Happiness is where most people benefited real economy instead intangible economy. Don’t call me capitalist or socialist, because for me those do not exist. In my point of view, both had to walk side by side and filling in each other gap. I don’t know how to call it. But that is my place of happiness. Prosperity is the right of all people, in excludable!
By Leo MC Siagian
Saturday, October 11, 2008
Wednesday, October 1, 2008
Demokrasi dan Ekonomi
Pendapat Bung Firman membuat saya resah. Saya khawatir bidang pekerjaan yang sedang saya lakoni saat ini bukan meningkatkan malah menurunkan standar akademik dan intelektualitas yang saya miliki. Mungkin terdengar sombong dan angkuh, namun memang demikian adanya. Saya melihat secara langsung di beberapa Pilkada, pidato dari para calon Bupati atau Walikota yang kurang bermutu, hanya mengobral janji, mengangkat topik yang itu itu saja dan minim pejelasan mengenai teknis pelaksanaan program.
Ketika sedang membandingkan orasi para calon Bupati/Walikota dengan diskusi di Freedom Institute pikiran saya langsung melayang ke awal februari 2007. Saat itu saya sedang diwawancarai oleh Satish Mishra untuk lowongan di Strategic Asia. Terjadi sedikit perdebatan ketika saya mengungkapkan bahwa “pilkada langsung” sebagai implementasi perbaikan iklim demokrasi tidak baik untuk Indonesia. Selain biaya yang dikeluarkan amat besar (untuk Bupati bisa kurang lebih 4 M per satu putaran), hasil dari pilkada belum tentu menghasilkan pemimpin yang kredibel. Alhamdulillah sampai saat ini pendapat itu belum berubah.
Pendapat ini semakin mengkristal ketika membaca Gatra edisi terakhir yang memuat laporan Forbes tentang kekayaan Raja/Ratu di seluruh dunia. Raja Thailand dinobatkan sebagai raja terkaya didunia dan mengalahkan para Raja dari Arab yang bergelimang minyak. Ia begitu dicintai oleh rakyatnya sampai dijuluki “Rama”, saya sendiri terus terang tidak paham artinya. Ia mempelopori banyak program kesejahteraan rakyat, sehingga secara umum rakyat yakin bahwa kudeta yang dilakukan tempo hari merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Menurut saya apa yang terjadi di Thailand ini merupakan contoh bagaimana demokrasi dan ekonomi tidak mempunyai korelasi yang positif.
Saya yakin pendapat ini bertolak belakang dengan banyak literatur dan logika berpikir akal sehat. Namun demikian apa yang saya lihat dilapangan demikian adanya. Bisa jadi sampel saya masih terlalu sedikit atau bisa juga saya lebih banyak menggunakan judgement pribadi yang bias. Mudah-mudahan saja pendapat ini tidak seperti khotbah Ied pagi ini yang mengatakan bahwa menaikkan harga BBM adalah suatu kemaksiatan. Atau seperti pendapat saudari Siti Musdah Mulia yang mengatakan bahwa Homoseksual diperbolehkan dalam Islam.
Starbuckerseconomists mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Taqabalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faidzin.
Tuesday, September 16, 2008
Betapa Ironis Negeri Ini!
Apa yang bisa dikomentari dari kejadian di Pasuruan ini?
Kita kadang terpukau dengan angka kemiskinan turun (baca di sini). Namun apalah jadinya ketika warga misikin, demi Rp 30.000, harus antri berdesak-desakan, mencoba sekuat tenaga untuk berdiri dan tetap bernafas, bahkan mempertaruhkan nyawa. Lalu apalah yang terjadi di luar sana. Pejabat negara yang menerima uang haram, menikmati kesejukan pendingin ruangan di hotel berbintang, segelas wine, sepotong keju Belanda, sejumput caviar, kepulan cerutu Kuba, dan ditemani gadis-gadis pemuas nafsu. Mereka masih saja bisa tertawa di atas penderitaan rakyat.
Cuma satu kata yang mau gue bilang: GILA!
(Sorry, cuma pendapat pribadi yang emosional dan pandangan subjektif semata....maaf mungkin seharusnya posting ini semestinya tidak masuk blog ini)
Thursday, September 4, 2008
SBY Janji Tidak Naikkan Harga Elpiji
Masalah elpiji diawali ketika 25 Agustus lalu Pertamina menaikkan harga jual elpiji 12 dan 50 kilogram rata-rata 9,5 persen, sementara elpiji 3 kilogram tetap. Akibatnya, konsumen elpiji 12 dan 50 kilogram beralih ke elpiji 3 kilogram sehingga terjadi excess demand elpiji 3 kilogram yang berujung pada kelangkaan. Hal ini diperparah dengan telah ditariknya minyak tanah dari pasaran yang menyebabkan masyarakat, terutama masyarakat kecil tidak lagi punya pilihan.
Dari paparan singkat di atas, terlihat bahwa terjadinya pergeseran konsumsi disebabkan oleh perbedaan harga antara elpiji non subsidi dengan yang bersubsidi. Terjadi praktek diskriminasi harga, tanpa bisa dengan jelas membagi dan membatasi kelompok konsumen. Dengan memutuskan untuk tidak menaikkan lagi harga elpiji, permasalahan perbedaan harga ini tidak teratasi. Terkait hal ini, saya kira masalah kelangkaan elpiji 3 kilogram masih akan terus berlanjut.
Janji Presiden untuk tidak menaikkan harga elpiji bisa menjadi bumerang. Benar, bahwa Presiden berjanji akan menutup kerugian Pertamina dengan dana yang diambil oleh pemerintah. Tapi kebijakan ini memiliki kelemahan, diantaranya: (1) Jika terjadi kenaikan harga elpiji internasional di akhir tahun 2008 atau tahun 2009, pemerintah harus menanggung beban anggaran yang besar untuk menutup selisih harga yang timbul. Apalagi dengan alokasi pendidikan yang harus 20%, tentu fleksibilitas anggaran akan jauh berkurang. (2) Kebijakan ini juga tidak mendidik Pertamina sebagai sebuah perusahaan.
Semoga saja, SBY tidak mengulang blunder-nya ketika berjanji tidak akan menaikkan harga BBM di waktu lalu.
Tuesday, August 26, 2008
Tingkat Produktivitas Seorang Pemain Bola: Studi Kasus Sheva
Tingkat produktivitas seorang pemain bola, terutama striker, tentu memiliki indikator yang dapat secara jelas dilihat, yaitu banyaknya gol yang dihasilkannya. Berdasarkan kasus Shevchenko, tentu kita dapat mengatakan bahwa marginal cost (MC) yang harus dikeluarkan
Apakah marginal benefit (MB) kehadiran Sheva dalam
Atau mungkin analisis ini menjadi terlalu bias jika hanya mengukur MC dan MB seorang pemain bola hanya berdasarkan produktivitas menghasilkan gol dengan biaya yang dikeluarkan klub-nya. Lebih lagi, peran seorang pemain bola tidak hanya bagaimana menghasilkan gol dan membuat klub-nya mendapatkan berbagai gelar dalam setiap musimnya. Seperti yang diungkapkan di sini, peran sentral dalam menghimpun pemain satu tim dan menjaga kekompakan bermain sepertinya indikator yang juga patut diperhitungkan.
Saturday, August 23, 2008
Iklan dan Politik
Posting yang saya maksud berjudul "Siapa Dia?". Dalam posting ini bung gaff mengemukakan kegusarannya melihat iklan-iklan politik yang gak jelas, yang mungkin bisa saya sebut antara lain iklan Soetrisno Bachir (SB) atau Rizal Mallarangeng (RM). Yang saya tangkap dari posting tersebut, bung gaff gusar karena dua alasan, yakni: (1) ragu akan efektivitasnya terhadap elektabilitas nanti di pemilu. (2) juga berdasarkan alasan pertama, akhirnya yang terjadi hanya buang-buang duit saja.
Menanggapi alasan pertama, perlu kita ketahui dalam tahapan pemasaran politik ada tahap-tahap yang harus dilalui, yakni awareness - pemahaman (convincing) - elektabilitas. Dari sini, jelas iklan-iklan milik SB atau RM masih merupakan tahapan pertama dari pemasaran politik, yakni untuk membangun awareness masyarakat terhadap sang tokoh. Mungkin bung gaff kenal baik SB atau RM, tapi saya yakin masyarakat kebanyakan, terutama yang diluar kota-kota besar tidak terlalu mengenal mereka berdua. Bahkan posisi SB sebagai ketua PAN saja, mungkin masih banyak yang lebih kenal Amien Rais. Apalagi RM yang kebanyakan orang hanya tahu dia adalah pembawa acara save our nation di Metro TV. Oleh karena itu, penting kiranya bagi mereka untuk mempopulerkan diri. Untuk masalah apakah akan yakin dan kemudian memilih, saya yakin akan ada langkah berikutnya dari tokoh-tokoh politik yang dimaksud.
Lalu alasan kedua, kenapa harus lewat iklan di TV? Buang duit aja! Saya kira tidak demikian. Demi membangun awareness masyarakat, beriklan di TV adalah sarana yang paling tepat dan mungkin paling mudah dan murah. Hitung-hitungannya seperti ini. Iklan di TV di waktu prime time per 10 detik menghabiskan 30 juta. Anggap saja iklannya 30 detik sehingga sekali iklan habis 90 juta. Lalu dalam sehari si tokoh beriklan 10 kali. Berarti dalam 1 hari biaya yang diperlukan adalah 900 juta. Dalam sebulan si tokoh membutuhkan dana sebesar 27 miliar. Sangat besar memang.
Tapi tunggu sebentar. Asumsi 80% dari pemilih yang berjumlah 120 juta memiliki TV di rumahnya. Artinya akan ada 96 juta orang yang melihat iklan tersebut dan mulai mengenal si tokoh. Cukup banyak bukan. Lalu yang terpenting, dengan biaya total sebesar 27 miliar, berarti biaya per kapita-nya hanya Rp 281,25. Coba bandingkan dengan harus datang ke daerah-daerah, dimana paling banter dalam satu lapangan ada 100 ribu orang yang bisa dikumpulkan. Lalu per orangnya minimal harus diberi Rp 10 ribu + makan siang. Sudah biaya per kapitanya jadi mahal, hanya 100 ribu orang yang jadi lebih mengenal si tokoh, capek dan habis waktu pula.
Dari ilustrasi di atas, saya rasa beriklan di TV tidaklah buang-buang duit dan sangat efektif. Dalam realitanya, siapa sih yang akhirnya tidak mengenal SB atau RM. Apalagi slogan "hidup adalah perbuatan" milik SB yang mulai melekat di pikiran masyarakat.
Akhir kata, beriklan di TV saya kira adalah tindakan yang tepat, meski masih banyak usaha yang harus dilakukan untuk menyaingi SBY atau Mega. Ada istilah ekonomi yang cukup pas untuk menggambarkan, yakni: beriklan di TV tuh "necessary but not sufficient", tapi dengan satu kondisi, yakni budget constraint yang besar.
Friday, August 22, 2008
Israel
Saya tiba-tiba teringat ketika Gus dur masih menjadi Presiden, ketika itu beliau mempunyai ide untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Banyak pihak menentang keras ide itu termasuk saya pribadi. Karena sebagai negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar didunia, berhubungan dengan Negara zionis dianggap suatu dosa. Namun demikian seiring dengan berjalannya waktu saya rasa ide ini bermanfaat untuk Indonesia. Tidak seperti tulisan lain di blog ini yang berbobot dan langitan, tulisan ini bersifat opini tanpa ada embel-embel teoritis. Saya memohon maaf sebelumnya bagi para pemeluk agama yang “agama”-nya akan saya sebutkan disini dan minta ijin to speak freely.
Sebenarnya siapa yang bertanggung jawab dalam pembinaan akhlak dan moral umat? Saya sebagai seorang muslim tentunya akan mengatakan Ulama, Kyai atau Ustadz. Dalam hal ini akhlak dan moral umat perlu di-maintain dengan khotbah yang kontinu, menggugah dan memberikan pencerahan. Sehingga saya berpendapat posisi Khotbah Jumat itu luar biasa penting. Karena sebagian besar umat yang sedang dalam tahap pengembangan karier dan perjuangan kemapanan finansial, tidak memiliki waktu yang luang dan lapang untuk menghadiri dakwah atau acara pengajian khusus.
Kondisi tersebut sewajarnya menuntut Khotib Jumat untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam menjaga moral dan akhlak umat. Namun sampai sejauh ini, khotbah jumat yang menurut saya baik dan mampu memberikan pencerahan dapat dihitung dengan jari. Dari mesjid di kampung sampai mesjid modern di Cut Mutiah, seringkali Khotib Jumat memberikan khotbah yang kurang bermutu dan saya harus berjuang keras melawan godaan setan yang me-ninabobo-kan.
Saya seringkali bertanya dalam hati mengapa kondisi ini terjadi. Apakah income dari khotib tidak memadai? Apakah ini merupakan kegagalan institusi pesantren? Atau memang khotib-nya saja yang malas? Akhirnya sebagai seorang ekonom, saya mengambil kesimpulan bahwa kondisi ini terjadi karena kurangnya derajat kompetisi dalam industri per-dakwah-an.
Dengan asumsi bahwa para Ulama, Kyai dan Ustadz merasa bahwa aklak dan moral umat merupakan tanggung jawab mereka, maka kompetisi terkuat yang saat ini mereka hadapi hanya dari misionaris Nasrani. Walaupun masih ada misionaris Budha dan Hindu, pangsa pasar mereka terlalu kecil untuk dapat dikategorikan ber-“bahaya”. Dalam set industri yang demikian, maka saya asumsikan industri per-dakwah-an di Indonesia adalah duopoly, dengan Ulama, Kyai dan Ustadz sebagai market leader.
Bangsa Yahudi yang notabene gifted dengan kemampuan otak yang luar biasa (ada di Al-Quran), dapat saya prediksi akan menjadi kompetitor yang ber-“bahaya”. Apabila dapat terjadi suatu kondisi dimana mereka dapat masuk ke Indonesia, maka secara otomatis derajat kompetisi industri per-dakwah-an akan meningkat. Dilain pihak, Umat Yahudi akan membela kepentingan Indonesia habis-habisan. Karena sebagai thinking parasite, mereka tidak mau inang mereka rusak. Secara logis mereka akan menjaga kepentingan Indonesia agar mereka dapat tinggal dan hidup dengan tenang. Andaikan seperti ini kondisinya, akan ada Eksternalitas Positif yang dinikmati oleh umat lain dengan kehadiran mereka. Secara umum dapat saya simpulkan bahwa membuka hubungan diplomatik dengan Israel diprediksi akan membawa banyak manfaat bagi Indonesia, walaupun resikonya adalah akan ada orang Indonesia yang masuk menjadi Yahudi. Resiko yang amat mengerikan.
Wallahualam bis Sowwab.Friday, August 8, 2008
Prepayment utang
Dimana IO(t) dan PO(t) berturut-turut adalah pembayaran interest dan principal pada tahun t. Dapat diperhatikan terdapat.. katakanlah decreasing marginal interest payment dan increasing marginal principal payment. Misalnya, pada akhir tahun ke 15, atau setelah setengah periode, debitur melunasi hutangnya. Apakah yang terjadi? Pada tahun ke 15, ia sudah membayar PMT sebanyak 15 kali, yaitu sebesar Rp. 3.182.348.570. namun, ia tetap harus membayar pula sisa principal sebesar RP. 1.659.920.110, atau dengan kata lain, ia dianggap hanya telah melunasi sekitar 20% dari keseluruhan principal, atau hanya sekitar 10% dari PMT yang telah ia bayar.
Dengan demikian, maka keputusan prepayment yang dilakukan debitur tidak menguntungkan. Lebih menguntungkan bila tetap melakukan cicilan utang sampai jatuh tempo. Mari pelihara utang kita!
Wednesday, July 30, 2008
The Hunting Party dan Radovan Karadzic
The Hunting Party. Film yang dibintangi oleh aktor kawakan Richard Gere dan salah satu aktor favorit saya, Terrence Howard, resmi dirilis pada tahun 2007. Akan tetapi, film ini mungkin baru masuk ke theatre di Indonesia pada awal tahun 2008. Di Roma, Italia, film ini dapat dinikmati di theatre sekitar pertengahan bulan Mei 2008.
Film yang diangkat oleh Richard Shepard ini mungkin cukup kontroversial, khususnya bagi penduduk yang menetap atau pernah merasakan getirnya suasana konflik di Bosnia-Serbia. Dalam film ini, Richard Gere bertindak sebagai reporter yang ingin sekali mengetahui keberadaan pembantai ribuan umat muslim di Bosnia. Untuk lebih jelasnya silahkan klik disini.
Lalu kita beranjak ke berita menggembirakan (bagi beberapa pengamat kemanusiaan di dunia), yaitu tertangkapnya Radovan Karadzic, pentolan pembantai ribuan muslim di Bosnia setelah 13 tahun melarikan diri dan menjadi buronan dunia. Karadzic ditangkap pada pertengahan bulan Juli 2008 di Serbia. Untuk lebih jelasnya silahkan klik disini.
Yang menarik menjadi pertanyaan adalah apakah pemutaran film The Hunting Party (yang secara eksplisit menceritakan ttg pencarian/pemburuan para pembantai yang dilakukan oleh para wartawan) ada korelasinya dengan penangkapan Radovan Karadzic? Saya bisa berkata demikian karena, uniknya, jarak antara pemutaran film tersebut tidak terlalu jauh dari penangkapan Karadzic.
Lalu, apakah benar ada permainan atau apalah namanya (konspirasi) dalam proses penangkapan Karadzic seperti apa yang juga digambarkan dalam film? Apakah CIA dan sebagainya memang sudah melupakan Karadzic dan lebih memilih Osama Bin Laden?
Pada intinya, saya sangat senang Karadzic sudah berada di Hague pada saat ini. Apapun hasil peradilan internasional, saya harap dapat memuaskan semua pihak, kecuali para kerabat atau korban secara langsung dari kebiadaban Karadzic.
Tuesday, July 29, 2008
Apa yang sedang dilakukan Bank Mandiri?
Saya langsung terkesiap hanya dengan membaca headline berita tersebut, yaitu bahwa dan mungkin tanpa disadari telah terjadi praktek kolusi (baca: price signaling).
Sinyal harga yang dilakukan perusahaan sebenarnya wajar apabila diperuntukkan bagi konsumen, tetapi pada saat bersamaan pengumunan kenaikan harga di media publik merupakan sinyal yang juga sangat jelas bagi para kompetitor (baca: 'kolutor'). Bank lain secara nyata akan membaca berita tersebut sebagai: ”Yok bareng-bareng naikkin harga!”
Secara pasti, dengan status Bank Mandiri sebagai bank dominan dalam industri perbankan dan pasar kredit yang bersifat captive market (calon debitor biasanya sudah jelas dan menginformasikan debitor tentang suku bunga melalui media publik sungguh-sungguh merupakan mekanisme yang sangat tidak dibutuhkan), sudah jelas apa sebenarnya yang sedang dilakukan Bank Mandiri.
Saturday, July 26, 2008
Antara Doa, Spekulasi, dan Judi
Sebagai umat beragama, sudah tidak asing lagi di telinga dan mulut kita tentang apa itu doa. Apabila kita mencari apa arti dari doa, ketika melakukan pencarian di google, banyak sekali saya mendapatkan arti kata doa, antara lain doa adalah senjata orang yang beragama, doa adalah intipati kepada segala ibadah, doa adalah tali penolong, doa adalah denyut jantung, doa adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya, dan lain sebagainya. Anehnya, tak ada satupun definisi doa yang sejalan dengan pikiran saya. Namun, berdasarkan definisi doa yang terakhir, secara implisit dapat dikatakan bahwa doa adalah suatu hal yang tidak dapat dilihat atau diperkirakan sebelumnya.
Sebelum beranjak lebih jauh, selanjutnya saya ingin mendefinisikan arti kata spekulasi. Berdasarkan wikipedia, spekulasi berasal dari bahasa latin, yaitu speculatus, yang merupakan bentuk lampau dari speculari yang memiliki arti "melihat ke depan." Suatu hal yang juga tidak bisa dilihat atau diperkirakan sebelumnya.
Kemudian, kita beralih kepada kata yang sering dianggap tabu di masyarakat, yaitu judi. Judi adalah pertaruhan. Judi seringkali dipakai untuk permainan yang mensyaratkan kepiawaian dan keberuntungan si pemainnya. Judi juga didefinisikan mencoba peruntungan atau mengadu nasib untuk mendapatkan sesuatu yang "lebih". Berdasarkan hal ini, kita juga bisa menganggap judi, lagi-lagi, sebagai suatu hal yang tidak bisa dilihat atau diperkirakan sebelumnya.
Sampailah kita pada bagian akhir dari tulisan ini. Jadi, menurut akal pikiran saya (yang mungkin tidak terlalu sehat kali ini), tidak ada perbedaan yang mendasar antara doa, spekulasi, dan judi. Ketiga kata tersebut sama-sama mengandung hal yang tidak pasti. Dalam hal ini saya membicarakan masalah output dari ketiga kata tersebut. Maka dari itu, dengan akal pikiran saya yang tidak terlalu sehat kali ini, bisa saya katakan bahwa doa sama halnya dengan spekulasi sama halnya dengan judi adalah riba dan hukumnya haram bagi beberapa umat beragama.
Thursday, July 17, 2008
Pesta Kecil
Sedikit curhat yang keluar dari mulut beliau adalah angka kemiskinan tidak bisa memuaskan semua pihak, jika terlalu tinggi pemerintah tidak akan puas, jika terlalu rendah LSM akan mencak-mencak..
Yang harus dipertanyakan katanya, mengapa kemiskinan selalu dipandang dalam sisi kuantitas tetapi tidak kualitas (betapapun sulitnya kualitas tersebut untuk diukur).
Bagi analis apapun dan dimanapun, jumlah kemiskinan menjadi indikator utama bagi kinerja pemerintah, padahal kata beliau: memandang kemiskinan dari sisi kuantitas akan memberi konsekuensi sangat besar terutama bagi masyarakat paling miskin. memandang kemiskinan dari sisi kuantitas sertamerta meng-exclude masyarakat paling miskin dari program kemiskinan. Mengapa?
Akan butuh sumber daya sangat besar untuk mengangkat masyarakat paling miskin keluar dari garis kemiskinan, karena jikapun terangkat paling hanya menjadi masyarakat miskin tapi tetap miskin (tidak ada kinerja pemerintah sama sekali disini)
Jadi sangat jelas, pilihan pemerintah yang rasional, yang dihadapkan pada penilaian kinerja kuantitatif adalah meng-isolir masyarakat paling miskin.
Siapa masyarakat paling miskin? Termasuk didalamnya masyarakat miskin kota tanpa identitas administratif yang jelas, masyarakat miskin jauh di pelosok pedesaan, masyarakat-masyarakat yang terusir (korban konflik, bencana alam, dll)
Bagi saya, kinerja pemerintah tidak bisa (tidak akan pernah bisa) dilepaskan dari kinerja wakil rakyat (kedua-duanya ada sebagai peranakan hasil persetubuhan politik)
Bagi politikus di negeri ini, setiap hari adalah pesta kecil, yang entah mengapa harus diterangi lilin yang juga kecil, dalam kelambu remang-remang yang tipis. dihadapan rakyat mereka hanyalah siluet, yang selalu bisa miring kemana arah angin berhembus..
Dan di setiap hari itu, gairah mereka tak juga pernah habis, bahkan semakin memuncak, semakin dekatnya pesta besar!
"When I am hungry I want to eat one politician, hang another and burn a third" (Carolina Maria – Nordestina)

